Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKesaksian Misi / Kesaksian Misi

Kesaksian Misi


Ignatius (Murid Rasul Yohanes, Meninggal Tahun 111)

Nama lain Ignatius adalah Teoforus, "Pembawa Berita Allah" karena ia sering memberitakan Tuhan dan Juru Selamat dengan perkataan dan kehidupannya. Ignatius percaya bahwa kehidupan manusia akan berakhir pada kematian yang berkelanjutan, kecuali Kristus hidup di dalamnya. Ia diketahui sering berkata, "Kristus yang disalibkan adalah satu-satunya dan seluruh kecintaanku." Meskipun Ignatius menanggung kesengsaraan hebat, ia mendapatkan penghiburan di dalam kebenaran Injil, "Karena dunia membenci umat Kristen, maka Allah mencintai mereka."

Kata-Kata Termulia

"Jenis orang seperti apakah mereka?" pikir Nikolai Khamara. "Mereka menunjukkan sukacita pada saat dianiaya. Mereka bernyanyi pada saat jam-jam yang gelap pekat. Ketika mereka memperoleh sepotong roti, mereka membagikannya kepada seseorang yang tidak memiliki sepotong pun. Baik siang maupun petang, mereka melipat tangan mereka dan berbicara kepada seseorang yang tidak kasat mata bagi siapa pun. Seraya melakukannya, wajah mereka tampak berbinar-binar."

Selama berbulan-bulan Nikolai Khamara memperhatikan para orang Kristen yang berbagi sel bersama dengannya di penjara komunis. Nikolai Khamara berada di sana karena kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya. Ia ditangkap karena melakukan perampokan, dan ia menggambarkan dirinya "seorang pria tanpa kesadaran diri". Sebaliknya, para orang percaya itu berada di penjara karena mereka menolak untuk menyangkal iman mereka di dalam Yesus.

"Jesus Freak" Yang Pertama

(Stefanus Yerusalem, Israel 34 M)

Di seberang ruang sidang, pria muda yang disidang itu meneruskan khotbahnya. Para juri gelisah dan gugup ketika pria muda tersebut menceritakan mengenai warisan rohani dari kakek buyutnya. Apa hubungannya antara Abraham dan Musa dengan Yesus ini. Seorang pria muda lainnya di kerumunan, dengan usia kurang lebih sama dengan sang terdakwa, tampaknya tidak mendengarkan. Pikirannya sudah bulat mengenai permasalahan pengikut Yesus ini. Kerumunan para pemimpin Yahudi, bagaimanapun, menjadi semakin terganggu dengan setiap perkataan dari terdakwa muda tersebut.

Dimasukkan Dalam Tembok

"Aku menemukan satu!" kata sang penyelidik mengacungkan buku itu sambil memanggil asistennya. "Bawa masuk walikota dan keluarganya. Seseorang mempelajari Alkitab di rumah ini!".

Dibebaskan dari Hukuman Mati

Sang hakim menatap pada Sajjad Husain, yang merupakan satu-satunya saksi melawan GM, si orang Kristen. Sang hakim senang dengan apa yang ia lihat: Sajjad muda dan tekun, berpendidikan sekolah tinggi, dan dengan janggutnya yang penuh, ia tampak seperti seorang taat sejati.

Menapaki Tanah-tanah Terabaikan

Manusia sering merasa gagal saat hidup tidak sesuai harapannya. Itu pula yang pernah dialami Abimelek "Aby" Letedara (47). Ia pernah mencoba bunuh diri. Namun perjumpaannya dengan Yesus Kristus, Sang Guru Kehidupan, menjadikan semuanya berubah. Hidup menjadi teramat berarti baginya. Kini Aby adalah salah satu pembawa kabar baik di suku terabaikan di tanah Papua.

Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

"Saat kalian menangkap para kafir itu, pukuli mereka! Allah akan senang," Zahid memberi mereka semangat. Kerumunan yang terdiri dari pria-pria muda, kaum muda dari rumah ibadahnya, mengayunkan tongkat dan pipa besi dan bersorak dalam kesepakatan. Ia merasa dalam keadaan baik-baik saja sebagai seorang petinggi agama yang masih muda. Dan ia merasa orang tuanya akan bangga. Dalam beberapa menit, ia dan teman-temannya menyisiri jalan-jalan desa dan mencari orang-orang Kristen untuk dijebak.

Dipukuli Sampai Mati

Di penjara Gherla, seorang Kristen bernama Grecu dipukuli sampai mati. Prosesnya berlangsung berminggu-minggu lamanya, mereka melakukannya secara perlahan-lahan. Ia pernah dipukuli telapak kakinya dengan pentungan karet lalu ditinggalkan. Beberapa menit kemudian ia dipukuli lagi, lalu setelah beberapa menit kembali dipukuli. Alat vitalnya dipukuli. Lalu dokter menyuntiknya. Ia sembuh dan diberi makanan yang sangat baik untuk memulihkan tenaganya, lalu dipukuli lagi hingga akhirnya ia mati akibat pemukulan yang dilakukan berulang-ulang dan perlahan itu.

Pergilah!

Peristiwa ini terjadi 25 tahun yang lalu di salah satu negara Asia. Saya melihat ke sekeliling gedung olahraga yang panas dan yang dipadati oleh sekitar 250 mahasiswa Kristen yang cerdas serta antusias. Jika kami melakukan apa yang hendak saya sampaikan, kami semua akan segera dijebloskan ke penjara.

Karena Nama-Nya

Reona Peterson dan Evey Muggleton adalah dua orang gadis yang ingin menaati Tuhan, bahkan jika hal itu menuntut mereka menyerahkan nyawa. Reona adalah guru sekolah dari Selandia Baru dan Evey adalah bidan dari Inggris. Mereka saling mengenal di pusat penginjilan kami di Swiss. Di sana mereka bergabung dengan istri saya, Darlene, dan empat orang lainnya yang amat tertarik untuk berdoa bagi negara Albania.