Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereKesaksian Misi / Kesaksian Misi

Kesaksian Misi


Estafet dari Balik Penjara

Di China, LM dan S adalah para utusan terbelenggu. Ketika mereka di luar penjara, pihak berwajib komunis mengawasi gerak-gerik mereka. LM dan S tidak dapat lagi mengunjungi provinsi-provinsi yang jauh untuk mengabarkan kepada yang lain tentang Kristus. Tetapi putra mereka, S, dan putri mereka, J, bisa.

Adalah melawan hukum mengajarkan kekristenan kepada anak-anak di China, tetapi bagaimanapun LM dan S mengajarkan kekristenan kepada anak-anak mereka.

"Ketika mereka belajar membaca di sekolah dasar, kami meminta anak kami untuk juga membaca Alkitab. Seperti Samuel, kami mempersembahkan anak-anak kami kepada Tuhan. Mereka telah membaca Alkitab lebih dari 50 kali. Mereka sangat ingin tahu mengenai Injil."

Tantangan Adalah Kesempatan

QM tidak gentar menghadapi tantangan. Ia ingin menjangkau orang-orang yang belum percaya di negaranya. Oleh karena itu, ia membawa istri dan anak-anaknya pindah ke wilayah yang paling tidak stabil di dunia -- sebuah provinsi di barat laut Pakistan. Kekerasan yang terus berlangsung membuat wilayah tersebut menjadi suatu tempat yang berbahaya, tapi QM justru melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk membagikan kuasa Kristus. Sebuah organisasi misi memasok QM dengan buku-buku. QM juga menggunakan buku yang berjudul "Bagaimana Kita Mengenal Tuhan". QM menggunakan buku-buku untuk berbicara kepada orang-orang mengenai Kristus, walaupun isi buku-buku tersebut dapat mengakibatkan dirinya dihukum mati oleh para pengikut kelompok garis keras.

Gerilyawan Kristus

L mulai menceritakan tentang Kristus kepada orang lain sejak ia masih kanak-kanak. Ia sekarang berusia 17 tahun dan tetap berani memberitakan Injil Kristus kepada dunia. L berani memberitakan Injil walaupun di bawah ancaman gerilyawan komunis, yang senantiasa meneror masyarakat umum dan melawan pemerintah dalam perang untuk melindungi jalur perdagangan opium. L dibesarkan di sebuah desa kecil terpencil di tengah hutan. Pada tahun 1999, ketika ia berusia 10 tahun, pasukan gerilya menyerang kotanya. Ia mengenang saat bersembunyi di bawah tempat tidur untuk menghindari rentetan tembakan di atas kepalanya. Pada hari itu, pasukan gerilya menyandera ayahnya dan menggunakan beliau sebagai tameng hidup untuk meloloskan diri dari pasukan pemerintah yang datang merebut kembali kota itu. Mereka membebaskan ayah L 4 jam kemudian.

Ignatius (Murid Rasul Yohanes, Meninggal Tahun 111)

Nama lain Ignatius adalah Teoforus, "Pembawa Berita Allah" karena ia sering memberitakan Tuhan dan Juru Selamat dengan perkataan dan kehidupannya. Ignatius percaya bahwa kehidupan manusia akan berakhir pada kematian yang berkelanjutan, kecuali Kristus hidup di dalamnya. Ia diketahui sering berkata, "Kristus yang disalibkan adalah satu-satunya dan seluruh kecintaanku." Meskipun Ignatius menanggung kesengsaraan hebat, ia mendapatkan penghiburan di dalam kebenaran Injil, "Karena dunia membenci umat Kristen, maka Allah mencintai mereka."

Kata-Kata Termulia

"Jenis orang seperti apakah mereka?" pikir Nikolai Khamara. "Mereka menunjukkan sukacita pada saat dianiaya. Mereka bernyanyi pada saat jam-jam yang gelap pekat. Ketika mereka memperoleh sepotong roti, mereka membagikannya kepada seseorang yang tidak memiliki sepotong pun. Baik siang maupun petang, mereka melipat tangan mereka dan berbicara kepada seseorang yang tidak kasat mata bagi siapa pun. Seraya melakukannya, wajah mereka tampak berbinar-binar."

Selama berbulan-bulan Nikolai Khamara memperhatikan para orang Kristen yang berbagi sel bersama dengannya di penjara komunis. Nikolai Khamara berada di sana karena kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya. Ia ditangkap karena melakukan perampokan, dan ia menggambarkan dirinya "seorang pria tanpa kesadaran diri". Sebaliknya, para orang percaya itu berada di penjara karena mereka menolak untuk menyangkal iman mereka di dalam Yesus.

"Jesus Freak" Yang Pertama

(Stefanus Yerusalem, Israel 34 M)

Di seberang ruang sidang, pria muda yang disidang itu meneruskan khotbahnya. Para juri gelisah dan gugup ketika pria muda tersebut menceritakan mengenai warisan rohani dari kakek buyutnya. Apa hubungannya antara Abraham dan Musa dengan Yesus ini. Seorang pria muda lainnya di kerumunan, dengan usia kurang lebih sama dengan sang terdakwa, tampaknya tidak mendengarkan. Pikirannya sudah bulat mengenai permasalahan pengikut Yesus ini. Kerumunan para pemimpin Yahudi, bagaimanapun, menjadi semakin terganggu dengan setiap perkataan dari terdakwa muda tersebut.

Dimasukkan Dalam Tembok

"Aku menemukan satu!" kata sang penyelidik mengacungkan buku itu sambil memanggil asistennya. "Bawa masuk walikota dan keluarganya. Seseorang mempelajari Alkitab di rumah ini!".

Dibebaskan dari Hukuman Mati

Sang hakim menatap pada Sajjad Husain, yang merupakan satu-satunya saksi melawan GM, si orang Kristen. Sang hakim senang dengan apa yang ia lihat: Sajjad muda dan tekun, berpendidikan sekolah tinggi, dan dengan janggutnya yang penuh, ia tampak seperti seorang taat sejati.

Menapaki Tanah-tanah Terabaikan

Manusia sering merasa gagal saat hidup tidak sesuai harapannya. Itu pula yang pernah dialami Abimelek "Aby" Letedara (47). Ia pernah mencoba bunuh diri. Namun perjumpaannya dengan Yesus Kristus, Sang Guru Kehidupan, menjadikan semuanya berubah. Hidup menjadi teramat berarti baginya. Kini Aby adalah salah satu pembawa kabar baik di suku terabaikan di tanah Papua.

Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

"Saat kalian menangkap para kafir itu, pukuli mereka! Allah akan senang," Zahid memberi mereka semangat. Kerumunan yang terdiri dari pria-pria muda, kaum muda dari rumah ibadahnya, mengayunkan tongkat dan pipa besi dan bersorak dalam kesepakatan. Ia merasa dalam keadaan baik-baik saja sebagai seorang petinggi agama yang masih muda. Dan ia merasa orang tuanya akan bangga. Dalam beberapa menit, ia dan teman-temannya menyisiri jalan-jalan desa dan mencari orang-orang Kristen untuk dijebak.