Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKesaksian Misi / Kesaksian Misi

Kesaksian Misi


Pencobaan Api

Sekitar tahun 237, Kaisar Maximinus mengirimkan para tentaranya untuk menutup semua tempat atau gereja yang digunakan orang-orang Kristen untuk berkumpul memuji Juru Selamat mereka. Ia memerintahkan agar kayu-kayu ditempatkan mengelilingi tempat-tempat tersebut dan api dinyalakan untuk membakar semua orang Kristen yang berada di dalamnya.

Sebuah Nyanyian Bagi Tuhan

Pada suatu hari John Denley mengunjungi beberapa orang sahabat. Denley dihentikan dan digeledah oleh para penguasa, dan mereka menemukan pengakuan imannya secara tertulis. Denley percaya bahwa gereja dibangun di atas rasul-rasul dan nabi-nabi, dengan Kristus sebagai kepala, dan seperti itulah kehadiran pemerintahan gereja, sedangkan Gereja Inggris, bukanlah bagian dari gereja yang sejati itu. Pada masa itu, banyak pengajaran tidak seturut dengan Alkitab.

Legiun Gemuruh

Gubernur Romawi itu berdiri dengan keputusan tegas di hadapan empat puluh prajurit Romawi dari Legiun Gemuruh. "Aku memerintahkan kalian untuk mempersembahkan korban kepada dewa-dewa Romawi. Jika kalian tidak melakukannya, kalian akan dilucuti dari pangkat militer kalian."

Keempat puluh prajurit itu semuanya percaya dengan teguh kepada Tuhan Yesus. Mereka tahu bahwa mereka tidak boleh menyangkal-Nya atau memberikan korban bagi dewa-dewa Romawi, apa pun yang akan dilakukan Gubernur Romawi kepada mereka.

Candidus berbicara bagi legiun itu, "Tiada yang lebih berharga atau lebih mulia bagi kami selain Kristus, Tuhan kami."

Sang gubernur kemudian mencoba berbagai taktik lainnya untuk membuat mereka menyangkali iman percaya mereka. Pertama, ia menawarkan kepada mereka uang dan kehormatan. Kemudian, ia mengancam mereka dengan siksaan dan aniaya.

Blandina (Abad II)

Selama kekaisaran Roma diperintah oleh Markus Aurelius (161-170 SM), penganiayaan menyebar di beberapa kota di kekaisaran tersebut. Orang-orang Kristen di Galia (sekarang Perancis) menyimpan catatan tentang orang-orang percaya yang menjadi saksi iman.

Lebih Banyak Kasih Bagi-Mu

Selama bertahun-tahun, Pendeta Kim dan 27 orang yang digembalakannya di Korea hidup dalam lorong-lorong bawah tanah yang digali dengan tangan mereka sendiri. Ketika orang Komunis sedang membangun jalan, mereka menemukan orang-orang Kristen yang hidup di bawah tanah tersebut.

Kami Menawan Keponakan Anda

"Kami menawan keponakan Anda," kata surat tulisan tangan itu. "Jika kalian menyerah kepada kami, kami akan mengembalikan anak laki-laki ini kepada orang tuanya." MT menatap pesan yang berasal dari pemimpin dari Tentara Rakyat Baru (TRB) -- angkatan bersenjata Partai Komunis di Filipina. Orang-orang di berbagai wilayah di Filipina telah diancam dan dianiaya selama bertahun-tahun oleh kelompok teroris ini.

Yustinus Martir

Umat Kristen abad pertama disebut sebagai "atheis" oleh pemerintah Roma. Mereka dieksekusi karena tidak menyembah dewa-dewa Romawi. Kekristenan merupakan perbuatan ilegal.

Flavius Yustinus dilahirkan pada masa itu. Sebagai seorang yang berpendidikan tinggi, ia mempelajari berbagai filosofi Yunani yang lazim. Tapi, hanya kehampaan yang diperolehnya. Pada tahun 132 M, seorang pria tua dengan sabar membawa Yustinus kepada Kristus, ia menjelaskan nubuatan Perjanjian Lama tentang Mesias.

Penglihatan Malam di Irak

"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2)

Inggris: John Lambert

"Mana yang kamu pilih, hidup atau mati? Apa jawabmu?"

Si penanya itu adalah Henry VIII, raja Inggris, yang memiliki kekuasaan tak terbatas di negeri itu. Si "penjahat" yang berdiri di hadapannya adalah John Lambert, guru bahasa Latin dan Yunani, yang dituduh telah menyesatkan orang.

Sebelumnya, Lambert dengan lantang menyangkal pendetanya karena telah menyampaikan khotbah yang tidak sesuai dengan Alkitab. Lambert dibawa menghadap Uskup Agung Canterbury dan kemudian dibawa menghadap Raja Henry. Dengan mengutip Alkitab dan menjelaskannya dari bahasa aslinya, Lambert menjelaskan kasusnya di hadapan dewan keuskupan, para pengacara, para hakim, dan penonton. Dua pihak saling berargumentasi sehingga Henry menjadi bosan dan memberikan pilihan terakhir kepada Lambert: "Setelah mendengar argumentasi dan pengajaran orang-orang terpelajar di sini, tidakkah kamu puas? Mana yang kamu pilih, hidup atau mati? Apa jawabmu?"

Madagaskar: Ranavalona

"Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." -- 1 Petrus 3:15