Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKesaksian Misi / Yusuf Dahaga di Balik Jubah

Yusuf Dahaga di Balik Jubah


Ada seorang pemuda yang bernama Yusuf. Ayahnya mengusirnya keluar dari rumah saat ia masih remaja ketika ia menjadi Kristen. Tetapi pengusiran itu tidak menghentikan keinginan untuk membagikan imannya. Ia mengabarkan tentang Isa Almasih, sang Juru Selamat ke mana pun ia pergi. "Aku selalu mulai dengan firman Allah. Mereka tertarik dan ingin tahu lebih dalam." Walaupun mayoritas penduduk di negaranya beragama bukan Kristen, namun hukum negara itu mengatakan setiap orang bebas untuk beribadah. Tetapi di negaranya, orang-orang Kristen dianiaya oleh anggota keluarga dan tetangga.

Suatu hari Yusuf akan pergi dari satu toko ke toko lain di pusat pasar. Seorang pengemis mendekatinya, meminta uang. Yusuf malah memberinya sebuah Alkitab. "Aku menceritakan kepadanya mengenai Kristus dan bagaimana ia mengorbankan diri-Nya bagi dosa-dosa kita." Lalu Yusuf berdoa bersama-sama pengemis itu. Saat Yusuf menengadah ke atas berdoa, tiba-tiba ia melihat 6 orang berdiri mengelilinginya. "Mereka mulai memukuliku hingga pingsan. Ketika tersadar, aku melihat mereka masih mengelilingiku," kata Yusuf. "Aku berdarah-darah dan sangat sakit sekali. Sekali lagi mereka memukuliku. Aku berteriak minta tolong. Mereka memaki dan menyumpahiku dengan bahasa yang kotor, 'kamu kafir! kamu menyesatkan, kami akan membunuhmu!'."

Orang-orang tersebut mengikat tangan dan kaki Yusuf dan mengurungnya di dalam sebuah kamar. Ia di sana semalam-malaman dalam kesakitan. Pada suatu ketika malam itu, ia merasakan sentuhan di pundaknya. "Seketika itu juga ketakutanku lenyap. Sebuah ayat melintas di pikiranku: '... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.' (Wahyu 2:10)" Pada pukul 5, keesokan harinya, para pria tersebut masuk ke dalam kamar tempat Yusuf disekap. Mereka kembali memukuli, meneriaki, dan mengutuki Yusuf. Mereka menawarkan uang agar Yusuf mau meninggalkan Kristus. Mereka juga mengancam untuk menembaknya. Tetapi Yusuf tetap teguh, tidak takut. "Aku berpikir itulah saat yang tepat mengabarkan tentang Kristus," katanya. "Aku berkata, lakukan sesukamu, lalu aku mulai berkhotbah di tengah-tengah mereka. Aku mengatakan kepada mereka, 'Yesus berkata bahwa Ia adalah jalan, Ia adalah kebenaran, dan Ia adalah keselamatan.' Aku menceritakan kepada mereka mengenai kelahiran dan kebangkitan Kristus. Ketika selesai berkhotbah, aku berkata, 'Baiklah sekarang giliran kalian, lakukan sesukamu terhadap aku.' Saat itu aku sangat berani dan itu semua karena Kristus."

Saat Yusuf berbicara, ia memerhatikan pemimpin kelompok ini mendengarkan dengan seksama. Ketika Yusuf selesai, pemimpin ini mengatakan kepada yang lain untuk melepaskan dia pergi. Pada pagi buta, pemimpin itu membawa Yusuf mengendarai sepeda motornya ke suatu halte bus. Sebelum Yusuf pergi, ia mengatakan kepada pemimpin ini bahwa Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama, bahwa Ia mencurahkan darah-Nya bagi umat manusia dan bahwa Yesus mengasihi dia. Tergerak, pria tesebut meminta maaf karena memukulinya. "Bahkan saat itu, akibat pemukulan itu aku tidak dapat berdiri dan berjalan dengan benar, tetapi aku memaksakan diri untuk berjalan mendekati pemimpin itu dan memeluknya. Aku melihat ia meneteskan air mata. Aku tahu Allah menjamah hatinya," katanya. Yusuf memberikan Alkitab miliknya satu-satunya. Berdoalah bagi Yusuf dan orang Kristen yang mengalami kejadian serupa.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, edisi Mei -- Juni 2009
Penulis : tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2009
Halaman : 6

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/yusuf_dahaga_di_balik_jubah