Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.31 Vol.16/2013 / Dendi, Dandawa Di Benin

Dendi, Dandawa Di Benin


Pendahuluan

Suku Dendi tinggal di kawasan paling Utara Benin, terutama di dataran subur dekat sungai Niger. Sebagian dari suku ini tinggal di tempat yang dikelilingi rerumputan yang tinggi, langka air, dan minim pepohonan. Komunitas-komunitas Songhai dalam jumlah yang cukup besar dapat ditemukan juga di negara-negara sekitar Benin seperti di Nigeria, Niger, Burkina Faso, dan Mali.

Nenek moyang semua orang Dendi dan Songhai dapat dilacak asal usulnya, yaitu dari kerajaan Za yang muncul pada abad ke-8. Mereka memeluk agama Islam sejak tahun 1010, tetapi agama itu akhirnya bercampur dengan kepercayaan asli mereka. Dinasti Za bertahan hingga akhir abad ke-16 sampai akhirnya ditaklukkan oleh Sultan Maroko.

Suku Dendi adalah salah satu dari 70 kelompok suku yang bermukim di Benin, yang adalah negara non-Muslim terbesar di Sahara yang belum terjangkau oleh Injil. Negara kecil ini diperkirakan memiliki pemeluk kepercayaan tradisional tertinggi di dunia meskipun agama mayoritas mereka adalah Islam.

Seperti apa kehidupan mereka?

Orang-orang Dendi tinggal di rumah-rumah yang biasanya terbuat dari tanah liat dengan atap jerami. Namun, akhir-akhir ini mulai banyak orang Dendi yang mengganti atap mereka dengan atap seng. Pemukiman orang Dendi yang tinggal di sekitar sungai Niger memiliki banyak sawah dan petak-petak kebun, sementara desa-desa yang terletak agak jauh dari sungai biasanya dikelilingi oleh tanaman perdu dan ladang. Biasanya, ladang mereka menghasilkan kacang tunggak, kacang tanah, dan ubi kayu. Namun, pada musim hujan yang pendek seperti pada bulan Juni sampai September, orang-orang Dendi menanam jawawut (jelai) di ladang mereka. Orang Dendi menganggap bertani adalah sebuah pekerjaan yang mulia, dan hanya diperbolehkan untuk kaum laki-laki. Sebagai gantinya, kaum perempuan memiliki sebuah kebun yang dapat mereka kerjakan, yang biasanya ditanami pohon mangga, jambu biji, jeruk, pepaya, kurma, dan pisang selama musim panas. Selain pohon buah-buahan, mereka juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran seperti wortel, tomat, lada, kubis, dan beberapa jenis labu. Sebagian besar perawatan kebun itu dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Di samping bertani, orang-orang Dendi juga biasanya memelihara ternak.

Komunitas suku Dendi berjalan dalam sistem patrilineal, yaitu bahwa setiap laki-laki dalam suku ini berasal dari satu nenek moyang laki-laki yang sama. Setiap anak sulung laki-laki dalam keluarga bangsawan suku Dendi hanya boleh menikah dengan anak perempuan dari saudara ayah mereka untuk mempertahankan kemurnian keturunan mereka. Seorang laki-laki dalam suku ini biasanya menikah setelah mereka berumur 20 tahun ke atas, sedangkan anak-anak perempuan dinikahkan sejak mereka berumur belasan tahun. Dalam kebudayaan suku Dendi, setiap anak adalah milik keluarga laki-laki. Meskipun hukum syariah memperbolehkan poligami, tetapi kebanyakan orang Dendi hanya memiliki satu istri karena alasan ekonomi. Namun, jika ada orang Dendi yang memiliki dua orang istri, kedua istri itu tinggal di rumah yang berbeda dalam satu kompleks keluarga.

Apa kepercayaan mereka?

Hampir semua orang Dendi menganut agama Islam. Akan tetapi, meskipun Islam menambahkan elemen-elemen tertentu dalam budaya suku Dendi, agama ini tidak dapat menyentuh dasar dari budaya dan tradisi asli mereka. Secara kasat mata, agama Islam dianggap penting oleh masyarakat Dendi, hal ini dapat dilihat dari jumlah rumah ibadah yang dibangun di negara ini -- setiap kota di Benin memiliki rumah ibadah, dan beberapa komunitas suku ini memiliki imam yang mengajarkan tentang filsafat Islam. Selain itu, mereka juga taat melaksanakan hari raya Islam. Namun di lain pihak, okultisme, sihir, tenung, dan penyembahan kepada nenek moyang masih menjadi bagian inti dari budaya orang Dendi. Hampir setiap desa memiliki dukun dan tukang tenung. Di beberapa tempat, upacara yang melibatkan roh-roh jahat dirayakan setidaknya sekali dalam seminggu. Upacara adat yang paling penting adalah upacara "Genji bi Hori" (sebuah festival yang di dalamnya masyarakat Dendi mempersembahkan kurban kepada roh kegelapan yang berkuasa untuk menyebarkan wabah penyakit) dan "Yenaandi" (tarian hujan). Kedua upacara ini dilaksanakan pada musim kemarau. Mereka juga memiliki "marabout" (orang suci dalam agama Islam) yang bertugas memimpin doa bersama dan menyembuhkan orang sakit.

Apa kebutuhan mereka?

Secara umum, orang Dendi menjalani hidup yang sederhana, tetapi berkecukupan. Akan tetapi, keadaan dapat menjadi sulit ketika mereka dilanda bencana kekeringan yang sering kali terjadi dan mengakibatkan kematian. Kekurangan gizi juga menjadi masalah bagi banyak komunitas Dendi. Tim medis dan para sukarelawan Kristen sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Dendi.

Saat ini, ada beberapa literatur Kristen yang tersedia dalam bahasa Dendi, tetapi hampir seluruh bangsa yang Tuhan kasihi ini belum pernah mendengar pekabaran Injil. Doa adalah kunci utama untuk menjangkau mereka demi Kristus. (t/Yudo)

Pokok Doa:

  1. Mintalah kepada Allah agar Ia mengirimkan para penyuluh pertanian, pendidik, dan tenaga medis untuk memenuhi kebutuhan jasmani masyarakat Dendi.
  2. Berdoalah kepada Allah supaya siaran radio Kristen dan literatur penginjilan dapat tersedia bagi orang-orang Dendi.
  3. Mintalah kepada Allah supaya Ia berkenan menyelamatkan para pemimpin kunci dalam masyarakat Dendi agar mereka dapat dengan berani menyatakan Injil bagi suku mereka.
  4. Doakanlah orang-orang Dendi yang sudah percaya agar Tuhan menguatkan, memberi semangat, dan melindungi mereka.
  5. Mintalah kepada Allah supaya Ia membangkitkan para pendoa syafaat yang setia berdoa sebagai perantara bagi orang-orang Dendi.
  6. Mintalah kepada Allah agar Ia mengaruniakan gereja Dendi yang berkemenangan demi kemuliaan nama-Nya!

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : Joshua Project
Alamat URL : http://www.joshuaproject.net/people-profile.php?peo3=11533&rog3=BN
Penulis : tidak dicantumkan.
Tanggal akses : 8 Desember 2013