Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereKesaksian Misi / Kesaksian Misi

Kesaksian Misi


Dipukuli Sampai Mati

Di penjara Gherla, seorang Kristen bernama Grecu dipukuli sampai mati. Prosesnya berlangsung berminggu-minggu lamanya, mereka melakukannya secara perlahan-lahan. Ia pernah dipukuli telapak kakinya dengan pentungan karet lalu ditinggalkan. Beberapa menit kemudian ia dipukuli lagi, lalu setelah beberapa menit kembali dipukuli. Alat vitalnya dipukuli. Lalu dokter menyuntiknya. Ia sembuh dan diberi makanan yang sangat baik untuk memulihkan tenaganya, lalu dipukuli lagi hingga akhirnya ia mati akibat pemukulan yang dilakukan berulang-ulang dan perlahan itu.

Pergilah!

Peristiwa ini terjadi 25 tahun yang lalu di salah satu negara Asia. Saya melihat ke sekeliling gedung olahraga yang panas dan yang dipadati oleh sekitar 250 mahasiswa Kristen yang cerdas serta antusias. Jika kami melakukan apa yang hendak saya sampaikan, kami semua akan segera dijebloskan ke penjara.

Karena Nama-Nya

Reona Peterson dan Evey Muggleton adalah dua orang gadis yang ingin menaati Tuhan, bahkan jika hal itu menuntut mereka menyerahkan nyawa. Reona adalah guru sekolah dari Selandia Baru dan Evey adalah bidan dari Inggris. Mereka saling mengenal di pusat penginjilan kami di Swiss. Di sana mereka bergabung dengan istri saya, Darlene, dan empat orang lainnya yang amat tertarik untuk berdoa bagi negara Albania.

"Saya Seperti Sampah"

L dilahirkan dan dibesarkan sebuah keluarga Kristen Koptik. Ia menjadi Kristen yang pasif. Di Mesir, mengajak orang yang sudah beragama untuk masuk ke agama yang diyakini oleh orang yang bersangkutan adalah ilegal. L jarang bersaksi mengenai imannya. Pada tahun 1994, ia berkata, ia mendengar suara Tuhan yang mendorongnya untuk mengatakan kepada orang lain mengenai Kristus. Saat itulah ia bersemangat membagikan Injil kepada orang-orang di desanya di bagian utara Mesir.

Siberia: Pavel

"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya atau pedang?" (Roma 8:35)

Doanya yang Terakhir

Tentara komunis telah menemukan kelompok pemahaman Alkitab yang mereka anggap ilegal. Ketika sang pendeta sedang membaca Alkitab, tiba-tiba tentara komunis mendobrak pintu sambil menteror orang yang berkumpul untuk mengadakan persekutuan itu dengan menggunakan pistol. Mereka meneriakkan ancaman dan hinaan, mereka mengancam akan membunuh semua orang Kristen.

Yerusalem: Tomas

Tomas sudah mendengar secara langsung dari murid-murid lainnya yang telah melihat Tuan mereka dalam keadaan hidup. Paling tidak itulah yang dikatakan mereka.

Filipina: Seorang Gadis Muda

"Gaunku," gadis muda itu berkata dengan perlahan, kata-katanya meluncur lewat bibir yang bengkak. "Tolong berikan gaunku kepadaku. Aku mau memegangnya."

Mesir: Ahmed

"Mengapa engkau membahayakan anak-anakmu?" tanya salah seorang polisi Mesir itu.

Ahmed telah ditangkap beberapa kali karena kesaksiannya dan karena telah membagikan buku-buku Kristen. Tapi ia melihat setiap interogasi sebagai kesempatan untuk bersaksi bagi Kristus.

Chet Bitterman

Kala itu bulan Januari 1981, di Kolombia, Amerika Selatan, kelompok teroris Marxis sedang terbentuk. Mereka benar-benar marah terhadap organisasi Kristen seperti Wycliffe Bible Translators. Salah satu organisasi gerilya dari kelompok Marxis yang dikenal dengan nama M- 19 memutuskan untuk menculik Al Wheeler, direktur Wycliffe di Bogota, Kolombia, dan memakainya untuk menjadi alat negosiasi. Pada tanggal 19 Januari, seorang anggota M-19 yang menyamar dengan pakaian polisi mengetuk pintu kantor Wycliffe. Ketika pintu dibuka, 6 orang bertopeng dan bersenjata menyerbu masuk dan mengikat 12 orang dewasa dan 5 orang anak. Ketika mereka tidak dapat menemukan Wheeler, mereka menangkap ahli bahasanya, Chet Bitterman.