Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereProfil Bangsa / Profil Bangsa

Profil Bangsa


Samogha di Mali

Pendahuluan/Sejarah

Suku Pomak di Rumania

Pendahuluan/Sejarah

Qashqai, Kashkai di Iran

Pendahuluan/Sejarah

Dendi, Dandawa Di Benin

Pendahuluan

Suku Pear dari Kamboja Bagian Timur

Sejarah

Guinea Bissau

Sejarah

Belide Di Indonesia

Sejarah

Profil Bangsa: Babar, Utara Indonesia


Pendahuluan/Sejarah

Bawean di Indonesia

Sejarah

Kampung halaman orang-orang Bawean adalah pulau berukuran 200 kilometer kubik, dan berjarak sejauh 120 kilometer di sebelah Utara Kota Surabaya (Jawa Timur), di tengah Laut Jawa. Bawean juga dikenal sebagai "Pulau Putri" karena mayoritas penduduknya adalah wanita. Hal itu disebabkan karena para pria cenderung mencari pekerjaan di pulau-pulau yang lain. Seorang pria dari desa Tanjung Ori yang dahulu bekerja selama 20 tahun di Malaysia berkata, "Seorang pria Bawean tidak akan dianggap sebagai seorang dewasa sampai ia menjejakkan kakinya di tanah asing." Merantau merupakan aspek utama dari budaya orang-orang Bawean, dan hal itu memengaruhi hampir setiap segi yang lain dari masyarakat mereka. Terdapat sejumlah besar orang Bawean yang tinggal di Malaysia. Kenyataannya, jumlah penduduk Bawean yang tinggal di sana jauh melebihi yang ditemukan di pulau mereka sendiri, yang berjumlah 60.000 jiwa. Wilayah-wilayah migrasi orang-orang Bawean yang lain meliputi Singapura, di mana mereka dikenal sebagai orang-orang Boyan dan Perth, Australia.

Campalagian di Indonesia

Sejarah

Orang-orang Campalagian terutama tinggal di kota-kota Polmas, Campalagian, serta sekitar daerah Majene. Wilayah ini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Sulawesi merupakan pulau berpegunungan yang luas, sering kali digambarkan sebagai bentuk yang menyerupai bunga anggrek atau kepiting. Pulau tersebut memiliki garis pantai kira-kira 5.000 kilometer, dan terdiri dari 4 semenanjung utama yang dipisahkan dengan teluk-teluk yang dalam, dengan dua semenanjung mengarah ke Selatan dan dua lainnya ke arah Timur Laut. Mayoritas orang Campalagian hidup di daerah dataran rendah, yang secara khusus subur untuk berbagai jenis pertanian. Nama lain untuk orang-orang ini adalah Tulumpanuae atau Tasing. Mereka berbicara dengan bahasa Campalagian. Budaya dari orang-orang Campalagian telah dipengaruhi oleh orang-orang sekitar yang lebih banyak penduduknya dan lebih berkuasa, seperti orang-orang Toraja dan Bugis. Bahasa orang-orang Toraja dan Bugis telah memengaruhi bahasa Campalagian sehingga ada banyak kemiripan.