Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKesaksian Misi / Kesaksian Misi

Kesaksian Misi


Tahir Iqbal (1960-1992)

Tahir Iqbal adalah seorang Kristen berkebangsaan Pakistan. Ia hidup dan meninggal seturut dengan Wahyu 2:10, "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."

Tahir Iqbal berasal dari keluarga agama lain. Ia bekerja di Angkatan Udara Pakistan dan kelihatannya masa depannya terjamin. Namun, karena penyakit, separuh badannya lumpuh dan ia harus menggunakan kursi roda. Ia akhirnya dibuang oleh keluarganya dan untuk memenuhi kebutuhan makannya, ia membuka toko reparasi jam.

Musik Membawa Kami pada Mereka

Perbedaan latar belakang bahasa antara pemusik dengan pendengarnya bukanlah sebuah halangan untuk menikmatinya. Falsafah ini dapat dijadikan landasan bahwa musik dapat dijadikan bahasa untuk menjangkau suku-suku yang belum mengenal firman-Nya.

Ibadah yang Murni

Tim KDP telah melakukan perjalanan ke Sulawesi Tengah untuk memberikan bantuan kepada para pengungsi di sana. Salah satu proyek mereka adalah memberi bantuan kepada para janda yang suaminya dibunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Pakistan: Saleema dan Raheela

"Aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus." (Filemon 1:6)

Kembali ke "Agama lain"...atau Mati

MS, 27 tahun, menikmati kariernya di dalam seni memasak. Dia adalah seorang pemimpin koki yang masih muda. Dia hanya menemukan sedikit sukacita dan kepuasan di dalam iman "agama lain" dari keluarganya. Jadi, dia mulai untuk belajar mengenai agama lain dalam usaha mencari pemenuhan spiritualnya. Teman-teman Kristennya, memberitahukan kepada MS mengenai festival kesembuhan, yang akan diadakan dekat desa BA. MS diberitahu mengenai mukjizat-mukjizat kesembuhan yang terjadi. Dia ingin sekali menghadiri festival yang akan datang tersebut, untuk melihat secara langsung. Seorang teman "agama lain" yang mengidap penyakit kanker mengatakan, bahwa dia juga akan ikut dengannya.

Lebih Mudah Tanpa Pendaftaran

Pendeta O, dari gereja Baptis di Urganch, Barat daya Uzbekistan, adalah seorang yang tinggi besar. Dia berpundak lebar dan berperut besar. Dengan rambut cepak merah kekuning-kuningan, dia dapat disebut sebagai seorang perwira angkatan bersenjata yang sudah pensiun. Kecelakaan kerja menyebabkan dia mengalami cedera kaki dan dia berjalan pincang. Pendeta O dan istrinya, N, dulunya adalah bekas pencandu alkohol dan pengguna obat-obatan terlarang. Mereka hidup setiap harinya dalam kasih karunia Allah yang telah membebaskan mereka dari suatu kehidupan yang penuh kecanduan.

Kesaksian SB

Selama dua jam setiap pagi, dan dua jam lagi setiap sore, Pendeta SB menghabiskan waktunya bersama Yesus. Dia membaca Alkitab, berdoa, dan menaikkan lagu-lagu pujian, sambil memetik gitarnya. Seperti nabi Daniel, persekutuannya dengan Allah adalah suatu bagian yang dilakukannya setiap hari.

Mesir: Pemimpin Kaum Muda Kristen

"Ini rencananya," kata seorang pemimpin Kristen muda pada kelompok kaum mudanya. "Pada pukul 8.30 kalian harus mulai membagikan undangan pertemuan ke universitas itu. Kalian harus membagikannya dengan cepat sebelum polisi rahasia datang dan menanyai apa yang kalian lakukan. Jika kalian tidak dapat memberikannya kepada seseorang, tinggalkan saja tergeletak di mana pun. Tuhan akan mengantarnya ke tangan-tangan yang tepat."

Alban -- Martir Inggris Pertama

Dalam sejarah kekaisaran Romawi, salah satu penganiayaan terburuk atas orang-orang Kristen terjadi pada masa Kaisar Diokletius (284-305 Masehi). Keinginannya untuk mengembalikan agama berhala Romawi menyebabkan terjadinya penganiayaan besar-besaran terhadap orang Kristen. Inilah penganiayaan terbesar dan yang terakhir di zaman kekaisaran Romawi.

Memikul Salib yang Lebih Besar

Mudah dimengerti mengapa H tidak pernah mau lagi pulang ke tempat kelahirannya. Mosul, kota kelahirannya di Irak, telah menjadi suatu tempat yang berbahaya bagi orang-orang Kristen. Pemerintah memperkirakan sekitar 10.000 orang Kristen telah meninggalkan kota terbesar kedua di Irak tersebut setelah militan "agama lain" mulai membunuh pemimpin gereja dan meneror orang-orang Kristen pada bulan Oktober 2008. Tindakan ekstremis "agama lain" meneror orang-orang Kristen bukanlah hal yang baru di Timur Tengah. Tetapi Irak memunyai arti alkitabiah yang spesial.