Artikel

Ada yang menuai karena ada yang menabur. Sama seperti gereja-gereja dan lembaga-lembaga misi yang saat ini ada karena ada orang yang bersedia meninggalkan zona kenyamanan, menyingsingkan lengan, dan bekerja keras agar firman Tuhan sampai ke ujung bumi. Lewat artikel-artikel bangsa yang kami hadirkan kepada Anda, kiranya dapat menjadi motivasi pelayanan Anda.

Absolutisme dan Relativisme

Relativisme budaya berbeda dengan relativisme etis, dan keduanya itu harus dibedakan dengan saksama. Relativisme etis berbicara tentang pengabaian prinsip dan tidak adanya rasa tangggung jawab dalam pengalaman hidup seseorang. Sebaliknya, relativisme budaya berbicara mengenai pegangan yang teguh pada prinsip, pengembangan prinsip tersebut, dan tanggung jawab penuh dalam kehidupan dan pengalaman seseorang.

Relativisme budaya mengizinkan anggota masyarakat untuk mengalami hal-hal yang mutlak dan mengetahui makna hidup mereka sesungguhnya. Masalah pencurian di Amerika Tengah yang multibudaya, misalnya, setiap orang di sana mengerti suatu hal yang mutlak, "Tidak boleh mencuri." Setiap orang di sana mengerti, mengiyakan, dan mempraktikkan hal-hal yang mutlak dalam aturan dan norma masyarakat, memenuhi tanggung jawabnya sebagai individu maupun anggota masyarakat. Tak seorang pun melanggar apa yang sudah mutlak dalam menyesuaikan diri dan hidup berdampingan dengan orang lain. Dengan sendirinya, konflik norma terselesaikan dengan mudah melalui saling pengertian. Penyelesaian konflik pun dijaga melalui pengadaptasian yang arif oleh masyarakat. Kekacauan justru timbul dalam masyarakat berbudaya tunggal karena adanya keterhubungan antara relativisme budaya dan relativisme etis.

Kekacauan juga timbul akibat penggabungan absolutisme alkitabiah dan absolutisme budaya. Banyak orang yang memiliki niat baik dalam ranah budaya tunggal yang menganggap bahwa cara mereka bertindak bukan hanya cara yang Tuhan kehendaki untuk mereka lakukan, tapi juga untuk orang-orang dari budaya lain lakukan. Mereka merasa tindakan mereka menyenangkan hati Tuhan. Jika tindakan mereka ternyata tidak menyenangkan-Nya, mereka akan mengubahnya sehingga apa yang mereka lakukan menyenangkan Tuhan. Jika pada faktanya ada hal-hal alkitabiah yang mutlak, hal-hal itu harus diwujudkan dalam pikiran, perkataan, dan tindakan orang Kristen. Oleh karena itu, dalam pikiran mereka, absolutisme membentang dari kemutlakan Tuhan sampai ekspresi manusia atas kemutlakan tersebut dalam ranah budaya. Variasi lain dari pola pemikiran tersebut dalam nuansa sosial budaya akan berujung pada pengabaian hal-hal yang mutlak. Jadi absolutisme alkitabiah bercampur selamanya dengan absolutisme budaya. Orang yang tidak mendukung absolutisme seperti itu pasti dianggap sebagai relativis dan tidak percaya terhadap hal-hal yang mutlak dalam hal apa pun.

Ada empat kombinasi dari kedua istilah itu. Alkitabiah/budaya dan absolutisme/relativisme menghasilkan keempat kombinasi berikut:

  1. Absolutisme alkitabiah dan absolutisme budaya.
  2. Absolutisme alkitabiah dan relativisme budaya.
  3. Relativisme alkitabiah dan absolutisme budaya.
  4. Relativisme alkitabiah dan relativisme budaya.

Dilihat dari sejarah, kombinasi nomor tiga bukanlah kombinasi yang diperhatikan oleh gereja. Jika seseorang tidak mengiyakan kombinasi nomor satu, maka secara otomatis dapat diasumsikan bahwa ia meninggalkan semua kemutlakan dan mendukung relativisme alkitabiah dan relativisme budaya. Para profesional berpegang pada kombinasi nomor empat, namun kesalahan itu bukan dikarenakan profesi mereka, melainkan dikarenakan keprofesionalitasan mereka. Seorang profesional yang tidak nyaman dengan relativisme alkitabiah dan budaya tidak perlu berpegang pada kombinasi yang merupakan gabungan dari relativisme. Dia bisa memilih kombinasi nomor dua dan membantu anggota masyarakat suatu budaya mengenal Allah seutuhnya sebagai anggota budaya tersebut tanpa harus menjadi misionaris.

Absolutisme Alkitabiah dan Relativisme Budaya

Pendekatan absolutisme alkitabiah dan relativisme budaya menegaskan adanya gangguan supernatural yang melibatkan tindakan dan ajaran. Bahkan seperti Kristus, melalui inkarnasi, menjadi daging dan tinggal di antara kita, demikian juga ajaran atau kebenaran menjadi terwujud dalam budaya. Bagaimana pun, seperti halnya firman membuat daging tidak kehilangan keilahian-Nya, demikian juga ajaran tidak kehilangan kebenarannya melalui perwujudannya dalam bentuk sosial budaya manusia. Ajaran itu selalu menyeluruh dan utuh sebagai kebenaran. Selama ekspresi sosial budaya didekati secara lintas budaya, maka hal itu dapat dikatakan sebagai kebenaran juga. Saat kebenaran dikawinkan dengan satu perwujudan budaya, potensi adanya "kepalsuan" sangat besar. Yang lebih serius lagi, potensi adanya kepalsuan dalam budaya yang memakukan kebenaran pada satu perwujudan budaya, lebih besar, jika budaya tersebut sedang mengalami proses perubahan.

Sekali lagi, tentang masalah pencurian dalam ranah lintas budaya, perintah "tidak boleh mencuri" sebagai suatu moral yang mutlak dan kebenaran yang dikomunikasikan dalam budaya, diwujudkan di Amerika Utara. Perwujudan itu ada dalam budaya Suku Pocomchi Maya yang diberlakukan sama-sama menyeluruh dan utuh dalam hal properti pribadi dan umum.

Empat pertanyaan untuk memastikan keabsahan dari masyarakat yang berbeda-beda.

Pertanyaan yang biasanya muncul adalah norma atau cara hidup mana yang benar. Masalah itu diselesaikan dengan lebih dulu mengajukan pertanyaan-pertanyaan lintas budaya seperti berikut ini.

  1. Apakah norma itu?
  2. Apakah norma tersebut dipatuhi?
  3. Apakah norma itu memerlukan perubahan?
  4. Siapakah yang bertanggung jawab untuk mengubah norma itu?

Rata-rata orang yang menjalani hidupnya berdasarkan normanya sendiri, mendekati orang lain dari sudut pandang norma yang dianutnya. Biasanya ia akan mengawali empat pertanyaan tersebut dengan pertanyaan nomor tiga. Karena norma-norma yang dianut orang lain dilihat dari sudut pandangnya sendiri, maka norma orang lain perlu untuk berubah. Bila norma yang dianut orang lain tampaknya perlu diubah, maka orang yang memutuskan perlunya ada perubahan itu adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengubahnya. Hal ini mungkin terjadi dalam relasi orang tua dengan anaknya, seseorang dengan pasangannya, seorang misionaris dengan negara tertentu, dan seorang pendeta dengan jemaat. Proses perubahan norma orang lain tersebut tergantung sepenuhnya kepada orang yang memutuskan bahwa norma itu perlu berubah. Keterlibatan orang lain dalam keputusan akhir, tidak diperlukan. Jadi orang tua mengambil keputusan untuk anaknya, seorang pasangan mengambil keputusan untuk pasangannya, dewan misionaris yang mengambil keputusan untuk negara, fakultas yang mengambil keputusan untuk mahasiswa, pendeta yang mengambil keputusan untuk jemaatnya. Dalam konteks Kristen, bila seseorang yang membuat keputusan memerlukan dukungan, dia hanya boleh mencari dukungan dari figur yang dengannya ia telah mengonsultasikan masalah yang ada -- Roh Kudus. Dengan demikian, tak seorang pun dapat mempertanyakan keputusan akhirnya.

Orang yang mendekati tindakan, pikiran, atau keyakinan orang lain dari sudut pandang lintas budaya atau dwibudaya, akan memulainya dengan pertanyaan nomor satu. Dia akan benar-benar berusaha memahami sistem di mana tindakan, keyakinan, atau pikiran itu didasarkan dan kemudian bertanya apakah masyarakat yang ada memenuhi norma yang telah ditetapkan secara bertanggung jawab; artinya, dia akan menanyakan pertanyaan nomor dua setelah memahami benar sistem norma yang ada. Dia akan menyelidiki arti dari menjalani hidup berdasar motivasi. Dia akan memerhatikan apakah yang menjadi hal paling penting bagi seseorang -- tindakan yang bertanggung jawab atau tindakan yang tak bertanggung jawab. Kemudian dia akan menuju pada pertanyaan nomor tiga. Saat agen perubahan (orang yang mengubah) menanyakan pertanyaan ini, dia akan melakukannya, bukan dalam bentuk normanya sendiri, namun dalam bentuk norma orang lain. Hal ini dengan serta merta akan melibatkan orang lain dalam proses perubahan. Namun yang lebih penting, pendekatan yang seperti ini akan membuka kemungkinan untuk norma sang agen perubahan juga turut berubah. Saat norma dari kedua belah pihak berpeluang untuk berubah, besar kemungkinan Roh Allah akan masuk dan menuntun salah satu atau kedua pihak dalam proses perubahan. Dalam cara yang dinamis, tiga oknum ini bertanggung jawab atas perubahan norma; Roh Allah, orang yang normanya perlu berubah karena digerakkan oleh Roh, dan orang yang mendukung. Jadi, hubungan timbal balik yang sejati berkembang, membuka salah satu atau kedua-duanya kepada perubahan norma yang efektif.

Saat agen perubahan yang telah terbuka untuk normanya sendiri atau norma orang lain untuk berubah, terus melangkah, dia menemui adanya kebutuhan baru untuk dipenuhi. Dia sekarang memerlukan sesuatu yang lain dari hanya sekadar perubahan perilaku. Dia merasakan perlu adanya beberapa tujuan, standar eksternal.

Injil-injil, dalam bentuk Alkitab, memberikan standar ini. Orang pertama, juga dengan orang lain, yakni orang yang normanya memerlukan perubahan dan yang mendukung perubahan itu, bekerja bersama Injil dalam bahasa yang mereka berdua bisa pahami dan meresponinya sebagai "firman Allah". Bagi orang-orang tertentu di Amerika Utara, mereka hanya dan akan selalu meresponi Alkitab versi King James. Bagi masyarakat Amerika Utara lainnya, mereka hanya dan akan selalu meresponi Alkitab dalam versi beberapa bahasa kontemporer, tergantung pada dialek bahasa Inggris mereka. Bagi mereka yang beretnik dan berlatar belakang yang berbeda, Alkitab yang mereka pakai adalah produk dari program terjemahan yang dipimpin oleh perorangan, suatu masyarakat Alkitab, atau oleh beberapa organisasi lain, seperti program penerjemahan Wycliffe Bible Translators dan Tyndale Living Bible.

Dalam proses yang dinamis ini, tuntutan perubahan dari tantangan lintas budaya dan dalam suatu masyarakat dalam suatu masa, dapat teratasi dengan efektif.

Namun suatu masalah baru mungkin harus dihadapi oleh agen perubahan saat proses itu dimulai dan saat proses perubahan yang kooperatif dan timbal balik itu berlangsung. Bagaimana jika norma kedua belah pihak tidak perlu berubah? Bagaimana jika sebuah norma berubah perlahan dalam jangka waktu yang lama? Bagaimana jika norma dari orang pertama berubah, namun norma pihak yang lain yang perlu berubah, malah tetap? Mungkin ini adalah tantangan terbesar yang dihadapi oleh para misionaris atau agen perubahan. Dia datang ke suatu komunitas dengan asumsi bahwa norma akan berubah dengan masuknya Injil. Namun demikian, bukankah mereka kafir? Hal-hal tertentu akan berubah hanya tuntutan kontak lintas budaya, namun mungkin ada daerah-daerah yang sulit untuk berubah.

Banyak faktor yang memengaruhi hal itu. Ada kemungkinan misionaris tidak memerhatikan pimpinan Roh Kudus. Terjemahan Alkitab yang digunakan untuk menjangkau mereka mungkin tidak mencukupi. Ada kemungkinan misionaris telah salah mengartikan latar belakang sosial budaya atau Alkitab. Ada kemungkinan pula norma yang dianut misionaris harus berubah sebelum tercipta fondasi yang akan memunculkan perubahan pada orang lain. Ada kemungkinan juga bahwa perubahan sedang terjadi, tetapi dalam tempo yang lambat, jauh lebih lambat dari yang diharapkan agen perubahan, atau jauh lebih lambat dari apa yang sebenarnya bermanfaat bagi orang-orang yang terlibat. Atau bahkan mungkin juga Injil bisa masuk dalam suatu kehidupan tanpa diperlukan adanya perubahan -- terlepas dari perubahan rohani.

Beberapa usaha untuk mengubah suatu norma supaya menjadi sama dengan norma lain akan menyebabkan orang yang normanya menjadi pusat perhatian, terlempar dalam konflik -- suatu keadaan yang tidak kondusif bagi pertumbuhan rohani. Seseorang harus berhati-hati untuk tidak menimbulkan konflik sosial yang tidak ada gunanya supaya ia tidak bingung pada konflik rohani yang biasanya terjadi dengan masuknya berita kebenaran alkitabiah, yakni Injil. Perhatian ekstra harus diberikan sehingga setiap kemajuan dalam perubahan, tetap sejalan dengan sistem sosial budaya yang berlaku untuk memastikan keunikan budaya yang diperlukan dalam pertumbuhan rohani. Akhirnya, pendukung yang bekerja sama dengan orang lain bisa maju melalui suatu gaya pelayanan yang efektif untuk mendorong kreativitas dalam pengalaman hidup masyarakat Kristen. (t/Dian dan Ratri)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Christianity Confronts Culture
Judul asli artikel : Absolutism and Relativism
Penulis : Marvin K. Mayers
Penerbit : Zondervan Publishing House, Michigan 1974
Halaman : 231 -- 237

e-JEMMi 20/2008

Bagaimana Mendorong Gereja-Gereja Lain Supaya Terlibat Dalam Misi

Ada dua alasan kunci kenapa gereja-gereja harus mendorong gereja-gereja lain untuk terlibat dalam misi. Yang pertama adalah bahwa hal itu adalah sumbangsih paling baik yang bisa gereja lakukan untuk membantu mewujudkan Amanat Agung.

Dalam 2 Timotius 2:2, Paulus memberi kita prinsip pokok dalam pemuridan. Dengan kata lain, orang Kristen yang efektif tidak boleh hanya bisa menjala manusia, tapi juga harus bisa membuat orang-orang menjadi penjala manusia. Hasilnya adalah pelipatan jiwa-jiwa, tidak hanya penambahan jiwa.

Dalam 2 Timotius 2:2, Paulus memberi kita prinsip pokok dalam pemuridan. Dengan kata lain, orang Kristen yang efektif tidak boleh hanya bisa menjala manusia, tapi juga harus bisa membuat orang-orang menjadi penjala manusia. Hasilnya adalah pelipatan jiwa-jiwa, tidak hanya penambahan jiwa.

Seorang ayah memutuskan untuk memberi upah pada dua anak laki-lakinya. Dia memberi mereka pilihan: seratus peso seminggu selama setahun atau satu sen yang berlipat setiap minggunya selama setahun. Anak yang lebih muda memilih pilihan yang pertama. Pada akhir tahun dia mendapat 5.200 peso -- jumlah yang cukup banyak untuk seorang anak kecil.

Tapi, anak yang lebih tua memilih pilihan yang kedua: satu sen. berlipat setiap minggu selama setahun. Minggu pertama dia mendapat satu sen; minggu kedua, dua sen; minggu ketiga, empat sen, dan seterusnya. Pada minggu ke-52, dia bukan mendapat 25 Peso, bukan 25 ribu Peso, bukan 25 juta Peso, bukan juga 25 miliar Peso, tetapi 22.518.000.000.000 Peso.

Sulit dipercaya bukan! Dan jumlah itu bahkan tidak termasuk upah yang dia terima selama 51 minggu yang pertama. Jumlah uang yang diterima anak yang lebih tua selama setahun lebih dari 45 triliun Peso. Bagaimana bisa? Itulah kekuatan dari perlipatan. Dan begitu halnya dengan program misi Anda.

Jika Anda hanya mempunyai tujuan yang bisa dicapai oleh gereja Anda sendiri, Anda hanya akan berkutat dalam penambahan. Tetapi, jika Anda mendorong gereja-gereja lain untuk terlibat dalam misi, keefektifan Anda akan berlipat ganda.

Alasan kedua kenapa gereja harus mendorong gereja lain untuk terlibat dalam misi adalah, dalam kebanyakan kasus, kita berutang kepada pihak yang sudah membantu kita aktif dalam misi. Cara paling baik dalam membayar utang itu adalah dengan membagikan apa yang sudah kita pelajari. Lalu langkah-langkah apa yang bisa Anda lakukan untuk mendorong gereja-gereja agar telibat dalam misi?

MENDORONG GEREJA-GEREJA LAIN UNTUK TERLIBAT DALAM MISI

  1. Kenali Gereja yang akan Didorong

    Sudahkah Anda mendirikan gereja-gereja cabang? Itu adalah tempat yang baik untuk memulai. Kemungkinan besar mereka akan bersedia menerima bantuan Anda dalam hal pergerakan misi.

    Kemungkinan lain adalah mengundang gereja-gereja yang sealiran atau gereja-gereja lain di sekitar Anda ke konferensi misi tahunan. Termasuk seminar khusus dalam mendorong gereja-gereja lokal untuk terlibat dalam misi. Ceritakan apa yang Tuhan sudah lakukan dalam gereja Anda dan tawarkanlah bantuan kepada gereja-gereja lain yang bersedia terlibat dalam misi.

  2. Sediakan Kesempatan untuk Mengamati

    Sebisa mungkin doronglah gereja-gereja yang berpotensi terlibat dalam misi untuk mengamati beragam aspek dalam program misi Anda. Undang mereka untuk hadir dalam kelompok doa misi Anda, atau untuk melihat bahwa Anda sudah mengintegrasikan doa Amanat Agung dalam kehidupan gereja Anda. Undang mereka untuk menghadiri konferensi misi dan tinjau langkah-langkah yang ada dalam rencana.

    Apakah Anda mempunyai pertemuan khusus bagi mereka yang serius menganggap misi sebagai karier? Apakah Anda mempunyai program pelatihan misionaris? Apakah Anda sekarang terlibat dalam lawatan lintas budaya? Hal-hal seperti itu adalah kesempatan emas untuk menunjukkan seperti apa Amanat Agung itu.

    Apakah Anda mengirim orang-orang dalam lawatan jangka pendek pada masyarakat minoritas atau kelompok masyarakat yang tak terjangkau lainnya secara berkala? Bagaimana jika menyarankan pada gereja yang Anda bantu untuk mengirimkan satu atau dua orang di gerejanya sebagai anggota tim Anda.

  3. Mendorong untuk Berdoa

    Hal itu mungkin satu-satunya langkah penting yang bisa Anda lakukan. Jika Anda bisa membuat daftar doa Amanat Agung dan berdoa bagi gereja-gereja lain, itu akan menjadi sumbangsih paling besar bagi dunia penginjilan.

    Doronglah mereka untuk mengikuti gerakan doa Amanat Agung. Tantang mereka untuk membuat komitmen doa Amanat Agung dan mengintegrasikan doa tersebut ke dalam kehidupan gereja mereka. Perlihatkan kepada mereka cara menggunakan Operation World (buku yang berisi negara-negara di seluruh dunia beserta data dan pokok doa -- red) dan Global Prayer Digest. Anda mungkin bisa memberi mereka salinan sumber-sumber itu sebagai hadiah. Mungkin Anda bisa menemui mereka beberapa kali untuk membantu mereka bagaimana menggunakannya.

  4. Bantu Mereka untuk Berorganisasi

    Mulailah dengan menyalurkan visi Anda dalam mendirikan Gereja Amanat Agung. Ceritakan bagaimana Tuhan sudah berkarya dalam gereja Anda sehingga Anda terlibat dalam misi. Ceritakan tujuan dan sasaran gereja Anda dan bantu mereka membuat rencana dalam jangka lima tahun (jangka pendek -- red). Beri mereka salinan dari kebijakan misi Anda, jika Anda punya.

    Undang mereka untuk menghadiri beberapa pertemuan yang diadakan misi Anda dan bantu mereka untuk mengadakan pertemuan yang sejenis. Luangkan waktu Anda untuk menghadiri pertemuan pertama yang mereka adakan dan jadilah pembicara jika mereka menginginkannya. Pinjami mereka salinan buku tentang misi atau belikan mereka buku tentang misi sebagai hadiah.

    Yang paling penting, ingatlah bahwa tidak harus majelis atau panitia misi dari gereja Anda yang membantu gereja-gereja lain yang akan terlibat dalam misi. Apakah Anda mempunyai jemaat yang ikut dalam program pelatihan misionaris? Mungkin Anda bisa mengirim mereka untuk melayani di gereja lain selama beberapa bulan dan membantu gereja itu bergerak dalam misi.

    Saat misionaris Anda sedang pulang karena cuti, biarkan dia memberi kesaksian kepada gereja lain. Adakan pembicaraan dengan misionaris Anda dan agen misinya untuk merencanakan jadwal cuti yang memasukkan kegiatan pelayanan ke gereja lain didalam jadwal tersebut.

PERLIPATAN MISI

Apakah Anda mulai melihat potensi Anda dalam mendorong gereja lain terlibat dalam misi? Saat Anda mengembangkan program misi dalam gereja Anda, maka Anda berada dalam posisi yang bagus untuk mendorong gereja lain terlibat dalam misi. Anda akan mampu mengajar lewat pengalaman, menunjukkan melalui contoh, dan menyediakan bantuan dan dorongan jangka panjang. (t/Dian)

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Judul buku : The World Beyond Your Walls; A Manual For Mobilizing Your Church in Missions
Judul artikel asli : Sharing What You`ve Learned; How to Mobilize Other Churces in Missions
Penulis : Dean Wiebracht
Penerbit : Philippine Crusades
Halaman : 219 -- 222

e-JEMMi 11/2007

Adilkah Jika....

Judul asli: Adilkah Jika Seseorang Telah Dua Kali Mendengar Injil Sedangkan Orang Lain Belum Pernah Satu Kali Pun Mendengarkannya?

"Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadah dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan telantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Matius 9:35-38)

Perhatikan baik-baik! Dikatakan bahwa Yesus berjalan mengelilingi SEMUA kota dan desa. Yesus tidak pernah berdiam secara tetap di suatu kota dan menjadi pendeta di sana. Ia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia melihat orang banyak dan berbelas kasihan pada mereka, kemudian Ia berkata pada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." Inilah masalah gereja pada hari ini! Tatkala Anda melihat orang banyak, mampukah Anda menjadi sama seperti Yesus, berbelas kasihan pada mereka? Pandanglah ... pelayanan begitu luas, tetapi pekerja hanya sedikit, bukan? Itulah sebabnya Yesus berkata: "Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja untuk tuaian itu."

Benarkah Jika Saya Hanya Tinggal di Kanada Saja?

Beberapa tahun lalu, saya menyelidiki Alkitab untuk melihat apakah mungkin jika saya tinggal di Kanada saja dan masih menaati Allah? Di Kanada saya boleh terus asyik dengan jabatan serta fungsi kependetaan dan tidak perlu bersusah payah melintas batas wilayah negara saya, namun sambil melaksanakan perintah-perintah Allah? Apakah Allah berkenan akan hidup saya jika saya seperti itu?

Ternyata dalam Alkitab saya menemukan istilah-istilah seperti: "segala bangsa; seluruh dunia; segenap alam; segala suku bangsa; segala bahasa; segala manusia; dan bangsa hingga ke ujung bumi". Dengan kata lain, Injil Yesus Kristus harus diberitakan kepada seluruh umat manusia di dunia. Saat itu saya sadar akan kesalahan saya. Tapi kemudian timbul pertanyaan kedua: "Apakah semua manusia dan seluruh bangsa tinggal di Kanada? Jika hal ini benar, berarti tidak ada bangsa lain di luar batas negara Kanada. Sehingga saya boleh tetap berdiam di Kanada dan tidak perlu ke luar negeri."

Tetapi kenyataan membuktikan ada bangsa lain yang hidup dan tinggal di luar Kanada. Dan jika ada satu orang saja yang hidup di luar batas negara Kanada, maka itu merupakan kewajiban saya untuk pergi, meninggalkan Kanada kepada dia. Jika hal itu tidak mungkin saya lakukan, maka saya harus mencari seorang utusan, yang akan pergi menggantikan diri saya ke sana. Sebab jika saya tidak melakukan hal itu, maka saya akan kehilangan mahkota di hadapan Tuhan. Injil Yesus Kristus harus diberitakan kepada segala suku, bangsa, dan bahasa hingga ke ujung-ujung bumi. Apa yang akan Anda perbuat? Salah satu pilihan adalah Anda harus pergi sendiri, atau kalau tidak harus ada seorang utusan lain mewakili Anda. Celakalah Anda jika tidak berbuat apa-apa. Perintah Tuhan harus ditaati dan Anda sendiri tidak mungkin luput dari perintah-Nya.

Saya Mencoba Pergi

Ketika berumur 18 tahun, saya pergi kepada bangsa Indian di British Columbia, suatu negara bagian Kanada yang terletak di pantai Lautan Pasifik, dekat Alaska. Saya tinggal sendiri di sebuah pondok kecil selama setahun lamanya, terpisah kira-kira 3.000 mil dari tanah air saya. Tapi kemudian saya sadar bahwa saya masih memerlukan banyak bekal dan justru hal itu belum saya miliki. Saya pun kembali untuk belajar teologi selama 6 tahun, kemudian dilantik menjadi seorang pendeta.

Setelah itu, saya mengajukan permohonan kepada Badan Penginjilan Luar Negeri Presbyterian untuk diutus ke India. Mereka meminta saya datang dan setelah mempertimbangkan permohonan saya, akhirnya mereka memutuskannya untuk saya, permohonan pelayanan ke India ditolak. Mereka berpendapat bahwa saya tidak cukup kuat untuk mengemban tugas penginjilan di luar negeri. Saya pun pulang untuk menjadi pendeta di Dale Presbyterian Church of Toronto, kota asal saya sendiri. Selanjutnya melayani pekerjaan Tuhan di The Alliance Tabernacle. Akan tetapi saya tetap tidak merasa puas. Saya tahu kalau saya harus berbuat sesuatu, seperti penglihatan yang Tuhan berikan pada saya. Akhirnya atas kehendak sendiri, saya pergi melayani di Rusia dan Eropa untuk memberitakan Injil pada beribu-ribu orang di Latvia, Estoa, dan Polandia. Hasilnya sangat luar biasa, banyak orang percaya pada Kristus. Pelayanan ini terus berlanjut, hingga pada suatu hari saya jatuh sakit karena terlalu lelah. Saya harus pulang kembali. Setelah sembuh, saya pun keliling Amerika dan Kanada untuk mengadakan serangkaian kampanye penginjilan. Semangat pelayanan keluar negeri masih menggebu-gebu. Sekali lagi saya pergi, tapi sekali lagi saya sakit dan harus pulang kembali.

Sejak saat itu, saya menjadi pendeta di The People Church of Toronto (pada tahun 1930). Dua tahun kemudian, saya pergi ke Afrika bersama Dokter Thomas Lambie. Dengan berkuda, kami terus masuk ke pedalaman, setiap hari kami berjalan kira-kira 3.000 mil, akhirnya saya jatuh sakit di tengah hutan Afrika selama 6 minggu, saya harus pulang kembali. Sejak itu saya menyadari akan keputusan Badan Penginjilan Gereja Presbyterian yang melarang saya pergi adalah benar. Saya tidak cukup kuat untuk menjadi seorang utusan Injil ke luar negeri. Namun demikian, Tuhan memberikan penglihatan pada saya, untuk melakukan penginjilan ke luar negeri. Saya pun yakin bahwa bangsa-bangsa lain harus mendengar Injil. Maka pada tahun 1938, sekali lagi saya pergi dengan menyandang tekad untuk menyelesaikan tanggung jawab yang merupakan bagian pelayanan saya untuk sebisa mungkin menginjili dunia.

Saya berlayar selama 31 hari, siang dan malam terus pergi menuju daerah Pasifik untuk berkhotbah pada orang-orang kafir, masyarakat liar, dan juga berkhotbah pada sekelompok orang Kristen di Kepulauan Solomon. Akhirnya saya terjangkit penyakit malaria, yang selama 3 tahun berturut-turut terus kambuh. Keadaan saya makin lemah. Orang pun menggotong saya naik ke kapal dan berlayar kembali ke Toronto. Bertahun-tahun lamanya saya terus mencoba untuk pergi melayani tugas pemberitaan Injil kepada lebih dari empat puluh negara, tetapi saya sulit menyesuaikan diri dengan hawa panas di wilayah tropis negara-negara Timur.

Mengirim Utusan-Utusan Injil

Sebenarnya sejak awal keberangkatan, saya telah menyadari ketidakmampuan diri sendiri. Saya harus segera mencari orang lain yang dapat menggantikan saya pergi. Pada suatu hari, saya mengunjungi Pdt. J.H.W. Cook, seorang pemimpin persatuan penginjilan di Amerika Selatan, dan bertanya padanya: "Apakah Bapak akan mengirim beberapa utusan Injil lagi?" Ia menjawab: "Betul, di sini ada lima orang utusan Injil yang akan pergi melayani Tuhan." Namun demikian, saya melihat bahwa mereka tidak segera akan pergi. Dengan sedikit heran, saya pun bertanya kembali. "Kalau begitu mengapa Bapak tidak segera mengutus mereka?" Dengan perlahan, ia menjawab: "Kami belum memunyai uang." Saya pun berkata padanya: "Kalau misalnya saya mengumpulkan uang untuk ongkos perjalanan mereka, apakah Bapak mengizinkan saya untuk ikut ambil bagian dalam mendukung tugas ini?" Terlihat sinar cerah memenuhi wajahnya. Ia menyetujui.

Saat itu merupakan hari yang tak mungkin saya lupakan, yakni hari ketiga saya memperkenalkan kelima utusan Injil itu pada jemaat saya di Toronto, dan mengajak mereka semua untuk bersama-sama mengutus mereka pergi ke ladang Tuhan. Selanjutnya badan misi ini bekerja seperti yang saya usulkan, sehingga dari 5 orang utusan menjadi 10 orang, dari 10 menjadi 20 orang, 20 menjadi 40, 40 menjadi 100, jumlah ini terus bertambah menjadi 300 orang. Sekarang kami memiliki satuan pasukan Injil, yang bekerja menggantikan kami untuk pergi ke 27 negara bagian. Mereka sendiri berasal dari tiga puluh badan misi yang menerima dukungan uang dari jemaat kami.

Tetapi saya sendiri belum puas melihat hal ini. Saya ingin mengutus lebih banyak lagi. Saya telah berdoa pada Tuhan: "Oh ... Tuhan, kalau Engkau mengizinkan saya hidup dan jika Tuhan berkenan, saya ingin mengutus lima ratus orang utusan Injil yang akan bekerja di berbagai negara di seluruh dunia." Jemaat saya harus mendukung tugas penginjilan ini. Kalau tidak, saya tidak akan merasa puas diri karena memang untuk itulah saya hidup dan mengabdikan diri. Sehingga tugas penginjilan bagi saya adalah tugas utama. Itulah sebabnya saya selalu mencoba untuk pergi, saya sebenarnya telah pergi. Tapi setiap kali saya melakukannya, saat itu juga saya harus kembali. Sekarang saya tahu bahwa ada hal lain yang harus saya kerjakan, yaitu mengutus orang lain untuk pergi sebagai pengganti saya.

Kota-Kota yang Lain

Pada kesempatan lain, setelah melayani, Yesus pergi menghilang. Para Rasul mencari dan mendapatkan-Nya sedang berada di atas bukit untuk berdoa. Mereka pun menceritakan tentang sejumlah besar orang yang mencari Yesus untuk memohon pelayanan-Nya. Mereka meminta Yesus turun gunung untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya, memberitakan Firman pada begitu banyak orang yang rindu akan ajaran-Nya. Tetapi Yesus menjawab mereka: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itulah Aku telah datang." Ini merupakan hal yang biasa Tuhan pikirkan. Yesus berpikir tentang kota yang lain, yang lain, serta yang lain lagi. Yesus memikirkan kota-kota yang belum pernah Ia layani, sehingga Ia mau ke sana. Mereka perlu mendengar Injil. Itulah sebabnya Ia pernah berkata tentang "domba-domba yang lain". Rasul Paulus sebenarnya juga memunyai wawasan yang sama, ia sering berbicara tentang "daerah-daerah yang di seberang", yaitu wilayah jajahan Romawi yang belum pernah mendengar Injil. Ia sadar bahwa Injil harus diberitakan hingga ke ujung bumi.

Saya ingin mengatakan suatu hal yang mungkin agak mengejutkan Anda. Pernah pada suatu masa, Injil telah menjangkau wilayah Afrika Utara. Beratus-ratus jemaat Tuhan bertumbuh di sana, beberapa ahli teologi yang ternama pada abad-abad awal juga berasal dari sana. Tetapi apa yang selanjutnya terjadi? Bukankah seluruh Afrika menjadi negara Islam? Tidak ada lagi tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kekristenan pernah ada di sana. Sinar terang pelita jemaat Tuhan berangsur-angsur menjadi suram, dan akhirnya menjadi padam. Mengapa hal ini bisa terjadi? Saat itu pemimpin-pemimpin jemaat dan ahli-ahli teologi sedang berselisih pendapat tentang doktrin gereja, sehingga mereka tidak lagi memikirkan penginjilan, melainkan terus berdebat. Mereka seharusnya pergi ke Afrika Selatan, menjangkau kota-kota lain dengan Injil Yesus Kristus. Jika mereka bertindak seperti ini, saya percaya dalam waktu dekat seluruh Afrika akan dimenangkan bagi Tuhan, Injil pasti menjangkau Capetown. Lebih dari itu, bisa juga pada saat ini Afrika telah mengirim utusan Injil ke Amerika dan Eropa. Jika kita tidak mengabarkan Injil, apa yang terjadi di Afrika dapat juga terjadi di sini. Jika Injil berhenti diberitakan, cahaya Tuhan yang telah kita terima akan padam, sama seperti Afrika di masa lampau.

Ladang Tuhan adalah Seluruh Dunia

Anda mungkin bertanya: "Mengapa kita harus pergi ke tempat-tempat lain, sedangkan orang-orang terdekat sekitar kita sendiri belum diselamatkan? Bukankah masih banyak tugas di dalam negeri yang belum diselesaikan? Mengapa pula kita tidak menyelesaikan pekerjaan Tuhan yang masih terbengkalai lebih dahulu, sebelum kita pergi bertugas di luar negeri." Ke mana pun saya pergi orang selalu mempertanyakan masalah-masalah ini. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya ingin mengajukan empat pertanyaan juga. Pertanyaan pertama adalah tentang David Livingstone, mengapa dia meninggalkan Skotlandia dan pergi ke Afrika, sebelum beribu-ribu masyarakat Skotlandia percaya pada Kristus? Tapi ia pergi ke Afrika, dengan masyarakatnya yang masih primitif dan terbelakang dalam kebudayaan. Pertanyaan kedua, mengapa pula William Carey meninggalkan Inggris pergi menuju India? Bukankah masih banyak orang Inggris yang masih belum menerima Juru Selamat? Pertanyaan ketiga, mengapa Judson meninggalkan Amerika dan pergi ke Birma, sedangkan Amerika sendiri belum dimenangkan bagi Kristus? Pertanyaan keempat, mengapa Rasul Paulus harus pergi ke Eropa dengan sengaja? Mengapa dia membiarkan dan meninggalkan berjuta-juta masyarakat Palestina yang belum menerima Injil? Bukankah seharusnya ia tetap tinggal di Palestina, menginjilinya agar penduduk sana menerima berita keselamatan?

Sebenarnya hanya ada satu jawaban dalam Alkitab yang menunjukkan pada kita bahwa ladang Tuhan adalah seluruh dunia. Inggris Raya tidak dapat dikatakan sebagai seluruh dunia, Amerika juga bukan seluruh dunia, Kanada dan Indonesia pun hanya sebagian kecil dari keseluruhan dunia. Ladang Tuhan adalah seluruh dunia, ini berarti bahwa seluruh dunia harus mendengar Injil. Pernahkah Anda melihat seorang petani yang hanya menggarap sebagian kecil tanah ladangnya? Anda tentu akan berkata: "Tidak!" Jawaban Anda benar, hanya petani bodoh yang bekerja seperti itu. Seorang petani akan mengerjakan seluruh bidang tanahnya. Sekarang kita mencoba memikirkan beberapa pertanyaan: "Mengapa mereka mencari pendengar-pendengar baru untuk diinjili? Apakah tidak ada orang lagi yang dapat diinjili di dalam negeri?" Saya rasa masalahnya bukan demikian. Hari ini di dalam negeri sebenarnya banyak orang yang dapat ditemukan. Setiap gereja mengutus utusan-utusannya pergi ke luar negeri adalah untuk mencari dan menemukan daerah misi baru bagi pekerjaan Injil.

Perhatikan baik-baik, bukankah cara itu lebih cerdik? Dalam mengemban tugas agung penginjilan, kita harus bertindak lebih cerdik lagi. Allah tidak mau kita berdiam di dalam negeri sendiri, Ia mau kita pergi ke seluruh dunia untuk mengerjakan ladang-Nya. Dalam Alkitab, tercatat peristiwa mukjizat Tuhan Yesus, yang mengenyangkan 5.000 orang. Ingatkah Anda tatkala Yesus menyuruh mereka duduk? Tatkala Ia menerima persembahan roti dari tangan seorang anak kecil, mengucap berkat, serta memecahkannya, kemudian menyuruh para rasul-Nya membagikan pada mereka? Semua orang duduk teratur baris demi baris, menantikan jatah roti mereka. Menurut Anda, bagaimana seharusnya para rasul menjalankan tugas ini? Apakah mereka memulai dengan baris pertama, membagikan roti pada setiap orang sepanjang baris itu, kemudian bertanya pada masing-masing orang baris pertama kalau-kalau mereka masih ingin tambah lagi. Saya rasa kalau para rasul bertindak seperti ini, semua orang akan serentak berdiri untuk mengajukan protes: "Hei, ke sini sebentar, Bung, kami lapar, bertindaklah secara adil. Mengapa orang di baris depan bisa mendapat roti dua kali, sedangkan kami satu kali pun belum menerima apa-apa?" Protes mereka sebenarnya tidak dapat disalahkan. Hari ini kita sering mendengar pendeta berkhotbah tentang kedatangan Yesus yang kedua kali. Sedangkan masih banyak orang yang belum mendengar bahwa Kristus telah satu kali datang. Ini juga tidak adil, bukan?

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Merindukan Jiwa-Jiwa yang Tersesat
Judul asli buku : The Passion for Souls
Penulis : Oswald Smith
Penerbit : YAKIN, Surabaya
Halaman : 29 -- 38

e-JEMMi 36/2009

Alasan Mengapa Kristus Menderita dan Mati

UNTUK MENANGGUNG MURKA ALLAH

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Galatia 3:13)

Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian (propisiasi) karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. (Roma 3:25)

"Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita." (1 Yohanes 4:10)

Andaikata Allah tidak adil, tidak akan ada tuntutan terhadap Anak-Nya untuk menderita dan mati. Andaikata Allah tidak kasih, tidak akan ada kerelaan untuk mengaruniakan Anak-Nya untuk menderita dan mati. Tetapi Allah adalah adil dan kasih. Oleh karena itu, kasih-Nya rela untuk memenuhi tuntutan keadilan-Nya.

Hukum Allah menuntut, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu." (Ulangan 6:5) Tetapi kita lebih mengasihi hal lain. Inilah dosa -- tidak menghormati Allah dengan lebih memilih hal lain daripada diri-Nya, dan bertindak berdasarkan pilihan tersebut. Oleh karena itu, Alkitab berkata, "Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah," (Roma 3:23) kita mendahulukan apa yang paling kita sukai. Sayangnya, yang kita sukai bukanlah Allah.

Oleh sebab itu, dosa bukan perkara kecil, karena dosa bukan melawan pemegang kedaulatan yang kecil. Seriusnya hinaan meningkat sesuai dignitas pihak yang dihina. Sang Pencipta alam semesta seharusnya berhak mendapatkan hormat dan pujian serta loyalitas yang tidak terbatas. Oleh karena itu, kegagalan dalam mengasihi Dia bukanlah perkara yang sepele -- ini adalah pengkhianatan. Kegagalan ini mencoreng nama baik Allah dan menghancurkan kebahagiaan manusia.

Karena Allah itu adil, Dia tidak serta-merta mengabaikan kejahatan ini. Dia merasakan murka yang kudus terhadap kejahatan ini. Kejahatan ini layak dihukum, dan Dia menegaskannya: "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 6:23) "... orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati." (Yehezkiel 18:4)

Terdapat kutuk yang kudus yang membayangi semua dosa. Tidak menghukum dosa berarti melakukan ketidakadilan. Ini akan menyebabkan didukungnya sikap menghina Allah. Kebohongan akan merajalela dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, Allah berkata, "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat" (Galatia 3:10; Ulangan 27:26).

Tetapi kasih Allah tidak terhenti karena kutuk yang membayangi manusia yang telah berdosa. Allah tidak puas dengan menyatakan murka, tidak peduli betapa kudusnya murka tersebut. Maka Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menanggung murka-Nya dan menanggung kutuk tersebut demi semua manusia yang percaya kepada-Nya. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita" (Galatia 3:13a).

Inilah arti dari "jalan pendamaian" atau propisiasi dalam kutipan ayat di atas (Roma 3:25). Propisiasi berarti murka Allah diredakan karena telah disediakan pengganti yang setimpal yang menanggung murka tersebut. Pengganti itu disediakan oleh Allah sendiri. Sang Pengganti, Yesus Kristus, tidak hanya membatalkan penanggungan murka Allah kepada orang berdosa; Dia menanggung murka tersebut dengan mengalihkannya kepada diri-Nya. Murka Allah itu adil, dan murka itu telah dipuaskan, bukannya ditiadakan.

Marilah kita jangan bermain-main dengan Allah atau meremehkan kasih-Nya. Kita tidak akan pernah terkesima akan kasih Allah sampai kita menyadari betapa seriusnya dosa kita dan keadilan murka-Nya terhadap kita. Tetapi, ketika oleh anugerah, kita disadarkan akan ketidaklayakan kita, kita boleh melihat kepada penderitaan serta kematian Kristus dan berkata, "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita." (1 Yohanes 4:10)

UNTUK MENYENANGKAN BAPA-NYA YANG DI SORGA

"Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan." (Yesaya 53:10)

"Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah." (Efesus 5:2)

Yesus tidak bergulat dengan Bapa-Nya yang sedang murka di lantai sorga dan merebut cambuk dari tangan-Nya. Yesus tidak memaksa Allah Bapa untuk berbelas kasih kepada manusia. Kematian-Nya tidak membuat Allah terpaksa mengampuni orang berdosa. Yang Yesus lakukan ketika Dia menderita dan mati tidak ada yang merupakan ide Bapa-Nya. Ide ini adalah strategi mengagumkan yang sudah direncanakan bahkan sebelum penciptaan, ketika Allah merencanakan sejarah dunia. Inilah alasan mengapa Alkitab berbicara mengenai "maksud dan kasih karunia [anugerah Allah] sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman" (2 Timotius 1:9).

Rencana ini sudah mulai disingkapkan dalam Kitab Suci orang Yahudi. Nabi Yesaya menubuatkan penderitaan-penderitaan Mesias, yang akan menggantikan orang berdosa. Dia berkata bahwa Kristus akan "dipukul [oleh] Allah" menggantikan kita.

"Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita.... Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian." (Yesaya 53:4-6)

Tapi hal yang paling mengagumkan dari substitusi Kristus bagi orang berdosa adalah bahwa semua ini merupakan rencana Allah sendiri. Kristus bukan tiba-tiba menerobos masuk ke dalam rencana Allah untuk menghukum orang berdosa; Allah telah merencanakan agar Dia ada di dalam rencana itu. Salah satu nabi Perjanjian Lama berkata, "TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan." (Yesaya 53:10a)

Hal tersebut menjelaskan paradoks dari Perjanjian Baru. Di satu sisi, penderitaan Kristus merupakan pencurahan murka Allah karena dosa; tetapi di sisi lain, penderitaan Kristus merupakan tindakan penundukan diri dan ketaatan yang sungguh mengagumkan kepada kehendak Bapa. Itulah sebabnya Kristus berseru di atas salib, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46) Tetapi Alkitab tetap berkata bahwa penderitaan Kristus merupakan korban yang harum di hadapan Allah. "... Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah." (Efesus 5:2)

0, betapa kita harus memuja kasih Allah yang mahaagung ini! Ini bukan perkara emosi yang berlebihan. Ini bukan perkara yang sederhana. Demi kita, Allah telah melakukan hal yang mustahil: Dia mencurahkan murka-Nya ke atas Anak-Nya -- ke atas Dia yang karena penundukan diri-Nya, sebenarnya sama sekali tidak layak menerimanya. Tetapi kerelaan Anak-Nya untuk menerima curahan murka ini begitu berharga di mata Allah. Sang Penanggung murka dikasihi Allah tanpa batas.

UNTUK BELAJAR TAAT DAN DISEMPURNAKAN

"Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya." (Ibrani 5:8)

"Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah -- yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan -- yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan." (Ibrani 2:10)

Surat yang mengatakan bahwa Kristus "belajar taat" melalui penderitaan, bahwa Dia "[di]sempurnakan" dengan penderitaan, adalah surat yang sama yang juga mengatakan bahwa Dia tidak berdosa: "... sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15)

Ajaran ini disampaikan secara konsisten di dalam seluruh Alkitab. Kristus tidak berdosa. Walaupun Dia adalah Anak Allah, Dia juga adalah manusia sejati, yang pernah merasakan segala pencobaan, keinginan, dan kelemahan fisik seperti yang kita rasakan. Dia pernah merasa lapar (Matius 21:18), dan merasa marah serta sedih (Markus 3:5), dan merasa sakit (Matius 17:12). Tetapi hati-Nya secara sempurna mengasihi Allah, dan Dia bertindak sesuai dengan kasih tersebut: "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya." (1 Petrus 2:22)

Oleh karena itu, ketika Alkitab mengatakan Yesus "belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya," ini bukan berarti Dia belajar untuk menghentikan ketidaktaatan-Nya. Makna dari ayat ini adalah bahwa di dalam setiap pencobaan, Dia belajar dalam praktik dan di dalam kesengsaraan -- apa yang dimaksudkan dengan menaati. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Dia "[di]sempurnakan ... dengan penderitaan," ini bukan berarti Dia secara perlahan-lahan menghilangkan kekurangan yang ada pada diri-Nya. Makna ayat ini adalah bahwa Dia secara bertahap menggenapi kebenaran dan keadilan yang sempurna yang harus dimiliki-Nya agar bisa menyelamatkan kita.

Itulah yang dikatakan-Nya pada saat Dia dibaptis. Dia tidak perlu dibaptis karena Dia tidak berdosa. Tetapi Dia menjelaskan kepada Yohanes Pembaptis, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." (Matius 3:15)

Maksudnya adalah: Jika Anak Allah bergerak dari inkarnasi kepada salib tanpa menjalani kehidupan yang penuh pencobaan dan kesengsaraan untuk menguji kebenaran dan kasih-Nya, maka Dia bukanlah Juru Selamat yang sesuai bagi manusia. Penderitaan-Nya bukan hanya karena menanggung murka Allah. Penderitaan-Nya juga menggenapkan kemanusiaan-Nya dan menjadikan Dia layak memanggil kita sebagai saudara (Ibrani 2:17).

UNTUK MENDAPATKAN KEBANGKITAN-NYA SENDIRI DARI KEMATIAN

"Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian (kovenan) yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya." (Ibrani 13:20-21)

Kematian Kristus bukan hanya mendahului kebangkitan-Nya -- kematian-Nya tersebut merupakan harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kebangkitan. Itulah alasan mengapa Ibrani 13:20 berkata bahwa Allah membangkitkan Dia dari kematian "oleh darah perjanjian yang kekal."

"Darah perjanjian" (kovenan) adalah darah Yesus. Seperti kata Yesus, "Inilah darah-Ku, darah perjanjian" (Matius 26:28). Ketika Alkitab berbicara mengenai darah Yesus, Alkitab mengacu kepada kematian-Nya. Tidak ada keselamatan yang bisa didapat hanya melalui Yesus yang sekadar mencucurkan darah saja. Dia mencurahkan darah sampai mati, itu yang menjadikan pencurahan darah-Nya penting.

Apa hubungan antara pencurahan darah Yesus dan kebangkitan? Alkitab berkata, Dia dibangkitkan tidak hanya setelah pencurahan darah, tapi oleh pencurahan darah. Artinya, apa yang dicapai oleh kematian Kristus begitu lengkap dan sempurna sehingga kebangkitan merupakan upah dan bukti dari apa yang telah Kristus capai dalam kematian-Nya.

Murka Allah dipuaskan oleh penderitaan dan kematian Yesus. Kutuk yang kudus terhadap dosa sepenuhnya telah ditanggung. Ketaatan Kristus telah genap sepenuhnya. Harga bagi pengampunan telah sepenuhnya Tunas dibayar. Keadilan dan kebenaran Allah telah sepenuhnya ditegakkan. Satu-satunya hal yang belum dicapai adalah pernyataan penerimaan Allah atas karya Kristus secara terbuka. Pernyataan penerimaan Allah ini diberikan dengan membangkitkan Yesus dari kematian.

Ketika Alkitab berkata, "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu" (1 Korintus 15:17), yang dimaksudkan bukanlah bahwa kebangkitan merupakan harga yang dibayar bagi dosa kita melainkan bahwa kebangkitan membuktikan kalau kematian Yesus cukup untuk membayar segalanya. Jika Yesus tidak bangkit dari kematian, maka kematian-Nya merupakan sebuah kegagalan, Allah tidak meneguhkan bahwa Yesus telah menanggung dosa kita, dan kita masih hidup dalam dosa.

Tetapi "... Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, ...." (Roma 6:4) Keberhasilan penderitaan dan kematian-Nya diteguhkan. Jika kita beriman kepada Kristus, kita tidak lagi tinggal di dalam dosa. "Oleh darah perjanjian yang kekal," Gembala yang Agung telah dibangkitkan dan hidup selamanya.

UNTUK MENUNJUKKAN KEKAYAAN KASIH DAN ANUGERAH ALLAH BAGI ORANG BERDOSA

"Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati -- Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:7-8)

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

"Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia (anugerah)-Nya." (Efesus 1:7)

Besarnya kasih Allah kepada kita bisa ditunjukkan melalui dua hal. Pertama, melalui besarnya pengorbanan-Nya untuk menyelamatkan kita dari hukuman dosa. Kedua, besarnya ketidaklayakan kita dalam mendapatkan keselamatan dari-Nya.

Kita bisa memahami besarnya pengorbanan-Nya dalam perkataan, "... Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, ...." (Yohanes 3:16) Kita juga memahaminya dari arti kata Kristus. Nama ini berasal dari gelar dalam bahasa Yunani Christos, atau "yang Diurapi," atau "Mesias". Nama itu menunjukkan dignitas yang tinggi. Mesias seharusnya menjadi Raja Israel. Dia akan menaklukkan Kekaisaran Roma dan memberikan kedamaian dan keamanan bagi Israel. Oleh karena itu, Dia yang Allah kirim untuk menyelamatkan orang berdosa adalah Anak Allah, Anak-Nya yang Tunggal, dan Raja Israel yang Diurapi -- seorang raja atas dunia (Yesaya 9:5-6).

Ketika kita menambahkan lagi kepada pemahaman ini perihal kematian yang begitu sengsara karena penyaliban yang Kristus alami, maka pengorbanan yang dilakukan Bapa dan Anak sangatlah besar -- bahkan tidak terkira, jika kita mempertimbangkan jarak antara Allah dan manusia. Tapi Allah memilih berkorban untuk menyelamatkan kita.

Besar kasih-Nya bagi kita semakin meningkat ketika kita menyadari ketidaklayakan kita. "Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:7-8) Kita layak menerima hukuman Allah, bukan pengorbanan Allah.

Saya pernah mendengar perkataan, "Tuhan tidak mati untuk kodok. Dia melihat nilai kita sebagai manusia." Hal ini memperjelas anugerah. Kita lebih buruk daripada kodok. Kodok tidak berdosa. Kodok tidak memberontak dan menghina Allah dalam hidupnya. Tuhan tidak perlu mati untuk kodok. Kodok tidak rusak. Kita yang rusak. Dosa kita begitu besar, hanya pengorbanan Allah yang bisa membayarnya.

Hanya ada satu penjelasan mengapa Allah berkorban bagi kita. Bukan karena kita, melainkan karena "menurut kekayaan kasih karunia [anugerah]-Nya" (Efesus 1:7b). Pengorbanan ini Allah lakukan berdasarkan kehendak-Nya, bukan karena nilai kita. Pengorbanan Allah mengalir dari nilai-Nya yang tak terkira. Inilah kasih Allah: suatu penderitaan yang mempesona orang berdosa yang tidak layak, berapa pun harganya, dengan apa yang akan membuat kita bahagia selamanya, yaitu keindahan-Nya yang tidak terkira.

UNTUK MENUNJUKKAN KASIH-NYA KEPADA KITA

"Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah." (Efesus 5:2)

"Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." (Efesus 5:25)

"Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20)

Kematian Kristus tidak hanya menunjukkan kasih Allah (Yohanes 3:16), tetapi juga merupakan pernyataan tertinggi dari kasih Kristus sendiri bagi semua orang yang menerima kasih-Nya sebagai milik pusaka mereka. Orang-orang Kristen mula-mula, yang paling menderita karena menjadi orang Kristen, menyadari fakta ini: Kristus "mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:20).

Demikianlah kita seharusnya memahami penderitaan dan kematian Kristus. Semuanya berkaitan dengan diri saya. Semua berkaitan dengan kasih Kristus bagi saya secara pribadi. Dosa sayalah yang telah memutuskan hubungan dengan Tuhan, bukan dosa secara umum. Kekerasan hati dan kebebalan rohani sayalah yang telah merendahkan nilai Kristus. Saya terhilang dan binasa. Dalam hal keselamatan, saya tidak lagi memunyai klaim atas keadilan. Satu-satunya tindakan yang bisa saya lakukan adalah memohon belas kasihan.

Kemudian saya melihat Kristus menderita dan mati. Bagi siapa? Alkitab berkata, "... Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." (Efesus 5:25) "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13) "... Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28)

Saya bertanya, Apakah saya termasuk di antara "banyak orang" itu? Apakah saya termasuk di antara "sahabat-sahabat-Nya"? Apakah saya temasuk dalam "jemaat (gereja)"? Saya mendapat jawabannya: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat." (Kisah Para Rasul 16:31) "Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:13) "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya." (Kisah Para Rasul 10:43) "Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." (Yohanes 1:12) "Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

Hati saya terharu, dan saya memeluk keindahan dan kelimpahan Kristus sebagai milik pusaka saya. Saya kemudian merasakan di dalam hati saya mengalir kenyataan agung ini -- kasih Kristus bagi saya. Sehingga saya bisa berkata, bersama-sama dengan para saksi Kristus mula-mula, "Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."

Apa yang saya maksudkan? Saya ingin mengatakan bahwa Dia telah membayar harga termahal yang bisa diberikan kepada saya agar bisa memberikan anugerah terbesar kepada saya. Apa itu? Anugerah yang Dia doakan sebelum akhir hidup-Nya di bumi: "Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku ...." (Yohanes 17:24) Melalui penderitaan dan kematian-Nya "kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia [anugerah] dan kebenaran" (Yohanes 1:14). Kita telah cukup melihat sehingga hati kita bertautan oleh kasih-Nya. Tetapi bagian yang terbaik belumlah tiba. Dia mati untuk menyediakan bagian terbaik itu bagi kita. Itulah kasih Kristus.

Diambil dari:

Judul buku : Penderitaan Yesus Kristus
Judul buku asli : The Passion of Jesus Christ
Penulis : John Piper
Penerjemah : Stevy Tilaar
Penerbit : Momentum Surabaya, 2005
Halaman : 10 -- 21

e-JEMMi 12/2010



Alasan Mengapa Kristus Menderita dan Mati

Untuk Membatalkan Tuntutan Hukum Taurat Terhadap Kita

"Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu... telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib." (Kolose 2:13-14)

Sangatlah bodoh jika kita memiliki pemikiran bahwa perbuatan baik kita pada suatu hari nanti akan cukup untuk membayar keburukan yang kita lakukan. Ada dua alasan mengapa kita mengatakan pemikiran ini bodoh.

Pertama, pemikiran itu sama sekali tidak benar. Semua perbuatan baik kita pun tidak sempurna karena kita tidak memuliakan Tuhan dalam cara kita melakukan-Nya. Apakah kita melakukan kebaikan dalam ketergantungan dengan penuh sukacita pada Tuhan dengan tujuan menyatakan kemuliaan-Nya? Apakah kita telah memenuhi perintah untuk melayani "dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus?" (1 Petrus 4:11)

Apa yang harus kita lakukan untuk menjawab firman Tuhan, "Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa?" (Roma 14:23) Menurut saya, kita seharusnya tidak berkata apa-apa. "Segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut." (Roma 3:19) Kita tidak akan berkata apa pun. Merupakan kebodohan jika kita mengira bahwa kebaikan kita akan cukup untuk membayar kejahatan kita di hadapan Allah. Tanpa iman kepada Kristus, perbuatan kita hanyalah suatu pemberontakan.

Alasan kedua mengapa mengharapkan perbuatan baik untuk keselamatan kita merupakan kebodohan, adalah karena ini bukan cara Tuhan dalam menyelamatkan. Jika kita diselamatkan dari akibat perbuatan jahat kita, itu pasti bukan dikarenakan perbuatan baik kita lebih banyak daripada perbuatan buruk kita. Tetapi dikarenakan "surat hutang [kita]" di Surga telah dipakukan pada salib Kristus. Tuhan tidak menyelamatkan orang berdosa dengan menimbang perbuatan-perbuatan mereka. Tidak ada harapan bagi keselamatan di dalam perbuatan baik kita. Pengharapan hanya datang melalui penderitaan dan kematian Kristus.

Tidak ada keselamatan dengan cara menyeimbangkan perbuatan baik dengan perbuatan buruk. Keselamatan diberikan melalui penghapusan utang. Catatan perbuatan jahat kita (termasuk perbuatan baik yang tidak sempurna yang kita lakukan), ditambah hukuman yang harus diterima, harus dihapus -- bukan disejajarkan. Inilah yang dikaruniakan Kristus melalui penderitaan dan kematian-Nya.

Penghapusan terjadi ketika semua perbuatan jahat kita "[di]pakukan pada kayu salib". (Kolose 2:14) Bagaimana bisa catatan semua utang itu dipakukan di atas salib? Bukan kertas yang dipaku di atas salib, tapi Kristus. Kristuslah yang menanggung semua akibat perbuatan buruk (dan baik) kita. Dia menanggung hukumannya. Dia menempatkan keselamatan saya pada landasan yang sama sekali berbeda. Dia menjadi satu-satunya harapan saya. Dan beriman kepada-Nya merupakan satu-satunya jalan saya kepada Allah.

Untuk Menjadi Tebusan bagi Banyak Orang

"Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45)

Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Iblis harus dibayar agar orang berdosa bisa diselamatkan. Apa yang terjadi terhadap Iblis ketika Kristus mati bukanlah pembayaran, tapi penaklukan. Anak Allah menjadi manusia supaya "oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut". (Ibrani 2:14) Tidak ada tawar-menawar.

Ketika Yesus mengatakan, bahwa Dia datang untuk "memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan", fokusnya bukanlah pada siapa yang mendapat bayarannya. Fokusnya adalah pada nyawa-Nya sendiri yang menjadi tebusan, pada kerelaan-Nya untuk melayani daripada dilayani, pada "banyak orang" yang akan mendapatkan keselamatan dari tebusan yang diberikan-Nya.

Jika kita bertanya siapa yang menerima bayarannya? Alkitab menjawab: Tuhan. Alkitab berkata, Kristus "telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah". (Efesus 5:2) Kristus "telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat". (Ibrani 9:14) Kita perlu ditebus karena telah berdosa melawan Allah dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dan karena dosa kita, "seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah". (Roma 3:19) Alkitab berkata, ketika Kristus menjadi tebusan bagi kita, kita dibebaskan dari hukuman Allah. "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." (Roma 8:1) Pada akhirnya kita akan diselamatkan dari "hukuman Allah" yang terakhir (Roma 2:2; Wahyu 14:7).

Harga tebusan untuk bisa diselamatkan dari hukuman Allah adalah nyawa Kristus. Hidup-Nya diserahkan kepada kematian. Yesus berulang kali berkata kepada para murid, "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia". (Markus 9:31) Salah satu alasan mengapa Yesus senang menyebut diri-Nya "Anak Manusia" (lebih dari enam puluh lima kali dalam Kitab-kitab Injil) adalah, karena sebutan itu mengandung pengertian kefanaan di dalamnya. Manusia bisa mati. Karena itulah Dia harus menjadi seperti manusia. Tebusan hanya bisa dilakukan oleh Anak Manusia, karena tebusan tersebut adalah hidup yang diserahkan ke dalam kematian.

Harganya bukan darinya. Itulah maksud perkataan "Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani". Dia tidak membutuhkan pelayanan kita. Dia adalah pemberi, bukan penerima. "Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri." (Yohanes 10:18) Harganya dibayar secara sukarela; tidak dipaksakan. Hal itu membawa kita kembali kepada kasih-Nya. Dia dengan sukarela menyelamatkan kita dengan memberikan nyawa-Nya.

Berapa banyak yang Kristus tebus dari dosa? Dia berkata, Dia datang untuk "menjadi tebusan bagi banyak orang." Tidak semua orang akan diselamatkan dari murka Allah. Tapi tawaran ini ditujukan kepada semua orang. "Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia." (1 Timotius 2:5-6) Keselamatan adalah bagi semua orang yang menerima Kristus yang telah menjadi penebus.

Diambil dari:

Judul buku : Penderitaan Yesus Kristus
Judul buku asli : The Passion of Jesus Christ
Penulis : John Piper
Penerjemah : Stevy Tilaar
Penerbit : Momentum Surabaya, 2005
Halaman : 22 -- 25

e-JEMMi 11/2011

Alasan-Alasan yang Sering Dipakai untuk Menggunakan Okultisme

Pada umumnya, praktik okultisme yang ditemukan dalam segala bidang kehidupan manusia disertai dengan alasan-alasan sebagai berikut.

  1. Untuk mengormati orang tua atau nenek moyang, sesuai dengan hukum ke-5 ("... hormatilah ibu bapamu, supaya lanjut umurmu"). Alasan ini kelihatannya benar, tetapi salah. Cara yang dipakai iblis untuk merusak hidup manusia ialah dengan memakai firman Allah secara terpenggal-penggal, atau lepas dari ayat sebelumnya atau sesudahnya. Hukum ke-5 didahului oleh hukum ke-2. Kalau orang tua belum mengerti hal itu, kita harus memberikan pengertian, dan kalau mereka tetap menolak, maka kita perlu lebih menaati Allah daripada manusia -- orang tua kita (Kisah Para Rasul 5:29). Ketaatan terhadap orang tua atau nenek moyang tidak menjadikan kita memunyai keris atau jimat yang mereka tinggalkan untuk kita, karena hal-hal itu adalah kebencian Allah. Ketaatan kita kepada orang tua haruslah dalam garis ketaatan kita terhadap Allah dan firman-Nya (Matius 10:34-37; Kejadian 12:1; Yosua 24:2-3).

  2. Untuk melayani orang mati, baik roh orang tua maupun roh nenek moyang, agar mereka tidak marah terhadap anak-anak atau cucunya yang masih hidup atau sebaliknya. Alkitab menerangkan dengan jelas bahwa roh orang mati tidak dapat berhubungan dengan roh orang yang hidup atau sebaliknya. Yang bekerja sebenarnya adalah roh-roh setan, bukan roh orang mati. Dalam Kejadian 4:8-10, roh Habel berseru kepada Allah, bukan kepada Kain, sebab jiwa Habel tidak dapat berhubungan lagi dengan Kain yang masih hidup.

  3. Karena dukun-dukun memakai nama Trinitas Allah atau Alkitab. Tuhan Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Kehendak Bapa ialah supaya kita jangan pergi ke dukun atau menggunakan okultisme (Ulangan 18:9-13). Yesus mengusir orang-orang yang memakai nama Tuhan secara salah dan yang menggunakan Alkitab dengan maksud magis. Jikalau ada di antara rakyat Indonesia yang mencatut nama presiden untuk kepentingan dirinya lalu ketahuan, pastilah dihukum.

    Demikian jugalah orang yang mencatut nama Allah untuk praktik-praktik okultisme akan dibuang ke dalam api neraka kalau mereka tidak bertobat. "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan" (Keluaran 20:7). Orang-orang yang menyebut nama Tuhan harus menjauhkan diri dari kejahatan/penyembahan berhala/pemakaian okultisme (2 Timotius 2:19). Iblis adalah bapak pembohong. Kepada orang kafir iblis memakai cara kafir dan kepada orang Kristen iblis memakai cara Kristen dan benda-benda rohani.

  4. Karena pertolongan melalui okultisme mendatangkan kesembuhan dan sukses dalam hidup seseorang. Perlu kita ketahui bahwa iblis dapat membuat kaya seseorang (Kisah Para Rasul 16:16), juga dapat menyembuhkan dan melakukan mukjizat (Keluaran 7:10-13). Kita perlu sadar bahwa rekening setan bukanlah rekening gratis, tetapi harus dibayar dengan jiwa kita sendiri karena "pertolongan setan" pada hakikatnya adalah celaka. Kesembuhan gelap menolong tubuh, tetapi nanti jiwa menderita. Tuhan mau memberkati kita, tetapi bukan dengan cara-cara okultisme, melainkan dengan cara-Nya yang penuh kasih.

  5. Karena adat istiadat menuntut. Ikut-ikutan dalam adat yang mengandung unsur okultisme untuk menyenangkan orang banyak, walaupun ia tahu bahwa perbuatan itu dosa di mata Tuhan. Misalnya, memindahkan tulang-tulang orang mati dengan upacara adat. Elia berdiri teguh atas dasar firman Allah, dan ia tidak mau ikut-ikutan dalam dosa massal, yaitu menyembah baal. Tuhan menghargai Elia atas keyakinannya itu (1 Raja-raja 18:20-46). Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak ikut adat kebiasaan orang Babel, bahkan melawan perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah berhala. Walaupun api menunggu mereka, tetapi Tuhan memelihara mereka (Daniel 3:1-30). Orang tua Gideon akan dibinasakan karena merusak berhala orang banyak (Hakim-hakim 6:25-32). Jikalau kita mengasihi adat kebiasaan yang berdosa, maka Allah membenci kita, kalau kita mengasihi Allah dengan tidak menyembah berhala, maka masyarakat penyembah berhala membenci kita. Kita tidak bisa netral, tetapi harus berdiri dengan Tuhan walaupun orang banyak menentangnya, maka Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya melalui orang yang mengasihi Dia (Bilangan 14:5-10).

Israel ditolong Tuhan karena Gideon tidak ikut-ikutan dengan dosa massal orang Israel. Tiga orang dilindungi Tuhan di tengah api yang dinyalakan oleh Nebukadnezar. Mengapa berkat Tuhan tidak turun? Dan mengapa kita terus diperhamba oleh orang-orang Midian? Karena kita ikut adat istiadat orang berdosa. Marilah kita melawan dosa-dosa masal dan berdiri di pihak Tuhan, maka Ia akan memberkati kita. Mengapa gereja kita kering? Hujan dari surga tidak turun dan banyak anggota jemaat kita yang masih ditawan oleh kuasa gelap dan dosa oleh karena hamba Tuhan sendiri masih memakai jimat, menggunakan mantera, memakai ikat pinggang merah. Dengan kata lain, masih banyak nabi-nabi baal modern, yang ikut upacara menanam kepala kerbau dan melayani tempat-tempat keramat. Tuhan Yesus berkata, siapa yang mengikut Dia harus menanggung salibnya. Ini berarti bahwa seorang Kristen yang benar harus membayar harga -- dihina, dikucilkan, diolok oleh masyarakat penyembah berhala yang ada di sekitarnya, dan yakinlah bahwa Tuhan tidak membiarkan dia.

Akibat-Akibat Menggunakan Okultisme

Seorang yang digigit oleh nyamuk malaria, tidak langsung sakit malaria, tetapi setelah melalui beberapa proses tertentu, "pasti" ia sakit malaria. Demikian juga orang yang terlibat dalam dunia okultisme, ada akibat-akibat yang langsung dialami dan juga ada akibat-akibat yang dialami setelah beberapa waktu tertentu. Kita perlu mengerti beberapa gejala dan tanda sebagai akibat daripada keterlibatan seseorang dalam dunia okultisme.

  1. Serangan depresi, misalnya seorang tenggelam dalam suatu kesedihan tanpa alasan. Orang berada di bawah tekanan dicekam oleh perasaan takut terhadap hal-hal sekitarnya. Iblis tidak pernah dapat memberikan sejahtera dalam hati manusia. Hanya di dalam Kristus manusia mendapatkan damai sejahtera dan kemerdekaan (Yohanes 16:33; Roma 16:20; 2 Korintus 3:17). Kuasa gelap hanya memberikan kegelisahan.

  2. Pikiran mau bunuh diri yang sering kali berjalan sejajar dengan depresi. Saul dan Yudas mengakhiri hidupnya dengan menyedihkan sekali (1 Samuel 28; 1 Tawarikh 10:1-4; Matius 27:1-5). Iblis adalah pembunuh manusia -- membawa manusia kepada keputusasaan, menjadikan manusia nekat untuk bunuh diri (Yohanes 8:44).

  3. Tertutup terhadap firman Allah. Gejala ini tidak sama pada tiap-tiap orang. Ada yang merindukan firman Allah, tetapi waktu ia mendengar, ia mengantuk dan tertidur, walaupun tubuhnya dalam keadaan segar bugar. Iblis adalah roh penidur, membutakan hati manusia, sehingga benih firman Allah tidak dapat masuk dan tumbuh dalam hati orang yang terlibat dalam dunia okultisme (2 Tawarikh 33:10; Matius 13:4, 18-19; 2 Korintus 4:4). Orang-orang yang terlibat dalam dunia okultisme tidak menyukai firman Allah. Mungkin membaca juga, tetapi tidak mengerti. Kalau membaca buku-buku yang lain, ia tidak mengantuk atau tertidur. Tanda bahwa seseorang telah dibebaskan ialah menyukai Alkitab dan setia membacanya.

  4. Gangguan lain ialah pada waktu mendengar firman Allah, ia dikuasai oleh roh sangsi yang beroperasi pada saat itu, sehingga sulit baginya untuk memercayai firman Allah, dan akhirnya berantakan. Firman Allah tidak menjadi jaminan yang utuh untuk imannya, tetapi merupakan bahan spekulasi saja. Itulah sebabnya kita bertemu dengan orang yang di atas mejanya ada buku mantera dan ada juga Alkitab.

  5. Ada keinginan bahkan kenyataan menghujat nama Tuhan Yesus, baik tersembunyi maupun terang-terangan. Seorang ibu dari latar belakang agama lain yang pernah terlibat dalam okultisme, dan sekarang telah menjadi orang Kristen, pada waktu berdoa ia menghujat Tuhan. Setelah sadar ia menyesal dan menangis, dan ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Roh penghujat menguasai orang yang terlibat okultisme. Gejalanya adalah adanya ketakutan yang tidak normal. Banyak hal di sekitarnya yang membuat dia takut. Takut akan Allah ada dalam hati orang yang mengasihi Allah, tetapi takut yang tidak normal ada dalam hati orang yang terlibat okultisme. Berjalan melewati kuburan dan tempat keramat, bulu kuduk berdiri, takut bunyi-bunyi yang aneh, bahkan takut akan kematian, menguasai orang yang terlibat okultisme.

  6. Gejala adanya "angin kotor" -- angin hawa nafsu, pikiran-pikiran yang najis yang dihembuskan oleh roh-roh najis. Biasanya orang yang terlibat dalam okultisme, kehidupan seksualnya tidak normal --matanya penuh zinah dan angan-angan kotor yang menguasai dia. Iblis tidak hanya bapak pembunuh, tetapi juga bapak perzinahan.

  7. Urat syaraf sakit akibat mempraktikkan okultisme secara aktif. Tubuh manusia adalah rumah Roh Kudus. Tubuh Musa, Kaleb, dan Yusak sehat sekali, ingatan mereka normal, tidak ada gangguan syaraf (Ulangan 34:7; Yosua 14:6-11). Tubuh manusia yang didiami oleh roh-roh setan/najis (Efesus 2:2), mengalami banyak gangguan (1 Samuel 16:14-23; 18:10-12). Ingatan Saul tidak normal lagi, sebab di bawah roh jahat. Sewaktu-waktu ia benci kepada Daud, sewaktu-waktu ia menyesal atas dosanya. Perhatikan juga Markus 5:1-20, khususnya ayat l5, "... orang yang kerasukan itu sudah waras." Aktif dalam okultisme juga menyebabkan kegilaan (Ulangan 28:28).

  8. Kemarahan yang tidak normal. Ada kemarahan dari Roh Kudus (1 Samuel 11:6; Lukas 9:51-56, kata menegur disebut juga menghardik), tetapi ada kemarahan yang ditunggangi roh setan yang mengakibatkan dosa (Kejadian 4:48) dan penderitaan. Roh harimau (1 Petrus 5:8) menguasai orang yang terlibat okultisme dan menerkam orang-orang di sekitarnya, seperti Kain membunuh Habel.

  9. Kekacauan dalam hidup, dalam rumah tangga (2 Tawarikh 33:3-6; Kejadian 11:9). Manasye terlibat dalam okultisme, dan Tuhan membuang dia di Babel yang berarti kekacauan. Hidup orang-orang yang terlibat okultisme senantiasa kacau.

  10. Akibat untuk keturunan, biasanya menderita secara tidak normal, cacat, dan sebagainya sampai gilir-bergilir (Keluaran 20:4-5). Keturunan berada di luar berkat Tuhan.

  11. Kemandulan dan penyakit, kematian sebelum waktunya (Keluaran 23:24-26).

Melihat satu atau dua gejala saja tidak cukup. Seorang yang terlibat dalam pelayanan ini, haruslah penuh dengan Roh Kudus, sehingga ia memunyai karunia membedakan roh. Harus dibedakan gejala tubuh saja atau gejala rohani. Seorang dokter menyelesaikan persoalan jasmani saja, sedangkan seorang psikiater menyelesaikan masalah jiwa, dan seorang hamba Tuhan menyelesaikan hal-hal rohani. Kerja sama di antara ketiganya sangat diperlukan. Dalam dunia okultisme, biasanya seorang dokter kesehatan atau dokter jiwa yang belum kenal Tuhan Yesus tidak dapat menolong orang yang terlibat dalam dunia okultisme, kecuali seorang hamba Tuhan yang penuh dengan Roh Kudus. Seorang dokter atau seorang psikiater Kristen yang penuh Roh Kudus dapat melepaskan orang yang terlibat okultisme. Jikalau kita dalam terang Tuhan mengerti gejala-gejala ini, baru kita dapat masuk dalam pelayanan pelepasan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Antara Kuasa Gelap dan Kuasa Terang
Penulis : Pondsius Takaliuang
Penerbit : Departemen Literatur Yayasan Persekutuan Pekabar Injil Indonesia (YPPII), Batu 1987
Halaman : 82 -- 89

e-JEMMi 32/2009

Alkitab Sebagai Kerangka Referensi

Uraian ini saya awali dengan satu tema pernyataan iman yang masih dapat berkembang: Allah, Allah yang hidup, Allah yang menyelamatkan, Allah yang berbicara, dan Allah yang mencukupi. Kita harus menyampaikannya dengan cara sedemikian rupa sehingga kita dapat melihatnya dengan latar belakang kepercayaan-kepercayaan yang berbeda. Entah disadari atau tidak, para misiolog, sebagaimana para ilmuwan, sama-sama mengawali riset mereka dengan tindakan iman. Walaupun Durkheim menyatakan, "semua prakonsepsi harus dihapuskan" (1962:31), tidak ada cara lain untuk memulai sebuah riset kecuali dengan tindakan iman. Faktanya, yang dilakukan Durkheim sendiri ternyata persis seperti itu. Saltman, seorang ahli biokimia, berpendapat bahwa "ilmu pengetahuan adalah satu pengalaman religius" (1970). Pertama-tama, para peneliti ilmu pengetahuan percaya bahwa alam semesta memunyai tatanan; kedua, manusia dapat memahami tatanan ini dengan melakukan penelitian-penelitian; dan ketiga, adalah suatu hal yang baik bagi manusia untuk mendapat pemahaman tersebut.

Seorang peneliti tidak hanya memulai dengan iman yang pribadi, tetapi juga membutuhkan semacam "kerangka acuan" untuk menyusun, menguji, dan menafsirkan pengalamannya. Kerangka acuan itu dapat berbentuk peta atau diagram, yang telah dirancang oleh orang lain berdasarkan riset sebelumnya dan telah diuji selama bertahun-tahun melalui serangkaian penemuan ilmiah yang terus berkembang. Selain itu, sebuah kerangka acuan bisa berbentuk sistem kalkulasi, dengan rumusan dan metode trigonometri yang telah dibuktikan secara matematis. Kerangka acuan juga bisa berbentuk metode pengumpulan, pengelompokan, dan pembandingan data kuantitatif dan kemudian dicatat dalam bentuk grafik hingga membuat kita dapat mengenali kondisi dan kecenderungan tertentu. Pilihan-pilihan kerangka acuan yang disediakan untuk berbagai jenis riset hampir tidak terbatas jumlahnya. Setiap disiplin ilmu dapat memunyai satu atau lebih kerangka acuan bergantung tujuan risetnya.

Kerangka acuan untuk misiologi harus memenuhi persyaratan berikut:

  1. Kerangka acuan itu harus cukup memadai untuk disiplin ilmu tersebut; artinya, penggunaan kerangka acuan itu harus dapat diaplikasikan di tengah-tengah konsep misi Kristen dan tujuannya.

  2. Kerangka acuan itu harus dilengkapi dengan cara-cara yang memadai untuk pengelompokan dan pengujian data yang sudah diamati dan dikumpulkan; artinya, acuan itu harus memiliki nilai-nilai dan moral-moral religius.

  3. Kerangka acuan itu harus dijadikan alat penguji yang bisa meyakinkan misiolog itu sendiri akan keandalan temuan mereka.

Kemudian, jika seorang peneliti sudah memilih satu kerangka acuan yang meyakinkan, dia harus menggunakan kerangka acuan itu dengan jujur dan konsisten, dan tidak memanipulasinya -- tidak seperti yang sering dilakukan oleh beberapa peramal licik -- untuk keuntungan diri sendiri. Kerangka acuan adalah sesuatu yang berasal dari luar diri sang peneliti, yang diadopsi untuk tujuan pengujian, agar diperoleh hasil yang tidak didasarkan pada penilaian subjektif sang peneliti. Sebuah kerangka acuan disusun bukan hanya untuk tujuan pengelompokan data, tetapi juga untuk dijadikan tolok ukur sumber data yang diteliti dan otoritas data yang diuji. Selain itu, adanya sebuah kerangka acuan akan mengurangi subjektivitas temuan itu dan membantu sang peneliti untuk menetapkan kesimpulan secara ilmiah. Beberapa penilaian dan pertimbangan subjektif tentu masih akan ada, namun sang peneliti akan bertindak mengikuti "aturan permainan".

Dalam misiologi, kerangka acuan kita adalah Alkitab. Kita menerima Alkitab "apa adanya" sebagai alat bantu untuk mengelompokkan dan menguji materi kita. Materi-materi ini diambil dari sumber-sumber historis, arsip-arsip bersejarah, dan riset-riset antropologi. Materi-materi ini dikumpulkan dengan teknik-teknik kesejarahan dan antropologi yang telah diakui secara luas dan diletakkan pada kisi-kisi Alkitab untuk ditafsirkan.

Agenda dunia, perbandingan agama, dan filsafat tidak memberikan skala penguji misiologi yang memadai. Sebaliknya, Alkitab telah memenuhi hal itu dikarenakan beberapa hal. Alkitab adalah firman Allah yang tertulis, yang dengan firman itu Allah telah mengutus para pengikut-Nya ke ladang misi di dalam dunia dan kepada dunia -- itu merupakan prioritas utama. Alkitab juga menunjukkan konteks pengutusan itu secara tepat. Selain itu, Alkitab menyimpan informasi mendasar tentang satu "Pribadi", yang adalah pusat dari misi Kristen, tentang hakikat misi-Nya sendiri untuk umat manusia, dan otoritas yang memberi-Nya kuasa untuk mengutus pengikut-pengikut-Nya. Alkitab telah menerangkan tujuan dan ruang lingkup misi dunia. Maka, sudah sewajarnya kita kembali pada pokok-pokok tersebut untuk menguji praktik misi kita sendiri.

Perjanjian Lama menceritakan bagaimana Allah berhubungan dengan manusia melalui Israel. Dua gagasan mulai muncul dari sini: "bangsa-bangsa" dan "tanggung jawab umat Allah" terhadap

bangsa-bangsa itu. Perjanjian Lama menunjukkan betapa Israel sudah gagal dalam tanggung jawab itu. Semuanya ini adalah konteks yang di dalamnya Yesus hidup di bumi dan menghadapkan Amanat Agung. Israel yang baru sudah diwarisi janji-janji itu. Kemudian, Alkitab adalah sebuah catatan mengenai permulaan karya misi Kristen pada zaman Kekaisaran Roma, dengan satu uraian yang jelas tentang berbagai jenis pola pertumbuhan dan permasalahannya -- keduanya ternyata sangat menyerupai temuan kita pada zaman kita. Selanjutnya, Alkitab berisi sekumpulan bahan-bahan, yang walaupun [pada mulanya] tersebar, dapat ditelusuri melalui penelitian untuk memberikan dasar teoretis dan teologis yang memadai untuk aktivitas misi Kristen itu. Beberapa dimensi teologi ini telah saya satukan dalam buku "Church Growth and the Word of God" (1970a). Karena hal ini dan alasan lainnya, tampak bagi saya bahwa tidak ada kerangka acuan lain yang lebih memadai untuk menguji misi Kristen selain Alkitab itu sendiri. Oleh sebab itu, saya telah memakainya sebagai kerangka acuan saya selama bertahun-tahun, saya tidak merasa perlu untuk menggantinya dengan sesuatu yang berasal dari dalam diri saya sendiri (secara filosofis) atau beberapa ideologi lain yang berlandaskan agenda dunia, yang menjadikannya sebagai otoritas, alih-alih Allah.

Saya menggunakan Alkitab secara "menyeluruh". Tidak ada alasan untuk menyimpang dari Alkitab, untuk menghilangkan bagian ini atau itu karena beberapa alasan yang seolah-olah saja kritis. Bagi saya, Alkitab senantiasa berperan sebagai otoritas firman Allah bagi umat-Nya. Bagi seorang antropolog, kebenaran firman Tuhan yang sudah diberikan kepada manusia dan dikumpulkan selama mungkin lebih dari dua ribu tahun itu, seharusnya mencerminkan bentuk-bentuk dan struktur kesastraan yang berbeda mulai dari suku-suku nomaden yang bersistem patriarki, kerajaan-kerajaan oriental, dan masyarakat pinggiran dan perkotaan Yunani-Romawi. Saya tidak menemukan Alkitab bermasalah dalam hal ini; bentuknya yang multikultural itu justru dipakai Allah untuk berbicara di dalam berbagai ruang dan waktu. Apabila saya membaca suatu bagian Alkitab yang memunyai konteks budaya tertentu, saya selalu membiarkan diri saya dituntun melalui bentuk budaya itu menuju kebenaran kekal yang seakan-akan berbicara kepada saya di dalam situasi budaya saya sendiri. Bagi saya, inilah alat bantu yang sempurna untuk mengevaluasi situasi-situasi lintas budaya pada dunia misi.

Dalam kajian ini, tidak terdapat butir yang memunculkan masalah kritik Alkitab. Itu bukan berarti saya mengabaikannya. Saya sudah mempelajarinya setiap hari dan menganggapnya murni sebagai hal yang akademis dan teoretis, dan bukan suatu masalah yang berkaitan dengan misi. Apabila saya memotong bagian Amanat Agung pada akhir masing-masing kitab Injil (karena itu adalah pernyataan setelah kebangkitan), kita tidak memiliki Amanat Agung hingga secara keseluruhan tidak terdapat lagi kebutuhan akan misiologi. Jika saya menghapus kisah kebangkitan, baik karena alasan cerita tersebut merupakan cerita tambahan atau mitos, maka khotbah-khotbah tentang kebangkitan tidak akan berarti lagi -- sekadar suatu gagasan saja. Kitab Suci dijadikan salah, iman kita sia-sia, dan kita masih tinggal di dalam dosa-dosa kita; selanjutnya, misi Kristen dianggap sebagai satu konsep yang palsu dan tidak terdapat kebutuhan akan misiologi. Alkitab saling lekat sebagai satu keutuhan sepenuhnya! Saya tidak menginginkan satu alat bantu yang kehilangan sebuah bagian utamanya. Pergunakanlah Alkitab sebagaimana adanya jika Anda tidak ingin kehilangan satu kerangka acuan. Jika Anda sudah tidak menggunakannya, artinya Anda sudah mengabaikan misi Kristen dan misiologi. Oleh karena itu, saya menetapkan syarat menerima Alkitab seutuhnya untuk setiap buku Pengantar Misiologi.

Tanpa sebuah Alkitab yang utuh, Tuhan yang bangkit, perjumpaan yang mengantarkan seseorang untuk menerima Kristus sebagai satu-satunya Juru Selamat, atau amanat pengutusan untuk pergi kepada bangsa-bangsa dan menjadikan murid-murid, apakah yang masih tersisa bagi misi-misi Kristen itu? Tentu saja, masih terdapat banyak proyek Kristen: menolong mereka yang membutuhkan, melatih orang-orang yang tidak terlatih, perjuangan untuk keadilan sosial, dan seterusnya. Semuanya ini adalah bagian dari tugas orang Kristen, sebagai satu tugas yang menyertai, tetapi bukanlah satu pengganti untuk misi. Menurut kitab suci, tugas-tugas itu merupakan dua pelayanan yang berbeda pada satu Gereja yang utuh. Dengan demikian, pelayanan Gereja di dunia sebagai sesuatu yang parsial dan gagasan pemisah-misahan ini sudah bertentangan dengan uraian Alkitab tentang Gereja. Kita memang bisa mengerjakan separuh-layanan ini dan menjadi penganut Universalis atau bahkan Hindu. Artinya, apa yang kita akan dapatkan adalah pelayanan kemanusiaan (dan sejauh ini hal tersebut merupakan satu tindakan yang mulia), namun secara keseluruhan sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri yang membedakan orang Kristen -- dan itu tentu saja bukanlah misi. Oleh sebab itu, apa pun yang kita kerjakan, entah kita menyadari bahwa kita harus menjadikan Alkitab sebagai satu kesatuan seutuhnya ataupun kita mengakui keharusan untuk ikut dalam misi Kristen, kita sudah menganggap pemikiran tentang misiologi sebagai suatu kepalsuan. Tampaklah jelas bahwa tidak terdapat kerangka acuan lain untuk misi Kristen, yang saya percayai, kecuali Alkitab secara keseluruhan, dan itulah yang saya yakini dalam buku Pengantar Misiologi ini. (t/Ully)

Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:

Nama buku : Introduction to Missiology
Judul asli artikel : The Bible as a Frame of Reference
Penulis : Alan R. Tippett
Penerbit : William Carey Library, California, 1987
Halaman Artikel : 13 -- 16

e-JEMMi 14/2010



Allah Dalam "Agama Sepupu" dan Inkarnasi Tuhan Dalam Yesus Kristus 1

"Agama sepupu" adalah sebuah kebudayaan teosentris. Seluruh aspek keberadaannya berkisar pada satu titik pusat: Allah.

Pengakuan iman setiap "saudara sepupu" adalah "Tiada Tuhan selain Allah". Kesatuan Allah dalam "saudara sepupu" adalah lubang jarum penguji yang harus dilalui oleh semua pendapat dan sikap lain terhadap Tuhan. Penyatuan ini tidak boleh dikaburkan dengan penyatuan pada hal-hal ketuhanan. Allah hanya ada satu. Semua tuhan yang lain tidak ada artinya di mata "saudara sepupu". Siapa pun yang mengakui keberadaan tuhan-tuhan yang lain selain Allah adalah seorang penghujat.

Siapa pun yang menanyakan sifat-sifat Allah akan mendapati sebuah daftar yang berisi 99 nama-Nya yang terindah; 72 di antaranya digunakan dalam "Kitab Suci sepupu" sebanyak 1.286 kali. Kadang-kadang gelar-gelar tersebut saling bertentangan, bahkan saling menyangkal. Teolog "saudara sepupu", Al-Ghazali menulis, "Allah adalah segala sesuatu dan segala ketiadaan. Dia tidak bisa dijangkau oleh pikiran manusia dan lebih besar dari yang dapat kita pahami; Dia bertakhta dan memerintah segala sesuatu dan merupakan satu-satunya pengendali alam semesta."

Inilah arti sebenarnya dari seruan "saudara sepupu" untuk iman dan peperangan, "Allahu Akbar," yang diucapkan pada sejumlah peristiwa dari bibir mereka. Seruan ini bergema 40 kali sehari di atas atap kota-kota dan desa-desa dari pengeras suara yang terpasang di menara-menara rumah ibadah mereka. Seruan ini merangkum keimanan "saudara sepupu": Allah yang lebih besar, lebih kuat, lebih bijaksana, lebih indah, dan lebih arif daripada yang dapat kita bayangkan; Dia lebih arif dari semua kebijaksanaan dan yang terbaik dari para hakim pada hari penghakiman; Dia sangat berbeda dan tak terbandingkan; Dia melampaui segala sesuatu, Tuhan yang jauh, Mahahadir, dan tidak bisa didekati. Setiap pemikiran mengenai Allah tidaklah memadai dan palsu. Dia tidak bisa dipahami, hanya disembah.

"Agama sepupu" adalah sebuah "agama penyembah". Lima kali sehari "saudara sepupu" sujud menyembah di hadapan Allah sampai 34 kali: masing-masing dengan dahi sampai menyentuh tanah. Setiap "saudara sepupu" yang sujud menyembah adalah penafsiran yang gamblang mengenai kata dalam bahasa Arab "Agama sepupu", yang berarti "pembebasan", "menyerah", dan "tunduk".

Pengabdian yang ditujukan kepada Allah tidak menjamin adanya anugerah. Hal ini hanyalah sebagian dari "dibenarkan karena perbuatan" mereka, yang berdasar pada komitmen untuk bersaksi tentang syahadat, ibadah harian, puasa resmi selama Ramadan, bersedekah, dan perjalanan ziarah ke Mekah. Dalam Kitab Suci, melakukan kewajiban keagamaan dilihat sebagai pembayaran hutang, seakan-akan melakukan sebuah transaksi bisnis dengan Allah (Surah 35:29-30). Yang Mahakuasa memperhitungkan dengan cepat dan akurat setiap perbuatan baik dan jahat setiap orang; Dia menimbang semua perkataan dan pemikiran satu sama lain, dan menghadiahi sebuah pembenaran dari segala kesalahan pada hari penghakiman.

Kecemasan akan Hari Penghakiman, puncak dari "agama sepupu", meningkatkan ketakutan "saudara sepupu" pada Allah. Mereka berdiri dengan hormat di depan penguasa anonim segala ciptaan dan takut akan penghakiman yang kekal. Tidak satu pun "saudara sepupu" yang tahu pasti apa yang menunggu mereka pada "hari penghakiman". Sebuah masa depan yang gelap membentang di depan mereka.

Menurut "iman sepupu", Allah adalah penguasa yang tidak terbantahkan dan raja yang memerintah dengan sewenang-wenang. Tidak seorang pun yang tahu, mengapa dia memimpin beberapa orang menuju surga atau mengapa neraka adalah takdir bagi yang lain. "Saudara sepupu" sujud menyembah sampai ke tanah di hadapan Allah seperti seorang budak di depan tuannya, yang tidak tahu apakah dia akan mendapatkan hidup atau mati, berkat atau kutuk. Budak itu merindukan rahmat dan "niat" tulusnya hanyalah untuk menyembah Tuhan yang sejati, yang sebenarnya tidak membawa jaminan akan kehidupan yang kekal.

Allah -- Bukan Tritunggal

"Saudara sepupu" sejak dari masa kanak-kanak berpikir bahwa orang Kristen percaya kepada tiga Tuhan. Mereka secara konsisten diperingatkan untuk tidak melakukan "dosa dari segala dosa" ini. Kenyataan bahwa ada Bapa, Putra, dan Roh Kudus terdengar seperti sebuah penghujatan untuk "saudara sepupu" dan sama artinya dengan melanggar titah pertama: "Janganlah ada allah lain dihadapan-Ku." Siapa pun yang mengaku bahwa ada seseorang atau beberapa orang yang seperti tuhan selain Allah, melakukan dosa yang tidak dapat diampuni. Hal ini sejajar dengan dosa terhadap Roh Kudus (Surah 4:48 dan 116).

"Saudara sepupu" tidak tahu realitas tentang Tuhan Tritunggal, ataupun ingin mengetahuinya. Ia akan menolaknya dengan tegas. "Saudara sepupu" merasa muak ketika seorang Kristen mencoba menjelaskan tentang Trinitas kepadanya. "Tiga tidak mungkin satu, dan satu bukanlah tiga," adalah jawaban klise mereka. Allah dalam "agama sepupu" tidak memerlukan seorang penolong, pengantara, ataupun rekan. Hanya Dia yang agung. Tidak ada satu pun yang seperti diri-Nya.

Tiga serangkai Ilahi, di mata "saudara sepupu", membawa kemungkinan akan suatu pemberontakan dari salah satu Tuhan melawan yang lain. Kecemburuan, ambisi, kebencian, dan kritik akan menjadi tak terhindarkan. Pada kepemimpinan sebuah "negara sepupu" biasanya hanya terdapat "seorang penguasa". Lawan-lawannya dibasmi. Dengan cara yang sama, Allah hanya ada satu.

Misteri bahwa Tuhan kita adalah kasih tetap tersembunyi bagi "saudara sepupu". Bapa mengasihi Anak selamanya. Dia bukanlah sebuah pribadi yang egois yang hanya mengasihi diri-Nya sendiri. Melalui Dia, sang "Firman", Ia menciptakan alam semesta. Setelah kematian penebusan Yesus demi pendamaian, Bapa menganugerahkan segala kuasa di bumi dan di surga ke dalam tangan sang Penakluk yang bangkit. Hari ini, Roh Kudus sedang melengkapi karya sang Anak dalam gereja-Nya. "Saudara sepupu" tidak melihat apa pun dari hal ini. Mereka juga tidak mengerti bahwa Roh Kudus tidak pernah memuliakan diri-Nya sendiri, namun memuliakan Anak, dan sang Anak terus-menerus memuliakan Bapa, yang telah menentukan sang Pemenang atas dosa, maut, dan neraka di tangan kanan-Nya. Hubungan kerohanian seperti itu dalam Trinitas yang Kudus seluruhnya asing untuk "Saudara sepupu". Mereka tidak ingin memahami arti kata-kata Yesus: "Aku dan Bapa adalah satu", atau "Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Dia". Kasih, kerendahan hati, dan penyangkalan diri, dalam "agama sepupu", tidak timbul sebagai dasar setiap otoritas kerohanian. Allah berbeda. Dialah satu-satunya yang harus ditinggikan dari awal sampai akhir, soliter, dan tak terjangkau.

Dengan penolakan akan Tuhan Tritunggal, "agama sepupu" telah menghakimi dirinya sendiri. Orang-orang Kristen mengakui bahwa pada masa kemunculan Kristus, makna terdahulu dari kata "Tuhan" telah berubah. Bapa, Putra, dan Roh Kudus berada dalam penyatuan rohani. Yesus dalam doa terakhir-Nya menyatakan, "Kita adalah satu" (Yohanes 17:22). Di sini, kejamakan menegaskan ketunggalan untuk mengungkapkan rahasia Tuhan kita.

"Agama sepupu" menolak apa pun yang berhubungan dengan realitas trinitas kita. "Nabi sepupu" menekankan, "Percayalah kepada Allah dan Utusan-Nya, dan jangan katakan 'tiga,' jauhkan dirimu darinya: hal itu lebih baik untuk kamu. Mereka adalah orang-orang kafir yang mengatakan, 'Allah adalah yang ketiga dari tiga'." (Surah 4:171 dan 5:73)

"Nabi sepupu" menerima sebuah gambaran yang terdistorsi mengenai Trinitas Ilahi ketika para pengikut sektarian mengatakan kepadanya bahwa Yesus telah berkata, "Jadikan aku dan ibuku sebagai tuhan, terpisah dari Allah." (Surah 5:116) Ide ini telah ditolak sejak dari awalnya oleh setiap gereja Kristen dengan berdasar pada Kredo Nikea (325 SM).

Selain penolakan ini, "agama sepupu" juga tidak bisa menoleransi realitas ilahi. Allah sendiri hebat, berdaulat, dan berjaya. Tidak mungkin ada Tuhan lain selain Dia. Dia tidak memerlukan seorang penolong. Tidak ada yang seperti Dia. Seluruh keberadaan "agama sepupu" menolak Tuhan Tritunggal.

Allah -- Bukanlah Bapa

Pengakuan bahwa Tuhan adalah seorang Bapa merupakan sebuah ide yang menjijikkan bagi "saudara sepupu", bahwa Tuhan telah tidur dengan Maria, dan telah memiliki seorang putra tunggal. Nama "Bapa" tidak akan terpahami dalam "agama sepupu" dalam hal kerohanian, namun hanya literal. Allah tetap satu-satunya yang diagungkan, Tuhan yang kudus dan jauh, yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan manusia. Ide bahwa Allah menjadi seorang ayah menimbulkan permusuhan dan kebencian dalam diri "saudara sepupu".

Inilah titik yang tepat, di mana Kabar Baik menegaskan iman kita. Tuhan menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Dia tidak lagi menjadi seorang pencipta yang jauh, asing, dan tidak diketahui, namun telah mengungkapkan diri-Nya sendiri sebagai seorang Bapa yang "intim dan penuh kasih." Tuhan telah mengikatkan diri-Nya dalam sebuah cara sebagai seorang Bapa pada setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Pemahaman Perjanjian Lama akan Tuhan semakin diperdalam oleh penekanan Yesus pada nama "Bapa". Inilah revolusi teologis yang diperkenalkan oleh Yesus ke dalam iman monoteistik yang dingin dari orang Yahudi. Namun, orang Yahudi menolak ke-Bapa-an Tuhan dan melihatnya sebagai penghujatan yang mutlak (Matius 26:65; Yohanes 10:33-36), seperti halnya "agama sepupu" yang geram pada realitas Allah Bapa.

Sudahkah Anda mengalami bahwa Yesus tidak memandu kita untuk berdoa pada Elohim, pada Yahweh, pada Tuhan Yang Mahakuasa, tidak juga pada diri-Nya sendiri, namun mengungkapkan doa pribadi-Nya kepada kita, sehingga kita sebagai anak-anak dapat berkata, "Bapa kami yang di Sorga, Dikuduskanlah nama-Mu!, Datanglah kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga."? Menyangkal atau membuang makna nama bapa yang sangat penting akan sangat merusak inti Kabar Baik. "Bapa" adalah kata-kata pertama Yesus di kayu salib dan juga "Bapa" yang Dia serukan pada kalimat terakhir-Nya. Yesus mengungkapkan rahasia terdalam akan esensi Tuhan pada para murid-Nya sebagai dasar dan tujuan perjanjian baru.

Tuhan tidak lagi sebagai Tuhan yang kurang dikenal, yang harus kita panggil dengan sebutan "tuan". Kita memiliki keistimewaan untuk memanggil Bapa Surgawi kita dengan sebutan yang dekat, "Engkau". Roh Tuhan bersaksi bersama roh kita, bahwa kita adalah "anak-anak" Tuhan. Setiap orang Kristen sejati memiliki hubungan langsung dengan Tuhan. Kita bukanlah "budak", namun anak-anak perjanjian baru melalui anugerah Yesus Kristus. "Saudara sepupu" berdoa lebih sering daripada orang Kristen, namun doa-doa resmi mereka terdiri dari sebuah liturgi yang telah ditentukan dan bukanlah sebuah percakapan langsung dengan Tuhan. Dalam "agama sepupu", semua manusia dikategorikan sebagai para budak yang diciptakan untuk menyembah Allah. Namun, melalui Yesus kita bukanlah budak: kita adalah anak-anak. Pintu menuju Bapa kita terbuka lebar. Doa kita adalah percakapan dengan Tuhan yang langsung dari hati, penuh permohonan, doa untuk orang lain, ucapan terima kasih, dan penyembahan. Kita memiliki sebuah jalur langsung pada seorang Bapa yang mendengarkan kita setiap saat. "Saudara sepupu" juga dapat berseru dengan kata-kata mereka pada Allah, sebagai tambahan pada doa-doa lima waktu yang telah dirancang, namun usaha-usaha untuk membuat hubungan ini seperti sebuah panggilan ke langit yang kosong. "Saudara sepupu" tidak tahu, apakah seseorang akan mendengarkan dan apakah doanya akan dijawab. Allah terlalu besar untuk mengikatkan diri-Nya pada para penyembah-Nya. "Saudara sepupu" tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Hal ini tetap menjadi keistimewaan orang Kristen.

"Agama sepupu" menolak ke-Bapa-an Tuhan, yang berarti telah meletakkan dirinya pada jalan yang mengarah kepada kehancuran. "Saudara sepupu" harus menghadapi segala sesuatu sendirian ketika mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi Hari Penghakiman di hadapan Allah. Tuhan mereka adalah seorang saksi dan hakim yang tidak dapat disuap, di hadapan-Nya tidak ada hubungan kekerabatan dengan siapa pun. Segala macam dosa akan terungkap tanpa ampun. Sangatlah menakutkan jatuh ke dalam tangan Allah. Dia mengeraskan hati kepada siapa pun yang Dia mau, dan menyelamatkan siapa pun yang Dia inginkan. Tidak seorang pun tahu persis apa yang akan Allah putuskan untuk dilakukan pada setiap orang. Namun, Kabar Baik mengungkapkan kehendak Bapa atas kita. Dan, kita tahu bahwa Dia merindukan setiap orang harus diselamatkan dan datang pada pengenalan kebenaran. Oleh karena itu, kita bisa mendekat kepada- Nya pada Hari Penghakiman dengan sangat tenang karena sang Hakim adalah Juru Selamat kita.

Tuhan mengutus anak tunggal-Nya ke dalam dunia yang jahat ini sehingga Dia mendamaikan semua orang dengan diri-Nya. Kristus menanggung dosa setiap orang dan menanggung hukuman menggantikan kita. Bapa tidak melanggar hukum yang suci ketika Dia membenarkan para pendosa, namun menaatinya dengan menggantikannya dengan kematian Kristus. Hanya melalui penyaliban seseorang menerima keistimewaan untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa kita. Dia telah memberikan semua penghakiman kepada Putra-Nya, yang akan menghakimi dalam kesatuan penuh dengan Bapa-Nya. Setiap orang yang percaya kepada Bapa melalui Putra telah diselamatkan dari penghakiman (Yohanes 3:16-19; 5:22-23).

Allah -- Bukan Sang Putra

Berbeda dengan agama-agama dunia yang lainnya, "agama sepupu" muncul setelah Kristus hidup di bumi. "Nabi sepupu" sering mencari tahu tentang Yesus dan mengumpulkan informasi mengenai Perjanjian Baru dari orang Kristen Arab, juga dari budak Kristen asing. Waraqa ibn-Naufal, seorang saudara sepupu dari istri "nabi sepupu" yang pertama yaitu Khadijah (yang juga saudara jauh "nabi sepupu"), mungkin adalah seorang pemimpin sebuah gereja rumah di Mekah. "Nabi sepupu" menganalisis kehidupan Yesus dan menerima pernyataan tertentu yang sesuai dengan sistem kepercayaannya. Segala sesuatu yang tidak dia mengerti atau tidak sesuai dengannya ditolak sebagai sesuatu yang salah atau palsu. Dengan cara ini, Kristologi Islam menjadi terbatas pada 93 ayat dalam 15 surat dalam "Kitab Suci sepupu".

"Nabi sepupu" bersaksi dalam banyak ayat di "Kitab Suci sepupu", bahwa Yesus lahir dari perawan Maria. Kelahiran-Nya yang menakjubkan bukan hanya sebuah kepercayaan Kristen, namun juga merupakan sebuah dogma "agama sepupu". "Nabi sepupu" menyebut Yesus sebagai perwujudan "Firman Tuhan" dan suatu "roh dari Dia" (Surah 3:45 dan 4:171). Perbedaan antara "agama sepupu" dan kekristenan dalam pemahaman kelahiran Kristus tercermin dari pengajaran "nabi sepupu" bahwa Kristus tidak "lahir" dari Allah, namun telah "diciptakan" dalam Maria, dari ketiadaan, melalui Firman Yang Mahakuasa. Allah tidak akan pernah dipahami sebagai Bapa dari Yesus, namun hanya sebagai pencipta-Nya. Kristus bukanlah Putra Allah dalam "agama sepupu", namun hanya sebagai seseorang yang menakjubkan, seorang nabi khusus, seorang utusan Allah yang berwenang. Hal ini bertentangan dengan iman semua gereja yang setuju dengan Kredo Nikea bahwa Kristus adalah "Tuhan atas Tuhan, terang atas terang, Tuhan yang Maha, diperanakkan dan bukan diciptakan, menjadi satu esensi dengan Bapa. (t\Rento)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Islam Under The Magnifying Glass
Judul asli bab : Allah In Islam And The Incarnation Of God In Jesus Christ
Penulis : Abd Al Masih
Penerbit : Light of Life, Villach, Austria
Halaman : 13 -- 24

e-JEMMi 28/2012

Allah Dalam "Saudara Sepupu" dan Inkarnasi Tuhan Dalam Yesus Kristus 2

Kristologi berbasis Kitab Suci "saudara sepupu" menunjukkan bahwa ide-ide dari sebuah perselisihan doktrinal atas keadaan diri Kristus, yang timbul antara abad ke-3 dan ke-6 dalam gereja-gereja di daerah Mediterania, telah tersebar sampai ke Mekah. Orang-orang Yahudi mungkin juga telah memengaruhi "nabi sepupu" dengan penolakan terhadap status anak Ilahi Yesus. Karenanya, "nabi sepupu" menolak keberadaan Yesus yang surgawi dengan sebuah pemotongan tajam. Dalam Surah 112, kita menemukan inti "agama sepupu" dalam perintah untuk pengakuan "saudara sepupu", "Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan". Frasa ini ditekankan kepada setiap "saudara sepupu" sejak masa kanak-kanak -- Tuhan bukanlah seorang Bapa dan tidak pernah memiliki seorang putra. Dalam Surah 9:29,30, "nabi sepupu" memberikan sebuah argumen yang lebih radikal pada tema ini. Dia memastikan: "Orang Kristen berkata, 'Mesias adalah Putra Allah.' Inilah ucapan dari mulut mereka, sesuai dengan orang-orang yang tidak percaya sebelum mereka. Allah membunuh mereka! Betapa murtadnya mereka!'" Dengan kata-kata kutuk ini "nabi sepupu" menegaskan bahwa siapa pun yang percaya bahwa Tuhan adalah seorang Bapa dan Kristus adalah anak-Nya, haruslah dihancurkan oleh Allah. Siapa yang dapat menyangkal bahwa ini adalah sebuah manifestasi roh anti-Kristen? Dalam "agama sepupu", sebuah perwujudan nyata Tuhan dalam Kristus tidak terpikirkan. Dalam 1 Yohanes 2:22-23; 4:2-3, tanda-tanda antikristus dibuat jelas: "Inilah antikristus yang menyangkal Bapa dan Anak. Siapa pun yang menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa ... Setiap roh yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang dalam rupa manusia bukanlah Roh Tuhan, dan inilah roh Antikristus."

Pada awal 1984, Gaddafi menerbitkan sebuah surat terbuka kepada para pemimpin di dunia Kristen, di mana dia merangkum pemikiran-pemikiran "agama sepupu" dalam sebuah koran harian India. Kami telah mencetak ulang surat ini dalam Bahasa Inggris yang ada dalam lampiran. Surat ini merupakan ekspresi umum seluruh kristologi "agama sepupu".

"Nabi sepupu" menganalisis pribadi Yesus. Dia memercayai mukjizat-mukjizat-Nya yang ajaib. Kitab Suci "saudara sepupu" mengatakan bahwa Yesus mencelikkan mata yang buta, menyembuhkan mereka yang menderita kusta, dan membangkitkan orang mati. "Nabi sepupu" mewartakan bahwa Yesus membentuk burung-burung dari tanah liat, memberikan napas kepada mereka, dan mereka semua terbang. Selain itu, Dia membebaskan murid-murid-Nya dari kewajiban mematuhi beberapa hukum yang rumit dan memberikan perintah-perintah baru. "Nabi sepupu" melihat bahwa dalam berbagai tindakan dan perkataan Kristus ini, tidak ada tanda otoritas dan kuasa ilahi-Nya, namun lebih merujuk pada kelemahan-Nya. "Nabi sepupu" berulang kali mengatakan bahwa Allah menguatkan Kristus melalui Roh Kekudusan, sehingga Dia dapat mengadakan mukjizat-mukjizat tersebut (Surah 2:87,253; 5:110). Di mata "nabi sepupu", Yesus merupakan sebuah instrumen dalam tangan Allah, yang menjadi sarana menyingkapkan kebesaran-Nya. "Nabi sepupu" tidak memahami kelemahlembutan Kristus ketika Dia mengatakan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai seseorang yang lembut dan rendah hati. Semangat seperti itu merupakan hal yang asing bagi "agama sepupu". Salah satu dari 99 nama-nama indah Allah adalah "Yang Mahamegah." Karenanya, "nabi sepupu" melihat kerendahan hati Yesus sebagai sebuah tanda kelemahan dan ketidakmampuan, dia tidak mengakui sumber kuasa dan otoritas-Nya.

Semangat pemberontakan "agama sepupu" melawan Tuhan dan Kristus terungkap melalui dirinya sendiri, pada akhirnya dalam penyangkalan akan penyaliban Yesus. Dalam Surah 4:157 dikatakan, "Kami (orang Yahudi) membunuh Mesias, Yesus, Putra Maryam, utusan Tuhan -- namun mereka tidak membunuh-Nya, atau menyalibkan-Nya, hanya seseorang yang menyerupai Dia yang ditunjukkan kepada mereka."

"Nabi sepupu" hidup di Mekah dengan mengalami banyak kesulitan besar, dikejar-kejar oleh para saudagar dari kota ini. Sulit baginya untuk menerima bahwa mereka menghina misinya. Ancaman-ancaman mereka begitu jelas untuknya: "Seperti orang Yahudi membunuh Kristus, putra Maryam, Utusan Allah, mungkin juga mereka membunuhmu juga, pengacau dan penipu, jika kamu tidak berhenti menyebarkan "agama sepupu"". Allah tidak menyelamatkan Yesus dari tangan orang Yahudi dan Dia tidak akan menyelamatkanmu dari kami juga." Namun "nabi sepupu" memercayai kemahahadiran Allah. Sulit dibayangkan baginya bahwa Tuhan yang agung akan mengizinkan pelayan-Nya yang teraniaya binasa. Karenanya, "nabi sepupu" menolak dan menyangkal penderitaan melalui kayu salib dan berkata, "Tidak mungkin! Allah itu setia. Dia pasti menyelamatkan Kristus yang setia, bahkan jika tampaknya Dia telah disalibkan bagi kerumunan orang yang kebingungan. Tidaklah benar bahwa Dia benar-benar mati di kayu salib, namun diangkat hidup-hidup oleh Tuhan."

Ketakutan dan kekecewaan mungkin telah menyebabkan "nabi sepupu" menolak penyaliban Yesus. Ia ingin mengaburkan salib dan menghilangkannya dari muka bumi. Dia tidak langsung menyangkal karya penebusan Kristus, tidak juga membenarkannya karena anugerah atau kelahiran baru melalui Roh Kudus, namun dia membatalkan persyaratan mendasar dari pokok iman yang kedua dan ketiga untuk para pengikutnya. Dalam "agama sepupu", tidak ada tempat untuk salib Kristus dan buah-buah roh-Nya. Semangat anti-Kristen pada "nabi sepupu" menolak inti terpenting Kabar Baik. Yang membingungkan, dia bersaksi dalam "Kitab Suci sepupu" tentang banyak mukjizat, doa-doa, dan nama-nama Kristus. Dia juga menegaskan kenaikan Yesus dan keberadaan-Nya saat ini di sebelah kanan Tuhan. Namun, dia menolak inkarnasi ilahi Yesus, syarat yang sangat diperlukan untuk penebusan kematian Kristus di kayu salib, dan mencoba menghapus masa-masa pendamaian dunia dengan Tuhan dari sejarah umat manusia.

Penolakan terhadap kematian Kristus bagi semua manusia adalah sebuah konsekuensi logis dalam "agama sepupu". Allah tidak memerlukan seorang pengantara atau pengganti untuk manusia. Kemungkinan korban darah di Perjanjian Lama yang meramalkan kematian Kristus demi penebusan tidak dimungkinkan dalam "agama sepupu". Allah berdaulat. Dia mengampuni kapan pun Dia mau, siapa pun, dan di mana pun. Dia tidak memerlukan seekor domba "penebusan". Keberadaan seorang pengantara dan penebus akan mengurangi kemegahan Allah di mata seorang "saudara sepupu". Hanya Allah sendiri yang besar.

Karenanya, dalam "agama sepupu", tidak ada tempat untuk domba Tuhan yang menanggung dosa dunia. Akibatnya adalah "saudara sepupu" tidak pernah yakin akan pengampunan dosa-dosa mereka. Mereka dapat membaca dalam "Kitab Suci sepupu" sebanyak 111 kali bahwa Allah adalah seorang yang pemaaf, murah hati, dan mengampuni, serta menerima para petobat. Namun, Allah yang adil ini tidak memberikan tanda yang jelas bagi "saudara sepupu", apakah pengampunan dosanya sah atau tidak untuknya. Ketika "saudara sepupu" ditanya apakah dia sungguh-sungguh telah memiliki pengampunan atas dosa-dosanya, dia hanya dapat menjawab, "Jika Allah menghendaki!" Namun, kehendak Allah hanya akan terlihat pada Hari Penghakiman.

Pemahaman ini sekali lagi menunjukkan bahwa tidak ada seorang "saudara sepupu" pun yang memiliki kepastian akan pengampunan atas dosa-dosa di dalam hatinya. Dia hidup tanpa penebusan dan menanggung beban hati nurani yang terus mendakwa. "Allah tidak mencintai para pendosa" tertulis sebanyak 24 kali dalam "Kitab Suci sepupu": Dia hanya mencintai mereka yang takut akan Dia. Siapakah yang dapat hidup begitu taat sehingga ia tidak dapat lagi dianggap berdosa? Sebaliknya, Kabar Baik menyatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16) Kristus telah datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang terhilang. Gembala yang Baik memilih meninggalkan 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan dan mencari seorang yang terhilang, yang sedang mencari pembenaran, sampai Gembala itu menemukan dia (Lukas 15:2-7). Pengampunan Tuhan dalam Kabar Baik berlaku untuk setiap pendosa; pengampunan Allah dalam "agama sepupu" hanya berlaku untuk penyembah-Nya yang sejati -- bahkan ini pun belum pasti juga. "Saudara sepupu" tidak mengenal kepastian yang menghibur bahwa dosa-dosa mereka diampuni karena mereka menolak Dia yang tersalib, yang merupakan satu-satunya jalan bagi kita untuk menerima anugerah dan damai dari Tuhan.

ALLAH -- BUKAN ROH KUDUS

Dua kali dalam Kitab Suci "saudara sepupu" Allah dirujuk sebagai "Yang Kudus". Arti nama ini dalam "agama sepupu" tidak jelas. Mungkin saja nama ini diambil dari Yudaisme untuk menandakan keagungan dan kemuliaan Allah.

Kata bahasa Arab untuk "roh" terikat erat dengan arti dari "angin". Seperti angin yang datang dan pergi ke mana pun dia mau dan tidak bisa dilihat, demikian juga roh tak terpahami. Dalam "agama sepupu", "Roh Kudus" dipahami sebagai suatu roh ciptaan yang setara dengan para malaikat dan setan, yang semuanya diciptakan Allah dari ketiadaan. "Kitab Suci sepupu" tidak mengenal suatu pewahyuan bahwa "Allah adalah Roh" atau "Roh Allah". Tidak seorang pun dapat memahami apa dan siapakah Allah yang sebenarnya. Dalam "agama sepupu", "Roh Kudus" dipahami sebagai Malaikat Gabriel yang diutus oleh Allah pada Zakaria, Maria, dan "nabi sepupu" untuk menyampaikan pesan-pesan khusus pada mereka (Surah 19:17).

Perjanjian Baru menyingkapkan untuk kita bahwa kesalehan mendalam di "agama sepupu", yang terwujud dalam doa-doa, puasa, dan penziarahan, amat jauh berbeda dari pengudusan karena kelahiran baru. Perkataan Yesus menyerupai sebilah pedang yang memisahkan kesalehan palsu dari realitas penebusan. Hanya "barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya" (Yohanes 3:36).

"Saudara sepupu" mendapatkan gambaran sekilas akan kuasa Roh Kudus dalam hubungan-Nya dengan mukjizat-mukjizat Kristus, namun kuasa dan anugerah-Nya masih tersembunyi untuk mereka. Dalam kebudayaan "agama sepupu", tidak dijumpai buah Roh Kudus. Buah kedagingan memerintah di sana (Galatia 5:19-26). Kita mengakui bahwa keramahan Arab mempermalukan orang-orang Barat. Kesopanan, kepekaan, sopan santun yang halus mereka sangatlah menarik bagi setiap pendatang. Siapa pun yang tinggal di Timur Tengah untuk waktu yang lama, tahu bahwa kebaikan-kebaikan ini sering ditampilkan secara tidak sadar untuk membangun penghargaan atas klan mereka sendiri, atau dipengaruhi oleh sebuah usaha untuk mendapat pembenaran karena perbuatan.

"Agama sepupu" adalah sebuah agama yang dapat menimbulkan sebuah kehidupan yang seluruhnya dikontrol dan dicontohkan oleh religi pengikutnya. Namun, setiap esensi dan karakter individu tidak membarui. Setelah ketaatannya kepada Allah, "saudara sepupu" secara umum dapat menjadi sama dengan sebelumnya. Jika dia telah menikahi banyak perempuan, perpindahannya ke "agama sepupu" bukanlah masalah karena dalam "agama sepupu" poligami dilegalkan oleh Allah. "Agama sepupu" adalah agama yang menyenangkan untuk para laki-laki.

Juga, jika pencurian dan tindak kriminal jarang terjadi di "negara-negara sepupu" daripada di negara-negara barat, hal itu bukanlah karena kepribadian "saudara sepupu" yang lebih baik, namun karena ketakutan mendalam akan hukuman yang mengerikan.

Persembahan Kristus untuk menggantikan mereka yang tidak berharga tidak terlalu menarik untuk orang dalam kebudayaan "agama sepupu". Alih-alih, kemuliaan dan kedaulatan Allah telah menjadi prinsip panduan. Sang diktator yang baik hati menghadiahi para penyembahnya jika dia ingin. Pemikiran akan imbalan amal, bukan ketaatan yang berasal dari rasa syukur, mencirikan kehidupan "agama sepupu" setiap harinya. Kemegahan kekuasaan, kemegahan anak raja, dan kekayaan yang mendarahdaging adalah prinsip-prinsip yang dihasilkan oleh contoh dari Allah. Kristus, sebaliknya, telah mendorong para pengikut-Nya untuk menjadi rendah hati, taat, miskin, menyangkal diri, dan memikul salib. "Agama sepupu" menghasilkan tuan yang megah dan ingin disanjung, sementara Kristus membentuk para pelayan yang rendah hati dan rajin.

"Nabi sepupu" secara pribadi pernah bertemu dengan orang-orang Kristen, karenanya dia menulis, "Kamu pasti akan menemukan orang terdekat mereka yang mencintai orang yang beriman ("saudara sepupu") yaitu orang-orang yang berkata 'kami adalah orang Nasrani'; hal ini disebabkan karena beberapa di antara mereka adalah pendeta dan biarawan, dan karenanya mereka tidak menjadi sombong." (Surah 5:82) Inilah sebuah kesaksian dari "nabi sepupu" tentang Kristus yang hidup dalam orang-orang percaya di Arab pada waktu itu. "Nabi sepupu" telah melihat kerohanian "tubuh Kristus" dan bersaksi tentang keberadaan-Nya, namun tidak memahami semangat Yesus. Orang-orang Kristen bersaksi kepadanya bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan dan orang yang dikasihi-Nya, namun "nabi sepupu" dengan tegas menolak pernyataan ini dan mempertanyakan keberadaan dan keistimewaan kerohanian mereka ketika dia menjawab sebagai balasannya, "Lalu mengapa Dia menghukum kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu semua adalah ciptaan-Nya yang fana; Dia mengampunimu seturut dengan kehendak-Nya, dan Dia menghukum siapa pun yang Dia mau. Kamu bukanlah apa-apa kecuali budak-budak yang diciptakan untuk memuja-Nya." (Surah 5:18)

Semangat "agama sepupu" bertentangan dengan semangat Yesus Kristus dalam hidup dan pengajaran. "Saudara sepupu" tidak menganggap dirinya sebagai anak-anak Tuhan dan tidak menerima anugerah yang diberikan oleh Tuhan yang Tritunggal kepada anggota jemaat gereja Perjanjian Baru. "Agama sepupu", melalui "Kitab Suci sepupu", menolak dogma-dogma dan liturgi Kristen, faktor-faktor yang merupakan kandungan penting pesan-pesan kekristenan. Siapa pun yang berhubungan dengan "agama sepupu", baik melalui kegiatan pelayanan ataupun melalui sebuah hukum dan teologi "agama sepupu", dipaksa untuk mengakui agama ini sebagai sebuah kekuatan anti-Alkitab dan anti-Kristen. "Saudara sepupu" diimunisasi untuk menentang penyelamatan oleh Kristus. Surah 112 yang baru saja dikutip adalah sebuah himpunan pemberontakan mereka melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya:

Allah tidak beranak = Allah bukanlah Bapa.
dan tidak diperanakkan = dan bukan Putra.
dan tiada yang seperti dia = dan bukanlah Roh Kudus.

"Saudara sepupu" sejati mengetahui Surah ini dengan sepenuh hati dan mendoakannya berulang-ulang dalam keheningan selama sembahyang lima waktu. Dia membawa kata-kata ini dengan gigih, seperti sebuah kuk dalam ketidaksadarannya, dan mengeluarkan dirinya sendiri dari penebusan Yesus Kristus melalui pengakuan ini.

Sulit bagi kita untuk memahaminya, walau terdapat kesalehan seperti itu, "agama sepupu" bukanlah jalan menuju keselamatan, namun sebuah jalan yang langsung mengarah ke neraka. Pengerasan hati setiap hari dari 900 juta "saudara sepupu" seharusnya menggoncang orang-orang Kristen dan memacu mereka untuk berdoa. Terutama ketika kita mengetahui bahwa di bawah selubung ketaatan "agama sepupu" tersembunyi sebuah ikatan rohani dan sebuah obsesi kolektif, yang selama lebih dari 1.300 tahun telah menentang hampir semua upaya orang Kristen dalam misi. Di "dunia sepupu, penolakan akan Tritunggal yang kudus digemakan berulang-ulang ribuan kali setiap hari dan menara-menara "ibadah sepupu" menciptakan gema yang terus berlanjut dari litani "agama sepupu": "Tiada Tuhan selain Allah, ...." (t\Rento)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Islam Under The Magnifying Glass
Judul asli bab : Allah In Islam And The Incarnation Of God In Jesus Christ
Penulis : Abd Al Masih
Penerbit : Light of Life, Villach, Austria
Halaman : 24 -- 34

e-JEMMi 29/2012

Allah Memerhatikan Semua Bangsa (Kejadian 1-11)

Allah Memandang Semua Bangsa Sederajat

Nenek moyang segala bangsa terdaftar di Kejadian 10. Paulus, di dalam Kisah Para Rasul 17:26-27, mengatakan bahwa Allah menjadikan semua bangsa dari satu orang, menentukan musim-musim dan batas-batas untuk mereka dengan tujuan agar mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.

Dalam Kejadian 10:32 dijelaskan, "Itulah segala kaum anak-anak Nuh menurut keturunan mereka, menurut bangsa mereka. Dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setelah air bah itu."

Allah Berjanji Memelihara Segala Makhluk

Oleh karena Allah mengawasi bangsa-bangsa (Mazmur 66:7), Dia berjanji tidak akan memusnahkan bumi lagi dengan air bah (Kejadian 9:10-11), dan musim tetap teratur selama bumi masih ada (Kejadian 8:22). Dia memerhatikan pekerjaan semua anak manusia (Mazmur 31:13- 15), memerintah, dan menuntun bangsa-bangsa (Mazmur 67:5).

Allah Menghakimi Semua Bangsa Tanpa Perkecualian

Sebab semua bangsa tidak menaati perintah-perintah Allah dan melanggar peraturan, maka Allah menghukum mereka (Mazmur 9:9). Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran (Yesaya 13:23).

Allah Memakai Bangsa-Bangsa Sebagai Alat Pelaksana Kehendak-Nya

Dia memanggil misalnya Nebukadnezar (Yeremia 25:9), Koresy (Yesaya 44:28), Asyur (Yesaya 10:5), dan lain-lain untuk menghukum bangsa Israel.

Allah Menyalurkan Anugerah-Nya kepada Bangsa-Bangsa

Semua bangsa diajak menyembah Tuhan (Maleakhi 1:11). Seluruh bumi sempat menyaksikan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib di tengah-tengah bangsa Israel, dan nama-Nya disembah di antara bangsa-bangsa (Mazmur 117:1).

Allah Memberi Tempat bagi Bangsa-Bangsa Lain di dalam Silsilah Tuhan Yesus

Ada empat orang non-Yahudi dalam silsilah Juru Selamat, seperti Tamar, Rahab, Rut, dan Betsyeba (Matius 1:3-6).

Dengan demikian, jelas bahwa Allah di dalam Perjanjian Lama ingin bersekutu dengan umat manusia, bukan hanya dengan bangsa Israel.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama buletin : Terang Lintas Budaya, Edisi 33, Tahun 1999
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Terang Lintas Budaya, Malang 1999
Halaman : 2

e-JEMMi 02/2009

Allah Menghendaki Semua Suku Bangsa Menyembah-Nya

Allah menghendaki semua suku bangsa di dunia menyembah-Nya. Itulah sebabnya, Dia begitu peduli kepada seluruh umat manusia melalui Abraham dan keturunannya. Mereka diberkati oleh-Nya untuk dijadikan saluran berkat bagi semua suku bangsa di dunia ini.

Tuhan Yesus Kristus menyimpulkan rencana ini dalam Matius 24:14, "Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."

Rasul Yohanes diperkenankan melihat penggenapan rencana ini di dalam Wahyu 7:9, "Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan tahta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun di tangan mereka; karena mereka ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa." Selain itu, dalam Wahyu 15:4 Rasul Yohanes menyaksikan, "Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan namaMu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman."

Berdasarkan firman Tuhan tersebut, kita mengetahui dengan pasti bahwa semua suku bangsa akan terwakili di hadapan takhta Allah di surga. Karena semua suku bangsa merupakan ciptaan Tuhan, semua suku bangsa itu juga harus termasuk ciptaan yang baru. Tanpa terkecuali, semua bangsa harus terwakili untuk menyembah Tuhan di surga.

Bagaimana Respons kita?

Firman Tuhan mengingatkan bahwa anak-anak Tuhan tidak boleh berdiam diri melainkan taat seperti para rasul ini. Setelah mendengar Amanat Agung, mereka mematuhi perintah terakhir Tuhan Yesus. Mereka menunggu di Yerusalem hingga diberi Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8) dan sesudah itu, "Merekapun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan Firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya." (Markus 16:20)

Walaupun Paulus tidak langsung mendengar Amanat Agung dari mulut Tuhan Yesus, namun dia mengerti rencana Tuhan. Itu sebabnya, dia menulis surat kepada jemaat di Roma demikian, "Sebab aku tidak berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan.... Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.... Tetapi sekarang, karena aku tidak lagi memunyai tempat kerja di daerah ini dan karena aku telah beberapa tahun lamanya ingin mengunjungi kamu, aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu." (Roma 15:18, 19, 23, 24) Spanyol termasuk bangsa yang belum terjangkau oleh Injil.

Seandainya kita mengevaluasi daerah pelayanan rasul Paulus, kita dapat melihat bahwa tidak semua penduduk di sana sudah bertobat, justru sebaliknya, hanya sebagian kecil dari daerah yang luas itu sudah percaya Yesus sebagai Juruselamat. Dan walaupun demikian, Paulus bisa mengatakan bahwa tidak lagi tersedia tempat bagi Paulus di sana. Mengapa demikian? Bagi Paulus, yang penting Injil sudah diberitakan dan gereja sudah didirikan. Paulus memberikan tugas kepada Jemaat yang baru itu agar melanjutkan pelayanan pekabaran Injil di daerah tersebut, sehingga Paulus sendiri bebas untuk melanjutkan perjalanannya ke daerah yang sama sekali belum mengenal Yesus Kristus. Perintisan Injil di antara bangsa yang belum mengenal Kristus merupakan prioritas utama pelayanan Paulus.

Dalam hal ini, Paulus menantang kita orang Kristen di Indonesia. Siapakah yang kita prioritaskan dalam pelayanan PI? Apakah gereja kita, suku kita, atau suku-suku bangsa yang belum pernah mendengar Injil? Bukankah mereka harus menjadi pusat perhatian pekabaran Injil kita? Bukankah mereka juga termasuk kumpulan besar yang dilihat oleh Rasul Yohanes?

Ataukah mereka merupakan pusat doa syafaat dan usaha PI kita?

Tuhan akan datang kembali dan menyelesaikan Kerajaan-Nya di dunia jika semua suku bangsa sudah terwakili sebagai ciptaan baru. Di manakah orang Kristen, di manakah gereja yang memedulikan mereka yang belum pernah mendengarkan Injil? Tuhan Yesus ingin mencari jiwa-jiwa yang terhilang. Siapa yang bersedia dipakai dalam rencana Allah ini? Siapa yang memprioritaskan perintisan gereja di tengah orang-orang yang belum terwakili di hadapan takhta Tuhan Allah kita?

Diambil dari:

Judul buletin : Terang Lintas Budaya, Edisi 77, Tahun 2008
Judul artikel : Allah ingin Disembah oleh Semua Suku Bangsa
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Terang Lintas Budaya, Sidoarjo 2008
Halaman : Tidak dicantumkan

e-JEMMi 07/2010



Allah Merencanakan Keselamatan bagi Seluruh Umat Manusia

Orang Kristen sering berpikir bahwa Perjanjian Lama tidak mengenal adanya misi. Misi sedunia baru dimulai dalam Perjanjian Baru, khususnya setelah Yesus menyampaikan Amanat Agung. Ini tidak benar. Dalam Perjanjian Lama, Allah bukanlah Allah orang Yahudi saja, melainkan Allah seluruh umat manusia.

Yesus Kristus pun tidak terdapat dalam Perjanjian Baru saja, tetapi Dia merupakan penggenapan Perjanjian Lama -- Allah selalu ingin menyelamatkan seluruh umat manusia.

Oleh karena Allah menciptakan segala sesuatu (Kejadian 1-2), Dia juga menyatakan diri sebagai Pencipta manusia (Kejadian 1:27; 2:7). Itu sebabnya tidak ada Allah lain yang sanggup menyelamatkan manusia (Ulangan 4:39; Yesaya 44:6). Dia juga memiliki hak mutlak menguasai seluruh umat manusia -- "Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!" (Roma 3:29) Dialah Allah bagi semua manusia. Itu sebabnya Dia melarang manusia menyembah ilah-ilah lain. Allah cemburu terhadap patung dewa yang disembah oleh manusia karena Dia saja yang layak dipuji dan tidak ingin memberikan kemuliaan-Nya kepada mereka. Ilah-ilah lain bukanlah allah yang benar, melainkan kekejian bagi Allah.

Allah menghendaki keselamatan bagi seluruh manusia karena:

  1. seluruh umat manusia menjadi milik Allah sebagai ciptaan-Nya;

  2. seluruh umat manusia adalah puncak ciptaan Allah yang unik dan istimewa;

  3. seluruh umat manusia dalam Adam terpisah dari Allah dan perlu diselamatkan; dan

  4. seluruh umat manusia memperoleh janji keselamatan dari Allah.

Sesudah manusia berdosa (Kejadian 3:1-14), Tuhan sudah mempersiapkan jalan untuk keluar dari keterikatan dosa, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (Kejadian 3:15). Ini berarti bahwa keselamatan adalah prakarsa Allah, bukan manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diri sendiri. Lewat ini, iblis dihancurkan dan tidak berkuasa lagi. Keselamatan ini bersifat universal bagi semua manusia, termasuk semua bangsa, tetapi tidak berarti bahwa semua otomatis diselamatkan. Keselamatan tersedia bagi semua orang, tetapi harus diterima secara individu. Tanpa anugerah pertobatan pribadi, keselamatan tidak ada. Keselamatan dari Allah hanya bisa melalui keturunan perempuan ini. Dengan kata lain, Penebus yang dijanjikan Allah adalah manusia sungguh-sungguh keturunan perempuan. Tidak ada keselamatan tanpa penderitaan si Penebus ini. Semua ini tergenapi di dalam Yesus Kristus yang bersedia menjadi korban bagi umat manusia yang berdosa.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama buletin : Terang Lintas Budaya, Edisi 32, Tahun 1999
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Terang Lintas Budaya, Malang 1999
Halaman : 2

e-JEMMi 02/2009

Amanat Agung

Bagian Alkitab yang terkenal paling berhubungan dengan tugas misi adalah Amanat Agung, yang merupakan kerinduan dan isi hati Allah terhadap dunia ini. Dalam Perjanjian Baru diuraikan tentang kepribadian Allah yang ingin berkomunikasi dengan manusia. Melalui Roh Kudus, Allah menggerakkan murid-murid untuk mengomunikasikan Injil. Pada umumnya, orang Kristen hanya mengenal satu atau dua nas Alkitab yang memuat Amanat Agung, tetapi Alkitab sendiri sebenarnya menceritakan empat bentuk ucapan Amanat Agung.

  1. Allah memunyai otoritas dalam misi sampai akhir zaman (Matius 28:18-20).

  2. Metode dan akibat misi sedunia (Markus 16:15-18).

  3. Kristus adalah dasar misi (Lukas 24:46-49; Kisah Para Rasul 1:7-8).

  4. Misi bersifat rohani (Yohanes 20:11-23).

Amanat Agung berfokus kepada dua hal: pemberitaan Injil dan pemuridan.

Misi sedunia adalah kehendak Allah, oleh karena itu setiap orang Kristen harus terlibat dan mengambil bagian dalam pekerjaan yang mulia ini. Roh Kudus yang akan memampukan gereja-Nya untuk menaati Amanat Agung.

Amanat Agung Menurut Matius

Menurut Matius, Amanat Agung dimulai pada saat Allah mengutus murid-murid untuk memberitakan Injil. Dialah Tuhan atas tuaian, Ia dapat membuka dan menutup pintu bagi pekerjaan misi. Oleh karena itu, murid-murid tidak perlu takut pada kesulitan yang akan dihadapi, sebab mereka memunyai Allah yang Mahakuasa.

Tugas pengikut-pengikut Tuhan Yesus:

  1. menjadikan semua bangsa murid-Nya,

  2. membaptiskan mereka, dan
  3. mengajar mereka.

Tujuan Amanat Agung dan penginjilan adalah pemuridan supaya manusia menjadi serupa dengan Allah (2 Korintus 3:18) sehingga kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (1 Yohanes 3:2). Menjadi murid Kristus berarti mengidentifikasikan diri sendiri secara total dengan Kristus dan memikul salib-Nya.

Amanat Agung Menurut Markus

  1. Ditujukan kepada seluruh makhluk oleh karena Allah adalah Pencipta, Kristus meminta jemaat-Nya membawa keselamatan kepada seluruh makhluk di dunia tanpa terkecuali.

  2. Pemberitaan Injil dibuktikan dengan tanda-tanda.

Amanat Agung Menurut Lukas

Karena murid-murid-Nya sangat kecewa karena rencana untuk mendirikan kerajaan secara politis tidak terlaksana, maka Yesus menghibur mereka dengan sambutan: "damai sejahtera bagi kamu". Sesudah itu Tuhan menjelaskan rencana misi kepada mereka:

  1. Misi berdasarkan kitab-kitab suci: Taurat Musa, nabi-nabi, dan Mazmur (Lukas 24:44).

  2. Inti Injil: kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus (Lukas 24:22).

  3. Tujuan: pertobatan dan pengampunan.

  4. Pemberitaan Injil bagi segala bangsa (Lukas 24:47).

  5. Alat yang dipakai bagi misi sedunia adalah murid-murid-Nya.

  6. Kuasa dan kekuatan untuk melaksanakan Amanat Agung berasal dari Roh Kudus yang sudah dijanjikan Allah Bapa (Lukas 24:49).

Amanat Agung Menurut Yohanes

Injil Yohanes mengingatkan kita bahwa murid-murid diutus sama seperti Bapa mengutus anak-Nya yang tunggal, yaitu Tuhan Yesus (Yohanes 20:21-23). Murid-murid harus mengidentifikasikan diri dengan Kristus, karena mereka telah diperlengkapi oleh Roh Kudus, "terimalah Roh Kudus" (Yohanes 21:22). Sering kali, hal ini menjadi perdebatan: Kapan mereka diperlengkapi dengan Roh Kudus? Sebelum Pentakosta (Yohanes 21) atau pada hari Pentakosta ketika Yesus menghembusi mereka dengan Roh Kudus? Dia memberikan Roh Kudus kepada mereka secara terbatas sesuai dengan cara Perjanjian Lama, supaya mereka bisa bertahan dalam pergumulan di Yerusalem sampai hari Pentakosta, tetapi pada hari Pentakosta mereka dipenuhi dengan Roh Kudus untuk melaksanakan misi Amanat Agung Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 2).

Amanat Agung adalah pokok dalam kekristenan yang sangat penting. Hal ini terbukti dengan semua kitab Injil yang menceritakan pokok ini. Fokus Amanat Agung terletak dalam penginjilan dan pemuridan, sasarannya supaya seluruh dunia dapat mengecap keselamatan yang ada di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buletin : Terang Lintas Budaya, Edisi 37, Tahun 2000
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Terang Lintas Budaya, Malang 2000
Halaman : 2

e-JEMMi 03/2009

Aniaya = Berkat

Judul di atas pasti membuat semua orang menjadi ngeri. Tidak terbayang rasanya kalau hal tersebut terjadi. Kira-kira kita sanggup tidak menghadapi? Sebab kalau kita mendengar kata "aniaya", konotasinya pasti penderitaan secara fisik maupun psikis. Bisa juga kehilangan harta benda yang dimiliki, bahkan sampai kehilangan nyawa atau orang-orang yang kita sayangi.

Kita harus mencari tahu apa kata Alkitab tentang aniaya yang di alami oleh orang percaya. Filipi 1:29 menyatakan bahwa kepada kita dikaruniakan bukan hanya untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia. Berarti aniaya (baca: penderitaan) memang sudah menjadi bagian orang percaya. Menerima keselamatan dengan percaya kepada Yesus berarti siap menerima aniaya. Dengan kata lain aniaya dan keselamatan merupakan satu paket yang tidak terpisahkan.

Yohanes 15:20-21 menunjukkan kepada kita, bahwa kita sebagai murid Kristus pasti turut mengalami apa yang sudah dialami guru kita. Kalau Yesus saja dianiaya, berarti kita juga mengalaminya. Penyebabnya sudah jelas, karena mereka tidak mengenal Kristus (ayat 21). Dengan demikian, kita seharusnya bangga bila mengalami aniaya, sebab itu berarti kita telah menjadi murid Kristus. 2 Timotius 2:3 menyuruh kita untuk ikut menderita sebagai prajurit Kristus. Bila kita menyadari status kita sebagai prajurit Kristus, mau tidak mau kita akan mempersiapkan diri untuk menderita.

Sekarang mari kita lihat masalah aniaya ini dalam kehidupan jemaat mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul pasal 1 diceritakan, setelah kenaikan Yesus ke Surga, para rasul tidak berani berbuat apa-apa. Di satu sisi mereka memang takut karena guru mereka sudah pergi, tapi di sisi lain mereka tidak mau bertindak apa-apa sebelum menerima apa yang Yesus janjikan, yaitu Roh Kudus. Karenanya mereka bersehati berdoa di loteng Yerusalem menunggu janji Yesus, sampai akhirnya tibalah hari Pantekosta dan mereka semua dipenuhi Roh Kudus dan mulai melayani dengan berani.

Petrus yang pernah menyangkal Yesus tiga kali, berkhotbah dengan suara nyaring. Hasilnya 3.000 jiwa menjadi percaya dan dibaptis (Kisah Para Rasul 2:41). Setiap hari, Tuhan terus menambahkan jumlah orang yang diselamatkan (Kisah Para Rasul 2:47), bahkan ketika Petrus dan Yohanes berkhotbah, jumlah mereka bertambah menjadi 5.000 orang laki-laki (Kisah Para Rasul 4:4). Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang menyertai pelayanan para rasul semakin dahsyat, sampai-sampai mereka sangat dihormati oleh orang banyak. Jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan bertambah banyak, bahkan orang-orang dari kota sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun untuk minta disembuhkan dan dilepaskan dari roh jahat. (Kisah Para Rasul 5:12-16).

Ketika pekerjaan Tuhan semakin berkembang, datang pula aniaya. Petrus dan Yohanes sempat ditangkap dan dibawa ke sidang mahkamah agung (Kisah Para Rasul 4:1-22). Kemudian rasul-rasul ditangkap dan dipenjarakan. Bahkan mereka disesah sebelum dilepaskan dengan ancaman agar tidak lagi mengajar dalam nama Yesus (Kisah Para Rasul 5:17-40). Meskipun terjadi aniaya, Firman Allah makin tersebar dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak. Bahkan sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya (Kisah Para Rasul 6:7). Sampai akhirnya salah seorang diaken yang melayani orang miskin yaitu Stefanus, ditangkap dan dibunuh. Penyebabnya sepele, karena orang-orang yang memfitnah Stefanus tidak dapat melawan hikmat Stefanus ketika mereka bersoal jawab dengan dia. Lalu, Stefanus diseret ke luar kota dan dilempari batu hingga mati. Stefanus menjadi martir pertama. Tapi apakah aniaya berhenti sampai di situ? Ternyata tidak!

Kisah Para Rasul 8:1 menegaskan bahwa sejak itulah mulai terjadi penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Rumah demi rumah dimasuki dan setiap orang percaya diseret keluar untuk dimasukkan ke dalam penjara. Saking hebatnya aniaya tersebut, mereka semua kecuali para rasul, tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria.

Mengapa Tuhan mengizinkan aniaya hebat itu terjadi? Alasannya jelas karena para rasul hanya berfokus kepada pekerjaan Tuhan di Yerusalem dan tidak memberitakan Injil ke daerah lain. Padahal dalam Kisah Para Rasul 1:8 dengan jelas Yesus berjanji bahwa mereka akan menjadi saksi-Nya di Yudea, Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi. Namun mereka telah lupa akan hal itu dan asyik dengan pekerjaan Tuhan di Yerusalem sehingga mengabaikan daerah Yudea dan Samaria. Perlu diingat, bila Yudea dan Samaria yang dekat dengan Yerusalem saja belum dijangkau, apalagi ujung bumi! Pola yang sama akan dan sedang terjadi pula dengan kita, Gereja Tuhan saat ini. Bila gereja tidak mau pergi ke suku-suku dan daerah-daerah terpencil, maka aniayalah yang akan memaksanya. Dalam Kisah Para Rasul 8 dan seterusnya, kita dapat melihat bahwa aniaya tidak memadamkan penyebaran Injil, malah sebaliknya. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri sampai memberitakan Injil. Karena aniaya, bangsa-bangsa lain di luar Yerusalem pun mendengar Injil termasuk pula Samaria, yang sebelumnya bermusuhan dengan dan dipandang rendah oleh orang-orang Yahudi. Lewat aniaya, Allah dapat menaruh hati bagi suku-suku yang tadinya tidak kita sukai. Bahkan memakai kita untuk menjangkau mereka yang tidak pernah terpikirkan oleh kita.

Hasil pemberitaan Injil oleh jemaat mula-mula di masa aniaya tersebut sungguh luar biasa. Dalam Kisah Para Rasul 8:1-40 kita menemukan bahwa:

  1. Samaria menerima Injil dan sangatlah besar sukacita di kota itu (Kisah Para Rasul 8:4-8).

  2. Seorang sida-sida dari Ethiopia menjadi percaya dan dibaptis dalam perjalanannya melewati jalur Gaza (Kisah Para Rasul 8:26-39). Diduga oleh karena sida-sida ini, maka seluruh Ethiopia mendengar Injil.

  3. Seluruh kota yang dilalui Filipus dalam perjalanannya dari Asdod sampai Kaisarea (Kisah Para Rasul 8:40).

  4. Saulus penganiaya jemaat, bertobat dan dibaptis (Kisah Para Rasul 9:1-19). Kemudian ia memberitakan Injil ke Damsyik.

  5. Kaisarea mendengar Injil (Kisah Para Rasul 10).

  6. Bangsa-bangsa lain menerima Firman Allah (Kisah Para Rasul 11:1), termasuk orang-orang Yunani.

  7. Injil tersebar sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:19).

Akhirnya Injil tersebar ke Yudea dan Samaria sesuai janji Tuhan. Dari mana kita tahu? Kisah Para Rasul 9:31 menyatakan adanya jemaat di Yudea, Galilea, dan Samaria. Jemaat tidak mungkin ada di daerah tersebut bila berita Injil belum disampaikan. Melalui aniaya, apa yang dijanjikan Yesus menjadi kenyataan. Jemaat mula-mula telah menjadi saksi di Yerusalem, Yudea, dan Samaria.

Diambil dari:

Judul majalah : Majalah Abbageng Edisi Mei 1999
Judul artikel : Aniaya = Berkat
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Abbalove Ministries
Halaman : 3 -- 5

Animisme: Agama Orang Suku yang Buta Aksara

Animisme adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan agama suku atau agama yang dianut oleh komunitas buta aksara. Kepercayaan ini juga sering disebut sebagai agama tradisional atau agama aborigin. Kerap kali orang-orang salah kaprah menganggapnya sebagai agama primitif karena sebenarnya agama tersebut cukup kompleks.

Ada sekitar 100 juta penganut agama suku dari ribuan suku yang tersebar di berbagai benua dan pulau yang berbeda. Agama suku kebanyakan dianut oleh suku Indian di Amerika Utara dan Amerika Selatan, suku Afrika bagian tropis, pulau Irian, dan Oseania; selain itu, agama suku juga dianut oleh suku aborigin yang primitif di Australia, Selandia Baru, India, dan Jepang.

Terdapat beberapa perbedaan mencolok antara agama dan kebudayaan suku-suku ini, namun lewat pembelajaran menyeluruh tentang suku-suku tersebut kita dapat menarik tema-tema besar yang memiliki kemiripan. Para antropolog sekuler dan misionaris telah menyiapkan data bagi mereka yang mencari informasi tentang suku-suku tersebut. Masih banyak informasi yang keliru karena mereka tidak memahami bahasa suku dan kurang memaksimalkan waktu untuk membuktikan dan menemukan rahasia terdalam agama-agama suku. Walaupun telah melakukan penelitian yang cukup lama, beberapa temuan masih sering tidak mencapai kata sepakat serta menimbulkan kontroversi. Penelitian semakin sulit dilakukan karena banyak suku yang hampir punah atau telah berintegrasi dengan peradaban. Namun demikian, masih banyak generalisasi yang sah yang dapat kita buat tentang animisme.

Banyak dasar-dasar animisme dapat ditemukan pada pemeluk agama-agama yang sudah "berkembang" seperti Muslim, Buddhis, dan orang-orang Kristen KTP. Kita menyebutnya takhayul, contohnya "nasib buruk jika kucing hitam melintas di depan kita". Tabu-tabu seperti ini lumrah muncul dalam kepercayaan animisme. Berikut definisi yang diberikan oleh Houghton.

Berasal dari kata "anima" (nafas). Animisme dapat dikenal dengan istilah yang lebih sederhana dan populer "penyembahan roh", berbeda dengan penyembahan kepada Allah atau dewa-dewa.

Dampaknya terhadap pemikiran agama primitif menunjukkan seberapa jauh animisme mendasari agama natural, berkebalikan dengan agama pewahyuan. Yang disebut sebagai animisme termasuk "Nekrolatri", yaitu kegiatan penyembahan jiwa manusia dan hewan, terutama yang sudah meninggal; Penyembahan Roh, yaitu tidak membatasi umat menyembah kepada obyek atau tubuh tertentu; dan Naturisme, yaitu penyembahan terhadap entitas spiritual yang dipercaya dapat mengatur fenomena alam. Paham seperti ini tidak hanya terdapat dalam agama suku yang liar dan buas sebelum mereka berhubungan dengan peradaban, namun paham tersebut juga menjadi dasar filsafat orang-orang Hindu, Buddhis, Shinto, Konfusianis, dan Islam, dan juga menjadi landasan cerita-cerita takhayul orang-orang Kristen di Eropa, selain juga mitologi dari Mesir, Babilonia, Siria, Yunani, Roma, dan Skandinavia.

Banyak kegiatan dan konsep agama-agama yang sama di antara berbagai kepercayaan animisme. Sebagian besar memiliki kegiatan-kegiatan komunal rutin seperti ritual, acara tradisi (terkait dengan kelahiran, kedewasaan, pernikahan, kematian, dll.), pesta adat, sihir, mitos dan legenda, pemujaan terhadap kesuburan, fetisisme, imam/shaman/dukun, mana (kekuatan supernatural yang gaib), roh-roh, ramalan dan korban persembahan, tabu-tabu, totemisme, dan pemujaan orang mati.

Nekrolatri (penyembahan orang mati)

Bagi agama suku, memerhatikan jiwa orang mati sangatlah penting. Upacara dilaksanakan sebagai bentuk rasa hormat terhadap nenek moyang. Selain itu, bisa jadi mereka takut akan jiwa orang lain yang telah meninggal. Masyarakat suku sering berpendapat bahwa nenek moyang yang telah tiada masih menjadi bagian dari klan mereka sehingga mereka merasa wajib menyenangkan nenek moyangnya dengan melaksanakan beragam ritual. Mereka biasanya takut terkena celaka yang disebabkan oleh amarah orang mati kepada mereka. Mereka menganggap ini sungguh-sungguh dapat terjadi terutama bagi mereka yang meninggal dengan cara yang tidak wajar. Jiwa akan datang dan memburu yang hidup, kecuali jiwa tersebut dibantu dalam perjalanannya ke tempat orang mati dengan melaksanakan upacara-upacara yang sesuai.

Penyembahan Roh

Agama suku tidak hanya memedulikan jiwa orang mati, tetapi juga keberadaan setan dan roh yang berpribadi. Mereka juga percaya di alam ini terdapat kekuatan roh nirpribadi yang disebut "mana" oleh orang-orang Polinesia.

Sebagian besar agama suku memercayai banyak sekali roh-roh jahat yang mendiami tanah, udara, air, api, pohon, gunung, serta hewan. Seluruh kehidupan diatur oleh tabu-tabu dan ritual-ritual yang dirancang khusus untuk menentramkan para roh.

Penyembahan Roh -- Shamanisme

Sering kali "shaman" atau imam/dukun berfungsi sebagai perantara yang mahir dan serba tahu tentang mantra dan jumlah korban persembahan. Acapkali, mereka dipanggil untuk menyembuhkan sakit penyakit, tapi seorang shaman juga memunyai beberapa fungsi lain. Dalam banyak suku lainnya biasa ditemui individu-individu lain untuk melakukan ritual tersebut sendiri.

Penyembahan Roh -- Sihir

Dalam banyak kasus, roh tidak dilihat sebagai sosok berpribadi, namun dilihat sebagai kekuatan alam nirpersonal seperti yang dikatakan di atas. Banyak suku yang mengembangkan kepercayaan dan kegiatan sihir mereka agar dapat memanfaatkan kekuatan alam demi kepentingan pribadi mereka. Sihir peniruan digunakan untuk mencelakai musuh dengan menyerang representasinya (misalnya boneka voodoo). Sihir penularan adalah praktik-praktik sihir yang bergantung pada hubungan yang terdapat antara seseorang dengan benda-benda yang berhubungan dengannya seperti potongan rambut, potongan kuku, atau kotoran manusia.

Sihir juga dapat digunakan untuk kepentingan individu tertentu. Darah dari hewan pemangsa diminum untuk mendapatkan kekuatan hewan tersebut. Kepercayaan ini berkembang lebih jauh lagi dalam tindakan kanibalisme: memakan musuhnya untuk memperoleh kekuatannya.

Penyembahan Roh -- Fetisisme

Konsep "mana" sangat membantu kita memahami kegunaan dari mantra, jimat, dan fetis-fetis lainnya. Mereka biasanya tidak dianggap dihuni oleh roh yang berpribadi, namun oleh energi atau kekuatan spiritual. Tentu saja mantra dan jimat tidak hanya dipakai oleh para penganut animisme saja. Banyak orang Barat, demikian pula orang Islam, dan penganut agama lain yang beradab, percaya dengan bermacam-macam jimat. Dalam budaya suku, hal inilah yang menempati posisi sebagai ilmu pengetahuan.

Naturisme

Naturisme adalah personifikasi dan penyembahan kekuatan alam seperti matahari, bulan, dan bintang, api, gunung berapi, badai, dan hewan. Bentuk penyembahan seperti ini sudah lazim dalam agama orang-orang kuno, seperti halnya matahari yang diagungkan dalam agama Mesir kuno. Gagasan-gagasan naturistis ternyata juga muncul dalam agama-agama yang lebih "tinggi", seperti sapi suci oleh orang-orang Hindu di India atau gunung suci orang-orang Shinto Jepang. Memang tidak mudah untuk membuat perbedaan yang jelas antara kegiatan sihir yang disebut di atas dan naturisme. Namun demikian, dalam banyak kejadian, alamlah yang disembah. Biasanya, naturisme berkembang menjadi penyembahan berhala dan politeisme (penyembahan terhadap banyak dewa).

Banyak praktik naturistis berkaitan erat dengan kesuburan, baik dalam pertanian maupun reproduksi manusia. Penyembahan, ritual-ritual, dan korban-korban persembahan dimaksudkan untuk menjamin kesuburan. Tampaknya, korban manusia adalah bentuk ekstrem dari ritual ini, seperti yang muncul dalam ritual agama orang-orang Maya yang ditemukan di Meksiko sebelum masa penjajahan atau pada orang-orang Naga yang buas di bagian timur laut India dan Burma.

Naturisme -- Totemisme

Mungkin totemisme termasuk salah satu aspek naturisme. Totemisme adalah istilah yang berasal dari sebuah kata Indian yang berarti "saudara-lelaki-perempuan", yang melambangkan kesatuan klan dengan beberapa tanaman atau hewan suci. Warga suku melihat bahwa ini adalah aspek keterkaitan antara kehidupan manusia dan alamnya. Oleh karena itu, hewan atau tumbuhan totem dianggap suci bagi suku mereka dan tidak boleh dimakan kecuali dalam upacara-upacara khusus.

Kesimpulan

William Paton merinci empat karakteristik agama dan budaya animisme. Pertama, seluruh kehidupan diliputi ketakutan. Ketakutan mengatur sebagian besar tindakan-tindakan orang-orang suku. Kedua, hilangnya kasih dan penghiburan dari agamanya. Seorang penganut animisme mungkin dapat memunyai konsep Allah Pencipta, namun Dia dirasa sangat jauh dari kehidupan manusia sehingga mereka tidak perlu memedulikan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada pengharapan dalam agama mereka. Ketiga, tidak ada hal yang absolut dalam moralitas. Dosa tidak dilihat sebagai dosa, namun hanya pelanggaran terhadap budaya, adat, dan kekuatan alam. Keempat, kurangnya hubungan dengan Allah menyebabkan sikap pandang yang fatalistik karena seluruh kejadian dalam kehidupan ini telah ditentukan sebelumnya dan diatur oleh alam dan setan. Penilaian kekristenan terhadap kepercayaan animisme harus dimulai dengan penjelasan Rasul Paulus dalam Roma 1:21-25 tentang bagaimana keturunan Nuh yang pernah percaya kepada Tuhan terdegradasi ke dalam praktik animisme. Houghton mengutip kesimpulan dari seorang anonim yang tepat: "Inti dari kafirisme bukanlah suatu penyangkalan terhadap Allah ... namun sebuah pengabaian terhadap Dia dan beralih kepada penyembahan kekuatan alam serta kekuatan setan yang misterius melalui sihir dan korban dan upacara magis." (t/Uly)

Diterjemahkan dari:

Judul artikel : Animism: The Religions of Nonliterate Tribal Peoples
Judul buku : What in the World is God Doing?
Penulis : C. Gordon Olsen
Penerbit : Global Gospel Publishers, 1994
Halaman : 171 -- 174

e-JEMMi 20/2010



Apa itu Ateisme?

Ateisme merupakan pandangan bahwa tidak ada Allah. Ateisme bukanlah perkembangan baru. Mazmur 14:1 yang ditulis oleh Daud sekitar tahun 1000 SM menyebut tentang ateisme –- "Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah." Statistik baru-baru ini menunjukkan meningkatnya angka orang-orang yang menjadi ateis, di mana angka orang-orang yang menyatakan diri sebagai penganut ateisme mencapai 10% dari orang-orang di dunia. Jadi, mengapa makin banyak orang yang menjadi penganut ateis? Apakah ateisme benar-benar adalah posisi yang logis sebagaimana yang diklaim oleh para penganutnya?

Mengapa ateisme ada? Mengapa Allah tidak mengungkapkan diri kepada orang untuk membuktikan bahwa Dia ada? Kalau Allah menyatakan diri, pastilah semua orang akan percaya kepada-Nya! Masalahnya adalah Tuhan bukan hanya mau meyakinkan manusia bahwa Dia ada, Ia berkehendak agar orang menjadi percaya dan datang kepada-Nya dengan iman (2 Petrus 3:9) dan menerima karunia keselamatan (Yohanes 3:16). Ya, Allah bisa saja memperlihatkan diri dan dengan tuntas membuktikan keberadaan-Nya. Masalahnya adalah Allah telah berkali-kali membuktikan keberadaan-Nya dalam Perjanjian Lama (Kejadian 6-9; Keluaran 14:21-22; 1 Raja-Raja 18:19-31). Apakah orang percaya bahwa Allah itu ada? Ya! Apakah mereka berpaling dari jalan yang jahat dan menaati Allah? Tidak! Jika seseorang tidak bersedia menerima keberadaan Allah dengan iman, jelas mereka tidak siap untuk dengan iman menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka (Efesus 2:8-9). Itulah yang dikehendaki Allah –- supaya orang-orang menjadi orang Kristen dan bukan menjadi ateis.

Alkitab memberitahukan kita bahwa keberadaan Allah harus diterima dengan iman. Ibrani 11:6 mengatakan, "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." Alkitab mengingatkan kita bahwa kita adalah orang-orang yang berbahagia saat kita percaya kepada Allah dalam iman, "Kata Yesus kepadanya: Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" (Yohanes 20:29).

Fakta bahwa keberadaan Allah harus diterima dengan iman tidak berarti kepercayaan kepada Allah tidak logis. Ada banyak argumen yang bagus untuk keberadaan Allah. Silakan kunjungi halaman "Apakah Allah ada? http://www.gotquestions.org/Indonesia. Alkitab mengajarkan bahwa keberadaan Allah dapat dilihat dengan jelas dalam jagat raya (Mazmur 19:2-5), dalam alam (Roma 1:18-22), dan dalam hati kita sendiri (Pengkhotbah 3:11). Sesudah mengatakan semua itu, sekali lagi keberadaan Allah tidak dapat dibuktikan, harus diterima dengan iman.

Pada saat yang sama, dibutuhkan juga banyak iman untuk bisa percaya pada ateisme. Membuat pernyataan mutlak "Allah tidak ada!" adalah mengklaim mengetahui secara mutlak segala sesuatu yang perlu diketahui tentang segala sesuatu –- dan menyatakan bahwa sudah pernah mengunjungi semua tempat -– dan menyaksikan semua hal tersebut. Pada dasarnya, itulah yang mereka klaim ketika mereka mengatakan bahwa Allah tidak ada. Kaum ateis tidak dapat membuktikan misalnya, bahwa Allah tidak berdiam di tengah-tengah matahari, atau di bawah awan Yupiter, atau di nebula yang jauh. Hal ini tidak dapat dibuktikan sehingga tidak ada bukti bahwa Allah tidak ada. Untuk menjadi orang ateis, diperlukan iman sebanyak menjadi orang teis.

Jadi, kita kembali ke garis awal. Ateisme tidak dapat dibuktikan dan keberadaan Allah harus diterima dengan iman. Saya percaya dengan yakin bahwa Allah ada. Saya bersedia mengakui bahwa kepercayaan saya pada keberadaan Allah adalah berdasarkan iman. Pada saat yang sama, dengan tegas saya menolak ide bahwa kepercayaan pada Allah adalah tidak logis. Saya percaya bahwa keberadaan Allah dapat dengan jelas dilihat, dirasakan, dan dibuktikan secara filosofis, lagi ilmiah di mana perlu. Sekali lagi, untuk informasi lebih lanjut silakan kunjungi halaman "Apakah Allah ada?"

"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari" (Mazmur 19:2-5).

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Got Questions
Penulis : Tidak dicantumkan
Alamat URL : http://www.gotquestions.org/Indonesia/atheisme.html

e-JEMMi 2/2008



Apa yang Dapat Aku Lakukan?

Pengantar

Gereja-gereja dan orang percaya di seluruh dunia sedang mempersiapkan acara doa bersama dalam rangka mengikuti International Day of Prayer (IDOP). Penyelenggaraan akan diadakan secara serempak selama satu minggu (9 -- 16 November 2008). Sebagai saudara seiman, mari kita mengambil bagian dan berpartisipasi dengan berdoa bagi saudara-saudara seiman kita di seluruh dunia yang dianiaya karena iman mereka kepada Kristus. Artikel berikut ini bisa menjadi salah satu petunjuk bagaimana Anda bisa ikut berpartisipasi. Selamat membentuk kelompok doa dan berdoa bersama.

Anda Dapat Berdoa ....

Pilihlah sebuah negara untuk didoakan selama satu minggu. Berdoalah bagi kebutuhan terperinci dari negara itu, perlindungan bagi orang-orang percaya di sana, jiwa-jiwa baru untuk dimenangkan bagi Injil, dan supaya para penganiaya di negara itu datang untuk mengenal kasih Yesus Kristus.

Anda Dapat Mengidentifikasi ....

Ratusan ribu umat Kristen membahayakan nyawa mereka dengan berkumpul untuk menyembah Yesus setiap minggu. Kita, di Indonesia, mungkin kurang bisa memahami tekanan semacam itu. Bagaimana jika Anda mencoba merasakannya. Selenggarakanlah sebuah tiruan pertemuan gereja bawah tanah, bisa di rumah atau di gereja Anda. Berikanlah kepada setiap peserta sebuah kata sandi atau ketukan rahasia yang akan mereka butuhkan untuk mengikuti pertemuan Anda. Anda bahkan dapat menyelenggarakan pertemuan Anda di luar atau di hutan. Lalu siapkanlah orang-orang yang berbaju seperti polisi untuk menginvasi pertemuan Anda. Pakailah hanya satu atau dua Alkitab untuk dibagikan di antara kelompok. Gunakan lentera atau lilin saja sebagai penerang dalam pertemuan tersebut.

Anda Dapat Membagikan Injil ....

Diskusikanlah bersama kelompok pemuda, gagasan untuk menjangkau negara-negara yang menganiaya umat Kristen. Didiklah diri Anda mengenai berbagai kebudayaan yang berbeda dan cara yang terbaik untuk menjangkau mereka bagi Kristus. Carilah informasi mengenai hal tersebut dan dukunglah misionaris-misionaris di negara tersebut, lalu berdoalah bagi mereka secara rutin. Temukanlah apa yang menjadi kebutuhan mereka dan carilah bagaimana Anda dapat menolong agar kebutuhan mereka dipenuhi, entah itu mendapatkan Alkitab dalam bahasa mereka, menyediakan makanan, atau mendukung mereka secara finansial.

Anda Dapat Mendramatisir ....

Ciptakanlah sebuah parodi atau satu serial parodi untuk dipertunjukkan di hadapan jemaat gereja Anda atau kelompok pemuda berdasarkan cerita-cerita atau martir-martir yang telah Anda teliti sendiri. Pilihlah martir-martir dari masa lalu dan masa kini. Selenggarakanlah drama-drama Anda, kemudian undanglah orang-orang untuk bergabung dalam kelompok-kelompok doa atau untuk berdoa setiap minggunya sebagaimana yang telah dijabarkan di atas.

Anda Dapat Menulis ....

Diambil dan disesuaikan dari:

Judul buku : Jesus Freaks
Penyusun : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
Halaman : 388 -- 391

e-JEMMi 43/2008

Apa yang Membuat Perawat Memiliki Kepedulian (Caring)?

Kepedulian atau "caring", merupakan topik yang saat ini hangat dibahas dalam buku-buku keperawatan. Ada kisah-kisah dan penegasan mengenai kepedulian, ada dongeng-dongeng dan tuduhan-tuduhan tentang kurangnya kepedulian, ada juga teori-teori tentang kepedulian, penelitian, dua jurnal mengenai kepedulian, dan International Association of Human Caring (Asosiasi Internasional untuk Kepedulian Terhadap Manusia). Kepedulian tampaknya telah memainkan bagian penting yang paling disoroti. Sejak dulu, keperawatan selalu meliputi empat konsep (yang merupakan paradigma kita): merawat adalah apa yang kita lakukan; manusia adalah sasaran dari apa yang kita lakukan (kepada siapa kita melakukannya); kesehatan adalah tujuannya; dan lingkungan adalah tempat di mana kita merawat. Inti dari semua teori tentang keperawatan adalah memeriksa dan menguraikan empat konsep tersebut untuk memberi penjelasan dan panduan dalam hal merawat. Tetapi sekarang, merawat juga didefinisikan sebagai "kepedulian", yang sudah menjadi konsep paradigma yang kelima.

Mengapa kita menyoroti hal merawat? Pada mulanya, merawat adalah sesuatu yang baik. Merawat, yang sudah lama dikenal sebagai "syarat dari suatu hubungan kepedulian yang memudahkan diperolehnya kesehatan dan pemulihan", merupakan suatu aspek penting dalam keperawatan. Mengindentifikasi, menggambarkan, dan memahami `kepedulian` menjelaskan apa yang kita lakukan, apa keunikan dari merawat, dan menuntun kita selagi kita berusaha untuk peduli.

Tetapi, sebuah masalah yang menarik muncul. Meskipun setiap perawat tahu apa itu kepedulian, pada saat Anda memerhatikannya dengan sungguh-sungguh, kepedulian menjadi suatu konsep yang sulit untuk dipahami. Bacalah buku keperawatan, Anda akan menemukan interpretasi yang berbeda-beda tentang apakah arti kepedulian itu. Beberapa interpretasi itu diperoleh dengan memisahkan konsep tersebut supaya dapat dipahami. Menganalisa konsep yang beragam, sama seperti kisah lima orang buta yang mendeskripsikan seekor gajah. Setiap orang merasakan gajah yang sama, tetapi deskripsi masing-masing orang mengenai gajah itu berbeda-beda.

Seperti kebanyakan hal lain dalam hidup ini, cara pandang memainkan peran yang besar dalam menentukan apa pendapat Anda tentang "kepedulian" itu. Apa yang saya percayai tentang "kenyataan", benar dan salah, asal usul kita, apa yang terjadi saat kita mati, atau apakah "kebenaran" itu, sangat berpengaruh terhadap pemahaman saya mengenai kepedulian. Jika saya percaya bahwa semua yang ada dalam hidup adalah dunia fisik, yang kita rasakan melalui panca indra, maka pendapat saya tentang kepedulian mungkin cenderung seperti apa yang saya percaya, fokus kepada apa yang terjadi sekarang. Hal ini tidak berarti saya bukanlah seorang suster yang peduli, tapi bagaimana saya mempraktikkan kepedulian itu, tergantung dari apa yang menurut saya penting. Jika saya percaya pada suatu kekuatan yang menguasai hidup manusia yang menyokong dan entah bagaimana menghubungkan segala sesuatu, pemikiran saya tentang kepedulian mungkin akan mengandung aspek-aspek "kekuatan hidup" tersebut dan mempertimbangkan bagaimana saya terhubung dengan yang lain.

Meski cara pandang memengaruhi pemikiran kita, dalam pembahasan tentang kepedulian (setidaknya di buku-buku yang sudah saya baca), para penulis jarang menyatakan pikiran mereka dari cara pandangnya. Asumsi, pendapat, dan prinsip-prinsip diajukan, tetapi pandangan tentang kenyataan, kebenaran, dan sifat dunia biasanya tidak dibahas -- setidaknya oleh mereka yang mengatakan, "Inilah yang saya percayai." Tampaknya kita mengasumsikan kepedulian itu sebagai salah satu dari cara pandang yang netral (yang tidak berdampak pada apa yang kita pikirkan), atau karena semua pandangan dunia itu sah dan benar, cara pandang bukanlah masalah. Jika ditanya, kita semua akan berkata, "Tentu saja semuanya berasal dari cara pandang kita. Tidak ada yang tidak dipengaruhi oleh cara kita memandang!" Tetapi, cara pandang dunia biasanya tidak diakui secara terang-terangan, setidaknya secara tertulis.

Tidak mengakui cara pandang dalam diskusi kita tentang kepedulian bisa menjadi suatu masalah. Mengapa? Menyatakan suatu cara pandang yang dimiliki oleh seseorang akan memberikan pengertian yang luas tentang suatu informasi. Misalkan seorang penulis menulis: "Teori saya tentang kepedulian berakar dari kepercayaan bahwa dunia tersusun atas alam, evolusi, ilmu pengetahuan, dan proses. Tidak ada istilah `karya yang luar biasa` atau `pencipta`; dunia ini hanya terdiri dari apa yang kita lihat dan rasakan." Bagaimana Anda mengevaluasi apa yang Anda baca? Katakan saja Anda membaca, "Teori saya tentang kepedulian berasal dari kepercayaan saya akan kuasa yang lebih besar (misalnya, bukan Allah), yang menyokong semua kehidupan dan ada dimana saja. Kuasa itu mempersatukan kita sehingga apa pun yang kita lakukan memengaruhi makhluk hidup yang lain." Apakah interpretasi Anda tentang pemikiran si penulis?

Cara pandang tentang keperawatan Kristen berasal dan berpusat kepada Allah. Kami mencoba memahami cara pandang orang-orang lain dan membandingkannya dengan kebenaran Alkitab. Kolose 2:8 menjelaskan: "Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus." Kesimpulannya, kepedulian tercermin dalam kehidupan Yesus dan pemahaman kita tentang kepedulian dapat kita peroleh dari mempelajari Alkitab. (t/Dian)

Referensi: Majalah American Nurses Association, Nursing`s Social Policy Statement, 2nd ed. (Washington, DC:ANA, 2003): 5. Caring is an elusive concept to nail down.

Bahan diterjemahan dari sumber:

Nama situs : Intervarsity
Judul asli : What Determines "Caring"?
Penulis : Kathy Schoonover-Shoffner
URL : http://ncf-jcn.org//jcn/archive/06su/editorial.html

e-JEMMi 19/2007

Apakah Allah Ada di Sana?

Pernahkah Anda berbaring pada waktu malam dengan mata menatap di kegelapan di luar, kemudian bertanya kepada diri sendiri, "Apakah Allah ada di sana?" Bagaimanapun juga, meski secara naluriah Anda tahu Allah itu ada di suatu tempat, Anda tetap memerlukan kepastian tentang keberadaan-Nya. Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, "Seperti apakah Allah itu?" Memikirkan hal semacam itu memang wajar.

Pernah seorang gadis kecil mengungkapkan pengalaman frustrasinya. Banyak orang memunyai pengalaman yang sama. Gadis kecil itu menulis,

"Aku bertanya kepada ibuku seperti apakah Allah itu. Ia tak tahu. Kepada guruku kutanyakan seperti apakah Allah itu. Ia pun tak tahu. Kemudian kutanyakan kepada bapakku, yang tahu lebih banyak daripada siapa pun di dunia ini. Seperti apakah Allah itu? Tapi ia tidak tahu juga. Kupikir, seandainya hidupku sepanjang umur ibuku, atau guruku, atau bapakku, aku pasti akan tahu sesuatu mengenai Allah!"

Sungguh menyedihkan bahwa manusia dapat hidup sepanjang umurnya dalam lingkungan pengaruh Allah tetapi tidak tahu apa-apa mengenai Dia. Seorang rohaniwan terkemuka beberapa abad lalu berkata, "Tak ada pokok persoalan yang lebih besar dan berarti yang bisa direnungkan oleh manusia yang pikirannya terbatas, daripada pokok persoalan tentang Allah yang tidak terbatas." Dalam pasal yang pendek ini, kita akan membahas beberapa perkara dasar mengenai Allah, sebagaimana diajarkan oleh alam, Alkitab, pengalaman manusia, dan seperti yang dinyatakan dalam Kristus.

  1. Allah itu Roh.

    Ketika Yesus berbincang-bincang dengan seorang wanita di tepi sumur, Ia berkata, "Allah itu Roh" (Yohanes 4:24). Maksudnya, Allah itu bukanlah daging dan darah seperti kita. Ketika Alkitab mengungkapkan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan gambar Allah, itu berhubungan dengan sifat-sifat rohani, bukan jasmani. Memang, Alkitab mengungkapkan seolah-olah Allah memunyai mata, telinga, tangan, dan sebagainya, tetapi itu semua hanyalah ungkapan manusia untuk melukiskan mutu-mutu dari keberadaan Allah. Karena kita manusia melihat dengan mata jasmani kita, merasa dengan tangan jasmani, dan mendengar dengan telinga jasmani, maka wajarlah jika kita memikirkan Allah dengan istilah-istilah jasmani. Tetapi Allah adalah Roh, dan Ia tidak memiliki tubuh jasmani.

    Lagipula, karena Allah itu Roh, Ia tidak nampak. Yohanes berkata, "Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah" (Yohanes 1:18). Paulus berbicara tentang Allah "yang tidak kelihatan" (Kolose 1:15) dan "yang tak nampak" (1 Timotius 1:17), dan berkata, "Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia" (1 Timotius 6:16).

    Meskipun benar bahwa Allah sudah menyatakan banyak sifat pembawaan dan ciri khas-Nya, benar juga bahwa tidak ada seorang manusia pun yang hidup, pernah melihat penyataan Allah secara mutlak.

  2. Allah tidak terbatas

    Kata tidak terbatas berarti "tanpa batas". Selalu sukar bagi kita yang berpikiran terbatas memikirkan soal ketidakterbatasan. Pernahkah Anda berdiri di atas sebuah bukit pada waktu malam sambil memandang ke cakrawala dan memikirkan di mana berakhirnya cakrawala itu? Tak ada akhirnya. Karena cakrawala tidak terbatas. Begitu juga dengan Allah. Tak peduli seberapa jauh kita menyelidikinya dengan peralatan teknologi modern, kita tak dapat melampaui batas dari ketidakterbatasan Allah.

    Raja Daud, sang pemazmur, pasti mengalami kekaguman tentang kebesaran dan keajaiban tersebut ketika dia menulis, "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Ia juga berkata, "Langit menceritakan kemuliaan Allah" (Mazmur 19:2).

    Allah tidak terbatas dalam hal Dia selalu berada dan tak pernah akan berakhir. Kita sering berbicara tentang manusia sebagai yang abadi. Kita abadi dalam hal bahwa sesudah kita lahir, keberadaan kita tidak pernah akan berhenti. Kehidupan yang pernah dimulai dalam kandungan akan berlangsung terus untuk selama-lamanya. Barangkali seseorang hidup selama seratus tahun atau barangkali juga dia mati di kandungan ibunya sebelum dia sempat dilahirkan, tetapi bagaimanapun juga manusia itu abadi.

    Sebaliknya, meskipun kita makhluk abadi, kita bukanlah makhluk yang kekal dalam sifat hakikinya, karena kekal berarti tidak ada permulaannya dan juga tidak ada akhirnya. Allah disebut kekal karena Ia selalu ada dan akan terus ada untuk selama-lamanya.

    Selanjutnya, Allah tidak terbatas kuasa-Nya; tidak ada sesuatu pun yang melampaui kekuasaan-Nya untuk melakukan apa saja. Yesus berkata, "Bagi Allah segala sesuatu mungkin" (Matius 19:26). Dan kepada Abraham, Tuhan berkata, "Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?" (Kejadian 15:14). Sesudah konsep kemahakuasaan Tuhan ini kita maklumi dan pegang teguh, kita akan memiliki keyakinan yang luar biasa besar. Karena jikalau Tuhan mampu menciptakan alam semesta ini, dan Ia sendiri menguasai semua ciptaan-Nya, pastilah Ia mampu menolong kita dalam menangani dan mengatasi semua persoalan maupun kebutuhan kita.

  3. Allah adalah Oknum pribadi

    Ia bukannya hanya suatu gagasan abstrak maupun suatu kekuatan yang tak memedulikan manusia. Ia adalah Oknum, Bapa surgawi yang penuh kasih.

    Banyak agama lain memunyai bermacam-macam nama untuk Allah, tetapi di antara sekian banyak nama itu, tidak ada satu pun yang menyatakan "Bapa kita". Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristuslah yang mengajar kita untuk menyebut Allah alam semesta itu sebagai Bapa, karena itulah Allah kita sangat pribadi.

    Allah diperkenalkan oleh Juru Selamat kita sebagai Orang Tua surgawi kita. Oleh Yohanes, Ia disebut Allah yang baik dan penuh kasih. Oleh Paulus, Ia diperkenalkan sebagai Allah yang adil dan benar. Oleh para nabi, Ia ditampilkan sebagai Allah yang menghukum. Semua sifat pembawaan kepribadian-Nya ini dalam kadar tertentu terdapat juga pada kita manusia, tetapi secara sepenuhnya, semuanya hanya ada di dalam Allah yang bersifat pribadi.

    Dari segala sifat pembawaan kepribadian yang ada dalam Allah, kasih-Nyalah yang paling menawan kita. Kita dikuasai oleh perasaan heran dan takjub ketika mengetahui bahwa Allah yang memimpin alam semesta yang hebat ini sangat memedulikan kita, seperti kata seorang penyair:

    "Bagaimana mungkin Allah seperti Engkau bersedia memedulikan aku? Pikiranku tak sanggup memahaminya, tapi hatiku sangat gembira akan kebenaran itu."

  4. Allah ada di mana-mana

    Ahli-ahli teologia menyebut-Nya Mahahadir. Daud menulis, "Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku" (Mazmur 139:7-10).

    Pada suatu kali, seorang guru sekolah minggu bertanya kepada murid-murid lelaki di kelasnya, "Ada berapakah Allah itu?"

    Seorang anak menjawab: "Hanya satu."

    "Bagaimana kamu tahu?" tanya gurunya.

    "Sebab tidak ada tempat bagi yang lain," katanya dengan pasti.

    Itu benar. Allah memenuhi dunia ini dengan hadirat-Nya. Tak soal ke mana kita pergi di dalam alam semesta ini, bahkan ke bulan dengan para astronot, Allah ada di sana!

    Namun, sangatlah disayangkan, hari lepas hari orang-orang bergerak di planet bumi yang kecil ini tanpa pernah memikirkan Allah. Mereka tidak menyadari bahwa mereka "terbenam" di dalam Dia dan dikelilingi oleh-Nya.

    Almarhum Helen Keller, sebelum cukup umurnya untuk berbicara, telah kehilangan penglihatan dan pendengarannya. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam dunia yang semata-mata sunyi dan gelap. Pada waktu umurnya sembilan tahun, seorang guru Kristen yang benar-benar mengabdi Tuhan, digaji untuk mendidik Helen. Melalui pengalaman-pengalaman yang sangat susah dan pahit, akhirnya guru ini berangsur-angsur berhasil menembus tirai kesunyian Helen, dan anak itu mulai belajar.

    Guru itu berpendapat Helen seharusnya diberitahu tentang Tuhan. Oleh sebab itu, diundangnya seorang pengkhotbah terkenal bernama Philips Brooks untuk berbicara dengannya. Ketika hamba Tuhan ini menceritakan tentang Allah dan kasih-Nya, melalui sang guru, gadis itu memberi tanggapan yang mengejutkan setiap orang dengan berkata: "Ya, saya sedang mengharap bahwa seseorang akan memberitahu saya perihal Tuhan. Telah lama sekali saya memikirkan-Nya!"

    Inilah seorang gadis yang walaupun buta dan tuli, namun dengan nalurinya dia tahu bahwa ada Allah yang mengasihinya. Namun yang menyedihkan ialah, ribuan orang yang tidak bercacat seperti dia, tetap dungu mengenai Allah.

Tidakkah Anda bersukacita karena melalui Yesus, Anda mengenal Allah sebagai Bapa surgawi Anda? Ya, Allah ada di luar sana, dan kita dapat mengenal Dia dengan cukup baik.

Sekarang, maukah Anda mencoba melaksanakan suatu tugas? Ambillah Alkitab dan mulailah membaca seluruh kitab Mazmur. Catatlah segala sesuatu yang Anda pelajari mengenai Allah dari Raja Daud dan pemazmur-pemazmur lainnya. Anda akan heran bila melihat betapa panjang daftar Anda nanti. Lebih baik sediakan kertas yang banyak.

Diambil dari:

Judul buku : Pedoman bagi Orang Kristen Baru
Judul Artikel : Apakah Allah Ada di Sana?
Penulis : LeRoy "Pat" Patterson
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1986
Halaman : 47 -- 52

e-JEMMi 03/2008

Apakah Okultisme?

Okultisme berasal dari kata "occultus" (Lat) yang artinya tersembunyi, rahasia, gaib, misterius, gelap, atau kegelapan. Dengan demikian, okultisme dapat diartikan sebagai paham yang menganut dan mempraktikkan kuasa dan kekuatan dari dunia kegelapan atau dunia roh-roh jahat. Okultisme secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu tipe lunak (takhayul, ramalan seperti astrologi, palmistri, spiritisme, astromantik, chronomancy, dan geomansi) dan tipe keras (sihir putih dan sihir hitam dalam berbagai bentuk, seperti pelet, gendam, tenung, santet, satanisme, dan tenaga dalam). Melalui okultisme, kemampuan adikodrati dapat dilakukan manusia yang mengandalkan kuasa iblis.

Perjanjian Lama menyatakan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan roh iblis atau kuasa kegelapan dilarang dan dapat dihukum mati (Imamat 19, 26, 31; Yeremia 27:110; Wahyu 21:8). Pada saat itu, larangan tersebut ditaati orang Israel dan diberikan juga kepada orang Kristen. Namun, kepedulian terhadap masalah itu semakin lama semakin luntur, bahkan hampir tidak ada. Buktinya, banyak orang mempraktikkan okultisme dengan kekejaman yang luar biasa, tetapi mereka tidak dihukum karena kegiatan mereka tidak dihiraukan lagi. Masyarakat modern menganggap kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah dibutakan oleh iblis. Berbagai bentuk kegiatan okultisme, seperti ramalan, perbintangan, tenung, santet, pelet, hipnotis, ilmu kebal, dan segala macam ilmu gaib yang disebut ilmu hitam dan ilmu putih, mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Sambutan tersebut disebabkan oleh tayangan melalui media massa yang bebas hambatan sehingga okultisme memasuki setiap bidang kehidupan manusia, mulai dari masalah pribadi, keluarga, keuangan, bisnis, dan bahkan industri modern. Aktivitas okultisme ditemukan di seluruh dunia, baik di negara-negara berkembang yang masih terpengaruh animisme maupun di negara-negara maju, bahkan di negara-negara yang mayoritas penduduknya Kristen.

Bentuk Okultisme yang Biasa Ditemui Di Masyarakat

Takhayul

Takhayul merupakan kepercayaan tidak beralasan yang berasal dari rekayasa iblis dan manusia. Kepercayaan yang bersifat takhayul berlawanan dengan firman Allah. Firman Allah mengharuskan agar kita memercayai Allah, bukan manusia (Yeremia 17:5). Setiap suku bangsa memunyai takhayulnya sendiri. Orang Barat memercayai angka tiga belas adalah angka sial. Mereka juga percaya apabila berpapasan dengan pembersih cerobong asap akan terjadi kejadian yang buruk pada hari itu. Orang Jepang dan Cina menganggap angka empat adalah angka sial karena angka empat dibaca "shi" yang artinya mati. Sebaliknya, mereka menganggap angka delapan merupakan angka mujur. Orang Dayak di Kalimantan tidak berani keluar rumah apabila ada burung yang hinggap dan berbunyi di atas rumahnya. Di samping itu, masih ada takhayul yang juga dipercayai banyak orang. Misalnya, tapal kuda dipercaya dapat membawa keuntungan atau keselamatan apabila dipasang di muka pintu rumah atau di bemper mobil. Periuk yang terguling saat dipakai memasak dipercayai sebagai pertanda kehancuran rumah tangga. Takhayul juga memercayai larangan-larangan tertentu dalam peristiwa- peristiwa penting yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Misalnya, kelahiran, pernikahan, kematian, dan penguburan orang mati.

Ramalan Nasib

  1. Astrologi

    Astrologi merupakan gabungan antara ilmu astronomi dengan ilmu ramal. Astrologi dilihat jutaan orang setiap hari melalui surat kabar, majalah, radio, TV, dan internet. Astrologi tidak hanya dipercaya orang duniawi saja, tetapi juga orang Kristen. Ada dari mereka yang sungguh-sungguh memercayai atau sekadar ingin tahu. Mereka tidak menyadari bahwa perbuatan itu adalah dosa (Ulangan 17:2-5).

  2. Ramalan Melalui Benda-Benda

    Ramalan yang menggunakan kartu daun teh, kopi, lidi (ciumsie), atau hari binatang digunakan untuk mengetahui masa depan seseorang sesuai tulisan, kode, angka, atau simbol yang tertera dalam benda-benda yang dipakai untuk meramal (Imamat 19:26).

  3. Ramalan Menggunakan Telapak Tangan

    Ramalan ini diyakini dapat memberi petunjuk masa depan seseorang sesuai garis tangannya. Sering kali, orang Kristen memercayai ramalan tersebut. Dengan kata lain, mereka tidak percaya sepenuhnya pada Allah yang menetapkan masa depan yang sejahtera (Yeremia 29:11).

  4. Ramalan Astromantik

    Ramalan ini digunakan untuk meramalkan situasi yang terjadi dalam suatu negeri berdasarkan bintang yang kelihatan. Misalnya, munculnya komet (bintang berekor) sering diramalkan akan terjadinya suatu goncangan politik dan pergantian kepemimpinan (Matius 2:5).

  5. Ramalan Tongkat, Pendulum, dan Bola Kristal

    Orang Yunani, Romawi, Skit, dan Jerman sering menggunakan tongkat untuk meramal dan mencari petunjuk dari dewa. Ammanius Marcellus melaporkan bahwa filsuf-filsuf Yunani menggunakan pendulum (bandul) untuk memilih nama Kaisar yang akan memerintah. Orang Gipsy menggunakan bola kristal untuk meramal nasib atau masa depan seseorang.

  6. Chronomancy

    Chronomancy adalah ilmu ramal yang dipakai untuk menentukan hari baik atau buruk. Misalnya, memilih hari untuk pindah rumah, pernikahan, memulai usaha baru. Chronomancy dilakukan orang Jawa.

  7. Geomansi

    Geomansi merupakan ilmu ramal yang berhubungan dengan keberuntungan, kesehatan berdasarkan tata letak bangunan, rumah, dan ruangan. Orang yang tinggal di pesisir Laut Selatan, rumahnya harus menghadap selatan untuk menghormati Nyai Roro Kidul. Orang Toraja membangun rumahnya dari arah utara ke selatan karena mereka percaya roh-roh yang melindungi rumah ada di utara. Sedangkan roh-roh perusak rumah ada di selatan. Orang Tionghoa menyebut geomansi sebagai Hong Shui.

  8. Permainan Jailangkung (Quijc)

    Permainan ini banyak dilakukan remaja-remaja di berbagai negara. Inti permainan ini berkomunikasi dengan roh-roh jahat (spiritisme) untuk menanyakan masa depan, seperti jodoh, nasib, pekerjaan, keuangan, dan sekolah. Mereka tidak menyadari bahwa bertanya kepada roh adalah perbuatan dosa (Imamat 19:31, 20:6).

Jimat dan Perhiasan

Amulet yang artinya pertahanan adalah jimat atau benda perhiasan yang digunakan untuk menangkal kuasa jahat. Dapat berupa benda apa saja, seperti kulit, kuku, taring, tulang binatang, mata uang, batu akik, tapal kuda, kain, rambut, ikat pinggang, dan bunga. Jimat diperoleh dari dukun yang telah dimantrai sesuai permohonan si pemakai, dan diyakini memunyai kekuatan atau pengaruh gaib bagi si pemilik. Tujuan memakai jimat adalah mengusir roh-roh jahat, melindungi pemakainya dari serangan lawan, mengendalikan atau menaklukkan pikiran orang lain, menarik lawan jenis atau memudahkan dapat jodoh, menjaga kedudukan, menutupi kejahatannya supaya tidak diketahui atasan atau aparat keamanan. Orang Kristen tanpa disadari sering menggunakan jimat-jimat seperti di atas. Misalnya, memercayai kayu salib, bintang Daud, Ankh (salib ikal untuk kesuburan). Mereka tidak hanya memakainya sebagai perhiasan, tetapi juga untuk mendapat kekuatan dari benda tersebut.

Benda-Benda Aneh untuk Kekuatan Magis

Beberapa dukun menyimpan benda-benda aneh seperti janin yang gugur. Janin tersebut dikeringkan; kemudian dibuatkan baju, tempat tidur, dan makanan bayi sebagai sesajen pada saat-saat tertentu. Janin tersebut disebut "anak ambar" atau "jenglot" yang dipakai dukun untuk meramal atau mengetahui masa depan anak-anak yang dibawa orang tuanya (Ulangan 7:25-26). Topeng atau kedok dengan berbagai macam ekspresi digunakan untuk menggambarkan karakter iblis. Topeng-topeng tersebut sering dipakai dukun untuk mengundang roh jahat yang diperintahkan untuk mengganggu keluarga yang dibenci. Gangguan tersebut berupa sakit-penyakit atau pertengkaran keluarga.

Magic, Sihir, atau Tenaga Dalam

Kata magic berasal dari kata "mages" (Persia kuno). Mages adalah golongan imam dari agama Zoroaster yang sering melakukan perbuatan ajaib dengan pertolongan jin. Perbuatan ajaib banyak dilakukan di Asia dan terdiri dari bermacam-macam aliran serta tingkatan. Beberapa orang yang sudah memiliki tingkatan tinggi dapat pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang singkat dengan jarak yang sangat jauh. Ada orang yang jiwanya dapat keluar dari tubuhnya dan melayang-layang, sementara tubuh jasmaninya tergeletak tidur. Ada juga yang jiwanya mengambil bentuk binatang, seperti babi, monyet, serigala, harimau, buaya yang berkeliaran untuk mencuri, berzinah, berkelahi, membalas dendam, dan membunuh (Keluaran 21:14). Bentuk lain yang terkenal di Kalimantan adalah "swanggi". Swanggi adalah orang yang dapat memisahkan kepala dan isi perut, sementara dirinya sendiri sedang tidur. Kepala dan isi perut tersebut melayang-layang untuk menyihir orang yang dibencinya. Sesudah selesai menjalankan niat jahatnya, kepalanya menyatu dengan tubuh seperti semula.

Kekebalan Tubuh

Di berbagai negara Asia, khususnya di Indonesia, praktik berpuasa dan bersemedi untuk meningkatkan tenaga dalam agar tidak mempan senjata tajam, biasa ditemui di lingkungan masyarakat yang keras. Hampir setiap laki-laki harus belajar atau memiliki ilmu bela diri untuk diadu di arena pertandingan antardesa. Untuk meningkatkan kemampuan terhadap lawan-lawannya, mereka biasanya memakai mantra-mantra, berpuasa, dan bersemedi agar mampu bersaing dengan lawan yang lebih besar. Mereka bahkan tidak mempan senjata tajam, sanggup berjalan di atas bara api seperti debus (kekebalan tubuh yang sangat terkenal di Banten, Jawa barat). Di Barat, adegan sihir sering dipertontonkan. Dalam adegan itu, ada orang yang dipenggal kepalanya sampai terpisah, kemudian disambung lagi tanpa cedera. Praktik okultisme seperti ini sering membuat penontonnya terheran.

Mengendalikan Pikiran Orang Lain

Mengendalikan pikiran orang lain dapat dilakukan dengan ilmu pelet, pengasihan, sihir, atau hipnotis sehingga pikiran dan kesadaran seseorang dikendalikan iblis atau jimat-jimat yang diberi mantra khusus oleh dukun. Praktik okultisme seperti ini biasanya dilakukan suami terhadap istri, laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya, sekretaris terhadap atasan agar disayangi, dinaikkan gajinya, atau tujuan seks. Pengendalian pikiran yang lain adalah telepati, telekinesis, dan "Extra Sensory Perception" (E.S.P). Dalam telepati, dua orang sanggup melakukan komunikasi jarak jauh tanpa alat karena mereka sama-sama memakai kuasa iblis untuk menguasai dan menyatukan pikiran mereka. Telekinesis, kemampuan seseorang mengatur dan mengendalikan gerakan benda-benda mati; seperti mengatur jatuhnya dadu atau kartu dalam perjudian, mengangkat benda tanpa menyentuh, dan membengkokkan logam.

Sedangkan Praktik E.S.P (mengendalian pikiran orang lain) untuk melakukan tindak kejahatan adalah gendam yang banyak terjadi di tempat umum. Ketika seseorang digendam (biasanya diiming-imingi uang atau benda berharga), roh jahat mulai mengendalikan pikiran orang tersebut. Selanjutnya pikirannya dapat dikendalikan oleh orang yang menggendam. Roh yang ada dalam orang tersebut memberi kekuatan ke dalam pikiran orang tersebut sehingga dia mampu melakukan perbuatan ajaib yang melebihi dari yang dapat dia bayangkan, pikirkan, dan mohonkan. Bandingkan dengan firman Tuhan, "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita." (Efesus 3:20)

Yoga

Yoga berhubungan dengan latihan-latihan pernapasan, posisi tubuh, dan meditasi atau pengosongan pikiran. Ini disebut kundalini, yaitu roh yang digambarkan sebagai roh naga yang bersembunyi dalam tulang belakang. Tujuan pengaturan tubuh dan pernapasan adalah memperbaiki kesehatan. Selanjutnya tingkatan yoga yang lebih tinggi adalah meditasi atau pengosongan pikiran untuk memasukkan roh yang dalam alam semesta melalui pernapasan. Cara tersebut sebenarnya sedang meniru cara Allah menghembuskan napas hidup kepada manusia (Kejadian 2:7).

Necromancy atau Spiritisme

Necromancy atau spiritisme merupakan komunikasi dengan roh-roh jahat melalui mediumik (dukun atau perantara). Mediumik berkomunikasi dengan roh-roh jahat untuk meminta petunjuk, nasihat, kekuatan, keberanian, dan bimbingan dalam mengambil keputusan penting. Ada juga spiritisme primitif. Dalam spiritisme primitif, orang yang bersangkutan mencari sendiri roh-roh jahat yang ada di gunung, pohon, gua, tempat keramat, dan kuburan dengan bersesaji, bersemedi, dan berdoa untuk mengundang roh jahat. Sedangkan spiritisme modern adalah gerakan spiritisme baru yang memiliki organisasi yang rapi, yang bertujuan meminta pertolongan, petunjuk, dan nasihat dari roh dunia. Contoh spiritisme dalam Alkitab dilakukan Saul yang meminta dukun dari Endor agar memanggil roh Samuel (1 Samuel 28:3-25).

Dosa-Dosa Melalui Okultisme

Praktik okultisme dan kegiatannya merupakan kekejian dan sangat dibenci Tuhan karena telah berpaling dari penciptanya dan mengarahkan pandangan pada ajaran setan (Keluaran 20:35). "Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia di tengah-tengah bangsanya" (Imamat 20:6). Ini merupakan dosa karena bersekutu, membuka hari, dan bersedia dikuasai iblis. Dosa akibat terlibat okultisme adalah kejam, brutal, kasar, jahat, sombong, munafik, termasuk pembunuhan, perzinahan, penipuan, perkosaan, perampokan, dan tindak kejahatan lainnya yang merugikan masyarakat. Jumlah mereka semakin hari semakin banyak. "Barang siapa berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat (Wahyu 22:11). Mantra-mantra jahat (ayat-ayat setan) yang diajarkan roh jahat melalui dukun-dukun adalah:

  1. Mantra menyakiti orang melalui media boneka (Cruciates curse).

  2. Mantra untuk berubah wujud dan sifat menjadi hewan (Animagus).

  3. Mantra untuk mengutuk orang lain (Accio).

  4. Mantra tenung atau santet yang membuat korban mati (Adava Kadavra).

  5. Mantra untuk berubah wujud menjadi serigala (Homorphus Charm).

  6. Mantra untuk menggerakkan benda mati atau alat santet (Mobiliarbus).

  7. Mantra untuk menarik lawan jenis yang dikehendaki (Chajati Nasrum).

  8. Mantra untuk memberi kekuatan dan kekebalan fisik (Shahuvala).

  9. Mantra untuk membutakan mata dan membingungkan orang atau gendam.

  10. Mantra untuk menidurkan orang (ilmu sirep) supaya dapat mencuri.

Setiap pembacaan mantra-mantra tersebut merupakan upaya bersekutu dan berkomunikasi dengan iblis sehingga orang yang melakukannya menjadi berdosa.

Perbedaan Okultisme Dan Kuasa Allah

Alkitab mengajarkan agar jangan mudah percaya kepada roh, tetapi ujilah roh-roh itu (1 Yohanes 4:1). Apa saja yang perlu diperhatikan untuk menguji dan membedakan roh? Apakah Roh Allah atau roh jahat? Sebab, kedua-duanya dapat melakukan perbuatan ajaib yang mirip, seperti dikatakan dalam firman Tuhan yang menyatakan bahwa iblis pun dapat menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14).

Dalam Praktik Penyembuhan

* Penyembuhan dari Iblis

Bersandar pada kekuatan si penyembuh, benda, atau jimat yang sudah diberi mantra. Penyembuhan hanya dapat dilakukan pada jam-jam tertentu. Nama dewa-dewa atau roh-roh jahat disebut dalam doa kesembuhan.

* Penyembuhan dari Tuhan

Bersandar pada kuasa Kristus sebagai Tabib dari segala tabib. Penyembuhan dapat terjadi setiap saat Tuhan kehendaki. Hanya nama Yesus yang disebut sebagai Penolong kesembuhan.

Dalam Berbahasa Roh

* Bahasa dari Iblis

Melakukan meditasi/semedi sampai kesurupan (trance), selanjutnya iblis berkata-kata melalui orang tersebut. Tujuan agar roh dapat memberi analisa atau petunjuk tentang permasalahan. Bahasa yang keluar merupakan bahasa manusia atau roh yang dapat dimengerti setiap yang mendengar.

* Bahasa dari Allah

Ketika berdoa, Tuhan ingin menyatakan dan mengaruniakan sesuatu kepada manusia melalui bahasa lidah. Tujuannya agar iman orang tersebut dibangun dan lebih dekat dengan Kristus. Bahasa antara roh manusia dan Roh Allah hanya dimengerti oleh orang yang diberi karunia menafsirkan.

Dalam Memberi Ramalan atau Nubuatan

* Ramalan dari Iblis

Bergantung pada petunjuk benda-benda keramat (bola, tongkat, keris) dan roh yang masuk. Tujuannya agar manusia percaya dan menyembah Iblis.

* Nubuatan dari Tuhan

Bergantung pada penyataan Roh kudus, melalui orang yang bernubuat dalam keadaan sadar sepenuhnya (tidak trance). Tujuannya agar manusia mengerti kehendak Allah dan bersedia menaatinya.

Dalam Memberi Visi

* Visi dari Iblis

Diperoleh saat orang tersebut dalam keadaan trance. Tujuannya supaya manusia melakukan kemauan iblis seperti visi yang dilihatnya.

* Visi dari Tuhan

Diperoleh dalam keadaan terjaga dan sadar sepenuhnya. Bukan upaya manusia, tetapi anugerah Allah supaya manusia mengerti kehendak Kristus dan menaatinya.

Sasaran Utama Okultisme

Anak-Anak yang Masih Labil Jiwanya

Anak-anak sering dijadikan sasaran utama iblis karena dapat melakukan program iblis secara mendasar dan dalam jangka yang panjang. Pikiran, emosi, dan rohani mereka belum stabil dan kuat, sehingga belum dapat membedakan yang baik dan jahat. Mereka mudah diyakinkan melalui tipuan-tipuan dari permainan-permainan, pertunjukan film, buku cerita, dan hal-hal lain yang menarik untuk diikuti. Betapa bangganya mereka dapat melakukan berbagai hal besar melalui okultisme. Namun secara rohani, mereka tidak menyadari bahayanya. Mereka akan tumbuh dewasa dan menjadi generasi penerus serta dapat memengaruhi orang lain untuk terlibat praktik okultisme. Akibatnya tanpa mereka sadari, semakin lama semakin banyak anggota masyarakat menjadi pengikut iblis sejak masih anak- anak. Mereka inilah yang disebut sebagai anak-anak iblis seperti disebutkan dalam Yohanes 8:44, "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab didalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta." Kewajiban orang percaya adalah mendidik anak-anaknya dalam segala segi kehidupan agar mereka hidup berkenan di hadapan Allah.

Orang yang Membuka Dirinya bagi Roh Jahat

Dalam masyarakat yang sudah terbiasa dengan dunia mistik, kuasa iblis merupakan kuasa yang sudah lazim dipergunakan dukun-dukun untuk maksud-maksud tertentu. Misalnya, pengobatan alternatif yang biasa disebut ilmu putih. Masyarakat seperti ini selalu bertapa, bersemedi, atau mengosongkan diri agar diisi roh-roh jahat, memanfaatkan jin-jin, dan bermain dengan kuasa gelap, mulai dari jailangkung, tarian kuda lumping, nini thowok (menari dengan kuasa roh jahat), memasukkan benda atau susuk ke dalam tubuh, ilmu kebal, sampai menggunakan mantra-mantra untuk membunuh (Keluaran 20:4-6).

Orang yang Dikuasai Kebencian dan Kenajisan

Setiap orang, termasuk orang Kristen, yang dikuasai kebencian, kenajisan, kemunafikan, dendam, dan iri hati memunyai kemungkinan terlibat okultisme. Keterlibatan mereka dengan okultisme merupakan upaya untuk melampiaskan kebencian atau balas dendam. Tindakan ini sangat berlawanan dengan hukum kasih yang diajarkan Allah (Matius 22:39).

Orang-Orang Terkenal dalam Masyarakat

Orang-orang terkenal di luar Tuhan, seperti bintang rock, bintang film, ilmuwan, penulis, dan sastrawan dapat dengan mudah memengaruhi orang banyak melalui ketenaran dan karya-karya mereka. Iblis sering mempergunakan mereka sebagai alat propaganda kegiatan okultisme, meditasi, sihir, serta pengajaran-pengajaran setan termasuk penggunaan obat-obat terlarang, perilaku seks bebas. "Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang murtad lalu mengikuti ro-roh penyesat dan ajaran setan-setan" (1 Timotius 4:1).

Pemimpin-Pemimpin Jemaat yang Buta Rohani

Pemimpin Kristen akan mudah memengaruhi jemaatnya melalui ajaran-ajaran yang disampaikan dari belakang mimbar sehingga memengaruhi perilaku jemaat. Iblis berusaha memengaruhi para pemimpin gereja yang buta rohaninya sehingga mudah diisi dengan pikiran yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. "Waspadalah supaya jangan ada yang menyesatkan kamu, sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaKu dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang" (Matius 24:4-5).

Pemimpin-Pemimpin Bangsa

Pemimpin bangsa merupakan sasaran iblis untuk memengaruhi bangsa yang dipimpinnya supaya berperang, menjajah, merusak, menganut paham yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Banyak pemimpin bangsa yang dikuasai dan diberi visi oleh iblis sehingga mengizinkan sebagian rakyatnya untuk membunuh secara massal terhadap umat Allah. Banyak di antara mereka yang menggunakan dan meneriakkan ayat-ayat setan dan mantra-mantra dalam pertempuran, pembunuhan, perkosaan, pembakaran, penganiayaan, dan tindak kejahatan lainnya. "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat" (Amsal 29:18).

Judul buku : How to Overcome Occultism
Penulis : Pdt. Prof. Dr. Ir. Bambang Yudho, M.Sc., M.A., Ph.D.
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2006
Halaman : 6 -- 28

e-JEMMi 31/2009

Apakah Yesus Bangkit dari Kematian?

Yesus disalibkan dan dibangkitkan dari maut pada hari ketiga. Sulit dipercaya? Memang begitulah kenyataannya. Mayat Yesus yang dijaga oleh tentara Romawi dapat berjalan, berbicara, dan makan dengan murid-murid-Nya.

Kejadian ini terjadi dua ribu tahun yang lalu. Walaupun demikian, orang-orang yang hidup pada masa kini masih dapat merasakan hadirat-Nya. Bukankah Anda merasakan hadirat-Nya saat Anda menyembah-Nya?

Apakah yang menjadikan sumber sejarah tentang kegiatan Yesus? Kita dapat melihatnya melalui Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes, surat yang ditulis Paulus, dan sebagainya. Mengapa kita harus percaya kepada mereka dan bukan sumber yang lain?

Alasannya karena mereka tidak memihak kepada salah satu pihak dan tulisan tersebut juga dibuat dengan ketelitian. Kita juga harus memerhatikan karakter penulisnya. Tidak diragukan lagi bahwa kredibilitas para penulis Injil lebih besar daripada penulis sejarah lainnya. Kebanyakan para penulis sejarah dibayar bukan untuk mengangkat kebenaran, tetapi menyanjung atau mengangkat seorang tokoh dan masyarakat mereka.

Sebaliknya, para penulis Injil berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda-beda, tetapi tulisan mereka berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka menghadapi risiko kematian karena apa yang mereka tulis. Rasul Yohanes diasingkan ke pulau Patmos, Rasul Paulus dipenggal di Roma, dan Rasul Petrus disalibkan secara terbalik.

Penulis sejarah yang lain kebanyakan menulis tentang pembunuhan, peperangan, kerajaan, dan sebagainya. Apa yang mereka tulis tersebut mudah dipahami dan diterima oleh akal kita, sedangkan penulis Alkitab menulis sesuatu yang berlawanan dengan pengalaman manusia dan tidak dapat diterima oleh logika kita.

Penulis Alkitab menulis tentang kelahiran Yesus dari seorang perawan tanpa ada hubungan persetubuhan, orang yang sakit kusta disembuhkan, Yesus berjalan di atas air, Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima potong roti dan dua ikan, membangkitkan orang mati, yang diakhiri oleh kebangkitan Yesus dan kenaikan-Nya ke surga. Semua yang ditulis tersebut adalah kejadian yang bersifat mukjizat, di mana orang-orang pada masa kini tidak lagi percaya kepada mukjizat.

Mukjizat yang dinyatakan Yesus terjadi dalam situasi pengecualian yang tidak dapat disangkal. Di dalam kehidupan kita sehari-hari, bukan hanya hal-hal masuk akal yang terjadi, melainkan ada juga hal-hal ajaib yang terjadi. Seorang yang tidak percaya mukjizat bukanlah orang yang realis (berdasarkan kenyataan) karena mukjizat adalah sesuatu yang benar-benar terjadi dalam kehidupan kita.

Yesus adalah sosok yang memiliki kekuatan rohani yang tidak dipunyai orang lain. Tidaklah mengherankan Ia mampu melakukan mukjizat karena Ia adalah Anak Allah. Ia dapat melakukan hal-hal unik yang tidak masuk akal.

Adalah suatu tindakan yang tidak bijaksana jika kita menganggap mukjizat itu tidak ada dan langsung menolaknya tanpa mengaji bukti orang-orang yang dapat dipercaya, seperti yang ditulis oleh para rasul. Jika kita tidak percaya akan kebangkitan Yesus, bukankah lebih dahsyat lagi kalau gereja dapat berkembang dengan pesat tanpa kebangkitan Yesus?

Mari kita mengaji bukti-bukti berikut ini; Yesus tidak menulis satu buku pun ketika Ia hidup di bumi, Ia juga tidak mendirikan suatu gedung gereja. Ia hanya melakukan pemuridan. Semua murid-Nya adalah orang-orang berdosa. Bahkan ada murid yang mengkhianati-Nya dan menyangkali-Nya. Ia mati di atas kayu salib dan ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Ia berteriak, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku."

Setelah kematian-Nya, Ia dikuburkan. Sebuah batu besar digulingkan di depan kubur dan beberapa penjaga ditempatkan untuk menjaga kubur tersebut. Murid-murid-Nya mengunci diri mereka di sebuah ruangan karena mereka takut dihukum mati seperti Yesus. Inilah kisah hidup Yesus yang berakhir di bumi ini. Jika Ia tidak bangkit, bagaimana mungkin gereja dapat berkembang?

Masih ada lagi penjelasan yang lain. Pada hari ketiga, Yesus bangkit dari maut dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Yesus makan bersama-sama dengan mereka dan membiarkan mereka menyentuh-Nya. Kemudian Yesus memberikan bimbingan dan pengajaran kepada mereka. Ia juga mencurahkan kuasa-Nya atas mereka melalui Roh Kudus.

Petrus yang semula takut, berdiri di antara kerumunan orang banyak di Yerusalem dan dengan berani ia bersaksi bahwa ia telah melihat Yesus bangkit dari antara orang mati. Rasul lainnya juga berbuat hal yang sama. Walaupun dengan risiko kematian yang mereka hadapi, mereka mengabarkan Injil dengan berani dari satu negara ke negara lainnya. Dengan cara inilah gereja mula-mula lahir, bertumbuh, dan bertahan di tengah-tengah penganiayaan.

Dasar gereja yang teguh dibangun di atas kebangkitan Yesus. Dasar ini telah terbangun selama dua ribu tahun. Keberadaan gereja adalah bukti bahwa Yesus telah bangkit dari kematian.

Imam dan ahli taurat mengatakan bahwa murid-murid Yesus telah mencuri mayat Yesus. Mereka menyuruh para pengawal untuk menyebarkan berita bohong bahwa ketika mereka tidur, murid-murid Yesus datang untuk mencuri mayatnya. Sekarang, jika mereka tertidur, bagaimana mereka dapat mengetahui bahwa yang mencuri mayat Yesus adalah murid-murid-Nya?

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret-April 2002
Judul artikel : Apakah Yesus Bangkit dari Kematian?
Penulis : Radu Valentin
Halaman : 7

e-JEMMi 12/2008

Asal Usul Zaman Baru

Diringkas Oleh: Novita Yuniarti

Selama berabad-abad, manusia telah berusaha untuk "menguak rahasia alam semesta" dan mempersatukan alam pikiran dengan "Kekuatan Hidup Abadi" atau "Alam Pikiran Semesta" atau "Akal Budi Semesta" melalui ritual-ritual kebatinan. Pada dasarnya, filosofi Zaman Baru merupakan hal yang "kuno" -- suatu pengulangan dari praktik-praktik ilmu kebatinan Hindu atau Buddha yang merupakan perpaduan dari reinkarnasi, hukum karma, ilmu nujum, penyaluran roh, bimbingan roh, hubungan dengan makhluk luar bumi, pemeriksaan diri secara kebatinan, "kuasa penyembuhan" dari piramida dan kristal kuarsa, penyembuhan dengan suara dan warna, terapi sentuhan, makanan kesehatan, vegetarisme, ramu-ramuan, penyembuhan dengan air, pemujaan alam, nudisme, kelahiran kembali, yoga, meditasi transendental, mandi dengan air yang dianggap suci, guru dan syaman, pertemuan yang harmonis, penyembahan berhala atau ilmu sihir, dan bentuk-bentuk spiritualisme lainnya.

Hal yang "baru" adalah keberhasilan gerakan Zaman Baru untuk menanamkan dirinya dalam dunia Barat, mengembangkan diri sejak pertengahan tahun 60-an, dan menjadi perangkap bagi orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat dan hampir dari seluruh kelompok usia. Gerakan Zaman Baru bukanlah suatu organisasi yang terpola. Ia selalu siap berubah bentuk dan wujud. Dengan demikian, dengan mudah ia dapat merangkul berbagai kelompok yang berbeda, seperti Unification Church, Church of Scientology, Religious Science, Unity Church, gereja-gereja spiritualis, Rosikrusian, New Thought, International Society of Khrisna Consciousness, Divine light Mission, The Way, The Forum, Dinamika mental, Sufisme, The White Brotherhood, Freemasons, dan banyak kelompok teosofi.

Kekuatan yang mempersatukan berbagai fenomena yang fleksibel ini adalah kebersamaan mereka dalam pandangan dunia. Para penganut Zaman Baru sepakat bahwa pada saat ini dunia tengah menuju suatu masa transisi. Kita sedang menghadapi kehidupan global atau kematian global. Sejarah membuktikan kegagalan bangsa-bangsa untuk membina keharmonisan dan kedamaian. Kini, terletak di tangan masing-masing individulah untuk melakukannya. Sebelum dapat memilih jalan kehidupan global -- di mana perang dan kelaparan tidak ada lagi dan setiap orang hidup secara harmonis dengan orang lain -- terlebih dahulu orang harus mengalami "kesadaran" melalui "transformasi" batin.

Kunci dari transformasi ini adalah menemukan bahwa "aku tidak menyerupai Allah", tetapi "aku adalah Allah". Begitu orang sudah menemukan "Allah di dalam dirinya" dan memusatkan perhatian padanya, maka orang tersebut memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Selain itu, manusia memunyai suatu takdir semesta, di mana keberadaan Zaman Baru akan diisi oleh makhluk-makhluk super yang telah mengalami proses transformasi batin ini, pribadi yang lebih tinggi (allah di dalam diri mereka) ini telah melebur dengan pribadi yang lebih rendah, dan telah menghayati kesatuan dengan "Terang yang Hidup" atau "Kaidah Ilahi".

Penyusupan Besar-Besaran

Para kritikus menganggap filosofi Zaman Baru mengingkari kerasionalan dan pada dasarnya suatu pelarian dari kenyataan. Meskipun demikian, eselon tinggi dari dunia bisnis, para pialang Wall Street, angkatan bersenjata Amerika, dunia olahraga, alat penegak hukum negara, kaum politikus papan atas, sekolah- sekolah negeri dan swasta -- dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi -- dengan penuh semangat menyerap gagasan-gagasan Zaman Baru dan menjalankan praktik-praktiknya. Bahkan kursus-kursus motivasi manajemen yang didasarkan pada ajaran para pemimpin Zaman Baru telah banyak dipakai di antara perusahaan-perusahaan terkemuka. Tidak sulit mencari bukti-bukti yang menunjukkan bahwa semua aspek kehidupan masyarakat telah dipengaruhi oleh ideologi Zaman Baru.

Robert Elwood menyatakan dalam "Encyclopedia of the American Reliqious Experience", "Sulit untuk menentukan secara pasti, luas, dan arti pengaruh kelompok okultisme modern yang tersebar ini. Tetapi yang jelas, berjuta-juta orang Amerika, baik pada masa lalu maupun sekarang, bahkan yang di pelosok-pelosok desa yang paling terpencil, telah terpengaruh karena membaca tulisan- tulisan kaum Spiritualis, Teosofi, atau Rosikrusian. Banyak di antara masyarakat kita yang mencampuradukkan pengetahuan dan praktik okultisme yang diperolehnya dari bacaan dengan ibadah Minggu di gereja ortodoks."

Dalam suratnya, Judson Cornwall menulis, "Berkali-kali, ia menerima laporan dari para pendeta tentang kesedihan mereka karena telah begitu cepat merangkul seorang baru dan memberi kesempatan pelayanan kepadanya, padahal apa yang dia bawakan adalah ajaran Zaman Baru. Biasanya orang-orang ini muncul sebagai guru sekolah minggu atau penjaga anak-anak balita -- bidang- bidang yang selalu kekurangan tenaga di kebanyakan gereja. Mereka mencemari pikiran anak-anak dan muda-mudi dengan gagasan-gagasan Zaman Baru dengan menggunakan istilah-istilah Kristen. Saya memperingatkan Anda para pendeta, sekaranglah saatnya kita memerlukan karunia membedakan bermacam-macam roh."

Zaman Baru Atau Humanisme Sekuler?

Sebelum melihat bagaimana tepatnya pengaruh Zaman Baru, baik dalam gereja-gereja ortodoks maupun karismatik, ada dua hal yang patut dijelaskan. Pertama, sering kali gerakan Zaman Baru dianggap berkaitan dengan Humanisme Sekuler. Memang ada beberapa kemiripan, namun tidak sama. Para penganut Zaman Baru menganggap dirinya telah maju melampaui ilmu pengetahuan karena mereka menyelidiki fenomena kejiwaan dan kuasa-kuasa gaib secara aktif. Sebaliknya, filosofi humanistis mengandalkan nalar, metode ilmiah, demokrasi, dan belas kasihan. Kesamaan di antara filosofi Zaman Baru dan Humanisme adalah bahwa keduanya bersumber pada Iblis. Jelaslah bahwa Iblis telah berhasil memberikan dua pilihan bagi manusia yang sedang mencari kebenaran dengan pendekatan secara gaib melalui gerakan Zaman Baru dan dengan pendekatan ilmiah murni melalui Humanisme Sekuler.

Allah-Allah yang Aneh

Perhatikan baik-baik, bila penganut Zaman Baru berbicara tentang Allah, Kristus, Yesus, atau Roh Kudus, yang mereka maksudkan bukan Allah Tritunggal menurut Alkitab. "Bos" dari the Universal White Brotherhood, Omraam Mikhael Aivanhov, mengajarkan bahwa matahari adalah makhluk berakal budi, pencipta, dan pemimpin dari segala sesuatu di alam semesta. Cahaya yang memancar dari matahari adalah Roh Kristus karena Kristus tinggal di dalam matahari -- mewujudkan diri-Nya bukan hanya melalui matahari kita, melainkan melalui matahari-matahari lain yang ada di alam semesta, yang tak terhitung banyaknya.

Guru-guru Zaman Baru, Shirley MacLaine, J.Z. Knight, Jach Pursel, mengatakan Allah sebagai bentuk tertinggi dari energi yang ada. Mengenal pribadi kita yang lebih tinggi berarti mengenal Allah. J.Z. Knight mengatakan, "Allah yang sejati adalah hakikat yang terus-menerus ada, yang membiarkan manusia menciptakan dan memainkan ilusinya sendiri sebagaimana yang dikehendakinya dan akan tetap ada ketika manusia kembali, disucikan dalam inkarnasinya, dalam kelahiran dan kehidupan lain." Atau pertimbangkanlah apa yang dipelajari MacLaine dalam percakapannya dengan "pribadinya yang lebih tinggi", "... setiap jiwa adalah allah dari dirinya sendiri. Anda tidak perlu menyembah siapa pun atau apa pun kecuali diri sendiri, karena Anda adalah allah." Pemimpin Zaman Baru, Barbara Marx Hubbard mengatakan bahwa "Kristus" yang berbicara dengannya adalah "suatu mutasi hasil evolusi, yang berasal dari pola genetik Homo Sapiens dengan kemampuan tinggi untuk menyesuaikan diri dengan kekuatan ilahi."

Dari pernyataan tersebut, kita tahu bahwa penggunaan nama Allah atau Yesus Kristus sama sekali tidak membuktikan bahwa orang itu adalah seorang percaya. Agar tidak terkecoh oleh para penyusup ini, ada dua hal yang harus selalu kita ingat. Pertama, bahwa gerakan Zaman Baru memusatkan perhatian pada pengalaman gaib. Kedua, para penganut Zaman Baru tidak menyembah sang Pencipta Mahatinggi yang sama sekali berbeda dan terpisah dari ciptaan-Nya.

Memainkan Peranan "Allah"

Pernahkah Anda memikirkan apa yang dimiliki Adam dan Hawa sebelum Hawa terkecoh oleh dusta besar Iblis? Allah telah memenuhi seluruh kebutuhan mereka secara berkelimpahan. Allah telah memercayakan pemeliharaan taman yang luar biasa indahnya itu kepada mereka. Kedudukan mereka sama seperti raja, semua yang hidup tunduk kepada perintah mereka. Lalu masuklah sang ular. Sambil mendekati Hawa ia berkata, "Engkau dapat menyerupai Allah!" Pikir Hawa, "Hebat juga." Adam setuju. Tetapi keinginan untuk menjadi seperti Allah merupakan keputusan yang fatal bagi seluruh umat manusia. Sampai hari ini Iblis masih menggunakan rayuan yang sama dan hasilnya sangat baik. Mengapa bisa begitu? Karena manusia tidak mau menundukkan dirinya dengan rela kepada Allah, melainkan masih memendam keinginan untuk menjadi setara dengan Allah. Dusta besar di Taman Eden adalah sama dengan dusta besar gerakan Zaman Baru. Sekarang dengan gembar-gembor Zaman Barunya, Iblis menjanjikan bahwa semua orang dapat menjadi Allah. Dan sebagai "Allah" tidak ada suatu apa pun yang tidak dapat mereka lakukan atau dapatkan.

Allah melalui Roh Kudus-Nya tinggal di dalam orang percaya. Namun, ada suatu perbedaan besar, Yesus adalah Allah yang mengambil wujud manusia. Dia adalah Allah yang mengambil tubuh dan wujud manusia, Firman yang Hidup, sesama Pencipta alam semesta. Dan orang percaya adalah manusia biasa, yang didorong dan dimungkinkan oleh Roh Kudus untuk hidup kudus dan melakukan pekerjaan yang untuknya kita dipanggil oleh Allah.

Begitu seorang memeluk kepercayaan "aku adalah allah, sesama pencipta alam semesta", langkahnya yang berikut adalah menciptakan kenyataan bagi diri sendiri yang erat kaitannya dengan konsep hinduisme mengenai reinkarnasi dan karma. Hukum karma menyatakan bahwa apa yang ditabur selama kita hidup -- baik atau buruk -- akan kita tuai dalam kehidupan yang akan datang. Dan untuk mempelajari pelajaran yang belum sempat kita pelajari dalam kehidupan sebelumnya, kita memilih segala sesuatu mengenai kelahiran kembali. Dan segala kejadian yang terjadi sepanjang hidup kita adalah berdasarkan kehendak kita sendiri.

Membuatnya Terjadi

Fenomena kebatinan ditimbulkan oleh kekuatan- kekuatan di luar dunia nyata. Sayang sekali, banyak gereja tidak menyadari bahaya dari pengalaman batin yang diciptakan sendiri -- yang memungkinkan penyesatan diri dan/atau membuka diri terhadap dunia roh. Mungkin, banyak di antaranya yang belum mengetahui risikonya. Kesesatan ini sering terlihat ketika orang bersikeras untuk menunjukkan fenomena rohani dalam bentuk apa pun, contohnya pura-pura "terjatuh di bawah kuasa Roh", atau bertingkah laku sedemikian rupa sehingga menarik perhatian semua orang. Namun itu justru menyiapkan pentas bagi pertunjukan kuasa roh jahat. Jadi, apa yang kelihatan sebagai pekerjaan Roh Kudus dapat merupakan sesuatu yang lain sama sekali. Mungkin ada yang tahu bahwa hal itu bukan dari Allah, tetapi meremehkannya dan menganggap "perbuatan daging". Namun ini bukan hal sepele, apa yang dimulai sebagai perbuatan daging -- yang dibuat sendiri -- akhirnya dapat menjadi perbuatan Iblis. Alasannya adalah "daging" tidak dapat bertindak di luar kehendak. Yesus mengetahui bahaya ini. Oleh karena itulah Dia menekankan, "Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya" (Yohanes 5:19). Mencoba-coba masuk ke dalam dunia roh terlepas dari Roh Kudus dan tanpa tekad yang kuat untuk hanya melakukan kehendak Bapa sekali-kali tidak aman.

Bidang lain di mana orang mudah terperangkap untuk menciptakan kenyataannya sendiri adalah dalam hal membelenggu dan mengusir Iblis. Di banyak kalangan karismatik, hal ini telah nyaris menjadi suatu "liturgi". Banyak orang yang kehidupannya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sanggup melawan kuasa roh, dengan cepat "membelenggu" dan "menghardik" Iblis. Tetapi perang rohani bukanlah permainan anak kecil, perang rohani tidak dapat dimenangkan hanya dengan permainan mental atau kata-kata dengan sang Musuh. Memang Alkitab mengatakan bahwa dengan kuasa Kristus kita dapat melumpuhkan Musuh. Tetapi untuk membelenggu Iblis dibutuhkan lebih dari sekadar ritual pengucapan kata-kata yang diulang-ulang. Kata- kata itu bukan sihir! Alkitab mengatakan, Kristus telah "merendahkan diri-Nya dan sampai mati, bahkan mati di kayu salib". Oleh karena itu, Allah meninggikan Dia dan memberi-Nya otoritas tertinggi. Jadi, bila kita belajar untuk bersabar dan merendahkan diri dengan memikul salib kita bersama Kristus sebagai seorang hamba, dan selalu bertekun dalam ketaatan kepada-Nya, dapatlah kita menerima kuasa dan wewenang-Nya.

Visualisasi Kreatif

Ada dua jenis praktik Zaman Baru yang dilakukan orang Kristen ketika mereka mulai menekuni bidang-bidang baru kuasa rohani. Praktik ini adalah meditasi dan visualisasi kreatif atau khayalan terpimpin. Banyak orang Kristen percaya bahwa visualisasi kreatif adalah suatu teknik yang sangat manjur untuk membuat doa kita terkabul. Cara ini juga dianggap sebagai tambahan yang penting bagi "pengakuan positif" dan "berpikir positif". Para penganut Zaman Baru juga sangat percaya pada kuasa bayangan mental. Guru Zaman Baru, Shakti Gawain mengatakan, "ini merupakan suatu teknik untuk menciptakan apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan -- cinta, kepuasan, kesenangan, kesehatan, kecantikan, kekayaan, kedamaian batin, dan keselarasan ... apa pun yang dirindukan oleh hati Anda ... Anda tidak perlu 'mengimani' kuasa apa pun yang ada di luar diri Anda."

Memang, kemampuan untuk melihat sesuatu di dalam benak adalah suatu karunia Allah. Lagipula, pikiran kita memang memunyai komponen untuk membayangkan sesuatu. Segala rencana yang kita buat selalu didasarkan pada bagaimana kita membayangkan hasilnya. Alkitab akan menjadi sebuah kitab yang tidak berjiwa bila kita tidak mampu menghidupkan kata-kata itu di dalam bayangan kita - - melihat wanita kurus kering yang mengulurkan tangannya untuk menyentuh punca jubah Yesus, membayangkan Petrus berjalan di atas air, menghayati kengerian penderitaan di kayu salib. Ketika Yesus mengajar dengan memakai perumpamaan, Dia sedang mengatakan, "Bayangkan apa yang terjadi ketika seorang penabur keluar untuk menabur benih, atau bila seorang wanita kehilangan kalung dirhamnya yang mahal." Dia bermaksud agar para pendengar-Nya membayangkan diri mereka berada dalam situasi-situasi itu, menanyakan kepada diri mereka sendiri bagaimana mereka akan bereaksi.

Jadi, meditasi dan visualisasi sangat erat hubungannya. Namun kita harus mengerti, meskipun keduanya dapat dijalankan secara alkitabiah, masing-masing atau keduanya juga dapat digunakan untuk mengubah keadaan kesadaran kita. Lebih lanjut, visualisasi kreatif sebagaimana diajarkan oleh Zaman Baru, meliputi menciptakan "suatu bait suci di dalam diri kita yang dapat kita kunjungi setiap saat". Di dalam bait suci yang ada di dalam diri kita ini, kita dapat bertemu dengan roh pembimbing kita kapan saja kita membutuhkan bimbingan, kebijaksanaan, pengetahuan, dukungan, ilham kreatif, cinta kasih, atau teman. Para penganut Zaman Baru sangat memercayai kekuatan bayangan mental untuk mendapatkan kesehatan, kekayaan, dan keberhasilan.

Meditasi

Praktik Zaman Baru telah berkembang di kalangan masyarakat Kristen. Bahkan beberapa gereja menyelenggarakan pelatihan meditasi untuk menghilangkan stres dan ketegangan. Yang lain memodifikasi teknik-teknik meditasi Zaman Baru dan memperkenalkan kursus-kursus "meditasi Kristen". Kitab Mazmur adalah buku pedoman meditasi orang Kristen. Kitab Mazmur dibuka dengan pernyataan berbahagialah orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam, dan diakhiri dengan suatu kidung pujian yang indah. Kita melihat bahwa mantra yang menghipnotis atau mengubah kondisi kesadaran tidak ada hubungannnya sama sekali dengan meditasi Alkitab.

Kesopanan dan Moral

Nudisme (tradisi tidak memakai baju) adalah suatu kebiasaan yang banyak diterima oleh kelompok Zaman Baru. Anehnya, ada bekas penganut Zaman Baru yang menjadi Kristen, yang tetap ikut ambil bagian dalam kegiatan mandi bersama dan sauna telanjang. Mereka beranggapan, mandi uap dengan telanjang bersama dapat membantu mereka untuk lebih terbuka dan saling menyatakan perasaan mereka yang paling dalam. Allah menegaskan bahwa ketelanjangan dan ketidaksopanan di muka umum adalah suatu celaan karena menodai kesucian seksualitas kita.

Musik Zaman Baru

Musik Zaman Baru mendapat tanggapan positif dari banyak orang Kristen. Meski banyak yang mengatakan bahwa sebutan Zaman Baru hanyalah taktik pemasaran untuk meningkatkan penjualan lagu-lagu yang tenang, orang Kristen harus waspada. Musikus Zaman Baru, David Gordon menjelaskan, "Musik Zaman Baru yang sesungguhnya diciptakan dengan tujuan untuk menggugah pusat kesadaran pendengarnya -- suatu cara penting untuk menemukan kembali hakikat tertinggi kita. Inti dari musik Zaman Baru terletak pada kuasa bunyi untuk menggetarkan pusat energi psikis tubuh dan mengubah kesadaran kita." Stephen Halper yang juga seorang musikus Zaman Baru mengatakan, "Banyak seniman rumah rekaman Zaman Baru mengakui adanya unsur "hubungan dengan dunia roh" sebagai sumber inspirasi mereka untuk mencapai keselarasan panjang gelombang dan dimensi berdasarkan kerja sama dan kreativitas bersama bagi terwujudnya suatu simfoni semesta yang berkesinambungan."

Diringkas dari:

Judul buku : Berbagai Tipuan dalam Pelayanan
Penulis : Florence Bulle
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang 1997
Halaman : 251 -- 274

e-JEMMi 45/2009



Aspek-Aspek Komunikasi Lintas Budaya (1)

A. Utamakan yang Terpenting

Ada dua hal penting yang perlu kita pelajari agar berhasil menginjili siapa pun, khususnya kelompok mayoritas. Tanpa kedua hal ini, usaha kita akan sia-sia. Pertama adalah hidup yang kudus, dan yang kedua adalah doa dan kepercayaan yang teguh bahwa Allah masih melakukan mukjizat guna meneguhkan kebenaran Injil.

Hidup yang Kudus

Penginjilan yang berhasil tidak pernah bergantung pada perdebatan yang hebat atau teknik-teknik yang diterapkan secara sempurna. Berpikir dan belajar bagaimana memberitakan Injil secara lebih baik tetap merupakan hal yang penting. Walaupun demikian, betapa pun menariknya kesaksian kita kepada kelompok mayoritas, kesaksian kita ini tidak akan berguna jika hidup kita tidak mencerminkan kepribadian Kristus. Hal itu seperti menghidangkan makan malam yang lezat di piring yang kotor. Saksi Kristus yang tidak hidup kudus mungkin akan lebih banyak merugikan daripada menguntungkan perluasan pemberitaan Injil.

Saya kenal seorang laki-laki yang senang berbicara tentang Yesus dan Injil dengan siapa saja yang mau mendengar. Dia memandang dirinya sendiri sebagai pengkhotbah dan penginjil, namun dia sudah menikah beberapa kali. Baru-baru ini saya melihat dia bersama wanita lain yang bukan istrinya. Orang itu tidak memiliki kesaksian yang baik di lingkungannya; dia dianggap orang munafik. Demikian pula dengan orang yang tidak mau meminjamkan uang kepada orang yang sedang membutuhkan pinjaman. Demikian pula dengan orang yang gampang marah, orang yang tidak membayar hutangnya, atau yang suka berbohong. Hidup orang seperti itu tidak membangkitkan rasa hormat dari orang-orang yang tidak percaya. Bagaimana mereka dapat memercayai Injil dari mulutnya?

Apakah kita harus sempurna dahulu baru kita berhak menginjil? Tentu saja tidak. Yang kita perlukan ialah menjadi semakin serupa dengan Yesus. Kita tidak dapat membenarkan gaya hidup yang terang-terangan melanggar perintah Allah. Sebaliknya, orang yang belum percaya harus melihat adanya kualitas-kualitas yang baik pada pengikut-pengikut Kristus. Orang-orang percaya mungkin tidak menyadari bahwa kualitas-kualitas ini diperhatikan oleh orang lain. Walaupun demikian, Allah sendiri bekerja di dalam diri kita untuk mengubah kita menjadi orang-orang yang lebih baik. Kalau kita mengabaikan dosa yang ditunjukkan Allah dalam hidup kita, kita tidak akan dapat menjadi saksi-Nya yang berguna. Allah telah menciptakan kita sebagai bejana yang kudus (2 Korintus 4:7). Kita telah dikuduskan untuk membawa Injil kepada orang-orang yang belum mendengarnya. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan kalau kita tidak meneladani Yesus. Kita masing-masing harus berusaha mengenal Allah dan hidup dalam kekudusan-Nya. Hal itu harus menjadi tujuan yang paling penting dalam kehidupan kita. Dengan demikian, Dia akan memakai kita.

Berdoa untuk Mukjizat

Penginjilan merupakan bagian dari peperangan rohani yang besar. Sebelum masuk dalam peperangan, tentara-tentara harus memiliki senjata yang tepat dan ampuh. Paulus mendaftarkan senjata yang kita butuhkan dalam Efesus 6. Ketika semua senjata itu sudah siap untuk dipakai dan semua tentara itu sudah siap untuk berperang, Paulus berkata itulah waktunya untuk berdoa. Maksudnya, doa adalah tempat untuk menghadapi musuh. Medan peperangan ada di dalam doa. Kita diberitahu bahwa doa orang yang benar sangat berkuasa dan efektif (Yakobus 5:16). Kebenaran adalah perkara menaati Allah dan hidup dalam kekudusan, maka di dalam doa kita dapat mengatasi perlawanan musuh.

Sebelum kita mulai bersaksi, kita harus berdoa untuk orang yang tersesat, supaya mata mereka tercelik dan hati mereka terbuka. Kita berdoa untuk seluruh keluarga dan tetangga supaya mereka beriman kepada Kristus. Kita berdoa supaya Allah menyadarkan mereka bahwa mereka membutuhkan keselamatan dan hal-hal yang kekal. Kita berdoa melawan kuasa-kuasa kegelapan yang mengikat seluruh kelompok orang itu. Ketika Roh Allah berjalan di depan kita, maka kita pergi memberitakan Injil. Ketika kita berdoa, kita tahu bahwa Roh sedang bekerja. Dia memakai doa kita untuk menghancurkan benteng-benteng kejahatan (2 Korintus 10:4). Usaha kita yang terpenting harus terpusat pada doa.

Orang yang terbeban untuk memberitakan Injil kepada kelompok mayoritas sering bergumul dalam upaya menemukan kunci yang tepat untuk membuka hati orang-orang yang belum percaya. Tetapi dari pengalaman, kita melihat bahwa hal tersebut tidak sesederhana itu. Siapa pun yang pernah berusaha membuka gembok yang sudah karatan tahu bahwa gembok itu tidak mudah dibuka, sekalipun dengan kunci yang tepat. Jika gembok itu sudah lama tidak dibuka, mungkin diperlukan pelumas. Pelumas untuk membuka kunci hati dan pikiran orang-orang adalah minyak roh. Roh Allah bekerja membuka hati mereka ketika kita berdoa dan terus mencoba kunci Injil.

Salah satu doa yang paling dinamis ditemukan dalam Kisah Para Rasul 4:23-31. Saat itu murid-murid diancam karena mengabarkan Injil. Allah telah meneguhkan kebenaran pemberitaan mereka dengan menyembuhkan seorang yang lumpuh. Petrus dan Yohanes memimpin jemaat itu dalam doa supaya Allah menolong mereka, dan supaya mereka tetap berani walaupun ada ancaman dari para pemimpin Yahudi. Lebih jauh lagi, mereka meminta Allah untuk terus mengadakan mukjizat demi menyatakan kebenaran Injil Yesus Kristus. Allah berkali-kali mengabulkan doa itu melalui banyak tanda dan berbagai keajaiban. Dan mereka terus menginjili.

Allah masih melakukan mukjizat sampai saat ini. Tetapi, keajaiban-keajaiban itu bukan hal utama untuk menguatkan kita yang sudah percaya. Memang kita akan menjadi semakin bersemangat ketika melihat Allah bekerja dengan cara yang luar biasa, namun kita memiliki firman Allah dan janji-janji-Nya untuk menguatkan kita. Allah memakai tanda-tanda dan keajaiban, khususnya untuk meneguhkan Injil kepada orang-orang yang akan percaya. Saat ini Allah memberi mimpi dan penglihatan kepada mereka yang mencari Dia. Orang-orang disembuhkan dan dijamah Allah dengan cara-cara yang luar biasa. Kita harus berdoa supaya Allah mengadakan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban untuk meneguhkan kesaksian kita kepada teman-teman dan keluarga kita yang beragama lain. Allah mungkin memakai mukjizat untuk membawa mereka yang Anda kenal kepada Kristus. Karena itu, berdoalah supaya Allah mengadakan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban. Allah ingin menjawab doa yang seperti itu supaya dunia ini dipenuhi oleh pengetahuan akan kemuliaan-Nya (Habakuk 2:14).

Pendekatan yang Alkitabiah

Pendekatan yang alkitabiah untuk menyampaikan Kabar Baik ialah hidup berdampingan dengan orang-orang yang belum mendengarnya, kemudian ceritakan Injil kepadanya. Yesus memakai cara ini di jalan ke Emaus (Lukas 24:13-35). Dia berjalan berdampingan dengan 2 orang yang sedang berbicara tentang arti penyaliban Yesus dan tentang kebangkitan-Nya. Dia ikut berbicara dengan mereka. Dia mengarahkan percakapan mereka pada pesan nabi-nabi di dalam firman Allah. Beberapa waktu kemudian, mereka mengerti apa yang Yesus jelaskan kepada mereka. Begitulah cara Yesus berkomunikasi dari waktu ke waktu. Filipus, melakukan hal yang serupa (Kisah Para Rasul 8:26-40). Allah memanggil dia untuk pergi ke padang gurun dekat Gaza. Ketika sedang berjalan, Filipus mendekati seseorang yang berada di dalam kereta. Maka, Filipus berlari mendekatinya. Orang itu sedang membaca dari kitab Nabi Yesaya dan memunyai beberapa pertanyaan. Dia mengundang Filipus untuk naik ke keretanya. Filipus mengambil kesempatan itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tersebut. Lalu dia mengarahkan percakapan itu kepada Kabar Baik. Seperti Yesus, Filipus secara harfiah telah berjalan berdampingan dengan orang yang diinjili olehnya.

Kita tidak harus berjalan bersama seseorang setiap kali kita memberitakan Injil. Namun secara kiasan, aturan yang sama tetap berlaku. Kita harus berusaha berjalan ke arah yang sama dengan arah orang itu. Kita melakukan hal itu sambil berusaha mengetahui bagaimana dia berpikir. Kita harus memasuki dialog (percakapan dua arah) dengan dia, bukan monolog (percakapan satu arah) atau memberi ceramah. Cobalah untuk mendengarkan mereka terlebih dahulu. Berusahalah untuk mengerti keadaan mereka. Anggaplah diri Anda sendiri sebagai seseorang yang sedang belajar memahami posisi orang lain. Setelah Anda mendengarkan dan mengerti, maka Injil kebenaran Allah akan dapat Anda ungkapkan secara lebih tepat. Di samping itu berjalanlah dengan wajar, jangan tergesa-gesa. Kadang-kadang itu merupakan perjalanan yang panjang. Jarak dari Yerusalem ke Emaus lebih dari 11 kilometer. Bahkan, Yesus pun perlu menempuh setiap langkah dalam perjalanan yang panjang itu untuk meyakinkan kedua orang itu yang sebelumnya sudah pernah mendengar Dia berbicara berhadapan muka dengan mereka. Tujuannya adalah untuk menyampaikan kebenaran Injil kepada teman-teman kita dengan lembut dan perlahan.

Mungkin ilustrasi berikut ini akan memperjelas apa yang dimaksudkan dengan berjalan berdampingan. Bayangkan sebuah kereta kuda yang berlari kencang tanpa kusir ke arah Anda. Apakah Anda akan berusaha menghentikannya langsung dari depan? Jika Anda melakukan hal itu, Anda mungkin akan mendapati diri Anda terbaring di rumah sakit atau lebih buruk lagi daripada itu. Anda akan berhasil jika Anda berlari berdampingan dengan kuda itu dan berusaha menangkap tali kendalinya untuk memperlambat derap kuda itu. Lalu Anda dapat menghentikannya atau membelokkannya ke arah yang benar.

B. Diperlukan Waktu

Proses menceritakan Kabar Baik kepada mereka yang belum pernah mendengarnya memerlukan waktu yang tidak sedikit. Jarang sekali ada orang yang langsung beriman setelah mendengar Injil untuk pertama kali atau untuk kedua kalinya. Lebih jarang lagi ada orang yang langsung beriman setelah mendengar Injil dari orang yang tidak dikenal olehnya. Yesus sendiri menunjukkan bahwa diperlukan waktu untuk berbincang-bincang dengan satu sama lain. Dia meninggalkan surga selama 30 tahun lebih untuk melakukan hal itu. Kedatangan-Nya kepada kita dan kesediaan-Nya meluangkan waktu bersama kita merupakan hal yang penting bagi kita. Dengan demikian, kita dapat lebih mengerti tentang Kerajaan Allah. Hal itu penting bagi keselamatan kita. Orang-orang Kristen perlu mengikuti teladan Yesus; mereka perlu pergi kepada orang-orang yang belum mendengar Injil. Kalau tidak demikian, dengan cara bagaimana orang-orang itu akan mendengar Injil (Roma 10;14-17)? Jarang sekali mereka datang kepada kita. Kitalah yang harus pergi kepada mereka. Memang hal itu merupakan proses yang panjang dan melelahkan. Waspadalah terhadap cara-cara penginjilan yang cepat dan mudah.

Gaya Hidup yang Terbuka

Jadi, berapa banyak waktu yang diperlukan? Apakah cukup kalau kita berkunjung sekali seminggu selama 1 atau 2 jam? Jika waktu kita bersama orang-orang yang belum percaya itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan jika kita menggunakan cara-cara yang kreatif, bukankah itu cukup?

Tentu hal itu sangat baik. Program kunjungan yang dilakukan gereja hampir selalu menghasilkan sesuatu yang baik bagi gereja. Jika pelayanan kita kepada Allah di bidang lainnya dapat ditingkatkan dengan adanya perencanaan dan daya cipta, demikian pula di bidang penginjilan. Walaupun demikian, untuk menjangkau orang-orang yang tersesat, kita harus menyediakan cukup banyak waktu, dan itu akan menuntut seluruh waktu kita. Hal itu dimulai dengan kesediaan untuk melakukan apa saja yang diperlukan untuk membawa orang yang tersesat kepada Kristus. Inilah yang dimaksudkan Paulus ketika dia berkata, "Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka" (1 Korintus 9:22). Penyerahan diri secara menyeluruh seperti itu sulit dilaksanakan kalau kita dibatasi oleh jadwal atau rencana. Jadwal dan rencana memang sangat penting dan berguna, tetapi waktu yang diperlukan untuk menjangkau orang yang tersesat adalah waktu untuk saling berbagi kehidupan.

Sama seperti yang dilakukan Yesus, kita harus berjalan bersama teman-teman kita, makan bersama mereka, bertemu mereka di tempat kerja, bahkan bergadang sambil mengobrol bersama mereka. Kita harus rela berbagi semua aspek kehidupan. Semua waktu kita harus diserahkan ke bawah pengendalian Roh Kudus. Dengan demikian Allah dapat memakai kita untuk menjangkau orang-orang yang tersesat. Itu merupakan gaya hidup pelayanan yang mencakup segalanya.

Teman-teman saya menilai orang berdasarkan apakah dia mudah bergaul/terbuka atau tidak. Mereka menilai orang yang terbuka sebagai teman dan orang yang berharga. Orang-orang yang tidak terbuka dianggap sombong dan tidak ramah. Bila kita memahami hal itu, maka kita memunyai kesempatan untuk memberitakan Injil. Teman-teman kita ingin agar kita bersikap terbuka dan ramah setiap saat. Keramahan seperti ini merupakan alat yang dapat kita gunakan untuk memberitahu mereka tentang kebenaran Allah. Banyak orang Kristen hanya mengenal sedikit sekali orang yang non-Kristen. Jika ada waktu luang, itu sering dipakai untuk kegiatan gereja. Gaya hidup Kristen kita yang padat dengan kesibukan hanya menyisihkan sedikit waktu bagi orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Hubungan kita dengan orang-orang yang tersesat begitu jauh dan tidak ramah. Atau mungkin kita sama sekali tidak memunyai hubungan dengan mereka. Apa yang akan dikatakan Yesus kepada kita tentang hal itu? Yesus adalah orang yang terbuka, yang suka meluangkan waktu dengan orang-orang yang perlu mendengar Kabar Baik. Jika Dia hidup pada zaman sekarang, dan menghadapi apa yang kita hadapi, apakah sikap dan perbuatan-Nya akan berbeda dari kita?

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Sedapat Mungkin
Judul artikel : Aspek-Aspek Komunikasi
Lintas Budaya
Penulis : P. Agusman
Penerbit : Tidak dicantumkan
Halaman : 8 -- 20

e-JEMMi 32/2010



Aspek-Aspek Komunikasi Lintas Budaya (2)

Keputusan yang Tidak Mudah Diambil

Banyak gereja merencanakan kegiatan sepanjang hari pada Hari Kemerdekaan atau pada hari-hari libur lainnya. Oleh karena itu, khususnya pada Hari Kemerdekaan, orang-orang Kristen tidak hadir dalam kegiatan-kegiatan yang penting di tengah-tengah masyarakat. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa bergabung bersama saudara-saudara seiman dan melakukan kegiatan-kegiatan di gereja pada hari libur lebih penting daripada ikut berpartisipasi bersama para tetangga dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh lingkungan setempat. Mereka tidak mau mengecewakan saudara-saudara seimannya di gereja. Akibatnya, orang Kristen dianggap tidak tertarik kepada lingkungan dan tetangganya atau mereka tidak berjiwa nasionalis. Karena hari-hari libur umumnya merupakan waktu untuk menjalin hubungan sosial bersama para tetangga, orang-orang Kristen dianggap tidak tertarik untuk menjalin ikatan ketetanggaan yang akrab. Jadi hilanglah kesempatan untuk menjadi garam!

Orang-orang Kristen banyak yang tidak menghargai pentingnya berpartisipasi dalam lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Maka dari itu mereka dianggap tidak ramah atau bahkan dianggap anti sosial. Teman-teman kita, sebaliknya, memberikan kesan bahwa mereka lebih memerhatikan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya. Kebanyakan kegiatan diawali dengan doa dalam bahasa Arab. Ketidakhadiran orang Kristen hanya meneguhkan pemikiran yang salah bahwa Yesus bukan untuk mereka. Ada juga hari-hari yang digunakan untuk kerja bakti. Kegiatan-kegiatan itu sering jatuh pada hari Minggu pagi. Apakah mereka sengaja membuatnya bertepatan dengan waktu kebaktian gereja? Tidak selalu. Hal itu hanya disebabkan karena hari Minggu adalah satu-satunya hari libur bagi kebanyakan orang Indonesia. Itu merupakan hari bagi sebagian besar orang Indonesia melakukan kegiatan-kegiatan sosial bersama.

Tidakkah lebih baik absen satu kali di gereja sekalipun pada kebaktian Minggu pagi demi menjangkau orang-orang yang tersesat, sesuatu yang diperintahkan dalam firman Allah? Ini mungkin kedengarannya radikal, tetapi mengapa jadwal kebaktian Minggu pagi dan jadwal kegiatan-kegiatan lainnya tidak diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan orang-orang Kristen berpartisipasi dalam kegiatan lingkungannya demi menjangkau orang-orang itu yang tersesat? Yesus sering bertindak berlawanan dengan tradisi agama supaya dapat meluangkan waktu bersama orang-orang yang tersesat (Matius 9:9-13). Memang tidak mudah untuk mengambil keputusan seperti itu. Jika kita ingin berhasil dalam memenuhi panggilan Allah, yaitu menjalin hubungan yang penuh perhatian dengan orang-orang yang masih tersesat, maka kita harus membatasi waktu yang kita pakai untuk melakukan hal-hal lainnya. Kita memang diperintahkan untuk tidak meninggalkan pertemuan dengan orang-orang percaya lainnya (Ibrani 10:25), tetapi kita juga diperintahkan untuk memberitakan Injil kepada dunia. Kita harus melakukan kedua-duanya. Karena itu kita perlu meminta kepada Allah agar Ia memberi tuntunan.

Kasih Berarti Mengatakan "Tidak" Kepada Diri Sendiri

Paulus dengan jelas mengajar kita bahwa kita harus melakukan apa saja yang diperlukan untuk memenangkan orang yang tersesat (1 Korintus 9:22). Jika sebaiknya kita tidak makan daging, maka kita harus rela melakukannya (1 Korintus 8:9-13). Kasihlah yang menjadi alasannya (1 Korintus 13). Karena Paulus merujuk pada daging, marilah kita berbicara tentang daging babi/anjing. Makan daging babi/anjing sangat menjijikkan bagi orang lain. Daging babi/anjing dianggap makanan haram. Anjing sebagai binatang peliharaan tidak dapat disetujui oleh sebagian tetangga yang beragama lain, walau sebagian lainnya tidak keberatan. Tidak ada dari mereka yang mau dijilat oleh anjing. Orang Kristen yang hendak menjalin hubungan dengan mereka harus memerhatikan masalah itu. Jika Paulus mengatakan bahwa lebih baik tidak makan daging sama sekali daripada menimbulkan pertentangan, tidakkah kita seharusnya mempertimbangkan untuk tidak makan daging babi dan tidak memelihara anjing? Jika hal itu terlalu memberatkan Anda, bagaimana kalau Anda tidak makan daging babi bila sedang berada dekat teman-teman Anda, dan menyembunyikan anjing Anda di suatu tempat sehingga mereka tidak merasa jijik?

Beberapa tahun yang lalu, sebuah kelompok jemaat melakukan pendekatan terhadap satu kelompok pemuda dari kelompok etnis lain. Orang-orang ini cukup terbuka kepada Injil sebagai hasil kesaksian seorang pendeta awam yang berasal dari kelompok etnis yang sama. Gereja itu merencanakan suatu kegiatan pada hari libur dan mereka mengundang kelompok pemuda ini. Kaum wanita di gereja itu telah mempersiapkan makanan. Segala sesuatu berjalan dengan baik sampai mereka duduk untuk makan. Pada saat itulah mereka mengetahui bahwa daging yang dipersiapkan untuk mereka adalah daging babi. Mereka tidak memakannya. Sejak itu mereka tidak pernah lagi berhubungan dengan gereja itu. Hilanglah segala kesempatan untuk bersaksi lebih jauh lagi. Ada satu gereja di daerah kami yang ditutup oleh pemerintah karena keluhan dari tetangga-tetangganya. Saya tahu, ada gereja-gereja yang ditutup atau tidak diberi izin walaupun tidak melakukan apa-apa yang menyinggung tetangga-tetangga mereka. Tetapi dalam perkara ini gereja tersebut telah memanggang daging babi di luar gedung gereja mereka. Reaksi para tetangga menunjukkan betapa hal itu menimbulkan syak di hati mereka. Tidakkah lebih baik bagi gereja tersebut untuk tidak melakukan kegiatan itu? Karena kesalahan itu, tidak ada lagi gereja di daerah tersebut.

Mungkin orang-orang Kristen akan bertanya, "Apakah kita tidak berhak makan daging babi di gedung milik gereja kita jika kita mau?" Tentu saja kita berhak. Tetapi hukum kasih lebih tinggi daripada hak kita. Yesus, sebagai contoh, memiliki hak yang tinggi, tetapi Dia tidak mempertahankannya (Filipi 2:6). Kasih mendorong Yesus untuk tidak memakai hak itu. Ia bertindak demikian demi kita. Kita pun harus melakukan hal yang sama demi memenangkan teman-teman kita. Penyesuaian lain yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana kita berpakaian, khususnya wanita. Saya tidak menganjurkan wanita Kristen memakai penutup kepala walaupun di beberapa tempat di Indonesia ada yang memakainya. Tetapi wanita-wanita Kristen hendaknya tidak memakai rok mini, baju ketat, atau pakaian-pakaian lain yang tidak sopan. Bagi tetangga-tetangga kita, hal itu seperti mengiklankan kerendahan moral kita. Dapatkah Anda membayangkan apa yang mereka pikirkan ketika melihat wanita yang memakai rok mini pergi ke kebaktian Kristen? Mereka berpikir bahwa orang Kristen tidak memerhatikan moral. Mode telah menjadi lebih penting daripada pendapat umum. Jika kita memberi kesan yang tidak pantas melalui pakaian kita, bagaimana mungkin kita dapat berbicara kepada mereka tentang Allah yang kudus?

Hal lain yang layak dipertanyakan apakah laki-laki perlu memakai dasi ke gereja? Mengapa orang yang memimpin kebaktian harus memakai dasi dan jas? Mengapa laki-laki diharapkan memakai pakaian barat ke gereja? Khususnya pendeta! Di banyak gereja, memakai kemeja batik dapat diterima. Bagaimana kalau laki-laki memakai sarung dan peci? Di banyak tempat, sarung dan peci adalah pakaian Indonesia. Hal-hal seperti itu memerlukan kebijaksanaan. Seorang Kristen memakai sarung dan peci pada hari-hari khusus seperti Idul Fitri. Teman-teman menganggap perbuatan itu sangat menghormati mereka. Di daerah lain, seorang Indonesia, apalagi orang barat, yang dikenal sebagai orang Kristen mungkin sama sekali dilarang memakai peci. Karena itu, kenalilah para tetangga Anda dan temukan sendiri apa yang dapat diterima oleh mereka. Isu-isu yang berhubungan dengan apa yang halal dan apa yang haram juga berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain. Sulit untuk memberi penuntun yang jelas. Setiap orang percaya harus bersikap hati-hati. Hindarilah kesan-kesan negatif. Perhatikan tetangga-tetangga Anda untuk mengetahui apa yang mereka lakukan dan mengapa. Kita harus aktif berbicara kepada mereka untuk mengetahui bagaimana gaya hidup kita memengaruhi mereka.

Menghindari Pertentangan

Bukan rahasia lagi, kekristenan dan Islam sudah sejak dahulu bertentangan. Orang-orang Islam dan orang-orang Kristen saling menyerang, saling menganiaya, dan saling membunuh. Tidak ada gunanya di sini untuk menentukan pihak mana yang lebih banyak menyerang, atau pihak mana yang orang-orangnya paling banyak mati syahid. Yang nyata pertentangan itu terus berkepanjangan dan sulit diatasi. Hal itu terasa ketika kita menyadari bahwa mereka perlu mendengar Injil. Saya hendak memaparkan dua hal lainnya yang harus dihindari.

Pertama, hindarilah perkataan yang menentang nabi mereka. Kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Manusia sempurna yang pernah hidup. Al-Qur'an sendiri meneguhkan bahwa Yesus tidak pernah berdosa (QS 19:19). Nabi mereka adalah manusia biasa. Al-Qur'an memberi kesan bahwa dia berdosa (QS 47:19). Hal ini sesuai dengan kebenaran Alkitab bahwa tidak ada seorang pun kecuali Yesus yang tidak berdosa (Ibrani 4:15 dan Roma 3:23). Walaupun demikian, sedikit sekali manfaatnya bila kita meninggikan Kristus tetapi merendahkan nabi mereka. Kehidupan Kristus tidak bercela. Dia akan dimuliakan sekarang dan selamanya. Akan lebih bermanfaat kalau kita menunjukkan hormat kepada pendiri agama itu. Bukankah orang-orang Kristen tidak berharap akan diserang oleh kelompok mayoritas? Kita pun hendaknya tidak menyerang mereka.

Kritik terhadap nabi lain biasanya menimbulkan kemarahan. Kalau seseorang menjadi marah, maka mereka tidak dapat berpikir jernih. Mereka tidak akan bersikap terbuka terhadap cara baru untuk mempertimbangkan pendapat-pendapat. Apakah benar bila kita mengakui nabi mereka sebagai nabi bagi suku-suku Arab? Dia diutus untuk menyampaikan pesan. Dia memanggil mereka dari kekafiran untuk percaya kepada Allah Pencipta. Dia berusaha membela hak orang yang miskin dan tertindas. Dia juga mengerti banyak mengenai Mesias. Pada kenyataannya, dia menyebut Isa Almasih, yaitu Yesus Kristus, sebagai yang paling ditinggikan di dunia ini dan yang akan datang (QS 3:45). Saya menganggap itu sebagai peranan seorang nabi. Mengingat hal itu, orang Kristen seharusnya tidak merendahkan nabi itu. Isi Al-Qur'an itu sendiri sering dipakai oleh Allah untuk mengarahkan orang-orang agar mereka percaya kepada Kristus. Karena itu, kita juga boleh menyebut nabi mereka sebagai nabi yang dipakai Allah.

Kedua, Al-Qur'an adalah buku yang dikritik oleh orang-orang Kristen. Orang Kristen tidak menganggap Al-Qur'an diwahyukan Allah. Sekali lagi, sama seperti halnya menyerang nabi mereka bukan merupakan hal yang produktif, demikian pula tidak efektif bila kita menyerang Al-Qur'an. Entah mereka membaca Al-Qur'an atau tidak, tetapi mereka bergantung kepadanya secara emosional sebagai bagian hakiki dari imannya. Usaha-usaha orang Kristen untuk mengubah pandangan mereka mengenai Al-Qur'an hanya akan lebih mengobarkan peperangan yang sudah sejak lama terjadi. Lebih berguna kalau kita memakai titik-titik persamaan antara Alkitab dan Al-Qur'an sebagai jembatan bagi mereka. Paulus "gusar" ketika menyadari adanya praktik-praktik dan kepercayaan yang salah di Athena (Kisah Para Rasul 17:16). Namun dia memakai prasasti dari salah satu altar kafir itu untuk memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 17:23). Demikian pula, kalau kita mengarahkan mereka pada kesamaan-kesamaan Al-Qur'an dan Alkitab, itu bukan berarti kita sepenuhnya menerima Al-Qur'an sebagai firman Allah. Titik-titik persamaan itu dapat menekankan kebenaran Allah yang tertera di dalam Alkitab.

Hiasan-Hiasan Kristen

Masalah lain yang harus dihindari berhubungan dengan apa yang sangat disayangi oleh setiap orang Kristen: salib Kristus. Salib merupakan batu sandungan bagi teman-teman kita, walaupun itu merupakan lambang keselamatan bagi orang Kristen (1 Korintus 1:23-24). Sayang sekali, bagi mereka, salib telah menjadi simbol orang kafir sejak zaman Perang Salib. Tentara-tentara Kristen dalam Perang Salib menghiasi perisai mereka dengan salib sementara mereka membantai desa-desa Islam. Kalau orang-orang Kristen memakai kalung salib atau menggantungkan salib di dinding rumah mereka, secara otomatis mereka menyebabkan banyak dari mereka merasa syak. Di sinilah kita harus hati-hati. Kenyataan tentang salib, yaitu bahwa Yesus telah datang ke dunia dan mati, akan selalu sulit untuk diterima oleh orang-orang yang belum percaya. Itu merupakan batu sandungan. Tetapi itu merupakan inti Injil dan tidak boleh dipudarkan dengan cara apa pun. Sayang sekali, lambang salib telah dimuati dengan kesan-kesan negatif dan dipandang sebagai bagian dari kebudayaan Kristen Barat yang mereka tolak. Sering kali [hiasan salib] menjadi penghalang komunikasi antara orang Islam dan orang Kristen. Kenyataan bahwa Yesus sudah mati di kayu salib itulah yang harus kita pegang erat-erat, bukan kalung salib atau hak untuk menghiasi rumah kita dengan cara yang menyenangkan diri kita sendiri.

Jika kalung salib atau penjepit dasi berbentuk salib yang kita pakai menghalangi kita untuk didekati oleh tetangga kita, kita seharusnya tidak memakainya. Jika salib yang tergantung di dinding rumah kita menghalangi mereka mengunjungi rumah kita, kita harus memindahkannya. Pasti ada cara lain yang lebih tepat untuk menyatakan diri sebagai pengikut Kristus daripada dengan menunjukkan salib. Misalnya, cara yang lebih baik untuk menunjukkan bahwa Anda pengikut Yesus adalah dengan mengasihi tetangga kita. Jika lambang salib membuat syak teman-teman kita, jika hal itu menutup kesempatan bagi mereka untuk mendengar Injil, maka kita perlu membuat perubahan. Hal lain yang mungkin juga tidak berkenan ialah gambar tangan yang sedang berdoa, Yesus yang rambut-Nya pirang dan yang mata-Nya biru, yang sedang membawa anak domba; gambar-gambar Kristen Barat tradisional lainnya juga mungkin menimbulkan akibat yang sama. Haruskah kita malu menjadi orang Kristen? Tentu saja tidak. Namun kita harus ingat bahwa hiasan-hiasan Kristen di rumah kita dapat menjadi penghalang bagi teman-teman kita.

Sebutan

Kita harus hidup dengan memerhatikan masalah-masalah itu. Kita harus terus bertumbuh menjadi semakin peka terhadap tetangga-tetangga kita. Seorang yang tersinggung tidak akan mendengarkan kita. Bahkan istilah "Kristen" sudah mengandung arti negatif sehingga sering tidak produktif bagi kita untuk menyebut diri "orang Kristen" kepada mereka. Orang-orang percaya mula-mula disebut sebagai pengikut-pengikut Kristus atau pengikut Jalan Tuhan (Kisah Para Rasul 9:2). Kata "Kristen" ditemukan tiga kali di dalam Alkitab (Kisah Para Rasul 11:26; 26:28 dan 1 Petrus 4:16). Istilah itu semula dianggap sebagai penghinaan, tetapi istilah itu sekarang sudah menjadi lambang kehormatan bagi orang-orang yang menerima Kristus sebagai Tuhan. Namun, sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, istilah itu mengingatkan mereka akan kekejaman tentara Kristen dalam Perang Salib -- peperangan antara denominasi gereja, atau boleh dikatakan antara partai politik barat.

Kalau ditanya, penulis lebih suka memperkenalkan diri sebagai "pengikut Isa Almasih". Sebutan itu biasanya akan menimbulkan beberapa pertanyaan yang dapat menjadi titik tolak pembicaraan tentang Kabar Baik. Hal itu dinilai positif sebab Isa adalah nama Islam untuk Yesus. Pada suatu kesempatan, ketika ditanya apa artinya menjadi pengikut Isa, saya dapat memberitakan seluruh Injil kepada mereka. Sebutan lain yang positif adalah "Nasrani". Ini juga merupakan istilah yang artinya orang Kristen. Istilah itu dapat ditemukan di dalam Al-Qur'an.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Sedapat Mungkin
Judul artikel : Aspek-Aspek Komunikasi Lintas Budaya
Penulis : P. Agusman
Penerbit : Tidak dicantumkan
Halaman : 20 -- 45

e-JEMMi 33/2010



Bagaimana Gereja Anda Menjadi Gereja yang Misioner

(Menyadari Kebutaan Rohani Dunia)

Banyak orang yang merindukan gereja mereka dapat menjadi gereja misioner, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mencapai sasaran ini. Itu sebabnya mereka tidak melibatkan diri dalam misi sedunia.

Murid Tuhan Yesus pada zaman PB tidak berbeda jauh dengan kebanyakan orang Kristen masa kini. Oleh sebab itu, Tuhan mengajar mereka pada waktu mereka bersama-sama di daerah Samaria, yang berbeda dengan orang Yahudi walaupun masih ada persamaan. Dalam Yohanes 4:35, "Bukan kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai."

Hal ini juga terjadi dengan kebanyakan orang Kristen pada masa sekarang, di mana mereka berpikir belum ada waktu untuk memberitakan Injil. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka: Sekaranglah waktunya untuk "menuai", di mana orang Samaria dapat mengenal-Nya sebagai Juru Selamat. Percaya kepada Yesus Kristus adalah kebutuhan orang Samaria yang mendesak. Murid-murid perlu disadarkan tentang kebutuhan rohani suku yang lain. Mereka perlu mengenal Yesus Kristus sebagai Juru Selamat sesegera mungkin.

Louis Palau, seorang penginjil yang dipakai luar biasa oleh Tuhan di seluruh dunia, pernah memberi kesaksian bahwa dia juga belajar tentang kebutuhan rohani dunia ini: "Tuhan Yesus dan Keith mengajar saya tentang visi. Tuhan Yesus memiliki visi yang luas ..., saya tidak memiliki visi tersebut. Walaupun saya dibesarkan di sebuah gereja yang bagus, namun kami berpusat kepada diri kami sendiri. Kemudian seorang misionaris muncul, namanya Keith. Di luar dugaan saya, suatu hari Keith berkata, `Louis, tiap hari Rabu sehabis kerja (saya kerja di sebuah bank), mari mampir ke tempat saya dan kita bisa berdoa bersama.` Rabu pertama kami berlutut dan Keith mulai mendoakan saya. Rabu berikutnya pada waktu kami berkumpul, ia mendoakan seluruh kota Cordoba, kota kedua di Argentina."

"Pada Rabu berikutnya lagi kami berkumpul, ia membawa peta sebuah provinsi Cordoba. Ia bertanya, `Louis berapa jumlah kota dan desa di provinsi Cordoba ...? Sembilan ratus lebih sedikit. Sekarang mari kita mendoakan tempat-tempat tersebut. Tahukah Louis berapa dari antara kesembilan ratus tempat ini yang memunyai gereja Injili? Hanya sembilan puluh di antara sembilan ratus`. Keith sudah menelitinya, kami berlutut dan ia mulai berdoa dari utara sampai ke selatan provinsi tersebut. Ia mendoakan setiap kota yang memunyai gereja Injili. Dan apabila ia mengenal pendeta atau misionaris di tempat tertentu, maka ia mendoakan mereka."

"Hari Rabu minggu berikutnya, ia membawa peta negara Argentina. Kami mulai berdoa dari selatan sampai ke utara, provinsi demi provinsi, dan ia telah hafal semua statistik. Hati saya mulai membesar terbang bagai naik pesawat ke seluruh negeri sambil mendoakannya."

"Seminggu kemudian, ia datang lagi dengan sebuah peta benua Amerika Utara dan Selatan. Dia mengenal misionaris di mana-mana. Dan ia mulai berdoa untuk Argentina, Uruguay, Paraguay. Semua itu didoakannya tidak dengan doa pendek yang sepintas kilas dan terburu-buru, tetapi didoakannya dengan sungguh-sungguh, dan oleh karenanya, hati saya mulai terbuka. Untuk minggu berkutnya, ia datang dengan peta Eropa. Pada akhirnya, setelah beberapa minggu, ia datang lagi dengan membawa peta dunia. Keith mengajar saya tentang visi."

Diambil dari:

Judul buletin : Terang Lintas Budaya, Edisi 41, Tahun 2000
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Terang Lintas Budaya, Malang 2000
Halaman : 2

e-JEMMi 33/2008

Bagaimana Kita Menggunakan Peranan Alkitab dalam Doa?

Peran Firman Tuhan dalam Doa

  1. Untuk menyatakan kehendak Tuhan sebagai dasar dari doa (1 Yohanes 5:14). Apapun yang kita minta pastikan hal itu sesuai dengan kehendak Allah dan untuk tahu kehendak Allah kita harus pastikan bahwa kita membaca Firman Tuhan.

  2. Untuk melatih kita bagaimana berdoa yang benar: doa kepada Bapa dalam nama Yesus (Lukas 11:2).

  3. Untuk melatih kita bagaimana doa yang tidak benar: doa yang seperti orang munafik dan doa yang bertele-tele seperti orang yang tidak mengenal Allah (Matius 6:5,7).

  4. Untuk melatih apa yang harus dikatakan: Doa Bapa Kami. (Matius 6:9-13).

  5. Untuk memberikan pada kita janji Tuhan sehingga kita dapat memintanya dalam doa. Roh Kudus jaminannya (Efesus 1:14).

  6. Untuk menunjukkan pada kita kondisi untuk doa yang efektif. (Markus 11:25).

  7. Untuk memberikan pada kita beberapa contoh dari doa, salah satunya doa Yesus kepada Bapa-Nya (doa untuk orang lain) (Yohanes 17:1-26).

  8. Untuk memberikan pada kita contoh-contoh dari jawaban doa: Lazarus dibangkitkan dari kematian (Yohanes 11:41-44).

Penggunaan Firman Tuhan dalam Doa

  1. Sebagai senjata rohani kita (Efesus 6:17).

  2. Untuk menyucikan kita secara rohani dengan air dan Firman. (Efesus 5:26).

  3. Untuk menjaga hati kita tetap dalam kebenaran untuk doa yang efektif (2 Timotius 3:16-17).

Contoh-Contoh Penggunaan Firman Tuhan dalam Doa

  1. Untuk meneguhkan doa-doa dengan Firman Tuhan untuk pelayanan kerasulan (Kisah Para Rasul 4:23-26).

  2. Untuk mengucapkan Janji Firman Tuhan untuk orang yang mengasihi Tuhan (Ibrani 13:5-6).

Pada saat berdoa, Roh Kudus akan mengingatkan kita tentang ayat-ayat yang bersangkut-paut dengan kebutuhan doa seperti Roh Kudus mengingatkan semua yang Yesus sudah ajarkan (Yohanes 14:26).

Berdoa menurut janji dan mengeluarkan kondisi yang ada dalam Firman Tuhan berarti jangan mengharapkan sesuatu yang tidak Tuhan janjikan dan tangkap pengertian yang benar dari isi Firman Tuhan, pakai prinsip-prinsip kebenaran yang ada di dalamnya.

Terakhir, kita perlu berhati-hati untuk tidak mengulangi doa menurut Alkitab tanpa mengerti dulu apa pengertiannya/maknanya. Jangan asal berdoa tanpa mengerti isi kebenaran firman Tuhannya.

Diambil dari:

Judul buletin : Empowering, Mei-Juni 2001
Penulis : Dany LAPL
Penerbit : GKPB Masa Depan Cerah, Surabaya
Halaman : 10

e-JEMMi 15/2010



Bagaimana Melatih Para Pekerja Awam

Latihan untuk pekerja awam harus bertumpu pada doa. Pekerjaan ini haruslah merupakan pekerjaan rohani dengan Tuhan yang empunya tuaian sebagai Pemimpinnya.

Kalau Allah yang memimpin, berlaku suatu kemerdekaan yang kudus. Tidak ada yang membosankan. Kehadiran-Nya membawa kepenuhan sukacita. Di bawah pimpinan-Nya, laki-laki dan perempuan yang semula tidak diketahui bakatnya, berkembang menjadi saksi-saksi Injil, utusan Injil, pendeta, dan guru.

Oleh karena itu, setiap orang harus memunyai dasar berdoa yang kuat. " ... mintalah kepada Tuhan yang empunya tuaian agar mengirimkan lebih banyak pekerja" (Lukas 10:2). Setiap orang harus mengajak orang lain untuk berdoa bersama. Sementara Allah memimpin, mereka mempersiapkan diri untuk mengambil langkah iman yang pertama, maka kursus latihan yang pertama diumumkan.

Mereka harus berusaha agar semua orang percaya di daerah itu mengetahui proyek ini, mengerti tujuannya, dan apa saja yang dapat dicapai. Untuk mendapatkan kerja sama sepenuhnya dari semua pihak, penting bahwa sekolah itu merupakan suatu usaha proyek kerja sama para utusan Injil dan pimpinan setempat.

Sejak mula-mula perlu dipilih sebuah tempat pertemuan yang sesuai. Jika ada sebuah gedung gereja setempat, tentu tempat ini dapat dipakai atau mungkin sebuah rumah atau gudang kosong. Jika cuaca mengizinkan, beberapa kelas dapat diadakan di bawah pohon-pohon yang rindang.

Administrasi sekolah dapat dikerjakan secara sederhana atau pun secara rumit tergantung dari keadaan. Susunan staf yang disebut di bawah ini sangat penting, walaupun seorang dapat merangkap dua atau lebih jabatan, jika sekolah itu kecil.

  1. Seorang direktur yang menjalankan sekolah itu membagikan tugas-tugas kepada para pekerja dan mengawasi pelaksanaan tugas itu.

  2. Seorang kepala sekolah yang membantu dalam perencanaan mengunjungi kelas-kelas, membantu para guru dan siswa.

  3. Seorang panitera yang bertugas mencatat secara tepat setiap kemajuan siswa sampai ia lulus.

  4. Seorang pustakawan yang mencatat buku-buku yang dipinjamkan, membagi buku-buku kepada para siswa untuk bacaan mereka pada masa tenggang waktu antara dua kursus, mencatat pula kemajuan para siswa dalam hal membaca Alkitab harian.

  5. Guru-guru yang khusus mengajar di kelas, tapi mereka harus juga bersedia memberikan bimbingan dan penyuluhan di waktu-waktu lain.

Sekolah yang melatih pekerja awam ini harus mengatur waktu kursus, mata pelajaran yang diajarkan, dan menyediakan ruang kelas. Bahan pelajaran yang diajarkan di sekolah harus dapat membimbing siswa ke arah pola pengembangan yang logis. Kursus-kursus harus disesuaikan dengan pelaksanaan tanggung jawab siswa-siswanya. Di daerah pedesaan, kursus selama satu minggu dapat diadakan pada waktu tidak ada kegiatan bertani. Untuk di kota, kursus-kursus yang diadakan pada waktu malam atau akhir minggu akan lebih praktis.

Sekolah harus disesuaikan dengan perluasan wilayah. Sekolah harus menambah ruangan untuk belajar dengan pelayanan Kristen yang praktis. Kerja praktis mencakup: kunjungan ke tempat-tempat lain, pengabaran Injil di tempat terbuka, membagi-bagikan traktat, memperdengarkan rekaman mengenai Injil dan kesaksian, mensponsori pertemuan-pertemuan doa, menggembalakan jemaat, mengajar Sekolah Minggu, kesaksian pribadi, dan kegiatan pemuda. Para siswa mengerjakan semua ini pada waktu mereka tidak bersekolah. Pada waktu mengikuti kursus, kesempatan harus diberikan kepada mereka untuk memberikan laporan mengenai pengalaman mereka dalam pelayanan Kristen. Hal ini akan menolong mereka merasakan pentingnya pelayanan mereka bagi Kristus. Mendengar kisah bekerjanya Roh Kudus yang dialami mereka masing-masing akan mengilhami mereka untuk lebih giat bersaksi. Setiap siswa harus belajar menurut tingkatannya. Hal ini tentu menuntut adanya pembagian kelas agar tidak ada hambatan bagi yang sudah maju dan menghindarkan rasa dikejar-kejar bagi yang lambat. Kami telah melihat adanya kemajuan dalam hal kemampuan pada siswa-siswa yang mula-mula kelihatan terbelakang. Kehadiran yang teratur diselingi dengan pekerjaan pelayanan Kristen yang praktis menimbulkan gairah untuk belajar. Para siswa memiliki kesempatan untuk menguji apa yang telah mereka pelajari dan mencatat bidang-bidang di mana mereka memerlukan lebih banyak pengetahuan.

Kredit-kredit yang telah diperoleh para siswa di kelas harus dicatat. Di samping itu juga, penting untuk menilai mereka dalam tugas pelayanan mereka. Selain untuk mendorong mereka agar lebih giat belajar, ijazah perlu diberikan sebagai tanda akhir pendidikan. Dua tahun adalah waktu yang cukup singkat untuk mendidik mereka. Mereka akan berusaha mencapai hasil yang lebih baik, bila mereka diberikan tanda penghargaan. Menurut pengalaman kami, waktu latihan selama dua tahun dengan penghargaan yang sewajarnya atas keberhasilan mereka adalah waktu yang cukup untuk melatih

orang-orang yang taraf hidupnya masih sederhana. Ada satu aspek praktis lainnya: berhubung siswa-siswa kami adalah para pekerja yang selalu berhubungan dengan orang-orang lain, maka ijazah akan menambah kepercayaan mereka dalam menghadapi orang-orang itu.

Di daerah di mana banyak orang masih buta huruf, siswa-siswa perlu dipersiapkan dulu agar mereka dapat membaca. Jika hal ini tidak dapat dilakukan secara terpisah dari sekolah latihan, maka perlu diadakan dulu kursus pemberantasan buta huruf selama 1 tahun tanpa diberikan kredit.

Bila seorang siswa baru dapat membaca, maka sesuai dengan kemampuannya ia dapat mengikuti pelajaran pada bagian kursus Alkitab untuk tingkat pemula atau kursus Alkitab tingkat dasar. Setelah menyelesaikan kursus Alkitab tingkat dasar ini, seorang dapat melanjutkan pelajaran pada kursus Alkitab tingkat lanjutan. Menurut pengalaman kami, banyak yang masih ingin melanjutkan pendidikan mereka setelah mereka menyelesaikan kursus Alkitab tingkat lanjutan ini. Ada juga di antaranya yang dapat melanjutkan pendidikannya di Sekolah Alkitab. Sebagian lagi mungkin lebih baik lagi dengan mengikuti pendidikan tingkat sarjana untuk pekerja awam.

Tingkatan-tingkatan seperti di atas hanya sekali-kali untuk menilai hasil para siswa dalam ruang lingkup yang lebih luas. Tujuan kami adalah menghasilkan pekerja-pekerja, bukan para sarjana. Sering terjadi bahwa mereka yang memperoleh angka terbaik di kelas pada kenyataannya paling sedikit bekerja untuk pelayanan Kristen. Sebaliknya, mereka yang dengan susah payah menyelesaikan pelajaran berhasil sebagai saksi-saksi kaum awam.

Itulah sebabnya kami mengusulkan tiga ukuran untuk menilai seorang siswa:

  1. Kehadiran di kelas dan nilai ujian-ujian.
  2. Laporan-laporan mengenai buku yang dipersiapkan pada masa tenggang waktu antara dua kursus.
  3. Kerja praktik dalam pelayanan yang dilakukan pada masa tenggang waktu antara dua kursus.

Meskipun seorang siswa kurang pandai di dalam kelas, tetapi bila ia menunjukkan usaha yang jujur dalam penyusunan laporan mengenai buku yang dibacanya dan melakukan kerja praktik yang baik dalam pelayanan, ia dapat mengumpulkan cukup banyak angka untuk dapat lulus.

Fleksibilitas adalah cara yang terbaik untuk menilai siswa. Bukan maksudnya untuk mengakibatkan kemunduran, tetapi fleksibilitas dilakukan untuk merangsang kemajuan siswa. Misalnya, ada orang-orang yang mendaftar karena hatinya tergerak untuk menyelamatkan orang yang tersesat, tetapi mereka tidak memunyai dasar pendidikan sebelumnya. Mungkin angka pelajaran mereka pada kursus pertama sangat rendah dan mereka menjadi patah semangat. Dalam hal ini perlu sekali dinilai semangat hati mereka dan mendorong mereka supaya mau meneruskan pendidikannya. Dengan seringnya mereka hadir dan semakin mengenal cara mengajar dan sifat-sifat gurunya, mereka akan mulai mengerti. Lambat laun mereka dapat mengikuti. Angka-angka mereka makin meningkat. Seorang siswa yang mula-mula kelihatan tak ada harapan mungkin berubah menjadi seorang pekerja Kristen yang berharga di ladang Tuhan.

Di Sarangani kami menggunakan cara berikut ini untuk menilai pekerjaan para siswa:

Satu kredit setiap satu pelajaran setiap hari untuk mencapai 30 kredit selama satu minggu mengikuti kursus. Lima kredit untuk laporan mengenai buku yang dibuat pada masa tenggang waktu antara dua kursus dan lima kredit untuk pembacaan Alkitab. (Selain harus membaca buku dan membuat laporan mengenai buku yang dipinjam, setiap siswa diharapkan dapat membaca tamat Alkitabnya selama 1 tahun).

Sepuluh kredit untuk kerja praktik dalam pelayanan Kristen pada masa tenggang waktu antara dua kursus. Jumlah kredit yang dapat dicapai setiap triwulan: 50.

Jika tidak hadir di kelas tidak diberi kredit. Untuk mengesahkan kredit tugas lapangan, setiap siswa harus menghadiri dua pertiga dari jumlah waktu pelajaran dalam setiap kursus.

Untuk lulus dari kursus Alkitab tingkat dasar atau kursus Alkitab tingkat lanjutan, kami tetapkan 300 kredit. 200 di antaranya adalah dari kehadiran di kelas. Karena seorang siswa yang cakap dapat menyelesaikan kursus ini dalam waktu 1 tahun dari jangka waktu 2 tahun yang ditetapkan, maka angka kelulusan sebenarnya hanya 50%.

Mereka yang mengajar pada suatu program pekerja awam akan memerlukan bakat dan kemampuan yang dibutuhkan pada pengajaran biasa. Di samping itu, ada bermacam-macam teknik khusus untuk pendidikan yang khas ini.

Tiap mata pelajaran harus dipandang dari segi menyeluruh atau berdasarkan pengalaman dan pengamatan. Analisa secara terperinci sedapat mungkin dihindarkan karena umumnya para siswa tidak dapat mengingat terlalu banyak hal-hal kecil. Tetapi, ini tidak berarti meniadakan pelajaran tentang prinsip-prinsip analisa atau pemahaman beberapa bagian Alkitab secara analitik yang sangat penting.

Tujuan utama pendidikan ini ialah kualitas, bukan kuantitas. Yang penting bukanlah berapa banyak yang telah dipelajari seorang siswa, tetapi sejauh mana ia telah mengerti apa yang telah dipelajarinya. Pikirannya dapat diumpamakan sebuah ruang gelap yang kemudian diterangi dengan membuka jendela-jendela. Ia berkenalan dengan macam-macam kebenaran yang baru baginya, yang dapat ditelitinya di kemudian hari bila diperlukan.

Kesabaran terhadap mereka yang kurang memuaskan dalam ujian-ujian, tetapi memiliki tekad untuk melayani Tuhan sepenuhnya, biasanya lambat laun akan diberkati dengan pertumbuhan mental dan rohani yang nyata. Seorang pria di antara orang-orang lulusan pertama Institut Sarangani, sebelumnya mengalami kegagalan dalam kursus pertama yang diikutinya, tetapi kami mendorongnya untuk terus belajar dan sedikit demi sedikit angka-angkanya bertambah naik, sehingga akhirnya lebih tinggi daripada batas yang ditetapkan untuk lulus. Ia menjadi pekerja awam pertama yang terlatih, yang diakui secara sah oleh Gereja Nasional Filipina sebagai seorang pejabat resmi. Dewasa ini ia menjadi guru di Institut Sarangani. Allah secara luar biasa telah memakainya untuk menjadi seorang pendeta, seorang penginjil, dan pelopor pendiri gereja-gereja baru.

Bersikaplah positif. Usahakanlah agar para siswa selalu mau bekerja keras dan berikanlah penghargaan semestinya terhadap hasil pekerjaan para siswa.

Usahakanlah penggunaan bahasa yang sama antara Anda dan para siswa. Bagaimanapun juga penggunaan dua bahasa yang berlainan akan membawa hasil yang kurang baik. Dengan sering mengajukan pertanyaan dan mengadakan diskusi dapat diselidiki sampai di mana pengertian para siswa. Sebelum dapat menyatakan kembali sesuatu dalam ungkapan bahasanya sendiri, siswa itu belum mengerti sepenuhnya.

Pergunakanlah kapur dan papan tulis untuk menerangkan pelajaran. Catatlah ringkasan pelajaran, kalimat-kalimat kunci, dan kata-kata yang asing. Pergunakanlah peta, grafik, dan alat-alat peraga lainnya untuk memperjelas kebenaran yang hendak dikemukakan dalam pelajaran. Berilah contoh-contoh yang jelas. Bilamana mungkin, sebaiknya ambillah contoh dari lingkungan hidup para siswa sendiri. Penjelasan yang termudah dari orang yang tahu kepada orang yang tak tahu ialah melalui serangkaian ilustrasi.

Sesuaikanlah alat-alat yang ada bilamana perlu, tetapi pertimbangkan juga dengan pengalaman pribadi Anda.

Sering-seringlah mengulangi. Perkuatlah reaksi dari setiap siswa dengan memanggil mereka secara pribadi untuk menjawab pertanyaan. Perkataan mendidik berasal dari bahasa Latin yang berarti menarik keluar bakat yang ada di dalam diri si anak didik itu.

Setiap hari ikutilah jadwal yang sudah disusun. Jangan sampai tertinggal.

Sediakan waktu agar Anda lebih saling mengenal dengan para siswa pada setiap sebelum pelajaran dimulai. Catatlah nama dan tempat asal mereka. Carilah keterangan tentang apa yang telah mereka lakukan untuk Kristus. Pergunakanlah daftar nama-nama ini untuk mengajak mereka semua, supaya ikut serta dalam setiap kegiatan setiap hari.

Pada pembukaan umumkanlah nama kursus dan terangkanlah secara singkat maksudnya. Ceritakanlah bagaimana sejarahnya dan perkembangannya sampai sekarang dan bagaimana pengetahuan ini dapat membantu pelayanan mereka dikemudian hari. Terangkanlah definisi-definisi singkat dan latihlah mereka untuk mengulanginya.

Ajarkanlah agar para siswa dapat membuat catatan. Berikanlah contoh cara melakukannya pada setiap siswa baru. Tunjukkanlah kepada mereka hal-hal yang harus mereka catat. Pastikanlah bahwa mereka telah mengerti dan mencatat definisi-definisi yang penting dan mengerti akan hal itu.

Suatu ringkasan singkat dapat dibagikan kepada para siswa, walaupun hal ini bukan merupakan suatu keharusan.

Menguji secara cepat dengan metode memilih salah dan benar setiap hari, memaksa para siswa untuk terus belajar dan dapat juga memberikan petunjuk apakah mereka mengerti atau tidak. Mintalah agar siswa yang pandai membantu mereka yang lemah setelah pelajaran selesai.

Siapkanlah para siswa untuk menghadapi ujian akhir. Bila waktu ujian tiba, para siswa sudah harus siap dengan pengetahuan yang telah mereka terima. Hindarilah penggunaan pertanyaan jebakan atau pertanyaan yang meragukan. Jangan menggunakan ungkapan yang tak pernah diajarkan.

Periksalah hasil ujian dengan segera dan bagikanlah kembali kepada para siswa sebelum mereka pulang. Jika waktu memungkinkan, tuliskanlah catatan-catatan yang membantu.

Para calon yang akan mengikuti latihan pekerja awam, yang datang dari desa atau ladang, mungkin memiliki bayangan yang kabur mengenai program latihan ini. Ia harus diyakinkan bahwa:

  1. Kristus telah memanggil beberapa orang untuk menjadi pendeta, guru, utusan Injil atau saksi untuk pergi melayani sampai ke bagian terpencil di dunia ini.

  2. Secara pribadi ia ikut ambil bagian dalam rencana Tuhan untuk gereja.

  3. Melayani Tuhan menuntut pengabdian yang sungguh-sungguh.

  4. Memiliki pengetahuan yang mendalam tentang firman Allah adalah suatu keharusan.

  5. Pengetahuan yang cukup di bidang-bidang lain pun perlu.

  6. Mengetahui teknik-teknik penginjilan, memimpin kebaktian, mempersiapkan khotbah, administrasi Sekolah Minggu dan kunjungan keluarga, akan membantunya untuk melakukan pekerjaan lebih baik.

  7. Ada keuntungan dan kesukacitaan dalam persaingan dan kegiatan sekolah.

  8. Melayani dalam suatu organisasi wilayah sebagai seorang pekerja Kristen adalah pekerjaan yang agung dan mulia.

Diambil dari:

Judul buku : Melatih Pekerja Awam
Judul buku asli : Training Lay Workers
Judul artikel : Bagaimana Melatih Para Pekerja Awam
Penulis : Byron W. Ross
Penerjemah : Drs. Harso
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 15 -- 22

e-JEMMi 47/2010

Bagaimana Membantu Anak-Anak yang Kelaparan

Untunglah hanya sedikit orang Kristen yang memiliki prasangka buruk bahwa orang yang lapar adalah orang yang terlalu malas bekerja. Yang masih belum jelas dan perlu kita pikirkan adalah apa penyebab kelaparan itu.

Penyebab kelaparan tidak berdiri sendiri. Kelaparan bukan keadaan yang terjadi satu kali, misalnya akibat dari kurangnya hujan (kekeringan) atau gagalnya panen (paceklik) saja. Lebih dari itu, kelaparan berhubungan dengan beberapa faktor yang saling berkaitan, meliputi perang, buta aksara, sakit penyakit, air kotor, tekanan pemerintah, penyalahgunaan narkoba, kerusakan lingkungan, perumahan kumuh, keterbelakangan pendidikan, dan kriminalitas -- ini hanyalah beberapa contoh kecil.

Ironisnya, angka statistik terbesar penyebab kelaparan berkaitan dengan anak-anak yang terabaikan. Jeff Sellers, dalam majalah "World Vision", meringkas fakta memilukan tersebut seperti di bawah ini.

  1. Anak-anak selalu menjadi korban perang. Namun pada dekade terakhir ini, terjadi peningkatan jumlah anak-anak, sebagian masih berusia delapan tahun, yang diberdayakan untuk ikut berperang seperti layaknya tentara di tengah banyak konflik.

  2. Obat-obatan dan minuman keras telah memberi dampak buruk terhadap kehidupan anak-anak di pedesaan, pinggiran kota, bahkan kota-kota di seluruh dunia. Obat-obat terlarang adalah penyebab utama timbulnya penyakit pada bayi-bayi, anak-anak, dan orang-orang dewasa yang hidup di kota-kota di Amerika Serikat, menurut Steve Joseph, Komisaris Departemen Kesehatan Kota New York (New York City Health).

  3. Jutaan anak kehilangan kesempatan untuk memeroleh pendidikan yang layak karena mereka harus bekerja membantu menghidupi keluarga. Mereka sering dieksploitasi dan dipaksa bekerja dalam situasi yang kurang aman dengan upah kecil. Di beberapa negara, anak-anak lebih banyak dicari untuk dipekerjakan ketimbang orang dewasa yang tidak punya ketrampilan. Alasannya, orang dewasa lebih sulit diintimidasi dan cenderung menuntut kondisi yang lebih baik.

  4. Sebanyak seratus juta anak mungkin hidup di jalan-jalan di perkotaan di seluruh dunia. Sebagian besar tidak memiliki keluarga. Beberapa anak ditelantarkan begitu saja; lainnya lari dari rumah karena dianiaya dan diabaikan.

  5. Enam penyakit yang dapat dicegah -- cacar air, batuk akut, difteri, TBC, polio, dan tetanus -- menjadi penyebab kematian jutaan anak setiap tahun. Banyak juga anak-anak yang meninggal karena dehidrasi (padahal mudah diobati dengan gula dan air).

Di beberapa negara, hanya segelintir anak yang mengenyam pendidikan selama beberapa tahun. Anak perempuan dan anak-anak cacat bahkan hampir tidak mendapat kesempatan memeroleh pendidikan. Hal inilah yang menutup kesempatan bagi mereka untuk menjadi orang dewasa dan memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kini, kebutuhan untuk merawat mereka sangatlah mendesak dan penting untuk dilakukan. Anak-anak yang menderita kekurangan gizi akan tergantung pada perawatan orang lain selama hidupnya karena kerusakan otak yang terjadi akibat absennya nutrisi utama selama masa-masa penting pertumbuhan mereka.

Setiap hari, lebih dari 40.000 orang meninggal akibat masalah-masalah yang berkaitan dengan kelaparan. Saat ini, negara Afrika menjadi tempat yang paling memprihatinkan karena 20 juta orang di sana, di Ethiopia, Sudan, Mozambik, dan Angola, terancam kelaparan. Namun, kemiskinan juga ada di dekat kita. Lebih dari 32 juta orang Amerika hidup di bawah garis kemiskinan -- 40% di antaranya adalah anak-anak -- dan sebanyak 4 juta orang Amerika tinggal di jalanan. Beberapa angka statistik menggambarkan kemiskinan di Amerika.

Pada tahun 1989, para wanita yang kecanduan obat-obatan melahirkan 375.000 bayi; 470.000 bayi dilahirkan oleh ibu usia remaja yang belum bekerja dan tanpa ayah. Dua puluh lima persen dari seluruh wanita hamil tidak mendapat perawatan menjelang proses persalinan, sementara Amerika Serikat menduduki peringkat ke-18 sedunia dalam hal kematian bayi. Dua puluh lima persen murid SMU putus sekolah sebelum lulus dan 75%-nya tidak mampu menulis surat lamaran pekerjaan. (Gordon Aeschlimamn, GlobalTrends, Downers Grove, Ill.: Intervarsity Press, 1990).

Jelas, dunia yang kelaparan ini memerlukan respons yang utuh dan cerdas dari orang-orang Kristen. Kita beruntung karena Tuhan tidak hanya memberi kita hati yang penuh belas kasihan, namun juga kepala yang dapat berpikir dan kemampuan yang mampu mengimbangi tantangan-tangangan tersulit dalam memerangi kelaparan.

  1. "Mensponsori" Anak

    Mensponsori anak mungkin merupakan respons paling lazim yang telah kita pahami dalam menghadapi kelaparan. Dengan sangat ahli, beberapa organisasi dikelola untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tiba-tiba terjebak dalam tragedi kelaparan, banjir, gempa bumi, atau perang. Organisasi-organisasi yang sama itu juga melaksanakan proyek pengembangan jangka panjang yang dikerjakan bersama-sama dengan masyarakat yang membutuhkan. Dengan 18 -- 30 dolar, Anda dapat membantu memberikan segala nutrisi, pendidikan, dan perawatan kepada seorang anak di Afrika, Asia, atau Amerika Latin, yang tentu saja dibutuhkan mereka di kemudian hari.

    Hanya sedikit dari kita yang mengenali anak yang kelaparan secara pribadi. Kelaparan merupakan tragedi tak dikenal yang nampaknya jauh dari lingkungan di sekitar kita. Bahkan, kita tidak dapat membayangkan anak tetangga kita sekarat karena kelaparan. Program sponsor anak dapat membantu kita melontarkan pertanyaan mendasar, Apakah saya mengetahui nama orang yang kelaparan? Hal ini merupakan sesuatu yang sangat pribadi. Keuntungan paling besar dari program sponsor anak (selain kebutuhan anak yang jelas dan mendesak) adalah bahwa sang sponsor menerima foto anak, lengkap dengan nama dan asal usulnya. Mengenali anak yang kelaparan secara pribadi membuat kita menyadari dengan lebih serius dampak yang ditimbulkan oleh kelaparan bagi dunia. Jika Anda tidak mengetahui nama-nama orang yang kelaparan, pertimbangkan untuk bergabung dalam program sponsor anak.

  2. Anak Asuh

    Terdapat sekitar 325.000 anak asuh di Amerika sekarang ini. Sebagian besar dari mereka adalah korban kekerasan, baik pelecehan seksual maupun kekerasan emosional, kehilangan orang tua karena meninggal, atau kemiskinan yang membuat orang tua tidak mampu lagi merawat anak-anaknya. Beberapa dari anak itu dilahirkan oleh para remaja yang hamil dan menolak untuk aborsi.

    Kita harus bertanya, "Ke mana perginya anak-anak itu?" Seorang anak asuh berada di bawah perwalian pengadilan, maksudnya anak tersebut secara hukum dipelihara oleh negara. Pengadilan akan memutuskan ke mana anak-anak tersebut akan pergi, dan sayangnya, hanya ada 125.000 keluarga di Amerika yang mau membuka pintu rumah mereka. Seharusnya tidak demikian. Ada satu gereja di Amerika bagi setiap anak asuh. Orang-orang Kristen bisa menjangkau dan melayani "orang-orang yang terabaikan itu".

    Memelihara anak asuh jelas lebih menyita waktu dan energi dibandingkan program sponsor. Namun jika orang-orang Kristen mengatasi kebutuhan ini bersama-sama, anak-anak itu bisa mendapatkan keluarga yang menyenangkan. Lakukan pendekatan terhadap badan penggembalaan gereja Anda dan ungkapkan gagasan mengenai anak asuh ini sehingga gereja menyetujuinya dan memberi kesempatan untuk mengasuh paling tidak satu anak. Karena pengasuhan anak merupakan suatu keputusan penting yang harus diambil oleh sebuah keluarga, maka gereja bisa saja membentuk komite yang dianggotai oleh orang-orang yang tertarik dengan masalah pengasuhan anak. Tugas komite tersebut termasuk menyediakan bantuan nyata bagi keluarga yang mengasuh anak tersebut. Anggota komite bisa juga mengajukan diri untuk mengasuh anak.

    Cari informasi di kantor pemerintah lokal di daerah Anda, pusat terapi, atau gereja mengenai pengasuhan anak. Masing-masing negara memiliki aturan dan prosedur sendiri-sendiri.

  3. Adopsi

    Mengadopsi anak merupakan bentuk bantuan paling tinggi yang bisa diberikan bagi anak, tapi jelas memberikan tuntutan yang paling besar bagi keluarga yang bersangkutan. Contohnya, ribuan anak Amerika Utara tidak akan pernah memiliki ayah atau ibu. Mereka hanya akan berpindah-pindah dari satu keluarga asuh ke keluarga asuh yang lain sesuai persyaratan yang ditentukan pengadilan sampai mereka berusia delapan belas tahun. Pada dasarnya, mereka adalah yatim piatu. Rasul Yakobus mengatakan bahwa memelihara yatim piatu adalah ibadah yang murni. Bentuk pelayanan kepada sesama ini mencerminkan agungnya kelemahlembutan dan belas kasihan hati Allah bagi manusia. Bapa Surgawi kita begitu peduli dengan kondisi anak yatim piatu yang memprihatinkan.

    Mungkin Tuhan menggerakkan Anda untuk mengadopsi anak. Jika Anda terdorong mengikuti tuntunan Allah itu, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk memulainya. Bertanyalah dengan orang tua yang sudah pernah mengadopsi anak. Anda akan mendengar banyak kisah sukses yang membahagiakan serta kesulitan dan kegagalan. Baca kisah-kisah tersebut di perpustakaan di daerah Anda, minta kepada kantor departemen sosial di daerah Anda untuk mengatur pertemuan dengan staf yang bertanggung jawab dalam bidang adopsi di bawah pengawasan negara. Adakan tanya jawab dengan badan pengadopsian anak dan berbicaralah dengan anak yang akan Anda adopsi. Bertanyalah kepada Allah, semampu Anda, untuk mengerti apakah Anda dan pasangan Anda memang terpanggil untuk mengadopsi anak. Keputusan Anda ini penting dan harus datang dari lubuk hati yang paling dalam karena keputusan ini harus lebih banyak menguntungkan pihak anak. Mintalah keterangan juga tentang beragam pengeluaran yang berkaitan dengan pengadopsian anak.

    Jika Anda merasa ini adalah pimpinan Tuhan bagi Anda, bertanyalah kepada pegawai pemerintah mengenai aturan-aturan mengadopsi anak di daerah Anda. Mereka, dan mungkin beberapa gereja di daerah Anda dapat memberi informasi tentang organisasi pengadopsian anak yang memiliki reputasi yang baik. Pertimbangkan apakah Anda bersedia mengadopsi anak keturunan campuran atau anak yang memiliki sedikit cacat tubuh. Seperti yang kami sarankan dalam pembahasan tentang anak angkat, cari tahulah apakah gereja lokal Anda akan bersedia membentuk kelompok pendukung yang dikhususkan untuk membantu Anda dan pasangan Anda saat melakukan keputusan penting ini. (t/Setyo)

Diterjemahkan dari:

Judul Buku : 50 Ways You Can Feed a Hungry World
Penulis : Tony Campolo dan Gordon Aeschliman
Penerbit : Intervarsity Press, Illinois 1991
Halaman : 9 -- 11 dan 45 -- 50

e-JEMMi 37/2008

Bagaimana Membina Murid-Murid yang Berlipat Ganda (I)

Memiliki Hati Orang Tua

Ada banyak bayi rohani dalam gereja kita, tetapi hanya sedikit saja orang tua rohani yang mengambil tanggung jawab atas mereka. Paulus mengatakan bahwa ia yakin Allah akan mendewasakan orang-orang yang telah diselamatkan-Nya (Filipi 1:6). Apakah alasan untuk keyakinannya itu? Sebagai orang tua rohani, ia selalu berdoa bagi bayi-bayinya dalam Kristus (Filipi 1:3-4) dan ia mengasihi mereka. Ia berkata, "Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil." (Filipi 1:7)

Mereka yang mau melipatgandakan diri di dalam dunia ini harus bertanggung jawab atas kehidupan orang lain dengan penuh kasih, sama seperti orang tua dengan anaknya. Paulus melayani sebagai seorang ibu maupun sebagai seorang ayah kepada orang Kristen baru di Tesalonika (1 Tesalonika 2:7, 11). Jalan satu-satunya seorang ayah atau seorang ibu dapat mendidik ialah dengan tatap muka secara pribadi lepas pribadi. Seorang anak yang berusia 3 tahun memunyai keperluan yang berbeda dengan seorang anak yang berusia 10 tahun. Demikian pula, cara yang terbaik untuk memenuhi keperluan-keperluan rohani dalam gereja adalah dengan pemeliharaan dan pendidikan perorangan. Tidak mudah menjadi orang tua yang sedang menjadikan anaknya murid Tuhan. Anda sendiri harus berkorban dengan penuh kasih dan disiplin apabila bekerja dengan jiwa yang akan hidup kekal selama-lamanya. Setelah tugas ini diterima dari Kristus, kadang-kadang terbentuk hubungan orang tua dan anak yang akan berkelanjutan seumur hidup, yang berkembang menjadi persekutuan kerja sama yang dewasa.

Menjangkau dalam kehidupan orang lain dan menempatkan kasih karunia Allah yang kekal merupakan kehormatan yang begitu besar sehingga seluruh gereja harus berusaha mendapat kesempatan demikian! Karena setelah investasi rohani itu dibuat dalam kehidupan orang lain, Anda akan mengambil bagian dalam semua kemuliaan kekal yang akan dituai melalui hidup itu untuk selama-lamanya. Paulus menunjukkan hal ini ketika ia menulis kepada orang-orang Kristen yang sedang bertumbuh yang telah dididiknya. Ia berkata, "Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami" (1 Tesalonika 2:20). Sebagai orang tua rohani, kita memunyai empat rangkap tanggung jawab, yaitu untuk mengasihi, memberi makanan, melindungi, dan melatih murid-murid kita.

Orang Tua Mengasihi Anak-Anak Rohaninya

"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:35). Motivasi paling kuat sepanjang pelayanan Kristus bagi murid-murid-Nya adalah kasih. Kasih itu juga yang harus merupakan ciri khas yang paling jelas bagi masing-masing kita sebagai murid abad ke-20. Yesus tidak selalu menyetujui sikap atau keinginan murid-murid-Nya, tetapi Ia selalu menerima dan mengasihi mereka. Bersama-sama dengan Dia, para murid merasa bebas dan senang. Mereka tahu bahwa Ia lain. Ketika musuh-musuh Kristus mengatakan bahwa Ia adalah sahabat orang berdosa dan pemungut cukai, maka tanpa disadari mereka menarik perhatian orang kepada kasih-Nya terhadap orang lain.

Kasih adalah sikap yang membaktikan diri untuk memenuhi keperluan paling dalam yang ada pada orang lain, tanpa menghiraukan besarnya pengorbanan. Paulus berkata kepada para penatua di Efesus, "Sesungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu" (Kisah Para Rasul 20:20). Ia mengingatkan jemaat Tesalonika, "Dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu" (1 Tesalonika 2:8). Sama seperti Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya karena kasih-Nya kepada kita, demikian pula kasih kita harus terungkap dengan menyerahkan diri kita dan hak-hak kita untuk menolong orang lain. Membaktikan hidup dengan penuh kasih kepada keperluan orang lain sering kali meminta agar kita menghadapi masalah-masalah muka dengan muka. Paulus mengingatkan jemaat Efesus tentang suatu masalah yang sulit di tengah-tengah mereka, "Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata" (Kisah Para Rasul 20:31). Betapa besarnya kasih Paulus sehingga dengan berani ia senantiasa mengingatkan mereka sampai soal itu dihadapi dan diatasi.

Sikap saya tidak selamanya demikian, mungkin juga tidak dengan saudara. Kadang-kadang saya menghindari konfrontasi pribadi yang penuh kasih. Saya takut dan ragu-ragu untuk mengasihi orang sedemikian rupa sehingga menghadapkan mereka dengan dosa mereka dan dengan rendah hati berusaha untuk memimpin mereka kepada pertobatan dan pemulihan. Tetapi sikap takut seperti itu tidak benar. "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita" (1 Yohanes 3:16). "Menyerahkan nyawa kita" berarti menganggap diri kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Kristus setiap hari sehingga kita menjadi saluran kasih-Nya yang hidup (Yohanes 17:26). Kasih merupakan batu uji bahwa Roh Kudus yang menguasai kehidupan kita (Galatia 5:22). Kasih menghasilkan keakraban dengan orang lain sehingga menjadikan pelipatgandaan melalui mereka menjadi lebih pasti. Namun demikian, kasih kepada murid-murid kita tidak berarti "menjadikan mereka pengikut jalan pemikiran kita, tetapi menjadikan mereka murid Yesus." (1 Yohanes 3:16)

Beberapa tahun yang lalu, saya menyatakan kepada seorang diaken gereja saya bahwa ia memunyai karunia menggembalakan jemaat dan harus mempertimbangkan dengan serius untuk memasuki penggembalaan. Sementara waktu itu terjadi beberapa hal yang tak menyenangkan, dan diaken itu meninggalkan gereja kami. Orang mulai bertanya-tanya kepada saya mengenai dirinya. Saya selalu menolak untuk mengatakan sesuatu yang negatif tentang dia, dan tetap percaya bahwa ia dapat melayani Kristus dalam pelayanan yang lebih luas. Saya juga berdoa dengan sungguh-sungguh baginya. Sementara tahun berganti tahun, ia menuruti panggilan Tuhan untuk menjadi pendeta penuh, dan sekarang pelayanannya sangat dinamis. Baru-baru ini kami berjumpa untuk pertama kali setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Ia berkata, "Sebagian besar dari apa yang saya pakai yang betul berhasil dan yang mengubah kehidupan saya telah saya peroleh di bawah pelayanan Pak Pendeta." Memang tidak ada ruginya kalau kita mengasihi!

Kasih sejati Paulus bagi anak-anak rohaninya terpancar dari halaman-halaman 2 Korintus. Meskipun ada yang salah paham dan dituduh tanpa alasan, Paulus tetap meneruskan pelayanannya. Pada suatu ketika, dengan hati yang meluap karena kasih bagi jemaat Korintus, ia menyatakan, "Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?" (2 Korintus 12:15). Kuasa untuk mengasihi tidak pernah bergantung kepada orang atau benda; kuasa itu datang dari hubungan dengan Roh Kudus (Roma 5:5). Buahnya ialah kasih (Galatia 5:22). Ketiadaan kasih menyatakan tidak adanya hubungan yang erat dengan Roh Kudus. Jika Anda memperkenankan Roh memberi kuasa kepada Anda untuk mengasihi orang lain, kasih Anda akan dibalas dalam hubungan dengan murid-murid yang Anda latih. Anda akan mencapai sasaran Anda melalui kasih.

Orang Tua Memberi Makan Anak-Anak Rohaninya

Ketika meringkaskan kediamannya selama 3 tahun di Efesus dalam Kisah Para Rasul 20, Paulus mengingat bagaimana ia selalu memberi makanan firman Allah kepada murid-muridnya, "Aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu" (Kisah Para Rasul 20:20); "Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu" (Kisah Para Rasul 20:27). Pada mulanya seorang bayi diberi makan oleh orang lain, kemudian ia bertambah maju, dan sebagai seorang anak, ia mampu makan sendiri. Akhirnya sebagai orang dewasa, ia memberi makan orang lain. Salah satu sasaran utama orang yang menjadikan murid ialah mengajar seorang murid bagaimana makan sendiri sehingga pada akhirnya ia dapat memberi makan orang lain. Berikut ini ada beberapa cara Saudara dapat menolongnya untuk memasukkan firman Allah ke dalam hidupnya.

  1. Beri Makan Kepadanya dengan Mengajarkan Saat Teduh.

    Daniel 6:10-11 merupakan contoh yang efektif mengenai saat teduh bersama Tuhan karena di dalamnya tertulis di mana Daniel berdoa, kapan ia berdoa, dan apa yang didoakannya.

    1. Suatu Tempat Tertentu

      Kita memerlukan sebuah tempat yang tetap untuk menyendiri dengan Tuhan, yang bebas dari gangguan. Jika suasana rumah Anda kurang tenang, mungkin suatu tempat di luar rumah lebih baik bagi Anda: dalam mobil yang diparkir di tempat yang sunyi; berjalan pagi di daerah sekeliling rumah; atau bahkan berlari-lari sendirian. Tetapi tempat mana pun yang Anda pilih, jangan lupa memasuki tempat doa itu, tempat ibadah pribadi, setiap hari (Matius 6:6).

    2. Suatu Waktu Tertentu

      Bertemu dengan Allah pada waktu pagi merupakan kebiasaan Kristus (Markus 1:35). Inilah saat yang terbaik bagi banyak orang karena merupakan persiapan yang baik sebelum memasuki hari yang sibuk. Agar Anda dapat bangun pagi-pagi dan bertemu dengan Tuhan, buatlah janji dengan-Nya pada malam sebelumnya. Persekutuan selama 10 menit dengan Allah di waktu pagi adalah lebih baik daripada tidak sama sekali; lebih baik mulai dengan waktu yang singkat dan membiarkannya bertambah lama secara wajar. Waktu pertemuan itu akan bertambah lama apabila Anda rindu untuk mengenal-Nya dengan lebih baik dan mengalami persekutuan-Nya dalam kehidupan Anda.

    3. Isi yang Tertentu

      Saat teduh itu merupakan jam makan bagi orang Kristen. Anda mengisi pikiran dan roh Anda dengan kehadiran Allah, makan dari firman-Nya sementara Ia berbicara dengan Anda. Kemudian Anda bercakap-cakap dengan-Nya dalam doa.

    Persiapkanlah segala sesuatu pada malam sebelumnya. Siapkan Alkitab, bacaan renungan ibadah, dan buku catatan. Alkitab dan bacaan renungan ibadah adalah makanan Anda. Pakailah buku catatan untuk menuliskan pikiran baru dan permintaan doa. Juga tuliskan jawaban yang telah Anda terima untuk doa Anda.

  2. Berilah Makan Kepadanya dengan Mengajarkannya Membuat Catatan Khotbah.

    Kita melupakan hampir 90 persen dari apa yang telah kita dengar. Dengan membuat catatan khotbah, persentase yang hilang itu menjadi kira-kira 45 persen. Suatu cara yang cepat untuk mengajar seorang murid makan sendiri ialah dengan menolongnya belajar membuat catatan singkat dari tiap khotbah yang disampaikan dari mimbar. Catatan khotbah harus sama ukurannya setiap minggu. Catatan itu harus mencantumkan nama pembicara, tanggal, judul khotbah, nas Alkitab, referensi ayat-ayat lain, garis besar isi khotbah, dan kalimat-kalimat yang khusus. Catatan itu dapat disimpan menurut kitab Alkitab atau menurut pokoknya. Dengan demikian, bahan itu siap untuk dipakai sebagai bahan renungan, pelajaran, atau untuk menyiapkan renungan untuk persekutuan doa. Ajarlah anak rohani Anda untuk menemukan ajaran utama dalam khotbah itu, kemudian bagaimana menerapkan kebenaran pokoknya dalam situasi hidupnya. Anggota-anggota jemaat sama-sama bertanggung jawab untuk pulang dari gereja dengan membawa khotbah itu sebagaimana pendeta bertanggung jawab untuk menyiapkannya. Dan keduanya bertanggung jawab kepada Allah untuk mempraktikkan khotbah itu dalam hidup mereka.

  3. Beri Makan Kepadanya dengan Mengajarkannya Cara Membaca Alkitab.

    Kita hanya mengingat sedikit lebih banyak dari apa yang kita baca (60 sampai 80 persen) daripada apa yang kita dengar. Jadi, sangat penting untuk membuat catatan agar memperbaiki daya ingat kita. Sewaktu murid membaca, ada beberapa hal khusus yang dapat dicari dan dicatatnya dalam nas Alkitab yang dibacanya:

    • pelajaran utama;
    • apa yang diajarkan nas Alkitab itu tentang Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus;
    • sebuah ayat yang meringkaskan nas tersebut;
    • suatu perintah yang harus ditaati; dan
    • apa yang diajarkan Tuhan sekarang ini dari nas itu.

    Sangat penting bagi murid untuk membaca seluruh Alkitab agar dapat memahami kesatuannya. Membaca kitab-kitab tertentu sehingga selesai sekaligus sangat berharga untuk memenuhi keperluan pribadi. Tetapkan bagian-bagian yang harus dibaca secara teratur, dengan sasaran bahwa pembacaan Alkitab menjadi suatu kebiasaan seumur hidup. Tolonglah murid Anda dengan memberi dorongan kepadanya dan memeriksa agar mengetahui apakah ia menarik keuntungan dari bacaannya.

  4. Beri Makan Kepadanya dengan Mengajarkan Cara-Cara Mempelajari Alkitab.

    Belajar cara mempelajari Alkitab sendiri akan membebaskan si murid, memungkinkan dia "makan dari firman" kapan saja ia menghendakinya dan tak perlu bergantung kepada orang lain untuk mendapatkan makanan rohani yang perlu. Apabila mengajarkan cara-cara belajar, mintalah agar murid itu meluangkan paling sedikit 20 menit setiap hari untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Khususnya, empat metode belajar akan menghasilkan pertumbuhan yang dinamis. Yaitu meditasi ayat, di mana satu ayat dipelajari secara mendalam; analisa pasal, di mana satu kitab dipelajari pasal demi pasal; menyelidiki kata-kata, di mana kata-kata tertentu, seperti sukacita, kasih, dan damai sejahtera dipelajari; dan mempelajari tokoh-tokoh, di mana orang-orang dalam Alkitab dianalisa. Kekayaan keempat macam penyelidikan pribadi yang memberi makanan rohani sendiri menyiapkan kaum awam untuk menemukan kehendak Allah seumur hidupnya. Berikut ini ada beberapa petunjuk bagi rencana mempelajari Alkitab, yaitu pendekatan analisa pasal. Pendekatan hanya memerlukan sebuah Alkitab, kertas, dan pena. Sarankan sedikit-dikitnya empat hal kepada murid.

    1. Menguraikan dengan Kata-kata Sendiri

      Dengan menggunakan kata-kata sendiri, tuliskan apa yang diungkapkan oleh pasal tersebut. Hal ini akan menolong Anda mengertinya benar-benar sehingga pasal itu tidak asing lagi bagi Anda.

    2. Pertanyaan-Pertanyaan

      Tuliskan segala sesuatu tentang pasal itu yang tak dapat Anda mengerti. Juga, tuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang mungkin tidak dimengerti orang lain, tetapi yang jawabannya telah Anda temukan. Ini akan berguna sekali bila Anda mulai mengajar orang lain. Apabila mungkin, berikan ayat Alkitab sebagai dasar bagi jawaban Anda untuk pertanyaan-pertanyaan.

    3. Referensi Ayat Lain

      Carilah referensi ayat lain (yaitu ayat yang mengandung kebenaran serupa atau yang berhubungan, yang terdapat di bagian lain dalam Alkitab) untuk setiap ayat dalam pasal itu. Dengan demikian, Alkitab sendiri menjadi penjelasan yang terbaik dengan menerangkan dan memperjelas setiap bagian yang dipelajari.

    4. Penerapan

      Dalam suasana doa, tuliskan penerapan pribadi yang didasarkan atas sebuah ayat dalam pasal itu. Terangkan apa yang akan Anda lakukan, dalam kekuatan Allah, untuk menerapkan bagian ini dalam kehidupan Anda hari lepas hari. Penerapan itu harus tegas. Misalnya, daripada menuliskan, "Saya akan berdoa lebih banyak minggu depan," yang terlalu umum, tuliskan saja, "Saya berdosa karena tidak berdoa. Minggu depan saya akan meluangkan waktu sekurang-kurangnya 10 menit setiap hari untuk berdoa." Periksalah diri sendiri untuk memastikan bahwa Anda melaksanakan penerapan itu. Setia menerapkan firman Allah akan menolong Anda menjadi pelaku firman, bukan seorang pendengar saja.

      Mazmur 1 dan 23, dan kitab-kitab Perjanjian Baru yang singkat, seperti surat Filemon, Filipi, dan 1 Tesalonika adalah bagian-bagian yang sangat baik bagi seorang murid yang mulai belajar untuk menelaah Alkitab. Biasanya 1 atau 2 minggu merupakan waktu yang baik untuk setiap pasal. Setelah Anda mengajarkan murid Anda bagaimana menelaah Alkitab, jangan lupa mengajarkan kepadanya bagaimana mengajar orang lain. Dalam semua pelayanan pemuridan, ingatlah selalu bahwa sasaran akhir adalah melipatgandakan orang-orang yang akan menjadikan orang lain murid Tuhan, yaitu orang-orang yang terlatih dan pandai untuk meneruskan apa yang telah mereka pelajari.

  5. Beri Makan dengan Mengajarkan Dia Menghafal Ayat-Ayat Alkitab.

    Menghafal ayat-ayat Alkitab akan mendatangkan lebih banyak berkat dan kuasa yang lebih besar. Seorang murid dapat mengalahkan pencobaan dan hidup dalam kemenangan atas dosa (Mazmur 119:11). Kehidupannya akan berhasil dan berbuah (Mazmur 1:2-3). Ia akan menaruh perhatian lebih banyak terhadap Alkitab dan pengertiannya akan bertambah. Kemampuannya untuk mengajar akan bertambah (Kolose 3:16). Dia akan mengalami kuasa yang baru untuk bersaksi dan melihat hasil-hasil yang positif (1 Petrus 3:15). Ia makin banyak mengetahui tentang kehendak Allah bagi hidupnya ketika terang firman itu lebih banyak menerangi jalan hidupnya (Mazmur 119:105). Ia dapat mengalami pertumbuhan yang lebih besar dalam imannya, sukacita yang baru, dan memunyai sikap yang lebih positif dalam kehidupan sehari-hari (Mazmur 119:103). Ia dapat berdoa dengan keyakinan baru. Mempelajari janji-janji Alkitab akan menambah keberanian dalam berdoa (Yohanes 15:7). Semua berkat ini dan masih banyak lainnya akan diperolehnya apabila seorang murid menghafal ayat-ayat Kitab Suci bersamaan dengan merenungkannya untuk diterapkan dalam hidupnya.

    Bagaimana Menghafal Ayat Kitab Suci

    Sikap Anda sangat berpengaruh. Apabila mempelajari ayat-ayat, Anda mendapatkan pertolongan Roh Kudus untuk "memimpin dalam segala kebenaran". Anda dapat melakukan segala perkara melalui Kristus yang memberi kekuatan kepada Anda (Filipi 4:13). Ia akan memberi kemampuan kepada Anda untuk belajar apabila Anda meminta pertolongan-Nya.

    1. Setelah memilih sebuah ayat, bacalah ayat tersebut dalam konteksnya dalam Alkitab. Membaca pasal di mana terdapat ayat itu akan menolong Anda mengerti. Bacalah ayat itu dengan saksama beberapa kali dengan suara nyaring. Jika pokok ayat itu tidak dijelaskan, tentukan pokok ayat tersebut.

    2. Hafalkanlah ayat itu dalam cara sebagai berikut: pokoknya, referensi ayat, baris yang pertama, referensi ayat sekali lagi. Ulangi beberapa kali. Kemudian mulailah kembali. Selalu mulai dengan referensinya, tambah satu baris lagi, dan akhiri dengan referensi. Lanjutkan "sedikit demi sedikit" sampai Anda telah menghafal seluruh ayat itu.

    3. Ulangi ayat itu sepanjang hari dengan menggunakan waktu-waktu luang. Ucapkan pada waktu makan, apabila sedang bepergian atau menunggu, dan sebelum Anda tidur. Mintalah seseorang untuk memeriksa hafalan Anda. Ulangi ayat itu setiap hari selama beberapa minggu. Kemudian ulangilah setiap minggu.

    4. Mulailah dengan menghafal dua ayat dalam seminggu.

    5. Renungkan setiap ayat yang Anda pelajari. Pakailah ayat itu dalam doa Anda kepada Allah. Mohonlah kepada-Nya agar Anda dapat mengalami kebenaran ayat itu dalam kehidupan Anda. Dalam tiap ayat, terdapat sesuatu untuk Anda ketahui, untuk dihentikan, untuk dimulai, dan untuk dibagi. Tujuan akhir ialah agar melalui setiap ayat, Anda dapat bersatu dengan Kristus dalam kehendak-Nya, dapat mengenal-Nya lebih baik, dan dapat melipatgandakan kemuliaan-Nya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Penggandaan Murid-Murid
Judul asli buku : Multiplying Disciples; The New Testament Method For Church
Penulis : Waylon B. Moore
Penerbit : Gandum Mas, Malang 1981
Halaman : 85 -- 96

e-JEMMi 11/2009

Bagaimana Membina Murid-Murid yang Berlipat Ganda (II)

Orang Tua Melindungi Anak-Anak Rohaninya

Dengan sistematis, Iblis telah berencana untuk menghancurkan murid-murid Kristus melalui kedengkian, rasa tawar hati, ketidaksabaran, dan dosa-dosa lainnya. Meskipun kesusahan banyak sekali, kuasa untuk bertahan terhadap serangan Iblis dengan segera kita peroleh apabila kita memiliki hidup Kristus. "Sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4)

Kristus memberikan teladan bagi kita sebagai orang tua rohani yang melindungi ketika Ia mengatakan kepada Petrus, "Lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (Lukas 22:31-32)

Perlindungan dari Pencobaan

Tiga pencobaan utama yang digunakan Iblis untuk menarik kita ke dalam dosa disebut dalam 1 Yohanes 2:15-16. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."

  1. Keinginan Daging

    Keinginan atau nafsu mulai dengan pandangan. "Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." (Amsal 4:25-27)

    Menolong murid-murid berarti memerhatikan tingkah laku mereka terhadap lawan jenis. Nasihat yang jujur dan terus terang tentang pokok ini, yang diucapkan dengan kasih, harus diberikan baik kepada murid yang masih sendirian maupun yang sudah menikah, sehingga mereka bisa belajar bagaimana "menjaga hati dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23)

  2. Keinginan Mata

    Keinginan akan uang dan harta benda juga dapat merusak para murid. Keduanya merupakan akibat dari terlampau banyak memusatkan perhatian kepada segala kesusahan dalam dunia ini. Uang sendiri bukanlah hal yang jahat; jika dipergunakan dengan semestinya, uang dapat menjadi alat untuk pelayanan yang efektif bagi banyak orang. Namun demikian, cinta uang adalah jahat. "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka" (1 Timotius 6:9-10). "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24)

    Rahasianya ialah jangan dikuasai oleh uang. Pastikan apakah murid Anda yang menguasai uang atau uang yang menguasai dirinya. Perhatikan motivasinya dalam menjalankan usahanya. Amati berapa banyak energi yang diabdikan untuk memperoleh uang. Hal apa yang menjadi prioritasnya. Apakah ia memunyai waktu bagi Tuhan, keluarga, dan pelayanannya di gereja? Perhatikan bagaimana ia membelanjakan dan menabung uangnya. Apakah yang selalu dibicarakannya? Sampaikan prinsip-prinsip sehat untuk mengurusi keuangan sehingga murid Anda terhindar dari utang. Dengan demikian, ia memunyai keleluasaan untuk bergerak dan mengikuti panggilan Allah.

    Yang erat berkaitan dengan keinginan akan uang adalah keinginan akan barang milik. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, "Berapakah yang kita perlukan untuk kebutuhan-kebutuhan hidup yang pokok?" "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah" (1 Timotius 6:8). Yang lainnya cuma merupakan tambahan saja: rumah, mobil, dan ijazah pendidikan. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk semua tambahan itu, tetapi jangan mendambakannya.

    Beberapa utusan gerejawi diberitahukan bahwa mereka harus meninggalkan Vietnam dalam waktu 2 jam. Mereka dapat bersaksi tentang "kerugian segala sesuatu" (Filipi 3:8). Barang yang sedikit yang mereka bawa serta menyatakan penilaian mereka. Ada yang membawa foto-foto keluarga atau benda-benda kecil yang menjadi kenangan, hanya itu saja.

    Utusan-utusan gerejawi itu dapat bersaksi dari pengalaman bahwa sebaiknya kita jangan mengumpulkan harta di bumi, di mana "ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah ... harta di sorga" (Matius 6:19-20).

    Coba, berpikirlah tentang semua milik Anda. Apa yang benar-benar Anda perlukan? Apakah yang terlalu penting bagi hidup Anda? Sekarang, dalam pikiran Anda, serahkanlah hak milik atas hal-hal tersebut kepada Allah. Apabila Anda melakukan hal itu, maka barang itu tidak lagi menguasai hidup Anda dan Anda dapat memakainya dengan kesadaran bahwa barang itu milik Tuhan, bukannya milik Anda.

  3. Keangkuhan Hidup

    Godaan untuk menjadi angkuh sering kali terungkap dalam keinginan yang berlebihan akan penghargaan. Apabila Iblis tidak dapat menjerat orang dengan perbuatan yang tidak senonoh atau dengan uang, ia berbisik, "Sebenarnya kau harus diberi penghargaan. Kau telah bekerja dengan baik dan tak seorang pun yang mengerti." Banyak prajurit telah kalah dalam perjuangan untuk melipatgandakan murid karena "mereka lebih suka akan kehormatan manusia daripada kehormatan Allah" (Yohanes 12:43). Hati-hatilah terhadap rasa hormat, tersinggung, dongkol, rajuk, dan benci dalam diri murid-murid Anda. Sebagian besar sikap ini disebabkan oleh keinginan akan kebanggaan pribadi.

    Keinginan untuk dihargai dan dihormati memang wajar; namun demikian, hampir tidak ada orang yang akan mencapai keinginan ini. "Berbicara sedikit, melayani semua orang, beralih ke tempat lain," merupakan semboyan yang meluluhkan kesombongan manusia. Ingatlah, Tuhan yang memberikan pahala bagi orang yang dengan tekun mencari Dia. Ia sendiri adalah pahala yang utama bagi kita (Kejadian 15:1).

    Keangkuhan hidup dapat juga mengambil bentuk persaingan yang berlebih-lebihan. Kita ingin menjadi yang terbaik di pemandangan Tuhan, supaya kita akan berkenan kepada-Nya dalam semua yang kita lakukan. Meskipun persaingan yang sehat dapat memajukan keinginan akan keunggulan, terlalu banyak memusatkan perhatian pada diri sendiri dapat mengaburkan penglihatan kita akan keperluan orang lain. Kita harus mengingat akan kata-kata Paulus kepada jemaat Filipi, "Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga" (Filipi 2:3-4)

Perlindungan Melalui Disiplin

Ketika peringatan Tuhan tidak dihiraukan dan murid berbuat dosa, orang tua rohani harus mendisiplin dia. Ini merupakan pelayanan yang penting sekali dalam gereja. "Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan hari ini, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (Ibrani 3:13)

Ayat-ayat yang paling baik mengenai disiplin terdapat dalam Ibrani 12:5-13. Kita harus mendisiplin orang yang berada di bawah pimpinan kita; tetapi kita jangan menghukum! Tujuan penghukuman adalah penghentian suatu kebiasaan atau pelanggaran, tetapi tujuan disiplin ialah memulihkan persekutuan dengan Allah.

Berterus terang dan terbuka dengan orang lain mengenai dosa mereka merupakan suatu hal yang sukar, namun perlu sekali dilakukan. Teguran dan nasihat bukan saja merupakan cara tercepat menuju pemulihan dan pertumbuhan rohani, tetapi juga menyatakan kasih yang luar biasa pada pihak penasihat. Tidak banyak orang yang bersedia mengambil risiko kehilangan suatu hubungan baik karena harus mendisiplin.

Paulus mempergunakan bermacam-macam kata untuk menggambarkan konfrontasi penuh kasih: menegur, menasihati, menempelak, memperbaiki, bahkan menghibur. Jika orang tua rohani memperkenankan muridnya terus saja tidak menaati firman Allah tanpa menegur dia penuh kasih, ia gagal untuk menunjukkan kasih yang sejati dalam hubungannya.

Mendisiplin dengan kasih sekarang ini perlu sekali jika murid-murid itu kelak harus bertumbuh dengan mengasihi kesucian dan berusaha hidup saleh. Dari benih-benih dosa yang kecil, tumbuh pohon-pohon besar yang menghalangi terang yang bersinar dari maksud rencana Allah. Kegagalan untuk memperbaiki dan mendisiplin anak-anak kita sendiri ketika mereka masih kecil, berarti bahwa kekurangan-kekurangan yang kecil itu kelak bertumbuh menjadi masalah yang besar. Hal ini benar juga dalam hubungan kita dengan anak-anak rohani. Betulkan ketidaktaatan dengan segera. "Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat." (Pengkhotbah 8:11)

Bertahun-tahun kemudian, mereka yang telah ditegur dengan penuh kasih akan memandang ke belakang dengan sukacita bahwa Allah cukup mengasihi mereka sehingga menjamah kehidupan mereka melalui seseorang yang menaruh perhatian cukup sehingga bersedia mendisiplin mereka. "Siapa yang menegur orang akan kemudian lebih disayangi daripada orang yang menjilat." (Amsal 28:23)

Bagaimana Menegur dengan Kasih

Apabila memberitahukan dosa dalam kehidupan murid-murid, lakukan dengan mengingat 2 Korintus 13 dan Galatia 6:1-3. Apabila Roh Kudus memimpin Anda untuk menghadapi murid, berikut ini ada beberapa peraturan dasar untuk mendekatinya.

  1. Firman Allah selalu merupakan dasar bagi teguran. Penting sekali kita mengetahui bahwa pelanggaran itu jelas berlawanan dengan Alkitab (Titus 2:1).

  2. Bertindaklah dengan bijaksana. Waktu yang tepat sangat penting. Kadang-kadang Allah menghendaki agar kita menerapkan kebenaran ini, "Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran." (Amsal 19:11)

  3. Orang yang membina murid harus memenuhi persyaratan yang disebut dalam Galatia 6:1, "kamu yang rohani". Kita harus dikuasai oleh Roh Kudus. Kita harus memunyai kemenangan dalam hati kita sendiri atas kesalahan yang nyata, dalam kehidupan orang lain itu.

  4. Kita tidak terpanggil untuk menghadapi setiap orang yang memunyai masalah dosa. Memenangkan hati orang itu merupakan kunci bagi tanggapan yang positif, tetapi hal itu memakan waktu. Kita juga bukan orang tua rohani bagi setiap orang.

  5. Teguran itu harus masuk akal, diberikan dengan sikap yang penuh kasih dan harus menyatakan belas kasihan dan kelemahlembutan (2 Korintus 2:4).

  6. Menasihati orang lain harus dilakukan dengan lemah lembut (Galatia 6:1). Ingatlah, hal yang sama ini bisa terjadi pada diri Anda juga pada suatu hari nanti (atau mungkin sudah terjadi). Berbicaralah dengan hati-hati, dan dengan rendah hati.

  7. Lakukanlah bila berduaan dengan orang itu saja (Amsal 25:9 dan Matius 18:15).

  8. Lakukanlah dengan ketekunan. Jangan membiarkan diri menjadi bosan atau berkecil hati. Nasihatilah dengan tekun, tetapi jangan mengomel. Setelah perkara ini selesai, jangan diungkit-ungkit lagi (Amsal 13:19 dan 28:23).

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Penggandaan Murid-Murid
Judul asli buku : Multiplying Disciples
Penulis : Waylon B. Moore
Penerbit : Gandum Mas Malang, 1981
Halaman : 97 -- 103

e-JEMMi 12/2009

Bagaimana Memulai Pelayanan Kota

Diringkas oleh: Dian Pradana

Gereja membutuhkan visioner yang memilih untuk tidak bermain aman, namun mengambil risiko dan beriman kepada Tuhan dalam merintis pelayanan yang baru dan inovatif di kota.

Kehendak Tuhan bagi kebanyakan dari kita menunjuk kepada kota. Jika Tuhan telah memanggil Anda untuk memulai sesuatu yang baru di kota, seperti Tuhan telah memanggil saya, maka Anda akan melalui proses pemahaman akan kehendak-Nya, berjalan dalam iman, dan membangun mimpi Anda.

Berikut langkah-langkah dalam memahami dan memulai pelayanan baru:

1. Izinkan Roh Tuhan Menaruh Visi dalam Diri Anda

Tuhan memberi kita penglihatan akan rencana dan tujuan-Nya dalam hidup kita, dan mengizinkan kita untuk bermimpi dan memiliki visi-Nya dengan jelas dan konkret. Semakin spesifik doa, tujuan, dan sasaran kita untuk visi tersebut, semakin besar kemungkinannya untuk visi Tuhan tersebut dapat terwujud.

Visi adalah gambaran yang membara di hati, tentang apa yang Tuhan ingin lakukan melalui Anda di tempat tertentu bersama kelompok orang yang spesifik. Visi adalah rencana Allah tentang apa yang dapat terjadi. Dengan memercayai dan menindaklanjuti visi tersebut, mimpi dapat terwujud. Dua visioner kuno, Abraham dan Sarah, telah mengalaminya. Saya melihat tiga benang dalam struktur kehidupan mereka yang membentuk pola masa kini dalam memahami kehendak Tuhan: panggilan untuk taat, iman terhadap visi Tuhan, dan hasil yang sudah diantisipasi.

Panggilan untuk Meninggalkan Tempat Tinggal. Abraham dan Sarah tinggal dengan nyaman di Haran saat Tuhan memanggil mereka: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;" (Kejadian 12:1) Tidak mudah bagi mereka untuk menaati panggilan itu -- banyak risiko dan pengorbanan.

Sebuah "panggilan" selalu mengiang, bisikan dalam diri Anda yang mengatakan, "Tinggalkan rumahmu dan pergilah ke tempat yang Kutunjukkan kepadamu." Mungkin rumah yang kita tinggalkan bersifat geografis atau spiritual. Tempat yang ditunjukkan kepada kita mungkin adalah kota, pelayanan baru di lingkungan, atau cara hidup baru di dunia. Yang terpenting adalah meresponi dan mengikuti visi Tuhan yang lahir dalam diri kita, tanpa menghiraukan risiko dan pengorbanannya.

Saat Abraham dan Sarah pergi, keponakan mereka, Lot, ikut bersama mereka. Kemudian, gembala Abraham dan Lot berselisih tentang pembagian tanah. Abraham, yang percaya akan visi Tuhan, memutuskan untuk berpisah: "Jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." (Kejadian 13:9)

Lot melihat ke Timur dan "melihat seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir." (Kejadian 13:10) Seketika itu, Lot berpisah dari Abraham dan tinggal di Yordan. Abraham memilih tinggal di Kanaan yang berbukit-bukit, yang nampak tidak sedap dipandang mata. Di situlah Tuhan menegaskan visinya: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya." (Kejadian 13:14-15)

Ada pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa tersebut untuk visioner kota pada masa kini: Mata iman tidak fokus pada penampilan, namun pada pandangan yang luas dan penglihatan akan apa yang dapat terjadi. "Apa yang dapat kamu lihat secara luas, Aku dapat memberikannya kepadamu," kata Tuhan kepada orang beriman. "Apa yang tidak dapat kamu impikan, Aku tidak dapat memberikannya padamu." "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah" adalah kunci terhadap keberhasilan di luar batas kemampuan manusia. Jika kita dapat memimpikan visi Tuhan dan spesifik dengan hasilnya, apa yang kita perlukan akan disediakan oleh Tuhan "yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada." (Roma 4:17)

Tuhan membangkitkan pemimpin yang memiliki mimpi dan visi yang spesifik, yang percaya kepada-Nya akan hasilnya. Surat Ibrani mengingatkan kita bahwa iman atau visi "adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat". (Ibrani 11:1)

Saya percaya bahwa dalam diri setiap orang, tersembunyi visi yang menunggu pemenuhan melalui iman dan ketaatan akan panggilan.

2. Bangun Visi Secara Perlahan

Setelah memahami kehendak Tuhan, kesabaran diperlukan dalam mewujudkan visi Tuhan bagi pelayanan kota. Sama halnya janin membutuhkan sembilan bulan untuk dapat lahir sebagai bayi, butuh bertahun-tahun untuk mimpi atau visi dalam hati itu menjadi kenyataan.

Apa yang terjadi pada Anda sama pentingnya dengan apa yang Tuhan lakukan melalui Anda. Bersabarlah menunggu Tuhan, biarkan Tuhan mengerjakan karya keselamatan dalam diri Anda, dan kemudian membangun visi Tuhan secara perlahan namun pasti.

Saat saya dan beberapa orang melayani di New York, kami memulai pelayanan dengan visi yang cukup murni. Kami membutuhkan waktu untuk mapan sebelum kami melakukan banyak pelayanan. Namun, kami melangkah semakin cepat dan kami menjadi terdesak. Hasilnya adalah krisis dalam pelayanan: banjir permintaan dan kebutuhan, sedikitnya uang, pelayanan semakin sempit. Selama bertahun-tahun, kami berjuang untuk bertahan sampai kami memperlambat laju pelayanan kami, kemudian mengambil waktu untuk merenung, memikirkan fokus pelayanan, dan peletakan dasar spiritual. Intensitas pelayanan kota dapat menghancurkan bahkan visioner paling percaya diri sekalipun. Cara untuk hidup berkemenangan adalah membiarkan visi Tuhan tersingkap secara perlahan, hari demi hari, tahap demi tahap, mengikuti irama Roh.

3. Ajak Rekan Sepelayanan

Seorang visioner tidak dapat memenuhi visi Tuhan seorang diri. Visi itu harus dibagi. Butuh waktu untuk menemukan orang yang tepat. Ajak orang yang Anda kenal dan percaya, yang berkompeten, berkomitmen, dan yang Anda percayai serta yang memberi rasa nyaman. Jangan terburu-buru mengajak orang hanya karena mereka bersemangat. Tunggu waktunya Tuhan memberikan orang yang pas.

Butuh waktu lebih dari setahun bagi saya untuk menemukan lima orang yang bersedia dan mampu melayani bersama di San Fransisco. Yesus sendiri membutuhkan waktu 3 tahun untuk memuridkan 12 orang pria dan sekelompok wanita. Barulah setelah itu Yesus mengatakan kepada Petrus, "gembalakanlah domba-domba-Ku" dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku." (Yohanes 21:17; Matius 16:18)

4. Pilih Ladang Pelayanan

Setelah mengajak rekan sepelayanan, langkah selanjutnya adalah secara perlahan dan penuh doa mengidentifikasi lingkungan yang akan dilayani. Tanyakan pertanyaan ini: Siapa yang Tuhan ingin kita kasihi? Lingkungan dan daerah geografis bagaimana yang nampaknya paling membutuhkan kehadiran Tuhan? Lingkungan mana yang nampak siap akan hadirnya pelayanan kota?

Setiap kota memiliki daerah yang terabaikan. Kita bisa saja memiliki visi untuk menjangkau seluruh kota, namun pelayanan kota akan efektif apabila kita fokus pada lingkungan tertentu.

Selalu ada lingkungan dalam sebuah kota yang paling cocok untuk dilayani. Pilih daerah yang memiliki sejarah, riwayat, dan ciri khas -- yang menarik dan menantang Anda. Yang terpenting, pilih daerah kumuh yang ditinggali orang-orang miskin dan gelandangan.

5. Tetapkan Pos Pelayanan

Menetapkan pos pelayanan di lingkungan terpilih adalah langkah penting selanjutnya dalam memulai pelayanan kota. Idealnya, sewalah atau belilah bangunan yang memiliki corak budaya dan mudah diakses masyarakat. Orang yang berusaha Anda jangkau membutuhkan sebuah simbol komitmen dan kehadiran Anda. Masyarakat memerlukan sebuah tempat yang hidup, dan pelayanan membutuhkan tempat untuk berkembang. Sebuah pusat pelayanan mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Jika Anda mengalami kesulitan -- entah itu masalah keuangan atau yang lainnya -- seperti halnya saya saat berusaha mengembangkan pelayanan di New York dan San Fransisco, percayalah bahwa Tuhan dapat melakukan mukjizat. Mukjizat adalah karya Tuhan yang tepat pada waktunya. Dari pengalaman saya merintis pelayanan di New York dan San Fransisco, tidak ada visi yang mustahil.

6. Bangun Komunitas

Sebelum Anda melaksanakan misi pelayanan Anda dalam sebuah lingkungan, kelompok pelayanan Anda harus menjadi sebuah komunitas.

Apakah komunitas itu? J. B. Libanio, yang menulis tentang komunitas kristiani di Amerika Tengah dan Selatan, mendefinisikan komunitas sebagai: "Sebuah kesatuan beberapa orang yang dinamis, yang melalui interaksi sosial yang spontan, terintegrasi oleh ikatan persahabatan, emosional, kesamaan sejarah dan budaya".

Sebuah komunitas terbentuk saat sebuah kelompok kecil berintegrasi, berjalan bersama, dan ingin melakukan sesuatu yang lebih besar daripada yang dapat mereka capai secara individual.

Sebagai suatu kelompok pelayanan, kita semua harus merasa terpanggil untuk hidup di antara orang-orang yang ingin kita jangkau. Hal ini membutuhkan komitmen jangka panjang. Komunitas berarti komitmen kepada satu dengan yang lain dan kepada rencana rekonsiliasi Tuhan. Komunitas diperlukan sebelum penyembahan dan misi dapat terjadi dengan benar. Sebuah kelompok pelayanan yang berharap untuk menjangkau sebuah kota dan lingkungan dengan kasih Tuhan, harus terlebih dahulu mengasihi dan menghargai anggotanya. Perbedaan dalam kepribadian, teologi, latar belakang, standar kerja dan kebersihan, talenta, dan panggilan dapat menghancurkan sebuah komunitas. Namun hal itu dapat diatasi dengan komitmen bersama terhadap proses dan fokus pada visi.

7. Biarkan Misi Mengalir

Sebuah kelompok Kristen kecil yang diorganisasi bagi misi dan setidaknya pertemuan untuk menyembah, berdoa, dan saling menguatkan seminggu sekali, memiliki potensi untuk memahami apa yang Tuhan lakukan dan terlibat di dalamnya. "Handbook for Mission Groups" karya Gordon Cosby menjelaskan setiap langkah bagaimana sebuah komunitas terbentuk dan menemukan pelayanannya.

Awalnya, sebuah kelompok berkumpul bersama visioner yang sudah mendapat panggilan untuk melayani dan menyuarakan panggilan itu dalam beragam cara -- dalam percakapan pribadi, dalam kepemimpinan, atau dalam nubuatan.

Jika tidak ada yang meresponi, orang yang terpanggil itu menunggu beberapa saat untuk orang lain menceritakan panggilannya. Saat 2 atau 3 orang meresponi, mereka memulai hidup mereka bersama, "saling membangkitkan talenta, dan berdoa bagi kejelasan dalam mendengar kehendak Tuhan bagi misi mereka".

Panggilan itu mungkin dimulai saat seseorang mendengar bisikan (gambar, perasaan) Tuhan yang terus mengiang, yang mengatakan "berilah makan orang yang kelaparan", "sediakan tempat tinggal bagi gelandangan", atau "hiburlah penderita AIDS". Saat orang lain meresponi panggilan itu, implikasi dan perkembangannya terlihat. Prinsip penting dalam kelompok misi adalah diperlukannya komitmen bersama dan tanggung jawab bersama yang diterima oleh setiap anggota. "Hal ini dapat dilakukan hanya dengan mengenali talenta setiap anggota," kata Cosby.

Orang yang memiliki multi talenta akan menghadapi godaan untuk memenuhi kepuasan ego dengan melakukan segala sesuatu seorang diri daripada bersama-sama. Tanpa komitmen untuk hidup dan melakukan misi bersama, sebuah kelompok misi tidak akan berhasil. Dengan komitmen bersama, sebuah kelompok misi akan bertahan selama semusim atau sepanjang hidup. Karya pelayanan yang sudah dilakukan itu akan menjadi karya Tuhan dan selamanya menjadi bagian dalam usaha Tuhan berdamai dengan dunia ini.

Kadang, sebuah kelompok misi mencapai misinya dan kemudian bubar. Apa yang sebaiknya terjadi saat sebuah kelompok misi mati secara alami? Menurut Cosby, "Saat diketahui tidak ada lagi dua atau lebih anggota yang terpanggil, kelompok itu mungkin dapat meninjau ulang sejarahnya, bersyukur atas apa yang sudah dilakukan, dan merayakan matinya kelompok itu. Sering kali, diperlukan adanya kesadaran akan dosa yang harus diampuni, luka hati yang harus disembuhkan, dan keberanian untuk mengambil langkah selanjutnya."

Jika kelompok misi mempertahankan tahap perkembangannya dan arahan dari Tuhan, maka pelayanan akan terbentuk. Antusiasme akan dibumbui dengan hikmat, inovasi akan diwataki dengan tradisi, dan banyaknya orang yang antusias akan diarahkan oleh Tuhan untuk mendukung dan membantu usaha komunitas. Kelompok misi mungkin dapat tetap menjadi bagian dari gereja atau berdiri sendiri sebagai komunitas penyembahan dan pusat misi sementara. (t/Dian)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : A Call for Compassion; City Streets City People
Judul asli artikel : Lift Up Your Eyes; How to Start an Urban Ministry
Penulis : Michael J. Christensen
Penerbit : Abingdon Press, Nashville 1988
Halaman : 53 -- 70

e-JEMMi 24/2011

Bagaimana Memulainya?

Saat ini Anda sudah mengetahui syarat-syarat menjadi salah satu utusan Tuhan. Anda sudah mempelajari pelatihan yang harus mereka jalani dan strategi-strategi yang akan membantu mempersiapkan mereka bekerja dengan efektif.

Anda juga sudah melihat tindakan apa saja yang dilakukan oleh utusan ini -- berjuang keras melawan rintangan dan menang dalam nama Yesus untuk membawa orang-orang yang belum terjangkau ke Jalan Kebenaran.

Mungkin Anda mulai merasa tenang, namun ada desakan terus-menerus dari dalam diri Anda untuk terlibat lebih jauh lagi. Mungkin saat ini Roh Kudus sedang berbicara kepada Anda.

Jika benar demikian, penting bagi Anda untuk meresponsnya. Berdasarkan cerita-cerita dari mereka yang telah terlibat dalam pelayanan misi, kita belajar bahwa dorongan-dorongan dari dalam pada awalnya sering kali tidak terlihat, sulit untuk diketahui. Tapi pada kenyataannya, bagi sebagian besar dari kita, pesan itu benar-benar menjadi tidak jelas sampai kita bertindak.

Ini adalah proses pengambilan tindakan untuk merespons dorongan dari Roh Kudus yang sering kali memberikan kejelasan yang sesungguhnya. Tanpa merespons, Anda mungkin tidak akan pernah tahu.

Anda ingat kisah Paulus ketika dalam perjalanan ke Damaskus? Tentu saja apa yang dia lihat ketika Yesus menampakkan diri kepadanya adalah dorongan terkuat yang sangat indah. Namun, pelayanannya tidak dikerjakannya sampai dia menerima konfirmasi lebih lanjut melalui kebutaan yang diikuti dengan pemulihan yang Tuhan berikan melalui tangan Ananias (Kis. 9:3-19)

Ingat juga Gideon, yang Tuhan perintahkan untuk pergi dan menyelamatkan bangsa Israel dari bala tentara Midian, di mana orang-orang pada zaman dahulu terkenal menggunakan unta dalam berperang (Hak. 6:14). "Tetapi jawabnya kepada-Nya: `Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku`" (Hak. 6:15).

Gideon mematuhi perintah Tuhan tanpa perlu diyakinkan dengan susah payah bahwa pesan itu benar-benar berasal dari Tuhan dan janji Tuhan adalah nyata. Sebelum akhirnya Gideon bertindak, Tuhan sudah meyakinkan dia melalui mujizat api yang muncul dari batu (Hak. 6:19-21) dan dengan dua mujizat lainnya yang menggunakan bulu domba dan embun di tanah (Hak. 6:36-40).

Jika panggilan Anda menjadi utusan adalah murni, Anda akan diyakinkan dalam panggilan ini. Namun, mujizat itu hanya akan terjadi setelah Anda mengambil tindakan.

MEMBANGUN DUKUNGAN SPIRITUAL ANDA

Langkah pertama dalam merespons panggilan ini adalah dengan berbicara kepada pendeta atau pembimbing rohani Anda dan meminta dukungan semangat serta doa. Anda mungkin juga perlu mendapatkan pengakuan di depan umum, mungkin melalui "altar call" di gereja Anda atau dalam kelompok PA yang Anda ikuti. Dukungan doa dan perhatian dari saudara-saudara sepersekutuan adalah penting, khususnya pada tahap-tahap awal ketika komitmen Anda untuk mengikuti pelayanan asing mulai tumbuh.

Tahap ini juga akan menjadi waktu untuk mulai mencari persiapan akademis yang lebih banyak lagi. Pelatihan yang Anda pilih tergantung pada banyak faktor, termasuk usia Anda, status keluarga Anda, dan apakah Anda tinggal di negara yang terbuka untuk Injil atau tidak.

Ketika Anda mempersiapkan diri atas panggilan utusan, Anda mungkin diharapkan mencari dukungan dari organisasi-organisasi misi lokal. Atau mungkin Anda akan mencari dukungan itu ke tempat-tempat persekutuan, misalnya gereja Anda. Meskipun banyak bahan yang memberi tuntunan dalam hal mencari dukungan, Anda harus membuat keputusan sendiri melalui doa rutin dan mendengarkan dengan cermat rencana Tuhan yang diberikan kepada Anda.

Setelah pelatihan, ketika panggilan Anda diuji dan diperjelas, Anda mungkin berharap ditugaskan melalui suatu pelayanan istimewa di gereja Anda atau melalui organisasi misi tertentu. Meskipun sebagai seorang misionaris mandiri yang kebutuhan finansialnya ditanggung sendiri, jangan pernah Anda berusaha keras untuk pergi tanpa dukungan persahabatan, perhatian, dan doa yang dapat diberikan oleh persekutuan Kristen.

"Diutus" ke ladang misi oleh gereja di mana Anda bersekutu memiliki banyak keuntungan, meskipun demikian pengutusan itu mungkin sekali melibatkan dukungan finansial maupun administratif.

Pertama, Anda mendapatkan kepercayaan diri dan kekuatan dalam panggilan Anda melalui pengakuan umum atas maksud Anda. Kedua, Anda menerima suatu komitmen dukungan doa dari mereka yang akan menyaksikan penugasan Anda. Ini juga akan menjadi komunitas yang dapat Anda "lapori" dari waktu ke waktu selama pelatihan pelayanan Anda. Akhirnya, dengan berdiri di depan jemaat Kristen dan memproklamirkan keinginan Anda untuk melayani sebagai seorang utusan, Anda akan bersaksi tentang suatu komitmen yang dapat memberikan dukungan semangat kepada orang lain.

PENEMPATAN DI LADANG MISI

Satu cara untuk menjadi seorang utusan tentu saja adalah dengan sudah memiliki tempat kerja di suatu negara atau suatu kelompok masyarakat yang terpencil. Keadaan dan situasi lain yang lebih umum adalah mengenali suatu kelompok atau negara di mana kemampuan Anda akan digunakan.

Ingatlah bahwa utusan Tuhan dapat membiayai kehidupan mereka dengan berbagai cara. Rasul Paulus adalah seorang pembuat tenda. William Carey adalah pembuat sepatu. Pilihan-pilihan lain sebenarnya dapat berupa profesi lain dan layak secara moral yang berguna di kelompok orang-orang yang sudah Anda pilih dan yang cukup berguna untuk pemerintahan sehingga Anda dapat berhasil di negara itu.

Satu alasan mengapa Anda perlu mengemukakan keinginan Anda untuk menjadi utusan di depan umum, khususnya jemaat gereja Anda, adalah agar keinginan ini mendorong anggota-anggota gereja yang lain yang mungkin mempunyai saran atau informasi alamat kontak yang dapat menolong Anda.

Jika Anda tidak pernah mempunyai pengalaman membawa seseorang kepada Kristus, Anda pasti akan membutuhkan pelatihan untuk usaha keras ini. Ada berbagai bidang pengetahuan yang tersedia untuk tujuan ini guna meningkatkan kemampuan Anda dengan baik.

Beberapa orang akan mendapatkan banyak prestasi untuk Kristus sebagai pengabdian mereka. Namun, ada juga yang tidak mendapatkan apa-apa dan harapan saya mereka akan tergerak untuk pertama kalinya dan mulai merasakan pengalaman paling indah yang dirasakan oleh manusia. Jika Anda adalah penginjil yang pertama, tidak diragukan lagi Anda akan merasakan beberapa ketidaknyamanan dan mungkin juga perasaan was-was.

Memiliki guru yang baik dalam penginjilan juga penting supaya berhasil dalam penginjilan. Guru yang baik ini mungkin bisa Anda temui di gereja Anda sendiri.

Namun di beberapa denominasi, kemampuan untuk menginjili tidak begitu diutamakan. Jika Anda termasuk dalam salah satu denominasi ini, jangan putus asa. Anda berada di posisi yang bagus untuk menjembatani denominasi Anda dan beberapa gereja injili lainnya. Saya sarankan supaya Anda menghubungi pendeta salah satu gereja tersebut dan meminta pelatihan yang Anda butuhkan. Pendeta tersebut akan membantu Anda dengan senang hati dan Anda akan membantu membawa banyak jiwa menjadi satu dalam tubuh Kristus.

Langkah terpenting yang sederhana untuk memulainya adalah dengan bersaksi tentang Kristus kepada orang lain. Ini akan menjadi bagian yang sangat mengejutkan karena Anda akan menjadi bagian dari orang-orang yang dipenuhi dengan sukacita pada apa yang dipersembahkan kepada mereka.

Namun, ingatlah fakta yang menyedihkan, tapi nyata, yang dijelaskan Tuhan kita dalam perumpamaan tentang perjamuan kawin; meskipun "banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" (Mat. 22:14). Pesan yang sama terdapat dalam perumpamaan tentang penabur di Matius 13:3-9.

Anda hanya akan berhasil di bagian usaha penginjilan Anda -- mungkin hanya di satu pertemuan dari pertemuan yang berulang-ulang.

PENGINJILAN LINTAS BUDAYA DI RUMAH

Sebagai langkah berikutnya, ketika Anda sudah bertumbuh lebih efektif lagi dalam penginjilan kepada para pendengar yang sudah akrab dengan Anda, maka Anda akan ingin membangun kemampuan dalam bekerja sama dengan orang-orang yang berkebudayaan lain. Ternyata, dengan meningkatnya mobilitas populasi murid internasional, keinginan Anda ini akan lebih mudah dicapai.

Melalui kontak dengan mahasiswa asing ini, Anda juga dapat menuntun diri Anda sendiri untuk masuk ke populasi di mana Anda dapat melakukan yang terbaik untuk pelayanan Anda.

Keberagaman komunitas etnik (yang ada di tempat Anda -- red) dapat menjadi kelompok target yang ideal untuk pelatihan pelayanan lintas budaya Anda.

Satu keuntungan istimewa yang dapat diperoleh dari bekerja sama dengan mahasiswa asing untuk mengasah kemampuan penginjilan Anda adalah agar Anda dapat mempelajari cara-cara baru menjangkau jiwa-jiwa baru. Berikut beberapa teknik yang sudah dimodifikasi, yang mungkin dapat digunakan oleh seorang utusan dalam menginjili mahasiswa asing di negara mereka sendiri.

  1. Pendekatan asimilasi (pembauran -- red) merupakan cara yang tepat.

  2. Fokuslah pada tujuan penginjilan, bukannya menjadikan mereka menjadi sama dengan Anda.

  3. Terimalah sifat-sifat manusia yang beraneka ragam, bahkan dalam setiap kelompok etnik sekalipun. Kelompok-kelompok etnis ini dibedakan oleh sosial ekonomi, dan sering kali secara linguistik, keturunan, dan geografis.

  4. Gunakan ikatan komunal etnik yang kuat (persahabatan dan keturunan) sebagai kesempatan untuk menyebarkan Injil.

  5. Manfaatkan organisasi-organisasi "parachurch" untuk penjangkauan (outreach) Anda (misalnya, PA di rumah, dan bentuk-bentuk persekutuan lainnya).

  6. Berusahalah untuk belajar dan gunakanlah bahasa asli dari kelompok yang menjadi target Anda.

  7. Jika mungkin, bekerjasamalah dengan anggota kelompok yang sedang Anda jangkau yang sudah menjadi Kristen.

  8. Doronglah gereja Anda untuk memerhatikan pelayanan-pelayanan khusus atau misi-misi khusus untuk mendukung penjangkauan Anda kepada kelompok yang menjadi target penginjilan Anda.

  9. Lakukan sesuatu -- mungkin bersama-sama dengan gereja Anda -- untuk menunjukkan dukungan Anda kepada kelompok yang menjadi target Anda. Contohnya, Anda bisa menggunakan salah satu hari libur nasional kelompok itu untuk berkumpul bersama beberapa orang dari mereka.

  10. Berdoalah agar Roh Kudus menguatkan Anda untuk membawa setiap orang yang belum mengenal Kristus dan dengan yakin di dalam nama-Nya, Anda bisa menjangkau beberapa orang dalam kelompok pelayanan Anda. (t/Ratri)

Bahan diterjemahkan dari:

Judul buku : God`s New Envoys
Judul asli artikel : How to Get Started
Penulis : Tetsunao Yamamori
Penerbit : Multnoman Press, Oregon 1987
Halaman : 147 -- 152

e-JEMMi 10/2007

Bagaimana Terlibat Dalam Pekerjaan Misi

Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48)

Ada 3D yang biasa dipakai dalam pekerjaan misi: Doa, Dana, dan Daya. Menurut hemat saya, 4D lebih tepat dengan D yang pertama untuk Data. Yesus menyampaikan data ketika Dia berkata:

"Tuaian memang banyak, tapi pekerja sedikit" (Lukas 10:2).

Tanpa data, apa yang akan kita doakan? Tanpa data, apa yang akan kita kerjakan dengan sumber daya yang ada? Tanpa data, akan disalurkan ke mana dana yang ada? Berikut ini adalah tiga hal yang perlu kita perhatikan.

  1. Setiap individu, keluarga, dan gereja yang ingin mengerti dan memupuk visi dan misi penginjilan perlu memiliki (paling tidak) peta dunia, peta Indonesia, peta suku-suku yang terabaikan, atau tempat-tempat tertentu yang mengingatkan kita untuk mendoakannya.

  2. Setiap dari kita perlu menjalin hubungan dengan satu atau lebih lembaga misi dan utusan misinya agar mendapatkan pokok-pokok doa yang terbaru.

  3. Pribadi atau gereja perlu proaktif mencari informasi, mengikuti konsultasi-konsultasi, dan seminar-seminar misi yang diadakan agar mengerti langkah-langkah konkret lebih lanjut dalam merealisasikan pekerjaan misi di gereja. Sebagai contoh, memiliki komisi misi yang hidup di gereja, mengadopsi suku terabaikan dalam kelompok-kelompok doa, atau mendukung pekerjaan misi.

Pribadi dan Keluarga yang Bermisi

Mulailah dengan mendoakan pekerjaan misi secara pribadi dan dalam keluarga. Belajarlah memberi untuk misi. Bila persepuluhan dan persembahan sudah diperuntukkan bagi gereja secara khusus, masih banyak cara lain untuk memberi bagi pekerjaan misi. Beberapa di antaranya adalah:

1. Celengan Misi

Anak-anak kami memunyai celengan misi. Begitu pula dengan istri saya. Celengan misi ini tampaknya kecil dan sedikit. Namun, sedikit demi sedikit akan menjadi banyak juga. Prinsip yang saya ingat adalah ketika Rut mengumpulkan bulir-bulir gandum di ladang Boas, sedikit demi sedikit terkumpul cukup banyak juga.

Anak-anak kami diajar untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Mereka belajar bahwa uang kolekte tidak seharusnya lebih sedikit dari uang jajan mereka. Mereka diajar untuk beriman tetapi juga memberi bagi Tuhan. Melalui celengan ini, setelah jangka waktu tertentu ternyata cukup banyak yang terkumpul untuk dipersembahkan ke gereja atau lembaga misi lain.

2. Janji Iman

Janji iman dapat dibuat di luar perhitungan gaji yang sudah ada. Ada yang memenuhi janji imannya dengan bekerja lembur atau usaha lain agar hasilnya dapat diberikan untuk pekerjaan misi. Pada waktu di Afrika, saya berbicara dengan sekelompok pendeta-pendeta muda yang berkata bahwa mereka miskin dan tidak bisa mendukung utusan Injil. Waktu itu saya mengatakan kepada mereka bahwa ada banyak cara untuk mendukung pekerjaan misi secara finansial asalkan kita ada visi dan beban. Saya mengajak mereka berhitung:

Berapa uang makan sehari setiap orang? (Kira-kira Rp 10.000,00)

Berapa anggota jemaat yang aktif? (Kira-kira 100 orang)

Saya katakan bahwa jika setiap orang sehari dalam sebulan berpuasa dan berdoa untuk misi dan uang makan sehari itu dipersembahkan untuk pekerjaan misi maka akan terkumpul Rp 1.000.000,00/bulan hanya dari uang makan yang disisihkan untuk puasa 1 hari.

Saya juga mengajak berhitung seorang anak Tuhan di Indonesia yang berkata bahwa kita orang Kristen di Indonesia miskin sehingga tidak mampu untuk mendukung utusan Injil. Saya mengajak untuk menghitung berapa orang Kristen yang merokok di Indonesia ini. Jika angka kasar perokok Kristen adalah 2 juta orang yang masing-masing menghabiskan Rp 5.000,00 perhari untuk rokok, orang-orang Kristen di Indonesia setiap hari membakar uang sebanyak 10 milyar rupiah, setiap bulan 300 milyar rupiah dibakar dengan sia-sia. Angka itu akan lebih besar jika perokok Kristen lebih dari 2 juta orang. Jawaban dari para perokok yang saya temui mengatakan bahwa semakin mereka stres dalam masa krisis, semakin banyak rokok dihabiskan. Perhitungan ini belum termasuk berapa banyak uang yang kita belanjakan untuk sesuatu yang sebetulnya tidak kita perlukan. Di samping itu, sering kita tidak berdoa agar kita bisa membelanjakan uang dengan bijaksana, tetapi kita hanya berdoa jika kita membutuhkan uang.

Kita dapat memobilisasi keluarga kita untuk berdoa dan memberi bagi pekerjaan misi jika kita sendiri memulai untuk melakukannya. Tindakan kita berbicara jauh lebih kuat daripada perkataan kita.

Gereja dan Mobilisasi Misi

Gereja sangat berperan vital dalam menciptakan atmosfer misi. Jika misi tidak pernah dikhotbahkan di dalam gereja, tentu saja visi bermisi tidak akan pernah muncul di antara jemaat. Jika khotbah misi sering didengungkan di gereja maka pengetahuan dan visi jemaat akan dibukakan untuk mengerti pentingnya misi dan memenuhi mereka pada langkah-langkah keterlibatan konkret berikutnya, seperti adanya persekutuan doa untuk misi, departemen misi (juga disebut Komisi Misi) yang sehat, atau AD/ART untuk misi. Hal yang sederhana ini akan menjadi idealisme yang sukar dijalankan bila pengertian misi yang alkitabiah belum menyentuh dasar kehidupan gereja. Beberapa usulan kecil ini mungkin dapat dijalankan dalam banyak gereja.

  1. Sebulan atau 2 bulan sekali diadakan Minggu Misi, kebaktian misi yang semua acara dan khotbah terfokus pada misi. Jemaat dapat mengundang misionaris, pimpinan badan misi atau pendeta dari gereja yang misioner untuk menyampaikan firman Tuhan atau bersaksi. Adakan persembahan khusus untuk misi pada kebaktian itu yang ditujukan kepada tempat atau misionaris atau lembaga misi yang didoakan atau didukung.

  2. Minimal setahun sekali mengadakan pekan Misi dan Penginjilan, dengan mengundang pembicara-pembicara misi yang sudah melakukan langsung pelayanan misi selama ini.

  3. Jika telah memiliki gedung gereja sendiri atau menyewa di tempat yang permanen, ada baiknya menempelkan peta dunia, peta misi, serta surat-surat doa misi yang aman untuk bisa dilihat anggota jemaat. Hal tersebut dapat mengingatkan serta mendorong mereka untuk memikirkan dan melakukan pekerjaan misi.

  4. Memasukkan pokok-pokok doa misi dalam warta jemaat dan mendoakannya dalam doa syafaat.

  5. Mengutus pimpinan gereja atau majelis untuk mengikuti seminar atau konsultasi misi yang diadakan oleh lembaga-lembaga misi.

  6. Dalam program misi, berikanlah kepercayaan dalam kebebasan terkontrol untuk komisi misi dalam menjalankan programnya.

  7. Mengadakan perjalanan misi atau perjalanan singkat ke daerah-daerah dalam jangka waktu pendek untuk menangkap visi misi di lapangan.

  8. Bila memiliki perpustakaan gereja, isilah dengan buku-buku misi dan biografi dari para tokoh misi, seperti William Carey, Hudson Taylor, Sadhu Sundar Singh, David Livingstone, dan lain-lain yang dapat memberikan inspirasi kepada jemaat.

  9. Memiliki hubungan yang baik dengan satu lembaga misi atau misionaris.

  10. Yang paling penting di atas segalanya adalah keterbukaan kepada firman Tuhan dan Allah "Missio Dei".

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Hati Misi
Penulis : Bagus Surjantoro
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta 2006
Halaman : 115 -- 120

e-JEMMi 28/2010



Banyak Tantangan untuk Para Pekerja Lintas Budaya

Di Indonesia, banyak suku-suku terabaikan membutuhkan para pengerja Injil yang dapat memberkati mereka dengan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus, Juru Selamat dunia. Sayangnya, tidak banyak orang yang bersedia mengabarkan Injil dan mendirikan jemaat lintas budaya. Mereka yang bersedia pun menghadapi bermacam-macam tantangan. Boleh dikatakan, mereka yang melayani suku-suku terabaikan umumnya kurang disokong oleh gereja-gereja atau organisasi Kristen yang mengutus mereka. Mereka membutuhkan dukungan doa, dana, dan persekutuan yang menguatkan jiwa, perasaan, dan kerohanian mereka.

Pelayanan lintas budaya adalah tantangan yang cukup rumit dan berat. Pada umumnya, kita kurang mengerti bahwa setiap orang yang melayani suku lain harus belajar banyak tentang sifat, bahasa, dan cara hidup suku itu. Jika kita bergaul secara biasa dengan menggunakan bahasa Indonesia saja, maka banyak orang tidak akan mengerti maksud dan tujuan kita. Hal ini dapat diperlihatkan dalam lima pokok berikut.

  1. Bahasa
    Setiap bahasa yang terdapat di Indonesia mengandung ciri-ciri yang khas. Jika kita bicara soal rohani kepada seseorang, kita harus menguraikannya dengan bahasa yang paling cocok untuk orang itu. Jika tidak demikian, ada kemungkinan besar ia tidak akan menangkap maksud kita.

  2. Pandangan Hidup
    Pandangan hidup setiap suku terabaikan terdiri dari filsafat dan teologi mereka. Jika mereka memunyai pandangan hidup yang berbeda dari kita, maka mereka akan sukar untuk menerima Injil. Misalnya, jika seseorang memiliki pengertian tentang Tuhan, manusia, dosa, keselamatan, dunia gaib, dan sebagainya yang berbeda dari pandangan dunia Alkitab, ia tidak akan langsung mengerti Injil. Injil memunyai pandangan hidup tersendiri yang harus dijelaskan dengan contoh-contoh yang dapat ditangkap oleh orang itu.

  3. Nilai-nilai
    Kita harus mempelajari nilai-nilai yang dihargai oleh suku terabaikan itu. Pengertian kita akan nilai-nilai mereka membuka banyak peluang untuk Injil. Kita menghormati nilai-nilai mereka yang baik dan menguatkan nilai-nilai itu yang sesuai dengan pandangan hidup Alkitab.

  4. Kepemimpinan
    Cara kepemimpinan setiap suku juga memunyai ciri khas yang perlu diperhatikan oleh kita. Jika kita tidak berusaha memimpin jemaat baru dengan cara yang dapat dimengerti dan dihormati oleh mereka, maka mereka tidak akan merasa betah. Para penginjil perlu mempelajari cara kepemimpinan orang-orang yang mereka layani.

  5. Organisasi sosial
    Sistem organisasi sosial sebuah suku juga penting untuk kita pelajari. Misalnya, hampir setiap suku di Indonesia memegang sistem bapak/anak buah, tapi cara melaksanakannya cukup bervarisasi. Kita harus memerhatikan sistem-sistem sosial, seperti sistem kekeluargaan, sistem pendidikan, dan sistem-sistem masyarakat yang lain. Jika tidak, kita seolah-olah masih berada di luar ruang lingkup kehidupan mereka. Penyesuaian ini tidak begitu mudah dilaksanakan oleh seorang penginjil atau gembala yang berasal dari suku lain.

Kesimpulannya

Tidak heran jika sebagian besar para penginjil dan pendeta yang melayani suku-suku terabaikan tidak bertahan lama dalam pelayanan. Mereka merasa pusing karena tantangan-tantangan yang besar, kurang dibimbing untuk pelayanan yang berat itu, dan kurang didukung oleh gereja dan saudara-saudara seiman. Marilah kita memerhatikan para pekerja lintas budaya, mendoakan, dan menyokong mereka secara khusus agar mereka dikuatkan oleh Tuhan dalam mengemban tugas yang berat itu. Jika kita berusaha mengenal dan membantu para penginjil lintas budaya, kita juga telah mengambil bagian dalam pengabaran Injil kepada orang-orang yang belum pernah mengerti berita tentang Yesus Anak Allah.

Kiriman dari: Roger Dixon

e-JEMMi 20/2008

Beberapa Nasihat Praktis Tentang Doa Syafaat Misi

Jelas sekali bahwa Anda tidak bisa mendoakan seluruh dunia secara konkret dan efektif. Oleh sebab itu Anda harus selektif dengan cara:

  1. Pilih beberapa utusan Injil yang didoakan dengan setia.
  2. Pilih satu badan misi dan berdoalah untuk pelayanan mereka.
  3. Pilih satu atau dua negara, atau bagian negara untuk didoakan. Kumpulkan juga informasi-informasi, baik dari media cetak maupun elektronik supaya pengetahuan Anda tentang negara tersebut bisa seluas mungkin.

Apabila beban misi sudah jelas dan informasi sudah dikumpulkan, maka yang dapat Anda lakukan adalah:

  1. Mendoakan mereka secara teratur, misalnya setiap hari pada saat teduh atau dalam ibadah keluarga, supaya anak-anak pun dari kecil sudah belajar memanjatkan doa bagi misi.
  2. Menyalurkan pokok doa ke gereja (sekolah minggu, kaum muda, kaum ibu), dan persekutuan doa Anda, supaya mereka juga terlibat dalam doa misi.
  3. Membentuk suatu kelompok doa misi.

Jikalau satu orang Kristen mulai mendoakan utusan Injil, betapa senangnya hati Tuhan, sebab orang tersebut mengerti tujuan hidupnya sebagai orang Kristen. Namun biasanya iblis mencoba menghindarkan orang Kristen dari doa syafaat, supaya dia enggan berdoa. Lebih baik kalau berdoa dilakukan secara bersama-sama. Apabila satu orang Kristen sudah capai mendoakan utusan Injil, maka teman-teman yang lain bisa mengingatkan dan mendorong dia sehingga ia meneruskan doanya. Tuhan berjanji dalam Matius 18:19-20, "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab dimana dua tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada ditengah-tengah mereka." Ini merupakan suatu janji yang luar biasa. Tuhan sebagai Tuan atas dunia ini berjanji bahwa Ia akan mendengarkan doa umat-Nya. Oleh karena itu, marilah kita berdoa bagi utusan Injil dengan lebih sungguh-sungguh lagi.

Agar suatu kelompok doa misi dapat berjalan dengan baik, maka ada beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan:

  1. Sebelum pertemuan persekutuan doa berlangsung, pemimpin acara harus sudah menyiapkan pokok doa dengan teliti dan tidak dengan sembarangan, supaya jelas siapa dan negara mana yang akan didoakan. Yang penting bukan jumlah pokok doa yang akan didoakan melainkan doa-doa yang sesuai dengan kehendak Allah. Lebih baik apabila pokok doa ditulis di papan tulis atau overhead projector, atau bisa dalam kertas yang kemudian dibagi kepada anggota persekutuan doa.

  2. Sebelum menaikkan doa syafaat, lebih baik kalau didahului dengan renungan firman Tuhan, yang dibaca dan dijelaskan secara singkat. Kalau bisa diselingi dengan puji-pujian. Setelah itu maka pokok doa demi pokok doa dapat didoakan. Berdoa dapat dilakukan secara serentak atau diwakili oleh beberapa orang, dan yang lain berdoa dalam hati dan mengaminkan doa yang dipanjatkan kepada Tuhan. Tidak baik kalau semua pokok doa didoakan hanya oleh satu anggota persekutuan doa, sebab hal ini bisa menyebabkan yang lain merasa tidak enak, menganggur, dan bosan. Lebih baik kalau semua terlibat dalam doa syafaat. Kadang-kadang pemimpin kelompok doa harus menunggu sebentar, sebelum menaikkan doa berikutnya. Tetapi tidak harus menunggu terlalu lama. Pendoa harus bersuara keras, agar yang lain bisa mendengar doanya dan mengaminkan.

    Doa yang singkat adalah rahasia keberhasilan doa kelompok. Walaupun hanya satu atau beberapa kalimat yang diucapkan oleh masing-masing orang lebih baik daripada sebuah doa panjang lebar yang membosankan peserta lain. Orang tidak boleh dipaksa untuk berdoa. Kadang-kadang orang Kristen belum begitu biasa berdoa dengan suara dan oleh sebab itu mereka masih perlu waktu. Sangat penting bahwa doa-doa diucapkan secara spontan sesuai dengan hati mereka. Kristus sendiri menasehati murid-murid-Nya untuk berdoa yang singkat, sebab bukan jumlah kata yang diucapkan yang akan menentukan sebuah doa dikabulkan atau tidak. Matius 6:7-6 berkata, "Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya."

    Selain singkat, doa juga harus sederhana. Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah berdoa, akan sanggup mengucapkan sebuah kalimat sederhana yang muncul dari hati sanubarinya, jikalau pemimpin dan peserta-peserta lainnya menghindari memakai ungkapan-ungkapan yang rumit serta bahasa doa yang khusus. Jika kita tidak memakai ungkapan-ungkapan teologi yang muluk-muluk melainkan menjadi doa kita singkat, sederhana, dan tidak rumit, maka kemungkinan besar mereka akan datang kembali minggu berikutnya.

  3. Janganlah kita heran kalau ada tantangan. Hal ini biasa. Iblis tidak senang kalau anak-anak Tuhan berdoa, dan melalui doanya itu berhasil mengubah dunia yang masih hidup di dalam kegelapan (tersesat).

    Lukas 17:10 berkata, Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata, "Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami melakukan apa yang harus kami lakukan." Supaya segala pujian, syukur, dan hormat hanya bagi Allah, Tuan atas tuaian ini.

Diambil dari:

e-JEMMi 42/2010

Judul buku : Doa dan Misi
Judul artikel : Beberapa Nasihat Praktis Tentang Doa Syafaat untuk Misi
Penulis : Dr. Veronika J. Elbers
Penerbit : Departemen Literatur SAAT, Malang 2001
Halaman : 44 -- 49

Belajar Memahami Islam

Secara sederhana, istilah "Islam" berarti "tunduk berserah kepada Allah", dan yang disebut Muslim adalah orang-orang yang menaati hukum-hukum Islam serta aturan-aturannya. Agama Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad, yang oleh kaum Muslim dianggap sebagai nabi tertinggi. "Muhammad" bukan saja sebuah nama, tetapi juga sebutan yang artinya "Yang Dipuji-Puji".

Riwayat Hidup Muhammad

Muhammad lahir tahun 570 M di Mekah, sebuah kota di negeri Arab. Ia lahir dan dibesarkan dalam marga Hasyim dari suku Kuraish yang berkuasa. Ayah Muhammad meninggal sebelum ia dilahirkan, sesudah itu ibunya pun, Aminah meninggal dunia ketika ia berusia enam tahun. Kemudian ia tinggal bersama kakeknya yang bekerja sebagai penjaga Kaabah, sebuah tempat pemujaan di Mekah. Dua tahun kemudian, kakeknya pun meninggal dunia. Sehingga sejak usia delapan tahun, Muhammad dibesarkan oleh Abu Talib, pamannya. Pamannya ini adalah seorang pedagang yang sering berkeliling dengan kafilah-kafilah.

Muhammad dibesarkan pada masa keadaan ekonomi yang tidak menentu dan banyak orang tidak puas dengan adanya jurang besar antara orang kaya dan orang miskin. Penyembahan berhala marak di tanah Arab. Konon ada 360 dewa-dewi yang dipuja, dan kota Mekah merupakan pusat pemujaan berhala. Sejarawan Muslim mencatat, sejak kecil Muhammad sangat benci akan penyembahan berhala dan hidup bersih secara moral. Kemudian Muhammad dipekerjakan oleh Khadijah, seorang janda kaya, untuk mengurusi perdagangan kafilahnya. Ia mulai dikenal sebagai "Al-Amin", yang berarti orang yang dapat dipercaya. Pada usia 25 tahun, ia pun menikah dengan Khadijah. Perkawinan ini menghasilkan enam orang anak. Sayangnya, semua anaknya meninggal dalam usia muda, kecuali putri bungsu mereka (Fatimah). Muhammad dan Khadijah menikah selama 25 tahun. Setelah Khadijah meninggal dunia, Muhammad mempraktikkan kehidupan poligami dengan memiliki beberapa istri.

Pada usia empat puluh tahun, Muhammad mulai prihatin melihat keadaan bangsanya dan ia banyak menghabiskan waktunya untuk bertapa/menyendiri guna memikirkan hal-hal agama. Selama bulan Ramadan, ia sering mengasingkan diri ke sebuah gua di lereng Gunung Hira, sekitar lima kilometer dari Mekah. Pada masa-masa tahun 610 M, Muhammad mulai menerima pewahyuan dan pengajaran yang diyakininya benar telah disampaikan oleh malaikat Jibril dan menjadi cikal bakal kitab suci Al-Qur`an. Kaum Muslim juga memercayai catatan-catatan sejarah yang disebut "Hadis", yang memaparkan detail-detail kehidupan, pengajaran, dan hal-hal yang dilakukan oleh Muhammad. Sedikit banyak, kitab-kitab Hadis ini juga menjadi pegangan hidup umat Islam. Semasa hidupnya, Muhammad banyak bertemu orang yang menyebut diri Kristen. Tetapi dipertanyakan juga, apakah mereka itu benar-benar orang yang percaya? Selain itu, Muhammad juga banyak belajar mengenai aturan agama Yahudi dari masyarakat Yahudi yang tinggal di daerah sekitar. Akhirnya, Muhammad menjadi tokoh pemimpin politik dan agama di kota Madinah, sebuah kota di utara Mekah di mana sebagian besar penduduknya adalah orang-orang Yahudi. Warga Yahudi di Madinah tidak percaya bahwa Muhammad seorang nabi. Hal ini menimbulkan konflik yang tajam. Dalam kitab suci Al Qur`an terdapat banyak konsep-konsep dan kisah sejarah yang mulanya berasal dari agama Kristen dan Yahudi, meskipun sering kali ceritanya telah tampil dalam versi yang berbeda.

Muhammad mengklaim bahwa Al-Qur`an merupakan pewahyuan Allah yang "paling akhir" dan juga yang "paling benar". Ia melarang penyembahan berhala dan mengajarkan bahwa setiap Muslim harus benar-benar tunduk dan berserah kepada Allah. Ia mengajarkan umat untuk membasuh diri dan berdoa lima kali dalam sehari dengan berkiblat ke Mekah. Hari Jumat ditetapkan sebagai hari berjemaah di masjid. Muhammad meninggal dunia tahun 632 M di Madinah.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : SABDA.org: Arsip Doa 40 Hari
Judul artikel : [40-Hari-2005][x04] Belajar Memahami Agama Lain, Selasa, 27 September 2005
Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/2005/09-27/
Arsip 40 Hari Doa : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/

e-JEMMi 28/2008

Belajar dari Kota Makedonia

Apa yang sedang terjadi di negara Indonesia akhir-akhir ini, menguji kita untuk percaya bahwa tangan Tuhan tetap menyertai kita. Dalam masa-masa krisis seperti ini, masihkan kita percaya akan penyertaan Tuhan yang luar biasa, yang senantiasa memimpin umat-Nya untuk tetap kuat dan bertindak?

Dalam Kisah Para Rasul 13:1-2, kita melihat gereja mula-mula di Anthiokhia, sebagai jemaat yang kuat dalam doa dan terlibat aktif dalam misi. Merekalah yang mengutus Paulus dan Barnabas untuk melakukan pekerjaan misi. Merekalah yang mendorong Paulus dan Barnabas untuk melangkah dengan luar biasa dalam pekerjaan misi, sehingga mereka dapat melayani sampai ke daerah-daerah Makedonia, Akhaya, dan lainnya.

Hasil dari pelayanan Paulus dan Barnabas, khususnya jemaat Makedonia, memberikan informasi yang jelas bagaimana orang-orang di Korintus justru belajar memberi jemaat Makedonia, sehingga orang-orang di Yerusalem dan gereja lokal lainnya mendapat bantuan pekerjaan misi. Seperti yang tercatat di 2 Korintus 9:1-15, Paulus memberi contoh tentang orang-orang di Makedonia yang terlibat dalam pekerjaan misi, mereka memberikan uang sekalipun mereka bukanlah orang yang kaya/orang mampu. Mereka menginvestasikan uang mereka untuk jemaat di Yerusalem (pusat kegerakan misi), karena mereka sedang kekurangan bantuan.

Di sini, kita melihat sikap hati memberi yang luar biasa dari jemaat Makedonia, di tengah-tengah situasi yang kurang baik dan mungkin mengalami krisis, mereka tetap memberi. Melalui contoh ini, kiranya kita pun diingatkan seperti jemaat Makedonia yang sedang menghadapi krisis, bisa tetap memberi dengan hati yang berlimpah. Tujuannya bukan supaya semua orang dapat makan/berkecukupan, tapi tujuannya adalah supaya semua orang dapat mengucap syukur. Yang memberi mengekspresikan ucapan syukurnya dengan memberi, yang berkekurangan menerima pemberian itu, sehingga ia dapat mengucap syukur kepada Tuhan.

Diambil dan disunting dari:

Judul majalah : abbavoice, Edisi Sahabat Kota Kita , Volume 1
Judul artikel : Belajar dari Kota Makedonia
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : abbalove ministries, Jakarta
Halaman : 23 -- 24

e-JEMMi 14/2011

Berapa Jumlah Uang yang Harus Saya Persembahkan Bagi Penginjilan Tahun Ini?

Berapa jumlah uang yang harus saya persembahkan bagi penginjilan tahun ini, adalah pertanyaan yang terus menerus ada dalam benak saya. Melihat banyaknya orang yang haus akan Kabar Baik, saya terbeban untuk ikut serta dalam pekerjaan Tuhan. Tapi karena yang bisa saya lakukan saat ini adalah mendukung penginjilan dalam bidang keuangan, maka pertanyaan tersebut begitu bergejolak dalam hati saya. Hari demi hari, bahkan detik demi detik, Tuhan selalu siap sedia buat saya. Jadi, jika Anda adalah seorang yang tergerak mendukung penginjilan melalui dana, dan sedang bergumul dengan pertanyaan tersebut di atas, silakan Anda memilih salah satu jawaban di bawah ini sebagai jawaban pribadi.

  1. Jika saya tidak memberikan apa pun bagi penginjilan tahun ini, berarti saya menyetujui penarikan kembali para utusan Injil yang sedang melayani.

  2. Jika saya memberikan persembahan kurang dari jumlah tahun lalu, berarti saya menyetujui pengurangan jumlah utusan Injil, yang sebanding dengan pengurangan dana persembahan saya.

  3. Jika saya memberikan persembahan dengan jumlah yang sama seperti persembahan tahun lalu, berarti saya menyetujui agar apa yang ada pada hari ini dipertahankan, tetapi saya menentang setiap usaha untuk maju. Semboyan saya adalah, "Pertahankanlah benteng kita". Saya lupa bahwa Tuhan tidak menghendaki tentara-Nya hanya berlindung dalam sebuah benteng, sebaliknya Ia mau agar semua maju.

  4. Jika saya memberikan persembahan lebih banyak dari tahun lalu, berarti saya menyetujui adanya usaha kemajuan, sehingga utusan Injil dapat memenangkan daerah-daerah baru bagi Kristus. Saya tahu bahwa setiap kemajuan berarti bertambahnya jumlah biaya. Saya akan memberi persembahan lebih banyak lagi kepada badan misi yang setia pada Injil.

Allah menghendaki persembahan Anda. Kalau begitu baiklah Anda memberi dengan sungguh-sungguh, sehingga Anda dapat mengalami sukacita surgawi dalam hidup Anda. Kalau Anda memilih salah satu jawaban di atas, pilihlah jawaban terakhir sebagai jawaban terbaik, karena itu berarti Anda menghendaki adanya suatu kemajuan. Tetapi mungkin juga Anda tidak dapat menambah jumlah persembahan Anda, itu pun tidak apa-apa, sekurang-kurangnya itu mempertahankan kondisi penginjilan bukan? Saran saya, usahakan meningkatkan persembahan itu sebisa mungkin.

Diambil dari:

Judul majalah : HARVESTER, Edisi Maret/April, Tahun 1994
Judul artikel : Berapa Jumlah Uang yang Harus Saya Persembahkan Bagi Penginjilan Tahun Ini?
Penulis : Abraham Yuwono
Penerbit : Indonesian Harvest Outreach
Halaman : 10

e-JEMMi 14/2011

Berdoa Bagi Penginjilan dan Misi Dunia

"Kata-Nya kepada mereka: Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Matius 9:30)

Bagi yang Dikirim

  1. Doakan untuk kesempatan penginjilan dibuka. Paulus tidak berdoa agar ia dibebaskan saat ia dipenjara, melainkan ia meminta agar rekan-rekannya berdoa supaya ia mendapatkan kesempatan untuk mengabarkan Injil.

  2. Doakan untuk keberanian, agar penginjilan dapat dilakukan tanpa rasa takut karena ancaman atau takut karena merasa tidak mampu.

  3. Doakan agar Allah mengirimkan pekerja-pekerja untuk melakukan misi dan penginjilan di dunia. Doakan supaya orang-orang percaya baru di setiap kelompok suku bangsa membangkitkan para pekerja di antara masyarakat mereka sendiri. (Matius 9:36-38)

  4. Doakan untuk kebangunan rohani di gereja-gereja. Karena jika umat Tuhan mengalami kebangunan rohani, penginjilan akan pengalir dengan sendirinya. Doakan agar Roh Kudus memampukan setiap orang percaya untuk menggenapi tujuan penebusan mereka (Filipi 2:13, 4:6-7, Kolose 2:2-3, Yohanes 14:27, Titus 2:11-14)

Bagi yang Menerima

  1. Doakan negara-negara dan suku-suku yang belum terjangkau. Doakan penanaman gereja-gereja yang efektif di antara penduduk asli di setiap kelompok suku bangsa yang belum terjangkau.

  2. Perangi kuasa kegelapan yang mencengkeram dan membutakan mata rohani mereka (Efesus 6:10-18, 2 Korintus 4:4). Doakan supaya pesan-pesan Injil dapat dimengerti, diterima, dan mengubah hidup mereka.

  3. Doakan agar ada mimpi, penglihatan, dan mujizat bagi mereka yang belum terjangkau oleh Injil, agar mereka dapat mengenal Allah walaupun mungkin belum ada pekerja yang melayani di sana saat ini.

  4. Doakan adanya pertumbuhan dalam pemuridan serta perlindungan bagi orang-orang yang baru percaya (Kolose 1:9-14, Mazmur 5:11, Mazmur 10:17).

  5. Doakan keterbukaan serta niat baik dari semua otoritas terhadap Injil, termasuk keselamatan mereka yang memegang otoritas ini (Amsal 21:1, Yohanes 6:44, 1 Timotius 2:1-6).

  6. Doakan segala kebutuhan dan fasilitas untuk menjangkau suku-suku tersebut.

Diambil dari:

Judul buku : Kota Doa
Judul artikel : Berdoa Bagi Penginjilan dan Misi Dunia
Penulis : Jimmy B. Oentoro
Penerbit : Harvest Publication House, Jakarta 1998
Halaman : 289 -- 290

e-JEMMi 42/2010

Berdoa Kepada Allah

Bagaimana kita dapat memiliki doa yang berkuasa?

Kisah Para Rasul 12:5 menerangkan tentang doa kepada Allah yang berkemenangan dan doa yang mengakibatkan perkara-perkara besar terjadi. "Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah." Perhatikan perkataan "kepada Allah". Doa yang berkuasa adalah "doa yang ditujukan kepada Allah".

Tetapi ada sebagian orang yang berkata, "Bukankah semua doa itu tertuju kepada Allah?"

Tidak! Banyak doa, baik doa yang dilakukan bersama-sama maupun perseorangan, tidak ditujukan kepada Allah. Doa yang tertuju kepada Allah adalah doa yang dilakukan dengan mendekatkan hati kita kepada Allah sehingga kita memiliki keyakinan bahwa Allah mendengar doa kita. Dalam berdoa, kebanyakan dari kita hanya sedikit mengingat tentang Allah. Pikiran kita penuh dengan segala sesuatu yang kita butuhkan, bahkan pikiran kita mengembara ke tempat lain. Dalam doa semacam ini, tidak akan ada kuasa. Tetapi jika kita sungguh-sungguh masuk hadirat Allah dan berjumpa muka dengan muka dengan Dia di dalam doa, dan sungguh-sungguh mencari kehendak-Nya, maka doa kita mendapat kuasa.

Jadi jika kita mau berdoa dengan benar, hal utama yang harus kita lakukan adalah apakah kita sungguh-sungguh menyerahkan diri kita untuk menghadap hadirat-Nya. Sebelum mengajukan permohonan kepada Allah, kita harus datang kepada-Nya dengan sikap hati yang benar, percaya bahwa Ia mendengar permohonan kita, dan akan memberikan apa yang kita perlukan. Hal ini hanya terjadi dengan pertolongan Roh Kudus. Karena itu kita harus meminta pertolongan Roh Kudus untuk masuk hadirat Allah, dan jangan tergesa-gesa sebelum Ia membawa kita masuk dalam hadirat Tuhan.

Pada suatu malam, ada seorang pemuda Kristen yang bersemangat untuk mengikuti doa bersama yang sedang kami adakan. Sebelum berdoa, saya mengatakan kepada orang-orang yang mengikuti persekutuan doa tersebut agar mereka sungguh-sungguh ketika sedang berdoa, sungguh-sungguh merasakan hadirat Tuhan, dan pikiran mereka hanya tertuju kepada Tuhan. Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengan pemuda tersebut dan ia berkata bahwa pengalamam doa malam itu merupakan hal yang sama sekali baru baginya. Jika kita ingin berdoa dengan benar, maka perkataan ini harus tertanam di hati kita, yaitu "tertuju kepada Allah".

Rahasia kedua doa yang berkuasa terdapat dalam ayat yang sama (Kisah Para Rasul 12:5), yaitu "dengan tekun". Dalam bahasa Gerika, kata-kata itu mengandung arti yang menggambarkan hati yang penuh pengharapan kepada Tuhan. "Semangat yang tak kunjung padam" mungkin adalah peribahasa yang paling mendekati arti kata bahasa Gerika itu. Perkataan ini juga digunakan Tuhan Yesus dalam Lukas 22:44: "Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah."

Dalam Ibrani 5:7, dikatakan bahwa "dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan". Dalam Roma 15:30, Rasul Paulus mengatakan, "Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku." Kata "bergumul" di sini artinya sama dengan "berkelahi" atau "bergulat", seperti dalam pertandingan olahraga. Dengan perkataan lain, doa yang berkemenangan adalah doa di mana kita mencurahkan segenap jiwa kita dan dengan pengharapan yang penuh kepada Allah. Banyak doa kita yang tidak berkuasa karena hati kita tidak tertuju kepada Dia. Kita datang ke hadirat Allah dengan sejumlah permohonan, lalu cepat-cepat pergi meninggalkan hadirat-Nya.

Sering kali kita tidak bisa menjawab jika seseorang bertanya kepada kita untuk apa kita berdoa selama satu jam. Kita tidak dapat berharap kepada Tuhan agar Ia memberi perhatian lebih untuk menjawab doa-doa kita jika kita tidak menyerahkan hati kita sepenuhnya kepada-Nya.

Akhir-akhir ini, kita banyak mendengar tentang ketenteraman iman dari orang-orang percaya, tetapi kita jarang mendengar tentang pergumulan iman mereka di dalam doa. Ada juga yang mengira bahwa iman mereka sudah sampai pada tingkat tertentu. Hal-hal tersebut disebabkan karena mereka tidak pernah mengetahui tentang menggumuli sesuatu di dalam doa. Jika kita belajar menghadap hadirat Tuhan dengan penuh pengharapan, kita akan mengenal kuasa-Nya dalam doa yang tidak banyak diketahui oleh sebagian besar orang percaya.

Bagaimana kita dapat mencapai ketekunan dan kesungguhan dalam doa? Bukan dengan kekuatan kita sendiri kita dapat mencapai hal itu. Cara yang sebenarnya dijelaskan dalam Roma 8:26, "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." Jika kita hanya mengandalkan kekuatan kita, ini adalah usaha yang sia-sia. Ketekunan yang dikerjakan di dalam kita melalui Roh Kuduslah yang membuat kita berkenan di hadapan Allah. Sekali lagi, apabila kita ingin berdoa kepada Tuhan, kita harus meminta pimpinan Roh kudus untuk mengajari dan memampukan kita dalam berdoa.

Inilah yang menyebabkan kita perlu melakukan doa puasa. Dalam Daniel 9:3, kita melihat bagaimana cara Daniel datang menghadap hadirat Tuhan. "Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu." Ada orang yang berpikir bahwa puasa tidak berlaku bagi orang Kristen, apalagi pada zaman sekarang. Tetapi jika kita membaca Kisah Para Rasul 13:2-3, kita mendapati bahwa puasa dilakukan oleh orang-orang percaya pada zaman rasul-rasul.

Kalau kita mau berdoa dengan kuasa, kita harus berdoa dengan berpuasa. Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa kita harus berpuasa tiap kali kita berdoa. Tetapi ada saat-saat tertentu dalam kehidupan kita -- keadaan yang genting dalam pekerjaan, orang yang hendak undur dari Tuhan -- kita harus mendoakannya dengan segenap hati kepada Tuhan. Dalam doa yang seperti ini, ada kuasa yang luar biasa. Untuk mengatasi masa-masa sukar di dalam kehidupan kita, maka kita harus berdoa disertai dengan berpuasa. Kita tidak dapat menghadap hadirat Allah dengan sikap hati yang angkuh, yang hanya mementingkan dan menyenangkan diri sendiri. Saat kita datang ke hadirat Tuhan, maka kita harus menanggalkan segala beban yang berpusat pada kepentingan diri sendiri agar kita dapat masuk ke hadirat Tuhan dan menerima berkat yang telah Ia sediakan.

Rahasia ketiga dari doa yang berkuasa yang juga dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 12:5 adalah "doa jemaat Allah". Ada kuasa yang berlimpah-limpah pada saat kita bersekutu bersama orang percaya di dalam doa. Allah berkenan kepada persekutan anak-anak-Nya dan Ia berusaha menjelaskan hal ini dengan bermacam-macam cara, karena itu ia memberi berkat yang istimewa kepada persekutuan doa. Dalam Matius 18:19 dikatakan, "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga." Akan tetapi ayat ini tidak menerangkan jika dua orang sehati meminta, tetapi jika dua orang sehati di dalam meminta hal yang akan dipintanya. Dua orang bisa jadi sehati dalam meminta sesuatu, tetapi tidak benar-benar sehati di dalam sesuatu hal yang dipintanya. Seseorang bisa jadi meminta hal tersebut karena ia menginginkannya, yang seorang lagi boleh jadi meminta hal itu untuk menyukakan hati temannya. Tetapi di mana ada persekutuan yang benar, di mana ada Roh Allah yang mendatangkan kesatuan di antara dua orang beriman di dalam doa tentang sesuatu yang boleh diminta kepada Allah, atau di mana Roh Allah menaruh beban yang sama di dalam dua hati, maka di dalam doa-doa semacam itu, ada kuasa penuh yang tidak ada tandingannya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Bagaimana Kita Patut Berdoa
Penulis : R. A. Torrey
Penerjemah : R. G. Johannes
Penerbit : Christian Literature Crusade, Surabaya
Halaman : 22 -- 28

e-JEMMi 41/2008

Berdoa untuk Orang Lain

Pada malam perjamuan terakhir, Tuhan Yesus berkata, "Simon, Simon ... Aku telah berdoa untuk engkau ..." (Lukas 22:31-32). Dan kita pun mengikuti teladan Kristus itu setiap waktu.

Suatu hari, saya mengunjungi seorang ibu tua yang lemah dan telah menderita selama bertahun-tahun. Ia berpaling kepada saya lalu bertanya, "Menurut Bapak, mengapa Tuhan masih menginginkan saya di dunia ini?" Saya diam karena tak tahu jawabnya. Lalu ia mulai bercerita tentang anaknya. Anak itu telah menempuh jalan hidup yang sesat. Ketika mendengar cerita ibu itu, saya teringat akan kata-kata dalam sebuah syair: "Saya tahu kasih siapa yang masih tetap mengikuti saya, oh ibuku." Meskipun ibu itu merasa kecewa akan anaknya dan kenyataannya anak itu telah berulang kali menghancurkan hatinya, ia tetap mengasihi anaknya. Akhirnya, ia menjawab pertanyaannya sendiri, "Tuhan ingin saya tetap di sini agar saya dapat mendoakan anak saya."

Sering kali, kita merasa tak berdaya, tapi kita selalu dapat berdoa. Berdoa untuk orang lain bukan saja merupakan kehormatan, melainkan juga kewajiban yang sungguh-sungguh harus ditaati. Nabi Samuel berkata: "... jauhlah daripadaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakanmu ..." (1 Samuel 12:23). Orang-orang Kristen mendoakan orang lain yang mereka kasihi dan orang-orang yang sulit untuk dikasihi. Yesus mengatakan, "...dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44).

Jika kita berbicara tentang orang yang kita benci, akhirnya api panas dari kebencian di dalam diri kita akan dipadamkan lalu kita akan mulai melihat orang itu dengan pandangan roh Tuhan sehingga kita dapat mengatakan, "Bapa, ampunilah mereka."

Bila kita berdoa untuk mereka yang kita kasihi dan yang memerlukan pertolongan, kita mengembangkan pengharapan dengan kekuatannya yang senantiasa bertahan sepanjang hidup kita.

Bila anak kita sakit, kita akan merasa lega jika dokter datang karena kita tahu bahwa ia dapat berbuat sesuatu bagi anak kita. Dan bila kita membawa seseorang yang membutuhkan pertolongan ke dalam tangan Tuhan, kita akan merasakan damai dalam hati kita, sebab berdoa untuk orang lain berarti menolong diri kita sendiri.

Bila Yesus berkata, "Simon, Aku telah berdoa untukmu," Simon berbesar hati. Bila Martin Luther merasa kuat dan bahagia, ia mengatakan, "Saya merasa seolah-olah ada orang yang mendoakan saya." Orang yang mendapat kritik dari orang lain akan merasa tertekan, tapi jika ia tahu bahwa ada orang yang berdoa untuknya, maka ia akan memperoleh sumber kekuatan yang dapat membuatnya bertahan.

Pada masa-masa sulit dalam sejarah Inggris, Cromwell menulis surat kepada laksamana-laksamana di laut: "Banyak doa dipanjatkan untuk kita setiap hari, hal ini merupakan dorongan semangat yang besar."

Saya tahu bahwa banyak orang berdoa untuk saya, dan saya berterima kasih kepada mereka semua. Beberapa waktu yang lalu ada beberapa orang anggota gereja lain menceritakan kepada saya tentang kekurangan-kekurangan pendetanya. Saya menceritakan kepada mereka bagaimana Paulus meminta agar umatnya mendoakan dia. Dalam setiap surat yang ia tulis, ia minta agar didoakan, kecuali kepada umat di Galatia. Saya lalu menyebut nama-nama pengkhotbah yang cara pelayanannya menunjukkan kemajuan pesat bila mereka tahu bahwa ada orang-orang di dalam gerejanya yang secara tetap mendoakan mereka. Jika seseorang tahu bahwa orang-orang lain berdoa untuknya, maka ia sendiri akan menolong orang itu dengan doanya.

Bila saya mendoakan orang lain, berarti saya tergerak melakukan sesuatu untuk menolong orang itu. Dan sering kali usaha orang yang mendoakan itu cukup untuk menjawab doa itu. Contohnya, jika saya berdoa untuk seseorang yang sedang sakit. Mungkin salah satu faktor yang menyebabkan penyakitnya ialah karena orang itu merasa kesepian, putus asa, dan kehilangan gairah untuk hidup. Sebagai hasil dari doa saya, saya merasa tergerak untuk menaruh perhatian dan menunjukkan sikap kasih sayang yang mungkin dapat mengubah sikap mental si penderita, dan hal ini bisa jadi merupakan titik balik antara penyakit dan kesehatan. Jika saya berdoa untuk seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi, saya tergerak untuk menolong dia dengan memberi atau meminjamkan sebagian dari milik saya. Jika saya berdoa untuk jiwa seseorang, saya tergerak untuk mengundang dia pergi ke gereja bersama-sama. Jika saya berdoa untuk kesejahteraan lingkungan saya, maka saya akan menyediakan lebih banyak waktu lagi untuk pelayanan lingkungan saya. Bila saya berdoa untuk orang lain yang lemah, saya membawa kekuatan yang datang dari Allah untuk dipusatkan pada kehidupan dan keadaan orang itu. Alkitab berkata, "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia, dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni, karena itu, hendaklah kamu saling mendoakan." (Yakobus 5:14-16)

Perhatikanlah terutama kata-kata "doa yang lahir dari iman". Kita tahu bahwa iman merupakan fondasi utama dari doa, tapi di sini kita melihat bahwa orang yang didoakan tidak selalu harus memiliki iman. Allah dapat menjawab doa karena iman yang mendoakan. Saya dapat mendoakan orang yang tidak memiliki iman, tapi jika saya memanjatkan doa yang lahir dari iman, maka Allah akan menjawab doa saya.

Di atas kayu salib, Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka ..." (Lukas 23:34). Jelas bahwa Tuhan Yesus tidak akan memanjatkan satu doa yang mustahil. Ia tahu bahwa mereka yang telah menyalibkan Dia adalah orang-orang yang tak menyesali perbuatannya dan tak memiliki iman. Walaupun demikian, Tuhan dapat mengampuni mereka karena doa yang telah dipanjatkan untuk mereka lahir dari iman Yesus Kristus.

Apakah Anda pernah berdoa untuk seseorang tapi belum terkabul? Setiap doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh harus disertai kata-kata Kristus, "... tapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi." Dan mungkin jawaban yang Anda nantikan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Atau, mungkin Allah memunyai alasan-alasan tertentu sehingga tidak segera menjawab doa Anda.

Mari kita ingat kata-kata pemazmur, "... bergembiralah karena Tuhan maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu, serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia." (Mazmur 37:4, 5, 7)

Tapi mungkin pula doa Anda tidak terjawab karena Anda tidak berdoa dengan saksama dan saya yakin bahwa beberapa orang mendapatkan jawaban yang lebih lengkap dari orang lain karena mereka tahu cara berdoa yang lebih baik. Berikut ini saya uraikan cara berdoa yang baik untuk orang lain.

  1. Berdoalah sungguh-sungguh untuk orang itu. Bayangkanlah orang itu dengan jelas di dalam pikiran kita, sehingga kita seolah-olah dapat melihat dia di hadapan kita. Pastikanlah secara tegas sedapat mungkin apa yang menjadi kebutuhan orang itu dengan mempertimbangkan keadaan hidupnya.

  2. Dengan membayangkan orang yang bersangkutan di dalam pikiran kita, pusatkanlah pikiran kita kepada Allah. Untuk ini, saya sering membayangkan suatu kejadian tertentu dalam kehidupan Kristus yang cocok dengan kasus orang itu. Misalnya, jika orang yang saya doakan itu memerlukan kebutuhan jasmani, ingatlah kejadian ketika Kristus memberi makan orang banyak. Jika hidup orang itu tidak benar, ingatlah akan Ia yang berkata, "Pergilah, jangan berbuat dosa lagi." Jika orang itu sakit, ingatlah kepada wanita yang menjamah jubah Yesus. Kita pusatkan pikiran kita kepada Allah dan orang itu bersama-sama.

  3. Di dalam doa kita, angkatlah orang itu di hadapan Allah. Kita jangan mencoba menceritakan kepada Tuhan apa-apa yang tidak kita ketahui. Demikian pula jangan mencoba mendesak Allah untuk berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Ingatlah kata-kata Agustinus: "Tanpa Tuhan kita tidak bisa, tanpa kita Tuhan tidak mau." Pandanglah diri kita sendiri sebagai perantara manusiawi yang diperlukan untuk mempertemukan orang itu dengan Allah.

  4. Ceritakanlah kepada Allah apa yang tersimpan di dalam hati kita. Namun, ingatlah untuk berdoa secara positif. Jangan memusatkan doa kita pada kelemahan, penyakit, atau dosa orang itu, melainkan pusatkanlah pada kekuatan orang itu dan bayangkanlah di dalam hati dan pikiran kita suatu jawaban yang kita kehendaki lalu bayangkan orang yang menerima jawaban itu. Jadi, berdoalah dengan penuh pengharapan.

  5. Berdoalah terus sampai jawaban Tuhan kita terima. Pada tahun 1872, Profesor John Tyndall, seorang ilmuwan Inggris, menyatakan bahwa doa itu sesungguhnya tak ada gunanya. Untuk mempertahankan pendapatnya itu, ia menantang orang-orang Kristen untuk mengadakan tes. Ia berkata, "Pergilah ke rumah sakit dan bagilah penderita-penderita di dalam dua kelompok. Pastikanlah bahwa mereka menderita penyakit yang hampir sama dan mereka menerima perhatian medis yang sama pula. Lalu biarlah orang-orang Kristen mendoakan kelompok yang satu sedang kelompok yang lain diabaikan. Selanjutnya kita akan menyaksikan apakah ada kemajuan-kemajuan yang terlihat pada orang-orang yang didoakan itu.

Percobaan itu sama sekali tak masuk akal. Kita tak dapat membagi orang-orang sakit dalam kelompok sesuai dengan sakit dan penderitaan yang identik. Kita juga tak dapat memastikan apakah setiap kelompok mendapatkan pelayanan medis yang sama. Tapi yang lebih penting, kita juga tak dapat memastikan apakah tak ada di antara orang dalam kelompok yang diabaikan itu yang tidak didoakan oleh orang yang mengasihinya. Namun, jika percobaan itu dapat dilaksanakan, pasti dapat dibuktikan bahwa doa akan menimbulkan perbedaan.

Doa bukan saja efektif terhadap orang sakit, tapi juga memunyai kekuatan untuk mengisi setiap kebutuhan dalam hidup kita. Berulang kali saya memberikan nasihat kepada seorang istri maupun suami yang pernikahannya kurang bahagia, "Tanpa diketahui oleh yang lain, berdoalah dengan sungguh-sungguh." Sering kali saya menyaksikan bahwa doa berhasil saat segala usaha lain gagal.

Suatu hari, seorang wanita menelepon saya dan bertanya apakah saya mengenal seorang pendeta di Los Angeles. Ia bercerita kepada saya tentang saudaranya yang membutuhkan pertolongan Tuhan dan ia ingin agar pendeta itu mendoakan saudaranya. Saya berkata, "Mengapa bukan Anda dan saya yang mendoakan dia?" "Oh, dia berada terlalu jauh dari kita," kata wanita itu. Lalu saya menunjukkan kepadanya bahwa saya dapat segera memutar telepon dan menghubungi pendeta itu. Ini disebabkan tenaga listrik. Lalu saya menunjukkan pula bahwa Allah yang telah menciptakan tenaga itu dan jika suara saya dapat diteruskan ke benua lain, maka masuk akal jika kita percaya bahwa Allah juga dapat membawa doa saya dan mengirimkannya ke mana saja.

Sering saya teringat akan syair pendek yang ditulis oleh Ethel Romig Fuller dalam bukunya "Proof" (Bukti). Terjemahannya sebagai berikut:

Jika jari-jari radio yang ramping dapat memetik melodi di tengah malam buta, lalu memantulkannya menyeberangi laut dan benua, jika nada-nada biola laksana daun-daun bunga dihembuskan melampaui gunung dan kota, jika lagu seperti bunga mawar merah bertaburan dari ruang angkasa, mengapa manusia yang fana, merasa heran jika Tuhan dapat mendengar doa kita?

Bayangkanlah seseorang di dalam satu ruangan sebuah rumah dan Tuhan berada di ruang sampingnya. Di antara kedua ruang itu terdapat dinding penyekat. Jika kita berdiri di pintu yang menghubungkan kedua ruang itu, kita dapat melihat mereka yang berada di masing-masing ruang. Yang satu dapat berbicara kepada yang lain melalui kita. Mungkin kita memunyai hubungan dengan beberapa orang yang memerlukan pertolongan Tuhan. Di antara Tuhan dan orang itu ada sebuah dinding penghalang. Mungkin dinding itu berupa rasa tidak percaya, sikap acuh tak acuh, atau cara hidup yang salah. Tapi karena kita memunyai hubungan baik dengan orang itu dan juga dengan Tuhan, maka kita dapat menjadi penghubung antara keduanya. Dan, dengan doa-doa kita, kita menyampaikan kebutuhan orang itu kepada kuat kuasa Tuhan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Segala Sesuatu Mungkin Melalui Doa (Jilid 2)
Penulis : Charles L. Allen
Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta 1988
Halaman : 39 -- 44

e-JEMMi 41/2009

Berilah Saya Sesuatu yang Dapat Saya Pahami

Pengantar:

Ada banyak orang skeptis di sekitar kita, termasuk di antara mereka adalah orang-orang ateis. Artikel berikut ini akan menolong Anda untuk memahami kebutuhan mereka, khususnya yang benar-benar sedang mencari kebenaran. Selamat menyimak.

"BERILAH SAYA SESUATU YANG DAPAT SAYA PAHAMI"
Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Apakah Anda pernah memerhatikan bahasa tubuh orang skeptis yang menghadiri acara yang diperuntukkan bagi mereka yang mencari kebenaran? Sering kali para skeptis bersikap menantang, seperti mengubah posisi duduk atau memicingkan mata mereka ketika seorang pembicara menuju mimbar, seolah-olah dengan bersikap begitu mereka sedang berkata, "Teruskan saja, serang aku dengan jurus terbaikmu. Pertahananku sangat kuat; ayo kita lihat apakah kamu bisa menembusnya."

Banyak orang skeptis menantikan khotbah yang baik dan menarik. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengupayakan agar hal itu terjadi? Bagaimana berkomunikasi dengan para skeptis? Ada tujuh karakteristik khotbah yang dapat membuat orang-orang skeptis tertarik untuk mendengarkan. Poin ini juga berguna bagi orang Kristen dalam mendiskusikan hal-hal yang sifatnya rohani kepada mereka yang belum percaya.

  1. Judul yang membangkitkan minat.

    Suatu survei membuktikan sekitar 54 persen dari orang skeptis "sangat" atau "sedikit banyak" tertarik mengetahui judul khotbah yang akan disampaikan. Alasannya adalah karena waktu sangat berharga dan mereka tidak mau membuang waktu hanya untuk mendengarkan khotbah yang tidak relevan dan tidak menarik perhatian mereka. Selain itu, judul harus dapat membangkitkan minat dan meyakinkan bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan dari investasi waktunya.

  2. Khotbah-khotbah dengan bobot tinggi.

    Para skeptis ingin mengetahui lebih banyak mengenai Alkitab. Mereka berharap Alkitab dapat menolong mereka dalam menghadapi persoalan hidup, seperti menyembuhkan luka, meredakan amarah, menyelesaikan konflik, menenangkan ketakutan, mengatasi kesepian, meningkatkan peranan sebagai orang tua, memerbaiki hubungan, dan memahami diri sendiri. Dengan memahami apa yang menjadi kebutuhan mereka, diharapkan khotbah yang disampaikan dapat membuat para skeptis menemukan apa yang mereka butuhkan.

  3. Khotbah-khotbah itu membahas pertanyaan "apa" dan "mengapa".

    Orang-orang skeptis membutuhkan khotbah yang tidak hanya mengatakan apa yang Tuhan perintahkan, tetapi juga menjelaskan mengapa Tuhan memerintahkannya. Contohnya, saat membahas topik seputar seks di luar nikah, sebaiknya tidak hanya menjelaskan bahwa perbuatan tersebut melanggar perintah Tuhan, tetapi juga menjelaskan mengapa Tuhan memberi batasan-batasan dalam hubungan seksual. Hal ini karena Tuhan mengetahui kehancuran emosional yang kita alami ketika kita terlibat hubungan intim dengan seseorang di luar pernikahan. Ia memahami rasa kesepian yang muncul ketika keintiman berakhir dengan perpisahan. Ia memahami rasa bersalah dan malu yang menghantui. Ia memahami risiko penyakit-penyakit seksual. Ia memahami bahwa ketika kehamilan terjadi, sering kali sang ayah pergi dan meninggalkan sang ibu dengan beban membesarkan si anak sendirian. Dan Ia paham bahwa dibesarkan oleh orang tua tunggal membuat si anak menghadapi berbagai risiko di hampir setiap bidang kehidupan -- emosional, intelektual, perilaku, keuangan, dan bahkan secara fisik. Ini alasan mengapa Tuhan membuat batasan terhadap seksualitas. Ketika orang skeptis mengetahui bahwa perintah Tuhan dimotivasi oleh kasih dan perhatian-Nya yang besar bagi mereka, dan bukan untuk membatasi kesenangan, maka mereka akan menjadikan Kristus sebagai Allah mereka.

  4. Khotbah-khotbah itu janganlah yang "lebih suci dari engkau".

    Orang skeptis tidak suka diremehkan. Cepat atau lambat, mereka akan mengetahui motivasi sang pembicara. Mereka akan merespons dengan baik jika pembicara dapat menjadi sahabat untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan secara terbuka.

  5. Khotbah-khotbah itu memakai bahasa "saya".

    Orang-orang Kristen memahami istilah-istilah seperti "penebusan" dan "kebenaran". Orang-orang skeptis menghargai istilah-istilah tersebut, tetapi beberapa orang Kristen tidak menghargainya. Alan Walker berkata, "Ada semacam penyembahan berhala dalam hal bahasa yang sedang berkembang dalam penginjilan. Banyak orang yang jika tidak mendengar frasa-frasa dan kata-kata dengan bahasa yang biasa mereka dengar, terkadang mereka mengklaim bahwa yang sedang dikhotbahkan itu bukan Injil yang dimaksud."

  6. Khotbah-khotbah yang menjawab berbagai pertanyaan saya.

    Banyak orang Kristen mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang Kristen lain, contohnya ketika mereka membicarakan mengenai baptisan, apakah harus diselamkan atau dipercikkan. Namun sangat disayangkan, beberapa dari mereka sangat ceroboh ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang skeptis. Kita perlu mengingat kembali bahwa satu hal yang menarik perhatian para skeptis ketika menghadiri sebuah ibadah adalah khotbah yang disampaikan hendaknya menjawab hal-hal yang mereka butuhkan, bukan hanya sekadar memberi keterangan atau penjelasan yang membingungkan mereka.

  7. Pembicaranya kelihatannya benar-benar menyukai saya.

    Anda tidak akan pernah mampu menjalin persahabatan dengan para skeptis jika Anda tidak mengasihi mereka. Salah satu syarat agar dapar menjalin hubungan dengan mereka adalah dengan menyayangi dan menerima mereka apa adanya.

    Rasul Paulus berkata, "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna, untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." (1 Korintus 13:1-2)

    Dua sisi yang saling berhubungan adalah jika kita memedulikan para skeptis, maka kita akan tergerak untuk menjalin hubungan dengan mereka. Kita akan memahami apa yang mereka pikiran ketika kita berusaha untuk mengenal mereka. Selanjutnya kita dapat menyampaikan berita keselamatan yang sangat mereka butuhkan bagi kehidupan mereka saat ini maupun di masa yang akan datang.

Diringkas dari:

Judul buku : Inside The Mind of Unchurched Harry and Mary
Judul artikel : "Berilah Saya Sesuatu yang Dapat Saya Pahami"
Penulis : Lee Strobel
Penerjemah : Jonathan Santoso
Penerbit : Majesty Books Publishers, Surabaya 2007
Halaman : 215 -- 225

e-JEMMi 5/2008

Berkat Allah Bagi Semua Bangsa Sesuai Tuntutan Karakter-Nya

Beberapa tahun yang lalu, saya membawa tim praktik ke sebuah desa di daerah perang -- negara Angola. Kami disambut hangat oleh 20 orang penduduk, yang rata-rata bertubuh kurus, kami pun segera sadar bahwa mereka sedang dalam keadaan berputus asa. Mereka telah kembali ke desa 6 bulan lalu, sebelum terjadi peristiwa kebakaran. Panen jagung mereka gagal dan mereka semua tidak memiliki makanan sekarang. Salah seorang ibu menyusui bayinya namun ia terlau lemah untuk berjalan, bahkan terkena anemia. Yang lain mendatangi kami sambil membawa bayinya, dan saya begitu terkejut serta prihatin melihat kondisi bayi kecil itu. Ia kurus, pucat, kekurangan gizi, dan sangat kelaparan, hingga mengalami dehidrasi. Tidak satu pun dapat dilakukan ibunya dan dari wajah sang ibu terpancar keputusasaan. Tampak jelas bahwa saya terlambat menyelamatkan bayi itu. Kondisinya sangat parah dan ia sudah tidak mampu menangis lagi.

Apakah respons kita? Kita seharusnya merespons dengan cara Tuhan. Ia penuh kasih, baik, murah hati, dan pemurah. Jika kita berdoa dan menghayati doa Bapa kami, "Datanglah kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu", kita seharusnya hidup merespons-Nya ketika melihat kekerasan, penderitaan, ketidakadilan, kekacauan, dan korupsi. Kami membawa bayi itu ke rumah sakit terdekat di kota, memberikan beberapa vitamin kepada sang ibu, dan mengatur pengiriman makanan ke desa tersebut. Tidak ada tindakan yang lebih cepat dilakukan di negeri berlatar perang itu, tetapi kita dapat merespons dengan tindakan nyata. Beberapa hari kemudian, kami mendapat kabar bahwa kehidupan bayi itu berhasil diselamatkan.

Ada perdebatan panjang di gereja, apakah kita harus berfokus pada pemberitaan Kabar Baik atau kita harus menghindarinya dengan menarik diri dari pemberitaan itu, dan hanya berkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan orang-orang. Pada saat kanak-kanak, saya pergi ke gereja pada setiap hari Minggu, di gereja yang bebas. Khotbah mereka hanya ditujukan pada memiliki hidup yang baik di bumi dan menolong orang-orang yang susah. Ketika saya kuliah, saya diajarkan segala sesuatu menyangkut bahaya buruk "Injil sosial". Kita harus pergi dan memberitakan kebenaran supaya terbentuk gereja-gereja yang kuat. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan duniawi orang dianggap berbahaya, dan akhirnya merupakan ancaman yang dapat menghilangkan fokus pada kekudusan berita Injil.

Tampaknya, saya tidak dapat menerima kedua hal itu. Mengapa? Anda tidak dapat percaya bahwa keselamatan pribadi hanya melalui pendamaian Yesus bagi dosa-dosa kita itu penting jika Anda tidak menganggap Allah itu suci dan menuntut pemuasan terhadap tuntutan hukum yang Ia telah berikan. Kemudian, Anda hanya dapat percaya bahwa kebutuhan-kebutuhan masyarakat tidaklah penting jika Anda berpikiran bahwa Allah tidaklah sepenuhnya mengasihi atau memelihara kehidupan kita sekarang. Segala sesuatu bergantung pada karakter Allah. Allah itu kudus, benar, penuh belarasa, mengasihi, baik, suci, sabar, setia, dan adil. Jika kita menghayati kehidupan-Nya di dunia, sebagaimana yang diajarkan Alkitab, kita seharusnya memiliki karakter yang sama, atau sedikitnya mencapai sasaran ini.

Jika pemerintah kita korup, kita harus mencoba dan mengubah situasinya. Karakter Allah menuntut perubahan tersebut. Jika seni mengajarkan sesuatu yang tidak kudus kepada suatu negara, kita harus menentangnya. Karakter Allah menuntut perlawanan tersebut. Jika kaum minoritas dipaksa menjadi pelaku tunasusila, kita harus datang dengan strategi untuk mencoba mengakhirinya, atau setidaknya mencegah ledakan pertambahannya. Karakter Allah menuntut tindakan tersebut. Jika wanita dilecehkan dan ditindas dalam suatu masyarakat, kita harus mencari jalan untuk memberi mereka martabat dan kesempatan. Karakter Allah menuntut upaya tersebut.

Banyak kompleksitas menghadapi kita ketika kita mulai membicarakan pokok memberkati bangsa-bangsa. Bagaimana kita pergi ke budaya primitif dan mulai mendesak mereka untuk memerintah diri mereka sendiri? Bukankah ini semacam ideologi kolonisme? Bagaimana jika hal itu tidak berhasil dalam keadaan normal? Bagaimana kita membuat perubahan di bawah kungkungan tekanan ketika orang-orang percaya adalah kaum minoritas dan semua orang melawannya? Apakah kita kehilangan pijakan otoritas kenabian, jika gereja secara institusi melibatkan diri di dalam politik yang berbahaya? Bagaimana jika kita kehilangan pentingnya kepercayaan bahkan keselamatan kekal kita? Sesungguhnya, kita akan berurusan dengan berbagai hal ini dan banyak lagi pertanyaan lain. Pada akhir semua diskusi, entah apa pun keprihatinan pribadi kita dan apa pun kejutan strategis kita, kita harus mencapainya dengan karakter Allah. Pandangan kita tertuju pada "kebendak-Mu jadi di bumi seperti di surga". Kehendak-Nya tidak dapat lepas dan hanya ditujukan pada kekekalan. Banyak ayat Alkitab mendorong kita pada kesimpulan ini.

Di dalam buku "Rise of Christianity", sosiolog Rodney Stark, sebagai seorang ilmuwan sosial yang netral, menulis mengenai atribut terbesar dari kemenangan iman orang percaya di Kerajaan Roma terhadap moralitas yang berbeda, dan bahwa strata etnis orang-orang percaya tidak keluar dari kebudayaan itu. Sepanjang penganiayaan terbesar pada tahun 165 M dan terulang kembali pada tahun 251 M, respons terhadap orang-orang yang belum percaya di Roma dan terhadap orang-orang yang sudah percaya benar-benar berbeda. Dionysius, bapa gereja dan bishop di Alexandria, menghubungkan bagaimana orang-orang percaya berkumpul di kota untuk melayani mereka yang berkebutuhan, walaupun hasilnya menyebabkan banyak dari mereka yang mati. Sementara itu, orang-orang melarikan diri, meninggalkan kerabat yang sakit dan kekasih mereka yang akan meninggal. Pelayanan kurban oleh orang-orang percaya ini sangat berpengaruh sehingga kelompok kecil orang Yahudi itu berkembang menjadi agama resmi di kerajaan terbesar di bumi. Kekristenan juga menjadi fondasi utama bagi etika ideal dan moralitas di Barat. Siapa akan menyanggah bahwa kita dapat mengupayakan perubahan?

Perhatikan, bahwa perubahan peradaban Barat bukan karena pengambilalihan institusi kekuasaan oleh kekristenan, melainkan karena mereka membangunkan hati nurani Kerajaan itu. Mereka menawarkan cara hidup yang lebih baik dan hidup dengan cara yang benar. Untuk mengubah sesuatu di dalam suatu negara, diperlukan banyak usaha dan dana. Artinya, apakah kita berpikir dalam konteks kompetisi, tempat ada yang menang dan ada yang kalah, untuk memperebutkan orang-orang dan sumber daya? Kecenderungan itu sekarang sudah berbaur menjadi perdebatan tentang memberkati bangsa-bangsa. Kita suka mendengar pernyataan seperti ini, "Kita perlu menghentikan semua perhatian utama pada mereka yang belum terjangkau dan berpusat saja pada sumber daya kita yang terbatas, ini juga akan memberkati bangsa-bangsa". Inilah dikotomi yang salah.

Pada Matius 28:18-20, kita diberi amanat khusus untuk memuridkan "semua bangsa". Bagaimana itu dimungkinkan? Dapatkah Tuhan itu relatif dalam keadilan, kebaikan, dan kemakmuran di dalam suatu masyarakat di Barat dan mengabaikan bagaian-bagian masyarakat lainnya? Apakah Tuhan pilih-pilih kasih? Apakah tindakan itu sesuai dengan karakter-Nya? Tidak! Karakter-Nya menuntut Ia menunjukan perhatian yang sama dan mengasihi semua bangsa, tanpa pilih-pilih kasih. Sebuah survei berusaha menganalisis setiap tempat keberadaan para pekerja rohani, di mana saja orang-orang percaya itu menghabiskan uang mereka, atau dari mana bangsa-bangsa mendapat sumbangan dari gereja, akan membawa kita pada kesimpulan bahwa usaha kita sekarang ini tidak menggambarkan karakter Allah. Sejumlah uang dihabiskan untuk media, aksi politik, dan prasarana gereja, dalam rangka kita memenuhi negara-negara Barat dengan pengajaran rohani. Hanya sedikit saja yang diberikan kepada orang-orang yang belum pernah mendengar.

Kata "semua" dalam "semua bangsa bangsa murid-Ku" adalah tantangan terbesar di dalam Amanat Agung. Kata itu tidak boleh ditinggalkan. Ironisnya, kelompok orang-orang yang belum terjangkau itu, sejuta kali lebih menanggapi pengajaran Kerajaan Allah dibanding orang-orang Barat, menurut metode analisis statistik yang dikembangkan oleh Dr. David Barrett dan Dr. Todd Johnson. Artinya, mereka mewakili potensi yang lebih besar untuk memberkati bangsa-bangsa. Secara umum, kekristenan di Barat terlihat sebagai ideologi yang renta, kelelahan, dan yang telah gagal. Di Timur, masyarakat suku sering dilihat sedang bertransformasi, menggembirakan, dan sangat menjanjikan. Menurut Anda, di manakah kita memiliki kesempatan terbaik untuk mendapat sukses yang berarti? Bukankah daya dorong dan energi untuk mengubah Barat tampaknya berasal dari tempat Injil dipercayai dengan cara yang bersemangat dan berkuasa?

Kerajaan itu hadir dalam semua aspek kehidupan. Artinya, kehadirannya yang dinamis melalui orang-orang percaya yang terlibat di dalam semua bagian masyarakat. Melalui para pekerja-Nya, kehadiran yang aktif dengan suatu tujuan itu merembes ke semua suku dan bangsa. Beberapa tahun lalu, saya sedang menempuh perjalanan yang panjang dan membosankan, lalu saya mengambil majalah "Reader's Digest" di pesawat. Saya membolak-balik dan membaca semua bagian hingga tiba pada artikel yang berjudul "Kota Amerika yang Paling Berbelaskasihan". Saya membaca dengan rasa ingin tahu bagaimana penjelasan penulis mengenai warisan dari Rochester, USA. Survei itu menyatakan kota-kota paling baik di Amerika, yang secara konsisten memerhatikan orang miskin dan papa. Penulis menelusuri kembali ciri-ciri ini pada kebangunan rohani yang terjadi dalam pelayanan Charles Finney, kira-kira 150 tahun lalu. Injil telah membuat perubahan yang besar di dalam hidup seseorang. Injil bukan hanya membawa seseorang pergi ke surga, namun juga berkuasa mengubahnya di bumi ini. Kita sungguh-sungguh dapat mengubah bangsa-bangsa jika kita melayani kebenaran dan kasih, dengan kuasa Roh Kudus.

Diambil dari:

Judul majalah : Masah, Edisi 1, Tahun I/2002
Judul artikel : Memberkati Semua Bangsa-Bangsa Tuntutan dari Karakter Allah
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Pelayanan Komunikasi dan Informasi Youth With A Mission Indonesia
Halaman : 7 -- 8

e-JEMMi 07/2010



Berkat Memberi

"Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35)

Dalam banyak budaya, sering kali seseorang yang memberi itu dianggap (baca: harus) orang kaya. Orang miskin tentulah tidak bisa memberi. Sebenarnya, pola pikir semacam ini menutupi kekikiran yang halus. Alkitab mengajarkan bahwa kasih bersifat memberi. Terang sifatnya memberi. Garam sifatnya memberi. Kasih memberi dan berkorban. Allah Bapa sendiri menyatakan kasih-Nya yang teramat besar bagi dunia ini dengan memberikan Yesus Kristus Putra-Nya yang Tunggal untuk mati ganti kita, manusia berdosa, agar kita boleh diselamatkan. Orang yang sungguh telah mengalami betapa besarnya berkat pemberian Allah, yaitu Yesus Kristus, dalam hidupnya, tahu apa artinya memberi bagi pekerjaan Tuhan. Memberi adalah berkat. Alkitab mengatakan bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kisah Para Rasul 20:35).

Perspektif Alkitab untuk Memberi

Alkitab menyaksikan bahwa ketika Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki dan banyak lagi wanita dan anak-anak, yang memberikan kepada-Nya lima ketul roti dan dua ekor ikan adalah seorang anak kecil. Pemberiannya mungkin remeh dan tidak berarti dalam pandangan banyak orang, namun di dalam tangan Tuhan, pemberiannya menjadi berkat bagi ribuan orang. Pemberian yang kecil, namun diberikan dengan tulus dan jujur. Lima ketul roti dan dua ekor ikan. Bukan masalah besar dan kecilnya pemberian kita, tetapi bagaimana sikap hati kita memberikannya kepada Tuhan. Jika kita memunyai "lima ketul roti dan dua ekor ikan", janganlah kita memberikan hanya "tiga ketul roti dan seekor ikan". Demikian juga, ketika kita memunyai "sepuluh ketul roti dan lima ekor ikan", berikanlah semuanya untuk Tuhan agar di tangan-Nya semuanya itu bisa menjadi berkat bagi orang lain.

Janda miskin yang diceritakan dalam Lukas 21:41-44 dipuji Tuhan Yesus bukan karena jumlah persembahannya yang besar, tetapi karena ia memberi dari kekurangannya. Dalam pandangan Tuhan Yesus, janda itu memberikan jauh lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya" (Lukas 21:4). Ada orang Kristen yang takut miskin dan kekurangan jikalau ia memberi. Orang itu sangat mungkin belum menghayati kasih Allah yang bersifat memberi, karenanya sampai kapan pun, orang tersebut tidak akan mengalami berkat memberi dan hidup yang berkelimpahan.

"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan" (Amsal 11:24). Memberi untuk pekerjaan Tuhan tidak harus menunggu sampai kaya atau berkecukupan. Memberi, jika dimulai dari hati yang mengasihi Tuhan, pastilah tidak "main hitung-hitungan" dengan Tuhan, tidak kikir. "Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan" (Amsal 28:22). Orang yang kikir adalah orang yang mencintai uang. Orang-orang yang tidak kaya pun bisa mencintai uang dan menjadi kikir. Orang yang hati dan pikirannya telah diubah oleh Injil akan menjadi seorang pemurah untuk pekerjaan Kerajaan Allah. Paulus bersaksi kepada jemaat di Korintus tentang bagaimana indahnya jemaat-jemaat di Makedonia yang memberi untuk pekerjaan Tuhan.

"Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka" (2 Korintus 8:3-4). "Adapun kumpulan orang percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun berkata, bahwa kepunyaannya adalah miliknya sendiri" (Kisah Para Rasul 4:42). Sebetulnya kita tidak memiliki apa-apa di dunia sekalipun kita memunyai sesuatu. Kita hanya menjadi penatalayan dari kasih karunia Allah. Nyawa, talenta, dan harta dititipkan oleh Allah kepada kita untuk diolah dan dipakai bagi kemuliaan-Nya. Kita hanyalah bendahara-bendahara Kerajaan Surga yang dipercayakan menata pemakaian harta milik Tuhan untuk kemuliaan-Nya.

"Demikian hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai" (1 Korintus 4:1-2). Jika kita tidak memberi, Allah tidak akan menjadi miskin karenanya. Sebaliknya, Allah pun juga tidak akan bertambah kaya jika kita memberi. Allah Pencipta segala sesuatu di alam semesta ini dan Dialah Pemilik seluruh ciptaan tangan-Nya. Allah Pemilik hidup kita dan segala sesuatu yang kita "miliki". Dapat dipercayai berarti kita dapat mempertanggungjawabkan apa yang dipercayakan-Nya kepada kita, memakainya untuk hormat dan kemuliaan Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Dalam Perjanjian Lama, ada kisah Hana yang mempersembahkan Samuel. Ia bukan memberikan Samuel kepada Tuhan, tetapi mengembalikan apa yang Tuhan telah berikan kepadanya. Tuhan memberikan Samuel sebagai jawaban doa Hana. Hana sangat mensyukurinya dan mengembalikannya untuk pelayanan Tuhan. Jadi, Hana bukan memberikan yang dipunyainya, tapi mengembalikan apa yang memang berasal dari Tuhan. "Untuk mendapatkan anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku apa yang kuminta daripada-Nya. Maka akupun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan." (1 Samuel 1:27-28)

Dalam Alkitab, banyak tokoh yang kaya, seperti Abraham, Daud, Salomo, dan Ayub. Tidak salah jika orang percaya menjadi kaya. Itu juga salah satu berkat materi yang Tuhan janjikan dan berikan. Tetapi, patut diingat apa yang dikatakan firman Tuhan dalam 1 Yohanes 3:17, "Barangsiapa memunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" Perhatikan juga nasihat dari pengamsal, "Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Hati Misi
Penulis : Bagus Surjantoro
Penerbit : Penerbit ANDI, Yogyakarta 2005
Halaman : 58 -- 62

e-JEMMi 27/2009

Betapa Hebat Kuasa-Nya bagi Kita yang Percaya

Allah Bapa mengutus Anak tunggal-Nya ke dunia ini, yaitu Tuhan Yesus Kristus, dengan satu tujuan: "membinasakan (menghancurkan) perbuatan-perbuatan Iblis" (1 Yohanes 3:8) dan "supaya kita hidup oleh-Nya" (1 Yohanes 4:9). Tujuan itu adalah sebagai wujud dari "KASIH ALLAH" (Yohanes 3:16).

Dalam menciptakan manusia, Allah tidak pernah merencanakan agar manusia berdosa (hidup sebagai orang berdosa, kalah terhadap dosa), agar menderita sakit penyakit, agar mengalami kematian. Tidak! Ia menciptakan manusia supaya manusia hidup dalam kekekalan dan kebahagiaan, damai sejahtera dalam persekutuan dengan Dia, menjadi mitra-Nya untuk memerintah dunia (mengurus dan menata dunia). Manusia tidak diciptakan seperti boneka atau wayang, yang dimainkan oleh dalang, yang percaya pada takdir atau nasib. Sehingga bila ada seseorang yang dipenjarakan karena mencuri, itu dikatakan sudah nasibnya; kalau satu pernikahan berantakan, itu dikatakan sudah nasib atau takdir. Tidak! Manusia diciptakan menurut gambar Allah, artinya kesamaan dengan Allah dalam hal memiliki kehendak moral yang bebas, yaitu kehendak untuk memilih. Tetapi Adam dan Hawa memakai kuasa yang dianugerahkan kepada mereka untuk melanggar perintah Tuhan. Inginnya seperti Allah, bukan memakai kuasa itu untuk melayani Allah dan bersekutu dengan Allah. Baik manusia maupun malaikat-malaikat tidak diciptakan Tuhan untuk menjadi boneka atau wayang. Iblis itu adalah malaikat yang bangkit melawan Allah, tidak taat: "Aku akan menjadi lebih besar dari Allah" (Yesaya 14:12-15, Yehezkiel 28:12, 14, 15, 17).

Putra fajar, bintang timur (latin: Lucifer). Di dalam Perjanjian Baru, Lucifer dilambangkan dengan Naga (Wahyu 12:7-9). Demikian pula halnya dengan manusia. Akibat ketidaktaatan, manusia jatuh ke dalam kuasa dosa, kutuk sakit penyakit, dan kematian (upah dosa adalah maut, Roma 6:23).

Itulah sebabnya Allah mengurus Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus adalah Adam yang akhir, yang datang ke dunia ini bukan sebagai mahkluk yang hidup, tetapi sebagai Roh yang menghidupkan (1 Korintus 45).

Tuhan Yesus Kristus telah melewati berbagai macam pencobaan. Ibrani 4:15 mengatakan, "... sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." Tuhan Yesus keluar sebagai pemenang! Tuhan Yesus Kristus, sebelum berperang dengan iblis, diberi pengalaman oleh Bapa bahwa meskipun Ia anak Allah, Ia telah meninggalkan surga (Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri menjadi sama dengan manusia, Filipi 2:6-7). Kisah Para Rasul 10:38, "Yaitu tentang Yesus ... bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Ia yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia."

Itulah sebabnya Yesus Kristus menunjukkan bagaimana caranya mendapatkan kuasa itu, "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8). Saat Rasul Petrus dan Rasul Yohanes ke Bait Allah, ada orang lumpuh dari sejak lahir sedang mengemis. Rasul Petrus mengatakan dalam Kisah Para Rasul 6:3 bahwa apa yang ia punyalah kuncinya. Rasul Petrus tidak bisa memberi apa yang tidak dimiliki. Apakah yang dipunyainya? Pengalaman hidup dengan Tuhan Yesus Kristus, keintiman hidup dengan Tuhan Yesus Kristus. Bukan apa yang ia dengar dari orang lain, tetapi apa yang ia alami sendiri dengan Yesus (Kisah Para Rasul 4:13). Apa rahasia kuasa Petrus dan Yohanes, orang biasa yang tidak terpelajar? Keduanya adalah pengikut Kristus.

Bagaimana menerima kuasa itu? Kuasa tidak mengalir melalui kata-kata. Kuasa mengalir melalui persekutuan pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus.

  1. Keintiman dengan Tuhan Yesus Kristus menghasilkan kuasa (Yohanes 15:5) "... barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia Ia berbuah banyak. Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan FirmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7)

  2. Hancurkan serangan roh kegagalan dan roh mustahil yang mengelilingi kita yang berkata, "Kamu tidak mungkin mengalami kuasa untuk menang atas dosa, Iblis, sakit penyakit, pencobaan, kamu lemah, kamu terikat kedagingan, dan sebagainya." Kita hancurkan dengan kuasa darah Yesus Kristus (Ibrani 2:14-15, 18)

  3. Hidup di dalam terang (1 Yohanes 1:5-7, 1 Yohanes 4:8-11), tidak ada kepahitan dalam hidup kita.

  4. Diurapi oleh Roh Kudus dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus, kuasa supernatural tidak bisa dilawan dengan kekuatan daging, harus dengan kekuatan supernatural, yaitu Roh Kudus. Tidak sekadar diurapi dengan Roh Kudus, tetapi kita harus menyerah di dalam bimbingan dan pimpinan-Nya secara total, yaitu tidak kompromi dengan dosa (tidak mengkompromikan firman Allah).

Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya. Kuasa atas tubuh yang lemah dan sakit (1 Petrus 2:24), kuasa atas dosa, kuasa atas maut, kuasa atas pencobaan. Serahkan diri Anda kepada Allah dan lawanlah Iblis!

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Duta, Edisi Khusus Desember 1997
Judul artikel : Betapa Hebat Kuasa-Nya bagi Kita yang Percaya
Penulis : Pdt. Daniel Henubau, S.Th.
Penerbit : Gereja Kasih Karunia Indonesia (GEKARI), Jakarta 1997
Halaman : 3 -- 4

e-JEMMi 47/2009

Bob Pierce dan World Vision

Bila Ken Strachan berupaya meraih dunia yang hilang melalui strategi penginjilan langsung, Bob Pierce memberikan kontribusi dari sudut yang berbeda. Dengan meneladani kehidupan Yesus, ia menjalankan kegiatan kemanusiaan untuk menyatakan kekristenan yang sesungguhnya. Ia berpikir, cara yang paling efektif untuk memberi kesaksian tentang Kristus adalah melalui tindakan kasih dan kepedulian yang nyata: "Yang harus kita utamakan adalah melayani kebutuhan jasmani orang yang membutuhkan, dan setelah itu kita bisa melayani kebutuhan (rohani) mereka yang sesungguhnya." Selain Allah sendiri, banyak tokoh dalam sejarah yang menunjukkan kepedulian lebih besar terhadap penderitaan manusia ketimbang Bob Pierce. "Biarlah hatiku juga merasakan kesedihan yang Tuhan rasakan" -- motto yang ditulis dalam Alkitabnya ini dengan singkat menjelaskan bagaimana ia memandang kehidupan. Ia adalah sahabat seluruh umat manusia.

Kendati Bob Pierce memiliki beban untuk menjangkau dunia, ia tidak mampu mempertahankan ikatan kasih yang paling intim dengan keluarganya sendiri. Kasih yang berlimpah ia bagikan kepada anak-anak yatim piatu dan tuna wisma serta para korban banjir, tetapi hanya secuil yang ia berikan kepada orang-orang yang paling membutuhkannya -- istri dan putri-putrinya. Kehidupan publik dan pribadinya terpisahkan oleh jurang yang sangat lebar dan hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa Bob adalah seorang yang bermasalah dan lemah. Meskipun begtu, Tuhan memakainya secara luar biasa dan kesan yang ia tanamkan kepada dunia tak mudah untuk dilupakan.

Dr. Bob, begitulah ia biasa dipanggil, lahir pada tahun 1914 sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara di Fort Dodge, Iowa. Saat ia berumur sepuluh tahun, keluarganya pindah ke California. Di sanalah ia menghabiskan sisa hidupnya. Lulus dari SMA, ia melanjutkan studinya di Pasadena Nazarene College. Di sinilah ia bertemu dengan calon istrinya, Lorraine Johnson -- putri seorang penginjil yang berhasil.

Kesuksesan tidak menyapa Bob pada awal usia dewasanya. Di kampus, ia menjabat sebagai ketua lembaga mahasiswa dan menjadi seorang pendeta muda yang menjanjikan. Namun, tiba-tiba situasi berubah demikian cepatnya. Sangat sulit mendapatkan pekerjaan pada masa resesi kala itu dan terkadang dalam hubungannya dengan Lorraine, Bob merasa seperti "berjalan tanpa tujuan di sepanjang jalan Santa Fe." Pernikahan mereka tampaknya hanya memperparah masalah. "Dunia impian" mereka berlalu dengan cepat dan kehidupan pernikahan yang sesungguhnya mulai menghadang mereka. Bob mulai berpindah-pindah pekerjaan dan Lorraine pulang ke rumah orang tuanya di Chicago. Selama berbulan-bulan, jalur komunikasi yang menghubungkan mereka hanyalah surat "kaku" yang tidak rutin dikirim. Suatu ketika, Bob menulis surat yang berkesan hangat, mengajak berdamai, dan mengakhiri suratnya dengan kalimat, "Aku mencintaimu dan menginginkanmu di sampingku. Tapi engkau ada atau tidak, aku akan tetap berjalan bersama Tuhan."

Salah satu alasan dirinya menulis surat itu kepada Lorraine adalah perubahan kondisi yang dihadapinya. Ia telah memberikan kesaksiannya sebelum konvensi tahunan Gereja Nazarene. Di hadapan ratusan pendeta dari negara bagian tersebut, ia menceritakan kesulitan yang dialaminya selama tahun lalu sambil meneteskan air mata penyesalan dan mengumumkan keputusannya untuk melayani Tuhan. Dampaknya sungguh menggemparkan. Para pendeta mencari-carinya, dan terbukalah pintu untuk pelayanan."

Di tahun-tahun berikutnya, Bob dan keluarga mudanya nyaris tak mampu memenuhi kebutuhan mereka di dunia penginjilan. Setelah itu, dia menenangkan diri selama lebih dari empat tahun dengan melayani di Los Angeles Evangelistic Center -- di mana ia bekerja bersama ayah mertuanya. Masa-masa itu tidaklah terlalu membuatnya puas, sebagian karena usahanya harus terus bersaing dengan ayah mertuanya yang sudah terlebih dulu berhasil. Hal itu membuatnya berpikir bahwa dia "bagai perahu dayung yang bertanding melawan kapal layar". Suatu hari setelah beradu argumen, ia mengundurkan diri dan tak lama kemudian pergi dari kota tersebut. Surat berikutnya yang diterima Lorraine dari Bob berupa sepucuk surat panggilan yang sudah kumal dari pengadilan, yang memberitahukan bahwa Bob sedang mengajukan gugatan cerai.

Tepat pada hari pengumuman pengadilan, Lorraine meminta Bob untuk sejenak menemuinya secara pribadi, Lorraine meminta Bob untuk tidak melanjutkan proses perceraian itu, Bob menyetujuinya. Namun, satu setengah tahun berikutnya menjadi masa pengujian yang luar biasa berat. Saat Lorraine bergumul dalam doa, Bob melanjutkan peperangan rohaninya seorang diri, dia tampaknya tak mampu menemukan jalan keluar dari penderitaan rohaninya. Akan tetapi, sekali lagi Bob menemukan jalannya kembali pada Tuhan, menyatakan pertobatannya secara terbuka dan kembali bekerja di pusat penginjilan selama dua tahun.

Selama masa pelayanannya di tempat tersebut, Bob mulai menyadari talenta istimewanya dalam membina hubungan dengan anak muda. Di tahun berikutnya, ia bekerja sebagai penginjil yang melayani kaum muda dan kemudian bergabung dengan Youth for Christ -- di sana, ia menjabat sebagai wakil ketua untuk urusan umum dan melayani bersama Torrey Johnson yang sudah dikenal orang banyak. Kapasitas inilah yang menjadi fokus pelayanan Bob di masa mendatang. Pada tahun 1947, ia diminta pergi ke Cina untuk membantu penyelenggaraan serangkaian kampanye bagi kaum muda. Meski terpaksa meninggalkan keluarganya di tengah masalah ekonomi yang pelik, ia menerima tantangan itu dengan penuh antusias dan mungkin inilah pertama kalinya ia merasakan kepuasan.

Jadwal perjalanan yang menguras tenaga tidak mematahkan semangatnya. Ia menyadari bahwa bepergian kesana-kemari sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Ke mana pun ia pergi, ia menyaksikan tangisan-tangisan sesamanya yang meminta bantuannya. Di mana pun ia berkhotbah, ada pernyataan iman. Ini adalah saat yang penuh suka cita, saat di mana filosofinya akan pelayanan kristen mulai bersemi.

Pada perjalanannya yang kedua, tujuannya adalah negara Cina, Bob ditantang secara langsung tentang apa perannya dalam meringankan penderitaan dan kesengsaraan orang-orang yang paling membutuhkan di dunia. Tatkala mengunjungi sebuah panti asuhan milik sebuah organisasi misi di dekat perbatasan Tibet, perhatiannya tertuju pada sesosok mungil anak perempuan yang terlihat sedih, badannya yang kurus kering membungkuk dengan pasrah di bawah tangga batu yang dingin. Ketika ia menanyakan mengapa anak itu tidak diberi makan dan tinggal di panti asuhan itu, ia mendapat jawaban bahwa ternyata panti asuhan itu sudah menampung anak-anak empat kali lebih banyak dari jumlah rata-rata yang bisa mereka tampung. Bob marah karena merasa anak perempuan ini tidak mendapatkan kebutuhan hidupnya yang paling dasar sekalipun. "Mengapa tidak melakukan sesuatu?" ia memohon. "Apa yang akan Anda lakukan terhadap masalah ini?" misionaris itu menjawab dengan mendatangi anak perempuan itu dan mendorongnya dalam pelukan lengannya. Itulah yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Sejak itu, seluruh kekuatannya dicurahkan kepada kegiatan kemanusiaan Kristen.

Bob bermaksud kembali ke Cina untuk melanjutkan pelayanan, namun perhatiannya teralih bersamaan dengan dikuasainya Cina oleh pihak komunis. Tahun 1950, ia mengunjungi Korea untuk pertama kalinya, tempat di mana penderitaan anak-anak yang membutuhkan mengilhami terbentuknya World Vision International. Dengan adanya Perang Korea yang melanda negara tersebut, ketersediaan pangan, pakaian, dan obat-obatan menjadi prioritas utama bagi para wanita dan anak-anak telantar. Namun, sejak awal berdirinya, World Vision telah menyebarkan pelayanannya ke sebanyak mungkin lokasi di mana ada orang-orang yang membutuhkan. Dalam beberapa tahun, organisasi tersebut merawat lebih dari dua ribu anak yatim piatu. Pada tahun-tahun berikutnya, jumlah tersebut meningkat lebih dari seratus kali lipatnya.

Hanya dalam beberapa tahun setelah memulai pelayanannya ke seluruh dunia, kisah tentang Bob Pierce menjadi legenda orang kudus di seluruh Timur Jauh. Namun, pelayanannya tidak terbatas pada area itu saja. Selama hampir sepuluh tahun, ia dinyatakan sebagai salah satu dari sepuluh orang yang paling sering berkeliling dunia. Ke mana pun ia pergi, orang-orang mengelu-elukannya sebagai utusan Tuhan. Ketika kembali ke Amerika Serikat, ia bepergian dari pesisir ke pesisir -- untuk menyadarkan masyarakat Kristen Amerika akan kebutuhan negara-negara yang berkekurangan, menggalang ratusan ribu dolar untuk anak-anak yatim piatu, rumah sakit, dan pelayanan penginjilan.

Selama masa perkembangan World Vision yang pesat itulah, Lorraine dan putri-putrinya semakin tersingkirkan dari posisi teratas dalam daftar prioritas Bob. Saat ia kembali kepada keluarganya setelah menempuh perjalanan selama rata-rata 10 bulan dalam setahun, Bob merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, konflik pun tak terhindarkan. Meskipun ia dapat membina hubungan yang begitu baik dengan dunia, keluarganya sendiri yang tinggal serumah dengannya terasa begitu jauh.

Masalah lain mulai timbul ketika World Vision memasuki dekade kedua perkembangannya yang pesat. Semakin sulit bagi Bob untuk berurusan dengan dewan direksi. Pada tahun 1963, para direktur memutuskan untuk mencabut penyiaran radionya, dengan alasan dananya lebih baik digunakan untuk proyek-proyek lain. Masalah utamanya meliputi gaya pengelolaannya. Bob terbiasa menggunakan uang asalkan dianggapnya cukup, tanpa memiliki otoritas, dan tanpa memberikan laporan penggunaannya. Namun, waktu pun berubah. Peraturan pemerintah menuntut penghitungan yang tepat dan Bob sangat geram karena peraturan tambahan yang diberlakukan pada dirinya oleh dewan direksi. Konflik tersebut berlangsung hingga tahun 1967 ketika mereka sampai pada satu titik panas dan Bob mengundurkan diri dengan penuh kegusaran. "Keesokan harinya, World Vision mengajukan surat pengunduran diri yang resmi, yang kemudian ditandatangani oleh Bob."

Tak lama setelah kepergiannya dari World Vision, kehidupan pribadi dan pekerjaan Bob perlahan-lahan mulai goncang. Di tahun 1968, ketika ia bepergian ke Orient bersama Lorraine dalam suatu "Tur Selamat Jalan" -- disponsori oleh World Vision sebagai kegiatan perpisahan yang terakhir -- yang tak diragukan merupakan bagian dari usaha mereka membina hubungan dengan daerah tersebut. Saat tur hampir berakhir, mereka menerima telepon dari Sharon, putri sulungnya, yang memohon agar ayahnya pulang ke rumah. Sebelumnya, Sharon telah bergumul hebat atas persoalan pribadinya dan Lorraine lebih tahu apa yang harus dilakukan, yaitu tidak meremehkan masalah ini. Namun, Bob telah merencanakan untuk mengadakan kunjungan mendadak ke Vietnam dan ia tidak mau diganggu. Lorraine segera terbang kembali ke rumahnya dan mendapati Sharon dalam keadaan lemah dan putus asa, pergelangan tangannya diperban, dan sedang dalam pemulihan dari usaha bunuh diri yang sempat dilakukannya. Di tahun berikutnya, Sharon kembali mencoba bunuh diri, keluarga Pierce pun akhirnya menguburkan putri sulungnya itu pada usia 27 tahun.

Sebelum dan sesudah kematian Sharon, Bob dirawat karena mengalami kelelahan mental dan fisik yang berat. Pemulihannya membutuhkan waktu lama dan meski bisa kembali berjalan, luka yang dalam tetap membekas. Ia semakin terpisah sedemikian jauhnya dari keluarganya, dan mereka tak akan pernah lagi menikmati hubungan yang selalu dipenuhi kebahagiaan.

Setelah beberapa tahun menjalani masa penyembuhan dan beristirahat, Bob mulai melakukan perjalanan lagi. Dengan didukung oleh World Vision, ia mendirikan Samaritan`s Purse, organisasi yang membantu para misionaris di Asia. Lalu pada tahun 1975, setelah menjalani serangkaian tes medis, dokter memvonisnya mengidap leukimia. Sekali lagi, ini merupakan pukulan keras bagi seseorang yang telah mengalami banyak hal, namun ia tidak mau menyerah. Beberapa bulan kemudian, dengan tak kenal lelah, ia sudah mengoordinasi program bantuan bagi para pengungsi di Saigon. Setelah tugasnya selesai, ia mengunjungi tempat-tempat lain yang membutuhkan pertolongan dan selalu dengan sepenuh hati melayani orang-orang yang menderita. Kendati begitu, hari-harinya tetap dihitung. Ia meninggal pada bulan September 1978, beberapa hari setelah reuni keluarga yang tak terlupakan.

Terlepas dari tak kunjung redanya konflik dan masalah yang dikaitkan dengan masa kepemimpinan pendirinya yang termasyhur di seluruh dunia, World Vision tetap mengalami pertumbuhan yang stabil dan memperluas bidang pelayanannya. Namun, saat kontribusi dan jumlah anggota terus bertambah, organisasi tersebut menolak peluang untuk dapat menjadi satu kesatuan yang berkuasa dan tetap menjalankan perannya sebagai organisasi pelayanan -- yang bekerja melalui gereja-gereja misi dan nasional lain yang telah mapan. "Ketika seseorang berkeliling dunia," tulis Richard C. Halverson, "orang tersebut tak akan sering menemukan lembaga yang menyandang nama World Vision. Namun ada ratusan sekolah, panti asuhan, panti jompo, klinik, rumah sakit, asrama, dan gedung gereja yang dibangun dengan dan/atau atas bantuan dana yang digalang oleh World Vision dan menyandang nama gereja-gereja nasional atau lembaga misionaris luar negeri yang terkenal."

Seperti kebanyakan organisasi misi lainnya, World Vision memperoleh nilai positif dari pelayanan yang dilakukan oleh sejumlah orang Kristen terkemuka dari Dunia Ketiga. Sebut saja, Dr. Samuel Kamaleson, seorang berkebangsaan India yang telah melayani selama bertahun-tahun di India di bawah naungan Gereja Metodis sebelum menjabat sebagai wakil ketua untuk urusan umum di World Vision dan sebagai ketua pelayanan Pastors` Conference tingkat internasional. Ia juga menjabat sebagai ketua Bethel Agricultural Fellowship dan telah menulis sejumlah buku.

Pada tahun 1969, Stanley Mooneyham menjadi Presiden World Vision. Di bawah pimpinannya, organisasi itu berkembang menjadi suatu organisasi bantuan dunia yang sangat efektif -- seperti keberadaannya pada masa sekarang -- tanpa meninggalkan kepedulian kepada pendirinya. Dalam "What Do You Say to a Hungry World?" Mooneyham memaparkan fakta-fakta perihal penderitaan manusia dalam bentuk yang sangat menarik bagi orang-orang Kristen untuk menunjukkan vitalitas iman mereka melalui keterlibatan diri secara aktif. Ia mengecam Church of Jesus Christ karena terlalu banyak menyibukkan diri dalam aspek-aspek kehidupan yang tak berarti. "Saat dunia mengalami krisis pangan terbesar sepanjang sejarah, gereja ini malah mengalihkan perhatian dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi." Ia mengutip perkataan seorang misionaris Metodis yang secara tajam menggambarkan perihal absurditas kekristenan yang membudaya pada masa kini.

Suatu hari, seorang Zambia meninggal tak sampai 100 yard dari pintu rumah saya. Ahli patologi mengatakan penyebab kematiannya adalah kelaparan. Dalam perutnya yang kempes, terdapat beberapa helai daun dan sesuatu yang sepertinya segumpal rumput. Tidak ada yang lain.

Pada hari yang sama, saya membaca suatu kolom di majalah Metodhist Recorder yang memberitakan kemarahan, kekhawatiran, pergolakan, dan komentar mengenai penundaan acara laporan akhir dari Anglican-Methodist Unity Commission ....

Hanya diperlukan seorang pria kecil jelek dengan perut kempes yang harta bendanya, menurut polisi, hanyalah sehelai celana pendek, kaus penuh tambalan, dan sebatang pulpen Biro yang kosong untuk menunjukkan pada saya bahwa keseluruhan kegiatan Union ini merupakan bagian yang sungguh mengecewakan dari sejarah British Church masa kini.

Namun, dengan cepat Mooneyham menekankan bahwa memberikan harta benda saja tidaklah cukup, atau bahkan tidak selalu menjadi bentuk bantuan yang terbaik. Ia mengutip satu peribahasa Cina yang mengatakan bahwa pengetahuan tentang "bagaimana untuk ..." memiliki manfaat yang sangat luas dalam bidang tertentu. Peribahasa itu adalah "Berikan seekor ikan pada seseorang, maka Anda akan memberinya makan selama sehari; ajarlah dia untuk menangkap ikan, maka ia bisa menghidupi dirinya sendiri seumur hidupnya." Di bawah kepemimpinan Mooneyham, World Vision dapat dengan luas mengembangkan program swadayanya untuk membantu Dunia ketiga. Akan tetapi, dengan meluas dan beragamnya jenis pelayanan yang dilakukan World Vision dan organisasi-organisasi pemberi bantuan yang lain, tugas penting untuk meringankan penderitaan umat manusia sulit dimulai.

Jadi, "Apa yang akan kau katakan kepada dunia yang membutuhkan?" Tak perlu mengucapkan banyak hal untuk menyatakan Kristus jika ucapan itu tidak diikuti dengan perbuatan kasih kekristenan. (t/Lanny)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya
Judul artikel : Bob Pierce and World Vision
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan, Michigan, 1983
Halaman : 468 -- 472

e-JEMMi 24/2007

Budaya dalam Kerangka Pikir Misiologi

MEMAHAMI BUDAYA

Setiap orang memiliki budaya dan tidak seorang pun dapat dipisahkan dari budayanya sendiri. Tantangan berat bagi para misionaris (baik dalam maupun luar negeri) adalah mengidentifikasi diri dengan orang-orang yang dilayani. Untuk itu, mereka dituntut memahami budaya kelompok masyarakat yang dituju.

Langkah pertama untuk belajar budaya-budaya lain adalah menguasai budaya sendiri. Apakah arti budaya itu? Budaya menurut para sarjana Antropologi adalah hal-hal yang bersangkutan dengan akal (Kuncaraningrat). Budaya adalah sejumlah kebiasaan yang saling berkaitan (Antropolog AS Boas Kroeber, Clinton, dll.). Budaya adalah organisasi sosial yang direfleksikan oleh keseluruhannya (Antropolog Inggris Malinowski, Raeliffie Brown). Lloyd E. Kwast menjelaskan: "Budaya memiliki empat lapisan yang terdiri dari tingkah laku, nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, dan cara pandang dunia."

1. Tingkah laku: "Apa yang Dibuat atau Dikerjakan"

Lapisan yang paling luar adalah "tingkah laku", yang dapat diamati dengan mudah. Hal-hal yang dapat diamati adalah: kebiasaan-kebiasaan serta bahasa-bahasa dalam berbagai bentuk dan arti. Rangkaian antara bentuk dan arti menghasilkan suatu simbol: "Apa yang dikerjakan?" Pertanyaan tersebut melahirkan pertanyaan: "Apa artinya?"

Contoh: Acungan jempol, berjabat tangan, orang Barat berpelukan sambil mencium pipi, dan lain-lain.

2. Nilai-Nilai: "Apa yang Baik atau yang Terbaik?"

Tingkah laku kebanyakan bersumber dari suatu sistem nilai-nilai standar tingkah laku dan pertimbangan yang memberikan tuntutan ke dalam hal apa yang baik dan indah atau terbaik dan terindah. Sistem nilai biasanya tumpang tindih dengan budaya. Pertanyaan "Apa yang baik atau yang terbaik?" mencetuskan pertanyaan lain: "Apa yang dibutuhkan?"

Contoh: Di Irlandia jumlah penduduk lebih besar daripada persediaan makanan. Penduduknya sering mengalami kekurangan makanan yang amat dahsyat, dan itu sudah biasa bagi mereka. Oleh karena itu, ada kebutuhan yang nampak dan mendesak yaitu mengurangi jumlah penduduknya. Tetapi karena jumlah mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Kristen yang menolak KB, maka jalan keluarnya adalah menyusun dan mengembangkan kebudayaan dengan suatu anjuran yang menyerupai keharusan. Setiap penduduknya diminta untuk tidak menikah sebelum berusia 30 tahun. Akhirnya, laju pertambahan penduduk bisa dikurangi karena adanya penundaan pernikahan.

Di India terjadi sebaliknya, pernah juga terjadi kelaparan yang sangat hebat sehingga rata-rata orang di sana hanya berusia 28 tahun. Hampir setengah dari anak-anak meninggal sebelum berusia 5 tahun, sehingga terjadilah kekurangan penduduk. Dengan demikian nampaklah suatu kebutuhan dan budaya yang harus dikembangkan sebagai jalan keluar dari masalah tersebut. Wanita-wanita di India diwajibkan untuk menikah pada usia 12 atau 13 tahun. Akhirnya terjadilah ledakan jumlah penduduk yang luar biasa sampai sekarang.

3. Kepercayaan-Kepercayaan: "Apa yang Benar?"

Nilai-nilai merupakan refleksi dari kepercayaan-kepercayaan. Sering kali, kepercayaan-kepercayaan dipertahankan secara teoretis tetapi tidak memengaruhi nilai-nilai atau tingkah laku. Sistem kepercayaan-kepercayaan berperan untuk memberikan tuntutan kepada masyarakat setempat dalam mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan.

Contoh: Perang antara suku Madura dengan suku Dayak di Kalimantan Barat. Suku Dayak identik dengan kekristenan yang percaya bahwa tidak diperbolehkan membunuh manusia. Tetapi kebutuhan akan kelangsungan hidup dan kejayaan suku tersebut membuat mereka memilih membunuh daripada tetap mengikuti kepercayaannya.

4. Cara Pandang Dunia: "Apa yang Terjadi?"

Cara pandang dunia adalah keyakinan dasar seseorang yang berfungsi sebagai lensa tafsir terhadap kenyataan dan penuntun menuju suatu keputusan.

Contoh: Orang dari suku Jawa percaya ada hari-hari tertentu yang baik yang bisa mendatangkan kebaikan dan ada hari-hari tertentu yang tidak baik yang mendatangkan sial. Jika ada rumah tangga yang berhasil atau gagal sering ditafsirkan karena pengaruh hari perkawinannya.

Sifat Umum dari Budaya

1. Allah menciptakan budaya.

Para misiolog, khususnya yang berpaham injili, rata-rata percaya bahwa budaya adalah ciptaan Allah yang baik pada mulanya dan rusak bersama dengan jatuhnya manusia dalam dosa.

2. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk berbudaya.

Ini adalah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain yaitu manusia sebagai makhluk yang berbudi dan berbudaya.

3. Budaya telah rusak bersama dengan rusaknya gambar dan rupa Allah dalam diri manusia.

Karena manusia tidak bisa dipisahkan dengan budayanya, maka penebusan sudah barang tentu meliputi budaya. Oleh karena itu, para misiolog perlu mengamati dan menghargai budaya-budaya lain, mengantisipasi karya Allah di dalam dan melalui budaya-budaya tersebut.

INJIL DAN BUDAYA

Injil di Balik Budaya

Dalam gerakan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para misionaris, pernah terjadi perbedaan yang tidak jelas antara Injil dan kebudayaan. Walaupun tidak mudah, perbedaan Injil dan budaya harus dibuat dengan jelas. Jika perbedaan antara kedua unsur tersebut kurang jelas, akan ada bahaya bagi pembawa Injil untuk membiarkan budayanya sendiri menjadi pesan Injil. Ada beberapa contoh "bagasi budaya" yang dijadikan bagian dari pesan Injil, seperti demokrasi, kapitalisme, bangku dan mimbar gereja, sistem organisasi, peraturan, pakaian resmi pada hari Minggu, dll.. Akhirnya, sering kali terjadi permasalahan terhadap budaya asing yang ditambahkan atau dilampirkan pada pesan Injil mengakibatkan penolakan terhadap kekristenan.

Injil vs Budaya

Ketika berhadapan dengan budaya, Injil sering menghadapi dua kemungkinan, yaitu Injil menelan budaya atau budaya menelan Injil. Kedua-duanya sama-sama mendatangkan kerugian. Jalan keluarnya adalah kontekstualisasi.

Beberapa contoh:

a. Orang-orang Kristen di Jawa tidak lagi mengurusi kuburan leluhurnya dan memanjatkan doa di sana sehingga kuburan-kuburan orang Kristen Jawa menjadi rusak, kotor, dan tidak terawat. Akibatnya orang-orang Jawa yang belum Kristen takut masuk Kristen karena takut kuburannya tidak terawat dan tidak dikirimi doa oleh kerabatnya.

b. Orang-orang Kristen di Afrika tidak lagi membersihkan sampah dan kotoran-kotoran yang menurut keyakinan sebelumnya dipakai sebagai tempat persembunyian roh-roh jahat; mereka tidak lagi takut dengan roh-roh tersebut. Akibatnya, sampah dan kotoran-kotoran tersebut menjadi sarang penyakit dan banyak mendatangkan kematian. Hal tersebut menghalangi orang lain untuk menjadi Kristen.

Orang-orang Kristen Indonesia yang beribadah di sebuah gereja dengan mimbar dan bangku, pakaian bagus, tata ibadah, paduan suara, seperangkat alat musik dan lain-lain lebih mencirikan budaya Barat daripada Injil, sehingga bagi orang-orang yang tidak bisa menerima budaya Barat dengan sendirinya menolak Injil.

ANALISA BUDAYA

Agar tidak terjadi kekeliruan, para utusan Injil harus menganalisa budaya sesuai dengan tahapan-tahapannya, sehingga ada peluang untuk membuka pintu masuk bagi Injil.

Tahap Fenomenologis

Tahapan ini hanya melihat fenomena dari permukaan saja. Dalam ilmu alami kita menyelidiki fenomena dari pengalaman panca indra. Para ilmuwan sosial (anthro, sosio, psiko) memandang dari "pendekatan orang dalam" ("pendekatan emic") terhadap realita. Kita menyelidiki bagaimana orang dalam memandang sesuatu, sebab ini merupakan kerangka untuk kita mengerti kepercayaan dan tingkah lakunya.

"Pendekatan orang dalam" ini menolong kita mengerti orang dari kebudayaan lain dari sudut pandang mereka. Tetapi pendekatan ini tidak disertai dengan pemikiran kritis. Penjelasan tentang suatu fenomena diterima sebagai suatu kebenaran. Jadi, kalau mereka berkata bahwa penyakit cacar disebabkan oleh suatu roh atau karena kutukan nenek moyang, maka jawaban itu akan diterima sebagaimana adanya. "Pendekatan emic" akhirnya hanya akan menghasilkan pikiran naif dan relativisme kebudayaan. Tidak ada yang mutlak atau benar secara universal.

Tahap Ontologis

Pada tahap ini kita berusaha menggali fenomena lebih dalam lagi untuk mengetahui "realita yang sebenarnya". Pada tahap ini kita mengevaluasi berbagai teori; kita menerima teori yang lebih dapat menjelaskan realita dan menolak yang lain. Pada tahap ontologis kita menegaskan bahwa ada suatu realita yang benar yang didukung oleh teori-teori, dan bahwa ada "penyebab" absolut atas segala sesuatu.

Dalam ilmu antropologi pendekatan ontologis disebut sebagai "pendekatan etic". "Pendekatan etic" berarti kita mengembangkan suatu sistem untuk membandingkan dan mengevaluasi berbagai kultur untuk mencapai suatu teori universal. Misalnya, kita mengambil konklusi bahwa malaria di seluruh dunia disebabkan oleh nyamuk. Atau, gerhana matahari disebabkan oleh bulan melintas di bawah matahari.

Tahap Misiologis

Dalam pelayanan lintas budaya kita harus menghadapi perbedaan antara pendekatan emic dan etic. Misalnya ada kultur yang membenarkan pembunuhan anak, tetapi berdasarkan Alkitab kita menegaskan perbuatan itu sebagai dosa. Hitler membenarkan pembunuhan orang Yahudi, sebagai orang Kristen kita kutuk perbuatan itu sebagai dosa.

Dalam hubungan kita dengan masyarakat non-Kristen kita perlu memulai dengan kepercayaan dan praktik mereka. Misalnya, kepada orang yang beragama lain yang menolak pembunuhan segala sesuatu, kita jelaskan obat luka sebagai "obat membersihkan luka", bukan "obat pembunuh kuman'". Atau, di masyarakat yang masih percaya kepada dukun kita mungkin bisa menawarkan alternatif baru daripada menantang jawaban yang lama, seperti obat sebagai ganti dukun.

Bahaya memakai pendekatan emic ialah kita menguatkan kepercayaan mereka. Ada bagian-bagian dalam setiap kebudayaan yang tidak dapat diterima oleh Injil, dan bagian ini perlu ditantang. Ketika Injil tidak menantang kultur, melainkan mendukungnya, maka akan timbul suatu aliran kepercayaan.

Supaya kita menghasilkan orang Kristen dewasa, maka kita harus menantang kepercayaan palsu dan memperkenalkan kebenaran alkitabiah. Artinya, kita harus memperkenalkan standar dan kepercayaan eksternal. Oleh karena itu pendekatan misiologi yang baik adalah yang menggabungkan pandangan emic dan etic, dan rela bekerja dalam ketegangan yang akan timbul di antaranya.

Diambil dan disunting dari:

Judul diktat : Perubahan Budaya dan Kontektualisasi
Penyusun : Imanuel Sukardi
Penerbit : Tidak dicantumkan
Halaman : 9 -- 15

e-JEMMi 34/2010



Buddhisme dan Konfusianisme

Chang Lit-sen pernah menjadi penganut agama-agama tersebut yang berkobar-kobar semangatnya. Dia adalah pendiri Universitas Kiang Nan yang diharapkan menjadi pusat "gerakan kebangkitan kembali agama-agama dan peradaban Timur"; namun dengan cara yang mengherankan, Chang Lit-sen bertobat ketika ia berada di Jawa. Pada International Congress on World Evangelization di Lausanne, Swiss, tahun 1974, ia menyajikan laporannya: dia memperkirakan bahwa penganut agama Buddha di dunia sudah melebihi 400 juta orang dan penganut Konfusianisme sebanyak 300 juta. Sejak Perang Dunia II, Chang menuturkan, telah terjadi kebangkitan Buddhisme yang besar.[1] Jika dahulu penganut Buddhisme adalah orang-orang tua, mereka sekarang telah "memikat hati dan pikiran para pemuda." Mereka begitu bergairah memajukan gerakan yang dianutnya, melalui universitas-universitas di Asia ke universitas-universitas lain di dunia!

Ya, Buddhisme telah mengubah sifatnya; tidak lagi sebagai agama yang terkungkung di wihara-wihara dan kuil-kuil, tetapi menjadi satu gerakan yang agresif dan bersemangat, yang berusaha menanamkan kuat-kuat pengaruhnya di dunia, di mana pun mereka berada. Jika komunis telah mengambil alih daratan Tiongkok, pusat kebangkitan kembali Konfusianisme berada di Hongkong untuk melawan "revolusi kebudayaan Tiongkok Merah", yang mempromosikan "renaisans kebudayaan Tiongkok". Jika Buddhisme memberikan diagnosis yang salah untuk dilema manusia dengan menganggap penderitaan sebagai sumbernya, kekristenan harus menunjukkan bahwa dosa adalah akar sesungguhnya yang berbahaya.

Jika kita mendekati orang-orang Buddha dengan Injil, kita sebaiknya ingat bahwa batu sandungan bagi orang-orang Buddha seringkali adalah sesuatu yang sosio-kultural. Mereka menganggap gereja sebagai satu institusi Barat dan kekristenan adalah agama Barat! Gereja Asia pada masa kini harus menemukan jalan untuk menyesuaikan diri secara kultural dengan orang-orang Buddha agar batu sandungan itu bisa disingkirkan. Oleh sebab itu, akan sangat menolong jika orang-orang Asia sendiri, khususnya orang-orang Buddha yang sudah bertobat, menjadi pembawa Injil yang memberikan kesaksian bahwa kekristenan adalah sungguh-sungguh agama Timur yang didirikan oleh orang-orang Timur. Tindakan yang bijaksana ialah menjangkau seluruh keluarga. Pendekatan pribadi ala Barat bisa mendatangkan salah pengertian dan menciptakan persoalan besar, ketika orang-orang didorong untuk mengambil keputusan mengikuti Kristus seorang diri tanpa menyertakan keluarga atau sanak saudaranya.

Gereja-gereja Asia wajib meninjau kembali tantangan kebangkitan gerakan Buddhisme, agar dengan menggunakan Injil dapat dirumuskan strategi yang baru dan efektif, sehingga seluruh kelompok penganut Buddha itu bisa berubah menjadi pengikut Kristus. Dalam ceramahnya, Chang menasihati agar orang-orang yang membahas penyampaian berita Injil menjadikan Pribadi Kristus sebagai pokok utama beritanya. Mereka harus mengembangkan bahan-bahan bacaan dan mengalihbahasakannya, dan gereja-gereja nasional harus menyelidiki bentuk-bentuk ungkapan hidup beriman yang lebih asli. Orang-orang Kristen seharusnya memelihara hubungan dengan anggota-anggota keluarga mereka yang belum bertobat dan mengetahui bagaimana cara untuk hidup di tengah mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk bersaksi demi pertobatan keluarganya.[2] Anggota-anggota kelompok diskusi mewakili negara-negara Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, Tibet, Jepang, dan Sri Lanka -- negara-negara yang rata-rata 90% penduduknya beragama Buddha.

Penganut terbesar agama Buddha dan Konfusianisme adalah orang-orang Tionghoa. Kita diingatkan bahwa masyarakat Tionghoa terdiri dari berbagai cabang kebudayaan, yang masing-masing memunyai rintangannya sendiri, meskipun pintu ke daratan Tiongkok sudah terbuka. Kenyataan bahwa daratan Tiongkok telah diindoktrinasi dan diracuni oleh ideologi komunis secara total tidak menghilangkan akar religius-kultural orang-orang Tionghoa yang berlatar belakang Buddhis-Konfusius.

Referensi:

[1] Chang Lit-sen, "Evangelization Among Buddhists and Confucianists," Let the Earth Hear His Voice, ed. J.D. Douglas (Minneapolis: Worldwide Publications, 1975), h. 828-840

[2] Wayland Wong, Secr. "Evangelization Among Buddhists and Confucianists," Let the Earth Hear His Voice, ed. J.D. Douglas (Minneapolis: Worldwide Publications, 1975), h. 841-843

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli artikel : Tantangan-tantangan yang Sedang Dihadapi
Gereja di Asia di Masa Kini:
Buddhisme dan Konfusiusisme
Judul buku : Merencanakan Misi Lewat Gereja-Gereja Asia
Penulis : David Royal Brougham
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang 2001
Halaman : 80 -- 83

e-JEMMi 19/2010



Bukti Ilmiah: Apakah Arkeologi Mendukung Atau Menolak Biografi Yesus? (1)

Ada sesuatu yang aneh saat makan siang bersama Dr. Jeffrey MacDonald. Dia duduk sambil mengunyah roti berisi ikan tuna dan keripik kentang dengan santai dalam sebuah ruangan pertemuan di pengadilan Carolina Utara. Dia membuat komentar-komentar riang dan tampaknya dia menikmati dirinya sendiri. Dalam ruangan lain di dekat ruangan ini, 12 juri sedang beristirahat setelah mendengarkan bukti menakutkan bahwa MacDonald telah membunuh istri dan kedua anak perempuannya secara brutal.

Setelah makan siang, saya tidak dapat menahan diri untuk bertanya persoalan-persoalan yang sudah cukup jelas, "Bagaimana bisa Anda bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi?" ujarku, dengan nada keheranan dan geram. "Apakah Anda tidak khawatir sedikitpun juri-juri itu akan menyatakan bahwa Anda bersalah?"

MacDonald dengan santai mengayunkan roti yang baru dimakan separuhnya ke arah ruangan juri. "Mereka?" Dia tergelak, "Mereka tidak bisa menyalahkanku!"

Sesaat setelah menyadari betapa sinisnya kata-kata tersebut, dia dengan cepat menambahkan, "Saya tidak bersalah."

Saat itu adalah terakhir kalinya saya mendengarnya tertawa. Dalam hitungan hari, mantan anggota Komando Pasukan Khusus AS dan fisikawan ruang gawat darurat itu, dinyatakan bersalah atas pembunuhan istrinya, Colette, dandua putrinya, Kimberly, 5 tahun, dan Kristin, 2 tahun.

Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan diseret dengan borgol.

MacDonald terlalu angkuh menganggap alibinya dapat menolongnya lolos dari tuduhan pembunuhan itu. Dia mengatakan kepada para penyelidik bahwa saat itu dia sedang tertidur di sofa, kemudian orang-orang jalanan yang terpengaruh obat terlarang membangunkannya tengah malam. Menurut pengakuannya, dia melawan mereka, ditusuk, dan dipukul sampai tak sadarkan diri dalam proses tersebut. Ketika dia terbangun, dia melihat keluarganya telah terbunuh.

Sejak awal para detektif sudah meragukan pernyataannya. Kondisi ruang tamu hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda perkelahian sengit, dan luka-luka MacDonald hanyalah luka yang dibuat-buat. Akan tetapi, sikap skeptis saja tidak bisa menyatakan bahwa dia bersalah; hal tersebut membutuhkan bukti-bukti kuat. Dalam kasus MacDonald, Para detektif bergantung pada bukti ilmiah untuk membuka jaringan kebohongannya dan menghukumnya atas pembunuhan tersebut.

Ada berbagai macam bukti ilmiah yang sering digunakan dalam pengadilan, mulai dari menggolongkan tipe DNA sampai antropologi forensik hingga toksikologi. Dalam kasus MacDonald buktinya adalah serologi (bukti darah) dan bukti jejak yang mengirimnya langsung ke penjara.

Menurut para jaksa penuntut dan berdasarkan dugaan kuat atas keabsahan kejadian luar biasa yang mengejutkan itu, setiap anggota dalam keluarga MacDonald memiliki tipe darah yang berbeda-beda. Dengan menyelidiki bercak-bercak darah yang ditemukan, para penyelidik berhasil merekonstruksi rangkaian peristiwa yang terjadi pada malam yang mengerikan itu -- dan penemuan mereka langsung bertolak belakang dari gambaran versi MacDonald.

Penelitian ilmiah tentang benang yang sangat kecil pada baju tidur birunya, yang ditemukan di berbagai tempat, juga menentang alibinya. Kemudian, analisis mikroskop menunjukkan bahwa lubang-lubang di baju tidurnya tidak mungkin disebabkan oleh penghancur es yang dihancurkan oleh orang-orang yang menyerang rumahnya, seperti yang dikatakan MacDonald. Singkat kata, para staf forensik FBI yang mengenakan jas laboratorium berwarna putih benar-benar berada di balik pengakuan MacDonald.

Bukti ilmiah juga dapat memberikan kontribusi yang penting untuk pertanyaan mengenai ketepatan Perjanjian Baru tentang Yesus. Walaupun ilmu yang berhubungan dengan serum darah (serologi) dan ilmu yang bersangkut paut dengan efek-efek dan mekanisme kerja yang merugikan dari agen-agen kimia terhadap binatang dan manusia (toksikologi) tidak dapat membantu penelitian ini, kategori bukti ilmiah lain -- disiplin ilmu arkeologi -- memunyai hubungan yang kuat dengan konsistensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur Injil.

Ratusan temuan arkeologi dari abad pertama telah diselidiki, dan saya penasaran: apakah mereka mempertentangkan atau sebaliknya menguatkan cerita-cerita para saksi mata tentang Yesus? Oleh karena itu, saya berkelana untuk bertemu dengan orang terkemuka yang telah menggali sendiri reruntuhan Timur Tengah, yang memunyai wawasan luas tentang penemuan-penemuan kuno, dan yang memiliki batasan-batasan ilmiah yang memadai yang diakui -- batasan-batasan arkeologi -- seraya menjelaskan bagaimana penemuan tersebut mengungkapkan kehidupan dalam abad pertama.

Wawancara: John McRay, Ph.D

Ketika para pelajar dan siswa mempelajari arkeologi, banyak yang kembali mengacu pada buku panduan John McRay yang akurat dan terpercaya pada halaman 432 tentang Arkeologi dan Perjanjian Baru.

McRay menuntut ilmu di Hebrew University, Ecole Biblique et Archeologique Francaise di Yerusalem, Vanderbilt University Divinity School, dan The University of Chicago, universitas yang memberinya gelar doktor pada tahun 1967. McRay adalah seorang Guru Besar Perjanjian Baru dan Arkeologi di Wheaton College selama lebih dari 15 tahun.

Untuk menguji apakah dia berlebihan tentang pengaruh arkeologi, saya memutuskan untuk membuka wawancara saya dengan menanyakannya apa yang dapat dia jelaskan tentang konsistensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur Perjanjian Baru.

"Arkeologi telah memberikan beberapa kontribusi penting," ujarnya mengawali dengan kecepatan dialek yang pernah dipakainya sebagai anak dari Oklahoma bagian tenggara, "Namun arkeologi tidak bisa membuktikan apakah Perjanjian Baru merupakan Firman Allah. Jika kita menggali tentang Israel dan menemukan letak-letak kuno yang konsisten dengan petunjuk Alkitab, maka hal ini menunjukkan bahwa sejarah dan geografi dalam Alkitab tepat. Namun demikian, hal ini tidak menyatakan bahwa apa yang dikatakan Yesus Kristus benar. Kebenaran rohani tidak dapat dibuktikan atau dilemahkan dengan penemuan-penemuan arkeologis."

Sebagai suatu analogi, dia menceritakan kisah tentang Heinrich Schliemann, yang berusaha meneliti Troy untuk membuktikan ketepatan historis Illiad karya Homer. "Dia menemukan Troy," ujar McRay dengan senyuman lembut, "tetapi itu tidak membuktikan bahwa Iliad benar. Cerita tersebut hanya akurat pada referensi-referensi geografis tertentu."

Saat kita menentukan batasan-batasan apa yang tidak dapat diungkapkan oleh arkeologi, saya penasaran untuk meneliti apa yang dikatakan arkeologi tentang Perjanjian Baru. Saya memutuskan untuk terjun ke topik ini dengan membuat pengamatan yang memperbanyak pengalaman saya sebagai jurnalis investigasi resmi.

Menggali Kebenaran

Saat mencoba memutuskan apakah seorang saksi berkata yang sesungguhnya, para jurnalis dan pengacara akan menguji seluruh elemen kesaksiannya yang dapat diuji. Jika investigasi ini mengungkapkan bahwa orang itu salah menyebutkan detail-detailnya, maka kebenaran kisahnya akan sangat diragukan. Akan tetapi, jika detail-detailnya cocok, ini merupakan indikasi -- bukan sebagai bukti kesimpulan, tetapi sebagai bukti bahwa mungkin saksi ini dapat dipercaya atas pernyataan keseluruhannya.

Contohnya, jika seseorang bercerita tentang perjalanannya dari St. Louis ke Chicago, dan menyebutkan bahwa dia berhenti di Springfield, Illinois, untuk menonton film "The Passion of the Christ" di Odeon Theater. Kemudian dia melahap cokelat Clark besar yang dia beli di kedai, para penyelidik dapat menyelidiki apakah bioskop tersebut berada di Springfield serta apakah bioskop memutar film itu dan menjual merek permen cokelat dengan ukuran tertentu saat itu seperti yang dikatakannya. Jika penemuan mereka bertentangan dengan pernyataan orang tersebut, hal ini menodai keabsahannya. Jika detail-detail tersebut cocok, hal ini tidak semata-mata membuktikan bahwa seluruh ceritanya benar, namun hal ini memperkuat reputasinya karena mengatakan hal-hal yang tepat.

Seperti inilah pencapaian arkeologi. Premis atau dasar pemikirannya adalah jika detail-detailnya tepat masa demi masa, hal ini menambah kepercayaan kita pada bahan-bahan lain yang ditulis sejarawan tetapi belum sempat untuk diperbandingkan (kros-cek).

Jadi saya menanyakan pendapat profesional McRay. "Apakah arkeologi mengukuhkan atau mempertentangkan Perjanjian Baru ketika arkeologi membenarkan detail-detail kisah-kisahnya?"

McRay menjawab dengan cepat. "Oh, tidak dapat diragukan bahwa kredibilitas Perjanjian Baru diperkuat," ujarnya, "sama seperti ketika kredibilitas dokumen kuno manapun diperkuat jika Anda menggali dan melihat bahwa penulisnya akurat berbicara tentang tempat atau peristiwa tertentu."

Sebagai contoh, dia memaparkan pencarian-pencariannya di Caesarea di pesisir Israel, tempat dia dan yang lainnya menggali teluk Herodes Agung.

"Untuk waktu yang lama orang-orang menanyakan validitas pernyataan Josefus, sejarawan abad pertama, bahwa teluk ini sebesar teluk di Piraeus, yang merupakan pelabuhan utama di Atena. Orang-orang mengira Josefus salah, karena ketika Anda melihat bebatuan di atas permukaan air laut di teluk yang sekarang, teluk tersebut tidak terlalu besar.

"Tetapi ketika kami memulai penyelidikan bawah laut, kami melihat bahwa teluk tersebut memanjang di bawah laut, bahwa teluk tersebut telah tertindih, dan dimensi-dimensinya secara keseluruhannya ternyata dapat dibandingkan dengan teluk di Piraeus. Jadi, Josefus ternyata benar. Ini adalah satu lagi bukti bahwa Josefus tahu apa yang dia bicarakan."

Jadi, bagaimana dengan penulis-penulis Perjanjian Baru? Apakah mereka benar-benar tahu apa yang mereka tuliskan? Saya ingin menguji isu ini dalam pertanyaan saya selanjutnya.

Ketepatan Lukas sebagai Sejarawan

Lukas, seorang fisikawan dan sejarawan, menuliskan Injil yang memakai namanya sendiri dan kitab Kisah Para Rasul, yang mana kedua kitab itu merupakan seperempat dari seluruh isi Perjanjian Baru. Injil-injil seperti Lukas dan Matius adalah kitab-kitab yang memberikan detail-detail tentang kisah Yesus.

Lukas dipercaya telah mewawancarai para saksi mata yang mengetahui segala sesuatu tentang kelahiran sampai kematian dan bahkan sampai kebangkitan Yesus. Kenyataannya, mitra sepelayanan Rasul Paulus ini mengatakan dia "menyelidiki segala sesuatu dengan teliti" agar dia dapat "menuliskan kisah-kisah yang berurutan" tentang "kepastian" yang terjadi. Tidak diragukan bahwa dia telah mencatat peristiwa-peristiwa historis yang aktual.

Apakah Kekristenan Menyalin Mitos-Mitos Zaman Dulu?

Para skeptis menyatakan bahwa kekristenan, termasuk kelahiran perawan (Kelahiran Yesus melalui sang perawan Maria, Red), hanyalah sebuah bungkusan ulang dari agama-agama misterius penyembah para dewa. "Tidak benar," ujar ahli apologi, Alex McFarland. Berbeda dengan mitos, "Perjanjian Baru berhubungan dengan orang-orang dan kejadian-kejadian nyata yang terbuka untuk diselidiki," tambahnya.

Peneliti Gretchen Passantino setuju bahwa kelahiran Kristus sangat berbeda dengan kisah-kisah mitos ini. "Contohnya, alih-alih seorang perawan bersedia mengandung dari kekuatan ajaib Allah, mitos-mitos memberikan kita kisah-kisah dari illah-illah yang kuat memaksa bersetubuh dengan wanita," ujarnya. "Alih-alih Inkarnasi, mitos-mitos menceritakan setengah manusia, pahlawan-pahlawan super setengah dewa yang memunyai kelemahan, dosa, dan frustrasi-frustrasi seperti kita."

Albert Schweitzer mengatakan, mereka yang menyatakan kekristenan berasal dari mitos-mitos ini "membuat berbagai macam penggalan atau potongan informasi sejenis agama misterius yang universal yang tidak pernah ada. C. S. Lewis menegaskan bahwa kekristenan berasal dari lingkaran tanpa jejak agama pada umumnya yang pernah ada."

Tetapi saya ingin tahu apakah Lukas mendapatkan hal-hal yang benar. "Ketika para arkeolog memeriksa detail-detail yang dituliskannya," saya lalu berkata, "Apakah kata mereka tentang Lukas. Apakah dia teliti atau ceroboh?" Baik para pelajar liberal maupun konservatif sepakat bahwa sebagai sejarawan, Lukas sangat tepat," Ujar McRay. "Dia terpelajar, dia pandai berbicara dan bahasa Ibraninya mendekati kualitas klasik, dia menulis sebagai seorang yang berpendidikan, dan penemuan-penemuan arkeologis menunjukkan lagi dan lagi bahwa Lukas tepat dalam apa yang patut dia sampaikan."

Nyatanya, dia menambahkan ada beberapa contoh, mirip dengan cerita tentang teluk di atas. Dalam beberapa kisah itu, para pelajar awalnya mengira Lukas salah dalam beberapa acuan, tetapi beberapa penemuan-penemuan lainnya menyatakan bahwa apa yang dituliskannya benar.

Contohnya, dalam Lukas 3:1 dia mengacu pada Lysania yang menjadi Gurbenur Romawi di Abilene sekitar tahun 27 Sesudah Masehi. Selama beberapa tahun, para pelajar menjadikan kisah ini bukti bahwa Lukas tidak tahu apa yang ia bicarakan, karena semua orang tahu bahwa Lysanias bukanlah gurbenur, tetapi dia adalah pemerintah Khalkis setengah abad sebelumnya. Jika Lukas tidak benar dalam fakta dasar, maka apa yang dia tuliskan tidak dapat dipercaya.

Di sinilah arkeologi ikut berperan. "Sebuah tulisan kemudian ditemukan pada zaman Tiberius, dari 14 sampai 37 SM, yang menyebutkan Lysanias sebagai Gurbenur di Ablila dekat Damascus sama seperti yang dituliskan oleh lukas," jelas McRay. "Ternyata ada dua pegawai pemerintah yang bernama Lysanias! Sekali lagi, Lukas dinyatakan tepat sekali."

Contoh lainnya adalah tulisan Lukas di Kisah Para Rasul 17:6 yang menyebutkan "Politarchs," yang diterjemahkan sebagai "pembesar-pembesar kota" oleh Alkitab Terjemahan Baru, di kota Tesalonika. "Untuk waktu yang lama orang-orang mengira Lukas salah, karena tidak ada bukti bahwa istilah "Politarchs" ditemukan di dalam dokumen Roma manapun," ujar McRay.

"Tetapi, sebuah tulisan di bangunan melengkung abad pertama menuliskan frasa, "Pada waktu Politarchs..." Anda dapat pergi ke Museum Inggris dan melihat sendiri. Kemudian, lihatlah dan perhatikanlah, para arkeolog telah menemukan lebih dari 35 tulisan yang menyebutkan Politarchs, beberapa tulisan tersebut ditemukan di Tesalonika dengan periode yang sama seperti yang dituliskan Lukas. Sekali lagi, para kritikus salah dan Lukas terbukti benar."

Seorang ahli arkeologi terkemuka meneliti dengan seksama acuan-acuan Lukas pada tiga puluh dua negara, lima puluh empat kota, dan sembilan pulau, ternyata tidak menemukan kesalahan.

Intinya adalah: "Jika Lukas sangat amat akurat dalam laporan historisnya," ujar salah satu buku yang membahas topik ini, "dengan dasar logika manakah kita berasumsi bahwa dia mudah percaya atau tidak tepat dalam laporannya tentang hal-hal yang jauh lebih penting, bukan hanya untuknya tetapi bagi yang lain juga?"

Hal-hal, seperti kebangkitan Yesus, bukti yang sangat kuat tentang ketuhanan-Nya, seperti yang ditulis Lukas, dicatat dengan "banyak bukti-bukti yang meyakinkan." (t\Uly)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Case for Christmas
Judul asli artikel : The Scientific Evidence: Does Archaeology Confirm or Contradict Jesus' Biographies?
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Zondervan, Grand Rapids, Michigan 2005
Halaman : 37 -- 45

e-JEMMi 50/2010

Bukti Ilmiah: Apakah Arkeologi Mendukung Atau Menolak Biografi Yesus? (2)

Konsistensi dari serangkaian alat ukur untuk Yohanes

Arkeologi mendukung kredibilitas Lukas, tetapi Lukas bukanlah satu-satunya penulis Perjanjian Baru. Saya heran tentang apa yang dikatakan para ilmuwan mengenai Yohanes, yang memulai injilnya dengan fasih menegaskan inkarnasi -- bahwa, "Firman," atau Yesus, telah menjadi Manusia dan tinggal di antara kita dalam Natal pertama.

Injil Yohanes terkadang dicurigai karena dia berbicara tentang tempat-tempat yang tidak dapat dibuktikan. Beberapa pelajar menyalahkannya karena dia tidak bisa meluruskan dan menjelaskan secara detail, Yohanes dapat dipastikan tidak akrab dengan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus.

Akan tetapi, kesimpulannya telah diputar-balikkan akhir-akhir ini. "Ada beberapa penemuan yang menyatakan bahwa Yohanes sangat akurat," McRay menunjukkan, "Contohnya, Yohanes 5:1-15 menuliskan bagaimana Yesus menyembuhkan orang sakit di serambi Kolam Bethesda. Yohanes menyatakan secara detail bahwa kolam tersebut memunyai lima serambi. Untuk waktu yang lama, orang-orang mengutip hal ini sebagai contoh ketidaktepatan Yohanes, karena tidak ada tempat yang ditemukan.

"Akhir-akhir ini Kolam Bethesda telah digali -- kolam itu mungkin terkubur di bawah tanah -- dan tentunya, ada lima beranda, yang berarti bilik atau lorong, persis seperti yang digambarkan Yohanes. Anda juga mengetahui penemuan-penemuan lainnya -- Kolam Siloam dalam Yohanes 9:7, Sumur Yakub dalam Yohanes 4:12, lokasi yang mungkin merupakan tempat yang bernama Litostrotos di dekat gerbang Jafa dalam Yohanes 19:13, bahkah identitas Pilatus sendiri, semuanya memberikan kredibilitas historis dalam injil Yohanes."

"Jadi hal ini menantang pernyataan tanpa bukti bahwa injil Yohanes telah ditulis jauh setelah Yesus sehingga injil ini tidak mungkin tepat," ujarku.

"Tepat sekali," balasnya.

Saya memutuskan untuk menanyakan McRay pertanyaan yang lebih luas: apakah dia pernah mendapatkan penemuan arkeologis yang nyata-nyata bertentangan dengan acuan Perjanjian Baru?

Dia menggelengkan kepalanya. "Arkeologi tidak menemukan apa pun, yang secara tegas menentang Alkitab," jawabnya dengan meyakinkan. "Sebaliknya, seperti yang telah kita bahas, banyak sekali pendapat ilmuwan yang telah disusun sebagai suatu fakta selama bertahun-tahun, tetapi arkeologi tersebut dinyatakan salah."

Walaupun demikian, ada beberapa hal yang saya ingin ketahui, terutama tentang permasalahan seputar kelahiran Yesus. Saya melihat catatan saya dan siap menantang McRay dengan tiga teka-teki panjang -- persoalan yang masih ada kaitannya, yang saya kira masih sulit dijelaskan oleh arkeologi.

Teka-teki ke-1: Sensus

Pernyataan naratif yang ditulis Lukas menyatakan bahwa Maria dan Yusuf diharuskan pulang ke kota asal Yusuf, Bethlehem, berdasarkan sensus. "Saya akan menyatakannya secara blak-blakan: ini tampak konyol," ujarku. "Bagaimana mungkin pemerintah menyuruh seluruh warganya untuk kembali ke kota kelahiran mereka? Apakah ada bukti arkeologis apa pun bahwa sensus seperti ini pernah terjadi?"

McRay dengan perlahan mengambil salinan bukunya. "Sebenarnya, penemuan bentuk sensus kuno telah menerangkan sedikit tentang praktik ini," ujarnya seraya membuka lembaran buku. Ketika menemukan referensi yang dia cari, dia mengutip peraturan pemerintahan resmi pada tahun 104 SM.

Gaius Vibius Maximus, Perfect of Egypt [mengatakan]: Karena waktu untuk sensus rumah ke rumah telah tiba, maka mereka semua, yang atas alasan apa pun tinggal di luar provinsi mereka diwajibkan pulang ke rumah mereka masing-masing, agar mereka dapat melaksanakan peraturan rutin sensus serta mereka dapat berpartisipasi dengan rajin untuk menggarap tanah mereka.

"Seperti yang dapat Anda lihat," ujarnya sambil menutup buku, "bahwa praktik tersebut dikuatkan oleh dokumen ini, walaupun cara menghitung warga ini tampak aneh bagi Anda. Dan naskah lain menjelaskan bahwa tulisan dibuat pada tahun 48 SM, menunjukkan bahwa semua anggota keluarga terlibat dalam sensus."

Akan tetapi, naskah ini tidak menghapus seluruh permasalahan. Lukas mengatakan bahwa sensus yang menyebabkan Yusuf dan Maria kembali ke Betlehem dilaksanakan ketika Kirenius memimpin Siria dan selama kekuasaan Herodes Agung.

"Hal ini memicu permasalahan mendasar," ujarku, "karena Herodes meninggal pada tahun 4 SM, dan Kirenius tidak memerintah sampai 6 SM, ketika sensus dilakukan setelah itu. Ada jarak yang jauh di sana; bagaimana Anda menanggapi ketidakcocokan yang besar dalam penanggalan ini?"

McRay mengetahui bahwa saya mengangkat permasalahan yang telah digeluti para arkeolog selama bertahun-tahun. Dia menanggapinya dengan mengatakan, "Seorang arkeolog yang terkenal bernama Jerry Vardaman telah melakukan kerja yang bagus berkaitan dengan hal ini. Dia menemukan koin dengan nama Kirenius. Di koin itu terdapat tulisan yang sangat kecil, atau yang kita kenal dengan huruf-huruf "mikrografik". Hal ini menempatkannya sebagai prokonsul dari Siria dan Kilikia dari tahun 11 Sebelum Masehi sampai kematian Herodes."

Saya bingung. "Apa maksudnya?" tanyaku.

"Yang jelas, ada dua orang yang bernama Kirenius," ujarnya. "Banyak orang yang memunyai nama Roma yang sama adalah hal yang lumrah, jadi tidak ada alasan untuk meragukan bahwa ada dua orang dengan nama Kirenius. Sensus dapat terjadi di bawah kekuasaan Kirenius yang pertama. Karena sensus diadakan selama empat belas tahun sekali, sensus akan berjalan dengan cukup lancar."

Teka-teki ke-2: Kehadiran Nazaret

Banyak orang Kristen tidak sadar bahwa skeptis telah menegaskan untuk waktu yang cukup lama bahwa orang Nazaret tidak pernah ada selama waktu Perjanjian Baru menyebutkan bahwa Yesus menghabiskan masa kecilnya di sana setelah kelahirannya di Bethlehem.

Atheis Frank Zindler menunjukkan bahwa Nazaret tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama, oleh rasul Paulus, oleh Talmud, atau oleh sejarawan abad pertama, Yosefus. Kenyataannya, tidak ada sejarawan-sejarawan atau ahli geografi yang menyebutkan Nazaret sebelum awal mula abad ke-4."

Hilangnya bukti ini memberikan gambaran yang mencurigakan. Jadi aku menanyakan hal ini langsung ke McRay: "Apakah ada konfirmasi arkeologis bahwa Nazaret ada selama abad pertama?"

Permasalahan ini bukanlah permasalahan yang baru buat McRay. "Dr. James Strage dari University of South Florida adalah seorang ahli dalam bidang ini. Dia menggambarkan Nazaret adalah kota yang sangat kecil, sekitar enam hektar, dengan populasi maksimum sekitar 480 pada awal abad pertama," ujar McRay.

"Bagaimana dia bisa mengetahuinya?" tanyaku.

"Strange mencatat bahwa Yerusalem runtuh pada tahun 70 SM. Para imam tidak lagi diperlukan di tempat ibadah karena tempat ibadah tersebut telah dirusak. Jadi, mereka dikirim ke berbagai tempat lain, bahkan sampai ke Galilea. Para arkeolog menemukan daftar dalam bahasa Aram yang menggambarkan dua puluh empat 'bagian', atau keluarga, dari para imam yang dipindahkan, dan salah satu dari mereka di dalam "daftar' telah pindah ke Nazaret. Hal ini menunjukkan bahwa perkampungan kecil ini pasti terletak di sana pada waktu itu."

Sebagai tambahan, dia mengatakan bahwa ada penggalian arkeologis yang telah menemukan kuburan abad pertama di daerah sekitar Nazaret, yang menandakan batas-batas desa, karena menurut peraturan Yahudi, penguburan hanya boleh dilakukan di kota itu.

McRay mengambil salinan buku arkeolog terkemuka, Jack Finegan, yang dipublikasikan oleh Princeton University Press. Dia membukanya, kemudian membaca analisis Finegan: "Dari kuburan...dapat disimpulkan bahwa Nazaret adalah kota Yahudi dalam masa Romawi."

McRay melihatku. "Ada diskusi tentang beberapa wilayah dari abad pertama, seperti di mana letak kubur Yesus, tetapi di antara para arkeolog ada keraguan besar tentang lokasi Nazaret. Mereka yang menyangsikan lokasi Nazaretlah yang harus membuktikannya."

Nah, itu terdengar masuk akal. Bahkan ilmuwan Wilson yang biasanya skeptikal, mengutip sisa-sisa kekristenan yang ditemukan pada tahun 1955 di bawah gereja di bawah Church of the Annunciation pada masa Nazaret telah diakui, "Penemuan seperti itu menunjukkan bahwa Nazaret mungkin ada pada masa Yesus, walaupun tidak diragukan lagi tempat tersebut sangat kecil dan tidak berpengaruh.

Karena sangat tidak berpengaruh perenungan Natanael dalam injil Yohanes saat ini masuk akal: "Nazaret!" ujarnya. "Adakah sesuatu yang baik muncul dari sana?"

Bintang ...

Apakah bintang itu sebuah komet? Asteroid? Kumpulan planet-planet? Semua menunjukkan bintang Natal yang memimpin orang-orang majus dari timur untuk mengunjungi bayi Kristus. Bagi astronom Hugh Ross, salah satu kemungkinan, itu adalah "kembali munculnya bintang baru".

"Sebuah nova yang kasat mata (bintang yang langsung bertambah sinarnya, dan dalam beberapa bulan atau tahun baru meredup) terjadi sekitar sekali setiap dekade," ujarnya. "Nova yang unik menarik perhatian pengamat-pengamat yang jeli dan terlatih seperti orang majus. Akan tetapi, banyak nova yang juga biasa saja, dan lepas dari perhatian peneliti lainnya."

Sebagian besar nova meledak satu kali, namun beberapa meledak berkali-kali dalam hitungan bulan maupun tahun. Hal ini, ujarnya, dapat menjelaskan perkataan Matius bahwa bintang muncul, hilang, dan kemudian muncul lagi dan kemudian menghilang lagi.

Teka-teki 3: Pembunuhan Massal di Betlehem

Injil Matius menggambarkan kejadian mengerikan: Herodes Agung, raja Yudea, terancam oleh lahirnya seorang bayi yang dia takuti akan mengambil alih takhtanya, mengutus pasukannya membunuh semua anak di bawah umur dua tahun di Betlehem. Akan tetapi, diperingatkan oleh malaikat, Yusuf melarikan diri ke Mesir bersama Maria dan Yesus. Beberapa saat sesudah Herodes mati, maka kembalilah mereka ke Nazaret Hanya setelah Herodes meninggal mereka kembali menetap di Nazaret, demikianlah keseluruhan episode menggenapi ketiga nubuatan kuno tentang Mesias.

Masalah: tidak ada penegasan langsung bahwa pembunuhan masal ini terjadi. Tidak ada yang menulis mengenai hal ini dalam tulisan-tulisan Yosefus dan sejarawan lain. Tidak ada bukti-bukti arkeologis. Tidak ada catatan sejarah atau dokumen tentang itu.

"Tentu saja kejadian sebesar ini kemudian disaksikan orang lain pada waktu itu selain Matius," tegasku. "Dengan kehampaan dokumentasi historis atau arkeologis, bukankah masuk akal kejadian ini tidak pernah terjadi?"

"Saya tahu mengapa Anda mengatakan hal itu," ujar McRay, "Jika peristiwa tersebut mungkin terjadi masa kini, maka hal itu akan disiarkan di seluruh CNN dan seluruh stasiun di dunia. Akan tetapi, Anda harus menempatkan diri anda pada abad pertama dan mengingat sedikit hal. Pertama, Betlehem mungkin tidak lebih besar daripada Nazaret, jadi berapa banyak bayi berumur kurang dari dua tahun di desa yang terdiri dari lima atau enam ratus orang? Bukan ribuan, bukan ratusan, tetapi pastinya sedikit.

"Kedua, Herodes Agung adalah raja yang haus darah; dia membunuh anggota-anggota keluarganya sendiri; dia membunuh orang banyak yang dia kira dapat menentangnya. Jadi fakta bahwa dia membunuh beberapa bayi di Betlehem tidak akan menarik perhatian orang-orang di dunia Romawi.

"Dan ketiga, tidak ada televisi, tidak ada radio, tidak ada koran. Butuh waktu yang lama untuk berita ini menyebar, terutama dari desa kecil di balik perbukitan di suatu tempat yang tak dikenal, dan para sejarawan memiliki cerita-cerita yang lebih besar untuk dituliskan."

Sebagai seorang jurnalis, hal ini masih sedikit sulit dipahami. "Kejadian ini tidak cukup besar untuk dituliskan?" tanyaku, sedikit ragu.

"Saya kira tidak, paling tidak di hari-hari itu," ujarnya, "Orang gila yang membunuh setiap orang yang tampaknya dapat menjadi ancaman baginya adalah pekerjaan yang biasa bagi Herodes. Tentunya, kemudian, setelah kekristenan berkembang, peristiwa mengenaskan ini menjadi lebih penting, tetapi saya akan lebih terkejut jika peristiwa ini menjadi berita besar pada masa itu."

Saya perlu akui bahwa dari apa yang saya ketahui tentang peristiwa berdarah Palestina kuno, penjelasan McRays tampaknya masuk akal. Tentu saja, ketika wawancara saya dengan McRay telah usai, saya lebih yakin tentang ketepatan keseluruhan Perjanjian Baru.

Clifford Wilson, seorang arkeolog dari Australia, mengatakan, "Mereka yang mengetahui fakta-fakta saat ini menyadari bahwa Perjanjian Baru perlu diterima sebagai buku sumber yang sangat akurat."

Yang lebih penting adalah Perjanjian Baru kemudian didokumentasikan oleh sumber-sumber historis kuno dari luar Alkitab. "Kita memunyai dokumentasi historis yang lebih baik tentang Yesus daripada pendiri agama kuno lainnya," ujar Dr. Edwin Yamauchi saat kunjungan saya ke Miami University of Ohio.

Yamauchi, yang memunyai gelar doktor studi Mediterranean dari Brandeis University, adalah penulis 'The Scriptures and Archaeology and The World of the First Christian'. Ketika saya menanyakannya apa yang dapat disimpulkannya tentang Yesus yang bergantung sepenuhnya pada sumber-sumber kuno non-Christian, dia menjawab:

"Kita tahu, pertama, Yesus adalah guru Yahudi; kedua, banyak orang percaya bahwa Dia dapat menyembuhkan dan mengusir setan; ketiga, beberapa orang percaya bahwa Dia Seorang Mesias; keempat, Dia ditolak oleh pemimpin-pemimpin Yahudi; kelima, Dia disalibkan di bawah pemerintahan Pontius Pilatus pada zaman kekuasaan Tiberius; keenam, di balik kematiannya yang memalukan, pengikutnya, yang percaya kepada-Nya masih hidup, menyebar keluar palestina sehingga banyak sekali dari mereka yang berada di Roma pada tahun 64 Sesudah Masehi; dan ketujuh, semua orang dari kota dan desa -- pria dan wanita, budak dan orang merdeka, menyembahnya sebagai Allah."

Seorang ahli mendokumentasikan 39 sumber historis kuno yang mencatat ada lebih dari seratus fakta tentang kehidupan, pengajaran, penyaliban dan kebangkitan Yesus. Tujuh sumber sekuler dan beberapa kepercayaan mula-mula menekankan pada ketuhanan Yesus, sebuah doktrin "tentunya terdapat pada gereja mula-mula," menurut Dr. Gary Habermas, penulis The Historical Jesus.

Akhirnya, pertanyaan saya tentang apakah perjanjian baru telah diceritakan dan dipercaya selama berabad-abad sampai sekarang ini telah dijawab oleh Dr. Bruce Metzger, profesor emiritus dari Princeton Theology Seminary. Dia mengatakan kepada saya bahwa sejumlah tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mereka ... dekat dengan tulisan-tulisan asli. Perjanjian Baru yang modern 99,55 bebas dari ketidaksesuaian teks, dan tanpa diragukan lagi, tidak terdapat doktrin-doktrin kristen besar. Selain itu, kriteria yang digunakan oleh gereja mula-mula menentukan buku-buku apa yang dianggap memiliki otoritas, telah memastikan bahwa kita memunyai tulisan-tulisan terbaik tentang Yesus.

Tulisan-tulisan itu tidak ambigu menyatakan bahwa bayi di kandang adalah Anak Allah. Akan tetapi, dapatkah dia mendukung pernyataannya? Saya tahu ada intelek Kristen bernama D.A. Carson yang dapat menolong saya menemukan apakah Yesus memenuhi atribut-atribut Allah.

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Case for Christmas
Judul asli artikel : The Scientific Evidence: Does Archaeology Confirm or Contradict Jesus' Biographies?
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Zondervan, Grand Rapids, Michigan 2005
Halaman : 45 -- 54

e-JEMMi 51/2010

Bukti Medis: Apakah Kematian Yesus Pura-Pura dan Kebangkitan-Nya Adalah Cerita Bohong? 1

Saya berhenti untuk membaca plakat yang tergantung di ruang tunggu di kantor dokter: "Biarlah percakapan berlalu. Biarlah tawa lenyap. Di tempat inilah maut dengan senang hati menolong yang hidup."

Jelas, ini bukan dokter biasa. Saya sedang melakukan kunjungan ke Dr. Robert J. Stein, salah satu ahli patologi forensik yang terkenal di dunia, seorang detektif medis yang flamboyan, bersuara parau, dan biasanya menyuguhi saya dengan kisah-kisah tentang petunjuk yang tidak terduga, yang ditemukannya ketika memeriksa jenazah. Bagi dia, jenazah benar-benar menceritakan kisah-kisah ­- kenyataannya, yang sering kali akan membawa keadilan bagi orang yang hidup.

Stein bekerja sebagai penguji medis di Cook Country, Illinois dan telah melakukan ribuan autopsi dengan teliti guna mencari pengetahuan mengenai kematian korban. Matanya yang awas akan hal-hal detail, pengetahuannya yang luas tentang anatomi manusia, dan intuisi penyelidikannya yang luar biasa, menolong Stein merekonstruksi kekerasan yang menyebabkan kematian korban.

Kadang-kadang hasil penelitiannya membersihkan nama orang-orang yang tidak bersalah dan merupakan paku terakhir di peti terdakwa. Seperti dalam kasus John Wayne Gacy, yang berhadapan dengan algojo, setelah Stein menolong untuk mencari bukti atas tiga puluh tiga tindakan pembunuhan mengerikan yang dilakukan John.

Begitulah, betapa bukti medis dapat menjadi penting sekali. Bukti-bukti tersebut dapat menentukan apakah seorang anak meninggal karena penyiksaan atau jatuh yang tidak disengaja. Bukti-bukti itu dapat menentukan apakah seseorang meninggal karena sebab yang alami atau dibunuh oleh seseorang yang membubuhi kopinya dengan arsenik. Bukti-bukti medis juga dapat menunjukkan secara tepat waktu kematian korban -- menggunakan sebuah prosedur sederhana, contohnya mengukur kadar potasium di mata jenazah, sehingga dapat menguatkan atau membongkar alibi terdakwa.

Bahkan dalam kasus seseorang yang secara brutal dihukum mati di atas salib Romawi dua ribu tahun yang lalu, bukti medis masih bisa memberikan sebuah kontribusi yang sangat penting: dapat menolong untuk menentukan apakah kebangkitan Yesus ­- pertahanan tertinggi atas klaim diri-Nya sebagai Tuhan -­ tidak lebih daripada sebuah cerita bohong yang rumit. Stein telah membuat saya terkesan akan nilai petunjuk-petunjuk forensik. Saya tahu inilah saatnya untuk mencari seorang ahli medis yang telah menyelidiki sepenuhnya fakta-fakta sejarah mengenai penyaliban dan telah berhasil memisahkan kebenaran dari legenda.

Kebangkitan atau Kesadaran dari Pingsan?

Gagasan bahwa Yesus tidak pernah sungguh-sungguh mati di kayu salib dapat ditemukan di Al-Quran, yang ditulis pada abad ke-7 ­- umat Islam Ahmadiyah berpendapat bahwa Yesus sebenarnya melarikan diri ke India. Sampai hari ini, ada sebuah tempat keramat yang diduga menjadi kuburan Yesus yang sesungguhnya di Srinagar, Kashmir.

Ketika abad ke-19 menyingsing, Karl Bahrdt, Karl Venturini, dan yang lainnya berusaha menjelaskan peristiwa kebangkitan, dengan memberi kesan bahwa Yesus hanya jatuh pingsan dari kelelahan di kayu salib, atau Dia telah diberi minuman yang membuat-Nya terlihat mati dan kemudian Dia dibangkitkan oleh udara dingin yang lembab di dalam kubur.

Para ahli teori konspirasi mendukung hipotesis ini, dengan menunjukkan bahwa Yesus telah diberi minuman dengan sebatang buluh ketika di atas salib (Markus 15:36), dan Pilatus terkejut dengan cepatnya Yesus mati (Markus 15:44). Maka dari itu, mereka berkata, kemunculan ulang Yesus bukanlah sebuah kebangkitan yang ajaib, namun hanya kembali sadar secara kebetulan dan kubur-Nya kosong karena Dia terus hidup.

Sementara para ahli terkemuka tidak mengakui teori yang diberi sebutan teori jatuh pingsan, namun teori ini berulang kali muncul dalam literatur populer. Pada tahun 1929, D.H. Lawrence merangkai tema ini ke dalam cerita pendek, di mana beliau memberi kesan bahwa Yesus melarikan diri ke Mesir dan Ia jatuh cinta dengan pendeta wanita Isis.

Pada tahun 1965, dalam bukunya "The Passover Plot", Hugh Schonfield mengatakan bahwa hanya tikaman pada Yesus yang tidak terhindarkan oleh tentara Romawi saja yang menggagalkan skema rumit untuk lolos dari salib hidup-hidup, meskipun Schonfield mengakui, "Kami tidak membuat pengakuan di mana pun ... bahwa [buku] menuliskan apa yang sebenarnya terjadi."

Hipotesis jatuh pingsan muncul kembali pada tahun 1972, melalui buku "The Jesus Scroll" karangan Donovan Joyce tahun 1972. Menurut ahli kebangkitan Gray Habermas, buku ini berisi rangkaian kemungkinan yang lebih tidak masuk akal daripada milik Schonfield. Pada tahun 1982, "Holy Blood, Holy Grail" menambahkan corak bahwa Pontius Pilatus telah menyuap untuk membiarkan Yesus diturunkan dari kayu salib sebelum Dia mati. Meskipun demikian, para penulis mengakui, "Kami tidak bisa ­- dan masih tidak bisa ­- membuktikan keakuratan kesimpulan kami."

Pada tahun 1992, Barbara Thiering -- sarjana dari Australia, membuat kegemparan dengan membangkitkan teori jatuh pingsan. Bukunya "Jesus and the Riddle of the Dead Sea Scroll", diperkenalkan dengan terlalu berlebihan oleh penerbit yang terhormat di Amerika Serikat. Tetapi teorinya kemudian ditolak dan direndahkan oleh Luke Timothy Johnson, seorang ahli dari Emory University, karena dianggap omong kosong belaka, hasil imajinasi yang memuncak, dan bukan merupakan analisis yang cermat.

Hari ini, teori jatuh pingsan terus berkembang. Saya mendengarnya sepanjang waktu. Namun, apakah buktinya sungguh-sungguh ada? Apa yang sesungguhnya terjadi saat Penyaliban? Apa yang menjadi penyebab kematian Yesus? Apakah ada kemungkinan Dia bisa selamat dari siksaan ini? Itu merupakan macam-macam pertanyaan yang saya harap dapat diselesaikan melalui bukti-bukti medis. Maka saya terbang ke California Selatan dan mengunjungi seorang dokter ternama, yang telah mempelajari secara mendalam data sejarah, arkeologis, dan medis mengenai kematian Yesus dari Nazaret ­- walaupun tampaknya berkenaan dengan hilangnya jenazah Yesus secara misterius, tidak pernah dilakukan autopsi terhadap-Nya.

Wawancara dengan Alexander Metherell, M.D., Ph.D.

Tempat yang mewah terasa sangat tidak cocok dengan topik yang sedang kami bicarakan. Di sanalah kami duduk di ruang tamu Dr. Metherell yang nyaman, di sore hari musim semi yang menyenangkan. Angin laut yang hangat berbisik melalui jendela, selagi kami berbicara mengenai topik tentang kebrutalan yang tidak terbayangkan: pemukulan yang begitu biadab, sehingga mengguncang kesadaran dan bentuk hukuman mati yang begitu kejam, sehingga menjadi kesaksian tentang kebiadaban manusia kepada manusia lainnya.

Saya mencari Metherell karena saya mendengar beliau memiliki keahlian medis dan ilmiah untuk menjelaskan tentang peristiwa penyaliban. Namun, saya juga memunyai motivasi lain: saya diberi tahu bahwa beliau dapat membicarakan topik tersebut dengan tenang dan akurat. Hal itu penting bagi saya karena saya ingin fakta-fakta berbicara untuk diri mereka sendiri, tanpa hiperbola, atau bahasa yang dipaksakan yang mungkin dapat memanipulasi emosi.

Seperti yang Anda harapkan dari seseorang dengan gelar medis (University of Miami di Florida) dan gelar doktor dalam bidang teknik (University of Bristol di Inggris), Metherell berbicara dengan ketelitian ilmiah. Beliau memiliki sertifikat dalam bidang diagnosis yang dikeluarkan oleh American Board of Radiology, dan telah menjadi konsultan bagi National Heart, Lung, dan Blood Institute di National Institutes of Health of Bethesda, Maryland.

Sebagai seorang mantan ilmuwan penelitian yang telah mengajar di University of California, Metherell adalah editor untuk lima buku ilmiah dan ia telah menulis untuk beberapa penerbit, mulai dari "Aerospace Medicine" sampai "Scientific American". Analisisnya yang terampil tentang kontraksi otot diterbitkan di "The Physiologist and Biophysics Journal". Beliau juga menjadi pengawas sebuah otoritas medis terkemuka: beliau adalah seseorang yang terhormat, dengan rambut putih dan sikap yang sopan tetapi formal.

Kadang-kadang saya membayangkan apa yang ada di dalam kepala Dr. Metherell. Dengan segala pengetahuan ilmiahnya, ia berbicara dengan pelan dan runtut. Beliau juga tidak memberikan petunjuk dari gejolak batinnya ketika beliau menjabarkan rincian yang mengerikan tentang kematian Yesus. Apa pun yang sedang terjadi di bawah permukaan itu, apa pun kepedihan yang dirasakannya sebagai seorang Kristen ketika berbicara tentang nasib yang mengerikan yang menimpa Yesus, beliau mampu menutupinya dengan profesionalisme yang lahir dari puluhan tahun penelitian di laboratorium. Beliau hanya memberi saya fakta-fakta ­- dan bagaimanapun juga hanya itulah yang saya kejar.

Penyiksaan Sebelum Salib

Awalnya, saya ingin memperoleh dari Metherell penggambaran dasar dari peristiwa-peristiwa menuju kematian Yesus. Jadi setelah percakapan sosial, saya meletakkan es teh saya dan mengatur cara duduk saya sedemikian rupa, sehingga saya menghadap tepat ke arah beliau. "Bisakah Anda memberikan gambaran tentang apa yang terjadi pada Yesus?" tanya saya.

Dia berdehem. "Peristiwa itu dimulai setelah Perjamuan Malam Terakhir, katanya. Yesus pergi bersama murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun -­ tepatnya ke Taman Getsemani dan di sana Dia berdoa sepanjang malam. Selama proses itu, Yesus menantikan peristiwa yang akan terjadi di hari berikutnya. Karena Dia tahu besarnya penderitaan yang harus ditanggung-Nya, sudah sewajarnya Ia mengalami tekanan psikologis yang sangat berat."

Saya mengangkat tangan saya untuk menghentikan beliau. "Whoa -­ di sinilah orang-orang skeptis memiliki waktu untuk bersenang-senang, kata saya kepadanya. Injil memberi tahu kita, Dia mulai berkeringat darah pada saat ini. Sekarang, bukankah hal itu hanya hasil dari beberapa imajinasi yang berlebihan? Bukankah hal itu menimbulkan pertanyaan tentang keakuratan para penulis Injil?"

Tanpa terganggu, Metherell menggelengkan kepala. "Tidak sama sekali, jawab beliau. Ini merupakan kondisi medis yang disebut 'hematidrosis'. Kondisi ini tidak terlalu umum, namun kondisi seperti ini memiliki hubungan dengan tingkat tekanan psikologis yang tinggi. Yang terjadi adalah ketakutan hebat, yang menyebabkan terlepasnya unsur kimiawi yang memecahkan kapiler [pembuluh darah halus, Red.] di kelenjar keringat. Akibatnya terjadi pendarahan di kelenjar tersebut, sehingga keringat yang keluar berwarna darah. Kita tidak sedang berbicara tentang banyak darah; hanya jumlah yang sangat, sangat sedikit."

Meskipun sedikit tertegur, saya terus menekan. "Apakah ini memiliki efek lain pada tubuh?"

"Kondisi ini membuat kulit menjadi sangat rapuh, sehingga ketika Yesus dicambuk oleh tentara Romawi keesokan harinya, kulit-Nya akan menjadi sangat, sangat sensitif." Baiklah, mari kita mulai. Saya mempersiapkan diri akan gambaran-gambaran mengerikan yang saya tahu akan memenuhi pikiran saya. Sebagai seorang jurnalis, saya telah melihat banyak jenazah -­ korban dari kecelakaan mobil, kebakaran, dan pembalasan sindikat kejahatan -­ namun, ada sesuatu yang menimbulkan ketakutan khusus ketika mendengar tentang seseorang yang diperlakukan secara keji dengan sengaja oleh para algojo untuk menimbulkan penderitaan yang paling menyakitkan.

"Ceritakan kepada saya, seperti apa pencambukan itu?" Mata Metherell terus menatap saya.

"Hukuman cambuk Romawi terkenal karena kebrutalannya yang amat sangat. Hukuman itu biasanya terdiri dari tiga puluh sembilan cambukan, namun seringnya jauh lebih banyak daripada itu, tergantung dari suasana hati tentara yang melakukan hukuman tersebut. Tentara itu akan menggunakan sebuah cambuk terbuat dari tali kulit yang dikepang dengan bola-bola logam yang diselipkan di dalam anyaman tali itu. Ketika cambuk itu menyambar tubuh si terhukum, bola-bola ini akan menyebabkan luka-luka memar yang dalam dan luka-luka itu akan hancur dengan pukulan-pukulan yang selanjutnya. Pada cambuk itu juga terdapat serpihan-serpihan tulang yang tajam, yang akan mencabik daging dengan parah. Punggung si terhukum juga akan terparut sedemikian rupa, sehingga bagian dari tulang belakang kadang-kadang dapat terlihat akibat luka yang sangat dalam. Pencambukan dilakukan mulai dari bahu turun ke punggung, pantat, dan bagian belakang kaki. Sungguh mengerikan."

Metherell berhenti. "Lanjutkan, kata saya."

"Seorang dokter yang pernah mempelajari cambukan Romawi berkata, 'Sementara cambukan itu berlangsung, tiap cabikan yang diakibatkan oleh cambuk itu akan mengoyak sampai ke otot rangka yang ada di bawah kulit, sehingga menghasilkan garis-garis daging yang berdarah.' Sejarawan abad ke-3, Eusebius menggambarkan pencambukan ini dengan mengatakan, 'Pembuluh darah korban pencambukan akan terbuka dan otot, urat dagingnya, serta isi perut korban dapat terlihat.' Kita tahu banyak orang akan mati karena pukulan jenis ini, bahkan sebelum mereka disalibkan. Sedikitnya, korban akan mengalami kesakitan yang amat hebat dan mengalami syok 'hypovolemic'."

Metherell mengajukan sebuah istilah medis yang saya tidak pahami. "Apa artinya guncangan 'hypovolemic?'" saya bertanya.

"'Hypo' artinya rendah, 'vol' mengacu pada volume, dan 'emic' berarti darah. Jadi, syok 'hypovolemic' artinya orang itu sedang menderita efek dari hilangnya darah dalam jumlah yang banyak. Hal ini menyebabkan empat hal. Pertama, jantung berdebar kencang untuk memompa darah yang tidak ada di situ; kedua tekanan darah menurun, menyebabkan ketidaksadaran atau pingsan; ketiga, ginjal berhenti memproduksi urin untuk mempertahankan volume yang tersisa; dan keempat, orang itu menjadi sangat haus karena tubuh sangat membutuhkan cairan untuk menggantikan volume darah yang hilang."

"Apakah Anda melihat bukti ini dalam catatan Injil?"

"Ya, tentu saja," jawab beliau. Yesus sedang dalam syok "hypovolemic" pada waktu Dia berjalan terhuyung-huyung ke tempat hukuman mati di Kalvari, sambil memikul balok horisontal dari salib-Nya. Akhirnya, Yesus roboh dan tentara Romawi menyuruh Simon untuk memanggul salib-Nya. Nantinya kita membaca bahwa Yesus berkata, "Aku haus," di titik di mana seisapan anggur asam ditawarkan kepada-Nya. Karena efek mengerikan dari cambukan ini, tidak dipertanyakan lagi bahwa Yesus sudah dalam kondisi serius menuju kritis, bahkan sebelum paku ditancapkan menembus tangan dan kaki-Nya.

Penderitaan yang Sangat Menyakitkan di Salib

Sama pahitnya dengan peristiwa pencambukan itu, saya tahu bahwa akan ada kesaksian yang lebih membuat saya mual lagi yang akan diberikan. Hal itu karena sejarawan bersepakat bahwa Yesus selamat dari cambukan hari itu dan naik ke kayu salib -- di mana masalah yang sebenarnya terjadi. Zaman ini, ketika penjahat yang dihukum mati diikat dan disuntik dengan racun, atau terkunci di kursi kayu dan disetrum dengan gelombang listrik, situasi-situasinya sangat terkendali. Kematian datang dengan cepat dan dapat diprediksi. Penyidik medis dengan cermat mengesahkan meninggalnya korban. Dari dekat, para saksi memeriksa dengan cermat segala sesuatunya dari awal hingga akhir. Namun, betapa pastinya kematian melalui bentuk eksekusi yang kira-kira, perlahan, dan agak tidak pasti yang disebut penyaliban ini? Sesungguhnya, kebanyakan orang tidak yakin bagaimana salib membunuh para korbannya. Tanpa penyidik medis yang terlatih untuk bukti resmi bahwa Yesus telah mati, mungkinkah Dia lolos dari pengalaman brutal dan berdarah namun tetap hidup?

Saya mulai membongkar masalah ini. "Apa yang terjadi ketika Dia tiba di tempat penyaliban?" saya bertanya.

"Dia mungkin terbaring dan tangan-tangan-Nya telah dipakukan dengan posisi terlentang di balok horisontal. Kayu lintang pada salib disebut 'patibulum' dan di tahap ini kayunya terpisah dari balok vertikal, yang secara permanen tertancap di tanah."

Saya kesulitan membayangkan ini; saya memerlukan rincian yang lebih. "Dipaku dengan apa?" saya bertanya. "Dipaku di mana?"

"Orang-orang Romawi menggunakan paku-paku yang panjangnya 5 sampai 7 inci dan meruncing ke ujung yang tajam. Paku-paku itu ditancapkan ke pergelangan," kata Metherell, menunjukkan sekitar satu inci di bawah telapak tangan beliau.

"Tahan," saya menginterupsi. "Saya pikir paku-paku ditembuskan ke telapak tangan-Nya. Itu yang ditunjukkan semua lukisan. Bahkan, menjadi sebuah simbol yang melambangkan penyaliban."

"Melewati pergelangan," Metherell mengulangi. "Ini merupakan posisi yang kuat, yang akan mengunci tangan; jika paku ditancapkan ke telapak tangan, berat badan-Nya akan menyebabkan kulit robek dan Dia akan jatuh dari atas salib. Jadi paku-paku menembus pergelangan, meskipun ini dianggap bagian dari tangan dalam bahasa zaman itu. Penting untuk memahami bahwa pakunya akan menembus tempat di mana jalur saraf median berada. Ini merupakan saraf terbesar yang menuju ke tangan dan saraf ini akan hancur oleh paku yang dipukulkan ke dalamnya." (t\Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Case for Easter
Judul asli artikel : The Medical Evidence: Was Jesus' Death a Sham and His Resurrection a Hoax?
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Zondervan, Grand Rapids, Michigan 2003
Halaman : 9 -- 17

e-JEMMi 10/2012

Bukti Medis: Apakah Kematian Yesus Pura-Pura dan Kebangkitan-Nya Adalah Cerita Bohong? 2

Karena saya hanya memiliki pengetahuan yang belum sempurna tentang anatomi manusia, saya tidak yakin apa artinya ini. "Kesakitan seperti apa yang akan dihasilkan?" Saya bertanya.

"Saya akan menjelaskan demikian," jawab beliau. "Apakah Anda tahu rasa sakit seperti apa yang Anda rasakan, ketika Anda memukul siku Anda dan mengenai daerah di ujung siku Anda? Itu sebenarnya adalah saraf yang lain, yang disebut 'saraf ulna' dan rasanya sangat sakit ketika Anda mengenainya secara tidak sengaja. Coba Anda bayangkan sepasang catut menekan dan menghancurkan saraf itu", kata beliau sambil menegaskan kata menekan sembari memutar sepasang catut khayalan itu. Efek itu mungkin mirip dengan apa yang Yesus alami. Rasa sakitnya sungguh-sungguh tak tertahankan. Bahkan, melampaui kata-kata untuk menjelaskannya; mereka perlu menciptakan kata yang baru: 'excruciating', yang secara harfiah berarti berasal dari salib. Pikirkan hal itu: mereka perlu menciptakan sebuah kata baru, karena tidak ada di dalam bahasa mereka yang dapat menjelaskan hebatnya penderitaan yang diakibatkan selama penyaliban. Pada titik ini, Yesus dikerek ke atas ketika bagian yang melintang dari salib itu dipakukan ke tiang horisontal, dan kemudian paku-paku ditancapkan menembus kedua kaki-Nya. Sekali lagi, saraf-saraf kaki-Nya akan hancur dan akan menimbulkan rasa sakit yang serupa.

Saraf-saraf yang hancur dan dalam keadaan yang parah jelas sudah cukup buruk, namun saya perlu mengetahui tentang efek dari tergantung di kayu salib yang mungkin terjadi pada Yesus. "Tekanan-tekanan apa yang mungkin diakibatkan oleh penyaliban ini pada tubuh-Nya?"

Metherell menjawab, "pertama-tama, lengan-Nya harus direntangkan secara tiba-tiba, mungkin sekitar 6 inci panjangnya. Kedua, bahu-Nya mungkin menjadi terlepas dari tempatnya -­ Anda bisa menentukan ini dengan persamaan matematika yang sederhana. Keadaan ini menggenapi nubuat dalam Mazmur 22, yang mengatakan, 'segala tulangku terlepas dari sendinya'."

Penyebab Kematian

Metherell telah menyampaikan maksud beliau -­ dengan amat jelas, seperti keadaan yang sebenarnya ­- tentang rasa sakit yang berlangsung terus-menerus sejak proses penyaliban dimulai. Namun, saya perlu sampai kepada pernyataan final kehidupan korban penyaliban, karena itulah isu yang sangat penting dalam menentukan apakah kematian bisa dipalsukan atau dielakkan. Jadi, saya mengajukan pertanyaan penyebab kematian secara langsung kepada Metherell.

"Penyaliban adalah kematian perlahan yang sangat menyakitkan, dikarenakan 'asphyxia' (keadaan kurangnya suplai oksigen ke dalam tubuh karena tidak dapat bernapas secara normal, Red.). Penyebabnya adalah tekanan-tekanan pada otot dan diafragma, yang membuat dada berada dalam posisi menarik napas; untuk mengeluarkan napas, seseorang yang disalib harus mendorong dirinya ke atas dengan bertumpu pada kakinya, sehingga tekanan pada otot dada akan mereda untuk sementara. Ketika melakukan hal ini, paku akan merobek kaki orang itu dan akhirnya paku itu akan terkunci dengan 'tulang tarsal' [tulang pergelangan kaki, Red.]. Setelah mengatur untuk mengeluarkan napas, orang itu lalu akan mampu mengendur ke bawah dan menarik napas kembali."

"Sekali lagi, dia harus mendorong dirinya sendiri ke atas untuk mengeluarkan napas, mencabik punggungnya yang berdarah mengenai kayu salib yang kasar. Keadaan ini berlangsung terus-menerus sampai kelelahan menguasainya dan orang itu tidak akan mampu mendorong ke atas dan bernapas lagi. Ketika napas orang itu melambat, dia mengalami 'respiratory acidosis' -­ karbon dioksida di dalam darah larut menjadi asam karbonat, menyebabkan kadar asam dalam darah meningkat. Lama kelamaan hal ini membuat denyut jantung menjadi tidak teratur. Dengan denyut jantung yang tidak teratur, Yesus mungkin tahu bahwa Dia sedang dalam keadaan sekarat. Saat itulah Ia berkata, 'Tuhan, ke dalam tangan-Mulah Kuserahkan nyawa-Ku,' kemudian Dia meninggal karena 'cardiac arrest' [terhentinya sirkulasi darah yang normal dikarenakan jantung yang tidak dapat berkontraksi secara penuh. Red.]."

[Gambaran itu merupakan penjelasan paling jelas yang pernah saya dengar tentang kematian melalui penyaliban dan ini sangat penting -­ namun Metherell belum selesai.]

"Bahkan sebelum Dia mati -- ini sangat penting, syok 'hypovolemic' mungkin mengakibatkan jantung berdenyutnya dengan cepat secara terus-menerus, yang membuat gagal jantung. Hal itu berakibat berkumpulnya cairan di dalam membran sekitar jantung (pericardial effusion) dan di sekitar paru-paru (pleural effusion). Untuk memastikan kematian Yesus, maka tentara Romawi menusukkan sebuah tombak ke sebelah kanan-Nya. Mungkin sebelah kanan-Nya; itu tidak pasti, namun dari catatan kemungkinan sebelah kanan, di antara tulang-tulang iga. Tombaknya tampaknya menembus paru-paru sebelah kanan dan masuk ke jantung, maka ketika tombak ditarik keluar cairan -- 'pericardial effusion' dan 'pleural effusion' keluar. Ini terlihat sebagai cairan yang bening seperti air, diikuti dengan darah yang banyak, sebagaimana Yohanes -- seorang saksi mata menggambarkan peristiwa itu di dalam Injilnya."

Yohanes kemungkinan tidak mengetahui mengapa dia melihat darah dan juga cairan bening keluar -­ tentulah seseorang tidak terlatih seperti dirinya tidak akan mengantisipasi hal tersebut. Namun, apa yang digambarkan Yohanes itu konsisten dengan yang diperkirakan ilmu kedokteran modern. Awalnya, laporan ini terlihat seperti memberikan kredibilitas kepada Yohanes sebagai saksi mata; tetapi bagaimanapun juga, sepertinya terdapat sebuah kecacatan yang besar pada semua hal ini.

Saya lalu membuka Yohanes 19:34. "Tunggu sebentar, dok," saya protes. "Jika Anda membaca dengan teliti apa yang dikatakan oleh Yohanes, dia melihat 'darah dan air' keluar; dengan sengaja dia meletakkan kata-kata dengan urutan itu. Namun menurut Anda, cairan bening mungkin keluar lebih dahulu. Jadi, ada ketidakcocokkan di sini."

Metherell tersenyum. "Saya bukan ahli bahasa Yunani," jawab beliau. Namun menurut orang-orang yang ahli, urutan kata dalam Yunani kuno tidak selalu ditentukan oleh rangkaian waktu, melainkan yang mana yang lebih menonjol. Ini berarti karena dalam peristiwa itu ada lebih banyak darah daripada air, maka bisa dipahami bahwa Yohanes menyebutkan darah terlebih dahulu.

Pada titik ini saya bertanya, "Kondisi Yesus menjadi seperti apa?"

Tatapan Metherell terkunci dengan tatapan saya. Beliau menjawab dengan otoritas, "Jelas tidak diragukan lagi bahwa Yesus telah mati."

Menjawab Orang-Orang Skeptis

Pernyataan Dr. Metherell kelihatannya benar-benar didukung oleh bukti medis. Namun, masih ada beberapa rincian yang ingin saya ajukan ­- demikian pula setidaknya satu kelemahan dalam penjelasan beliau yang sangat bisa meruntuhkan kredibilitas Alkitab.

"Kitab Injil mengatakan bahwa para prajurit Romawi mematahkan kaki kedua penjahat yang disalib bersama Yesus," kata saya. "Mengapa mereka melakukan hal itu?"

"Jika mereka ingin mempercepat kematian -­ dan dengan menjelangnya hari Sabat dan Paskah, para pemimpin Yahudi tentunya ingin menyelesaikan ini semua sebelum matahari terbenam ­- orang-orang Romawi akan memakai gagang baja dari tombak pendek Romawi untuk menghancurkan tulang kaki korban. Dengan demikian akan menghalangi korban untuk mendorong dirinya ke atas dengan kakinya untuk bernapas, sehingga kematian yang disebabkan oleh kesulitan bernapas akan terjadi dalam hitungan menit. Tentu saja kita diberi tahu di dalam Perjanjian Baru bahwa kaki Yesus tidak dipatahkan, karena para tentara telah memastikan bahwa Dia sudah mati, dan mereka hanya memakai tombak untuk memastikan hal itu. Peristiwa ini menggenapi nubuat Perjanjian Lama lainnya tentang Mesias, yaitu bahwa tulang-tulang-Nya tidak akan dipatahkan."

Sekali lagi saya menyela. "Beberapa orang berusaha untuk menimbulkan keraguan terhadap catatan Injil dengan menyerang kisah penyaliban. Misalnya, sebuah artikel di Harvard Theological Review menyimpulkan bertahun-tahun yang lampau terdapat 'bukti yang sangat sedikit bahwa kaki orang yang tersalib pernah ditembus dengan paku.' Sebaliknya, dikatakan dalam artikel itu, tangan dan kaki korban diikat di kayu salib dengan tali. Akankah Anda mengakui bahwa hal ini meningkatkan permasalahan mengenai kredibilitas catatan Perjanjian Baru?"

"Tidak," ujar Dr. Metherell, karena sekarang bukti arkeologi telah menetapkan bahwa penggunaan paku dalam penyaliban adalah sesuatu yang historis -­ meskipun saya mengakui bahwa tali-tali memang terkadang digunakan.

"Apa buktinya?"

"Pada tahun 1968, para arkeolog di Yerusalem menemukan sisa-sisa jenazah dari sekitar tiga puluh enam orang Yahudi yang meninggal selama pemberontakan terhadap penjajahan Roma sekitar tahun 70 M. Seorang korban, yang sepertinya bernama Yohanan, disalib dalam peristiwa itu dan mereka menemukan paku sepanjang tujuh inci yang masih tertancap di kakinya, dengan serpihan-serpihan kecil kayu zaitun yang dipakai sebagai kayu salib yang masih menempel. Penemuan ini merupakan konfirmasi arkeologis yang baik sekali mengenai rincian penting dalam penggambaran kitab Injil tentang Penyaliban."

"Masuk akal," pikir saya. Namun, ada hal lain yang dipertentangkan oleh para ahli tentang orang-orang Romawi dalam menentukan apakah Yesus benar-benar mati. Mereka sangat primitif dalam hal ilmu kedokteran dan anatomi. Bagaimana kita tahu bahwa mereka tidak keliru ketika mereka menyatakan bahwa Yesus tidak lagi hidup?

"Saya menjamin bahwa tentara-tentara ini tidak belajar kedokteran. Tetapi, ingatlah bahwa mereka adalah para ahli dalam membunuh orang -- itu adalah pekerjaan mereka dan mereka melakukannya dengan sangat baik. Tanpa ragu, mereka dapat mengetahui jika korban mereka mati dan hal itu benar-benar bukan merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk mereka ketahui. Lagi pula, jika seorang tahanan entah dengan cara bagaimana dapat meloloskan diri, tentara-tentara yang bertanggung jawab terhadap tahanan itu pasti akan dibunuh. Jadi, mereka memiliki dorongan yang sangat besar untuk memastikan bahwa setiap tahanan sudah mati ketika diturunkan dari salib."

Argumen Final

Dengan mengacu kepada sejarah, ilmu kedokteran, arkeologi, dan bahkan aturan-aturan kemiliteran Romawi, Metherell telah menutup semua celah: Yesus tidak mungkin turun dari kayu salib hidup-hidup. Namun, saya masih mendesak beliau lebih jauh. "Apakah kemungkinan­kemungkinan yang paling kecil sekalipun ­- bahwa Yesus selamat melewati penyaliban ini?"

Metherell menggelengkan kepala dan mengacungkan jarinya ke arah saya sebagai penekanan. "Sangat tidak mungkin," katanya. Ingat, Dia telah berada dalam syok "hypovolemic" akibat kehilangan darah yang sangat banyak bahkan sebelum penyaliban dimulai. Dia tidak mungkin memalsukan kematian-Nya karena Anda tidak bisa memalsukan ketidakmampuan bernapas untuk waktu yang lama. Lagi pula, tombak yang menusuk jantung-Nya pasti benar-benar mengakhiri hidup-Nya dan para prajurit Romawi tidak akan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri dengan membiarkan Dia pergi hidup-hidup. Jadi, Yesus hanya jatuh pingsan di kayu salib adalah hal mustahil. Itu adalah teori khayalan yang tidak memiliki dasar yang memungkinkan di dalam kenyataannya.

Saya belum siap untuk meninggalkan masalah ini. Dengan risiko membuat dokter Metherell merasa frustrasi, saya berkata, "mari berspekulasi bahwa hal yang mustahil itu terjadi dan bahwa Yesus dengan cara yang entah bagaimana dapat selamat dari penyaliban. Katakan saja Dia bisa lolos dari lilitan kain linen-Nya, menggulingkan batu besar dari mulut kubur-Nya, dan melewati prajurit-prajurit Romawi yang sedang berjaga. Secara medis, kondisi seperti apa yang Dia alami setelah Dia melacak keberadaan murid-murid-Nya?

Metherell enggan mengikuti permainan saya. Sekali lagi beliau menekankan, "Tidak mungkin Ia selamat dari salib. Namun seandainya Dia lolos, bagaimana mungkin Dia bisa berjalan setelah paku-paku menembus kaki-kaki-Nya? Bagaimana mungkin bisa Dia muncul di jalan menuju ke Emaus dalam waktu singkat dan melakukan perjalanan dalam jarak yang jauh? Bagaimana mungkin Dia menggunakan tangan-Nya, setelah kedua tangan-Nya itu direntangkan dan ditarik dari sendi-sendi-Nya? Ingat, Dia juga memunyai luka yang sangat parah pada punggung-Nya dan sebuah luka akibat tusukkan tombak di dada-Nya."

"Dengar," kata Metherell. Seseorang dalam kondisi menyedihkan semacam itu tidak akan pernah menginspirasi murid-murid-Nya untuk pergi ke luar dan menyatakan bahwa Dialah Tuhan atas hidup yang telah mengalahkan kematian. "Apakah Anda mengerti apa yang sedang saya katakan?" Setelah menderita penyiksaan yang begitu mengerikan, dengan kehilangan darah dan luka yang mematikan, Dia akan terlihat begitu menyedihkan, sehingga murid-murid-Nya tidak mungkin meninggikan Dia sebagai penakluk kematian yang berkemenangan; mereka akan merasa kasihan kepada-Nya dan berusaha untuk merawat Dia agar kembali sehat. Jadi, tidak masuk akal jika berpikir seandainya Dia telah menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan yang mengerikan, dan para pengikut-Nya terdorong untuk memulai gerakan ke seluruh dunia, berdasarkan pengharapan bahwa suatu hari mereka akan memiliki kebangkitan tubuh seperti ini. Benar-benar tidak mungkin.

Pernyataan Metherell ini merupakan poin penutup, yang akan menancapkan pancang terakhir di jantung teori jatuh pingsan sekali dan untuk selamanya -- teori yang belum pernah disangkal oleh seorang pun sejak pertama kali diajukan oleh teolog Jerman, David Strauss pada tahun 1835.

Sebuah Pertanyaan untuk Hati

Metherell telah menetapkan pernyataannya melampaui keraguan yang beralasan. Beliau telah melakukannya dengan berfokus semata-mata pada pertanyaan, "Bagaimana Yesus dihukum mati sedemikian rupa, sehingga memastikan kematian-Nya?" Namun ketika kami selesai, saya merasakan ada sesuatu yang kurang. Saya telah mengetuk ke dalam pengetahuan beliau, namun saya tidak menyentuh hatinya. Jadi, ketika kami berdiri untuk bersalaman, saya merasa terdorong untuk mengajukan pertanyaan. "Alex, sebelum saya pergi, izinkan saya menanyakan pendapat Anda tentang sesuatu -­ bukan pendapat medis Anda atau penilaian ilmiah Anda, tetapi sesuatu dari hati Anda."

"Yesus dengan sengaja masuk ke dalam cengkeraman pengkhianat-Nya. Dia tidak menolak penangkapan, tidak membela diri-Nya sendiri di pengadilan -­ jelas bahwa Dia bersedia mengarahkan diri-Nya sendiri kepada apa yang telah Anda jelaskan sebagai penghinaan dan penderitaan yang dalam dari penganiayaan. Saya ingin tahu mengapa. Apa yang mungkin memotivasi seseorang untuk bersedia memikul penghukuman semacam ini?"

Metherell menjawab, "orang biasa tidak dapat melakukannya. Yesus tahu apa yang akan terjadi dan Dia bersedia melaluinya, karena hukuman itu adalah satu-satunya jalan untuk-Nya agar bisa menebus kita ­- dengan menjadi pengganti kita dan menjalani hukuman mati yang pantas kita terima karena pemberontakan kita melawan Allah. Itulah seluruh misi-Nya datang ke dalam dunia."

Saat beliau mengucapkan kalimat itu, saya merasakan bahwa Metherell tidak henti-hentinya berpikir secara rasional, logis, dan teratur, terus menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang paling mendasar dan tidak dapat dikurangi. "Jadi, ketika saya bertanya apa yang memotivasi Dia?"

Beliau menyimpulkan, "Baiklah, saya rasa jawabannya dapat dirangkum dalam satu kata -­ dan itu adalah kasih."

Jawaban ini terus terngiang-ngiang dalam benak saya. Metherell secara meyakinkan menegaskan bahwa Yesus tidak mungkin selamat dari siksaan salib, sebuah bentuk kekejaman yang begitu keji, sehingga orang-orang Romawi mengecualikan warganya sendiri dari hukuman itu, kecuali untuk kasus-kasus pengkhianatan yang berat.

Kesimpulan Metherell konsisten dengan penemuan-penemuan para dokter lain yang telah mempelajari masalah ini dengan cermat. Salah satunya adalah tulisan Dr. William D. Edwards, dalam "Journal of the American Medical Association" tahun 1986, yang menyimpulkan dengan jelas, bobot bukti historis dan medis menunjukkan bahwa Yesus mati sebelum luka di bagian-Nya dibebankan. Karena itu, anggapan bahwa Yesus tidak mati di kayu salib akan tampak sebagai sesuatu yang ganjil menurut pengetahuan medis modern. Mereka yang mencoba menghilangkan kebangkitan Yesus dengan alasan yang menyatakan bahwa Dia lolos dari cengkeraman kematian di Golgota, perlu memberikan teori yang lebih masuk akal, yang sesuai dengan fakta. Mereka juga harus mempertimbangkan pertanyaan -- yang kita semua harus pertimbangkan: apa yang memotivasi Yesus sehingga rela membiarkan diri-Nya direndahkan dan disiksa sebagaimana yang Dia alami? (t\Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Case for Easter
Judul asli artikel : The Medical Evidence: Was Jesus' Death a Sham and His Resurrection a Hoax?
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Zondervan, Grand Rapids, Michigan 2003
Halaman : 17 -- 28

e-JEMMi 11/2012

Bukti Saksi Mata: Apakah Biografi Yesus dapat dipercaya? 1

Ketika saya pertama kali bertemu dengan Leo Carter, seorang yang halus dalam berbicara, ia adalah seorang yang telah menjadi veteran selama 17 tahun di wilayah pemukiman Chicago yang paling keras. Kesaksiannya telah menjebloskan tiga pembunuh ke penjara. Dan peluru kaliber 38 masih bersarang di kepalanya -- sebuah peringatan yang mengerikan atas sebuah kisah kepahlawanan yang tragis, yang berawal ketika ia menyaksikan Elijah Baptist menembak seorang penjual bahan makanan lokal.

Leo dan Leslie Scott sedang bermain basket ketika mereka melihat Elijah (yang pada saat itu berumur enam belas tahun), dengan kejam membunuh Sam Blue di luar toko bahan pangan miliknya. Leo telah mengenal pemilik toko itu sejak masih anak-anak. "Ketika kami tidak punya makanan, ia memberi kami makanan," jelas Leo kepada saya. "Jadi, ketika Leo ke rumah sakit dan mereka mengatakan ia meninggal, ia tahu bahwa ia harus memberi kesaksian atas apa yang dilihatnya."

Kesaksian seorang saksi mata memiliki dampak yang sangat besar. Salah satu peristiwa paling dramatis dalam suatu pengadilan adalah ketika seorang saksi menjelaskan kejahatan yang ia lihat, dan kemudian dengan percaya diri menunjuk terdakwa sebagai pelakunya. Elijah Baptist tahu bahwa satu-satunya cara menghindari penjara adalah dengan mencegah Leo Carter dan Leslie Scott melakukan hal tersebut.

Jadi, Elijah dan dua temannya merencanakan penyerangan dengan tiba-tiba. Leslie dan saudara laki-laki Leo, Henry, dibunuh dengan sadis, sedangkan Leo ditembak di kepala dan ditinggalkan untuk mati. Tetapi, ajaibnya, Leo tetap hidup. Peluru tersebut, yang bersarang di tempat yang sangat berbahaya untuk diambil, tetap berada di dalam tengkoraknya. Meskipun mengalami sakit kepala hebat yang tidak dapat diredakan dengan obat, ia menjadi saksi utama untuk melawan Elijah Baptist dan dua orang kaki-tangannya. Keterangan yang diberikannya cukup untuk menjebloskan tiga orang itu ke penjara seumur hidup mereka.

Leo Carter adalah salah satu pahlawan saya. Ia memastikan keadilan dinyatakan, meskipun ia harus membayar harga yang mahal. Ketika saya memikirkan tentang kesaksian seorang saksi mata, bahkan hingga saat ini -- 30 tahun kemudian -- wajahnya masih tetap muncul dalam benak saya.

Kesaksian Dari Masa Lalu

Kesaksian dari seorang saksi mata bisa memaksa dan meyakinkan. Ketika seorang saksi telah mendapat kesempatan untuk meneliti suatu kejahatan, ketika tidak ada prasangka atau maksud tersembunyi, ketika saksi itu dapat jujur dan benar, tindakan puncak dengan menunjuk seorang terdakwa di ruang sidang, dapat cukup membuat terdakwa tersebut masuk penjara atau lebih buruk.

Kesaksian dari para saksi mata merupakan hal yang penting dalam menyelidiki persoalan-persoalan sejarah -- meskipun masalah tersebut adalah mengenai apakah palungan Natal benar-benar berisi Anak Allah yang tunggal itu.

Tetapi, laporan saksi mata apakah yang kita miliki? Apakah kita memiliki kesaksian dari seseorang yang secara pribadi berhubungan dengan Yesus, yang mendengarkan ajaran-ajaran-Nya, yang melihat mukjizat-mukjizat-Nya, yang menyaksikan kematian-Nya, dan yang bertemu dengan-Nya setelah kebangkitan-Nya dinyatakan? Apakah kita memiliki catatan-catatan dari "para wartawan" abad pertama, yang mewawancarai para saksi, menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit, dan dengan setia mencatat apa saja yang mereka tentukan secara teliti sebagai sesuatu yang benar adanya?

Saya tahu bahwa sama seperti kesaksian Leo Carter yang mengunci dakwaan terhadap tindakan kriminal tiga pembunuh yang keji itu, laporan-laporan saksi mata dari masa lalu yang samar-samar, dapat berguna untuk membantu menyelesaikan sebagian besar masalah rohani yang paling penting. Untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang kuat, saya terbang ke Denver untuk mewawancarai seorang ahli tentang hal ini dan penulis buku "The Historical Reliability of the Gospels", Dr. Craig Blomberg.

Wawancara: Craig L. Blomberg, Ph.D.

Craig Blomberg dianggap oleh kalangan luas sebagai salah seorang ahli yang paling terkenal di Amerika mengenai biografi Yesus, yang disebut dalam empat Injil. Beliau meraih gelar doktor Perjanjian Baru dari Aberdeen University di Skotlandia, kemudian menjadi anggota peneliti senior untuk Tyndale House di Cambridge University di Inggris, yang membawanya menjadi bagian dari sebuah kelompok elit para ahli internasional, yang menghasilkan serangkaian karya terkemuka tentang Yesus. Kini beliau menjadi profesor Perjanjian Baru di Denver Seminary.

Sementara beliau duduk di kursi dengan sandaran yang tinggi di kantornya, dengan secangkir kopi di tangannya, saya juga menyeruput kopi saya untuk melawan udara Colorado yang dingin. Karena saya merasa Blomberg adalah seorang yang tidak suka basa-basi, maka saya memutuskan untuk memulai wawancara saya dengan langsung memotong ke inti masalah.

"Beri tahu saya...," tanya saya dengan sedikit menantang, "... apakah benar-benar mungkin, seseorang yang berpikiran kritis dan cerdas, masih dapat memercayai bahwa keempat Injil itu ditulis oleh orang-orang yang nama-namanya telah dikaitkan dengan Injil tersebut?"

Blomberg meletakkan cangkir kopinya di pinggir mejanya kemudian menatap saya. "Jawabannya adalah ya," katanya dengan yakin.

Beliau bersandar dan melanjutkan. "Penting untuk mengakui bahwa Injil-injil tersebut tidak bernama. Tetapi, persamaan kesaksian pada masa gereja mula-mula, yaitu bahwa Matius, yang juga dikenal sebagai Lewi -- sang pemungut cukai, dan salah satu dari kedua belas murid, merupakan penulis Injil pertama dari Perjanjian Baru; bahwa Yohanes Markus, sahabat Petrus, adalah penulis Injil yang kita sebut Markus; dan bahwa Lukas, yang dikenal sebagai "dokter yang dikasihi Paulus", menulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul."

"Seberapa samakah kepercayaan bahwa orang-orang ini adalah para penulisnya?" tanya saya.

"Tidak ada saingan yang diketahui untuk ketiga Injil ini, katanya. Tampaknya, hal ini tidak dipermasalahkan. Meskipun demikian, saya ingin menguji masalah ini lebih lanjut. Maaf bila saya skeptis. Tetapi, apakah ada seseorang yang telah memiliki motivasi untuk berbohong, dengan mengakui orang-orang itulah yang menulis Injil-Injil ini, padahal sebenarnya bukan mereka yang menulisnya?" tanya saya.

Blomberg menggelengkan kepalanya. "Mungkin tidak ada. Ingat, orang-orang ini bukanlah tokoh-tokoh seperti yang diduga selama ini, katanya -- senyum seringai merebak di wajahnya. Markus dan Lukas bahkan bukan anggota dari kedua belas murid. Matius dulunya iya, tetapi sebagai orang yang awalnya adalah seorang pemungut cukai yang dibenci, ia menjadi tokoh yang paling tidak terkenal setelah Yudas Iskariot, yang mengkhianati Yesus!

"Bertolak belakang dengan apa yang terjadi ketika Injil-Injil Apokrifa yang indah ditulis kemudian. Orang-orang memilih nama-nama tokoh yang terkenal, dan tokoh-tokoh yang patut dicontoh untuk menjadi penulis-penulis fiktifnya -- Filipus, Petrus, Maria, Yakobus. Nama-nama itu lebih berbobot daripada nama-nama seperti Matius, Markus, dan Lukas. Jadi, untuk menjawab pertanyaan Anda, tidak akan ada alasan untuk menghubungkan ketiga orang yang kurang dihargai ini bila itu tidak benar."

Jawaban itu terdengar logis, tetapi sangat jelas bahwa Blomberg melupakan seorang penulis Injil lainnya. "Bagaimana dengan Yohanes?" Tanya saya. "Ia benar-benar seorang tokoh yang penting; pada kenyataannya ia bukan sekadar salah seorang dari kedua belas murid Yesus, tetapi juga salah satu dari tiga orang terdekat-Nya bersama dengan Yakobus dan Petrus."

"Ya, ia merupakan sebuah pengecualian," kata Blomberg sambil mengangguk. "Dan menariknya, Yohanes adalah satu-satunya injil yang berisi beberapa pertanyaan tentang kepengarangan."

"Apa yang sebenarnya dipertentangkan?"

"Nama penulis tidak diragukan lagi -- pasti Yohanes," jawab Blomberg. "Pertanyaannya adalah, apakah ini Yohanes rasul atau Yohanes yang lainnya?"

"Anda tahu, kesaksian penulis Kristen yang bernama Papias, yang ditulis sekitar tahun 125 Masehi, mengacu kepada rasul Yohanes dan Yohanes yang tua, dan tidak jelas dari konteks itu apakah ia sedang berbicara tentang satu tokoh dari dua sudut pandang atau dua orang yang berbeda. Tetapi abaikan pengecualian itu, selanjutnya dari kesaksian awal tersebut adalah dengan pasti disebutkan penulisnya, yaitu rasul Yohanes -- anak Zebedeus -- yang menulis Injil."

"Apa Anda yakin bahwa dialah pengarangnya?" kata saya berusaha membawanya lebih jauh.

"Ya, saya percaya masalah yang utama kembali kepada rasul itu," jawabnya. "Namun, bila Anda membaca Injil dengan teliti, Anda bisa lihat beberapa tanda bahwa ayat-ayat yang memberikan kesimpulan, mungkin telah disempurnakan oleh seorang editor. Secara pribadi, saya tidak memiliki masalah untuk percaya bahwa seseorang yang berhubungan dekat dengan Yohanes, mungkin telah menggunakan peranan tersebut, membentuk ayat-ayat terakhir menjadi berbentuk, dan ada kemungkinan membuat kesamaan gaya bahasa dari keseluruhan dokumen."

"Tetapi di suatu peristiwa, Injil jelaslah didasarkan pada masalah-masalah saksi mata, seperti ketiga injil lainnya." Katanya menekankan.

Menyelidiki dengan Rinci

Meski saya menghargai pendapat-pendapat Blomberg sejauh ini, saya belum siap untuk beranjak. Masalah tentang siapakah yang menulis Injil benar-benar penting, dan saya ingin mendapatkan nama, tanggal, petikan yang lebih rinci. Saya menghabiskan kopi saya dan meletakkan cangkir di mejanya. Pulpen telah siap, saya siap untuk menggali lebih dalam.

"Marilah kembali kepada Matius, Markus, dan Lukas," kata saya. "Bukti spesifik apa yang Anda miliki, bahwa mereka adalah para penulis Injil?"

Blomberg bersandar. "Sekali lagi, kesaksian terpenting dan mungkin tertua berasal dari Papias, yang kira-kira pada tahun 125 Masehi secara rinci mengakui bahwa Markus telah mencatat penelitian kesaksian Petrus dengan teliti dan akurat. Kenyataannya, dia berkata bahwa Markus 'tidak membuat kesalahan' dan tidak memberikan 'pernyataan yang salah.' Papias mengatakan bahwa Matius juga telah mempertahankan ajaran-ajaran Yesus."

"Kemudian Irenaeus, yang menulis sekitar tahun 180 Masehi, memastikan kepengarangan tradisional. Kenyataannya di sini, katanya, sambil mengambil sebuah buku." Ia membukanya dan membaca kata-kata Irenaeus: 'Matius menerbitkan Injilnya sendiri di antara orang-orang Ibrani dalam bahasa mereka sendiri, ketika Petrus dan Paulus sedang memberitakan Injil di Roma dan mendirikan gereja di sana. Setelah kepergian mereka, Markus -- murid dan penerjemah Petrus, menuliskan inti dari khotbah Petrus untuk kita. Lukas, pengikut Paulus, menulis buku tentang Injil yang dikabarkan oleh gurunya. Kemudian Yohanes, murid Tuhan, yang juga bergantung pada usahanya sendiri, menulis sendiri Injilnya ketika dia sedang tinggal di Efesus di Asia'."

Saya memerhatikan catatan yang saya dapatkan. "Baiklah, saya akan memperjelas hal ini. Bila kita telah yakin bahwa injil ditulis oleh murid-murid, yaitu Matius dan Yohanes; oleh Markus, teman Petrus, dan oleh Lukas, ahli sejarah, rekan Paulus, dan beberapa jurnalis abad pertama, kita bisa yakin bahwa peristiwa-peristiwa yang mereka catat berdasarkan kesaksian saksi mata langsung maupun tidak langsung."

Ketika saya sedang berbicara, Blomberg secara mental menggeser kata-kata saya. Ketika saya selesai, dia mengangguk.

"Tepat," katanya ringan.

Biografi Kuno Versus Biografi Modern

Masih ada beberapa aspek yang bermasalah dari Injil-Injil yang perlu saya selesaikan. Secara khusus, saya ingin mengerti dengan lebih baik lagi jenis-jenis literatur yang mereka sampaikan.

"Ketika saya ke toko buku dan melihat ke bagian biografi, saya tidak melihat tulisan yang sama seperti yang saya lihat dalam injil," kata saya. "Ketika seseorang menulis sebuah biografi, mereka sepenuhnya masuk ke dalam kehidupan seseorang, tetapi Markus tidak. Ia tidak berbicara tentang kelahiran Yesus atau sesuatu yang benar-benar terjadi dalam tahun-tahun awal pertumbuhan Yesus. Sebaliknya, ia memfokuskan pada periode tiga tahun, dan menghabiskan sebagian dari Injilnya pada peristiwa-peristiwa yang utama, dan berujung pada minggu terakhir Yesus. Bagaimana Anda menjelaskan hal itu?"

Blomberg memegang dua jarinya. "Ada dua alasan," jawabnya. "Yang pertama adalah literatur dan yang lain adalah teologis. Alasan literatur pada dasarnya adalah bagaimana orang-orang menulis biografi pada zaman kuno. Mereka tidak memiliki kepekaan, seperti yang kita miliki sekarang ini, yang merupakan hal penting untuk memberikan porsi yang seimbang terhadap semua periode kehidupan seseorang, atau perlunya menceritakan sejarah dengan kronologis yang benar-benar berurutan, atau bahkan memilih kutipan kata per kata dari orang-orang, sepanjang inti dari apa yang mereka katakan itu dipertahankan. Orang-orang Yunani dan Ibrani kuno bahkan tidak memiliki simbol untuk tanda petik."

"Satu-satunya alasan yang mereka pikirkan adalah bahwa sejarah merupakan dokumen yang penting, karena ada beberapa pelajaran yang dipelajari dari tokoh-tokoh yang digambarkan. Oleh sebab itulah, penulis biografi ingin tinggal sesaat di satu bagian kehidupan orang yang dijelaskan, yang digunakan sebagai ilustrasi, yang bisa membantu orang lain, yang memberikan arti bagi periode suatu sejarah."

"Lalu apa alasan teologisnya?" tanya saya.

"Alasan ini mengalir keluar dari pokok masalah yang baru saja saya nyatakan. Orang-orang Kristen percaya bahwa seindah-indahnya kehidupan dan ajaran Yesus serta mukjizat-Nya, itu semua tidak akan ada artinya bila tidak ada fakta sejarah, bahwa Kristus mati dan dibangkitkan dari kematian, dan ini memberikan pertobatan atau pengampunan, atas dosa-dosa manusia."

"Jadi, Markus secara khusus, sebagai penulis yang mungkin merupakan yang pertama dari Injil, secara garis besar mengarahkan sebagian dari ceritanya kepada peristiwa utama, dan memasukkan satu minggu periode dan berakhir pada kematian dan kebangkitan Kristus."

"Dengan memberikan pentingnya penyaliban, hal ini memberikan rasa yang sempurna dalam literatur kuno," simpulnya.

Misteri Q

Sebagai tambahan keempat Injil, para ahli Alkitab sering menunjuk apa yang mereka sebut Q, yang merupakan singkatan dari bahasa Jerman "Quelle" atau "sumber". Karena kesamaan dalam bahasa dan isi, Matius dan Lukas dalam menulis Injilnya dianggap meniru Injil Markus yang telah terlebih dahulu ada. Selain itu, para sarjana telah mengatakan bahwa Matius dan Lukas juga menyatukan beberapa bahan dari misteri Q ini, yang tidak ada di dalam Injil Markus.

"Apakah sebenarnya Q itu?" tanya saya kepada Blomberg.

"Q itu tidak lebih dari sekadar hipotesis," katanya, sambil kembali bersandar ke kursinya dengan nyaman. "Dengan beberapa pengecualian, Q hanyalah ucapan atau ajaran-ajaran Yesus, yang dulunya mungkin telah menjadi bentuk suatu dokumen terpisah, tersendiri."

"Anda tahu, sudah menjadi jenis literatur umum untuk mengumpulkan ucapan-ucapan dari para guru yang dihormati, sama seperti misalnya kita mengumpulkan musik-musik terkenal dari seorang penyanyi dan menyatukannya dalam 'Album terbaik'. Q bisa juga sesuatu seperti itu. Setidaknya, itulah teorinya."

Namun bila Q ada sebelum Matius dan Lukas, maka Q akan menjadi materi utama tentang Yesus. Saya pikir mungkin bisa sedikit menjelaskan beberapa titik terang tentang seperti apa sebenarnya Yesus itu.

"Izinkan saya menanyakan tentang hal ini," kata saya, "Bila Anda hanya membaca materi-materi yang berasal dari Q, gambaran seperti apakah yang Anda dapatkan tentang Yesus?"

Blomberg memegang janggutnya dan memandang langit-langit sesaat untuk memikirkan pertanyaan itu. "Anda harus ingat bahwa Q merupakan kumpulan ucapan-ucapan, dan oleh sebab itulah Q tidak memiliki bahan narasi yang akan memberi kita lebih banyak gambaran yang sepenuhnya tentang Yesus," jawabnya sedikit lambat seolah-olah ia memilih setiap kata dengan cermat.

"Meskipun demikian, Anda mendapati bahwa Yesus membuat beberapa pernyataan yang sangat tegas -- contohnya, bahwa Ia adalah Firman yang menjadi manusia dan bahwa Ia adalah Pribadi Tuhan yang akan menghakimi semua manusia, baik yang mengakui Dia maupun yang tidak. Sebuah buku dari para ahli akhir-akhir ini membantah bahwa bila Anda menghilangkan semua yang dikatakan oleh Q, maka seseorang sebenarnya akan mendapatkan gambaran yang sama tentang Yesus, seseorang yang membuat pengakuan yang tegas tentang dirinya sendiri, seperti yang Anda temukan secara umum di Injil."

Saya ingin mencari tahu lebih dalam darinya mengenai hal ini. "Apakah Ia terlihat seperti pembuat mukjizat?" tanya saya lebih dalam.

"Sekali lagi," jawabnya, "Anda harus ingat bahwa Anda tidak akan mendapatkan banyak cerita mukjizat itu sendiri, karena cerita-cerita itu pada umumnya terdapat dalam narasi, dan Q pada awalnya adalah daftar perkataan."

Dia berhenti sejenak mendekat ke mejanya, mengambil Alkitab yang disampul kulit dan membuka halaman-halamannya.

"Tetapi, contohnya dalam Lukas 7:18-23 dan Matius 11:26 mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis mengirimkan utusan-utusannya untuk bertanya kepada Yesus apakah Ia benar-benar adalah Kristus, Mesias yang mereka nanti-nantikan. Yesus menjawab dengan singkat, 'Katakan kepadanya supaya memikirkan mukjizat-mukjizat-Ku. Katakanlah kepadanya apa yang telah kamu lihat: orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik'."

"Jadi dalam Q, ada perhatian yang jelas tentang pelayanan mukjizat Yesus," ia menyimpulkan.

Apa yang dikatakan Blomberg tentang Kitab Matius membawa pada pemikiran pertanyaan lain tentang bagaimana Injil dikumpulkan. "Mengapa Matius mau menjadi seorang saksi mata dari Yesus -- terpisah dari injil yang ditulis oleh Markus, yang dipercaya oleh setiap orang bahwa dia bukan seorang saksi mata? Bila Injil Matius benar-benar ditulis oleh seorang saksi mata, Anda akan berpikir dia akan memercayai pengamatannya sendiri." tanya saya.

Blomberg tersenyum. "Tentu akan berpengaruh bila Markus mendasarkan pemikirannya pada saksi mata Petrus yang dikumpulkan kembali," katanya. "Seperti yang sudah Anda katakan sendiri, Petrus merupakan bagian dari lingkaran dalam Yesus dan mendapatkan kesempatan untuk melihat dan mendengarkan hal-hal yang tidak bisa didapatkan oleh murid-murid lainnya. Jadi, akan berpengaruh kepada Matius, meskipun ia adalah seorang saksi mata, yang bergantung kepada peristiwa-peristiwa yang Petrus sampaikan, yang ditransmisikan melalui Markus." (t\Ratri)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Case for Christmas
Judul asli artikel : The Eyewitness Evidence: Can the Biographies of Jesus Be Trusted?
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Zondervan, Grand Rapids, Michigan 2005
Halaman : 13 –- 23

e-JEMMi 48/2011

Bukti Saksi Mata: Apakah Biografi Yesus dapat dipercaya? 2

Keunikan Pandangan Yohanes

Puas dengan jawaban singkat Blomberg tentang tiga Injil pertama yang disebut Sinoptik, yang berarti "melihat pada saat yang sama", karena kesamaan mereka dalam hal alur dan hubungan -- selanjutnya saya mengalihkan perhatian kepada Injil Yohanes. Setiap orang yang membaca keempat injil akan segera mengenali bahwa ada perbedaan yang jelas antara Sinoptik dan Injil Yohanes, dan saya ingin tahu apakah ini berarti ada kontradiksi yang tidak bisa disatukan lagi di antara mereka.

"Bisakah Anda menjelaskan perbedaan-perbedaan antara Injil Sinoptik dan Injil Yohanes?" tanya saya kepada Blomberg.

Alisnya terangkat. "Pertanyaan yang bagus!" serunya.

Setelah saya meyakinkan dia bahwa saya hanya mengikuti inti permasalahan, bukan karena ingin berdiskusi lebih dalam, dia bersandar kembali ke kursinya.

"Memang benar bahwa Yohanes agak berbeda dari Sinoptik," ia memulai. "Hanya cerita-cerita utama yang lengkap, yang muncul dalam tiga injil lainnya, yang dimunculkan lagi di Injil Yohanes, meskipun perubahan-perubahan itu dapat diketahui ketika seseorang datang kepada Yesus di minggu terakhir. Dari poin inilah kesinambungan cerita itu semakin erat."

"Tampaknya ada juga perbedaan yang tajam dalam gaya bahasa. Di kitab Yohanes, Yesus menggunakan terminologi yang berbeda, ia memberikan khotbah panjang, dan tampaknya ada juga Kristologi yang lebih tinggi, yaitu pengakuan yang lebih langsung dan lebih jelas yang menyatakan bahwa Yesus adalah satu kesatuan dengan Bapa, Allah sendiri, jalan, kebenaran, dan hidup; kebangkitan dan hidup."

"Apa alasan perbedaan-perbedaan itu?" tanya saya.

"Selama bertahun-tahun, anggapan bahwa Yohanes mengetahui semua yang Matius, Markus, dan Lukas tulis, dan ia memandang tidak perlu mengulanginya, jadi ia dengan sadar memilih untuk menambahkannya. Akhir-akhir ini, kitab Yohanes dianggap berdiri sendiri daripada ketiga Injil lainnya, yang dapat dikatakan tidak hanya berbeda dalam memilih bahan, tetapi juga berbeda dalam pandangan tentang Yesus."

Pengakuan Yesus yang Paling Berani

"Ada beberapa perbedaan teologis dalam kitab Yohanes" ujar saya.

"Saya tidak mempertanyakan perbedaan-perbedaan itu, tetapi apakah semua perbedaan itu bisa disebut sebagai suatu kontradiksi? Saya rasa jawabannya adalah tidak, dan inilah sebabnya: untuk hampir setiap tema utama atau perbedaan yang ada dalam Injil Yohanes, Anda bisa temukan keterkaitannya di Injil Matius, Markus, dan Lukas, meskipun tidak sepenuhnya."

Itu adalah pernyataan yang tegas. Dengan cepat saya memutuskan untuk mengujinya dengan memunculkan berbagai masalah yang mungkin paling penting; berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan perbedaan antara Injil Sinoptik dan Injil Yohanes.

"Yohanes membuat pengakuan yang sangat jelas tentang Yesus sebagai Tuhan, yang beberapa di antaranya mengarah pada fakta bahwa ia menulis setelah yang lainnya dan mulai membumbuinya," kata saya. "Dapatkah Anda menemukan tema tentang ketuhanan ini di Sinoptik?"

"Ya, saya dapat menemukannya," katanya. "Tema ini lebih jelas dan Anda bisa menemukannya di sana. Coba Anda pikirkan cerita tentang Yesus yang berjalan di atas air, yang terdapat di Matius 14:22-23 dan Markus 6:45-52. Sebagian besar terjemahan Inggris menyembunyikan bahasa Yunani dengan mengutip perkataan Yesus, `Fear not, it is I.` (Jangan takut, Aku ini). Sebenarnya, dalam bahasa Yunani dikatakan, `Fear not, I am.` (Jangan takut, inilah Aku). Dua kata terakhir sama dengan apa yang Yesus katakan dalam Yohanes 8:58, ketika Ia menamakan Diri-Nya sendiri `Aku` yang merupakan cara Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa dalam semak belukar yang terbakar dalam Keluaran 3:14. Jadi, Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Pribadi yang memiliki kuasa yang sama dengan sifat ketuhanan YHWH, Allah dalam Perjanjian Lama."

Saya menganggukkan kepala "Itu salah satu contohnya," kata saya. "Apakah Anda punya contoh lain?"

"Ya, saya dapat meneruskannya," kata Blomberg. "Contohnya, sebutan Yesus yang paling umum untuk menunjuk Diri-Nya dalam tiga Injil pertama adalah Anak Manusia. Dan..."

Saya mengangkat tangan untuk menghentikannya. "Tunggu dulu," kata saya. Saya meraih tas dan mengeluarkan sebuah buku dan brosur, dan mengamatinya hingga saya menemukan kutipan yang saya cari. "Karen Armstrong, mantan biarawati yang menulis buku terlaris `A History of God`, mengatakan bahwa tampaknya istilah `Anak Manusia` hanya menekankan pada kelemahan dan kematian kondisi manusia. Jadi dengan menggunakan istilah ini, Yesus hanya menekankan bahwa `Dia hanyalah manusia biasa, yang suatu hari nanti akan menderita dan mati.` Bila hal itu benar, itu tidak seperti kebanyakan pengakuan tentang ketuhanan," kata saya.

Ekspresi Blomberg berubah kecut. "Perhatikan," katanya dengan sungguh-sungguh, "berbeda dengan kepercayaan yang populer, `Anak Manusia` tidak hanya menunjuk pada kemanusiaan Yesus. Sebaliknya, ini merupakan kiasan langsung terhadap Daniel 7:13-14."

Dengan ayat itu dia membuka Perjanjian Lama dan membaca kata-kata nabi Daniel. "Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah."

Blomberg menutup Alkitab. "Jadi, lihatlah pada apa yang Yesus lakukan dengan menerapkan istilah `Anak Manusia` kepada dirinya sendiri," lanjutnya. "Ia adalah seseorang yang menghampiri Allah sendiri di takhta surgawi-Nya, dan diberikan kekuasaan dan kemuliaan yang universal. Itulah yang menjadikan `Anak Manusia`, nama yang teragung tidak hanya sekadar kemanusiaan."

Kemudian saya sampai pada suatu komentar dari ahli lain, Dr. William Lane Craig, yang telah membuat pengamatan yang sama: "Anak Manusia" sering digunakan untuk menunjukkan kemanusiaan Yesus, sama seperti ungkapan refleks "Anak Allah" yang menunjukkan ketuhanan-Nya. Pada kenyataannya, justru sebaliknya. Anak Manusia merupakan sosok Tuhan dalam Perjanjian Lama di kitab Daniel, yang akan datang di akhir zaman untuk menghakimi manusia dan memerintah selamanya. Jadi, pengakuan menjadi Anak Manusia akan menjadi dampak dari pengakuan ketuhanan.

Lanjut Blomberg: "Selain itu, dalam Injil Sinoptik, Yesus mengaku untuk menghapus dosa, dan itu merupakan sesuatu yang hanya Allah saja yang dapat melakukannya. Yesus menerima doa dan pujian. Yesus mengatakan, `Barangsiapa mengenal Aku, Aku akan mengenalnya di hadapan Bapa di surga.` Penghakiman terakhir didasarkan pada reaksi seseorang -- siapa? Ini hanyalah manusia biasa? Bukan, itu akan menjadi pengakuan yang sangat angkuh. Penghakiman terakhir didasarkan pada reaksi seseorang kepada Yesus sebagai Tuhan."

"Seperti yang dapat Anda lihat, itu semua berbagai bahan di Sinoptik tentang ketuhanan Kristus, yang kemudian menjadi lebih jelas di Injil Yohanes."

Agenda Teologis Injil

Dalam menulis Injil terakhir, Yohanes mendapatkan keuntungan untuk mempertimbangkan masalah-masalah teologis, untuk masa yang lebih panjang. Jadi saya bertanya kepada Blomberg, "Tidakkah fakta bahwa Yohanes yang menulis dengan lebih teologis berarti bahwa materi sejarahnya mungkin telah tercemar, dan oleh sebab itu menjadi kurang dapat dipercaya?"

"Saya tidak percaya Yohanes lebih teologis," Blomberg menekankan. "Ia hanya memiliki penggolongan yang berbeda dalam penekanan teologis. Masing-masing dari Matius, Markus, dan Lukas memiliki sudut pandang teologis berbeda yang ingin mereka tonjolkan. Lukas adalah seorang teolog yang menyoroti orang-orang miskin dan masalah-masalah sosial; Matius adalah seorang teolog yang mencoba untuk memahami hubungan antara kekristenan dengan Yudaisme; Markus menunjukkan Yesus sebagai pelayan yang menderita. Anda bisa membuat daftar panjang tentang perbedaan teologis dari Matius, Markus, dan Lukas."

Saya memotongnya karena saya takut Blomberg kehilangan batasan dari masalah yang saya berikan. "Baiklah, tapi tidakkah motivasi teologis itu memunculkan keraguan tentang kemampuan dan kemauan mereka untuk melaporkan apa yang terjadi secara akurat?" tanya saya. Tidakkah itu sepertinya menunjukkan bahwa agenda teologis mereka akan mendorong mereka untuk mewarnai dan memutarbalikkan sejarah yang mereka catat?

"Itu tentu saja berarti bahwa seperti dokumen ideologis lainnya, kita harus menyadari hal tersebut sebagai suatu kemungkinan," ia mengakui. "Ada orang-orang yang bermaksud melakukan distorsi sejarah guna memenuhi tujuan ideologi mereka, namun sayangnya orang-orang telah menyimpulkan bahwa hal tersebut selalu terjadi, sebuah kesimpulan yang sebenarnya adalah suatu kesalahan."

"Pada zaman kuno, pemikiran untuk menulis keputusasaan, sejarah objektif yang hanya untuk membuat peristiwa-peristiwa menjadi menakjubkan tanpa tujuan ideologis, tidaklah mendapat perhatian. Tidak seorang pun menulis sejarah bila tidak ada alasan untuk mempelajarinya."

Saya tersenyum. "Saya rasa Anda akan mengatakan itu membuat segala sesuatu dicurigai," saran saya.

"Ya, di satu titik memang," jawabnya. "Tetapi, bila kita dapat menyusun ulang sejarah dari berbagai sumber kuno lainnya secara akurat masuk akal, kita dapat melakukannya mulai dari Injil, meskipun Injil sangat ideologis."

Blomberg berpikir sesaat, mencari analogi yang tepat untuk menyampaikan pendapatnya. Akhirnya dia berkata, "Ini rangkaian modern dari pengalaman masyarakat Yahudi, yang mungkin menjelaskan apa yang saya maksud."

"Beberapa orang, khususnya untuk tujuan-tujuan anti Semitik, menyangkali atau tidak mengakui kengerian Holocaust. Namun, orang terpelajar dari Yahudilah yang telah menciptakan museum, buku-buku tertulis, benda-benda yang diawetkan, dan kesaksian saksi mata yang didokumentasikan tentang Holocaust."

"Sekarang, mereka memiliki tujuan yang sangat ideologis -- yang artinya, untuk meyakinkan bahwa perbuatan keji itu tidak pernah terjadi lagi -- tetapi mereka juga sangat percaya dan objektif dalam melaporkan kebenaran sejarah."

"Kekristenan didasarkan pada penegasan-penegasan sejarah tertentu, bahwa Allah secara unik memasuki ruang dan waktu dalam diri Yesus dari Nazaret. Jadi, ideologi yang ingin ditawarkan oleh orang Kristen sebisa mungkin memerlukan bukti sejarah yang sangat teliti."

Dia membiarkan analoginya karam. Memandang saya dengan lebih tajam, dia bertanya, "Apakah Anda menangkap maksud saya?"

Saya mengangguk tanda mengerti.

Berita Penting dari Sejarah

Satu hal yang ingin disampaikan bahwa Injil yang berakar pada kesaksian para saksi, baik secara langsung ataupun tidak, adalah hal yang berbeda untuk mengakui bahwa informasi ini disimpan rapi sampai akhirnya ditulis beberapa tahun kemudian. Saya tahu bahwa ini adalah hal yang penting, dan saya ingin menantang Blomberg dengan masalah ini sebisa mungkin.

Saya kembali mengambil buku "A History of God" yang terkenal. "Dengarkan hal lain yang dia tulis," kata saya.

Kita tahu sedikit tentang Yesus. Cerita utuh pertama tentang kehidupan-Nya ada di Injil Markus, yang tidak ditulis hingga tahun 70-an, kira-kira 40 tahun setelah kematian-Nya. Pada waktu itu, fakta sejarah telah dilapisi dengan elemen-elemen mistis yang menunjukkan arti Yesus telah bersama-sama dengan pengikut-Nya. Ini berarti bahwa Markus terutama menyatakan suatu gambaran langsung yang dapat dipertanggungjawabkan.

Saya menutup kembali buku dan memasukkan ke dalam tas saya, saya kembali kepada Blomberg dan melanjutkan. "Beberapa ahli mengatakan bahwa Injil ditulis setelah peristiwa legenda yang dibentuk dan dirusak, yang akhirnya ditulis mengembalikan Yesus dari sekadar seorang guru yang bijaksana ke mitologi Anak Allah. Apakah itu hipotesis yang masuk akal, ataukah ada bukti yang tepat bahwa Injil dicatat jauh lebih awal daripada itu, sebelum legenda dapat benar-benar terbentuk, sehingga akhirnya dicatat?"

Mata Blomberg menciut dan suaranya menegaskan. "Ada dua masalah yang berbeda di sini dan penting untuk menjaga masalah-masalah itu secara terpisah," katanya. "Saya sungguh merasa ada bukti yang cukup untuk memperkirakan masa awal penulisan Injil. Tetapi bila tidak ada sekalipun, pendapat Amstrong tetap tidak berguna."

"Mengapa tidak?" tanya saya.

"Standar penanggalan para ahli, bahkan dalam lingkaran yang sangat liberal sekalipun, adalah Markus ditulis tahun 70-an, Matius dan Lukas tahun 80-an, Yohanes tahun 90-an. Namun perhatikan: itu masih termasuk dalam masa hidup orang-orang yang menjadi saksi hidup Yesus, termasuk saksi kunci yang akan memberikan pembenaran bila ajaran-ajaran palsu tentang Yesus disebarkan. Akibatnya, Injil yang ada sekarang ini benar-benar tidak salah. Kenyataannya, kita bisa membuat perbandingan yang sangat bermanfaat."

"Dua biografi terawal dari Aleksander Agung ditulis oleh Arrian dan Plutarch selama lebih dari 400 tahun setelah Aleksander mati pada tahun 323 SM. Namun, para sejarawan menganggapnya dapat dipercaya secara umum. Ya, cerita-cerita legenda tentang Aleksander telah terbentuk selama bertahun-tahun, tetapi itu hanyalah pada abad-abad setelah dua penulis ini."

"Dengan kata lain, 500 tahun pertama menjadikan kisah Aleksander sangat melekat; cerita-cerita legendaris mulai menyebar selama lebih dari 500 tahun. Jadi, apakah Injil ditulis 50 tahun atau 30 tahun setelah kehidupan Yesus, durasi waktunya diabaikan dengan perbandingan. Ini hampir merupakan bukan berita."

Saya bisa melihat apa yang Blomberg sedang katakan. Pada saat yang sama, saya memunyai beberapa keberatan tentang hal tersebut. Bagi saya, tampak jelas bahwa semakin kecil pemisah antara suatu peristiwa dan kapan peristiwa itu dicatat dalam bentuk tulisan, tampaknya semakin kecil pula kesempatan tulisan-tulisan itu menjadi legenda atau kenangan yang salah.

"Biarkan saya mengakui pendapat Anda untuk saat ini, tapi marilah kita kembali pada penanggalan Injil," kata saya. "Anda menunjukkan bahwa Anda percaya kitab-kitab itu ditulis lebih awal dari tanggal-tanggal yang Anda sebutkan."

"Ya, lebih awal," katanya. "Dan kita bisa dukung itu dengan melihat kitab Kisah Para Rasul, yang ditulis oleh Lukas. Kisah Para Rasul tampaknya tidak selesai -- Paulus merupakan tokoh utama dari kitab tersebut dan ia sedang dipenjara di Roma. Itu sebabnya buku itu tampak tidak selesai. Apa yang terjadi terhadap Paulus? Kita tidak dapat mendapatkan jawabannya dari Kisah Para Rasul, mungkin karena kitab itu ditulis sebelum Paulus dihukum mati."

Blomberg semakin terluka ketika ia melanjutkan. "Itu berarti Kisah Para Rasul tidak bisa ditanggali lebih dari tahun 62 setelah masehi. Dengan demikian, kita kemudian bisa mundur dari sana. Karena Kisah Para Rasul adalah bagian kedua dari dua bagian karya, maka kita tahu bahwa bagian pertamanya, yaitu Injil Lukas, pasti ditulis terlebih dahulu. Dan karena Lukas adalah bagian dari Injil Markus, maka itu berarti Markus sudah ada terlebih dahulu."

"Bila Anda membiarkannya kira-kira setahun untuk setiap kitab-kitab itu, hasilnya Anda dapatkan bahwa Injil Markus ditulis tidak lebih dari tahun 60 setelah masehi, bahkan mungkin akhir 50-an. Bila Yesus mati pada tahun 30 atau 33 setelah masehi, kita membahas celah yang lebar selama 30 tahun atau lebih."

Dia kembali duduk ke kursinya. "Menurut sejarah, khususnya bila dibandingkan dengan Alexander Agung, hal itu seperti kabar yang menggemparkan" katanya.

Tentu saja hal itu menarik, menutup celah antara peristiwa-peristiwa pada masa hidup Yesus dan penulisan Injil ke inti masalah, di mana hal itu dapat diabaikan oleh standar sejarah.

Namun, saya tetap ingin menekankan masalah ini. Tujuan saya adalah untuk memutar balik waktu sejauh mungkin saya bisa, guna mendapatkan informasi yang paling awal mengenai Yesus.

Kembali ke Awal

Saya berdiri dan menuju ke rak buku. "Mari kita lihat apakah kita bisa kembali lebih jauh," kata saya kepada Blomberg. "Seberapa awal kita bisa menandai dasar kepercayaan dalam penobatan Yesus, kebangkitan-Nya, dan penyatuan-Nya yang unik dengan Tuhan?"

"Penting untuk mengingat bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru tidak dalam urutan yang kronologis," ia memulai. Injil ditulis setelah hampir semua surat Paulus, yang pelayanannya melalui tulisan mungkin dimulai pada akhir abad 40-an. Sebagian besar surat-suratnya muncul selama abad 50-an. Untuk mendapatkan informasi yang paling awal, seseorang mendatangi murid Paulus dan bertanya, "Apakah ada tanda-tanda bahwa sumber-sumber terdahulu digunakan untuk menulis surat-surat tersebut?"

Saya melanjutkan, "Apa yang kita temukan?"

"Kita temukan bahwa Paulus mengumpulkan beberapa bukti, pernyataan iman, atau himne-himne dari gereja Kristen mula-mula. Ini kembali lagi pada permulaan gereja segera setelah kebangkitan."

"Bukti-bukti yang paling terkenal termasuk dalam Filipi 2:6-11, yang berisi tentang Yesus dalam `sifat ketuhanan-Nya` dan Kolose 1:15-20, yang menggambarkan Dia sebagai `gambar Allah yang dapat dilihat, yang menciptakan segala sesuatu, dan melalui Dialah segala sesuatu diperdamaikan kembali dengan Allah dengan memberikan perdamaian melalui darah-Nya, yang tercurah di kayu salib.`"

"Hal tersebut tentu saja penting dalam menjelaskan apa yang dipercayai oleh orang-orang Kristen mula-mula tentang Yesus. Namun, mungkin bukti terpenting dalam hal sejarah Yesus ada dalam 1 Korintus 15, di mana Paulus menggunakan bahasa teknis untuk menunjukkan ia sedang melewati tradisi dari mulut ke mulut, yang secara relatif telah terbentuk."

Blomberg menyertakan bab tersebut dalam Alkitabnya dan membacanya untuk saya, "Apa yang aku terima aku sampaikan kepadamu sebagai hal yang utama: bahwa menurut Alkitab, Kristus mati untuk dosa kita, bahwa menurut Alkitab Dia dikubur, Dia bangkit pada hari ketiga, dan Dia menampakkan diri kepada Petrus dan kemudian kepada kedua belas murid. Setelah itu, Dia menampakkan diri kepada lebih dari 500 orang dalam waktu yang sama, sebagian besar di antaranya masih hidup, meskipun beberapa di antaranya telah meninggal. Kemudian Dia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul."

"Di sinilah intinya," kata Blomberg. "Bila penyaliban itu terjadi pada awal abad 30 setelah masehi, pertobatan Paulus adalah kira-kira pada abad 32. Segera setelah Paulus sampai di Damaskus, tempat dia bertemu dengan seorang Kristen yang bernama Ananias dan beberapa murid-murid lainnya. Pertemuan pertamanya dengan para rasul di Yerusalem adalah kira-kira sekitar abad 35 setelah masehi. Pada beberapa hal di peristiwa ini, Paulus memberikan pernyataan yang telah diformulasikan dan digunakan pada jemaat mula-mula."

"Sekarang Anda mendapatkan fakta kunci tentang kematian Yesus untuk dosa-dosa kita, ditambah dengan satu daftar rinci tentang mereka yang Dia temui pada kebangkitan-Nya -- semuanya menunjuk pada jangka waktu dua hingga lima tahun dari peristiwa itu sendiri!"

"Hal tersebut sudah tidak lagi merupakan mitos yang disebarkan dari 40 tahun yang lalu, seperti yang disarankan oleh Armstrong. Suatu kasus yang baik, bisa saja dibuat untuk mengatakan bahwa kepercayaan orang-orang Kristen terhadap kebangkitan, meskipun belum ditulis bisa diberi tanggal dalam kurun waktu dua tahun peristiwa tersebut."

"Hal ini sangatlah penting," katanya, suaranya sedikit meninggi untuk memberikan penekanan. "Sekarang Anda tidak sedang membandingkan 30 hingga 60 tahun dengan lima ratus tahun yang secara umum diterima oleh data lain -- Anda sedang membahas dua data!"

"Saya tidak dapat menyangkali pentingnya bukti tersebut. Ini tentu seperti menghembuskan angin di luar hal yang menyatakan bahwa kebangkitan -- yang bagi orang Kristen merupakan pernyataan tertinggi dari keilahian Yesus -- hanyalah merupakan konsep mitologi yang dibangun dalam jangka waktu yang panjang sebagai legenda yang merusak catatan saksi-saksi mata tentang kehidupan Kristus."

Bagi saya, hal ini secara khusus mendorong saya pada inti masalah -- seperti seorang yang skeptis, itulah salah satu keberatan saya terhadap kekristenan. (t\Ratri)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Case for Christmas
Judul asli artikel : The Eyewitness Evidence: Can the Biographies of Jesus Be Trusted?
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Zondervan, Grand Rapids, Michigan 2005
Halaman : 23 –- 35

e-JEMMi 49/2011

Cara Memahami Alkitab

Gereja-gereja telah menggunakan Alkitab sebagai sarana (media) untuk meneruskan Berita Sukacita kepada jemaatnya. Sarana ini dipergunakan dalam seluruh tugas pelayanan gereja, baik untuk kalangan dewasa, pemuda, remaja, dan anak-anak. Tanpa Alkitab dan Roh Kudus maka gereja tidak bisa hidup, sebab Alkitab adalah makanan rohani bagi orang-orang percaya. Alkitab sangat bermanfaat bagi orang-orang percaya untuk belajar dan mengenal pengajaran tentang keselamatan. Hanya dalam dan dari Alkitablah kita mengenal dan belajar bahwa setelah manusia jatuh ke dalam dosa, ia hanya dapat selamat di dalam dan oleh Yesus Kristus. (2 Timotius 3:16, Kisah Para Rasul 4:12, dan Yohanes 3:16). Hal ini merupakan inti dari berita Alkitab yang disebut sebagai Berita Sukacita bagi dunia dan manusia (Injil).

Di samping itu Alkitab juga bermanfaat untuk menyatakan kesalahan tanpa mengenal pangkat, status, dan kedudukan seseorang, atau dengan kata lain Alkitab bertugas memberi teguran bagi seseorang. Hal ini perlu, terutama bagi kita yang hidup pada zaman modern ini, sebab soal menegur atau menasihati seseorang adalah suatu perkara yang sulit dilaksanakan karena berbagai faktor. Ada empat manfaat Alkitab yang sangat penting, yaitu: untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran Keempat hal tersebut merupakan manfaat-manfaat pokok yang diperlihatkan oleh Alkitab dibaca, digali, dipahami, dan diwujudnyatakan dalam praktik sehari-hari. Beberapa indikator-indikator berikut ini merupakan cara pandang warga jemaat dalam memahami Alkitab.

1. Dalam Hal Membaca Alkitab

Jangankan membaca Alkitab, memiliki Alkitab saja belum bisa. Kerinduan untuk memiliki Alkitab masih sangat besar, buktinya Alkitab tersebut sangat diminati, terutama oleh pekerja-pekerja (buruh-buruh pabrik) seperti di banyak tempat di Kalimantan.

2. Dalam Hal Menggali/Mempelajari Alkitab

Nabi Hosea berkata, "Umat-Ku dihancurkan karena mereka tidak mengenal Aku" (Hosea 4:6, FAYH) dan rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus bahwa orang-orang kudus (jemaat Tuhan) harus "mencapai ... pengetahuan yang benar tentang Anak Allah," yaitu Yesus Kristus (Efesus 4:13). Karena itu upaya menggali Alkitab mau tidak mau harus dilaksanakan oleh Gereja. Terlihat dengan jelas bahwa di banyak gereja upaya mempelajari Alkitab baik dalam bentuk penelaahan Alkitab (PA), katekisasi, maupun diskusi tentang isi Alkitab sangat sedikit yang mengikuti.

3. Dalam Hal Memahami Alkitab

Alkitab bukanlah "tulisan tangan" Tuhan Allah yang dibuat di surga kemudian diturunkan ke bumi. Alkitab adalah tulisan manusia di dunia yang menulis pada zaman mereka masing-masing (seperti: Musa, Daud, Matius, Yohanes, Petrus, Paulus, dll.) yang dipimpin oleh Roh Kudus. Oleh karena itu kita yang membacanya pada masa ini diminta untuk membaca dan memahami Alkitab dengan tepat dan benar serta bersungguh-sungguh. Sebagai bukti kesungguhan, kita harus meminta terlebih dahulu pertolongan Roh Kudus sebelum membaca Alkitab. Roh Kudus yang telah memimpin orang-orang yang menulis Alkitab pada zaman yang lampau, Roh Kudus pula yang akan memimpin orang-orang yang membaca Alkitab pada masa kini. Dengan meminta bantuan Roh Kudus kita akan dapat melihat, menerima, dan memercayai Yesus Kristus sebagai inti pemberitaan Alkitab. Dalam kehidupan jemaat gereja sekarang ini terdapat paling tidak ada empat cara membaca dan memahami Alkitab. Keempat cara itu ialah:

a. Pemahaman Alkitab Secara Harfiah

Artinya apa yang tertulis secara harfiah dalam Alkitab itulah yang dipahami dan dilaksanakan. Dalam kaitan itu beberapa contoh hendak dikemukakan, antara lain: masalah "Sabat", "larangan makan daging babi", "pemakaian kerudung", dll.. Jika kita memahami Alkitab hanya secara harfiah, maka akan banyak kebiasaan dan kasus-kasus dalam Alkitab yang akan membingungkan dan pada akhirnya membuat kita tersesat, sebab akan ada banyak ayat-ayat dalam Alkitab yang sepertinya bertentangan satu dengan yang lain. Karena itu jika kita ingin memahami Alkitab kita harus memahami konteks dan budaya Alkitab.

b. Pemahaman Alkitab Secara Kronologis

Yang dimaksud dengan pemahaman secara kronologis ialah menjadikan perhitungan waktu yang tertulis dalam Alkitab sebagai patokan-patokan mutlak dalam menghitung hari-hari dan waktu dari suatu peristiwa. Misalnya: "Waktu Enam Hari" yang digunakan Tuhan Allah dalam menciptakan langit dan bumi dan segenap isinya (Kejadian 1). Sementara dalam Mazmur 90:4 dan 2 Petrus 3:8 disebutkan bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Atau tentang perhitungan masa penderitaan umat Allah yang dihitung hanya sepuluh hari saja dalam kitab Wahyu 2:10. Sesungguhnya ketika Alkitab menyebutkan bilangan waktu, Alkitab sering kali menyelipkan simbol-simbol ketimbang penunjukan secara kronologis waktu.

c. Pemahaman Alkitab Secara Ilmiah

Memahami Alkitab secara ilmiah artinya mendekati apa yang tertulis dalam Alkitab secara logika dan pengetahuan serta yang dapat diterima secara akal dan ilmu pengetahuan. Kalau yang tertulis dalam Alkitab tidak sesuai logika dan ilmu pengetahuan maka hal tersebut tidak dapat diterima. Contoh konkrit ialah perihal kelahiran Yesus yang terdapat dalam Lukas 2 dan Matius 1; Maria tercatat mengandung bukan karena hasil persetubuhan dengan Yusuf melainkan pekerjaan Roh Kudus. Secara logika, apalagi secara ilmu kedokteran hal tersebut tidak mungkin terjadi. Bagi orang yang memiliki pemahaman yang demikian apa yang dikatakan Lukas 1:37, Matius 19:26, dan Markus 10:27: "tidak ada yang mustahil bagi Allah" tidak berlaku, sebab pengetahuanlah yang menjadi patokan.

Memang Alkitab juga mengatakan bahwa kepada iman supaya ditambahkan kebajikan dan kepada kebajikan ditambahkan pengetahuan, tapi pengetahuan di sini adalah pengetahuan yang tidak boleh dipertentangkan dengan iman (2 Petrus 1:8). Iman di sini seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:1 adalah penerimaan secara total. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala yang tidak kita lihat. Jadi jika kita berpatokan hanya kepada ilmu pengetahuan dalam memahami Alkitab, akan tiba saatnya kita akan terbentur dan benturan tersebut akan membawa kita kepada kesesatan.

d. Pemahaman Alkitab Secara Teologis

Pemahaman Alkitab secara teologis artinya kita berupaya mencari ajaran dan kehendak Tuhan dari setiap kitab, setiap perikop bahkan dari ayat sekalipun yang ada dalam Alkitab dengan memohon pimpinan Roh Kudus. Inilah cara membaca dan memahami Alkitab yang benar, sebab kehendak, ajaran, dan maksud Tuhanlah yang ingin kita cari dan dapatkan.

Jika kita menghubungkan keempat cara memahami Alkitab di atas, maka jelaslah bahwa betapa masih minimnya pengetahuan warga jemaat tentang cara memahami Alkitab. Hal itu terjadi bagi warga jemaat yang dewasa. Lalu bagaimana dengan anak-anak dan remaja? Untuk anak-anak dan remaja seharusnya Injil dikomunikasikan dengan bahasa anak-anak dan remaja. Maksudnya supaya Injil itu dengan ajaran dan kebenarannya tertanam dengan kuat dan berdiri teguh meskipun berbagai badai pengajaran datang menerpa.

Kenyataan yang ada sekarang ini sungguh mengecewakan. Kalau kita membaca koran atau melihat televisi kita akan melihat banyak tawuran-tawuran pelajar, pencurian yang disertai dengan kekerasan, dan bukan mustahil pada kelompok-kelompok tersebut kita jumpai nama-nama seperti Andreas, Maria, dan Yakobus yang menandakan bahwa mereka adalah siswa-siswi Kristen.

Salah satu faktor penyebabnya diduga karena pemuda-pemudi Kristen itu tidak memperoleh pendidikan agama secara benar pada saat ia masih pada usia anak-anak dan remaja, baik dari segi Pendidikan Agama Kristen itu sendiri maupun dari segi bahasa yang diterimanya. Berpuluh-puluh tahun lamanya anak-anak kita mempergunakan Alkitab dalam bahasa orang dewasa. Dengan demikian penyampaian Injil dan ajarannya adalah dalam bahasa orang dewasa. Tentu dapat dibayangkan hasilnya kalau bahasa orang dewasa disampaikan kepada anak-anak dan remaja.

Diambil dari:

Judul majalah : Media Komunikasi Yasuma, Edisi VIII, Tahun 2000
Judul artikel : Program Pelayanan Medikar PGI - Yasuma
Penulis : Pdt. Daniel Gasong, M.Th
Penerbit : Yayasan Sumber Sejahtera (YASUMA), Jakarta
Halaman : 9 -- 11

e-JEMMi 15/2010



Cara-Cara Memobilisasi

Sering kali orang-orang Kristen bertanya, "Bagaimana caranya supaya gereja saya memiliki program misi yang lebih baik?" Para pendeta pun mengajukan pertanyaan yang sama kepada diri mereka sendiri. Ini adalah masalah yang besar dan penting. Setiap gereja harus melakukan misi dengan efektif. Namun, bagaimana caranya? Apa jawabannya?

Banyak gereja yang memiliki berbagai jenis program misi. Ada beberapa metode yang biasa dipakai. Mari kita membahas metode-metode itu.

Rencana Dadakan (Come-Get-It Plan)

Gereja yang menggunakan metode ini biasanya menunggu kunjungan seorang misionaris. Lalu muncullah suatu permohonan, "Berikan persembahan yang terbaik untuk misi." Metode ini justru mempersulit misi. Ini akan menyebabkan orang-orang berpikir bahwa gereja akan meminta uang setiap kali ada misionaris berkunjung ke gereja itu, "Kita pasti akan diminta untuk memberikan uang yang lebih banyak lagi untuk para misionaris itu." Hasilnya akan mengecewakan.

Rencana yang Berdasarkan Persentase (Percentage Plan)

Dalam rencana ini semua pendapatan gereja dibagi-bagi sesuai dengan cara yang sudah ditetapkan. Pelayanan misi menerima dana sesuai dengan persentase yang sudah ditetapkan. Semuanya dikerjakan secara matematis. Rencana itu melibatkan disiplin yang ketat. Hanya saja, metode persentase ini tidak membangkitkan semangat orang untuk terlibat.

Rencana Sebulan Sekali (Day-A-Month Plan)

Salah satu hari Minggu pada setiap bulan dijadikan sebagai Minggu Misi. Pada hari itu pelayanan misi benar-benar ditekankan. Persembahan yang diterima digunakan untuk kegiatan misi. Persembahan-persembahan itu bisa berasal dari gereja maupun sekolah minggu. Cuaca yang buruk menjadi penghalang rencana ini. Jika acara ini beberapa kali dihadiri oleh sedikit orang maka akan berakibat serius pada pendapatan. Metode ini tidak menghasilkan apa-apa untuk pelayanan misi meskipun dengan memberikan persembahan setiap hari Minggu.

Rencana Pribadi

Di beberapa gereja, dukungan untuk "Misi ke Luar Negeri" (Foreign Missions) dilakukan melalui persembahan amplop. Setiap donatur diizinkan untuk mencalonkan diri mengikuti misi jika dia sangat ingin. Masalah sepenuhnya ditanggung oleh orang tersebut. Metode ini memiliki kelemahan dalam hal motivasi. Selain itu, metode ini tidak memberikan dorongan yang kuat pada misi. Metode ini tidak memberi inspirasi yang kuat dalam memberikan persembahan untuk pelayanan misi. Metode ini juga tidak menyusun kekuatan dalam usaha kesatuan gereja.

Cara Lain

Ada suatu rencana yang menyatukan elemen-elemen terbaik dari yang sudah disebutkan. Ini bukanlah teori. Hasilnya sudah dibuktikan. Rencana itu seperti yang digambarkan dalam bagian berikut.

CARA TERBAIK

Ada suatu cara untuk membuat pelayanan misi di gereja Anda efektif. Percayalah pada hal-hal berikut ini. Tuhan sudah menjadikan penginjilan di dunia menjadi tujuan dan alasan utama dari gereja-gereja lokal. "Mengabarkan Injil kepada setiap manusia" adalah tujuan yang telah Tuhan berikan kepada umat-Nya di dunia ini.

Tanpa mengetahui kelebihan dari misi, tidak mungkin kita akan mendapatkan pemahaman yang benar dari Perjanjian Baru. Tuhan telah memerintahkan kita untuk mengabarkan Injil kepada setiap orang. Seluruh perhatian gereja lokal harus difokuskan pada tanggung jawab ini. Setiap gereja harus menekankan pada sasaran ini. Supaya tugas ini dapat terlaksana, maka setiap usaha harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Ini adalah Tugas Kita

"Penginjilan di dunia bagi generasi kita" bukanlah slogan yang muluk. Ini adalah ringkasan dari tujuan Allah. Setiap generasi manusia harus menginjili generasinya. Orang-orang yang belum terjangkau adalah orang-orang yang terhukum. Jika kita gagal untuk menginjili generasi kita, berarti kita telah gagal total. "Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya" (Kisah Para Rasul 13:36). Itu hanya generasi yang bisa Daud layani. Demikian pula dengan kita. Kita harus menginjili generasi kita. Jika tidak, kita gagal terhadap manusia dan Allah. Gereja berada di dunia untuk melakukan pekerjaan ini bagi Tuhan. Biarkan ini menjadi hasrat yang besar dalam diri setiap orang Kristen: menyelesaikan tugas yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Kebenaran ini sangatlah besar. Kebenaran ini harus membentuk seluruh pelayanan di gereja lokal. Kita melihat bagaimana setiap hal di sekitar kita disesuaikan dengan tujuan tertentunya. Sebilah pisau memiliki tepi yang tajam untuk memotong. Sebuah mesin cuci dirancang untuk membersihkan pakaian. Sebuah sarung tangan dipakai untuk melindungi tangan. Sebuah mobil bertenaga mesin dan efisien untuk dijadikan alat transportasi/untuk mengangkut orang. Demikianlah gereja lokal harus menyesuaikan dirinya sendiri dengan tujuan utama mereka, yaitu untuk menginjili dunia.

Bagaimana caranya?

Ada tiga hal penting menyangkut hal ini.

  1. Adakan Konferensi Misi Tahunan Jadikan acara ini sebagai acara yang terpenting dalam kalender gereja. Rencanakanlah dengan matang. Undang pula pembicara yang berkualitas. Tunjukkan tujuan Allah dalam mengadakan misi kepada semua yang hadir. Bangunlah itu berdasarkan Alkitab. Berdoalah bagi kunjungan rohani yang benar.

  2. Susunlah suatu Tujuan Misi Setiap Tahunnya Tidak memiliki tujuan sama dengan menghancurkan. Ada banyak gereja yang tidak mempunyai tujuan sama sekali. Suatu konferensi misi pun akan menjadi sia-sia bila tidak memiliki tujuan. Gereja dapat seperti sebuah mobil dengan mesin yang dihidupkan, namun tidak dijalankan; tetap diam di tempat. Rutinitas yang sama selalu berulang setiap hari Minggu. Oleh karena itu, buatlah tujuan misi! Semuanya akan berubah! Orang-orang dipanggil dan ditantang. Ini merupakan suatu rahasia keberhasilan program gereja.

  3. Gunakan Rencana Janji Iman Rencana ini tidak didasarkan pada uang yang dimiliki jemaat. Rencana ini mendorong setiap orang untuk melatih iman mereka dalam hal jumlah dengan keyakinan bahwa Tuhan akan memampukan dirinya untuk memberikan persembahan tiap minggu bagi penginjilan. Iman itu bersifat dinamis. Rencana ini tidak melibatkan janji apa pun kepada gereja. Tidak ada permohonan yang ditujukan secara pribadi. Rencana Janji Iman adalah rencana yang rohani dan alkitabiah. Rencana ini tidak memalukan siapa pun. Sebaliknya, rencana ini akan mendorong persembahan yang sistematis untuk penginjilan dunia. Iman harus dikerjakan. Dengan demikian, gereja mengetahui jumlah persembahan untuk misi untuk setahun ke depan.

KONFERENSI MISI TAHUNAN

Konferensi ini dapat menjadi suatu acara yang baik sekali. Tidak ada yang lebih mulia dalam kegiatan gereja melebihi kegiatan ini. Konferensi misi merupakan suatu proyeksi langsung dari penekanan utama isi Alkitab. Penginjilan bagi dunia merupakan pesan yang dikatakan dalam seluruh Perjanjian Baru. Apakah penebusan dosa yang dilakukan Kristus itu penting? Ya. Apakah mengenalkan penebusan Kristus untuk dunia itu kurang penting? Tentu saja tidak.

Konferensi misi tahunan menekankan pada penginjilan dunia. Konferensi ini menyatakan pentingnya misi. Konferensi ini menempatkan tujuan utama Tuhan bagi zaman ini di tempat tertinggi dalam program gereja.

Menetapkan Tujuan

Tujuan dasar dari konferensi misi tahunan adalah untuk menetapkan tujuan pelayanan misi untuk tahun berikutnya. Ini menjadi tanggung jawab yang serius dan menantang. Ada banyak hal yang bergantung pada keputusan yang dibuat! Penentuan tujuan seperti ini jelas membutuhkan latihan iman yang sungguh-sungguh. Selain itu, doa mutlak diperlukan. Konferensi misi ini akan membangkitkan kerohanian orang dan membuat mereka ingin memberi. Rencana Janji Iman akan membantu dalam menentukan tujuan. Rencana Janji Iman ini membantu jemaat memutuskan untuk memberi persembahan setiap minggu bagi kepentingan misi sepanjang tahun itu.

Mengangkat Misionaris

Konferensi misi juga mengangkat kedudukan para misionaris. Mereka yang didukung oleh gereja tidak hanya sekadar nama saja. Mereka benar-benar bagian dari anggota jemaat. Ketika mereka berangkat ke ladang misi di luar negeri, kita harus terus mendoakan mereka karena orang-orang mengenal mereka dan mengasihi mereka. Ini adalah seperti yang tertulis dalam Perjanjian Baru (Kis. 13).

Misionaris yang sedang cuti juga turut menghadiri konferensi misi untuk gereja yang mensponsori mereka. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menjalin persekutuan pribadi. Selain itu, misionaris yang tidak disponsori oleh gereja juga perlu diundang untuk menghadiri konferensi ini. Dengan demikian, jemaat bisa mengenal secara pribadi orang-orang yang memperjuangkan jiwa-jiwa di luar daerah mereka. Visi penginjilan lokal pun bisa diperluas. Ini adalah hal yang baik dan benar. "Tuhan sangat mengasihi dunia ini." Para anggota gereja harus memperluas pandangan mereka. Mereka harus memiliki suatu pandangan global yang benar, bahwa "ladang itu adalah dunia ini."

Semangat Perekrutan

Para pemuda Kristen "yang terbaik" sangat dibutuhkan. Ribuan pemuda yang bersemangat diperlukan untuk pelayanan di luar negeri ini. Tuhan masih bertanya, "Siapa yang akan Aku utus dan siapa yang akan pergi untuk Kita?" Menjangkau dunia untuk Kristus adalah tujuan hidup yang mulia. Untuk itu, para pemuda bisa mendaftarkan diri. Pemuda yang bersemangat akan merespons tantangan ini. Namun, penginjilan di dunia ini lebih dari sekadar tantangan, ini adalah perintah Kristus. Akankah kita mematuhinya? Kiranya panggilan untuk taat itu menggema di setiap konferensi misi. Ini adalah suatu alat yang Tuhan pakai dengan dahsyatnya untuk menjadikan orang-orang yang bersemangat berkomitmen kepada-Nya.

Orang-orang dewasa juga harus berkomitmen kepada Kristus. Penginjilan dunia tidak hanya ditujukan untuk para pemuda saja. Semua orang percaya harus mempersembahkan diri mereka sendiri untuk Tuhan (lihat Roma 12:1,2). Beberapa pertemuan mempunyai tujuan khusus ini. Orang-orang harus diminta untuk mengemukakan komitmennya bagi Kristus di depan umum. Biarkan mereka mewujudkan kerinduan mereka untuk menjadi korban yang hidup di mana pun Tuhan ingin menempatkan mereka di dunia ini. Jadi dalam merencanakan suatu konferensi, tujuan harus benar-benar dipikirkan.

Kapan dan Berapa Lama?

Kapan sebaiknya konferensi tahunan misi ini diadakan? Ingatlah bahwa kegiatan ini adalah acara penting dalam kalender gereja. Banyaknya peserta yang hadir menjadi hal yang penting. Sebaiknya, konferensi ini diadakan saat cuaca mendukung. Situasi pemeritahan lokal yang memengaruhi kehadiran para angota gereja juga harus dipertimbangkan. Jika pengalaman telah menunjukkan kapan saat yang tepat untuk mengadakan acara ini, maka hal ini harus diteruskan dari tahun ke tahun.

Berapa lama sebaiknya acara ini diadakan? Jawabannya bisa berbeda-beda. Semakin lama konferensi yang direncanakan dengan baik ini diadakan, semakin dalam pula konferensi ini memberikan penekanan pada misi. Gereja-gereja kecil mungkin mengadakan konferensi ini dari hari Selasa sampai hari Minggu. Bila demikian, konferensi harus segera diperpanjang dari hari Minggu sampai hari Minggu berikutnya. Jika dimulai pada hari Minggu, ada peluang peserta yang hadir meningkat. Dan suatu konferensi yang dimulai dengan baik berarti sudah memenangkan separuh dari pertempuran. Konferensi tersebut harus ditutup pada hari Minggu.

Beberapa gereja mengadakan konferensi misi selama delapan hari. Gereja-gereja semacam ini sebaiknya mempertimbangkan pengadaan konferensi selama lima belas hari agar dapat mengikutsertakan tiga hari minggu. Memang akan dibutuhkan usaha yang besar untuk itu. Namun, dampaknya pun tidak kalah besar. Ingatlah terus bahwa hal ini merupakan urusan utama, di mana Tuhan telah mendirikan gereja-Nya di dunia ini. Pada hari penghakiman tidak ada gereja yang akan dibebani dengan pelayanan misi yang terlalu menekan.

Pengaturan

Sebelumnya, buatlah pengaturan yang baik. Pembicara yang hadir harus dihubungi jauh-jauh hari sebelumnya. Jika tidak, mereka tidak akan mau hadir. Ada baiknya jika direncanakan satu tahun sebelumnya. Seseorang harus memimpin konferensi ini. Ini membutuhkan kesatuan dan fokus yang besar. Seorang pendeta atau seseorang yang diundang untuk tujuan ini bisa menjadi pemimpin konferensi. Akan sangat baik pula jika ada staf khusus misi atau deputi sekretaris. Libatkan para kandidat misionaris dan mereka yang sedang cuti. Gambar-gambar (slide) atau film-film, benda-benda yang tidak umum yang berasal dari tempat yang jauh dan contoh-contoh buku/kepustakaan akan menjadi sangat berarti dan menarik.

Biasanya, para misionaris akan diminta untuk menjelaskan bidang pelayanan mereka sendiri. Dalam konferensi tersebut pembicara yang ada harus menjelaskan dasar Alkitab pelayanan misinya. Hanya pendirian/keyakinan yang berakar kepada firman Tuhan saja yang dapat terus berjalan. Jangan berusaha untuk menjejalkan banyak pembicara pada konferensi tersebut. Carilah orang yang benar-benar berkualitas kemudian berikan waktu yang cukup kepada setiap orang untuk menyampaikan pesannya.

Publikasi

Umumkanlah tanggal penyelenggaraan konferensi tahunan misi ini dari jauh-jauh hari. Melalui koran lokal, tampilkan foto dan artikel-artikel berita tentang pembicara yang diundang dalam konferensi tersebut. Manfaatkan juga iklan di radio. Jika memungkinkan, dapatkan waktu siaran khusus di radio untuk para pembicara dalam konferensi tersebut.

Pastikanlah spanduk yang besar dan menarik yang mengumumkan konferensi ini di depan gereja. Gunakan buletin mingguan gereja atau buletin edisi khusus untuk mengiklankan acara ini.

Sangat disarankan untuk memasang poster-poster yang berisi informasi dan moto-moto yang memberi inspirasi. Tempelkan poster-poster ini di tembok gedung gereja. Buatlah dalam ukuran yang besar sehingga bisa dibaca dari jarak yang jauh. Ubahlah pandangan jemaat terhadap dunia penginjilan ketika mereka memasuki gereja.

Musik

Lagu-lagu dan paduan suara yang menyerukan tentang misi harus digunakan selama konferensi berlangsung. Pengumandangan lagu-lagu tersebut bisa menarik hati, sekaligus memberikan pengaruh yang besar. Fakta ini sering terjadi pada saat konferensi-konferensi misi. Beberapa kali saya dikecewakan dengan pemilihan lagu yang buruk. Jika gereja tidak memiliki lagu-lagu misi yang baik, carilah lagu-lagu lainnya. Lagu-lagu dan paduan suara misi dapat diperoleh dengan harga yang murah di Broadcast (radio). Atau cetaklah kata-kata dalam lagu-lagu yang biasa dinyanyikan jemaat.

Pastikan Kondisi Keuangan

Pengaturan keuangan dengan para pembicara harus jelas. Pastikan ada persetujuan dalam masalah ini. Pengaturan keuangan dalam konferensi ini harus tepat dan jelas. Kecerobohan bisa mengakibatkan kesalahpahaman.

Komunitas misionaris yang beriman biasanya meminta para misionaris untuk membuat daftar dukungan mereka sendiri. Para misionaris sangat senang jika mengetahui gereja yang mengundang mereka menyadari kesempatan untuk membantu melalui dukungan mereka. Mereka senang melayani, bahkan jika tidak diperlukan. Namun, akan lebih baik jika mereka juga tahu dasar keuangan yang ada sebelum konferensi diadakan. Untuk itu, buatlah daftar keuangan yang spesifik, tulislah dengan jelas. Kejelasan tidak akan menahan kesopanan atau kemurahhatian. (t/Ratri)

Bahan diterjemahkan dari:

Judul buku : Triumphant Missionary Ministry In The Local Church
Judul artikel : Common Ways, The Best Way, dan Annual Missionary Conference
Penulis : Norman Lewis
Penerbit : Back To The Bible Publication, Nebraska 1960
Halaman : 84 -- 94

e-JEMMi 12/2007

Ciri-Ciri Orang yang Dipenuhi Roh Kudus

Bagaimanakah ciri-ciri dari seseorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus?

  1. Taat pada Roh Kudus

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang taat kepada-Nya dengan sepenuh hati. Roh Kudus bukan "Coca-Cola", yang bila diisi sampai penuh akan meluap. Roh Kudus itu Tuhan, Roh Kudus itu Oknum. Hanya pada saat Oknum Allah menguasai oknum kita, kehendak-Nya menguasai kehendak kita, kebenaran-Nya menguasai pikiran kita, cinta kasih-Nya menguasai emosi kita, maka seluruh keberadaan kita akan dipenuhi oleh-Nya karena kita taat. Itulah yang disebut dipenuhi Roh Kudus.

    Ketika Oknum Allah sudah berada di dalam kita dan menguasai diri kita, pikiran kita tidak dibunuh. Tuhan tidak akan membuat pikiran kita tidak berfungsi, sebaliknya Dia akan memimpin kita, hingga kita menjadi begitu berpengetahuan dan bijaksana, yaitu pengetahuan dan bijaksana yang sesuai dengan firman Tuhan. Lalu, cinta kasih kita bukan lagi mencintai berdasarkan orang yang satu suku dan satu bangsa dengan kita, yang kalau bukan sesuku atau sebangsa, maka kita membencinya. Kita akan dipimpin hingga kita memunyai cinta kasih dan kebencian yang sesuai dengan emosi Tuhan. Kita mencintai yang dicintai Tuhan dan kita membenci yang dibenci-Nya. Kita tidak lagi memedulikan apa suku atau warna kulit orang itu. Kita hanya tahu yang dicintai Tuhan, itulah yang kita cintai, dan yang dibenci Tuhan, itulah yang kita benci. Emosi kita sesuai dengan Tuhan. Kehendak, pilihan, dan kemauan kita sesuai dengan arah pimpinan-Nya. Seluruh keberadaan kita taat pada Roh Kudus yang adalah Tuhan dan Pemimpin kita. Itulah yang disebut dipenuhi Roh Kudus. Jangan mengambil jalan pintas, jangan mengambil fenomena, gejala, atau jalan lain menjadi pengganti yang tidak sesuai dengan prinsip Alkitab.

  2. Hidup Kudus

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hidupnya telah diubah oleh pengaruh Roh Kudus dan firman, sehingga dia menjadi orang yang suka akan kekudusan. Karena dipenuhi Roh Kudus, dengan sendirinya orang tersebut tidak menyukai hal yang palsu, yang tidak benar, yang tidak suci, dan yang menyeleweng. Semua hal yang tidak beres akan dia singkirkan. Karena Roh Kudus memenuhi dirinya, maka tidak ada sesuatu yang tidak kudus boleh berada di dalam dirinya. Hidup suci yang dimiliki oleh orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak dapat ditiru, diimitasikan, dipalsukan, atau dibuat-buat. Suci adalah suci. "Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8)

    Siapakah di antara kita yang suci? Tidak ada seorang pun yang suci di hadapan Tuhan. Tetapi pada waktu Roh Kudus memenuhi hati kita, paling tidak kita memunyai keinginan untuk menjalani hidup yang suci. Sebelum kita mencapai kualitas kesucian di dalam segala aspek, kita sudah memunyai keinginan yang sempurna. Bila kita mau dibersihkan oleh Tuhan secara total, secara mutlak, dan mau menyerahkan diri kepada-Nya, maka Dia akan memberikan kesucian pada kita, hingga hidup kita memuliakan Dia. Komentar John Calvin mengenai keinginan yang sempurna itu: "Orang suci bukanlah orang yang tanpa dosa, tetapi seseorang yang memunyai kepekaan yang tinggi terhadap dosa sekecil apapun." Sungguh suatu kalimat yang sangat agung!

    Pada tubuh kita terdapat bagian-bagian yang sangat kebal, sehingga setelah terkena goresan atau tertusuk selama berapa detik, masih belum terasa sakitnya. Ada bagian yang bila terkena api tidak langsung terasa panas. Namun, ada juga bagian yang bila tersentuh sedikit saja sudah langsung terasa karena saraf pada bagian itu sangat peka. Bila tangan kita terkena pasir, bahkan sampai seluruh tangan kita kotor pun tidak menjadi masalah. Tapi, coba sedikit saja debu pasir masuk ke mata kita, tentu kita akan langsung berteriak. Kita tidak akan tahan karena mata merupakan bagian yang sangat peka. Orang suci adalah orang yang memunyai kepekaan besar terhadap dosa yang sekecil apapun. Seseorang yang dipenuhi Roh Kudus itu sangat peka. Sedikit ketidakberesan, ketidaksucian, atau motivasi yang sedikit kurang benar, akan langsung ditegurnya. Karena kita tidak mau dan hati nurani kita juga tidak menginginkan adanya pemalsuan, kecurangan, penyelewengan, atau ketidakjujuran sedikit pun.

    Kesucian yang disertai penyerahan total membuktikan orang itu sudah dipenuhi Roh Kudus. Namun, tidak berarti dia sudah luput dari semua dosa. Jangan percaya pada orang yang mengatakan, "Saya sudah dipenuhi Roh Kudus, sebab itu saya mencapai satu taraf di mana saya tidak mungkin berdosa lagi." Stuck datang dari Autralia ke Nongkojajar, Indonesia, untuk memberikan ajaran bahwa dirinya sudah suci, tidak bisa berdosa lagi. Sampai gurunya datang menegur dia, barulah dia bertobat dan mengaku dirinya salah. Tetapi, orang-orang di Indonesia sudah terlanjur banyak yang dipengaruhi olehnya. Sunsight, di California, berbicara banyak tentang Roh Kudus dan kedatangan Kristus. Ia mengatakan bahwa dia sudah mendapat satu pengertian, di mana wahyu Tuhan berkata kepadanya, "Yesus akan datang sebelum dia mati, sehingga dia tidak perlu mati. Dia akan langsung bertemu dengan-Nya pada waktu Dia datang dan mengangkat dirinya." Nyatanya, tak lama kemudian dia mati. Semua itu menunjukkan pengertian yang berlebihan. Mereka telah tertipu oleh setan, tetapi mungkin mereka tidak sadar. Meski mereka kelihatan rohani sekali, hebat sekali, atau suci sekali, tapi sebenarnya mereka sudah keluar dari kebenaran Alkitab.

    Mungkinkah manusia mencabut akar dosa sampai tidak mungkin berdosa lagi selama hidupnya? Tidak! Kita masih mungkin berbuat dosa, masih mungkin kurang suci, tetapi kita memunyai keinginan untuk sepenuhnya dikuasai oleh Tuhan yang suci. Itulah kesempurnaan di dalam motivasi kita. Itulah kesempurnaan kualitas sebelum kita mencapai kesempurnaan kuantitas, dan itulah tanda orang dipenuhi Roh Kudus.

  3. Menjunjung Tinggi Firman

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menjunjung tinggi Alkitab dan tidak akan memperdebatkannya. Ketika Alkitab sudah berbicara, dia akan berhenti. Di antara pengertian yang berbeda-beda, di antara ajaran yang simpang siur, dan doktrin yang berbeda-beda tekanannya, mari kita kembali kepada Alkitab. Biarlah Alkitab yang memberikan pengertian yang seimbang dan stabil berdasarkan seluruh firman yang sudah dicetak, yang sudah diberikan kepada kita. Dengan pengertian yang harmonis itulah kita tahu ada jawaban dalam Alkitab. Lalu kita bungkam, berhenti, dan tidak mendebatnya karena Alkitab adalah otoritas tertinggi. Jangan menambahkan isi Alkitab dengan konsili-konsili, atau doktrin-doktrin, atau tradisi-tradisi yang ada di dalam buku manusia. Yesus berkata, "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Bila pada suatu hari kita menemukan buku teologi apapun, yang mengemukakan doktrin yang memberi peluang untuk memperbaiki Alkitab, kita harus meninggalkan buku tersebut dan kembali kepada Alkitab. Bila suatu saat kita menemukan hal-hal yang belum dikatakan dengan jelas dalam khotbah yang disampaikan, bahkan oleh pengkhotbah yang kita sukai sekalipun, kembalilah kepada Alkitab, bukan kepada khotbah tersebut.

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan firman dan segala hikmat Tuhan yang tersimpan di dalam kekayaan firman-Nya. Jadi, Roh Kudus dan firman tidak bisa dipisahkan karena Roh Kudus adalah Roh kebenaran. Orang yang menyebut diri mengabarkan kebenaran, tapi tidak menitikberatkan Roh Kudus dan pimpinan-Nya, adalah omong kosong belaka. Orang yang mengaku diri dipenuhi Roh Kudus, tetapi berita yang disampaikan tidak sesuai dengan firman, itu pun omong kosong. Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menitikberatkan kehendak dan pimpinan Roh Kudus atas dirinya serta menyampaikan berita yang sesuai dengan Alkitab. Kedua hal ini menjadi satu. Ketika dia memberitakan, Roh mengurapi, karena itu berita yang dia sampaikan menjadi jelas sesuai dengan Alkitab.

  4. Memberitakan Injil

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mementingkan Injil dan pengabarannya. Untuk itulah Roh Kudus diturunkan ke dunia. Roh Kudus diberikan untuk memuliakan Kristus. Bapa mengirim Roh Kudus untuk memuliakan Anak, karena Anak pernah dipermalukan, dihina, diejek, difitnah, diumpat, dijual, dihakimi secara tidak adil, bahkan akhirnya dipaku di kayu salib. Keadaan pernah dipermalukan itu perlu dinormalisasi, dipulihkan kembali, karena semua itu tidak seharusnya diterima oleh Anak. Siapa yang mengerjakan semua itu? Roh Kudus. Roh Kudus akan membawa Anak kembali pada kemuliaan asli yang ada pada-Nya; mengembalikan kemuliaan Kristus. Yesus berkata, "Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika Aku tidak pergi, maka Penghibur itu tidak akan datang kepadamu. Jika Roh Kudus datang, Dia akan memuliakan Aku" (Yohanes 16:13-14). Jadi, Roh Kuduslah yang akan mempermuliakan Kristus.

    Bagaimana kita mengetahui Roh Kudus bekerja dengan hebat di dalam satu kebaktian? Tatkala Yesus ditinggikan, dosa dinyatakan, dan orang mulai ditegur dosanya, lalu bertobat dan kembali kepada Kristus. Saat itulah kita melihat Roh Kudus bekerja. Yang membuat semua kemungkinan ini terjadi adalah bila pengkhotbahnya mengutamakan kematian dan kebangkitan Kristus, meninggikan Kristus, dan memberitakan Injil-Nya. Ketaatan pengkhotbah itulah yang membuat Roh Kudus mengurapi, mendampingi, menyertai, dan memenuhi kebaktian yang dipimpinnya. Itu yang disebut kepenuhan Roh Kudus. Dengan motivasi memuliakan Kristus, menjunjung tinggi Kristus yang pernah dihina, disalib, dan akhirnya dibangkitkan kembali, Roh Kudus pasti mengurapi dan memimpin kebaktian yang dipimpinnya. Kalau seseorang menjunjung tinggi Kristus dalam sepanjang hidupnya, berarti dia terus-menerus menyatakan diri dipenuhi Roh Kudus, dan saat dirinya dipenuhi Roh Kudus, dia kembali meninggikan Kristus.

  5. Berani Menjalankan Kehendak Allah

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang berani, yang tidak takut menjalankan kehendak Allah. Sebelum seseorang dipenuhi Roh Kudus, dia merasa terkejut dan takut ketika melihat penganiaya-penganiaya mendekati dirinya. Seperti murid-murid Yesus Kristus yang mengunci semua pintu karena takut. Tetapi setelah mereka dipenuhi Roh Kudus, mereka justru membongkar pintu, membuang kunci, dan pergi ke mana saja, tanpa merisaukan apakah masih dapat pulang atau tidak. Kira-kira 26 tahun yang lalu, saya pernah mendengar kalimat senada dari seseorang, "Saya sering pergi ke Eropa Timur. Pada waktu itu, komunisme di Rusia begitu kejam, KGB menangkap dan menganiaya semua orang yang mengabarkan Injil."

    Ketika saya berada di Rusia, seorang pendeta bercerita bahwa mereka yang berada di kota Minsk ini mendapat penganiayaan secara halus. Maksudnya, KGB selalu menyiarkan di TV, bahwa orang Kristen Injili bukanlah orang yang beragama Kristen. Mereka adalah bidat di dalam kekristenan, kadang-kadang mereka membunuh anak-anak kecil. Jadi, penganiayaan tidak dijalankan dengan menangkap, memukul, dan memenjarakan hamba-hamba Tuhan. Penganiayaan dilakukan dengan memberikan topi dan kalimat-kalimat yang membuat rakyat membenci dan meninggalkan orang Kristen. Mereka diisukan sebagai orang yang paling kejam, tidak berperikemanusiaan, bahkan sampai membunuh anak-anak, dan diisukan bukan sebagai orang Kristen yang sejati. Sebab itu, sulit sekali bagi mereka untuk mengabarkan Injil karena orang-orang tidak percaya. Itulah yang dimaksud dengan penganiayaan secara halus.

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus memunyai keberanian. Yang tadinya takut mati sekarang tidak, yang tadinya malu sekarang tidak, yang tadinya takut dilawan sekarang tidak, yang tadinya takut kehilangan pangsa pasar sekarang tidak. Dia tahu bahwa dia sedang menjalankan kebenaran. Petrus pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali dengan berkata, "Aku tidak mengenal Dia." Itulah mulut manusia, mulut yang baru saja mengaku, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup." Mengapa kalimat seperti itu bisa keluar dari Petrus? Bukankah dia pendeta besar, rasul yang paling penting, bahkan kepala rasul, kardinal, dan uskup dari kedua belas rasul? Mengapa Petrus sampai berani mengatakan ia tidak mengenal Kristus? Itulah manusia. Kalau untuk mendapat untung, dia pasti segera mengatakan "ya". Tetapi, kalau rugi, pasti menjawab "tidak". Pada saat keadaan kebebasan beragama dijamin, maka orang akan mengumumkan dirinya sebagai orang Kristen. Tetapi kalau Pancasila sudah tidak berlaku, kalau kekristenan akan dibasmi, kalau musuh orang Kristen datang untuk menangkap semua orang Kristen, mereka segera beralih mengaku diri sebagai orang yang memeluk agama lain, bukan orang Kristen. Itulah manusia, tak peduli apakah dia adalah uskup dunia.

    Petrus adalah kepala rasul atau pemimpin agama. Waktu keuntungan datang, semua mengikut Yesus. Waktu kerugian datang, salib dibuang, Alkitab dibuang, berubah menjadi orang yang tidak berani mengaku dirinya sebagai orang yang mengenal Yesus. Yesus tidak menegur Petrus, tetapi memandangnya dengan pandangan yang penuh kemurahan, seolah berkata, "Ingatlah, Aku sudah tahu semua tentang hidupmu, tentang dagingmu yang lemah, karena kau belum dipenuhi Roh Kudus." Setelah dipenuhi Roh Kudus, Petrus berubah. Ketika dia ditangkap dan diancam akan dianiaya, ketika dia disuruh berhenti dan dilarang mengabarkan Injil, dia menjawab, "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah? Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Keberanian yang sekarang Petrus miliki adalah keberanian demi Injil, dia tidak lagi memperhitungkan untung rugi dan mati hidup dirinya sendiri.

    Saya mengenal banyak orang Kristen yang tadinya sangat pemalu dan penakut. Tapi sekarang, tiap-tiap hari mereka membagikan traktat dan mendoakan orang sakit. Saya tahu orang seperti itu telah dipenuhi Roh Kudus. Saya percaya orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang memunyai keberanian, cinta kasih, kesungguhan untuk melayani, dan selalu siap memuliakan Allah. Meskipun dia begitu sibuk, dia tetap bisa melayani karena telah dipenuhi Roh Kudus. Oleh sebab itu, dia tidak merasa malu. Diejek pun tidak menjadi masalah baginya.

    Ibu saya menjadi janda pada umur 33 tahun. Saat itu dia berlutut dan berdoa, berjanji seumur hidup tidak akan menikah lagi. Ia bertekad membesarkan kedelapan anak yang telah Tuhan berikan kepadanya. Pada zaman Jepang menjajah Indonesia, sangat tidak gampang mencari makan. Selain menjadi ibu, ia harus merangkap menjadi bapak. Memang berat baginya, tetapi dia masih memunyai waktu 1 hari dalam seminggu untuk berpuasa. Dan selama berpuluh-puluh tahun, dengan mengenakan baju putih, ia menyisihkan 1 hari dalam seminggu, meninggalkan semua pekerjaan dan keluarganya untuk pergi mengabarkan Injil. "Mengapa setiap pergi Ibu selalu membawa bungkusan?" Saya bertanya karena saya merasa keluarga kami sendiri kekurangan. Jawabnya, "Ketika saya membesuk, saya menemukan banyak orang yang lebih miskin dari kita, maka saya memberikan sedikit beras dan gula kepada mereka." Orang yang dipenuhi Roh Kudus dipenuhi oleh keberanian dan cinta kasih terhadap sesama.

  6. Menghasilkan Buah Roh

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menghasilkan buah Roh. Menghasilkan buah Roh Kudus adalah bukti atau fakta yang tidak bisa dipalsukan. Alkitab mengatakan, "... dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Matius 7:20). Kalau sebatang pohon disebut pohon ara, tentunya tidak akan membuahkan semak duri, bukan? Bisakah kita menemukan buah ara di semak duri, bisakah kita menemukan buah anggur di atas semak? Tidak mungkin. Semak menghasilkan semak, durian menghasilkan durian, semangka menghasilkan semangka, anggur menghasilkan anggur, tetapi semak duri tidak akan menghasilkan buah mangga. Roh Kudus memenuhi seseorang, maka orang itu akan menyatakan hidup dengan etika yang baru, yaitu etika dari Roh Kudus. Hal ini tidak bisa dipalsukan. Bukan saja demikian, orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang penuh dengan cinta kasih Allah. Dengan cinta kasih yang memenuhi hatinya itulah dia tahu bagaimana membagi-bagikan anugerah surgawi, anugerah untuk hidup di dunia, dan anugerah yang cukup untuk tiap-tiap hari kepada orang lain.

    Orang yang dipenuhi Roh Kudus, tidak akan melalui hidupnya dengan hanya memikirkan dirinya sendiri. Roh Kudus akan menolong dia meninggalkan hidup yang berpusat pada diri sendiri dan menerima hidup yang berpusat pada kemuliaan Tuhan. Roh Kudus tidak akan memperbolehkan seseorang hidup bagi dirinya sendiri, karena kasih Kristus akan mendorongnya, sehingga dia mau hidup bagi Dia yang sudah mati dan bangkit baginya. Siapakah yang melakukan hal itu? Roh Kudus. Paulus di dalam Filipi 2:13 berkata, "karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." Allah yang bekerja di dalam diri kita adalah Allah Oknum ketiga Tritunggal, Roh Kudus. Dia berada dalam diri seseorang dan membuat cinta kasih yang tadinya tidak mungkin kita miliki, menjadi mungkin. Kasih memenuhi hati kita. Bukan saja demikian, Roma 5:5-6 mengatakan bahwa pada waktu kita berada dalam sengsara dan penderitaan, Roh Kudus mencurahkan sesuatu secara merata dalam hati kita. Apa yang dicurahkan? Cinta kasih Allah. Ketika Roh memenuhi seseorang, maka cinta kasih Allah akan memenuhi hatinya. Tatkala Roh memenuhi seseorang, dia tidak akan digoyahkan oleh penderitaan, siksaan, sengsara, kematian, dan kesulitan duniawi karena cinta kasih Allah dicurahkan merata di dalam hatinya. Dengan cinta kasih itulah dia mengatasi segala penderitaan dan kesulitan.

    Itulah ciri-ciri orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Alkitab memberikan prinsip-prinsip yang jauh berbeda dari apa yang sering dikumandangkan pada zaman ini. Hendaknya kita lebih waspada dan cermat menguji setiap roh, sehingga kita tidak terjerumus ke dalam ajaran-ajaran yang tidak benar.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Roh Kudus, Doa, dan Kebangunan
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta 1995
Halaman : 99 -- 110

e-JEMMi 24/2009



Compassion International

Diringkas oleh: Dian Pradana

Mensponsori anak-anak yang membutuhkan berarti mematahkan lingkaran kemiskinan.

Compassion International berdiri sebagai organisasi perlindungan anak yang membebaskan anak-anak dari kemiskinan rohani, ekonomi, sosial dan jasmani, serta memampukan mereka untuk menjadi orang Kristen dewasa yang bertanggung jawab dan bangga akan dirinya sendiri.

Awal Mula dan Status Terkini Compassion International

Pada tahun 1952, penginjil Rev. Everett Swanson berkhotbah di Korea. Tergerak oleh keadaan anak-anak yatim piatu korban Perang Korea, beliau mengadakan sebuah program di mana orang-orang yang memiliki belas kasih dapat menyediakan makanan, tempat perlidungan, pendidikan, pelayanan kesehatan, serta pelatihan Kristen bagi anak-anak yatim piatu tersebut. Program itu menjadi tonggak berdirinya organisasi yang kini disebut Compassion.

Lebih dari setengah juta anak dari empat puluh negara telah mendapat sponsor melalui Compassion. Komitmen staf Kristen yang bekerja di Compassion tidak pernah goyah. Mereka sungguh-sungguh menyadari peran yang mereka lakoni untuk memenuhi Amanat Agung. Semua stafnya adalah orang-orang Kristen yang berdedikasi untuk mengembangkan anak-anak di seluruh dunia. Dalam pelayanannya, mereka juga bekerja sama dengan gereja lokal dan rekan-rekan organisasi yang mewakili lebih dari seratus denominasi.

Sponsor Compassion

Sponsor Compassion adalah seseorang yang telah mengambil keputusan untuk secara pribadi membantu kehidupan seorang anak yang membutuhkan. Sebagai sponsor, yang bersangkutan akan memampukan anak yang disponsori untuk ambil bagian dalam program berbasis gereja yang menawarkan beberapa hal yang akan mengubah hidup anak yang disponsori, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, pengembangan keterampilan sosial, dan pelatihan Kristen. Terlebih lagi, seorang sponsor juga dapat membantu anak yang ia sponsori untuk mengembangkan rasa percaya diri dan penghargaan diri melalui kasih yang dinyatakan melalui surat dan doa.

Dipastikan akan adanya sebuah hubungan nyata antara sponsor dan anak yang disponsori. Anak yang bersangkutan akan mengetahui nama sang sponsor, menyurati sang sponsor, dan secara langsung menerima bantuan dari sang sponsor setiap bulannya.

Hubungan sponsor dan anak yang disponsori akan membuat sang sponsor menjadi seseorang yang sangat penting -- seseorang yang memiliki peran penting dalam hidupnya. Seorang sponsor akan bersama-sama orang tua, pendeta, guru, dan orang-orang yang secara aktif terlibat, untuk mendorong dan mengembangkan anak yang bersangkutan.

Komitmen Compassion

Compassion telah terlibat dalam membantu anak-anak miskin selama puluhan tahun. Dari pengalaman dan dedikasi untuk melayani dalam cara yang memuliakan Tuhan, Compassion berkomitmen kepada para sponsor anak untuk:

  1. Memuliakan Tuhan dalam segala sesuatu yang dilakukannya. Amanat Agung adalah jantung misi Compassion, dan pemuridan adalah inti dari program-programnya.

  2. Bekerja sama dengan gereja lokal. Pelayanan Compassion memerkuat gereja lokal melalui kerja sama menjangkau anak-anak dan keluarga di komunitas lokal.

  3. Secara langsung memberi dampak pada berkembangan individu setiap anak. Compassion telah benar-benar menyadari bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan anak jauh lebih penting daripada apa yang terjadi dalam lingkungan sekitar anak.

  4. Mengembangkan secara keseluruhan -- mengembangkan pikiran, tubuh, dan jiwa. Semua program Compassion memberikan peluang yang mendorong perkembangan yang sehat dalam empat bidang -- rohani, fisik, sosial, dan ekonomi.

  5. Mendidik dan menantang para sponsor dalam hal kemiskinan dan pengentasan. Sebagai organisasi pengayom anak-anak, Compassion akan membantu para sponsor untuk memahami masalah kemiskinan yang kompleks dan efek dari kemiskinan tersebut pada anak-anak dan perkembangannya.

  6. Menggunakan uang yang ada untuk mengembangkan. Dana sponsor anak-anak harus digunakan untuk mengembangkan anak-anak yang disponsori. Program sponsor anak-anak yang diadakan Compassion sepenuhnya berfokus pada perkembangan anak-anak.

  7. Hanya menghubungkan satu anak dengan satu sponsor. Setiap anak hanya memiliki satu sponsor. Compassion mendorong para sponsor untuk mengembangkan hubungan yang membangun dengan anak-anak yang mereka sponsori.

  8. Memberikan peluang kepada setiap anak yang mengikuti program mereka untuk meresponi Injil. Setiap anak yang ikut dalam program Compassion diberi kesempatan untuk belajar tentang Yesus dan menemukan bagaimana cara untuk menjalin hubungan seumur hidup dengan Allah.

  9. Menggunakan dana keuangan dengan seefektif mungkin. Compassion menggunakan seminim mungkin dana untuk biaya penggalangan dana dan administrasi, menyeimbangkannya dengan kebutuhan akan kualitas dan integritas melalui organisasi.

  10. Dapat dipercaya dalam keuangannnya. Compassion bertindak sebagai pengelola keuangan dengan serius. Compassion secara rutin mengaudit keuangannya untuk memastikan bahwa program mereka dikelola dengan baik dan dana yang ada digunakan dengan semestinya.

Keistimewaan Compassion

Ada tiga hal yang membedakan Compassion dengan organisasi peduli anak yang lain.

Maka dari itu tujuan Compassion adalah mengangkat anak-anak yang kurang mampu itu dalam hidup yang berkelimpahan sebagai murid Yesus Kristus. (t/Dian)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Nama situs : Compassion.com
Judul artikel : Compassion in Jesus`name: Releasing Children from Poverty
Penulis : Tidak dicantumkan
Alamat URL : http://www.compassion.com/

e-JEMMi 14/2008

Dana Misi

Ketaatan Paulus kepada pimpinan Roh Kudus menghasilkan pelayanan yang berhasil. Di Makedonia, orang-orang percaya kepada Yesus dan menjadi orang Kristen yang benar-benar mengasihi Tuhan. Paulus menyaksikan ini kepada jemaat di Korintus, bahwa jemaat di Makedonia adalah jemaat yang luar biasa. Selagi dicobai dengan berat, sukacita mereka meluap, dan meskipun sangat miskin, mereka kaya dalam kemurahan. Tidak ada pujian yang lebih baik atau lebih layak daripada pujian yang pernah Paulus berikan bagi jemaat di Makedonia ini. Paulus merasakan ketaatannya mendatangkan hasil. Jemaat di Makedonia telah mempersembahkan seluruh hidup mereka kepada Tuhan. Kasih mereka begitu meluap-luap. Mungkin ini adalah kasih mula-mula yang mereka alami.

Kehidupan yang dipersembahkan pada Kristus membuat mereka mempersembahkan waktu, tenaga, dan apa yang mereka miliki, padahal mereka sangat miskin. Sangat miskin berarti profesi mereka mungkin adalah pembantu-pembantu (budak-budak yang sudah bebas), dan umumnya upah pembantu ini sangat rendah. Tetapi ini tidak mengurangi kasih mereka dan persembahan mereka kepada Tuhan. Betapa menyedihkan kalau orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan hidup berkelimpahan hanya untuk diri sendiri sehingga menimbun segala kekayaan mereka dalam deposito, padahal dana itu akan memiliki nilai kekekalan jika dipersembahkan untuk pelayanan misi ke seluruh dunia, juga ke Indonesia. Tujuan Allah memberkati kita adalah supaya kita menjadi berkat. Kalau jemaat Makedonia yang miskin mampu mempersembahkan lebih dari kemampuan mereka, apalagi kita yang mampu, tentu akan mempersembahkan sesuatu yang lebih baik.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Misi, Diskusi dan Doa
Penulis : Dr. Makmur Halim
Penerbit : Gandum Mas, Malang 2000
Halaman : 33 -- 34

e-JEMMi 29/2009

Dapatkah Kedewasaan Rohani Dimiliki Seorang Muda?

Banyak rumusan tentang kedewasaan rohani. Mungkin ada yang berpendapat bahwa kedewasaan rohani dicapai manakala seorang tidak lagi jatuh frustrasi, bisa menjaga kerohaniannya sehingga tidak jatuh dalam dosa, dan seterusnya. Namun, apakah sebenarnya hakikat kedewasaan rohani itu?

Usia muda, yaitu remaja dan pemuda, disepakati oleh para ahli jiwa sebagai masa krisis identitas. Di masa-masa ini pribadi seseorang masih labil atau bingung mencari jati dirinya. Seiring dengan perkembangan pikiran, masa ini ditandai pula dengan mulai digunakannya mekanisme pertahanan ego. Misalnya tipu muslihat untuk sekadar bergurau, membual demi menutupi rasa iri, membantah kesalahan dengan alasan rasional, dan sebagainya. Demikian juga mulai tumbuhnya rasa kepemilikan (sense of belonging) dalam berkelompok. Demi kekompakan dengan teman sebaya, mereka sanggup berbuat apa saja, bahkan mungkin hal-hal yang bertentangan dengan prinsip dan suara hati sekalipun. Tidak heran bila pada usia ini banyak yang terjebak dalam aksi ikut-ikutan.

Hal-hal di atas berpengaruh besar dalam kehidupan rohani, pengambilan keputusan, atau komitmen dengan Tuhan. Pelayanan serta kegiatan rohani lainnya adakalanya hanya dinilai sebagai cermin keadaan pancaroba dalam usia muda.

"Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang yang dewasa, yang memiliki panca indra yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat" (Ibrani 5:14). Kesan yang timbul dari ayat ini adalah bahwa kedewasaan rohani adalah suatu kondisi yang mantap, baik, dan tangguh. Terkesan pula kepekaan yang dalam sehingga kemungkinan tidak pernah terjatuh, serta memiliki kehidupan pribadi yang bertanggung jawab, tekun, taat, dan setia. Orang yang dewasa secara rohani juga memiliki kesempurnaan dalam pelayanan. Mungkinkah seorang muda yang memiliki kondisi mental yang mudah mencoba dan berubah itu memiliki kedewasaan rohani seperti yang terkesan pada ayat ini?

Sebuah Perjalanan Tanpa Henti

Ibrani 5:13 berkata: "Sebab barang siapa masih memerlukan susu, ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil." Lebih jelas lagi dalam terjemahan FAYH: "Orang yang masih hidup dari susu, belum maju dalam hidup kekristenannya dan tidak tahu banyak tentang perbedaan antara yang benar dan yang salah. Ia orang Kristen yang masih bayi!" Dari dua versi ayat ini jelas bahwa harus ada pertumbuhan dalam kehidupan rohani kita. Bukan berarti Allah tidak berkenan pada anak-anak-Nya yang masih bayi atau kecil secara rohani, namun fase ini memang harus ada sebagaimana Ia menghendaki adanya kelahiran baru (percakapan Yesus dengan Nikodemus). Namun maksud-Nya dengan kelahiran baru bukanlah Kerajaan Allah hendak dipenuhi dengan bayi-bayi yang sekadar bersih dari noda dan dosa. Dia menghendaki laskar Kristen yang tangguh, bukan pasukan bayi yang suka rewel dan menangis. Maksud Allah melahirkan kita kembali oleh Roh-Nya adalah untuk suatu pertumbuhan!

"Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada kita dengan mengutus Kristus supaya mati untuk kita pada waktu kita hidup dalam dosa. Semua ini dilakukan-Nya untuk kita dengan darah-Nya, ketika kita masih dalam dosa. Karena itu, betapa banyak lagi yang akan dilakukan-Nya untuk kita, sesudah kita dinyatakan 'tidak bersalah'." (Roma 5:8-9, FAYH) Kesempurnaan atau kematangan rohani bukanlah suatu kejadian yang tiba-tiba. Mari kita lihat beberapa contoh bahwa kehidupan seorang Kristen adalah sebuah proses perjalanan.

1. Gembala yang Menjadi Raja Besar

Alkitab menulis dengan jelas bahwa pengurapan yang dilakukan Samuel atas Daud kecil tidak seketika menjadikan Daud seorang raja. Daud mengalami proses yang panjang: dari gembala, pegawai istana kesayangan raja, sampai akhirnya ia menjadi raja. Tidak hanya sampai di situ saja, guncangan-guncangan dalam kerajaan Daud sesungguhnya hanyalah alat peraga Allah dalam mengajar dan mendidik Daud.

2. Sang Tokoh yang Dikoreksi

Petrus telah menjadi saka guru bagi jemaat mula-mula. Khotbahnya yang memukau telah menobatkan banyak orang sekaligus, hikmat dan perkataannya sanggup menjernihkan kekeruhan para Rasul tentang sunat, dan masih banyak lagi kehebatannya. Ternyata ia masih tetap digembleng Allah dengan berbagai cara, bahkan dengan cara yang seakan tidak layak bagi seorang rasul besar. Hanya karena persoalan makan bersama dengan orang Yahudi, ia ditegur oleh seorang juniornya (Galatia 2:11-14).

Kita tidak sungkan mengacungkan jempol pada hubungan Daud dengan Tuhan. Kita pun tidak menyangsikan Petrus yang sampai dengan kematiannya memuliakan Allah. Apabila dalam kondisi yang terasa "wah" itu mereka masih dibenahi Allah, itu berarti sepanjang hidup orang Kristen Allah tetap berkepentingan untuk mengajar, mendidik, dan menyempurnakan kita sesuai dengan rencana-Nya atas kita.

Dewasa Bukanlah Sempurna

Dengan demikian, kaburlah anggapan semula bahwa pribadi Kristen yang memiliki kedewasaan rohani sedemikian hebat, berhikmat, dan bertindak tanpa kesalahan yang membuat Allah tidak perlu membenahi atau menegur lagi. Sedemikian kuatnya ia menanggung penderitaan sehingga ia tidak memerlukan lagi dukungan doa dan moril dari saudara seiman. Begitu tangkasnya ia menyelesaikan persoalan hingga ia tidak lagi memerlukan dukungan tangan kasih Allah yang menguatkan.

Kehidupan Kristen adalah sebuah proses didikan, ajaran, dan tuntunan Allah seumur hidup. Kedewasaan rohani berarti pengertian dan kerelaan kita untuk dibentuk Allah seumur hidup kita. Ini berarti kita menerima juga segala bentuk dan cara Allah untuk membawa kita pada taraf pertumbuhan yang dikendaki-Nya, seperti tanah liat di tangan tukang periuk. Sebab dalam penyerahan diri itulah terdapat keelastisan hati dan jiwa kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang Allah perhadapkan di depan kita. Apakah teguran, kritikan, hadiah, sanjungan, dan penderitaan sekalipun.

Ketulusan penyembahan dan kejujuran Daud di hadapan Allah dan di hadapan manusia tidak serta merta menjadikannya raja yang besar. Kedewasaan Daud bukan pula diukur dari tindakannya sebagai panglima perang yang selalu bergantung dan mengandalkan Allah. Kedewasaan Daud nampak dari kerelaannya untuk tetap dibentuk Allah dengan segala cara. Kita tahu, tidak mudah seseorang raja menyesal karena teguran nabi (misalnya saat Herodes ditegur Yohanes Pembabtis karena persoalan yang hampir sama). Demikian juga Petrus, kedewasaannya bukanlah khotbahnya yang hebat, namun kesetiannya untuk tetap melayani Tuhan meskipun terjadi gesekan-gesekan dengan rekan sepelayanannya. Itulah kehebatannya -- sekalipun untuk itu ia harus membayar didikan Allah dengan harga dirinya.

Jelas di sini bahwa memiliki kedewasaan rohani pada usia muda bukanlah suatu pertumbuhan yang abnormal atau mustahil, bukan pula suatu tuntutan surgawi yang sangat sulit untuk dipenuhi pada usia muda, atau sebuah teori yang hanya bisa dicapai dengan upaya dan kekuatan sendiri. Alasannya jelas, keduanya -- usia muda dan kedewasaan rohani -- tidak memiliki hubungan sebab-akibat. Ada orang yang secara jasmani telah dewasa, namun masih memiliki kehidupan rohani yang setingkat bayi, rewel dan selalu minta dilayani; hatinya seperti kaca yang bila terbentur dengan benda keras akan hancur berkeping-keping. Di lain pihak, tidaklah aneh bagi kita untuk menjumpai seorang yang masih muda secara jasmani namun telah memiliki kedewasaan rohani, sebab ia telah menyerahkan diri pada Allah dan memberikan dirinya untuk didandani Roh Kudus sejak awal pertobatannya.

Kriteria serta contoh beberapa tokoh muda dalam Alkitab berikut ini dapat memberikan sedikit gambaran tentang pribadi Kristen yang dewasa secara rohani.

  1. Terus Berjalan Meskipun Pelan

    Daud memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menjadi rendah hati di hadapan Allah dan manusia, serta bersandar pada Allah saja. Diperlukan waktu bertahun-tahun sejak Daud menggembalakan ternak ayahnya hingga ia menjadi raja. Allah perlu berkali-kali memberi pelajaran bahwa hanya Dialah satu-satunya Penolong Daud, dengan melalui banyak kejadian: menyelamatkan ternak dari terkaman binatang buas, kemenangan atas Goliat, dan kemenangan dalam perang-perang kerajaan. Demikianlah perjalanan rohani kita ibarat sebuah grafik yang setiap hari naik sedikit demi sedikit.

  2. Tetap Memandang Visi Allah

    Sadrakh, Mesakh, Abednego, dan Daniel dibawa ke istana Babel dan mendapat perlakuan yang baik, karena bakat dan potensi pada usia muda mereka dipertimbangkan raja Nebukadnezar sebagai keuntungan kerajaannya. Mereka menolak makan santapan raja, namun bukan berarti mereka mogok makan karena dibawa ke istana musuh. Juga ketika mereka dimasukkan ke dalam perapian yangmenyala-nyala karena menolak menyembah patung emas, hal tersebut bukanlah merupakan protes mereka pada pemerintah. Hal tersebut bukan pula suatu keisengan mereka sebagai orang-orang muda. Semua itu mereka lakukan semata-mata karena mereka tidak dapat memalingkan hati mereka dari Allah yang hidup, apa pun risikonya.

    Dalam usia yang muda dan penuh potensi yang terus dapat dikembangkan, sering datang tawaran jenjang karier yang cukup menggiurkan namun menjebak agar kita melepaskan Tuhan. Siapa yang tetap memandang visi Allah, dialah yang akan diluputkan dari api, dengan cara pertolongan yang sangat ajaib.

  3. Berani Mengubah Arah Hidup

    Seorang muda yang terdidik dengan soal hukum Taurat tiba-tiba mengubah arah hidupnya dari seorang penganiaya jemaat menjadi pekabar Injil Kristus.

    Zaman sekarang, banyak anak muda yang terpaksa banting setir dalam menata masa depannya. Banyak artis yang tiba-tiba beralih profesi menjadi penyanyi rohani. Ada yang beberapa bulan lagi akan diwisuda menjadi dokter atau sarjana, tiba-tiba menjadi mahasiswa baru di sebuah sekolah teologi karena ada perjumpaan pribadi dengan Allah. Perubahan ini juga dialami oleh Paulus dalam perjalanannya ke Damsyik. Keputusan putar arah ini tentu menimbulkan pro dan kontra yang mungkin di luar dugaan, tetapi itulah konsekuensi sebagai orang yang telah dicelikkan mata hatinya.

  4. Tidak Hanya Ikut Arus

    Di dalam dunia modern ini ada begitu banyak tawaran yang menjadikan seorang muda meninggalkan kekudusannya di hadapan Allah. Di kanan-kiri kita tersedia begitu banyak sarana untuk memuaskan kedagingan orang muda. Tetapi mereka yang bertekad menjaga diri mereka, seperti Yusuf pada saat ia di rumah Potifar, dialah yang tidak khamir oleh ragi dunia yang membinasakan; dialah yang kelak dijunjung tinggi oleh Allah di antara sesamanya.

  5. Bangkit Setelah Jatuh

    Pekerjaan yang paling sulit adalah memulai segala sesuatu dari nol kembali. Keputusan banyak orang yang telah jatuh atau tercebur dalam lumpur adalah mandi lumpur sehingga seluruh tubuhnya kotor dan tidak lagi terlihat sehingga ia tidak perlu malu. Keistimewaan Simson bukanlah kehebatan otot dan darah mudanya. salah satu hal luar biasa yang dilakukan Simson adalah kemauannya untuk kembali berbalik dan berteriak minta tolong kepada Allah.

    Seseorang yang dewasa secara rohani adalah orang yang berani menghampiri Tuhan meski dengan berlumuran dosa. Tindakan inilah yang dikehendaki Allah (bd. pengajaran Tuhan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang). Itulah sebabnya Allah memulihkan keadaan Daud setelah penyesalannya atas tindakan yang dilakukannya terhadap Uria dan Betsyeba. Petrus, setelah penyangkalannya, dipulihkan Tuhan secara luar biasa. Masih banyak lagi contohnya.

    Dewasa secara rohani bukan berarti tidak pernah atau tidak bisa jatuh dan mengalami frustrasi. Hanya saja, ketika mengalami suatu hal yang buruk, seorang yang dewasa secara rohani tidak berlarut-larut dalam kekecewaan hingga ia meragukan kasih Allah. Sebagaimana Allah mengampuni pelacuran yang dilakukan Maria Magdalena, pemerasan oleh Lewi si pemungut cukai, kekejian pembunuh-pembunuh Stefanus, penyangkalan Petrus, pengkhianatan Yudas, serta persekongkolan para pembunuh Yesus, demikianlah seseorang yang dewasa secara rohani tidak akan kehilangan keberanian dan kerendahan hatinya untuk kembali pada jalan kebenaran. Dia tidak akan memutuskan untuk semakin menceburkan diri dalam kegelapan yang lebih gelap seperti Yudas yang mati bukan karena hukuman Allah, tetapi karena tindakannya sendiri. Seorang yang dewasa secara rohani akan tetap menapak dari garis awal lagi setelah kejatuhannya, sama seperti Petrus yang bangkit setelah penyangkalannya.

Demikianlah kedewasaan rohani itu. Jadi tidak heran jika Rasul Paulus menasihati Timotius, "Sekalipun engkau muda, jadilah teladan dalam kasihmu, dalam imanmu... sehingga orang tak meremehkanmu sebab engkau seorang yang muda."

Diambil dari:

Judul Majalah : Bahana, Nomor 07, Tahun V, Volume 45, 7 Januari 1995
Judul Arikel : Dapatkah Kedewasaan Rohani Dimiliki Seorang Muda?
Penulis : Zipora Dini
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2005
Halaman : 52 -- 54

e-JEMMi 01/2010



Dapatkah Tuhan Memakai Anda Untuk Melakukan Penginjilan di Internet?

"Bagaimana mungkin saya menggunakan internet untuk memenangkan jiwa bagi Kristus?" Anda akan bertanya. "Saya gagap teknologi. Saya hanya tahu bagaimana mengirim e-mail dan membaca berita secara tersambung (online), tapi hanya itu saja."

Saya dulu juga berpikir begitu. Pengetahuan teknis saya memang terbatas. Selama bertahun-tahun, saya bahkan ragu-ragu untuk menggunakan mesin ATM di bank karena saya takut akan melakukan kesalahan sehingga mesin ATM itu menelan kartu saya.

Perlahan-lahan saya berusaha mengatasi "technophobia" (ketakutan pada teknologi) dan mulai menggunakan komputer untuk mengolah kata (mengetik). Tetapi saya masih menggunakan program kuno. Akhirnya, pada tahun 1998 saya mengganti sistem program DOS yang sudah kuno dengan Windows. Hal ini saya lakukan karena salah seorang teman saya mengatakan bahwa saya harus menggunakan program tahun 90-an sebelum tahun 90-an ini berakhir!

TALENTA APA YANG ANDA MILIKI?

Kita semua memiliki talenta dan kemampuan. Kunci supaya kita berguna adalah menggunakan talenta yang ada pada kita untuk Tuhan. Talenta Anda mungkin adalah menjalin persahabatan, membuat percakapan yang menyenangkan, menjawab pertanyaan, memberi inspirasi kepada orang lain, atau bercerita. Allah tentu saja dapat menggunakan semuanya itu. Berikut ini cerita yang mungkin bisa menyemangati Anda.

Saya senang dengan dunia komunikasi, khususnya menghubungkan Kristus dengan pendengar sekular. Selama bertahun-tahun, saya sudah menulis banyak artikel penginjilan untuk membantu menjangkau orang-orang yang belum percaya kepada Kristus. Beberapa tahun yang lalu, teman dekat saya, sepasang suami istri terlibat dalam pelayanan di internet. Mereka meminta saya untuk mengirimkan semua artikel saya kepada mereka untuk mereka pasang secara tersambung di internet.

Saya tidak mengerti apa maksud dari semua itu, tapi mereka mengatakan bahwa artikel-artikel yang dipasang di internet ini akan diberikan secara gratis kepada semua orang di seluruh dunia. Tampaknya itu adalah hal yang baik.

Situs yang dimiliki oleh teman saya, "Leadership University", bertujuan untuk mengumpulkan ribuan artikel yang menguatkan iman Kristen. Evangelism Toolbox yang dimiliki oleh Allan menjadi "Yellow Pages" (Halaman Kuning) tersambung yang merupakan direktori bahan-bahan penginjilan. Mulailah mereka memperkenalkan penginjilan melalui internet kepada saya.

APAKAH ANDA SIAP MENGHADAPI REVOLUSI DIGITAL?

Pada suatu pertemuan di Amsterdam beberapa tahun yang lalu, saya melihat suatu brosur yang mengatakan, "Amanat Agung akan dibuat digital; apakah Anda siap?" Brosur itu menyentak perhatian saya. Mungkin Allah ingin saya memfokuskan tenaga saya untuk penginjilan melalui internet.

Brosur itu berbicara tentang bagaimana menggalang penginjilan melalui internet. Saya mulai bergabung dengan "orang-orang hebat" ini dan belajar dari mereka. Saya mulai lebih banyak menulis untuk situs dan berbagai artikel yang ditampilkan secara tersambung.

Teman lain mendorong saya untuk mencari nama saya di Google. Saya kagum melihat berhalaman-halaman artikel yang saya tulis di situs-situs yang belum pernah saya dengar sebelumnya!

Saya juga menemukan banyak kesaksian lainnya dari:

Sifat sederhana dan menular dari internet memungkinkan banyak orang menemukan dan menggunakan artikel-artikel ini dengan cara-cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya bisa saja duduk dengan laptop di kantor, di pesawat terbang, atau di suatu kamar hotel dan menyusun artikel yang akan dengan bijaksana mendorong orang-orang untuk datang kepada Kristus atau hidup menurut prinsip-prinsip yang alkitabiah. Kemudian dengan menekan sebuah tombol, saya bisa mengirim artikel itu ke penerbit di internet yang akan menampilkannya di internet sehingga bisa dinikmati oleh semua orang di seluruh dunia.

Ini adalah cara yang luar biasa. Cara yang sangat potensial untuk menyebarkan Kabar Baik!

DOA YANG SEDERHANA

Suatu hari pada bulan Agustus 2003, saat lari pagi, saya merasa sangat ingin berdoa agar selama satu tahun saya akan memerhatikan seratus situs yang telah menggunakan artikel-artikel saya. (Pada saat itu, saya hanya memerhatikan 43 situs.) Tidak ada "suara dari surga" yang terdengar ataupun tulisan tangan yang ada di trotoar; saya hanya merasakan dorongan yang sangat kuat dari dalam diri saya sendiri untuk mendoakan hal ini.

Setahun kemudian, saya mempelajari seratus situs yang telah menggunakan artikel-artikel saya. Beberapa situs menerbitkan artikel tersebut dan yang lainnya memberikan tautan ke artikel-artikel saya. Artikel-artikel itu muncul dengan menggunakan beberapa bahasa: Inggris, Spanyol, Albania, Kroasia, Hungaria, Italia, dan Polandia! Orang-orang terus menerjemahkan dan memostingkannya. Ini di luar kendali dan kemampuan saya. Tuhan dipermuliakan melalui cara ini.

Situs-situs yang berjumlah banyak itu adalah situs-situs non-Kristen. Contohnya, satu situs memberi tautan ke salah satu versi artikel "Elvis Has Left the Building" (Elvis telah Meninggalkan Gedung) yang merupakan kekaguman terhadap Elvis Presley dan pengertian spiritual dari artikel ini. Suatu situs sekolah medis di Argentina menampilkan terjemahan artikel "One Minute After Death" (Satu Menit Setelah Kematian), yang bercerita tentang pengalaman menjelang kematian.

Beberapa situs koran sekular juga menerbitkan artikel-artikel ini. Situs-situs pribadi dan blog (web blog) juga memberi tautan ke artikel-artikel saya. Saya tidak menghubungi semua situs dan meminta mereka untuk menggunakan artikel saya. Beberapa redaksi hanya menemukan artikel-artikel saya di situs dan kemudian menggunakannya. Luar biasa!

SELERA HUMOR ALLAH

Saya bahkan menemukan satu artikel saya yang ditautkan ke situs porno!

Penjelasannya seperti ini. Artikel penginjilan saya itu berjudul "Dynamic Sex: Unlocking the Secret to Love" (Dinamika Seks: Membuka Rahasia untuk Mengasihi). Artikel ini memaparkan pandangan Alkitab tentang seks dan cinta, tetapi ditulis untuk menjangkau dan mendapatkan perhatian dari orang-orang non-Kristen. Tapi saya belum menemukan tautan artikel ini ketika menjelajah ke situs-situs porno! Saya menuliskan judul artikel itu di Google. Saya berdoa agar banyak pengguna internet yang pada awalnya mengunjungi situs itu untuk mencari pornografi justru bisa menemukan Yesus. Allah punya selera humor bukan?

Lagi, segala kemuliaan untuk Allah. Jika Anda tertarik, Probe Ministries menyediakan banyak artikel untuk mereka yang membutuhkan dan mengalami kebimbangan.

APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN?

Penginjilan melalui internet memberi Anda kemungkinan yang sangat besar untuk mengenalkan Kristus. Menulis artikel hanyalah salah satu metode. Anda bisa berinteraksi dengan orang-orang yang belum percaya di "chat room", surat-menyurat melalui e-mail, berkomunikasi di blog, merancang situs Anda sendiri, berdoa untuk dan/atau memberi dukungan dana untuk "web outreach" (pelayanan penjangkauan).

Anda juga dapat mendorong gereja Anda atau kelompok-kelompok Kristen untuk berpartisipasi pada "Hari Penginjilan melalui internet". Program hari internasional ini berfokus untuk menolong orang-orang Kristen belajar lebih banyak lagi tentang kemampuan web untuk penginjilan. Situs mereka, www.InternetEvangelismDay.com, menjelaskan bagaimana membuat program jangka pendek supaya dapat dilibatkan di pelayanan gereja atau kegiatan-kegiatan lainnya.

Hal terpenting adalah bertanya kepada Tuhan apa yang Dia ingin Anda lakukan. Seperti yang dikatakan Maria kepada pelayan-pelayan di Yohanes 2:5, "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"

Mintalah Tuhan untuk memperluas wawasan Anda. Dia melakukan ini untuk Yabes (1 Tawarikh 4:10). (t/Ratri)

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Situs : Gospelcom
Penulis : Rusty Wright
URL : http://ied.gospelcom.net/article3.php

Rusty Wright adalah seorang penulis, jurnalis sindikat dan dosen. Bersama dengan Probe.org telah menjadi pembicara di enam benua. Beliau berturut-turut memperoleh gelar Bachelor of Science (psychology) dan Master of Theology di Duke University dan Oxford University. Alamat situs Rusty Wright di: < www.probe.org/Rusty >

[Catatan: Jika setelah membaca artikel di atas Anda ingin ambil bagian untuk terlibat dalam pelayanan dunia internet, silakan menghubungi < staf-Misi(at)sabda.org > Kami akan senang sekali menolong Anda.]

e-JEMMi 16/2007

Dasar Alkitabiah Misi dalam Perjanjian Baru

Allah menyusun rencana yang teliti untuk kelahiran Mesias. Ironisnya, Yesus, sang Mesias, datang ke dunia bukan dengan kebesaran dan kemegahan, namun dengan penuh kerendahan hati. Yohanes Pembabtis diutus Allah untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya dengan memberitakan kedatangan kerajaan Allah dan perlunya pertobatan bagi pengampunan dosa (Matius 3:1-3).

Setelah 400 tahun adanya ketidakjelasan dan penindasan yang dilakukan oleh kekuasaan imperial, timbullah rasa kebangsaan dan monoteisme orang-orang Yahudi. Karena mereka kehilangan tempat ibadah saat berada dalam pembuangan, mereka membangun sinagoge di mana-mana, dan tempat itu menjadi pusat penyembahan dan pengajaran.

Kekaisaran Romawi memunyai bahasa utama, yakni bahasa Yunani. Ada pertukaran pendapat yang bebas antara Romawi Barat dan Romawi Timur. Komunikasi jalur darat dan jalur laut sangat efisien. Juga terdapat jasa pos dan jaringan jalan yang luas. Para pedagang harus melewati Palestina untuk berdagang.

Waktu Allah yang sempurna terbukti dengan lahirnya Yesus. Kekaisaran Romawi memiliki kehidupan persaudaraan yang rukun. Orang-orang Yahudi di Palestina diberi otonomi dan kebebasan untuk menjalankan agamanya. Orang-orang Yahudi di seluruh wilayah kekaisaran boleh pergi ke Yerusalem untuk merayakan pertemuan raya mereka.

Yesus dan murid-murid-Nya memperoleh kebebasan untuk berkeliling dan masuk ke sinagoge untuk berkhotbah dan mengajar. Tak ada saat yang lebih indah dibanding saat Mesias datang dan saat Kabar Baik diberitakan.

Yesus, Pusat dari Rencana Penebusan Allah

"Tetapi setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan ... untuk menebus ... supaya kita diterima menjadi anak." (Galatia 4:4-5)

Anak Allah, Yesus Kristus, sebelumnya ada bersama Bapa, datang ke dunia untuk menyatakan Allah sebab Dia adalah "sinar kemuliaan Allah, perwujudan nyata dari keberadaan Allah" (Yohanes 1:14; Ibrani 1:3). Melihat Yesus berarti melihat Allah; mengenal Yesus berarti mengenal Allah. Mengenal Allah berarti memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 17:3).

Yesus memberikan semua milik-Nya, mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, taat pada kehendak Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:6-8). Dia melakukannya dengan kerelaan sebagai korban bagi dosa seluruh dunia supaya barang siapa yang percaya kepada-Nya memperoleh pengampunan dan menjadi anak-anak Allah. Ketika Dia mati, tumit Yesus diremukkan setan, namun ketika Dia bangkit dari kematian, Ia meremukkan kepala setan. Ini adalah penggenapan janji Allah dalam Kejadian 3:15. Yesus benar-benar mengalahkan setan dan melucuti kuasanya (Kolose 2:15).

"Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!" (Filipi 2:9-11)

Efesus 1:3-14 meringkas rencana penebusan Allah: "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya ... untuk menjadi anak-anak-Nya melalui Yesus Kristus ... supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia ... di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa ... supaya kami ... boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya ...."

Yesus Sang Penginjil

Yesus diutus oleh Bapa. Dia tahu benar untuk apa Ia datang: untuk menyatakan Bapa dan memberi hidup kekal, dan menunjukkan jalan kerajaan Allah ke dalam hati manusia dan dunia. Hal ini disempurnakan-Nya dengan menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19). Sebagai Hamba yang menderita, Ia memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi orang banyak.

Ia hidup di antara orang-orang yang ingin Dia menangkan. Dia mengalami hidup dengan debu, kotor, lapar, haus, lelah, pencobaan, perlawanan, penolakan, bahkan kematian. Perlu bagi-Nya "untuk menjadi seperti saudara-saudara-Nya dalam segala hal supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa." (Ibrani 2:14-18)

Dia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan melayani bersama Dia (Markus 3:13-39). Dia mengajarkan kepada mereka tentang kerajaan Allah, bagaimana mereka bisa masuk ke dalamnya, bertindak sebagai warga kerajaan Allah, dan bagaimana mereka seharusnya membimbing orang lain masuk ke sana. Yesus mengajar mereka dengan menjadi teladan dan dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengerjakan pekerjaan Allah.

Yesus memperhadapkan orang-orang akan dosa dan tingkah laku mereka yang jahat di hadapan Tuhan. Yesus memanggil mereka untuk percaya dan mengikut-Nya. Setiap orang yang bertemu dengan Yesus harus membuat keputusan mengikut Dia.

Selain berkhotbah dan mengajar, Yesus juga memberi makan orang lapar, menyembuhkan yang sakit, dan membebaskan yang terbelenggu. Yesus mengunjungi orang-orang, makan bersama mereka, bersukacita dengan mereka, dan berduka dengan mereka. Dia berdoa bagi murid-murid-Nya. Dia mengampuni orang-orang yang berdosa. Dengan sabar, Dia menjawab pertanyaan baik yang tulus maupun yang sinis. Dia menguatkan orang yang patah hati dan memuji orang yang penuh iman. Dia mencukupi kebutuhan orang dengan penuh kasih.

Yesus juga melayani orang-orang yang bukan Yahudi dan merencanakan dari awal untuk mengikutsertakan mereka ke dalam "keluarga Allah". Menurut pendengaran orang Yunani yang datang untuk mengunjungi-Nya, Dia menyatakan bahwa "apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku" (Yohanes 12:20-33). Dia menghendaki domba-domba yang lain dibawa juga ke kandang sehingga mereka menjadi satu kawanan dengan satu gembala (Yohanes 10:16). Ketika bercakap-cakap dengan perempuan Samaria, Yesus menyatakan: "Keselamatan datang dari bangsa Yahudi" (Yohanes 4:22), itu berarti bahwa keselamatan adalah bagi dunia.

Yesus Sang Pengutus

"Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yohanes 20:21), kata Yesus yang bangkit kepada murid-murid-Nya. Kini Yesus adalah sang Pengutus karena Dia adalah Tuhan yang kepada-Nya "segala kuasa di bumi dan di surga diberikan". Dia sudah mengalahkan setan, si penawan dan si pembudak manusia. Sekarang Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk memuridkan semua manusia dan semua bangsa. Sama seperti Allah yang mengurapi-Nya dengan Roh, maka Yesus pun mencurahkan Roh-Nya kepada mereka dan berjanji bahwa Dia akan tetap bersama-sama dengan mereka sampai akhir zaman (Matius 28:18-21; Kisah Para Rasul 1:4, 8).

Pelayanan Yesus dibatasi hanya sampai Palestina dan daerah sekitarnya, namun murid-murid-Nya harus memberitakan-Nya ke daerah Yahudi, dan bahkan ke daerah yang tak dikenal. Visi Yesus adalah bagi seluruh dunia. Menyelamatkan dunia adalah kehendak-Nya. (1 Timotius 2:3-6). (t/Setyo)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Mission is for Every Church
Judul asli artikel : Mission in the New Testament The Biblical Basis
Penulis : Tim OMF
Penerbit : OMF Literature Inc, Manila 1994
Halaman : 21 -- 25

e-JEMMi 03/2009

Dasar Alkitabiah Pelayanan Lintas Budaya

Penjelmaan Yesus Kristus dan Kontekstualisasi

Penjelmaan atau inkarnasi Yesus Kristus merupakan puncak penyataan Allah kepada manusia. Dalam Perjanjian Lama "Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada ... kita dengan perantaraan nabi-nabi" (Ibrani 1:1). Zaman dahulu Allah bersabda kepada umat-Nya melalui nabi-nabi-Nya. Namun, "... pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, ...." (Ibrani 1:2). Yesus Kristus, Anak Allah dan Firman yang kekal itu "... telah menjadi manusia dan diam di antara kita...." (Yohanes 1:14)

Dalam inkarnasi Yesus, Allah melintasi jurang pemisah antara surga dan dunia ini. Ia menjembatani kesenjangan antara alam gaib dan alam semesta ini. Ia melakukan semua ini untuk menyatakan diri-Nya kepada kita. Seperti tertulis dalam Yohanes 1:18 "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, ... Dialah yang menyatakan-Nya." Kata "menyatakan-Nya" secara harfiah berarti "menafsirkan" atau "meriwayatkan". Yesus Kristus adalah penafsir Allah yang sempurna.

Di sini kita melihat cara Allah sendiri untuk mengontekstualisasikan firman-Nya. Yang Mahamulia, yang Mahaagung, dan yang Mahasuci menjadi sama dengan kita. Pribadi kedua dari Tritunggal mengambil rupa manusia bagi diri-Nya sendiri, mengambil segala sesuatu berhubungan dengan kemanusiaan yang sempurna, sehakikat dengan kita sebagai manusia (Ibrani 2:14). Ia menyesuaikan diri dengan kita supaya kita dapat memahami siapa Allah itu sebenarnya. Allah kita adalah Allah yang rindu menampakkan diri-Nya kepada kita dengan cara yang relevan.

Meskipun demikian, sebagai manusia Ia hidup tanpa dosa. "Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15b), sebab "di dalam Dia tidak ada dosa" (1 Yohanes 3:5). Oleh karena itu, kita melihat bahwa penyataan Allah dalam inkarnasi itu relevan dan tetap murni. Puncak kerinduan Allah untuk berkomunikasi dengan manusia diwujudkan dalam kehadiran-Nya sendiri di antara manusia. Ia yang Mahasuci bersedia memasukkan diri-Nya ke dalam kebudayaan manusia. Ia bahkan menjadi manusia sejati yang berkomunikasi dengan masyarakat lindungan-Nya sesuai dengan bahasa dan kebudayaan mereka.

Sebenarnya tujuan kontekstualisasi sama dengan tujuan inkarnasi Yesus. Sama seperti Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui kebudayaan Yahudi, demikian juga kita ingin menyatakan Allah kepada suku-suku yang belum mengenal Yesus melalui kebudayaan mereka. Oleh karena itu, kontekstualisasi merupakan suatu prinsip ilahi yang diwujudkan dalam penjelmaan Yesus. Inkarnasi Yesus tidak hanya memberi teladan kepada kita, tetapi juga memerintahkan kita untuk mengikuti teladan-Nya: "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian Aku mengutus kamu!" (Yohanes 20:21)

Sidang di Yerusalem dan Kontekstualisasi

Persoalan yang terjadi pada sidang jemaat di Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15 mengungkapkan persoalan-persoalan yang biasanya muncul dalam pelayanan lintas budaya: hubungan antara kebudayaan dan Injil. Dan keputusan yang diambil oleh jemaat yang mula-mula merupakan suatu dasar yang kokoh untuk pelaksanaan kontekstualisasi.

Hal yang dibahas dalam sidang di Yerusalem merupakan arti Injil yang sebenarnya. Mereka menggumuli syarat-syarat untuk keselamatan: "Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ, 'Jikalau kamu tidak disunat menurut adat-istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.'... 'Orang-orang yang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa'" (Kisah Para Rasul 15:1,5). Oleh karena itu, menurut golongan orang-orang Yahudi: Injil + Sunat = Keselamatan.

Mereka merasa bahwa tidaklah cukup kalau orang Yunani hanya percaya kepada Yesus saja; mereka juga harus mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Namun Paulus dan Barnabas tidak setuju dengan rumusan ini: "Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu." (Kisah Para Rasul 15:2a) Menurut golongan Paulus: Injil + 0 = Keselamatan

Kenyataan yang sebenarnya ialah bahwa kita diselamatkan oleh iman karena kasih karunia Allah (Kisah Para Rasul 15:7,9,11,14). Sidang di Yerusalem meneguhkan pendapat Paulus dan Barnabas bahwa kita diselamatkan oleh Injil dan hanya Injil saja. Orang Yunani tidak harus menjadi seperti orang Yahudi atau mengikuti adat-istiadat Yahudi untuk memperoleh keselamatan. Persoalan yang dibahas pada sidang di Yerusalem dapat digambarkan sebagai berikut. Golongan orang Yahudi percaya bahwa orang Yunani harus menjadi seperti orang Yahudi untuk memperoleh keselamatan.

Golongan Paulus percaya bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani diselamatkan hanya oleh iman. Mereka tidak usah meninggalkan kebudayaan atau adat-istiadat mereka untuk diselamatkan, asalkan mereka mau bertobat dan percaya kepada Yesus. Tersirat dalam keputusan ini ialah suatu kebebasan yang diberikan kepada setiap suku untuk mengungkapkan Injil itu dalam sarana kebudayaannya sendiri. Kita tidak hanya diselamatkan tanpa mengikuti adat-istiadat asing, tetapi juga boleh beribadah tanpa mengikuti adat-istiadat asing.

Jadi, bagaimana orang dari latar belakang Kristen diselamatkan? Apa yang harus dilakukannya kalau ia ingin diselamatkan? Ia harus bertobat dan percaya kepada Yesus. Bagaimana dengan orang dari latar belakang bukan Kristen? Apakah orang dari agama lain harus mengikuti adat kekristenan tradisional untuk diselamatkan? Tidak. Semua orang diselamatkan hanya oleh iman. Renungkan implikasinya. Apakah orang Sunda harus mengikuti adat dan tradisi Batak kalau ia ingin diselamatkan? Tidak! Apakah orang Jawa harus mengikuti adat dan tradisi Tionghoa kalau ia ingin diselamatkan? Tidak! Namun, tanpa disadari justru itulah yang terjadi, dan setiap gereja di Indonesia dipengaruhi oleh adat Barat (karena kekristenan dibawa ke Indonesia oleh penginjil yang memasukkan adat mereka sendiri), selain oleh adat suku mayoritas anggota.

Kalau demikian halnya bagaimana caranya supaya orang dari latar belakang bukan Kristen dengan adat/tradisinya dapat percaya tanpa mengikuti adat atau tradisi suku lain? Kita harus mendirikan jemaat-jemaat baru. Kita harus membentuk dan mengembangkan adat dan tradisi yang alkitabiah, tetapi sesuai dengan adat serta tradisi petobat baru. Sesuai dengan keputusan sidang di Yerusalem dan agar kita dapat menjangkau sebanyak mungkin orang di Indonesia, kita harus berusaha mendirikan jemaat-jemaat baru, jemaat-jemaat yang "berakar di dalam Kristus dan erat berhubungan dengan kebudayaannya."

Paulus di Athena: Penyampaian Injil yang Kontekstual

Dalam Kisah Para Rasul 17:22-34 ada suatu pemaparan yang menerangkan penyampaian Injil yang kontekstual. Pada waktu itu Rasul Paulus menginjili orang-orang terpelajar di kota Athena. Pada waktu itu, kota Athena merupakan pusat para sarjana, cendekiawan, ilmuwan, dan filsuf, sehingga kota ini terkenal sebagai kota untuk orang berpendidikan tinggi dan pola berpikir maju. Rasul Paulus mulai menginjili orang Athena di rumah ibadat Yahudi serta di pasar dengan cara bertukar pikiran dan bersoal jawab dengan siapa saja yang bersikap terbuka. Akhirnya Paulus diundang ke Areopagus, badan cendekiawan yang berfungsi seperti Majelis Ulama Indonesia (Kisah Para Rasul 17:16-21).

Paulus mulai memberitakan Injil dengan cara memuji mereka atas kesungguhan mereka dalam beribadah: "Hai orang-orang Athena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa." (ayat 22b) Ia mulai mendekati mereka dengan cara yang sepositif mungkin dan berusaha menghindari konfrontasi. Setelah memuji mereka, ia menemukan suatu jembatan supaya pesan yang disampaikan dapat mencapai sasaran dan sekaligus relevan bagi para pendengarnya: "Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu." (ayat 23)

Perhatikan bahwa Paulus menjadikan sebuah mezbah -- bukan sebuah patung berhala -- sebagai titik tolak. Rupanya, Allah yang berdaulat sudah mempersiapkan orang Athena untuk menerima Injil melalui mezbah ini. Paulus kemudian menyatakan bahwa tugas dan tujuannya ialah memperkenalkan Allah yang tidak dikenal oleh mereka. Setelah itu, Paulus menerangkan tentang Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara manusia (ayat 24-27). Kemudian dalam ayat 28 ia memakai jembatan lain. Ia mengutip syair mereka: "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga."

Kelihatannya Paulus percaya bahwa setiap kebudayaan atau agama memunyai unsur-unsur kebenaran sehingga ia berani mengutip puisi orang-orang Yunani yang disejajarkan dengan firman Allah. Ia mengutip supaya berita yang disampaikan itu dapat diterima dan dipahami sehingga Injil yang disampaikan menjadi relevan. Namun pendekatan kontekstual ini bukan saja dimaksudkan untuk menyesuaikan diri saja, melainkan juga untuk hidup di bawah hukum Kristus, yaitu menantang hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Allah supaya Injil tetap murni. Akhirnya Paulus mengakhiri penyampaian ini dengan tantangan tentang pertobatan, penghakiman yang akan datang, dan kebangkitan Yesus (ayat 30-31). Respons terhadap pemberitaan Paulus ini bermacam-macam. Ada yang mengejeknya, ada yang ingin mendengar lagi, serta ada beberapa yang percaya (ayat 32-34).

Ada satu hal lain yang menonjol dan harus ditekankan di sini. Penyampaian kontekstual ini berpusatkan kepada Allah dan bukan kepada Anak Allah. Paulus tidak keberatan kalau langkah awal dari pendekatannya berpusat kepada Allah. Ia merasa tidak perlu langsung menyinggung soal Yesus atau Anak Allah. Ia ingin memaparkan Injil langkah demi langkah dan penekanannya selalu sesuai dengan konteksnya. Misalnya, di Indonesia adalah lebih tepat kalau kita lebih berpusat kepada Allah dalam pemberitaan Injil kita. Walaupun pada akhirnya kita harus berani menantang semua orang supaya bertobat dan percaya kepada Yesus, namun adalah lebih bijaksana dan alkitabiah kalau penginjilan kita berpusat kepada Allah.

Ada ayat-ayat lain yang menunjang pendekatan yang berpusat kepada Allah. Kadang-kadang Injil disebut sebagai Injil Allah (2 Korintus 11:7, 1 Tesalonika 2:2,8,9), jemaat disebutkan sebagai jemaat Allah (1 Tesalonika 2:14, Kisah Para Rasul 20:28), dan Allah disebutkan sebagai Juru Selamat kita (1 Timotius 1:1, Titus 1:3; 2:10; 3:4). Marilah kita mulai lebih bersikap kontekstual dalam pemberitaan kita. Marilah kita berusaha meniru teladan Rasul Paulus yang rajin mencari dan menemukan jembatan-jembatan baru untuk penginjilan. Marilah kita dengan penuh semangat menyampaikan Injil yang relevan dan tetap murni.

Kristologi dan Kontekstualisasi

Persoalan yang paling penting dalam teologi, pelayanan, dan penginjilan ialah jawaban terhadap pertanyaan ini: "Siapakah sebenarnya Yesus Kristus itu?" Cara yang paling tepat untuk menjawabnya ialah dengan mengerti dan merenungkan nama-nama sebutan Yesus. Yesus digelari macam-macam sebutan, misalnya Nabi, Mesias (Almasih), Firman, Imam, Guru, Juru Selamat dan lain-lain. Mengapa demikian? Ada dua alasan.

Pertama, alasan teologis, yaitu pengertian tentang Yesus begitu kaya dan mendalam sehingga satu atau dua sebutan saja tidak cukup. Yesus ialah satu oknum atau pribadi yang luar biasa, yang tidak dapat dipahami dari satu segi. Sebagai Nabi, Ia bersabda kepada kita; sebagai Gembala, Ia membimbing kita; sebagai Juru Selamat, Ia menyelamatkan kita; dan sebagai Raja, Ia memerintah dalam kehidupan kita. Paulus menggarisbawahi alasan teologis dengan melukiskan Injil yang disampaikannya sebagai "kekayaan Kristus yang tidak terduga" (Efesus 3:8).

Kedua, alasan misiologis, yaitu para rasul dan penginjil yang mula-mula memakai banyak nama sebutan supaya berita yang disampaikan relevan dan dapat dipahami. Misalnya, sebutan "Imam Besar" hanya dipergunakan dalam kitab Ibrani saja untuk melukiskan Yesus sebab kitab Ibrani dikarang khusus bagi orang Yahudi. Dan menurut pola berpikir orang Yahudi konsep "Imam" begitu bermakna sehingga sebutan "Imam Besar" benar-benar membantu orang-orang Yahudi mengerti siapakah Yesus sebenarnya.

Pengakuan pertama dalam Injil juga menggambarkan alasan misiologis ini. Pengakuan dan pemberitaan bahwa "Yesus adalah Mesias" (atau Kristus; Markus 8:29; Lukas 9:20; Kisah Para Rasul 5:42; 9:22; 17:2-3; 18:5, 28; 1 Yohanes 2:22) muncul dalam konteks Yahudi karena mereka memiliki harapan agugn dalam Mesias. Selama berabad-abad orang-orang Yahudi telah menantikan dan merindukan Mesias yang akan datang sehingga penyampaian Yesus sebagai Mesias begitu relevan dan menyentuh hati orang Yahudi.

Meskipun demikian, pemberitaan Yesus sebagai Mesias tidak begitu berarti bagi orang Yunani. Sebaliknya, pengakuan kristologis, "Yesus adalah Tuhan" (Kisah Para Rasul 10:36; 11:20; Roma 10:9; Filipi 2:11; 2 Korintus 12:3; 2 Korintus 4:5) begitu relevan dan bermakna bagi orang Yunani sehingga lebih sering dipakai dalam konteks Yunani. Pengakuan ini "menjadi jembatan bagi kekristenan untuk memasuki dunia yang berbahasa Yunani, memasuki dunia orang kafir, dan memasuki dunia proselit (orang-orang bukan Yahudi penganut agama Yahudi).

Dr. V.H. Neufeld menyimpulkan penelitiannya tentang pengakuan-pengakuan orang Kristen yang mula-mula sebagai berikut: "'Kristus-homologia' [pengakuan bahwa Yesus adalah Kristus] lebih relevan bagi orang Yahudi ... Kyrios-homologia (pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan) lebih berarti terutama bagi orang Yunani." Ada lebih banyak bukti lagi tentang kristologi dan kontekstualisasi. Misalnya, Injil Yohanes pasal satu sangat kaya kristologinya. Dalam pasal ini Yesus sedikitnya dilukiskan dalam 13 nama sebutan: Firman, Allah (ayat 1); Terang (ayat 4); Manusia, Anak Tunggal Bapa (ayat 14); Yesus Kristus (ayat 17); Anak Domba Allah (ayat 29); Anak Allah (ayat 34); Rabi/Guru (ayat 38); Mesias/Kristus (ayat 41); Anak Yusuf (ayat 45); Raja Orang Israel (ayat 49); Anak Manusia (ayat 51)

Mengapa demikian? Nama-nama sebutan ini menyampaikan "kekayaan Kristus yang tidak terduga". Perhatikan bahwa Yohanes tidak terpaku kepada satu nama sebutan saja ketika menceritakan tentang Yesus. Demikian juga dalam pemberitaan Petrus. Waktu Petrus menginjili orang Yahudi ia memakai nama-nama sebutan yang paling relevan, yang tidak bertentangan dengan pola berpikir orang Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul 3:11-20 Ia melukiskan Yesus sebagai: Hamba (ayat 13), Yesus (ayat 13), Yang Kudus dan Benar (ayat 14), Pemimpin kepada hidup (ayat 15), Mesias (ayat 18).

Kita dapat mengambil hikmat juga dari percakapan Yesus dengan perempuan Samaria. Walaupun percakapan ini dilakukan dalam waktu yang singkat, hal itu masih merupakan satu ilustrasi yang praktis tentang penginjilan dan proses pengertian si penerima. Pada mulanya perempuan ini mengakui bahwa Yesus adalah "nabi" (Yohanes 4:19). Lalu, setelah mendengarkan Yesus lebih lama ia sadar bahwa Yesus adalah "Mesias" (Yohanes 4:25-26, 29). Kemudian, sesudah Yesus mengajar selama dua hari di situ, orang-orang Samaria mengakui bahwa Yesus adalah "Juru Selamat Dunia" (Yohanes 4:39-42).

Jelas dalam cerita ini pengertian perempuan Samaria tentang Yesus makin lama makin jelas. Gelar "Mesias" lebih kaya dan berarti daripada gelar "nabi", sedangkan gelar "Juru Selamat Dunia" lebih luas dan mendalam lagi. Demikianlah proses kontekstualisasi itu! Begitu banyak nama sebutan Yesus dipakai dalam Perjanjian Baru. Mengapa gereja-gereja kita cenderung memakai hanya beberapa nama sebutan saja? Nama-nama sebutan Yesus Kristus, Tuhan Yesus, dan Anak Allah ialah sebutan yang paling disenangi umat Kristen di Indonesia. Padahal, justru gelar-gelar tersebut bertentangan dengan ajaran agama orang bukan Kristen yang ada di sekitarnya.

Meskipun akhirnya kita harus memberitakan "seluruh maksud Allah" (Kisah Para Rasul 20:27), namun adalah lebih bijaksana, lebih berhasil, dan lebih alkitabiah kalau kita memulai penyampaian Injil kita dengan mengetengahkan nama-nama sebutan yang paling relevan dan mudah dipahami. Misalnya, gelar "Nabi" dan "Mesias" merupakan dua gelar yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk menjangkau orang luar. Agama mayoritas di Indonesia mengakui bahwa Yesus (dalam bahasa Arab, Isa) adalah nabi. Juga dalam Kitab Suci mereka, Isa digelari "Almasih", (Mesias dalam bahasa Arab). Kebanyakan pemeluk agama mayoritas di Indonesia belum mengerti apa artinya sebenarnya dari "Almasih". Walaupun demikian, karena nama sebutan ini terdapat dalam Kitab Suci mereka, maka lebih baik kalau kita memulai dengan nama sebutan yang ada dan menjelaskan artinya kepada mereka. Inilah cara yang dipakai dalam Perjanjian Baru.

Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa kristologi dalam Perjanjian Baru begitu meneguhkan pentingnya pelaksanaan kontekstualisasi.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Pelayanan Lintas Budaya dan Kontekstualisasi
Penulis : Budiman R.L.
Penerbit : Tidak dicantumkan
Halaman : 14 -- 29

e-JEMMi 31/2010



Dengan Wanita di Timur

Selama mengajar sebagai seorang guru selama 13 tahun di sebuah negara Arab, saya menyadari pola pikir kultural dan tradisi-tradisi masyarakat melalui siswa-siswa saya dan keluarganya. Mereka, sebaliknya, mengamati saya dengan hati-hati dan menanyakan kepercayaan saya dan praktik-praktiknya. Saya segera sadar bahwa membagikan Kabar Baik kepada mereka melibatkan seluruh hidup saya: kata-kata, tindakan, dan pikiran saya.

Kebanyakan wanita yang saya temui di dunia Arab memiliki rasa ingin tahu. Karena saya sangat tertarik untuk mengetahui kehidupan mereka, maka hanya dibutuhkan satu menit sebelum kami benar-benar terlibat dalam serangkaian tanya jawab. Mereka sangat suka membicarakan hal-hal ruwet tentang hubungan keluarga. Jadi, saya harus benar-benar memberi perhatian pada nama-nama, jumlah, ataupun istilah-istilah kekeluargaan (seorang bibi mungkin juga menjadi saudara perempuan mertua!). Selanjutnya, mereka akan menanyakan tentang keluarga saya.

Kehidupan saya yang membujang, meski sudah berusia setengah abad, sangat membuat mereka heran. Saya menggunakan hal ini sebagai satu pintu masuk untuk berbicara tentang Allah yang memberikan keamanan dan perlindungan. Dia mengatur dan memimpin dalam mengambil keputusan mengenai pernikahan dan pekerjaan. Saya juga yakin bahwa tetap membujang dalam sebuah masyarakat yang memandang wanita sebagai objek pemenuhan hubungan seksual, merupakan satu cara untuk mewujudkan nilai atau harga dirinya sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dari perspektif berbeda, rekan-rekan yang sudah menikah ditambahkan pada gambaran ini sebagai nilai pribadi. Hubungan suami istri yang saling tunduk, saling menghargai, dan saling mengasihi mengungkapkan kebenaran yang sangat dalam tentang pria dan wanita dan Allah.

Salah satu pertanyaan yang mereka ajukan mengenai gaya hidup saya berkaitan dengan doa. Jawaban saya untuk pertanyaan "Apakah Anda sembahyang?" adalah membandingkan penyucian tubuh mereka secara jasmaniah dengan penyucian batiniah yang diberikan Allah melalui darah pengorbanan-Nya. Kadang-kadang, saya menggunakan pengetahuan mereka mengenai seekor domba yang disediakan untuk menggantikan putra Abraham. Biasanya, saya akan membicarakan tentang ketulusan Allah, hati yang suci, dan tentang bebas bertemu Dia kapan saja. Bahkan, saya mungkin memberikan contoh-contoh tentang apa yang saya katakan di dalam doa, memuji Dia, mengakui dosa, mendoakan orang lain. Dalam penyembahan ini, saya berharap dapat menyampaikan realitas dan dekatnya Bapa surgawi, seraya menjaga rasa hormat karena nama-Nya yang kudus.

Persiapan pribadi bagi pelayanan terhadap wanita-wanita ini sangat penting. Berdoa, membaca Kitab Suci, dan merenungkannya adalah bagian dari kehidupan saya sehari-hari, sehingga pemikiran yang saya bagi pada teman-teman agama lain benar-benar berasal dari minat, persoalan, dan keyakinan pribadi. Mula-mula, saya berdoa dengan cara yang lebih umum, agar Allah mengikat roh-roh jahat dan membebaskan hati para wanita itu untuk mendengarkan perkataan-Nya. Saya akan menyebutkan nama wanita tertentu dalam doa dan menunggu Dia memberikan kebenaran khusus yang berkenaan dengan kebutuhan wanita itu. Kemudian, saya menyelidiki ayat-ayat Alkitab yang relevan dalam bahasa Arab dan memikirkan aplikasi dari ayat-ayat itu yang berkaitan dengan wanita itu, contoh-contoh dari kehidupan mereka sehari-hari dan hal-hal yang menarik secara pribadi. Sebelum bertemu dengan teman-teman agama lain, saya menyerahkan kunjungan itu pada Allah dan mendoakan wanita yang saya kunjungi, agar ada di rumah dan memiliki waktu luang untuk duduk dan berbincang-bincang. Lalu, saya akan berbicara santai, menikmati kebersamaan dengan wanita itu dan keluarganya, percaya bahwa Allah akan bekerja.

Sumber: Muslim and Christian on the Emmaus Road. J.Dudley Woodberry. Page 197 -- 218. MARC Pub, 1989

e-JEMMi 37/2012

Dicari, Para Pendoa

Doa adalah alat yang paling besar untuk memajukan pekerjaan Allah. Hanya hati dan tangan yang berdoa yang dapat mengerjakan pekerjaan Allah. Doa mencatat keberhasilan saat yang lainnya mengalami kegagalan. Doa telah memenangkan kemenangan besar dan telah menyelamatkan orang-orang kudus Allah dengan kemenangan yang menakjubkan ketika pengharapan lainnya lenyap. Manusia yang tahu bagaimana harus berdoa adalah anugerah terbesar yang dapat Allah berikan kepada bumi. Ia adalah karunia paling kaya, yang dapat ditawarkan bumi kepada surga. Orang-orang yang tahu bagaimana menggunakan senjata doa ini adalah prajurit-prajurit terbaik Allah, para pemimpin-Nya yang terbesar.

Orang-orang yang berdoa adalah para pemimpin pilihan Allah. Perbedaan antara para pemimpin yang Allah bawa ke garis depan untuk memimpin dan memberkati umat-Nya dengan para pemimpin yang dipilih berdasarkan pilihan duniawi, yang mementingkan diri sendiri dan tidak kudus, adalah bahwa para pemimpin yang berasal dari Allah merupakan para pendoa yang sangat unggul. Doa membedakan mereka, dan doa merupakan pembuktian atau pengesahan sederhana dan ilahi mengenai panggilan mereka, meterai pemisahan mereka oleh Allah. Tidak menjadi masalah anugerah atau karunia apa yang mereka miliki, doa mengatasi semua karunia tersebut. Dalam bidang lain, mungkin karunia yang mereka miliki, dimiliki juga oleh orang lain, tetapi karunia doa ini adalah milik mereka. Apa jadinya para pemimpin Allah tanpa doa? Apa jadinya Musa tanpa kuasa doa -- karunia yang dia miliki yang membuatnya menonjol di dunia kafir, mahkota di atas kepalanya, dan api imannya hilang? Tanpa doa, Elia pun tidak akan memiliki legalitas ilahi.

Hidupnya menjadi tidak bermutu dan pengecut. Kekuatan, perlawanan, serta semangat hidupnya hilang. Tanpa doa Elia, Sungai Yordan tidak akan terbelah oleh pukulan jubahnya. Malaikat kematian juga tidak akan menghormatinya dengan kereta dan kuda berapi.

Jawaban yang dipergunakan Allah untuk menenangkan ketakutan Ananias dan meyakinkannya akan keadaan serta ketulusan Paulus adalah, "dia sekarang berdoa". Ini adalah lambang sejarah Paulus, dasar bagi kehidupan serta pekerjaannya. Paulus, Luther, dan Wesley; apa jadinya orang-orang pilihan Allah ini tanpa unsur doa yang mengontrol dan membedakan mereka? Mereka adalah para pemimpin bagi Allah karena mereka kuat di dalam doa. Mereka bukan pemimpin karena kepintaran mereka, sumber-sumber mereka yang tidak pernah kering, pendidikan mereka yang menakjubkan, atau dukungan keuangan mereka. Mereka adalah para pemimpin karena mereka dapat memerintahkan kuasa Allah dengan kuasa doa. Para pendoa bukan hanya orang yang mengucapkan doa atau berdoa karena kebiasaan. Para pendoa adalah mereka yang menjadikan doa sebagai kuasa besar yang menyertai mereka, suatu kekuatan yang menggoyangkan surga, dan surga mencurahkan harta kebaikan yang tak terucapkan kepada bumi.

Para pendoa adalah orang-orang yang melewatkan banyak waktunya bersama Allah. Mereka selalu merasakan keinginan serta kebutuhan besar untuk menyendiri dengan Allah. Walaupun sibuk, mereka selalu berhenti di suatu saat tertentu untuk bersekutu dengan Allah. Mereka telah melewatkan banyak waktu sendiri dengan-Nya dan menemukan bahwa rahasia kepemimpinan bijaksana dan penuh kuasa bagi Allah terletak dalam saat-saat anugerah dan jalan masuk khusus ini. Para pendoa adalah orang bermata tunggal. Mereka telah banyak menyendiri dengan Allah, telah banyak melihat kemuliaan-Nya, telah banyak mempelajari kehendak-Nya, telah banyak terbentuk menurut gambar-Nya, dan Dia memakukan serta mengisi pandangannya. Hal-hal lain terlalu tidak penting untuk menarik perhatian mereka, terlalu kecil untuk menarik mata mereka. Visi ganda -- satu untuk diri sendiri dan yang lainnya untuk Allah -- sangat menghalangi doa. Para pendoa adalah orang-orang yang memiliki sebuah kitab, mereka makan dari firman Allah; firman tersebut hidup di dalam mereka dengan kuasa membangkitkan, dan tinggal di dalam mereka dengan penuh kuasa dan iman. Mereka adalah manusia Alkitab. Alkitab memberikan inspirasi doa mereka dan meningkatkan iman mereka. Mereka berdiri di atas janji-janji firman Tuhan seperti berdiri di atas lantai granit.

Para pendoa adalah satu-satunya pekerja Allah yang produktif. Doa yang sejati adalah kekuatan yang mengerjakan, suatu kekuatan ilahi yang harus keluar, yang terlalu kuat untuk diam. Pekerjaan para pendoa mencapai hasil terbaik karena dilakukan dengan kekuatan Allah. Para pendoa memiliki pimpinan-Nya dan melakukan pekerjaan-Nya bagi kemuliaan-Nya, di bawah sinar penuh sukacita hadirat-Nya, firman-Nya, dan Roh-Nya.

Para pendoa melayani untuk melindungi gereja terhadap materialisme yang memengaruhi seluruh rencana dan kebijakan gereja serta mengeraskan darah kehidupan gereja. Suatu racun rahasia yang mematikan bersirkulasi, meyakinkan gereja bahwa ia tidak perlu bergantung kepada kekuatan rohani semata seperti dahulu. Waktu yang berubah serta keadaan yang berubah telah membawa gereja keluar dari sifat-sifat dan ketergantungan rohaninya dan menempatkan gereja di mana kekuatan lain dapat menahannya sehingga gereja tidak mencapai puncaknya. Jerat berbahaya seperti ini telah memikat gereja untuk memasuki paham duniawi, memesonakan para pemimpinnya, memperlemah dasar-dasarnya, dan banyak menghilangkan keindahan serta kekuatan gereja. Para pendoa menyelamatkan gereja dari kecenderungan jasmani seperti ini. Mereka mencurahkan kekuatan rohani asal mula kepada gereja. Mereka mengangkat gereja dari pasir materialisme dan menenggelamkannya ke dalam samudera kuasa rohani. Para pendoa membuat Allah di dalam gereja berada dalam kekuatan penuh. Mereka membuat tangan-Nya tetap memegang kendali, sementara Dia melatih gereja dalam kekuatan dan kepercayaan.

Jumlah dan efektivitas para pekerja di ladang Allah, di semua daerah, bergantung kepada para pendoa. Melalui proses yang tersusun secara ilahi, jumlah dan keberhasilan para pekerja suci bergantung kepada kuasa doa. Doa membuka lebar-lebar pintu masuk, mempersiapkan para pekerja untuk masuk, memberikan keberanian kudus, keteguhan, dan buah. Para pendoa dibutuhkan di semua bidang pekerjaan rohani. Tidak ada suatu kedudukan pun, baik tinggi maupun rendah, di dalam gereja Allah yang dapat diisi tanpa doa. Tidak ada satu posisi pun, di mana orang Kristen ditemui, yang tidak memerlukan suatu iman yang selalu berdoa dan tidak pernah lemah. Para pendoa dibutuhkan baik di gereja maupun tempat usaha sehingga mereka dapat memimpin perdagangan bukan berdasarkan ajaran dunia ini, tetapi berdasarkan aturan Alkitab dan ajaran kehidupan surgawi.

Para pendoa dibutuhkan terutama dalam kedudukan yang berkaitan dengan kuasa, kemuliaan, dan pengaruh gereja. Para pemimpin yang menjadi pemikir gereja, pekerja gereja, dan kehidupan gereja seharusnya adalah orang-orang yang memiliki tanda kuasa dalam doa. Hati yang berdoalah yang menguduskan pekerjaan yang dilakukan oleh tangan dan pikiran. Doa membuat pekerjaan sejalan dengan kehendak Allah dan pemikiran sejalan dengan firman Allah.

Tanggung jawab utama dalam kepemimpinan gereja Allah, secara luas dan secara sempit, harus dipagari dengan doa. Sehingga ada jurang pemisah yang tidak terseberangi antara gereja dan dunia. Para pemimpin seharusnya begitu terangkat dan disucikan oleh doa, sehingga baik malam maupun awan tidak dapat menutup pancaran atau menyuramkan pandangan meridian Allah. Banyak pemimpin gereja yang kelihatannya berangggapan bahwa jika mereka bisa tampil sebagai seseorang yang memiliki pemikiran, rencana, prestasi akademik, kefasihan, atau kegiatan yang menonjol, maka semuanya itu cukup dan akan menebus ketidakhadiran kuasa rohani tertinggi yang didapatkan dari doa. Tetapi semua karunia di atas sia-sia dan tidak berarti di dalam pekerjaan serius untuk membawa kemuliaan bagi Allah, mengontrol gereja bagi-Nya, dan membawa gereja dalam keserasian dengan misi ilahi-Nya.

Manusia pendoa adalah dia yang telah melakukan banyak hal bagi Allah di masa lampau. Mereka adalah orang-orang yang telah memeroleh kemenangan bagi Allah dan memermalukan musuhnya. Mereka adalah orang-orang yang telah mendirikan kerajaan Allah di tengah-tengah perkemahan musuh.

Tidak ada lagi syarat bagi keberhasilan saat sekarang ini. Abad ini memerlukan kekuatan doa dan kebutuhan akan doa. Tidak ada pengganti yang dapat menghasilkan akhir yang penuh anugerah. Hanya tangan-tangan yang berdoa yang dapat membangun bagi Allah. Manusia-manusia doa adalah para pahlawan Allah di bumi, para pembangun utama-Nya. Mungkin mereka miskin dalam hal lain, tetapi dengan iman yang sederhana dan segenap hati yang bergumul dan bertarung, mereka adalah yang besar -- yang terbesar bagi Allah. Para pemimpin gereja mungkin memiliki karunia dalam bidang lain, tetapi tanpa karunia terbesar ini, mereka seperti Simson yang telah dicukur rambutnya, atau seperti mazbah bait suci, di mana api surgawinya telah padam tanpa kehadiran ilahi.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Doa dan Api
Judul asli buku : Prayer and Revival
Judul artikel : Dicari Para Pendoa
Penulis : E. M. Bounds
Penerjemah : Josep Tatang dan Susan
Penerbit : Tunas Pustaka
Halaman : 38 -- 43

e-JEMMi 42/2008

Dicari: Penerjemah Alkitab

(Indonesia, Abad ke-17 s.d. Abad ke-20)

Surat kabar "Javasche Courant" (Koran Java), pada edisi terbitan 10 Oktober 1860, memuat sebuah iklan yang lain daripada yang lain. Iklan itu kira-kira sebagai berikut.

"DICARI: Seorang penerjemah Alkitab bahasa Melayu."

Di kota Semarang, ada seorang utusan Injil muda yang sempat membaca iklan itu. Ia sangat tertarik. Dengan teliti ia mencatat semua syarat yang ditentukan untuk penerjemah yang dicari itu.

Bagaimana sampai terjadi bahwa ada pihak tertentu yang hendak mencari seorang penerjemah Alkitab bahasa Melayu melalui iklan di surat kabar?

Siapakah utusan Injil muda yang berminat terhadap iklan itu?

Untuk menjawab pertanyaan yang kedua ini, kita harus kembali menelusuri sejarah ke masa tiga puluh tahun sebelum tahun 1860, yaitu waktu iklan tadi ditulis. Tetapi untuk menjawab pertanyaan yang pertama itu, kita pun harus menelusuri kembali sejarah ke masa hampir tiga abad sebelum tahun 1860.

Mudah-mudahan pembaca sudah membaca buku seri "Alkitab di Seluruh Dunia" Jilid 1. Buku itu memuat kisah nyata yang menarik tentang terjemahan-terjemahan firman Allah yang mula-mula diedarkan di bumi Nusantara. Sejak permulaan tahun 1600-an, sudah ada kitab Injil Matius dalam bahasa Melayu (atau bahasa Indonesia kuno). Dan sejak permulaan tahun 1700-an, sudah ada seluruh Alkitab dalam bahasa Melayu.

Kalau demikian halnya, mengapa perlu memuat iklan tadi?

Karena bahasa Indonesia itu bahasa yang hidup, bahasa yang terus berkembang, sesuai dengan zamannya. Susunan kata yang disesuaikan dengan cara berbicara yang lazim di Indonesia pada tahun 1600-an atau 1700-an itu pasti tidak sesuai lagi dengan cara berbicara yang lazim di Indonesia pada tahun 1800-an.

Apalagi orang-orang yang turut mengerjakan terjemahan-terjemahan dahulu kala itu hampir semuanya orang asing, yang sesungguhnya belum menguasai bahasa Melayu secara jitu. Di samping itu, kebanyakan di antara mereka hanya suka bergaul dengan kaum ningrat saja. Jadi, bahasa Melayu yang biasa mereka gunakan itu adalah bahasa yang sangat tinggi, bahasa sastra, bahasa yang hanya dapat dipahami oleh kaum cerdik cendekiawan saja.

Namun, terjemahan seluruh Alkitab dalam bahasa Melayu yang mula-mula terbit pada tahun 1729 itu sangat disukai oleh orang banyak, baik putra-putri Nusantara, maupun orang-orang Belanda yang sedang menjajah mereka. Walaupun memiliki kelemahan, terjemahan hasil karya Dr. Melchior Leydekker itu adalah Alkitab yang asli. Padahal yang benar ialah Alkitab yang asli itu ditulis dalam bahasa Ibrani dan bahasa Yunani, bukan dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia.

Pernah ada tuduhan bahwa Alkitab Leydekker itu "dijunjung tinggi oleh orang Kristen, tetapi jarang dipahami -- merupakan semacam penghormatan mekanik, tanpa jiwa atau roh." Pernah juga ada seorang penerjemah Alkitab yang menjadi terkenal dalam usahanya untuk menyediakan firman Allah dalam bahasa-bahasa daerah; ia pun menerbitkan kecaman yang cukup kritis mengenai kekurangan-kekurangan yang ada pada terjemahan Leydekker yang amat kuno itu.

Mudah-mudahan pembaca sudah mengetahui bahwa di mana-mana dan di sepanjang abad, umat Baptis selalu menjunjung tinggi firman Allah. Jadi, tidaklah mengherankan kalau salah seorang yang mula-mula berusaha memperbaiki Alkitab terjemahan Leydekker itu adalah seorang Baptis. Dialah Pdt. William Robinson, yang mulai melayani di Jakarta pada tahun 1813 dan pindah ke Bengkulu pada tahun 1821. Pdt. Robinson menghasilkan terjemahan baru kitab Injil Matius dan Yohanes dalam bahasa Melayu rendah, yaitu bahasa Indonesia sehari-hari pada masa itu.

Di Surabaya, ada juga orang-orang Kristen yang bekerja sama sehingga pada tahun 1835 mereka dapat menerbitkan seluruh Perjanjian Baru dalam terjemahan bahasa Melayu sederhana. Namun, usaha itu dan banyak usaha lain lagi yang serupa belum berhasil menggeser kedudukan Alkitab Leydekker dari dalam hati kebanyakan orang Kristen Indonesia. "Terjemahan baru ini, terlalu rendah bahasanya. Lebih baik tetap saja kita memakai terjemahan lama."

Namun, umat Kristen Indonesia makin lama makin sulit memahami terjemahan lama itu! Mungkin pembaca sendiri dapat membayangkan betapa sulitnya -- kalau pernah -- membaca sebuah buku yang ditulis dua abad yang lalu. Atau mungkin sebaiknya pembaca diberi kesempatan langsung, supaya dapat merasakan sendiri apa yang dialami umat Kristen Indonesia pada abad yang lalu ketika mereka berusaha memahami Alkitab terjemahan Leydekker itu. Silakan baca:

"Tetapi` aku `ini bersabda pada kamu, bahuwa sasaawrang, jang gusar `akan sudaranja laki 2 samena 2, dendanja dehhukumkan `awleh mahhkamat: dan barang sijapa, jang kata 2 pada sudaranja laki 2, hej djahil! dendanja dehhukumkan `awleh madjlis SJerif: tetapi barang sijapa jang kata 2, hej `ahhmakh! dendanja dehhukumkan dalam `apij djahanam."

"Djanganlah kamu berbendakan bagi dirimu benda 2 diatas bumi, dimana gigas dan karatan membinasakan, dan di mana `awrang pentjurij menggarokh turus, lalu mentjurij. Tetapi hendakhlah berbendakan bagi dirimu benda 2 didalam sawrga, dimana bukan gigas, dan bukan karatan membinasakan, dan dimana `awrang pentjurij tijada menggarokh turus, dan tijada mentjurij. Karena barang dimana `ada bendamu, di sana lagi `ada hatimu."

Mungkin pembaca yang pintar dapat memahami kedua alinea tadi sehingga dapat mengenalinya sebagai kutipan dari khotbah Tuhan Yesus di Bukit (Matius 5:22; 6:19-21). Namun, siapa pun pasti akan merasa dijauhkan dari kebiasaan membaca firman Allah jika hanya dapat membaca dalam suatu terjemahan kuno seperti contoh-contoh tadi.

Berpuluh-puluh tahun lamanya terjadi perselisihan pendapat dan penundaan tindakan. Akhirnya pada tahun 1860, Lembaga Alkitab Belanda rela mengakui bahwa terjemahan Leydekker itu tidak lagi memenuhi syarat. Namun masih ada masalah: Lembaga Alkitab itu tidak mengenal seorang sarjana bahasa Melayu yang cocok untuk ditunjuk sebagai pelaksana utama dari suatu proyek terjemahan baru. Itu sebabnya mereka memuat sebuah iklan di surat kabar "Javasche Courant":

"DICARI: Seorang penerjemah Alkitab bahasa Melayu."

Iklan itu sangat diminati oleh Hillebrandus Cornelius Klinkert, seorang utusan Injil muda yang sedang melayani di kota Semarang.

Siapa sebenarnya H.C. Klinkert itu? Anehnya, ia itu mula-mula dilatih untuk menjadi, bukan seorang pendeta atau seorang penginjil, ataupun seorang ahli bahasa dan penerjemah firman Allah, melainkan seorang pengukur tanah.

H.C. Klinkert dilahirkan pada tahun 1829 di Amsterdam, kota pelabuhan besar di negeri Belanda. Sebagai anak remaja, ia bekerja bukan hanya sebagai pengukur tanah, melainkan juga sebagai karyawan pabrik dan juga masinis kapal uap di Sungai Rhein.

Konon, kapal uap gaya lama itu sering mengalami kecelakaan. Oleh karena suatu kecelakaan, seorang masinis muda berkebangsaan Belanda terpaksa diopname di kota Worms, Jerman.

Waktu itu, H.C. Klinkert masih berusia belasan tahun atau paling-paling baru mencapai umur dua puluh. Selama itu, ia terpaksa berbaring saja di ranjang rumah sakit. Lalu apa saja kiranya yang terlintas dalam pikirannya? Para perawat di sana pasti orang Jerman; mungkin sekali mereka mengalami kesulitan waktu bercakap-cakap dengan pemuda Belanda yang malang dan merasa kesepian itu.

Ketika Klinkert sudah sembuh dan diizinkan pulang kembali ke Belanda, ia pun segera menghubungi seorang pendeta untuk mendapat bimbingan rohani. Dan pada tahun 1851, pemuda yang masih kurang berpendidikan itu mendaftarkan diri sebagai seorang penginjil yang rela diutus ke negeri lain.

Mula-mula, Klinkert dikirim ke kota Rotterdam, tempat terdapatnya sebuah sekolah untuk mempersiapkan para calon utusan Injil. Tetapi pada tahun 1855, ia dikeluarkan dari sekolah itu. "Pemuda ini agak keras kepala," demikianlah laporan tertulis kepada kepala sekolah. "Ia sulit bekerja sama secara rukun dengan para calon utusan Injil lainnya. Sebaiknya ia dikirim ke suatu tempat di mana ia dapat melayani seorang diri, tanpa perlu menyesuaikan diri dengan rekan sekerjanya."

Pada umur 25 tahun, H.C. Klinkert diutus ke Pulau Jawa. Kapal layar yang ditumpanginya itu dilanda badai yang dahsyat pada saat mengitari Tajung Pengharapan di ujung selatan benua Afrika. Namun, ia tiba di ibu kota Jakarta dengan selamat pada bulan September tahun 1856. Kesannya yang pertama mengenai bangsa Indonesia: "Aneh dan luar biasa, hampir semua manusia di sini kelihatan berwarna coklat dan kebanyakan telanjang." Dan kesannya yang pertama mengenai panggilan beribadah dari masjid: "Raungan yang mengerikan."

Dari Jakarta, Klinkert naik kapal uap ke Semarang. Di sana, ia dijemput oleh seorang utusan Injil yang sudah berpengalaman di Indonesia. Lalu ia diantar ke rumah orang itu di Jepara.

Selama dua tahun, Klinkert belajar bahasa Melayu dan bahasa Jawa di Jepara. Ia juga belajar menyesuaikan diri dengan orang-orang setempat. Rupanya, ia berhasil baik dalam pelajarannya itu. Pada tahun 1857, ia menikah dengan Louise Wilhelmina Kahle, seorang gadis Indo yang hanya dapat berbicara bahasa Melayu dan bahasa Jawa saja!

Di samping belajar bahasa-bahasa setempat, Klinkert juga berusaha mendalami adat-istiadat orang Indonesia. Misalnya, ia suka mengumpulkan rempah-rempah agar menjadi pandai mengobati orang sakit dengan ramuan tradisional. Namun, ia sendiri sering kena penyakit perut dan liver.

Selama masa sakitnya itu, istrinya dengan setia menemaninya. Klinkert senang berguru pada istrinya tercinta. Pernah ia bergurau dengan menyebutkan: "sekolah bahasa di bawah kelambu!"

Ibu Klinkert sering mengeluh kepada suaminya tentang kesulitannya membaca Alkitab terjemahan Leydekker. Itulah sebabnya, Klinkert mulai mencoba-coba menerjemahkan kitab Injil Matius ke dalam bahasa Melayu yang lebih mudah dipahami. Sesudah pindah ke Semarang pada tahun 1858, ia mengerahkan dua orang yang pandai berbahasa Melayu untuk menolong di dalam proyek penerjemahannya. Pekerjaan itu pun menolong dia menyiapkan khotbah-khotbah yang disampaikannya minggu demi minggu. Ia suka berkhotbah dalam bahasa Melayu sederhana, yang lazim dipakai oleh orang biasa di jalanan dan di pasar kota Semarang.

Sesudah menyelesaikan Injil Matius, Klinkert meneruskan terjemahannya dengan Markus, Lukas, dan Yohanes. Bagaimanakah ia dapat membiayai pencetakan keempat Kitab Injil terjemahan baru itu? Klinkert mendapat akal. Ia mendirikan sebuah surat kabar bernama "Selompret Melajoe" (Terompet Melayu). Koran itu laris sekali sehingga banyak menghasilkan uang. (Bahkan di kemudian hari ternyata surat kabar itu masih terbit lebih panjang daripada masa hidup pendirinya! Koran "Terompet Melayu" itu masih tetap diterbitkan di kota Semarang sampai tahun 1920.)

Klinkert cukup sibuk dengan perusahaan surat kabarnya dan persiapan terjemahan Kitab Sucinya untuk dicetak. Namun, ia tidak membatasi minatnya hanya di kota Semarang dan sekitarnya saja. Ia berniat membeli sebuah kapal, agar ia dapat berlayar dari pulau ke pulau sambil mengedarkan Alkitab dan mengabarkan Injil. Tetapi rencananya itu tidak pernah terwujud.

Pada suatu hari dalam bulan Oktober tahun 1860, utusan Injil muda yang amat giat itu membuka-buka sebuah surat kabar dari percetakan lain. Dan di situlah ia membaca iklan Lembaga Alkitab Belanda yang sedang mencari seorang penerjemah bahasa Melayu.

Dengan teliti, Klinkert mencatat syarat-syarat yang telah ditentukan: harus ada terjemahan percobaan yang terdiri atas tiga pasal dari Perjanjian Lama dan tiga pasal dari Perjanjian Baru. Naskah itu harus ditulis dengan huruf Latin dan huruf Arab-Melayu.

Setelah ia mengirimkan naskah percobaannya itu ke Belanda, Klinkert tetap rajin mengerjakan terjemahannya ke dalam bahasa yang biasa dipakai di Semarang. Keempat kitab Injil itu sempat diterbitkan pada tahun 1861; seluruh Kitab Perjanjian Baru menyusul pada tahun 1863. Terjemahan bahasa Melayu rendah itu sangat disukai, lebih-lebih oleh jemaat-jemaat orang Indonesia keturunan Tionghoa. (Bahkan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa sehari-hari itu terus-menerus dicetak ulang sampai tahun 1949!)

Sementara itu, walau Klinkert sudah berhasil di bidang penerbitan, di bidang penginjilan ia merasa sangat dikekang. Maka dari itu, ia memutuskan akan pindah ke Cianjur, sebuah kota kecil di daerah Jawa Barat. Di sana ia berharap dapat membuka sebuah sekolah, lalu dapat memanfaatkan sekolah itu sebagai pembuka jalan untuk memberitakan Injil.

Jadi, pada tahun 1862 Bapak dan Ibu Klinkert beserta kedua anak mereka yang masih kecil pindah dari Semarang. Tetapi di Cianjur pun kesempatan untuk mengabarkan Injil itu mereka rasakan sangat dibatasi. Izin untuk mengusahakan sekolah itu pun tidak keluar-keluar.

Betapa lega hati H.C. Klinkert pada suatu hari dalam bulan Oktober tahun 1863! Genap tiga tahun setelah dimuatnya iklan "DICARI" yang mula-mula menarik perhatiannya itu, ia menerima kabar dari negeri Belanda. Ternyata dialah orang yang terpilih sebagai "penerjemah Alkitab bahasa Melayu"!

Akan tetapi, masih ada syaratnya: Lembaga Alkitab Belanda merasa bahwa bahasa Klinkert itu terlalu rendah, juga terlalu banyak dipengaruhi oleh logat dari satu daerah tertentu. Ia harus diberi kesempatan untuk tinggal selama beberapa tahun di tengah-tengah masyarakat yang berbahasa Melayu tulen.

Di manakah kira-kira sumber bahasa Melayu atau bahasa Indonesia yang paling baik? Bukankah di daerah Riau? Itulah sebabnya pada permulaan tahun 1864, keluarga Klinkert pindah lagi ke Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Riau.

Entah apa sebabnya, keluarga itu sulit mendapat sebuah tempat tinggal yang pantas di Tanjungpinang. Mungkin yang menyulitkan ialah Riau itu letaknya dekat Singapura sehingga harga-harga di Tanjungpinang pun agak tinggi. Bagaimanapun juga, keluarga Klinkert hanya sanggup menyewa sebuah tempat bekas toko pada jalan masuk ke daerah Pecinan.

Toko yang mau tidak mau harus dijadikan tempat tinggal itu sangat sederhana -- tidak ada dapur, sumur, atau kakus. Tidak heran mereka sekeluarga terkena penyakit! Meja tulis Klinkert harus ditempatkan menghadap jendela toko, tanpa kaca atau pelindung lainnya. Sering ada banjir, dan naskahnya yang sangat berharga itu harus dicedok dari dalam air. Lagi pula, Tanjungpinang itu kota pelabuhan. Setiap kali ada kapal perang Belanda berlabuh di sana, para kelasi berkeliaran ke sana ke mari sambil menimbulkan huru-hara.

Walau sangat sulit, masa tinggal di Tanjungpinang itu memang membawa untung bagi H.C. Klinkert. Ia sempat berkenalan dengan banyak orang yang berbahasa Melayu, dari seorang putra penghulu suku, sampai kepada para pelaut Melayu. Pelaut-pelaut itu sering menginap di rumah Klinkert sambil menunggu pasang surutnya air laut. Di Tanjungpinang, Klinkert sungguh sempat mendalami bahasa Melayu tulen, sampai-sampai ia menjadi pandai berpantun.

Namun, kesehatan keluarga Klinkert masih tetap mengalami gangguan. Setelah dua setengah tahun tinggal di daerah Riau, mereka terpaksa pindah ke Singapura. Tetapi di situ pun, Ibu Klinkert mulai muntah darah. Setelah hanya beberapa bulan saja di Singapura, mereka sekeluarga pindah ke Belanda.

Sementara itu, pada tahun 1868 terbitlah Kitab Injil Matius dalam terjemahan Klinkert yang baru. Pada tahun 1870, menyusullah seluruh kitab Perjanjian Baru. Tetapi pada tahun yang sama itu, Ibu Louise Wihelmina Klinkert tutup usia karena sakit TBC. Ia meninggalkan suami dan ketiga anaknya, masing-masing berumur sebelas, delapan, dan lima tahun.

Bagaimana seorang duda dengan tiga anak yang masih kecil itu dapat meneruskan pekerjaannya sebagai penerjemah Alkitab? Apakah mengherankan bila kurang dari satu tahun setelah istrinya meninggal, Klinkert menikah lagi dengan seorang janda yang sudah mempunyai seorang putri?

Jadi, masih tetap ada banyak gejolak dalam kehidupan Klinkert selama tinggal di negeri Belanda. Apalagi mereka sering berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk mencari tempat tinggal yang lebih sehat iklimnya dan lebih murah ongkosnya. Namun, di tengah-tengah semua kerepotan rumah tangganya itu, H.C. Klinkert masih berjuang terus dengan tugasnya sebagai penerjemah firman Allah.

Pada tahun 1876, Klinkert sudah berhasil mengalihbahasakan Perjanjian Lama sampai dengan kitab Nabi Yesaya. Tetapi Lembaga Alkitab Belanda belum puas dengan gaya bahasanya. Menurut mereka, ia masih perlu bergaul lebih lama lagi dengan orang-orang yang berbahasa Melayu tulen. Ia pun perlu memperoleh kritik yang dapat meningkatkan kualitas naskah terjemahannya. Itulah sebabnya Lembaga Alkitab Belanda memohon supaya Klinkert rela untuk kembali ke Asia Tenggara selama dua tahun.

Bulan Juli 1876, H.C. Klinkert berangkat ke kota kuno Malaka, Semananjung Melayu. Kali ini, sama seperti dua puluh tahun sebelumnya, ia pergi merantau seorang diri; keluarganya ditinggalkan di Belanda.

Tetapi Klinkert tidak jadi menetap lama di Malaka. Kesehatannya mulai terganggu lagi. Ia pindah ke Jakarta, namun di situ pun, ia sering sakit.

Setelah hanya enam bulan saja, jelas bahwa Klinkert tidak tahan hidup di daerah tropika. Ia kembali kepada keluarganya dan selanjutnya Lembaga Alkitab Belanda tidak berani lagi meminta dia pergi ke Nusantara. Walau jauh dari tempat tinggal orang-orang yang berbahasa Melayu, namun Klinkert mengerjakan tugasnya dengan tekun. Akhirnya, pada tahun 1879 selesailah seluruh Alkitab terjemahan baru dalam bahasa Melayu yang sesuai dengan zamannya.

Sesungguhnya, H.C. Klinkert tidak pernah sempat mengabarkan Injil lagi di Nusantara. Di tanah airnya sendiri, ia malah bekerja sebagai seorang mahaguru bahasa Melayu sampai wafatnya pada tahun 1913. Namun, jasanya besar demi penginjilan di Indonesia: terjemahan hasil karyanya itu merupakan Alkitab bahasa Melayu yang paling baik pada masanya.

Alkitab Klinkert itu berkali-kali direvisi. Tentu saja setiap versi baru itu, ia sendiri turut menelitinya, walau ia tidak lagi bekerja sepenuh waktu di bidang penerjemahan. Bahkan ketika timbul gagasan untuk mencetak Alkitab Klinkert dengan huruf Arab, ia pun menulis setiap ayat dengan tangannya sendiri, serta menghiasi naskahnya dengan gaya yang khas sama seperti kitab-kitab suci lainnya yang berhuruf Arab.

Namun, timbul sebuah pertanyaan: apakah Alkitab Klinkert itu masih tetap dibaca hingga kini?

Jarang, walau bagian Perjanjian Lama hasil karyanya itu kadang-kadang masih didapati dalam bentuk terjemahan gabungan yang dulu biasa disebut "terjemahan lama."

Mengapa terjemahan Alkitab Klinkert yang sudah dikerjakan dengan susah payah itu umumnya tidak dibaca lagi oleh orang Kristen pada masa kini?

Itu karena bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup, bahasa yang terus berkembang sesuai dengan zamannya. Susunan kata yang disesuaikan dengan cara berbicara yang lazim di Indonesia pada tahun 1860-an atau 1870-an itu pasti tidak sesuai lagi dengan cara berbicara yang lazim di Indonesia pada tahun 1990-an atau 2000-an.

Di dalam firman Allah terdapat pernyataan mengenai Raja Daud sebagai berikut: "Setelah ia melayani generasinya menurut kehendak Allah, ia mati lalu dikuburkan" (Kisah Para Rasul 13:36, Firman Allah yang Hidup).

Hal yang sama juga dapat dikatakan untuk Hillebrandus Cornelius Klinkert. Terjemahan Alkitab yang dikerjakannya itu sangat menolong orang-orang pada masa hidupnya, bahkan di kemudian hari masih berguna selama berpuluh-puluh tahun. Pasti Allah berkehendak supaya firman-Nya disusun dengan kata-kata bahasa Melayu yang dulu mudah dipahami itu. Tetapi zaman Klinkert sudah berlalu, dan Klinkert sendiri sudah lama "mati lalu dikuburkan".

Itulah sebabnya tidak mustahil jika pada masa kini lembaga Alkitab akan sekali lagi memasang iklan seperti ini:

"DICARI: Penerjemah Alkitab!"

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Nama situs : e-MISI
Penulis : Grace W. McGavarn
Alamat URL : http://misi.sabda.org/dicari_penerjemah_alkitab_indonesia_abad_ke17_sd_abad_ke_20

Catatan:

Jika Anda tertarik untuk memiliki buku berseri (4 buku tipis) yang mengisahkan pengalaman para penerjemah-penerjemah Alkitab dari seluruh dunia, Anda bisa mendapatkannya di toko-toko buku Kristen umum. Berikut ini adalah informasi yang Anda perlukan:

Judul buku : Alkitab di Seluruh Dunia; 12 Kisah Nyata Jilid 1
Alkitab di Seluruh Dunia; 12 Kisah Nyata Jilid 2
Alkitab di Seluruh Dunia; 12 Kisah Nyata Jilid 3
Alkitab di Seluruh Dunia; 12 Kisah Nyata Jilid 4
Penulis : Grace W. McGavarn
Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, 1989

e-JEMMi 30/2007

Diutus untuk Berbuah

"Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, 'Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Lukas 10:1-2)

Sepanjang pelayanan-Nya di dunia, Yesus menggerakkan orang-orang di dalam komunitas masyarakat sebagai bagian dari strategi misi-Nya untuk menyatakan rencana Allah menyelamatkan dunia. Dengan demikian, orang-orang itu berperan penting dalam pelayanan Yesus. Kita melihat bahwa selain memilih dan mengutus kedua belas rasul untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit, Yesus juga memilih dan mengutus tujuh puluh murid yang lain untuk menyiapkan kedatangan-Nya di setiap kota. Mereka bertugas menyiapkan orang-orang di kota-kota tersebut untuk menerima Yesus. Ketika Yesus mengutus ke-70 orang itu, Ia mengutus mereka untuk pergi berdua-berdua. Tugas itu adalah pekerjaan yang besar, maka dibutuhkan banyak tenaga pekerja.

Selain itu, para pekerja itu juga memerlukan rekan-rekan yang ikut bekerja bersama. Mereka harus saling mengingatkan dan bertolong-tolongan menanggung beban. Tidak seorang pun akan sanggup melakukan pekerjaan itu seorang diri. Oleh sebab itu, mereka harus mengarahkan pandangan kepada Tuhan. Mereka harus meminta sang Tuan Pemilik Tuaian agar mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Jadi sebenarnya, perintah yang lebih penting bukanlah bekerja dengan lebih keras hingga membuat mereka lupa meminta sesuatu untuk memenuhi kebutuhan di ladang tersebut; perintah yang terpenting ialah mereka harus sungguh-sungguh berdoa kepada-Nya. Setiap permohonan doa menunjukkan iman bahwa Allah sedang bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Ia sedang menggerakkan orang-orang di dalam gereja-Nya untuk bersedia mengerjakan tugas yang besar ini. Gereja diminta taat karena Allah ingin memakai mereka sesuai dengan panggilan dan karunia mereka masing-masing.

Ayat-ayat selanjutnya menyebutkan bahwa para pekerja itu diutus seperti anak domba di tengah-tengah serigala (ayat 3). Artinya, mereka diutus ke dalam situasi-situasi yang setiap saat bisa menjadi kacau. Yesus tidak mengatakan bahwa mereka tidak akan menghadapi masalah ketika memberitakan kabar keselamatan. Kenyataannya, banyak pekerja-Nya justru menghadapi masalah dan bahaya ketika menyampaikan kabar keselamatan itu. Tidak semua orang akan menerima kehadiran mereka, bahkan di beberapa tempat tertentu mereka justru diejek, ditolak, dan dianiaya. Mereka menghadapi kesulitan dan penderitaan itu dengan iman bahwa Tuhan tidak akan membiarkan pekerja-Nya seorang diri. Ia memberikan mereka kemampuan untuk menghadapi kesulitan itu.

Selain itu, Ia juga menjamin kehidupan para pekerja-Nya (ayat 4-8). Ayat-ayat ini mengingatkan jemaat dan gereja bahwa para pekerja di ladang itu layak untuk menerima upah bagi kelangsungan hidupnya. Bukan hanya upah, mereka juga memerlukan pelayanan kasih dari anak-anak Tuhan lainnya. Apa yang dilakukan jemaat di Filipi kepada rasul Paulus merupakan teladan bagi gereja Tuhan pada masa kini (Filipi 4:10), bahwa gereja sebaiknya mendukung para pekerja yang bekerja di ladang Allah.

Paulus bersukacita mengenai jemaat di Filipi terutama bukan karena pemberian-pemberian materi mereka, melainkan karena perhatian jemaat yang tulus kepada Paulus. Perhatian yang tulus itu menunjukkan kasih mereka kepada Paulus dan bahwa mereka ikut menanggung beban penginjilan Paulus. Gereja Tuhan seharusnya juga memberikan perhatian yang tulus dan pelayanan kasih kepada para pekerja Allah di garis depan.

Selanjutnya, Yesus mengutus ketujuh puluh murid itu disertai dengan suatu tugas khusus. Selain melayani pemulihan fisik, para murid itu juga harus menyampaikan pesan penting kepada orang-orang di kota tersebut. Pesan penting itu ialah "kerajaan Allah sudah dekat" (ayat 9-12). Sebagai sesama rekan sekerja Allah, mereka berkewajiban untuk menyampaikan berita ini. Kita mengetahui bahwa Allah sangat murka terhadap Sodom dan Gomora, dan Ia akan lebih murka kepada orang-orang yang tidak bersedia menerima kehadiran-Nya.

Rencana keselamatan Allah bersifat universal, yaitu menjangkau masyarakat melewati batas-batas wilayah, suku, dan bahasa. Mengingat banyak jiwa masih belum terjangkau Injil karena adanya berbagai rintangan, penginjilan bukanlah tugas yang ringan. Oleh sebab itu, seluruh tubuh Kristus memerlukan strategi dan kerja sama yang tepat untuk melaksanakan tugas ini secara efektif. Salah satu strategi itu ialah penyediaan firman Tuhan dalam bahasa suku-suku bangsa di Indonesia, yakni dalam bahasa yang paling mereka kuasai, dan dengan media yang paling sesuai untuk mereka. Pelayanan penginjilan, pemuridan, dan dukungan kehidupan orang-orang percaya sangat memerlukan firman Tuhan (Alkitab). Di Indonesia, masih terdapat sekitar empat ratus suku bangsa yang terhalang untuk menerima Kabar Baik karena hambatan bahasa dan budaya.

Selama 19 tahun pelayanan Kartidaya, lembaga ini telah menjadi perpanjangan tangan gereja-gereja untuk menjangkau suku-suku bangsa di Indonesia, khususnya melalui pelayanan kebahasaan dan kebudayaan. Hingga saat ini, sekitar seratus lebih pemuda Kristen Indonesia telah dilatih hingga mampu berperan serta dalam penyediaan firman Tuhan dalam berbagai bahasa suku. Kiranya Tuhan senantiasa melengkapi, membangun, dan menyempurnakan pelayanan Kartidaya pada masa yang akan datang. Biarlah bersama-sama dengan gereja-gereja di Indonesia kami senantiasa berkarya bagi kemuliaan nama-Nya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul Buletin : Berita Kartidaya, Edisi 2/2009
Judul artikel : Diutus untuk Berbuah
Penulis : Yunita Susanto
Penerbit : Yayasan Kartidaya, Jakarta
Halaman : 2 -- 3 dan 19

e-JEMMi 14/2010



Doa : Melawan Status Quo

Jika Anda memiliki kesadaran sosial, Anda akan terkejut mendengar cerita yang akan saya kemukakan. Seorang wanita berkulit hitam, tinggal di kawasan Chicago Selatan, mendesak agar apartemennya dipasangi pemanas karena musim dingin yang menusuk. Terlepas dari hukum di kota tersebut, pemilik tanahnya yang kejam menolak. Wanita itu seorang janda yang buta akan sistem hukum, namun ia membawa kasus itu ke pengadilan. Keadilan harus ditegakkan, katanya. Sayangnya, hakim yang menangani kasusnya adalah seorang ateis yang fanatik. Prinsip yang dipegangnya adalah "orang kulit hitam hanya boleh diam". Bagi janda tersebut, peluang untuk mendapatkan keadilan sangat sedikit. Dan peluang itu semakin sedikit ketika ia menyadari betapa kurangnya hal yang ia perlukan untuk mendapat keputusan yang diinginkan -- misalnya, uang suap yang memadai. Bagaimanapun juga, dia tetap bertahan.

Pada mulanya, hakim tidak mengacuhkannya sama sekali. Namun, ia mulai memerhatikan janda itu. Orang kulit hitam lagi, pikirnya, yang cukup bodoh karena berpikir bisa mendapatkan keadilan. Lalu keteguhan janda itu membuatnya sadar dan menimbulkan rasa bersalah serta marah di dalam dirinya. Dengan gusar dan malu, akhirnya hakim itu mengabulkan permohonan janda tersebut dan menegakkan hukum. Inilah kemenangan besar terhadap "sistem" -- setidaknya, menjalankan hukum di pengadilannya yang telah bobrok.

Tentu saja saya tidak sepenuhnya jujur. Cerita ini tidak pernah terjadi di Chicago (sejauh yang saya ketahui) ataupun dalam "cerita" saya sendiri. Ini merupakan perumpamaan yang dikatakan Yesus (Lukas 18:1-8) untuk menggambarkan sifat doa yang berupa permohonan.

Perumpamaan yang digambarkan Yesus bukanlah antara Allah dan hakim yang jahat, namun antara janda dan pemohon. Perumpamaan ini memiliki dua aspek. Pertama, janda itu menolak untuk menerima ketidakadilan, seperti juga orang Kristen seharusnya menolak untuk menerima kejatuhan dunia ini. Kedua, bukannya merasa patah semangat, janda itu bertahan dengan kasusnya, seperti orang Kristen yang seharusnya juga bertahan.

Saya ingin menegaskan bahwa doa kita yang lemah dan tidak rutin, terutama doa berupa permohonan, sering kali ditujukan dengan cara yang salah. Ketika menghadapi kegagalan ini, kita cenderung menyalahkan diri sendiri karena tekad kita yang lemah, hasrat yang tawar, cara yang tidak efektif, dan pikiran yang tidak terfokus. Kita terus berpikir bahwa tindakan kita salah dan berpikir keras untuk mencari letak kesalahannya. Menurut saya, masalahnya terletak pada kesalahpahaman tentang sifat doa dan kita tidak akan pernah memiliki keteguhan janda tersebut sebelum pandangan kita sejelas pandangannya.

Lalu, apakah doa yang bersifat permohonan itu? Pada intinya, doa permohonan adalah perlawanan terhadap kejatuhan dunia, penolakan yang mutlak dan tanpa henti untuk menganggap normal apa yang tidak normal. Dari segi negatifnya, ini berarti penolakan akan semua rencana, maksud, dan pemikiran yang berbeda dengan yang ditetapkan Tuhan. Itulah ungkapan mengenai suatu jurang yang tak bisa dijembatani yang memisahkan kebaikan dan kejahatan, pernyataan bahwa kejahatan bukanlah variasi dari kebaikan, melainkan lawan dari kebaikan.

Atau dengan kata lain, menerima hidup "apa adanya" -- yang berarti mengakui bahwa hidup berjalan tanpa bisa dihindari -- berarti juga menyerahkan cara Kristen memandang Tuhan. Dalam kepasrahan pada sesuatu yang tidak wajar ini ada anggapan yang tersembunyi dan tak dikenal, yaitu anggapan bahwa kuasa Tuhan untuk mengubah dunia dan untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, tidak akan menjadi kenyataan.

Tidak ada yang bisa mengganggu doa permohonan (dan juga pandangan Kristen akan Tuhan) secepat penyerahan. "Sepanjang waktu", Yesus menyatakan, "kita harus berdoa" dan tidak "jemu-jemu," dan menerima seperti apa adanya (Lukas 18:1).

Keabsenan doa permohonan bila penyerahan muncul sudah lama memiliki sejarah yang menarik. Agama-agama yang menekankan pentingnya ketenangan selalu menentang doa permohonan. Aliran Stoa menegaskan bahwa doa semacam itu menunjukkan bahwa seseorang tidak mau menerima keberadaan dunia ini sebagai ungkapan kehendak Tuhan. Satunya lagi berusaha melepaskan diri dari dunia dengan mengubahnya. Hal itu, sebagaimana dikatakan oleh aliran Stoa ini, adalah buruk. Pendapat yang sama juga ditemukan dalam agama Budha. Hal serupa umumnya juga ditemukan dalam budaya sekuler kita meskipun melalui proses penalaran yang berbeda.

Sekularisme adalah sikap yang memandang dunia sebagai suatu akhir, bahwa hidup terpisah dari hubungan dengan Tuhan. Akibatnya, satu-satunya norma yang ada dalam hidup, baik makna maupun moral, adalah dunia seperti apa adanya. Kita harus setuju untuk mencari beberapa sumber lain yang bisa digunakan untuk mengatur hidup kita yang sia-sia dan penuh khayalan. Bukan hanya Tuhan, objek dari doa permohonan, yang menjadi kabur, melainkan hubungan-Nya dengan dunia pun dipandang dengan cara baru. Dan cara itu adalah cara yang tidak bertentangan dengan pandangan sekuler. Tuhan mungkin "hadir" dan "berkarya" dalam dunia, namun hal itu tidak mengubah apa pun.

Bertentangan dengan semua ini, doa permohonan hanya akan berhasil bila ada keyakinan akan dua hal. Pertama, adanya keyakinan bahwa nama Tuhan jarang sekali diagungkan, kerajaan-Nya hampir tidak nyata di bumi, dan perintah-Nya hampir tidak dijalankan. Kedua, Tuhan sendiri dapat mengubah keadaan ini. Karena itulah, doa permohonan merupakan ungkapan harapan agar hidup bisa menjadi berbeda dan seharusnya memang berbeda. Hampir mustahil untuk hidup dalam Tuhan dan melakukan pekerjaan-Nya sesuai pribadi-Nya, tanpa berdoa dengan rutin.

Itulah arti penting dari doa permohonan dalam kehidupan Yesus. Penulis Injil tidak banyak menceritakan doa-doa Yesus (misalnya, Markus 1:35; Lukas 5:16, 9:18, 11:1). Namun, suatu pola dari keadaan yang dibangkitkan lewat doa akan dapat dikenali.

Pertama, doa permohonan diawali dengan keputusan yang besar dalam hidup, misalnya ketika memilih murid-murid (Lukas 6:12); yang menjadi penjelasan mengapa Yesus memilih sekumpulan orang yang terlupakan, sombong, bodoh, dan bebal adalah karena Ia sudah berdoa sebelum memilih mereka. Yang kedua, Ia berdoa ketika dihadapkan pada tekanan, saat disibukkan dengan tuntutan banyak orang yang menyita tenaga dan perhatiannya (Matius 14:23). Yang ketiga, Ia berdoa ketika dihadapkan pada kejadian penting yang mengubahkan kehidupan-Nya, seperti pembaptisan-Nya, perubahan-Nya, dan salib-Nya (Lukas 3:21, 9:28-29). Dan yang terakhir, Ia berdoa sebelum dan selama pencobaan, yang paling jelas adalah ketika di Getsemani (Matius 9:36-45). Ketika masa pencobaan tiba dan melingkupi, perbedaan antara Yesus dan murid-murid-Nya dalam menghadapi pencobaan itu hanyalah karena Ia bertekun dalam doa, sementara murid-murid-Nya tertidur dalam kelemahan hati. Setiap kejadian ini menghadirkan pilihan kepada Tuhan kita, yaitu memakai cara, menerima pandangan, dan mengikuti pengajaran yang bukan berasal dari Tuhan. Namun, penolakan-Nya akan semua pilihan itu selalu ditandai dengan doa permohonan-Nya. Inilah cara-Nya untuk menolak hidup di dunia atau untuk menjalankan urusan Bapa-Nya dengan menggunakan cara yang tidak sesuai dengan cara Bapa-Nya. Seperti itulah perlawanan terhadap kejahatan dan kejatuhan dunia.

Doa menunjukkan bahwa Tuhan dan dunia saling berlawanan; mereka berpura-pura tidak "tidur", tidak "putus asa", dan tidak "jemu". Lantas mengapa kita jarang berdoa untuk gereja lokal kita? Benarkah karena cara kita buruk, tekad kita lemah, atau daya imajinasi kita lesu? Saya tidak percaya. Ada banyak pembahasan yang bertekad kuat dan hidup -- yang secara sebagian atau keseluruhan bisa dibenarkan -- mengenai situasi khotbah, kekosongan penyembahan, kedangkalan persekutuan, dan ketidakefektifan penginjilan. Lantas. mengapa kita tidak bertekun dalam doa? Jawabannya cukup sederhana, yaitu karena kita tidak yakin doa akan membawa perubahan. Kita cenderung menerima, walaupun dengan terpaksa, bahwa situasi tersebut memang tidak akan bisa diubah. Ini bukanlah masalah tentang praktik doa, tapi sifat doa. Lebih tepatnya, tentang sifat Tuhan dan hubungan-Nya dengan dunia.

Tidak seperti janda dalam perumpamaan di atas, kita lebih mudah berkompromi degan dunia yang tidak adil di sekitar kita -- bahkan ketika dunia itu menyusup masuk ke dalam lembaga-lembaga Kristen. Penyebabnya tidak selalu karena kita mengabaikan apa yang terjadi, namun karena kita merasa tidak mampu untuk mengubah apa pun. Mau tidak mau, ketidakmampuan itu menyebabkan kita mengadakan gencatan senjata dengan hal-hal yang salah.

Dengan kata lain, kita tidak lagi marah, baik pada tingkat kesaksian sosial ataupun mendahului Tuhan dalam doa. Namun, Tuhan masih merasa marah dan kemarahan-Nya adalah kemarahan yang melawan hal-hal yang salah, dengan cara yang menempatkan kebenaran di tempat utama selamanya dan selamanya pula kesalahan di tempat kedua. Tanpa kemarahan-Nya, tidak ada alasan untuk hidup sesuai moral dunia. Jadi dalam hal ini, kemarahan Tuhan berkaitan erat dengan doa permohonan yang mencari wewenang kebenaran dalam segala hal dan pembinasaan kejahatan.

Kerangka pikiran yang diberikan Yesus kepada kita adalah Kerajaan Tuhan. Sebuah kerajaan adalah suatu tempat di mana kekuasaan raja diakui. Dan karena sifat dari Raja kita, kekuasaan itu bukan kekuasaan jasmani. Dalam Yesus, masa depan yang telah lama ditunggu itu telah tiba. Dalam Dia dan melalui Dia, unsur Mesianis telah masuk ke dalam dunia. Menjadi orang Kristen bukan berarti memiliki pengalaman religius yang benar, namun memulai hidup yang benar-benar rohani. Kegagalan penginjilan bukan dikarenakan oleh cara yang salah, melainkan karena "masa" sekarang ini dipenuhi oleh kehidupan orang-orang berdosa. Dan "masa yang akan datang", yang sudah menjelang, tidak dimiliki oleh suatu budaya atau orang tertentu. "Masa" Tuhan, "masa" Anak-Nya yang disalibkan, mulai datang di dunia ini. Oleh karena itu, doa-doa kita bukan lagi mengenai kehidupan pribadi kita, melainkan harus melihat pada masa depan kehidupan manusia, yang juga menjadi perhatian Tuhan. Jika Injil bersifat universal, doa pun harus bersifat universal.

Cukup relevan bila kita memandang dunia seperti satu ruang pengadilan, di mana suatu "kasus" mengenai yang hal yang benar dan yang salah masih dapat terjadi. Kelemahan kita dalam berdoa terjadi karena kita kehilangan cara pandang dan jika kita tidak memperolehnya kembali, kita tidak akan bisa bertahan sebagai pihak penggugat. Namun, selalu ada alasan mengapa kita harus memperoleh visi kita kembali dan mendayagunakan kesempatan kita. Hakim kita bukanlah hakim yang jahat atau ateis, namun Allah yang mulia dan Bapa dari Tuhan Yesus Kristus. Pernahkah Anda berpikir Dia akan gagal "memberikan keadilan untuk umat-Nya yang terpilih yang memohon sambil menangis kepada-Nya siang dan malam? Akankah Dia menolak mereka?" "Aku berkata kepadamu," Tuhan kita berkata, "Ia akan memberi mereka keadilan dengan segera" (Lukas 18:7-8).(t/Lanny)

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Judul buku : Perspective on the World Christian Movement
Judul artikel asli : Prayer: Rebelling Against the Status Quo
Penulis : David F. Wells
Penerbit : William Carey Library, Pasadena, Amerika 1981
Halaman : A 144 -- A 147

e-JEMMi 07/2007

Doa: Mujizat yang Hidup

Saya selalu merasa tertarik kalau melihat kotak peralatan tukang kayu yang Ayah siapkan. Dia adalah tukang kayu. Peralatanya selalu tersimpan dengan baik di tempatnya masing-masing, alat-alat terbaik yang ia beli jika memunyai uang. Dan celakalah orang yang tidak memperlakukan salah satu dari peralatan itu dengan baik, menghilangkan atau memergunakan satu alat itu untuk membuat sesuatu yang tidak dirancangkan. Ayah saya bertumpu pada peralatannya dan dia secara konsisten memeriksa apakah tiap peralatan itu terpelihara dengan baik.

Seorang pekerja rohani yang berbobot memunyai peralatan khusus dan menggunakannya untuk memenangkan orang-orang yang tersesat dan meneguhkan iman orang-orang Kristen yang baru bertumbuh. Sekarang kita akan membuka dan melihat ke dalam kotak peralatan itu. Dawson Trotman, pendiri The Navigators, biasanya menceritakan kepada kita bahwa ada tujuh peralatan yang penting untuk menolong orang lain.

Salah satu alat yang istimewa dalam pelayanan untuk memenangkan jiwa ialah doa. Dawson tidak pernah melihat doa sebagai suatu tujuan akhir. Dia tidak menganggap doa sebagai alat pemuas diri sendiri yang akan membawanya kepada suatu keadaan pengangkatan gereja ke surga dan penuh kebahagiaan. Dia tidak memunyai keinginan untuk masuk dalam dunia khayalan. Sebagai prajurit doa yang sejati, Dawson memberitahukan kita, "Dalam menolong orang lain, bila Anda memulai dengan doa berarti Anda mulai dengan Allah, dan bila Anda memulai dengan Allah, berarti Anda memulai dengan benar."

Pertama-tama, melalui doa Allah dapat menunjukkan apa yang biasanya Dawson sebut sebagai "rintangan bagi pertumbuhan dan berbuah". Kita sering kali buta terhadap batu sandungan ini. Kita tidak dapat melihat tiang telepon yang sangat dekat di mata kita sendiri sejelas sebuah selumbar di mata saudara kita. Bagi saya, doa Raja Daud adalah klasik dan langsung: "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (Mazmur 139:23-24). Seorang pekerja perlu bertumbuh terus, tetapi bila ada bagian dalam hidup kita yang tidak menyenangkan Allah, maka pertumbuhan kita akan terhalang.

Kedua, mohonlah pada Allah untuk menolong Anda agar orang-orang yang belum diselamatkan bersahabat serta memercayai Anda. Pada tahun 1957, tiap minggu saya pergi berkunjung dengan salah satu pendeta dari gereja Dundee Presbyterian Church di Omaha, Nebraska. Pada suatu sore, kami mampir di rumah seorang usahawan yang memunyai watak kasar dan keras. Gordon telah bertemu dengan orang itu sebelumnya dan memperingatkan saya bahwa kami mungkin akan mengalami kesulitan.

Orang itu membuka pintu, mempersilakan kami masuk, dan kami memulai kunjungan kami dengan secangkir kopi. Dalam menjawab salah satu pertanyaannya saya menunjukkan buku yang pernah saya baca, dengan menyebutkan betapa besar arti buku itu bagi saya dan bagaimana besarnya penghargaan dan penghormatan saya kepada pengarangnya. Usahawan yang kejam ini kelihatannya terkejut. Dia membawa saya ke ruang kerjanya dan memperlihatkan kepada saya buku itu. Dia berkata bahwa buku itu telah banyak menolongnya juga, dan secara jujur menyatakan keheranannya bahwa seorang seperti saya yang melakukan "pekerjaan keagamaan" masih memerhatikan hal-hal yang demikian.

Sesudah percakapan ini, dia dan saya menjadi teman erat. Hingga hari ini -- dalam jangka waktu lebih dari 25 tahun -- saya kadang-kadang mengadakan perjumpaan dengan keluarga itu. Tetapi yang paling menarik dari semuanya itu, dia dan hampir semua keluarganya mengenal Tuhan. Pekerja harus rajin mengikuti nasihat Paulus kepada Timotius supaya "melakukan pekerjaan seorang penginjil" (2 Timotius 4:5).

Suatu hal yang menarik dalam cerita ini ialah ketika sebelum Gordon dan saya membunyikan bel pintu rumah usahawan itu. Saya berdoa dengan singkat dan bersungguh-sungguh supaya Allah akan membuat sesuatu terjadi selama percakapan kami yang akan memungkinkan saya dapat memenangkan kepercayaan dan persahabatan orang itu. Saya juga meminta agar saya dapat memengaruhinya sehingga pada akhirnya memenangkannya bagi Kristus. Ternyata Allah menjawab doa saya.

Ketiga, doa akan menolong Saudara menemukan kebutuhan yang sungguh-sungguh dari orang Kristen yang bertumbuh dan apa yang dapat Anda lakukan untuk menolongnya, agar memenuhi kebutuhannya. Berdoalah dengan sungguh-sungguh bagi orang itu, mintalah hikmat dari Tuhan. Berdoalah bersama dengan orang itu. Sering kali, orang itu akan memulai dengan mengeluarkan isi hatinya kepada Tuhan. Melalui saat-saat doa itu, bersama-sama Anda akan mengetahui pergumulan apakah yang sedang dihadapinya, apa yang sedang memberati hatinya, dan persoalan apa yang dihadapinya dalam perjalanannya bersama Tuhan. Pelayanan Anda dalam hidupnya akan "menggaruk" tempat di mana dia merasa sungguh-sungguh gatal.

Kita belajar bahwa pergaulan merupakan suatu kenyataan. Fakta ini adalah dasar dari sistem belajar. Melalui sistem itu, banyak ahli urusan bangunan belajar dengan kecekatan yang luar biasa. Ketika kita melewatkan waktu dengan berdoa di hadapan Tuhan, semakin lama kita makin menyerupai Dia. Paulus menyatakannya seperti ini: "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar" (2 Korintus 3:18). Suatu kebenaran yang hebat! Rahasianya ialah tinggal di dalam Kristus.

Alasan keempat dari doa ialah makin lama makin menjadi seperti Kristus ketika kita bersekutu dengan-Nya. Bagi seorang pekerja, salah satu mutu yang paling penting untuk berkembang ialah selalu merasakan "sentuhan" Kristus -- hubungannya dengan orang-orang lain. Bila Anda dan saya mau menjadi pekerja yang efektif di ladang tuaian di dunia yang luas, kita harus memunyai sentuhan ini dengan orang lain. Kristus mendatangi mereka yang cukup rendah hati untuk menerima firman-Nya yang berkuasa dan sanggup mengubah mereka dari hidup lama ke hidup baru.

Kita tidak pernah bisa menjadi saksi yang efektif bagi Kristus bila tidak mau dan tidak dapat mengomunikasikan kebenaran rohani itu kepada orang banyak. Yesus berkomunikasi secara terbuka dan efektif: "Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat (Markus 12:37).

Kenneth Latourette menarik kesimpulan bahwa salah satu alasan utama bagi keberhasilan pelayanan Kristen ialah bahwa pelayanan itu pertama-tama kepada orang-orang biasa, selanjutnya mereka ini akan menjadi alat yang penting untuk menyebarkan Injil.

Pengalaman membuktikan bahwa meluasnya kekristenan tidak bersumber dari penginjil-penginjil profesional, melainkan melalui orang Kristen awam yang kehidupan kekristenannya suci dan murni. Mereka terbeban untuk bersaksi kepada orang-orang yang ditemui di lingkungan kerja mereka, misalnya pekerja-pekerja batu bara, kulit, kain, dan orang-orang tidak terpelajar lainnya.

Hiduplah dalam persekutuan yang erat dengan Kristus dan membiarkan-Nya hidup melalui Anda. Dia tetap ingin mentransformasikan kehadiran-Nya dan kuasa firman-Nya kepada orang-orang yang bersahaja. Inilah salah satu kunci penting bagi "pelayanan antarbudaya" yang banyak didiskusikan itu.

Orang yang pernah melayani dalam hubungan antarbudaya itu adalah Yesus. Dia meninggalkan rumah surgawi-Nya, suatu tempat suci dan murni, dan datang ke dunia yang kotor, penuh dosa dan menjijikkan untuk berjalan di antara kita. Apakah Dia bergaul? Ya! Apakah Dia mengadakan hubungan sampai ke hati? Ya! Apakah Dia akrab dengan orang-orang? Ya! Ketika kita bercermin kepada hidup-Nya dan pelayan-Nya, kelihatannya masuk akal bahwa hal yang paling penting yang dapat dilakukan oleh pekerja-pekerja yang terpanggil untuk menjadi misi antarbudaya ialah membiarkan-Nya terus menguasai kita. Tinggallah di dalam Dia. Pergunakan banyak waktu untuk berdoa. Lakukan pelayanan dengan penuh kuasa dari Roh Kudus. Izinkanlah Roh Yesus mempergunakan Anda sebagai saluran. Melalui saluran itu, Yesus dapat meneruskan pelayanan-Nya sekarang ini.

Apakah ini berarti bahwa pekerja-pekerja antarbudaya tidak perlu mengerti adat-istiadat lingkungan, kebudayaan, atau bahasa? Tidak! Tentu saja tidak. Hal ini hanyalah soal prioritas. Meskipun mereka melakukan hal-hal ini, mereka tidak boleh sama sekali menaruh kepercayaan mereka di dalam hal-hal ini. Keyakinan kita ialah di dalam Allah. Dia adalah sumber kepercayaan hidup dan pelayanan kita. Hidup di dalam Dia akan membuahkan buah yang tahan lama. Yesus berkata, "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5). Ini adalah rahasia pelayanan yang efektif karena jamahan Kristus.

Melewatkan waktu bersama Kristus akan membuat seorang pekerja tetap berada dalam sasaran. Ini adalah keuntungan kelima yang diperoleh seorang pekerja yang berdoa.

Sebuah buku yang pernah saya baca dan baca lagi selama bertahun-tahun ialah "Lectures on Preaching" yang ditulis oleh Phillips Brooks. Dalam bab yang berjudul "Seorang pengkhotbah dalam pekerjaannya", dia berbicara tentang masalah menjaga supaya prioritas kita tidak bergeser dan selalu dalam sasaran. Hati-hati terhadap hobi Anda. Teguhkan diri Anda pada pusat pelayanan Anda, jangan sekali-kali berada di luar lingkungan kegiatan. Nasihat yang baik. Dengan sedikit menyerempet mungkin menarik, tetapi kita tidak boleh hidup atau melayani menyimpang dari tujuan.

Seorang pekerja yang saya ajak berbicara tergoda oleh jenis musik tertentu yang disiarkan oleh stasiun radio lokal. Memang tidak berdosa. Namun, saya tidak menyukai musik jenis itu. Dan yang menjadi persoalan ialah bahwa orang itu kelihatannya kehilangan minat untuk memenangkan jiwa-jiwa.

Beberapa waktu yang lalu, saya bercakap-cakap dengan seorang pekerja yang sedang berkampanye untuk mempromosikan suatu gagasan bahwa minum anggur, bir, dan minuman-minuman keras lainnya, menurut Alkitab tidak dilarang. Dia sangat dipengaruhi oleh gagasan itu. Tujuan hidup dan pelayanannya telah berubah. Dia berada di ujung garis batas dan saya kuatir dia sedang menuju kejatuhan.

Seorang pendeta memberitahukan pada saya baru-baru ini tentang seorang laki-laki dalam jemaatnya yang rupanya cenderung menghapuskan sekolah minggu. Orang itu tidak percaya pada kekuatan sekolah minggu dan telah berusaha dengan seluruh misinya supaya terlepas dari sekolah minggu itu. Dia berada di luar garis, melewatkan waktu dan mengeluarkan energinya pada jalur yang salah, menuju ke arah yang salah.

Beberapa hari yang lalu, saya berbicara dengan seorang laki-laki muda yang percaya bahwa gereja seharusnya berbuat lebih banyak untuk membantu pengungsi-pengungsi politik. Dia berbicara tentang sekelompok orang-orang yang diganggu oleh pemerintah. Orang-orang ini membutuhkan pertolongan dan gereja seharusnya ikut campur. Tetapi lebih dari itu, dia mengatakan bahwa hal itu seharusnya menjadi persoalan penting bagi gereja. Sebagian besar dari sumber dan waktu gereja harus dilewatkan untuk membereskan persoalan yang sangat rumit ini.

Ketika saya mendengar dia begitu bersemangat, saya merasa yakin bahwa saya sedang mendengarkan orang yang menekankan sesuatu di luar sasaran. Pekerjaan utama dari gereja ialah Amanat Agung itu -- memenangkan jiwa yang sesat dan meneguhkan iman yang telah diselamatkan. Bisa jadi hal-hal yang lain juga baik, namun bukan menjadi sasaran pokok. Saya mengingatkan kawan saya untuk merencanakan suatu revolusi sosial atau menyusun kembali suatu masyarakat, tetapi mengutamakan memenangkan jiwa. Yesus berkata tentang diri-Nya sendiri, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10)

Bila Anda dan saya ingin menempatkan hidup kita pada inti sasaran, kita tidak dapat berbuat lebih baik kecuali memakai waktu berjam-jam dalam persekutuan dengan Kristus, sambil belajar dari Dia yang terus-menerus melakukan segala yang menyenangkan Bapa. Saya yakin inilah alasan penting yang telah menjadi inti sasaran dalam kehidupan dan pelayanan Rasul Paulus, meskipun dia juga telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam menjelaskan melalui surat-surat kirimannya tentang iman yang seharusnya dipatuhi oleh gereja Tuhan. Dia adalah pekerja yang utama dan penting dan secara kebetulan adalah seorang ahli teologi dan seorang pengarang.

Ketika Dawson Trotman melihat kelompok kami membentuk pekerja-pekerja, dia selalu menantang kami supaya berdoa. Suatu hari dia memberitahukan kepada kami, "Bila Anda berdoa, percayalah kepada yang tidak mungkin. Buatlah daftar proyek mengenai hal-hal yang tidak mungkin yang Anda inginkan Allah lakukan hal itu." Tempat teratas dalam daftar saya ialah keinginan supaya menjadi saksi yang baik bagi Kristus. Saya meletakkan dua ayat di tempat teratas dari daftar doa pribadi saya dan berdoa mengenai hal itu tiap-tiap hari. Salah satunya ialah Amsal 18:24, "Ada teman yang mendatangkan kecelakaan tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara."

Pada waktu itu, pekerjaan saya adalah memuati truk yang menuju toko serbaada (Sears) Roebuck. Orang-orang yang bekerja dengan saya sama sekali tidak tertarik pada berita Injil. Saya tahu bahwa untuk memenangkan mereka, saya harus pertama-tama berkawan dengan mereka. Kemudian kami dapat berbicara dan saya dapat membagikan Kristus dengan mereka secara pribadi dengan cara yang tidak tergesa-gesa. Ayat yang satunya ialah Amsal 17:22, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Saya membayangkan bila Allah akan menolong saya dengan sikap yang ramah dan semangat yang gembira dalam pekerjaan itu, maka Dia dapat mamakai saya untuk membangun suatu jembatan untuk menjangkau orang-orang ini dengan Injil.

Pada waktu itu saya tidak mengira saya dapat melakukannya. Tetapi Allah melakukannya. Akhirnya saya dekat dengan orang-orang muda itu dan bersaksi kepada mereka. Kemudian sesuatu yang tidak dapat dipercaya terjadi! Sebagian dari mereka datang kepada Kristus. Istri dari salah seorang laki-laki itu datang kepada Kristus. Dengan pengalaman ini sebagai permulaan, saya terdorong berdoa untuk hasil lebih besar lagi. Saya segera mengerti akan hak istimewa dan kuasa dari doa. Dawson mendorong kami supaya saling mendoakan. Pada suatu hari dia berkata, "Saya merasa kasihan kepada orang yang memunyai banyak pengagum tetapi sedikit pendukung doa."

Istri saya dan saya pada suatu kali mendapat hak istimewa untuk mengunjungi Kelepi dan Finamoa Mailaui di pulau Tonga di Pasifik Selatan. Kelepi dan Finamoa dimenangkan bagi Kristus saat mereka bersekolah di Universitas di New Zealand. Sekarang ini mereka adalah pekerja yang berbuah di kota asal mereka di Nuku`alofa, ibu kota dari 360 kepulauan Tonga.

Pada suatu hari, mereka membawa kami melihat-lihat pemandangan di pulau itu. Ketika kami melewati jalan pacuan Manamo`ui, mereka mengatakan Manamo`ui berarti "mukjizat yang hidup". Saya melihat pada jalur pacuan itu ketika kami lewat di dekatnya, dan saya berpikir, "Tidak, jalur pacuan ini bukan mukjizat yang hidup. Doa adalah mukjizat yang hidup." Melalui doa, kita nembawa hati dan tangan Allah yang hidup kepada dunia ini. Melalui doa, orang yang tersesat akan dibawa pulang. Melalui doa, bayi yang baru lahir dalam Ktistus dibantu sepanjang perjalanan iman dan dibangun dalam perjalanan mereka bersama Tuhan. Melalui doa, pekerja-pekerja akan didatangkan ke ladang tuaian. Melalui doa, kita dapat membagikan persoalan-persoalan pribadi dan keberatan-keberatan kita kepada Allah, sambil menerima terang dan kekuatan yang kita butuhkan untuk tugas- tugas harian dan tugas-tugas umum. Doa memang suatu mukjizat yang hidup!

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Penuai yang Diperlengkapi
Judul asli buku : Laboring in the Harvest
Judul artikel : Doa: Mujizat yang Hidup
Penulis : LeRoy Eims
Penerjemah : Tidak dicantumkan
Halaman : 54 -- 63

e-JEMMi 39/2009

Doa: Senjata Strategis Dalam Mencapai Suku-Suku yang Belum Terjangkau 1

Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Allah Menginginkan dan Mendorong Doa Syafaat Bagi Pelaksanaan Maksud Penyelamatan-Nya untuk Manusia di Bumi

Yesus mengajarkan kita berdoa, "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Abraham bersyafaat bagi Lot di Sodom, Musa berdoa agar Allah mengalihkan murka-Nya terhadap Israel, Daniel berdoa bagi pengembalian bangsa Israel dari Babel. Mengapa Allah menginginkan dan memerlukan doa syafaat umat-Nya? Pada mulanya Allah memberi manusia wewenang untuk memerintah bumi, sedangkan wewenang untuk memerintah yang dimiliki Setan, dicapai melalui pemberontakan melawan Sang Pencipta, merupakan wewenang untuk memerintah yang palsu, yang tidak sah, dan yang direbut. Melalui kebangkitan-Nya, kita dapat mendayagunakan hak yang diberikan Allah kepada kita -- doa syafaat, agar kehendak-Nya terlaksana dan kerajaan-Nya datang di bumi. Berdoa dalam kuasa Roh Kudus menerobos wewenang musuh, meratakan jalan bagi Dia untuk menyelamatkan semua orang, dan ikut ambil bagian dalam pelaksanaan maksud penebusan-Nya.

Awal tahun 1998, Allah menuntun Dick Eastman membentuk satu tim doa syafaat di setiap bagian Eropa Timur. Tugas mereka ialah "menghadapi benteng-benteng Komunisme". Mereka "berjalan sambil berdoa" di seputar bangunan Politbiro di Bukarest. Dua tahun kemudian, Ceaucescu, yang sebelumnya dengan bangga mengatakan rezimnya akan bertahan seribu tahun lagi, akhirnya runtuh. Di Berlin, pada tengah malam, Allah menuntun Dick dan seorang teman Jermannya berdoa untuk tembok Berlin. Mereka berdua meletakkan tangan di tembok lalu berdoa, "Dalam nama Yesus, runtuhlah!" Dalam peristiwa-peristiwa dramatis tahun lalu di Eropa Timur, Allah telah menggunakan doa umat-Nya untuk menggoncangkan bangsa-bangsa. Dia juga dapat berbuat hal yang sama untuk dunia yang belum terjangkau. Ia sedang mencari mereka yang akan berdiri di hadapan-Nya untuk 2000 kelompok suku-suku yang belum terjangkau, 1000 kota, dan 30 negara yang belum terinjili (Yehezkiel 22:30).

Kewenangan dalam Alam Rohani Diraih Melalui Doa

Ingatlah doa syafaat yang disampaikan Musa ketika ia mengangkat tangannya di hadapan Allah, sementara Yosua dan tentara Israel berperang melawan orang Amalek. Setiap kali tangan Musa menjadi lelah dan tertatih-tatih, tentara Israel dipukul mundur. Tetapi, sewaktu ia menopang pendiriannya dalam doa dan dengan tangan yang terangkat, orang-orang Israel mengalami kemenangan. Dalam sejarah Israel, Raja Yosafat mengandalkan doa, puasa, pujian, dan penyembahan -- sebagai senjata untuk melawan musuh-musuh yang menyerang Israel. Kemenangan dalam alam rohani merupakan hal yang penting sekali. Kemenangan tersebut harus diperoleh dengan menggunakan senjata-senjata rohani. Dua babak dalam sejarah Alkitab ini secara gamblang menggambarkan doa syafaat sebagai faktor pembawa kemenangan.

Doa Menopang dan Memperluas Jangkauan Pengutusan

Doa dicatat lebih dari 30 kali dalam kitab Kisah Para Rasul. Bagi para rasul, waktu yang diperpanjang dalam doa dan menanti-nantikan Tuhan bersama-sama, sangatlah penting dalam pelayanan mereka kepada orang-orang yang belum terjangkau. Sebelum pencurahan Roh Kudus pada waktu Pentakosta dan khotbah Petrus yang membawa 3000 orang bertobat, Alkitab mencatat, "semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama" (Kisah Para Rasul 1:14). Ketika para rasul dan para petobat baru berkumpul untuk berdoa, terjadilah mukjizat dan tanda-tanda; kota itu dipenuhi dengan ketakjuban, serta Tuhan menambahkan jumlah orang yang diselamatkan ke dalam jemaat setiap hari (Kisah Para Rasul 2:42-44). Sesudah mereka berdoa, tempat pertemuan mereka digoncangkan dan semua orang dipenuhi Roh Kudus, lalu membicarakan firman Allah dengan berani (Kisah Para Rasul 4:31).

Para rasul menetapkan prioritas mereka dalam pelayanan misi dengan doa dan pelayanan Firman (Kisah Para Rasul 6:4). Hasilnya, "Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya." (Kisah Para Rasul 6:7) Doa Petrus menghasilkan mukjizat dan tanda-tanda seperti kebangkitan Tabita (Kisah Para Rasul 9:40). Doa juga membuka mata Petrus untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, yang membuatnya rela pergi memberitakan Injil pada Kornelius (Kisah Para Rasul 10). Doa dan puasa yang dilakukan oleh lima pemimpin jemaat Antiokia, telah menuntun pada pemilihan Paulus dan Barnabas untuk menjangkau orang-orang bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 13:1-3). Melalui doalah Paulus tidak diizinkan oleh Roh Yesus untuk memasuki Bitinia, tapi diarahkan ke Makedonia (Kisah Para Rasul 16:7-10). Melalui doa dan pujian pada Allah yang dilakukan oleh Paulus dan Silas yang terpenjara, berdirilah jemaat di Filipi (Kisah Para Rasul 16:25-26).

Kebangunan rohani yang terjadi di benua Eropa bermula dari Pietisme -- suatu gerakan doa yang sungguh-sungguh. Dari pengaruhnya timbullah Danish Halle Mission yang melayani di India dan gerakan orang-orang Moravia di bawah Count Zinzendorf. Salah seorang yang menulis tentang orang-orang Moravia mengatakan, "gerakan doa syafaat dari orang-orang Moravia di Herrnhut pada tahun 1727, menghasilkan penginjil-penginjil hebat selama dua abad terakhir." Pertemuan doa yang dimulai orang-orang Moravia pada tahun 1727 berjalan terus selama 100 tahun! Secara berantai, mereka menyampaikan doa yang tak putus-putusnya bagi jemaat dan kebutuhan semua jemaat di dunia. Upaya doa ini mengobarkan hasrat mereka untuk memberitakan Kristus kepada orang-orang yang belum terjangkau. Dari desa kecil inilah, lebih dari 100 utusan Injil telah diutus dalam 25 tahun.

Beberapa dasawarsa kemudian, William Carey -- tukang sepatu yang rendah hati, menyokong pemberitaan Injil yang dilakukannya secara paruh waktu, dengan menggambar sebuah peta dunia, lalu memasukkan semua informasi yang didapatkannya tentang wilayah-wilayah dan negara-negara ke dalam peta tersebut. Sewaktu ia merenungkan masalah-masalah dan kebutuhan-kebutuhan yang menggemparkan dunia, ia mengalihkan informasi yang diperoleh menjadi doa syafaat yang disampaikan dengan sepenuh hati. Penulis riwayat hidupnya menyatakan, "Sering dalam keheningan malam -- lewat cahaya lampu yang tidak terang, ia akan meneliti peta tersebut, lalu berlutut di hadapan-Nya dan berdoa sambil mencurahkan jiwanya pada Allah". Pada tahun 1806, beberapa mahasiswa dari William's College meluangkan waktu mereka untuk berdoa bagi dunia. Dari doa merekalah gerakan misi bangsa Amerika lahir.

Robert Glover merangkum peranan doa dalam sejarah misi sebagai berikut, "Dari Pentakosta dan Rasul Paulus hingga masa kini, setiap terobosan baru dalam dunia misi merupakan hasil dari doa dan iman. Setiap upaya penginjilan yang dilakukan oleh anak-anak-Nya merupakan benih yang ditanamkan roh ilahi".

Kebangunan Rohani yang Dimulai Melalui Doa, Memberi Dampak Besar Bagi Pencapaian Suku-Suku yang Belum Terjangkau

Semua kebangunan rohani berakar dalam doa. Jonathan Goforth, utusan Injil yang mengadakan kebangunan rohani di Timur Jauh pada permulaan abad ini, memaparkan kebangunan-kebangunan rohani yang berlangsung di Korea dan Tiongkok tidak hanya menyegarkan jemaat, tapi membawa puluhan ribu orang dari suku-suku yang belum terjangkau kepada Kristus. Semua itu bermula dengan kelompok kecil orang-orang percaya, yang memutuskan untuk berdoa bersama-sama secara teratur bagi pencurahan Roh pada mereka, dan pada orang-orang yang belum bertobat.

"Sewaktu berkunjung ke Inggris, saya menemui seorang yang saleh. Kami berbicara tentang kebangunan rohani di Tiongkok, dan ia memberi saya tanggal-tanggal tertentu ketika Allah secara khusus mendorongnya untuk berdoa. Saya sangat terkejut, karena pada tanggal-tanggal inilah Allah sedang mengerjakan karya yang luar biasa di Mancuria dan Tiongkok. Saya percaya, harinya akan tiba di mana seluruh sejarah tentang kebangunan rohani akan disingkapkan, dan mereka yang mengkhususkan diri dalam doa adalah orang yang berperan utama dalam mewujudkan kebangunan rohani tersebut.

Di Hawai, kebangunan rohani yang dikenal sebagai "Kebangunan Agung" (1837-1843), bermula dalam hati para utusan Injil yang digerakkan untuk berdoa. Pada pertemuan tahunan mereka di tahun 1835 dan tahun 1836, mereka digerakkan untuk berdoa dan dikesankan begitu dalam dengan kebutuhan akan pencurahan Roh Kudus, sehingga mereka memohon kepada jemaat-jemaat yang mengutus mereka untuk bersatu dengan mereka di dalam doa. Pada tahun 1837 terjadi kebangunan rohani di Hawai, sehingga para utusan Injil harus bekerja siang dan malam untuk menampung banyak orang yang gelisah mencari jaminan keselamatan. Dalam sehari, lebih dari 1700 petobat dibaptis dan dalam enam tahun 27.000 orang ditambahkan ke dalam jemaat.

J. Edwin Orr -- sejarawan kebangunan rohani, menyimpulkan bahwa kebangunan rohani terjadi karena adanya peningkatan pertemuan-pertemuan doa yang tersebar di seluruh dunia. Ia mengamati bahwa kebangunan-kebangunan rohani pada abad ke-19, menyadarkan semua lembaga misi yang ada, memampukan mereka untuk memasuki ladang-ladang yang lain, serta membawa orang-orang yang belum percaya kepada Kristus. Mengenai kebangunan rohani yang terjadi pada abad ke-19, ia menulis, "Pada peralihan abad, kebangunan-kebangunan rohani mengirimkan utusan-utusan Injil perintis ke Laut Selatan, Amerika Latin, Afrika Hitam, India, dan Tiongkok. Di sana bermunculanlah lembaga-lembaga misi denominasi seperti Baptist Missionary Society, American Board, dan lembaga-lembaga misi lainnya di Eropa. Gelombang kedua dari kebangunan rohani menggerakkan lembaga-lembaga misi dan para utusan Injil yang berasal dari luar negeri, seperti William Carey untuk menginjili India. Kemudian Robert Morrison membuka jalan bagi para utusan Injil untuk bermukim di perkampungan sekitar pelabuhan-pelabuhan di Tiongkok. Para utusan Injil mendesak ke utara dari Tanjung Pengharapan sewaktu David Livingstone menyelidiki daerah pedalaman Afrika".

David Bryant setuju dengan pengkajian yang dilakukan Orr. Ia mengamati strategi utama Allah adalah membawa umat-Nya bersama-sama dalam doa, agar mereka bersatu mencari Dia. Kapan saja Allah siap melakukan hal baru dengan umat-Nya, Ia selalu mendorong mereka berdoa. Bryant juga menemukan suatu pola dalam gerakan-gerakan perluasan Injil selama lebih dari 300 tahun:

  1. Dimulainya persekutuan-persekutuan doa.
  2. Munculnya pembaruan visi tentang Kristus dan gereja-Nya.
  3. Jemaat dipulihkan dalam kesatuan dan tekadnya untuk menaati ketuhanan Kristus.
  4. Terjadinya pembaruan dalam pelayanan-pelayanan yang ada, sehingga terjadi pencapaian terhadap orang-orang yang belum terjangkau.
  5. Hal ini menuntun pada perluasan Injil di antara mereka yang belum tersentuh.

Doa Syafaat Memungkinkan Anak-Anak Allah Memiliki Pusaka Mereka -- Suku-Suku Bangsa di Bumi

Mazmur 2:8 menjelaskan kepada kita perlunya berdoa bagi terbukanya pintu untuk menjadikan bangsa-bangsa milik Allah, atau khususnya suku-suku yang belum terjangkau menjadi milik pusaka kita. Satu-satunya hal yang dapat kita bawa ke dalam kekekalan sebagai warisan kita adalah orang lain. Sukacita dan mahkota kita sama seperti yang dialami Paulus, berupa orang-orang lain yang datang kepada Kristus melalui pelayanan kita.

Dalam sejarah misi, penuaian di dalam jemaat Kristus dihubungkan dengan doa yang kuat dan gigih. John Hyde, yang melayani di India Utara dikenal sebagai "rasul doa", karena Allah menambahkan pekerja nasional sebagai jawaban atas doa-doanya. Ia membuat sebuah kesepakatan dengan Allah, untuk berdoa setiap hari bagi satu orang agar menerima Kristus. Di tahun pertama, sekitar 400 orang menerima Kristus. Tahun berikutnya, dia memutuskan untuk memercayai Allah agar dua orang sehari percaya kepada Kristus. Hasilnya 800 orang datang kepada Kristus pada tahun tersebut.

Seorang utusan Injil wanita yang dipengaruhi oleh kehidupan doa Hyde, memutuskan untuk membaktikan jam-jam terbaik dari waktunya untuk doa, dengan menjadikan doa sebagai hal primer bukan sekunder seperti sebelumnya. Allah berkata kepadanya, "Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahu kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami. Engkau belum berseru kepada-Ku, karena itu engkau tidak melihat hal-hal yang besar dalam hidupmu." Sewaktu ia mulai memprioritaskan doa dalam pelayanannya, perubahan luar biasa terjadi -- 15 orang dibaptis dan 125 orang dewasa datang pada Kristus, dan Tuhan menambahkan jumlah mereka yang belum percaya untuk menerima-Nya.

Di India, doa menjadi kunci penuaian di antara orang-orang yang belum terjangkau. Para utusan Injil yang melayani di antara suku Telugu, menjadi kecewa sampai hampir meninggalkan pelayanan mereka karena kurangnya tanggapan. Akan tetapi pada malam terakhir di tahun 1853, seluruh pasangan utusan Injil dan tiga orang India yang membantu pelayanan mereka, berdoa semalam suntuk bagi suku Telugu di sebuah bukit yang memandang ke bawah kota Ongole. Dalam waktu enam minggu, 8000 orang suku Telugu menyerahkan hidup mereka kepada Kristus. Dalam sehari, lebih dari 2200 orang dibaptis dan jemaat itu menjadi yang terbesar di dunia! Pada tahun 1902, dua orang utusan Injil wanita dengan Khassia Hills Mission, digerakkan untuk berdoa dan orang-orang Kristen Khassia juga mulai berdoa bagi sesama mereka yang belum bertobat. Dalam beberapa bulan, lebih dari 8000 orang bertobat.

Wesley Duewel dari OMS Internasional, yang dikenal sebagai seorang guru doa mengatakan, 25 tahun pertama dari pelayanan misi mereka di India sangatlah lambat. Hanya ada satu sidang jemaat setiap tahun yang didirikan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk merekrut 1000 orang di negeri yang mengutus mereka, untuk berdoa selama 15 menit setiap hari bagi pelayanan mereka. Beberapa tahun kemudian, Tuhan menjawab doa mereka. Dari 25 sidang jemaat dengan 2000 orang percaya, menjadi 550 sidang jemaat dengan 73.000 orang percaya. Salah seorang bangsa India, rekan sekerja Duewel berkata, "Kita semua telah melihat hasil yang melampaui setiap hal yang dapat kita bayangkan!" Jonathan Goforth, dalam tulisannya tentang kebangunan rohani Korea pada tahun 1907 mengatakan, "Kebangunan rohani terjadi berkat ketekunan dalam doa yang penuh keyakinan, yang menyebabkan 50.000 orang Korea menerima Kristus." Seorang utusan Injil berkata "Tuhan dapat melakukan banyak hal dengan doa yang sedikit, apalagi jika kita berdoa sebagaimana mestinya."

Disampaikan pada: International Society for Frontier Missiology, 13-15 September 1990

Diringkas dari:

Judul buku : Doa:Senjata Strategis dalam Mencapai Suku-suku yang belum Terjangkau
Judul artikel : Doa:Senjata Strategis dalam Mencapai Suku-suku yang belum Terjangkau
Penulis : John Robb
Halaman : 5 -- 12

e-JEMMi 39/2011

Doa: Senjata strategis Dalam Mencapai Suku-Suku yang Belum Terjangkau 2

Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Strategi-Strategi Misi yang Berhasil Berasal dari Penelitian yang Direndam dalam Doa

Dalam Bilangan 13, Yosua merupakan salah seorang "peneliti" pertama yang mengintai negeri perjanjian. Karena ia mengetahui fakta-fakta tentang negeri itu dan orang-orangnya, maka ia menyusun siasat ulung selama penaklukan. Yosua senantiasa melibatkan Allah dalam menyusun strategi-strateginya. Ia tidak bersandar pada pengertiannya sendiri, tapi mengandalkan Allah yang disampaikan lewat doa. Prinsipnya masih sama, menggabungkan hasil-hasil penelitian dengan kelompok yang sedang kita jangkau dengan doa yang gigih secara terus menerus, merupakan suatu gabungan yang akan membawa kemenangan dalam proses pengembangan strategi misi yang berhasil guna.

Doa: Cara di Luar Kekuatan Manusia, yang dapat Melipatgandakan dan Mengutus Para Pekerja ke Pelayanan Suku-Suku yang Belum Terjangkau

"Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Matius 9:37-38) Yesus tidak menganjurkan para murid-Nya, agar semuanya pergi keluar lalu mengumpulkan sebanyak mungkin pekerja Kristen, atau meningkatkan dana jutaan dolar bagi misi. Sebaliknya, Ia berkata bahwa berdoa kepada Dia yang empunya tuaian -- itu merupakan prioritas. Sebab Dialah yang dapat memanggil, melengkapi, dan mengutus pekerja yang paling mampu untuk menuai tuaian tersebut. Allah sedang menanti-nantikan doa umat-Nya, untuk membalikkan para penganut fanatik di sekeliling kita seperti yang dilakukannya terhadap rasul Paulus, agar mereka menjadi utusan-utusan Injil bagi kelompok mereka. Ketika jaringan-jaringan doa dibentuk dengan memusatkan perhatian pada suku-suku, kota-kota, dan negara-negara tertentu, kita akan melihat Allah membangkitkan laskar-laskar pekerja yang baru untuk menuai di dunia.

Doa Membuka Pintu-Pintu Tertutup Bagi Kehadiran Orang Kristen

Rasul Paulus mendesak orang-orang Kristen dari generasinya untuk "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus." (Kolose 4:2-4) Don McCurry dari Ministries to Muslims International memberi ilustrasi menarik dalam hubungan ini. Enam tahun yang lalu, ia mengunjungi Guinea di Afrika Barat. Sekou Toure, seorang pemimpin Marxis, baru saja mengusir semua utusan Injil kecuali dua orang yang tertinggal dan sibuk menyiksa para tahanan politik. Dua utusan Injil yang tertinggal, McCurry, dan 12 pendeta nasional bertemu untuk berdoa syafaat bagi negara itu.

Pertama-tama, mereka berdoa agar Allah menyingkirkan tirani Marxis yang telah menutup pintu bagi usaha-usaha misi, dan bagi suku-suku yang belum terjangkau oleh Injil. Kemudian mereka menaruh peta di seputar ruangan pertemuan, lalu bersama-sama meletakkan tangan pada daerah-daerah dan kelompok-kelompok dari negara yang belum memiliki orang Kristen. Mereka berdoa dan bersama-sama sepakat bagi suatu terobosan dan pendirian pelayanan Kristen di tempat-tempat tersebut. Dalam setahun, Sekou Toure tersingkir, digantikan oleh seorang pemimpin yang ramah, yang membuka pintu bagi misi. Saat ini, setiap orang dari kelompok-kelompok suku yang mereka doakan telah terlayani.

Sewaktu Jonathan Goforth berencana melancarkan suatu usaha baru di Provinsi Hunan Utara di Tiongkok, Hudson Taylor menuliskan kata-kata ini kepadanya, "Saudara, jika Anda harus memenangkan provinsi tersebut, Anda harus maju terus dengan menggunakan lutut Anda." Nasihatnya kini masih tetap berlaku. Tahun lalu, Allah membuka benteng-benteng anti Kristen di Rumania dan Albania. Dapatkah kita mengharapkan-Nya untuk melakukan hal yang sama dengan Mauritania, Maroko, Libya, Turki, atau Arab Saudi, jika umat Allah akan memusatkan doa-doa mereka pada tempat-tempat yang sulit ini?

Peperangan Rohani Menghancurkan Kendali dari Kuasa-Kuasa Kegelapan atas Kelompok-Kelompok Bangsa, Kota, dan Negara

Ada mata rantai yang perlu dihancurkan, jika pencapaian terhadap suku-suku yang belum terjangkau makin maju. Rantai-rantai dari kegelapan rohani dan perbudakan sering membelenggu suku-suku, kota-kota, dan negara-negara yang belum terjangkau, dengan penghulu-penghulu dan kuasa-kuasa yang berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwa umat manusia. Pada masa kini, dunia misi sedang mengalami suatu penemuan kembali, sehingga pokok persoalan dalam mencapai suku-suku yang belum terjangkau merupakan salah satu kuasa rohani. Sama seperti pada saat Allah menghadapi dewa-dewa Mesir atau Baal di Gunung Karmel, demikian juga kini pokok persoalan itu masih merupakan salah satu pertarungan kuasa antara Allah yang sejati dengan dewa-dewa palsu, makhluk-makhluk rohani yang memegang kekuasaan atas segmen-segmen manusia.

Peter Wagner dalam sebuah simposium tentang "penginjilan dengan kuasa" di Fuller Seminary menegaskan, "Setan mendelegasikan anggota-anggota yang berpangkat tinggi dari hierarki roh-roh jahat untuk mengendalikan wilayah-wilayah, bangsa-bangsa, kota-kota, kelompok-kelompok bangsa, lingkungan tetangga, dan jaringan-jaringan sosial lainnya di seluruh dunia. Penugasan mereka yang utama adalah untuk mencegah Allah dipermuliakan dalam wilayah mereka, yang mereka lakukan melalui mengarahkan kegiatan dari roh-roh jahat yang berpangkat rendah."

Efesus 6 menunjukkan bahwa semua orang Kristen terlibat dalam pertempuran yang tidak kelihatan dengan kuasa-kuasa kegelapan. Apalagi bagi kita yang terlibat dalam pencapaian suku-suku yang belum terjangkau sebagai utusan Injil, pendoa syafaat, atau ahli siasat. Paulus mengatakan perjuangan kita harus dilaksanakan melalui doa dalam Roh. Selain dari pedang Roh -- firman Allah, doa merupakan satu-satunya senjata penyerang yang tersedia bagi kita dalam peperangan kosmik. Jelaslah, jika kita bermaksud melihat terobosan-terobosan misi di kelompok-kelompok bangsa, kota, dan negara, kita perlu belajar bagaimana menggunakan senjata penyerang untuk mencabut kuasa-kuasa kegelapan. Sementara membahas penerimaan atau perlawanan dari kelompok-kelompok bangsa akan Kristus, Wagner menjelaskan pengertian tersirat ini, "Jika hipotesis yang berkenaan dengan roh-roh teritorial ini benar, dan jika kita dapat belajar bagaimana menghancurkan kendali mereka lewat kuasa Allah, sebenarnya posisi-posisi sumbu penerimaan-perlawanan dapat berubah dalam semalam" -- orang berubah, dari sikap melawan menjadi terbuka dan mudah menerima Kristus dalam waktu singkat.

Francis Frangipane, yang menulis tentang benteng-benteng yang dipertahankan kuasa-kuasa kegelapan di kelompok-kelompok bangsa, berbicara hal yang senada, "Ada benteng-benteng yang dipengaruhi setan yang memengaruhi sidang-sidang jemaat dan pribadi-pribadi di negara-negara dan komunitas-komunitas... Benteng-benteng ini berada di dalam pola-pola dan gagasan-gagasan pemikiran yang berpengaruh atas pribadi-pribadi, dan juga komunitas-komunitas serta bangsa-bangsa. Sebelum dapat menagih kemenangan, benteng-benteng ini harus dirobohkan, senjata yang dimiliki setan harus disingkirkan. Lalu senjata-senjata yang dahsyat dari firman dan Roh, dapat secara berhasil guna menjarah rumah yang dimiliki iblis."

Telaah-telaah tentang sistem kepercayaan kafir menyokong kenyataan dari lukisan makhluk-makhluk rohani yang digambarkan dalam Efesus 6, kitab Daniel, dan di tempat-tempat lain. Orang-orang Myanmar percaya pada makhluk-makhluk adikodrati yang disebut "Nets" yang disusun secara hierarkis dengan kendali atas fenomena alam, desa-desa, wilayah-wilayah, dan bangsa-bangsa. Hubungan makhluk-makhluk ini dipertahankan lewat tukang-tukang sihir atau media-media, sedikit-dikitnya salah satu ditemukan pada setiap desa. Di Muang Thai ada roh desa maupun roh wilayah -- roh desa merupakan bawahan dari roh wilayah. Tiang-tiang sering didirikan di desa-desa sebagai tempat tinggal bagi roh-roh pengawal mereka. Seorang utusan Injil CMA memberitahu saya tentang penindasan yang meningkat, dan kurangnya tanggapan rohani yang dihadapi oleh dia dan rekan sekerjanya dalam sebuah desa segera sesudah tiang ini didirikan. Seorang utusan Injil OMF berpendapat ia telah mengidentifikasikan penghulu utama nasional atas seluruh Muang Thai.

Di India telah ditemukan suatu kosmologi serupa, yang melibatkan roh-roh pengawal pada desa-desa dan tempat-tempat lainnya pada wilayah-wilayah. Mereka sering dihubungkan dengan penyakit, kematian, dan bencana yang tiba-tiba. Kali, dewi perusak, adalah dewa wilayah yang khusus dikenal di antara orang-orang Bengali dari Bengal Barat di Kalkuta. Setiap orang yang pernah di Kalkuta dapat melihat dampak yang menghancurkan kota itu dan rakyatnya yang diakibatkan oleh penyembahan kepada dewi tersebut. Para pekerja Kristen yang ada di sana, mengeluh atas penindasan yang berat dan perpecahan dalam jemaat. Cukup aneh, karena mereka masih belum pernah berkumpul bersama-sama berdoa bagi kota itu, dan mengambil tindakan ofensif terhadap kuasa-kuasa kegelapan. Sebuah buku tentang negara Zimbabwe di Afrika menyingkapkan bahwa setiap wilayah, kota, desa dianggap berada di bawah kendali roh-roh teritorial. Seorang pemimpin Sidang Jemaat Allah di Nigeria, yang dahulunya berpraktik okultisme tingkat tinggi sebelum bertobat, mengatakan, bahwa iblis menugaskannya mengendalikan 12 roh, setiap roh mengendalikan 600 setan. Ia menyaksikan, "Saya berhubungan dengan semua roh yang mengendalikan setiap kota di Nigeria, dan saya memiliki sebuah tempat keramat di semua kota besar."

Baru-baru ini dalam sebuah pertemuan dengan seorang penginjil Jepang dan beberapa utusan Injil untuk Jepang, saya terkejut menemukan betapa banyak orang Jepang yang masih terikat dengan okultisme. Kita dapat dibodohkan dengan teknologi tinggi, pandangan modern dari Jepang, lalu tidak menyadari bahwa banyak orang-orang Jepang masih menghadiri tempat-tempat keramat Shinto, sehingga setiap anak sekolah membawa sebuah jimat, atau imam-imam Shinto dipanggil untuk meresmikan setiap bangunan baru. Suatu fenomena berbahaya yang sedang kita hadapi di Barat, sebagai "yang menyalurkan" penyokong sekte Zaman Baru untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk roh, dengan demikian mendirikan kembali hubungan-hubungan dengan kuasa-kuasa kegelapan yang pada mulanya dihancurkan oleh penginjilan dan pengkristenan dari masyarakat Barat.

Masalahnya ialah kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa kita berada dalam suatu perang sungguh-sungguh, sehingga merasa tidak membutuhkan doa sebagai senjata strategis. John Piper, seorang pendeta di Minneapolis, menyatakannya demikian, "Masalahnya ialah bahwa kebanyakan dari kita sebenarnya tidak menyadari bahwa hidup adalah perang, dan bahwa musuh kita yang tidak kelihatan justru mengagumkan. Bagaimana Anda mengusahakan mereka untuk berdoa? Mereka akan berkata mereka memercayai kebenaran-kebenaran ini, tapi amatilah kehidupan mereka. Pada masa damai, mereka santai-santai saja dalam gereja tentang hal-hal rohani. Tidak ada bom yang berjatuhan, tidak ada peluru yang mendesing di atas kepala, tidak ada ranjau yang perlu dihindari, tidak ada raungan di cakrawala semuanya lancar di Amerika, Disneyland dari alam semesta. Jadi mengapa berdoa?"

Dalam Markus 3:27, Yesus mengatakan sesuatu yang relevan bagi kegiatan pencapaian suku-suku yang belum terjangkau, "Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu, barulah ia dapat merampok rumah itu." Hal itu menunjuk pada alasan bahwa kita sebagai utusan-utusan Injil, tidak dapat berhasil dalam memasuki dan merebut apa yang telah menjadi milik iblis selama berabad-abad -- bagian-bagian dari umat manusia di bawah penguasaannya -- tanpa mengikat roh-roh teritorial yang memiliki kendali yang didelegasikan di sana. Berdoa dalam Roh yang diinformasikan dengan fakta-fakta yang disingkapkan lewat penelitian, merupakan suatu kekuatan yang kuat dalam mengikat orang-orang kuat yang mengendalikan kota-kota, kelompok-kelompok bangsa, dan negeri-negeri. Buku karangan John Dawson mempertunjukkan bagaimana penelitian dapat menyingkapkan hubungan yang dimiliki sebuah komunitas dengan kuasa-kuasa kegelapan, dan doa yang dipersatukan dalam Roh dapat memutuskan hubungan itu.

Dalam Matius 18:18-19, Yesus memberikan sebuah jaminan yang menakjubkan bagi mereka yang berdoa dengan cara ini: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga." Peperangan rohani yang berhasil guna, terjadi ketika kita berdoa dalam persatuan dengan orang-orang lain. Ajaran ini memperlihatkan kepentingan dari kelompok-kelompok doa, di mana orang-orang memanjatkan doa-doa yang telah disepakati untuk kelompok-kelompok bangsa, kota, dan negeri tertentu secara mendalam.

Kata "mengikat" dalam bahasa Yunani untuk ayat-ayat ini berarti "merantai atau memenjarakan". Doa-doa dari umat Allah yang digabungkan bersama-sama, akan merantai dan membatasi kegiatan dari makhluk-makhluk roh yang memusuhi kemuliaan Allah dan perluasan kerajaan-Nya di bumi. Seperti yang dikemukakan rasul Paulus, "senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng." (2 Korintus 10:3-4)

Pengalaman dari Omar Cabrera, seorang pendeta-penginjil di Argentina, menggarisbawahi persenjataan yang mengagumkan yaitu doa dalam Roh dapat menggoyahkan kuasa kegelapan. Sejak beberapa tahun lalu, ia membiasakan untuk berdoa dan berpuasa selama beberapa hari, sebelum membuka suatu kampanye penginjilan di sebuah kota yang hendak dijangkaunya. Sering selama kurun waktu doa dan puasa tersebut, makhluk-makhluk roh akan datang melawannya, bahkan tampak dalam bentuk-bentuk yang aneh, untuk menggugat kehadiran dan rencananya menginjili kota itu. Mereka sering berkata, "Anda tidak berhak berada di sini. Ini adalah wilayahku." Cabrera menjawab, "Sebaliknya, Anda sama sekali tidak berhak berada di sini. Saya mengikatmu dalam otoritas dari Yesus Kristus, yang memiliki segala kuasa di surga dan di bumi." Segera roh itu mengungsi dari tempat kejadian, dan penguasa yang lebih tinggi sering akan muncul untuk melawan Cabrera. Dengan cara yang sama, lewat perjuangan dalam doa, Cabrera memutuskan pegangan dari makhluk tersebut yang sering ternyata merupakan roh dari sebuah guna-guna. Ketika orang kuat yang paling hebat diikat, suasana dari seluruh kota berubah -- sering dari satu perlawanan terhadap Injil, menjadi satu penerimaan luar biasa -- dengan ratusan dan ribuan orang yang datang pada Kristus, yang disertai dengan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat serta kesembuhan secara luar biasa. Dengan menggunakan pendekatan ini, Cabrera telah beralih dari pelayanan pada sebuah jemaat yang anggotanya kurang dari 20, menjadi seorang pendeta dari sebuah gereja terbesar ketiga di dunia beranggota lebih dari 140.000 orang.

Sekalipun pengalaman Cabrera nampaknya aneh bagi sebagian besar di antara kita, kita sebaiknya berusaha menerapkan apa yang telah dia dan banyak pekerja Kristen lainnya alami tentang doa, sebagai senjata dalam tugas pelayanan misi. Sewaktu saya melakukan perjalanan keliling menuntun konsultasi-konsultasi dan seminar-seminar tentang strategi misi bagi para pekerja Kristen nasional, pokok persoalan tentang peperangan rohani terus bermunculan. Keyakinan saya yang semakin bertumbuh ialah bahwa dalam banyak konteks perlawanan, kita dapat membuat siasat dan menginjili sampai kita babak belur dengan tiada hasil apa-apa, sampai kita mengenali dan mengikat orang kuat pada kelompok yang sedang dijangkau. Sebelum hal ini terjadi, kita tidak mungkin melihat banyak tanggapan. Mungkin orang-orang yang telah kita anggap "tertutup", sesungguhnya mereka tidaklah benar-benar tertutup, tetapi mereka sedang dalam cengkeraman roh yang menolak Kristus?

Arthur Matthews menulis tentang bebannya berdoa syafaat bagi dua daerah khusus di Asia Tenggara di mana para utusan Injil tidak mampu melakukan suatu kemajuan, "Dengan menegaskan posisi saya bersama Kristus di tempat-tempat yang sorgawi berdasarkan firman Allah, saya mengambil seluruh senjata Allah bagi saya, agar dapat bertahan melawan semua daya iblis dan menahan perlawanannya terhadap Injil." Loren Cunningham, Direktur Jendral dari Youth With A Mission (YWAM), memaparkan pengalamannya dalam berdoa dan berpuasa selama tiga hari bersama 12 rekan sekerja pada tahun 1973, sewaktu mereka berdoa, Tuhan menyatakan seharusnya mereka berdoa bagi tumbangnya "pangeran Yunani". Hari yang sama di Selandia Baru dan Eropa, kelompok-kelompok YWAM menerima perkataan yang mirip dari Allah. Tiga kelompok menaati dan melawan penghulu ini. Dalam 24 jam, sebuah kelompok politik mengubah pemerintahan Yunani, dengan membawa kebebasan yang lebih luas bagi kegiatan misi di negara itu.

Saya yakin jika tidak ada jaringan-jaringan doa muncul, yang memusatkan perhatian pada penginjilan dunia terhadap suku-suku, kota-kota, dan negara-negara yang belum terjangkau dengan Injil, maka semua usaha penginjilan hanya merupakan angan-angan. Pertempuran haruslah dimenangkan dalam alam rohani, jika para pekerja Kristen ingin menuai tuaian.

Disampaikan pada: International Society for Frontier Missiology, 13-15 September 1990

Diringkas dari:

Judul buku : Doa: Senjata Strategis dalam Mencapai Suku-suku yang belum Terjangkau
Judul artikel : Doa: Senjata Strategis dalam Mencapai Suku-suku yang belum Terjangkau
Penulis : John Robb
Halaman : 12 -- 21

e-JEMMi 40/2011

Dukungan Ketika Pulang (1)

Kepulangan merupakan pengalaman yang paling berat ketika berada lama di luar negeri. Ada masalah-masalah yang tidak diharapkan saat kepulangan.

"Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu." (Kisah Para Rasul 14:28)

Ayah saya adalah seorang utusan Injil. Saya dan saudara-saudari saya lahir di ladang misi. Ini menjadi kenangan hidup kami. Dengan penuh tanggung jawab, Ayah memimpin sebuah sekolah teologi sementara ibu mendampinginya dengan setia. Kami banyak dididik dengan melihat kehidupan praktis mereka, sebagaimana halnya yang diajarkan di kelas kami. Sepanjang tahun, mereka menghadapi berbagai macam tantangan yang merongrong para pekabar Injil. Setiap hambatan telah membawa mereka pada tingkat komitmen yang lebih kuat kepada Allah dan untuk melatih kepemimpinan nasional.

Ketegangan antara orang-orang Kristen nasional dan para pemimpin utusan Injil seringkali terjadi. Namun ayahku adalah seorang juru damai. Dia mampu berdiri di tengah-tengah isu budaya yang sensitif tersebut. Seringkali kami mengalami masa-masa kekurangan dana sehingga kami telah terlatih untuk "mengencangkan ikat pinggang" kami. Kekecewaan yang terjadi karena siswa-siswa 'unggulan' yang mengundurkan diri dari pelayanan Kristen hanya memperkuat keteguhan hati ayah untuk mencurahkan kehidupannya untuk orang lain.

Akan tetapi, tantangan terberat yang dihadapi oleh ayah dan ibu adalah saat penangkapan ayah dan ketidakpastian antara hidup dan mati saat terjadinya kudeta militer. Seperti film perang, tentara-tentara mendobrak rumah kami dan menyandera ayah. Mereka yakin bahwa ayah punya kontak rahasia dengan musuh-musuh mereka.

Setelah disekap selama 3 minggu, kudeta tersebut digagalkan. Ayah dibebaskan dan melanjutkan pekerjaannya di perguruan tinggi.

Kemudian pada suatu musim panas ketika kami, anak-anak mereka, telah dewasa dan beberapa dari kami telah menikah dan ada yang kembali bekerja di ladang misi, ayah memanggil kami semua untuk pertemuan keluarga. Karena undangannya yang singkat serta desakannya untuk kehadiran kami di sana, kami tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dalam ribuan tahun pun kami tidak akan pernah dapat membayangkan apa yang akan terjadi di pertemuan tersebut. Pertemuan keluarga itu singkat saja dan langsung pada pokok masalahnya. Pada intinya, ayah berkata, "Anak-anak, kalian perlu tahu ayah akan menceraikan ibumu. Ayah berencana menikahi Sue." Sue lebih muda dari saya! Dan selanjutnya, ayah berkata, "Ayah tidak begitu yakin lagi apakah Allah itu ada."

Dunia sekuler pun mengatakan bahwa kepulangan (kembali ke negara asal) merupakan bagian yang paling berat dari seluruh pengalaman orang yang tinggal di luar negeri, dan perasaan itu tidak seharusnya diacuhkan. Ada masalah-masalah yang tidak terduga saat kepulangan mereka. Anggota keluarga yang pernah hidup di lingkungan budaya lain perlu belajar cara mengatasi kesulitan-kesulitan di tempat pekerjaan, komunitas, dan lingkungan sekolah masa kini.

Menurut statistik Kristen, hampir 50 persen utusan Injil yang melakukan pelayanan pertama mereka kembali lebih awal atau tidak melayani lagi untuk masa pelayanan kedua. Orang-orang yang terluka ini perlu untuk mengidentifikasi dan memproses rasa sakit dan rasa marah dari sebuah kegagalan -- untuk mulai membangun kehidupan mereka kembali, agar mereka bertumbuh menuju keutuhan mental serta rohani.

Dalam seminar misi seorang pemimpin menekankan "Setiap kali saya mengajarkan suatu seminar mengenai kebutuhan yang drastis untuk menolong utusan Injil yang baru pulang, selalu ada beberapa utusan Injil yang datang kepada saya dan berkata, 'Saya merasa diri saya aneh. Namun saya tidak sanggup mengutarakan perasaan saya. Terima kasih Anda telah memberitahukan kepada saya bahwa wajar saja jika saya merasa sedikit tidak nyaman saat kembali.'"

Baru-baru ini, saat saya menyelesaikan satu sesi dari seminar mengenai kepulangan, seorang wanita di bagian depan mulai tersedu-sedu, kemudian menangis dengan tidak terkontrol. Akhirnya, dengan mencucurkan air mata, dia meratap, "Saya baru kembali dari Indonesia setelah berada di sana selama 3 bulan. Saya mengalami semua yang Anda katakan. Mohon, tolong saya!"

SITUASI KEPULANGAN

Pada saat seseorang pulang kembali ke negaranya akan ada 'kejutan' yang dirasakan. Gedung-gedung tua telah dihancurkan, gedung-gedung yang baru mengambil alih tempat mereka. Taman menjadi jalan raya. Kursi goyang nenek telah kosong. Utusan Injil tersebut mungkin sudah mendengar kabar tentang semua hal ini. Namun ketika ia sampai di rumah dan melihat sendiri semua itu, ia tersentak. Sama halnya dengan setruman listrik, faktor-raktor ini perlahan-lahan akan dapat dimengerti dan diterima.

'Perasaan tertekan' saat pulang merupakan isu yang lain. Ada kerenggangan mental pada saat ide dan ideal-ideal yang baru bercampur dengan yang lama. Ada tekanan rohani yang disebabkan oleh munculnya pikiran secara terus-menerus tentang dunia yang hilang dalam dosa dan pikiran bahwa kita tidak melakukan apa-apa terhadap kebutuhan tersebut.

Ada pula gaya tarik jasmaniah ketika para utusan Injil yang baru kembali disuguhi oleh orang-orang yang berniat baik dengan makanan yang sangat banyak. "Kamu kurus sekali! Ayo makan lagi!"

Ada perasaan yang janggal ketika dia mencoba membenarkan memakai baju-baju yang baru di lemarinya yang bernilai jutaan rupiah yang baru saja diberikan kepadanya, sementara beberapa hari sebelum dia meninggalkan tempat pelayanannya ada seorang teman menolak menerima sehelai baju pemberiannya dengan berkata, "Saya sudah punya satu baju ketika satu baju yang satu lagi saya cuci. Tiga baju akan sia-sia."

Ya, suasana rumah dengan orang-orang, tempat-tempat dan hal-hal yang erat dengan rumah sudah berubah. Secara dramatis, utusan Injil tersebut telah berubah secara sosial, emosional, mental, fisik, dan lebih dari yang lain adalah secara spiritual. Di antara sesama utusan Injil perubahan ini terjadi secara perlahan sehingga perubahan tersebut hampir tidak disadari. Tetapi ketika bertemu [dengan orang-orang di rumah], perubahan tersebut tampak drastis.

Tidak diragukan lagi, semakin lama utusan Injil tersebut telah pergi, semakin meningkat pula tekanan tersebut saat kepulangan mereka. Seluruh hidup Rasul Paulus diubahkan hanya dalam waktu beberapa menit dalam perjalanannya ke Damsyik!

Ada faktor lain yang perlu diperhitungkan dalam mendukung misionaris-misionaris yang baru kembali: penyangkalan. Beberapa pekerja Tuhan kemungkinan menyiapkan diri kembali ke tanah air dan menyangkal bahwa mereka tidak akan tertekan saat pulang. Beberapa memang melapisi diri mereka sendiri dengan pemikiran: "Tidak mungkin, itu tidak akan terjadi pada saya."

Penyangkalan bisa berarti bunuh diri, baik secara emosional, spiritual, dan mental. Secara literal pun, ada utusan Injil yang bunuh diri karena [tidak kuat menghadapi] kejutan dan tekanan yang dihadapi saat mereka pulang.

Seorang utusan Injil yang kembali barangkali berpikir, "Lihat saja, bagaimana mudahnya saya beradaptasi di ladang misi apalagi ini hanya masalah penyesuaian diri dengan kebudayaan sendiri. Tidak ada masalah. Saya hanya pulang ke rumah!"

Perhatikanlah kekeliruan-kekeliruan dalam pernyataan tersebut:

  1. proses adaptasi [ketika ia pertama melayani] mungkin tidaklah semudah yang ia pikir saat ini;

  2. sebelum ia pergi [bermisi] ia sudah mempersiapkan diri berbulan-bulan (bahkan bertahun-tahun) untuk menyesuaikan diri;

  3. orang-orang yang ia layani mungkin sudah terbiasa dengan budaya Amerika [jika utusan Injilnya dari Amerika], dan tahu cara membantunya beradaptasi. Di berbagai budaya, orang-orang cenderung baik, tidak menuntut, dan pemaaf terhadap utusan Injil.

Tidak ada satu pun dari faktor-faktor tersebut yang akan membantunya ketika ia kembali. Mungkin teman-temannya yang tidak peka menggemakan kata-kata yang sama, "Apa masalahnya? Dia kan hanya pulang kampung!" Karena sebagian besar mereka tidak pernah keluar dari zona kenyamanan mereka, mereka sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang telah dijalani utusan Injil tersebut untuk hidup dan melayani di tengah-tengah kebudayaan yang berbeda. Banyak pendukung menganggap bahwa kepulangan pada dasarnya bukanlah suatu masalah.

Kesadaran terhadap faktor-faktor ini dapat mempersiapkan Anda untuk menjadi teman yang mendukung dalam proses "kembali ke negara asal" tersebut.

TANTANGAN SAAT PULANG

Sebagai teman yang mendukung utusan Injil yang baru pulang, Anda perlu membuka mata dan telinga Anda terhadap tanda-tanda 'kejutan budaya balik'. Seorang pekerja yang baru kembali dari ladang pelayanan adalah orang yang paling tidak siap menghadapi adanya perubahan situasi dan keadaan. Dia mengetahui ada sesuatu yang tidak beres! Perasaan kesepian, perasaan kecewa dan diabaikan, perasaan terisolasi dan tidak dibutuhkan, dan segala sesuatu di sekitarnya yang berjalan sangat cepat -- semuanya itu bisa membuat ia berteriak dalam hati, "Jangan cepat-cepat! Jangan cepat-cepat!" Tapi tetap saja keadaan tidak bisa menjadi lebih lambat.

Anda harus mengambil inisiatif. Anda harus menjadi unit pertolongan pertama untuk utusan Injil yang baru pulang [di gereja Anda].

Seorang utusan Injil yang baru pulang akan mengalami satu atau lebih dari delapan tantangan di bawah ini. (Kita akan membahas tiga yang pertama, sementara sisanya akan dibahas pada edisi berikutnya)

  1. Bidang Profesional. Setelah berpetualangan di luar negeri dan kembali ke pekerjaan lamanya, seorang utusan Injil bisa merasa bosan. Kemungkinan besar ia akan merasa bahwa kemampuan dan pengalamannya akan tidak terpakai. Ia juga mungkin akan merasa kehilangan kebebasan.
  2. Bidang Material-Finansial. Saat para utusan Injil kembali, kemungkinan masalah finansial akan menimbulkan rasa tertekan. Kesenjangan kekayaan dapat menyebabkan stres bahkan sebelum utusan Injil tersebut berangkat. Dan anak-anak sama rentannya dengan orang dewasa.
  3. Bidang Kebudayaan
  4. Bidang Sosial
  5. Bidang Bahasa
  6. Bidang Politik Nasional
  7. Bidang Pendidikan
  8. Bidang Spiritual-Kerohanian

Bidang Profesional

Setelah berpetualangan di luar negeri dan kembali ke pekerjaan lamanya, dia bisa merasa bosan. Sama halnya dengan itu, ia juga dapat mengalami sindrom "ikan besar dalam kolam yang kecil" [pada saat ia bermisi]. Sesudah pulang, tiba-tiba dia menjadi seekor ikan kecil dalam suatu kolam yang jauh lebih besar! Ia akan meratap, "Oh, pelita kesaksianku bersinar jauh lebih terang ketika aku berada di tempat yang gelap di luar sana!"

Kemungkinan besar utusan Injil ini akan merasa bahwa kemampuan dan pengalaman yang telah ia peroleh selama bekerja di ladang Tuhan akan tidak terpakai. Ia juga mungkin merasa kehilangan kebebasan karena mereka bekerja di bawah orang lain dan terus-menerus diperhatikan. Ada kalanya perasaan lama [duniawi] untuk bekerja mati-matian untuk mengejar sesuatu yang sia-sia kembali menghantuinya.

Pada beberapa bidang pekerjaan, jika tidak bekerja selama setahun hingga 2 tahun maka ia akan kehilangan pekerjaan lama tersebut.

Seorang wanita yang bekerja di bidang komputer menyadari hal ini ketika ia sedang masuk ke tahap pelatihan utusan Injil sebelum dia dikirim bermisi paruh waktu. Dengan membantunya mengatasi stres yang akan terjadi tersebut sebelum ia pergi akan membuat proses kepulangannya lebih mudah untuknya. Setelah ia pulang, ia berkata, "Saya tidak akan bekerja lagi di bidang komputer. Saya saat ini bekerja di rumah perawatan. Saya melihat [pekerjaan saya] sekarang sebagai pelayanan, dan pelatihan medis yang saya dapatkan akan membukakan kesempatan-kesempatan baru bagi saya untuk pergi melayani di ladang-ladang yang memerlukan pekerja [yang menguasai medis]."

Masalah Finansial

Di negara Barat, biaya hidup yang diperlukan biasanya jauh lebih mahal [dibanding dengan negara berkembang yang biasa menjadi tujuan misi]. Hal itu tidak serta-merta berarti bahwa utusan Injil tersebut menghamburkan lebih banyak uang untuk barang-barang yang lain dibanding dengan orang-orang di negara yang ia layani.

Saat para utusan Injil kembali, kemungkinan masalah finansial akan menimbulkan rasa tertekan! Ketika mereka melihat anak-anak remaja yang punya rak yang penuh dengan baju menangis, "Saya tidak punya baju untuk dipakai!" ia teringat dengan waktu yang dihabiskannya untuk mengemis kepada "orang-orang di rumah" beberapa puluh ribu rupiah untuk memberi makan dan pakaian kepada anak-anak di sekitar tempat pelayanannya.

Seorang utusan Injil yang baru kembali berkata, "Kekayaan negara ini sangat sulit untuk dikelola, namun kekayaan gereja jauh lebih sulit lagi untuk saya hadapi." Utusan Injil lain berkata, "Ada suatu peristiwa yang terjadi pada istriku. Beberapa bulan setelah kami kembali dari Mozambik, dia sedang berjalan dengan santai di sebuah supermarket, memilih ini dan itu secara bijaksana. Tiba- tiba, sebuah perasaan mencekam yang kuat menggerogotinya. Ia mulai berpikir, "Terlalu banyak pilihan! Terlalu banyak pilihan! Saya harus keluar dari sini!" Dia meninggalkan kereta belanjanya yang separuh penuh, berjalan cepat ke mobilnya dan pulang ke rumah!"

Seorang utusan Injil yang lain menceritakan pengalamannya, "Di Brasil, karena berbagai kondisi ekonomi dan kehidupan, kami tidak pernah berpikir tentang 'kepemilikan pribadi'. Ketika kami tiba di rumah, saya mulai bekerja dengan rekan sepelayanan yang menggunakan sebuah pulpen Bic yang ujungnya tajam. Ketika kami pergi [ke Brasil] dulu belum ada pena semacam itu di pasaran. Ia meminjamkannya kepadaku. Saya berkata kepadanya bahwa saya suka pena tersebut dan bahwa tulisan saya menjadi bagus. Pada hari berikutnya ia 'memberikan' sebuah pena seperti kepunyaannya itu kepadaku. 'Nih, untukmu.' Selama beberapa hari berikutnya, saya sebentar-sebentar akan berhenti sejenak dan mengamati 'harta' seharga 4.900 perak tersebut. 'Pena ini milikku! Pena ini benar- benar milikku!'"

Anda mungkin akan berkata, "Ah, ada-ada saja!" Ya, tapi inilah sebuah contoh nyata dari kejutan budaya balik.

Kesenjangan kekayaan dapat menyebabkan stres bahkan sebelum utusan Injil tersebut berangkat. Dan anak-anak sama rentannya dengan orang dewasa.

Bill dan Alice pernah menjadi orangtua asuh bagi organisasi Penerjemah Alkitab Wycliffe di rumah untuk anak-anak di bagian utara Filipina. Anak mereka, William, sempat menghabiskan waktunya selama seminggu bersama suku asli di pedalaman.

Sekembalinya mereka ke kantor pusat Wycliffe, Alice memerhatikan William melihat-lihat ke dalam lemari pakaiannya, dan ia menangis. Dengan berpikir bahwa mungkin William sedih karena baju yang ia miliki tidak sebanyak yang ia miliki saat di Amerika, Alice menghampiri William lalu berusaha menghiburnya. Setelah beberapa kali menolak untuk dihiburkan, William berkata, "Tidak Mama, aku sedih karena aku punya 'sangat banyak' dibanding dengan teman-teman baruku di pedalaman."

Masalah Kebudayaan

Kepercayaan, nilai, sikap, dan kebiasaan-kebiasaan yang baru [diperoleh dari ladang misi] telah menjadi sebuah bagian dari kehidupan utusan Injil yang baru kembali. Mungkin ia telah beradaptasi terhadap kebudayaan dengan tempo kehidupan yang lambat, dengan suasana yang lebih santai, perhatian kepada teman dan relasi, makanan yang lebih berbumbu, serta tidur siang....

Utusan Injil tersebut mungkin berusaha untuk mempertahankan kebiasaan-kebiasaan barunya tersebut sedapat mungkin. Ketika jadwal baru dan sikap-sikap orang terhadapnya tidak memungkinkannya untuk melakukan kebiasaan-kebiasaannya tersebut, ia akan merasa tidak senang dan 'tertekan'!

Salah satu harapan utama dari kebanyakan utusan Injil yang baru pulang adalah orang-orang akan tertarik untuk mendengar pengalaman mereka.

"Ketika kami diundang ke rumah seseorang untuk makan malam," seorang misionari yang baru pulang menulis surat, "Kami menduga akan diminta untuk menceritakan pengalaman misi kami yang menarik. Usai makan malam yang lezat, kami diarahkan ke ruangan keluarga. Saya berpikir, 'Sekarang kesempatan kami'. Tetapi ketika sang tuan rumah menyalakan televisi, ia berkata, 'Ayo, saya yakin kamu akan menikmati menonton sepak bola dari TV layar lebar 29 inci kami!' Perkataan itu amat menghancurkan saya!"

Berbeda sekali kisah yang diceritakan tentang gereja di Antiokhia yang menyambut para pionir utusan Injil mereka yang letih karena perjalanan. "Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan. Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman." (Kisah Para Rasul 14:26-27).

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Melayani Sebagai Pengutus
Judul buku asli : Serving as Senders
Penulis : Neal Pirolo
Penerjemah : Tim OM Indonesia, Lazarus Toenlioe (koord.)
Penerbit : OM Indonesia
Halaman : 127 -- 136

Diterjemahkan ulang dari:

Judul buku : Serving as Senders
Penulis : Neal Pirolo
Penerbit : Operation Mobilization Literature Ministry,
Waynesboro, GA 30830, 1991
Halaman : 135 -- 142

e-JEMMi 36/2010



Dukungan Ketika Pulang (2)

Seorang utusan Injil yang baru pulang dari luar negeri akan mengalami satu atau lebih dari delapan tantangan di bawah ini. (Tiga yang pertama telah dibahas di edisi sebelumnya)

1. Bidang Profesional

Setelah berpetualang di luar negeri dan kembali ke pekerjaan lamanya, seorang utusan Injil bisa merasa bosan. Kemungkinan besar ia akan merasa bahwa kemampuan dan pengalamannya akan tidak terpakai. Ia juga mungkin akan merasa kehilangan kebebasan.

2. Bidang Material-Finansial

Saat para utusan Injil kembali, kemungkinan masalah finansial akan menimbulkan rasa tertekan. Kesenjangan kekayaan dapat menyebabkan stres bahkan sebelum utusan Injil tersebut berangkat. Dan anak-anak sama rentannya dengan orang dewasa.

3. Bidang Kebudayaan

Utusan Injil mungkin berusaha untuk mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baru yang ia dapatkan. Ketika jadwal baru dan sikap-sikap orang terhadapnya tidak memungkinkannya untuk melakukan kebiasaan-kebiasaannya tersebut, ia dapat merasa tidak senang dan tertekan.

4. Bidang Sosial

Ketika seorang utusan Injil pergi ke luar negeri, teman-teman lamanya segera sibuk dengan hal-hal yang lain. Anak-anak teman lamanya telah menemukan teman-teman yang baru. Saudara-saudaranya mungkin telah pindah. Ikatan-ikatan sosial mungkin putus seiring dengan waktu.

5. Bidang Bahasa

Utusan Injil yang mempelajari bahasa asing mungkin ingin mengungkapkan sesuatu yang hanya ada dalam bahasa lain tersebut, atau mungkin ia "lupa" beberapa kosakata bahasa ibunya, atau mungkin ia secara otomatis menjawab dalam bahasa lain yang tidak dimengerti pendengarnya. Bahkan, mungkin ia tidak mengerti lagi bahasa ibunya sendiri yang sudah berubah.

6. Bidang Nasional dan Politik

Keindahan alam negara lain, keunggulan teknologi negara-negara maju, sistem transportasi massal yang modern mungkin akan membuat sebagian dari utusan Injil minder. Pandangan politik seorang utusan Injil terhadap negaranya sendiri juga mungkin dapat berubah yang dipengaruhi oleh pemberitaan di negara tempat ia melayani.

7. Bidang Pendidikan Anak

Biasanya, anak-anak dari keluarga utusan Injil menjadi korban dalam hal mengikuti pendidikan formal maupun nonformal. Mereka dapat merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar yang baru. Mereka juga dapat merasa tertekan dan sendirian.

8. Bidang Spiritual-Kerohanian

Seorang utusan Injil hidupnya telah dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan dan pemuridan kepada bangsa-bangsa. Ia akan teringat kepada tangisan para janda, para yatim, orang-orang yang sesat dan terhilang. Ia merasa sakit bagi ratusan orang yang ia tinggalkan yang membutuhkan firman Tuhan

Masing-masing dari bidang-bidang ini, mulai dari bidang profesional hingga spiritual, merupakan titik-titik stres yang membutuhkan dukungan dari Anda sebagai tim pendukung utusan Injil yang baru pulang.

Bidang Sosial

Banyak orang [di lingkungan asal utusan Injil] memandang para utusan Injil seakan-akan mereka adalah malaikat. Mereka dipandang tinggi seolah-olah tepat di samping Allah sendiri.

"Bagaimana pembicaraan kita dapat bersambungan dengan seseorang yang telah menjadi utusan Injil?" orang-orang berpikir. "Apa yang harus kita bicarakan dengan mereka?"

Beberapa orang mungkin takut kalau-kalau utusan Injil memiliki penyakit menular. "Jika saya mengajak mereka untuk makan malam, mungkinkah anak-anakku akan terjangkit penyakit aneh?" Atau lebih parah lagi! "Apa jadinya jika mereka menularkan semangat misi mereka kepada saya!"

Bagi seorang utusan Injil yang kembali ke daerah asalnya, semua orang sepertinya sibuk kian-kemari.

Seorang asing yang berkunjung ke Amerika Serikat mengemukakan pengamatannya, "Di AS, setiap orang memunyai jam tangan, tetapi tidak setiap orang memunyai waktu. Di negara kami, tidak setiap orang memiliki jam tangan, tetapi setiap orang memunyai waktu."

Ketika seorang utusan Injil pergi ke luar negeri, teman-teman lamanya segera sibuk dengan hal-hal yang lain. Anak-anak teman lamanya telah menemukan teman-teman yang baru. Saudara-saudaranya mungkin telah pindah. Ikatan-ikatan sosial mungkin putus seiring dengan waktu.

Jika komunikasi antara utusan Injil dengan gerejanya tidak berlangsung dengan baik, atau gereja itu sangat besar dan jemaatnya sangat banyak, maka utusan Injil tersebut bisa jadi tidak akan diingat-ingat!

Seorang utusan Injil yang baru saja kembali dari ladang misi yang berbuah lebat di Eropa setelah dua tahun disambut oleh pendeta misinya, "Halo Sally! Bagaimana [liburanmu ke] Hawaii?"

Seorang utusan Injil yang lain yang melayani dalam sebuah pelayanan misi jangka pendek baru kembali dari pelayanannya selama 5 minggu ketika ia disambut di gerejanya, "Bill! Kau telah kembali! Kami pikir engkau baru mengalami kemunduran." Ucapan itu merupakan sebuah pukulan bagi utusan Injil tersebut, karena hal itu berarti bahwa ia tidak pernah didoakan ketika ia pergi bermisi!

Ada situasi-situasi nyata tertentu yang dapat menimbulkan stres, tetapi ada juga situasi-situasi yang tidak nyata yang juga sama-sama dapat menyebabkan perasaan tertekan.

Ada sebuah keluarga [utusan Injil] yang baru saja pulang kembali ke rumah dan pergi ke gereja. Gereja mereka selama ini terus diberi kabar tentang perkembangan pelayanan misi mereka. Sang suami berkata, "Temanku yang paling akrab melewatiku tanpa mengucapkan salam, seakan-akan aku baru kembali dari liburan akhir pekan. Saya benar-benar tidak habis pikir! Pikiranku benar-benar kacau!"

Temannya tidak bermaksud jahat. Namun penolakan, baik nyata ataupun hanya dalam bayangan saja, memiliki dampak yang sama-sama merugikan.

Bidang Bahasa

Para utusan Injil yang baru pulang dari ladang misi mungkin telah mempelajari bahasa asing, atau paling tidak beberapa kalimat dalam bahasa lain. Mungkin ia ingin mengungkapkan sesuatu yang hanya ada dalam bahasa lain tersebut, yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Stres! Mungkin ia "lupa" beberapa kosakata bahasa ibunya sehingga tuturnya ditertawakan atau terdengar aneh oleh pendengarnya. Stres! Mungkin ia secara otomatis menjawab dalam bahasa lain yang tidak dimengerti pendengarnya. Stres!

Lebih jauh lagi, bahasa gaul atau bahasa prokem [yang dulu digunakannya] juga mungkin sudah berubah. Anak-anak remaja keluarga utusan Injil yang baru pulang mungkin mengalami stres saat berkomunikasi dengan teman-teman mereka. Stres yang timbul mungkin malah disebabkan karena tidak mengerti bahasa ibu sendiri!

Bidang Nasional dan Politik

Ketika ada pergantian kekuasaan di pemerintah, hukum-hukum yang baru mungkin akan muncul. Peraturan tentang kecepatan mengemudi di jalan raya mungkin akan membuat sebagian utusan Injil stres. Keindahan alam negara lain, keunggulan teknologi negara-negara maju, sistem transportasi massal yang modern mungkin akan membuat sebagian dari mereka minder. Stres!

Setelah melihat politik luar negeri negara sendiri dari kacamata negara lain, pandangan politik seorang utusan Injil terhadap negaranya sendiri mungkin dapat terpengaruh. Ia mungkin akan lebih menyukai negara tempat ia melayani daripada negaranya sendiri. Pemerintah negara tempat ia melayani mungkin terasa lebih memerhatikan keselamatan rakyatnya daripada pemerintahnya sendiri. Saat seorang utusan Injil pulang dan membaca kolom redaksi surat kabar tentang masalah-masalah di dalam lingkungan masyarakatnya sendiri, mungkin ia akan dihadapkan dengan stres!

Bayangkanlah, betapa repotnya para utusan Injil yang baru kembali dari negara lain. Mereka mungkin akan mengalami kesulitan dalam pembuatan KTP, SIM, dan akta lahir anak-anak mereka yang lahir di ladang misi. Biasanya, mereka akan mengalami kesulitan ketika berurusan di kantor imigrasi, kantor catatan sipil, kantor kelurahan, atau mungkin di kantor polisi.

Untuk itu, Anda sebagai spesialis pendukung utusan Injil yang baru pulang harus membuka mata dan telinga untuk melihat dan mendengarkan kebutuhan dan keluhan-keluhan mereka.

Bidang Pendidikan Anak

Biasanya, anak-anak dari keluarga utusan Injil menjadi korban dalam hal mengikuti pendidikan formal maupun nonformal. Mungkin mereka kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar yang baru.

Standar pendidikan di dunia berbeda-beda. Anak-anak utusan Injil mungkin dididik sendiri oleh orangtua mereka di rumah, atau orangtua mereka mungkin mengirimkan mereka ke sekolah privat. Ketika anak-anak mereka harus bersekolah di sekolah publik, wajar saja jika orangtua mereka merasa khawatir. Anak-anak tersebut juga dapat merasa bahwa mereka berada dalam situasi yang tidak menguntungkan dalam bidang pendidikan maupun sosial.

Kebanyakan dari mereka tidak terbiasa dalam kelas yang begitu padat. Hal ini mengakibatkan mereka merasa rendah diri dan sulit bergaul dalam kelas yang penuh murid. Belum lagi jika mereka mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-teman sekelas mereka karena terlihat berbeda dari kebanyakan murid yang lain. Mereka merasa tertekan dan merasa sendirian.

Seorang putri utusan Injil yang baru pulang dari ladang misi masuk ke kelas 7 di sebuah SMP di Amerika Serikat. Ia menuliskan tentang hari pertamanya, "Kami mengelilingi bangunan sebesar monster dari kayu dan batu ini. Kami maju ke depan, terbawa arus menuju ke mulutnya. Aku berhenti sebentar di tengah-tengah pintu.... Aku sekarang berada di dalam tenggorokan monster tersebut. Aku merasa tenggelam, terus turun ke bawah. Aku ditelan monster! Suaranya seperti guruh.... Aku sendirian di tengah-tengah kegelapan mimpi buruk itu."

Bidang Spiritual-Kerohanian

Seorang utusan Injil hidupnya telah dipenuhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan dan pemuridan kepada bangsa-bangsa. Mereka telah merasakan detak jantung Allah di hatinya "Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9b) Ia telah membuang segala perkara yang berhubungan dengan dunia ini supaya ia dapat "memuaskan hati Dia yang mencantumkan nama[nya] di dalam pasukan-Nya" (2 Timotius 2:4, FAYH) Ia teringat akan tangisan para janda, para yatim, orang-orang yang sesat dan terhilang.

Dan saat ini, sangat kontras dengan kehidupan pelayanannya, tuntutan-tuntutan dari "masyarakat Kristen tak bertuhan" menekannya dari segala arah. Mungkin ia menikmati kenyamanan yang ia peroleh di rumahnya, tapi di balik itu hal-hal tersebut menciptakan perasaan-perasaan marah, bersalah, dan menghakimi. Ia tidak hanya merasa sakit untuk dirinya sendiri, namun juga bagi ratusan orang yang ia tinggalkan di negara tempat pelayanannya yang membutuhkan makanan dan perhatian dan Alkitab dan musik kristiani dan pembelajaran Alkitab dan ratusan hal lainnya yang saat itu ia dapat nikmati dengan bebas.

POLA KEBIASAAN UTUSAN INJIL YANG BARU KEMBALI DARI LADANG MISI

Secara umum ada empat pola kebiasaan yang diperlihatkan oleh utusan Injil yang baru pulang dari ladang misi kepada teman-teman mereka.

  1. Alienasi -- Keterasingan di Negara Sendiri
  2. Kondemnasi -- Suka Menghakimi
  3. Reversi -- Perlu Perbaikan
  4. Mencari Jalan Keluar Terakhir

Empat pola tersebut bisa sangat merusak. Anda perlu waspada terhadap gejala-gejalanya dan menolong teman Anda memproses dan mengekspresikan perasaannya.

Keterasingan di Negara Sendiri

Utusan Injil yang pulang ke rumah dengan sikap, "Saya pulang ke rumah sendiri, tentunya tidak sulit untuk menyesuaikan diri," membuatnya rawan menghadapi permasalahan yang akan dihadapinya. Ia mulai memunyai penilaian negatif tentang kebudayaannya sendiri. Ketika ia tidak mampu mengatasi perasaan tersebut, ia mulai menarik diri.

Ia membuat alasan-alasan untuk tidak menemui orang. "Oh, saya masih belum mempersiapkan presentasi saya," sehingga ia tidak dapat membagikan pelayannya kepada kelompok persekutuannya." [Saya tidak mau pergi karena] tempat itu terlalu ramai," ia membuat alasan. Tiga minggu setelah pulang ia 'masih' merasakan "jet lag". Ini adalah simtom-simtom yang harus Anda waspadai. Alasan-alasan tersebut adalah alasan-alasan dangkal untuk menyembunyikan perasaan batinnya.

Ia dapat termakan oleh perasaan-perasaan ini dan tenggelam lebih dalam lagi ke dalam jurang alienasi. Ia mungkin merasa bahwa ia tidak memunyai siapa-siapa untuk diajak berbicara, tidak ada siapa pun yang dapat memahaminya, dan tidak ada siapa pun untuk membantunya memproses pikirannya.

Sebagai tim pendukung, Anda dapat menariknya dari jurang alienasi dengan mengundangnya ke rumah Anda. Mulailah dengan dua atau tiga orang, jangan terlalu banyak. Atau pergi bersamanya ke tempat-tempat rekreasi kesenangannya, misalnya ke taman, pantai, atau restoran. Jika ia menolak semuanya itu, paksalah! Datanglah ke rumahnya dan doronglah dia sekuat tenaga untuk bersekutu bersama! Ajaklah ia berbicara mengenai apa saja, sehingga ia mau memulai mengungkapkan perasaan dan pikiran-pikirannya.

Suka Menghakimi

Utusan Injil ini juga punya pemikiran negatif mengenai kebudayaannya sendiri. Lingkup tantangan kelihatannya sangat besar. Dia tidak menyadari sebelumnya bahwa orang-orang di sekitarnya begitu cuek. Dia tidak habis pikir mengapa pendetanya tidak punya cukup waktu untuknya. Bagaimana mungkin mereka menjadi begitu a-Kristiani! Ia menjadi orang yang meledak-ledak. Semua orang yang ia lihat mengetahui betapa miskin karunia rohani dan inferiornya mereka -- begitu pikirnya -- karena mereka tidak terlibat dalam pelayanan misi. Ia mulai menghakimi dan mengkritisi segala hal mulai dari letak kursi gereja hingga potongan rambut baru jemaat.

Terus teranglah dengan sikapnya yang menghakimi tersebut. Mungkin Anda dapat berkata, "Saya berdiri di atas kebenaran Kristus. Di atas kebenaran apa kamu berdiri?" Lalu biarkanlah ia berbicara kepada Anda. Ia juga perlu untuk mengungkapkan rasa frustrasinya dalam suatu suasana persahabatan. Jangan menunggu sampai ia memuntahkan frustrasinya di tengah-tengah khotbah hari Minggu.

Perlu Perbaikan

Utusan Injil ini begitu turun dari pesawat tiba-tiba menyadari bahwa orang-orang telah berubah. Namun ia tetap berusaha menyangkali bahwa telah terjadi perubahan vital selama kepergiannya, atau perubahan pada orang-orang yang tidak ikut pergi. Ia tetap berusaha untuk terlibat seperti sebelumnya walaupun sebenarnya kondisinya sudah tidak sama lagi dengan sebelumnya.

Orang ini kemungkinan besar akan menerima apa pun tugas yang diberikan kepadanya. Dan teman-temannya yang tidak tahu, secara tidak sadar telah masuk ke dalam dilema ini: "Senang sekali kamu kembali. Kami butuh guru untuk kelas enam!" "OK! Kapan mulainya?" Penyambut jemaat? "Akan saya lakukan!" Memimpin pujian pada hari Rabu? "Pasti!"

Suatu pagi, ia akan bangun dan meragukan kewarasannya. Ia tidak menyadari bahwa ia telah masuk ke jalan tol kegiatan-kegiatan gerejawi tanpa terlebih dahulu memproses perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh, jiwa, dan rohnya.

Mencari Jalan Keluar Terakhir

Alienasi, kondemnasi, atau reversi akhirnya dapat menyebabkan seorang utusan Injil mengambil skenario 'jalan keluar terakhir' yang mengerikan: bunuh diri, baik secara figuratif maupun nyata.

Seorang utusan Injil pergi untuk hidup dan melayani di kebudayaan lain. Ia mendapatkan pengalaman yang mengesankan. Ia telah mempelajari bahasa baru, menjalin hubungan baru, memenangkan jiwa-jiwa baru, dan memperkuat Gereja Tuhan. Lalu ia kembali.

Ia tidak pernah dipersiapkan untuk menghadapi perubahan-perubahan di rumah. Ia mencoba untuk menanggulangi segala rasa frustrasi dalam dirinya. Alienasi berbisik, "Tidak ada seorang pun yang peduli atau mengerti. Abaikan mereka!" Suara hati berargumentasi, "Tidak, saya harus keluar dan membagikan visi ini kepada dunia di antara orang-orang segereja." Kondemnasi menjawab, "Tapi mereka begitu tak bertuhan!" Suara hati berteriak, "Ini tidak membawa saya ke mana pun!". Revisi berkata, "Baik, lupakan saja. Kita sudah kembali di rumah. Tidak masalah!"

Angin puyuh emosi menghempas orang ini dan ia hancur. Ia mundur dari segala bidang kehidupan -- spiritual, mental, emosional, -- atau mendapatkan bahwa 'jalan keluar terakhir' merupakan alternatif satu-satunya.

Membantu Utusan Injil yang Jatuh

Jika Anda melihat teman Anda yang baru kembali tersebut jatuh ke dalam salah satu dari keempat pola kebiasaan ini, pertolongan Anda sangatlah dibutuhkan!

Pertolongan tercepat yang dapat Anda berikan adalah mendengar! Ambil waktu untuk mendengar suara hati mereka; untuk berbagi pengalaman dengan mereka, untuk peduli tentang perasaan-perasaan mereka dan beban-beban mereka, presentasi mereka; untuk berada di sana saat mereka membutuhkan seseorang untuk berbicara dan tertawa dan menangis bersama.

Biarkan teman Anda berkata tentang apa pun dalam kepercayaan persahabatan Anda. Jangan menyelipkan kata, "Ya, saya tahu. Ya, saya mengerti." Sebaiknya jangan Anda lakukan! Biarkan saja dia bicara. Doronglah mereka untuk terus berbicara dengan pertanyaan penuntun untuk menjelaskan sesuatu yang ia singgung. Seringlah bertanya, "Bagaimana perasaanmu saat hal itu terjadi?" Pertegas dengan, "Itu pasti sangat berat/menyakitkan/mengasyikan/dsb.."

Ketika ia telah stabil dan pulih kembali, Anda dapat menolongnya untuk melewati tahap-tahap pemulihan dari empat masalah di atas dan Andalah fasilitator untuk memulihkan perasaannya melalui pengekspresian yang benar.

Diambil dan disunting dari:

Diterjemahkan ulang dari:

Judul buku : Melayani Sebagai Pengutus
Judul buku asli : Serving as Senders
Penulis : Neal Pirolo
Penerjemah : Tim OM Indonesia, Lazarus Toenlioe (koord.)
Penerbit : OM Indonesia
Halaman : 136 -- 145

e-JEMMi 37/2010



Judul buku : Serving as Senders
Penulis : Neal Pirolo
Penerbit : Operation Mobilization Literature
Ministry, Waynesboro, GA 30830, 1991
Halaman : 142 -- 152

Dukungan Moral Misi

Dukungan moral merupakan hal yang paling mendasar dari sistem dukungan. Setiap orang bisa mengambil bagian dalam pelayanan ini. Karena konsep yang paling mendasar, cukup dengan mengatakan, "Allah memberkati Anda. Kami sungguh bangga dengan petualangan misionaris yang Anda lakukan!" Apakah orang-orang besar dalam Alkitab membutuhkan dukungan moral? Baiklah, kita melihat beberapa contoh.

Daud Menemukan Kekuatannya dalam Allah

Ketujuh anak laki-laki Isai telah ditolak oleh Allah; "Karena, Tuhan melihat tidak seperti yang dilihat manusia. Sebab, manusia melihat penampilan bagian luarnya, sedangkan Tuhan memandang hatinya." Isai masih memiliki seorang anak laki-laki bungsu. Seorang anak yang masih remaja. Mereka membawa dia dari padang, tempat ia menggembalakan domba ayahnya. Dan, Tuhan berfirman, "Bangunlah, urapilah dia, karena inilah dia!" Maka, Roh Allah menyertai Daud sejak hari ia diurapi.

Melalui pertempuran melawan Goliat, pergumulan menghadapi kecemburuan Raja Saul, melewati peperangan yang penuh risiko selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun menjadi buronan, dikejar-kejar oleh seorang raja yang diganggu oleh roh jahat, serta melewati konflik dalam membangun kekuasaannya dengan enam ratus orang prajurit yang kejam dan tak mengenal belas kasihan, Roh Tuhan masih berpihak dan berada dalam diri Daud. Sementara orang-orang Filistin bersatu melawan Israel, Daud dan orang-orangnya berada di pihak orang-orang Filistin. Tapi, ketidakpercayaan terhadap orang-orang Ibrani itu mengganggu pikiran orang-orang Filistin. Daud bersama orang-orangnya disuruh kembali ke Ziklag hanya untuk mendapati bahwa orang-orang Amalek telah menyerang dari Selatan, membakar kota, dan membawa pergi istri dan anak-anak mereka. Mereka menangis hingga tak mampu lagi untuk menangis. Daud sangat tertekan, karena orang-orangnya menentang dia. Namun, Daud menguatkan dirinya dalam Tuhan (1 Samuel 30).

Bayangkan, kondisi saat itu di mana secara fisik mereka sedang kecapaian dari 3 hari lamanya perjalanan pulang ke Ziklag. Debaran jantung yang sedang meluap-luap siap untuk berperang melawan Israel, diciutkan seketika. Suatu luapan emosional yang tidak menentu akibat perasaan kehilangan keluarga dan harta milik mereka. Ada perang pula dalam diri Daud, "Tuhan, Engkau telah memilih aku menjadi raja Israel, tapi mengapa begitu sulitnya aku menduduki takhta?" Daud membutuhkan peranan tim pendukung. Namun, kenyataannya para prajuritnya malah ingin merajam dia dengan batu! Tapi, Daud menyerahkan diri pada-Nya dan memperoleh kekuatannya dalam Tuhan.

Bagaimana dengan tokoh-tokoh Alkitab lainnya? Ketika Maria memberitahu Yusuf, ia sedang hamil oleh Roh Kudus, Yusuf malah ingin menceraikannya secara diam-diam. Dalam Yohanes 9, Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya dengan penuh belas kasih. Ketika para pemimpin Yahudi menyuruh orang tuanya bersaksi atas kesembuhan putra mereka, dengan ketakutan mereka berkata, "Tanyakanlah sendiri padanya. Dia sudah cukup dewasa untuk menceritakan hal itu kepadamu." Ketika Paulus bermaksud pergi ke Yerusalem, sekelompok orang mencoba untuk mencegahnya dua kali. Bahkan mereka bersikeras mengatakan bahwa Roh Kudus telah memerintahkan mereka untuk memperingatkan Paulus.

Lembaran sejarah memberi gambaran suram. Selama berabad-adad lamanya, pola-pola di atas tidak berubah. (Bacalah biografi para misionaris yang ditulis Ruth Tucker dalam Buku "Dari Yerusalem ke Irian Jaya".) Anda dapat menghitung hanya dengan jari pada satu tangan, jumlah orang dengan visi yang dirintisnya mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Seorang tukang sepatu berkebangsaan Inggris bernama William Carey, berjuang pada tahun 1790-an bersama tanggung jawab gereja terhadap Misi Agung. Dia kemudian dikenal sebagai Bapak Misi Modern. Pada awalnya, ketika visi itu terpatri dalam sanubarinya, ia tidak mendapat dukungan sama sekali. Sebaliknya, rekan-rekan segerejanya malah dengan kasar berkata: "Bila Allah ingin membawa orang-orang kafir pada pertobatan, Ia akan melakukannya tanpa bantuanmu atau pun kami." Pada awalnya pun, istrinya menolak untuk ikut serta dalam pelayanannya ke India. Justru tertundanya tanggal keberangkatannyalah yang membuat istrinya kemudian memutuskan untuk menyertainya ke India.

Saat ini, ribuan pekerja lintas budaya bergumul dalam doa, dan bergulat dengan perihal bagaimana menjadi serdadu-serdadu Kristus yang siap menanggung salib untuk mengabarkan Kabar Baik bagi orang lain di seluruh dunia dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Dukungan moral seperti apakah yang mereka terima dari masyarakat?

  1. Orang-orang yang tersesat (Kristen duniawi), pikiran mereka sempit dan picik, sehingga mereka tidak mendukung orang yang diurapi Allah. Sebaliknya, malah menyalahkan dan melemparkan batu-batu tuduhan, seperti yang dilakukan para pengikut Daud.

  2. Orang-orang dininabobokan oleh gemerlapnya dunia sehingga mereka tidak memiliki kepekaan terhadap rencana Allah bagi saudara dan teman-teman mereka, sebagaimana diperlihatkan murid-murid Tuhan Yesus.

  3. Orang-orang yang sangat peduli terhadap pendapat umum bersikap ramah, seolah-olah menyokong semangat sang misionaris. Namun, secara diam-diam mereka berusaha memutuskan hubungan, seperti yang dilakukan Yusuf, suami Maria.

  4. Orang-orang sangat takut pada program-program gereja, sehingga mereka tidak mau melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan petualangan berisiko tinggi ke daerah atau negara yang tidak mereka kenal. Lagipula, pelayanan misionaris bisa dianggap sebagai saingan dari status quo, seperti pandangan tua-tua Yahudi.

  5. Orang-orang yang begitu yakin telah "mendengar suara Tuhan", bahwa apa yang telah didengar sang misionaris dari Tuhan itu adalah salah, seperti halnya teman-teman Rasul Paulus.

  6. Orang-orang yang ingin melukai hati para misionaris Allah dengan memberi tafsiran yang salah, seperti halnya pada teman-teman William Carey.

Batu untuk Membangun atau untuk Melempar?

Beberapa orang tidak dapat menerima ketika mereka mengatakan bahwa Allah menghendaki dia melakukan perbuatan yang sangat berani, yaitu pergi ke ladang misi. Umumnya mereka akan bersikap acuh tak acuh, tidak bersahabat, atau untuk menutupi perasaan mereka yang tertekan, mereka berkata, "Hei, apakah engkau tidak tahu bahwa di sana adalah dunia yang buas dan ganas? Selalu terjadi kekacauan dan peperangan. Engkau bisa terbunuh di sana!" Atau, "Kamu pasti bercanda! Kamu? Jadi misionaris? Apa sih yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkan dunia ini?" Kerap kali sahabat terdekat menasihati seperti ini:

  1. Kamu sangat dibutuhkan di sini. Kamu dapat menyumbangkan banyak hal dalam persekutuan kita.

  2. Engkau menyia-nyiakan pendidikan yang engkau peroleh dengan susah payah. Setelah harta dihabiskan untuk membiayai kuliahmu hingga sarjana, apa kata orang tuamu nanti?

  3. Kenapa kamu tidak mencari pekerjaan yang baik? Pergilah, carilah uang sebanyak mungkin untuk masa depan. Kemudian, barulah kamu memikirkan untuk terjun ke dalam misi.

  4. Apakah tindakanmu itu tidak mengecewakan ibumu? Bagaimana mungkin kamu begitu tega memisahkan dia dari cucu-cucunya, dan pergi jauh? Anak-anak itu membutuhkan neneknya juga.

  5. Bagaimana dengan pendidikan anak-anakmu nanti? Kasihan, mereka akan pulang rumah dengan keadaan terabaikan dan mendapat perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat.

  6. Apakah engkau berharap akan bertemu jodohmu di sana? Engkau akan membujang seumur hidup! Kemudian mereka akan menangis dan meratap, tanpa memedulikan akal sehatnya, "Aku tak percaya hal ini terjadi padaku!"

Seorang pekerja lintas budaya yang telah berperang bersama Tuhan mengatasi segala perasaan ketidakmampuan dan keterbatasan, duduk di atas ketidakteraturan, seolah-olah berada di atas tumpukan batu-batu, terpukul berkali-kali, dan terluka. Hanya beberapa orang yang kuat dan sanggup menanggungnya karena menemukan kekuatannya dalam Tuhan. Pada saat seperti ini, akan jauh lebih baik jika mereka mendapatkan Anda sebagai tim pendukung moralnya. Sikap mencari kepuasan sendiri dan meninabobokan diri sendiri merupakan golongan paling besar dari gereja masa kini. Sikap tersebut menghasilkan introspeksi semu yang samar-samar dan rabun. Tampaknya, kita sedang memusatkan diri pada penyembuhan diri sendiri, supaya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan. Akibatnya, doa-doa kita berbunyi, "Tuhan, senangkanlah aku supaya bisa menikmati hidup yang mapan," yang secara langsung bertolak belakang dengan apa yang dikatakan kepada kita tentang gereja dalam 2 Korintus 1:14. Kita ingin kehidupan yang mapan dan menyenangkan. Kita menemui kesulitan karena ketidakpastian hidup seperti Rasul Petrus ketika untuk pertama kalinya diberitahu Tuhan Yesus tentang penderitaan yang akan dialami-Nya. Tanpa berpikir, Petrus berkata, "Tidak akan Tuhan .... Hal itu sekali-sekali tidak akan menimpa Engkau."

Kekhawatiran-kekhawatiran tentang pendapat umum dapat melukai seorang misionaris. Barangkali, seorang pekerja lintas budaya diberitahu seperti ini, "Jika kamu harus pergi, pergilah! Akan tetapi, jangan buat kekacauan! Jangan libatkan kami di sini, terutama dalam masalah keuangan. Apa yang akan terjadi dengan program-program kami yang di sini bila harus mendukungmu?" Untungnya, sukar bagi gereja untuk mempertahankan sikap tersebut, sebab organisasi-organisasi misi yang menolong pekerja-pekerja lintas budaya berkeras melibatkan persekutuan-persekutuan untuk berinisiatif dalam proses pengembangan misi. Tragisnya, ada ribuan kasus di mana calon misionaris adalah orang yang tidak tahu-menahu tentang hal ini. Opini publik di banyak gereja tidak mengizinkan suatu gerakan radikal dalam penginjilan internasional. Jadi, pekerja lintas budaya harus pergi secara diam-diam, kecuali Anda berada di sana, mengucapkan selamat jalan untuk membangkitkan semangatnya, "Bon voyage!"

Persaingan antarpekerja di dalam Tubuh Kristus cukup menakutkan beberapa persekutuan sehingga mereka meruntuhkan semangat calon misionaris. Kata-kata mereka bernada sangat keras, "Kita tidak ingin kehilangan kamu!" Masalahnya bukan karena orang-orang Yahudi tidak percaya akan penginjilan ke seluruh dunia. Kristus pernah berkata kepada mereka, "Sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan untuk menobatkan satu orang" (Matius 23:15). Mereka juga tidak menentang penyembuhan yang dilakukan Yesus, bahkan berbondong-bondong mereka datang dan mengikut Dia. Namun, Yesus dianggap sebagai saingan karena tidak sesuai dengan bayangan orang Yahudi tentang Mesias. Demikian pula dengan para misionaris. Tindakan dan rencana-rencana mereka yang penuh keberanian sering kali tidak cocok dengan kebanyakan program-program gereja saat ini. Kecuali Anda yang memberikan dorongan kepada mereka dengan menceritakan teladan Kristus tersebut.

Bahkan kepedulian teman-teman terdekat dapat meruntuhkan semangat seorang misionaris ketika mereka memberikan nasihat yang bertolak belakang dengan rencananya. Rasul Paulus merasakan gerakan dan ancaman dari Si Seteru pada setiap gerak langkahnya. "Aku akan tinggal di Efesus hingga hari Pentakosta, karena Allah membuka suatu pintu yang luar biasa, sekalipun banyak sekali penantangnya" (1 Korintus 16:8-9). Di Miletus, ia menulis, "Aku ditawan dan dibawa secara paksa oleh Roh Kudus sekalipun telah diperingatkan kepadaku, bahwa penjara dan penganiayaan sedang menanti di setiap kota yang aku kunjungi" (Kisah Para Rasul 20:22-23).

Beberapa hari kemudian, di Tirus, murid-muridnya telah mengatakan kepada Paulus "melalui Roh Kudus", bahwa ia tidak boleh pergi ke Yerusalem, namun Paulus dan teman-temannya meneruskan perjalanan sampai ke Kaisarea. Di sana, di rumah Filipus, Agabus mengambil ikat pinggang Paulus. Sambil mengikat tangan dan kakinya sendiri, ia berkata: "Roh Kudus berkata: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem ...." Mendengar hal itu murid-muridnya meminta supaya Paulus jangan pergi ke Yerusalem. Bukannya menerima dukungan moral, Paulus malah menghadapi rintangan. Lukas mengingat jawab Paulus saat itu, "Mengapa kamu menangis dan menghancurkan hatiku? Aku rela bukan saja diikat tapi juga mati demi nama Tuhan Yesus." Paulus tidak mau menerima nasihat para rasul dan murid-muridnya, sehingga mereka menyerah dan berkata: "Jadilah kehendak Tuhan!" (Kisah Para Rasul 21:13-14). Akhirnya, "orang yang gagah berani untuk melakukan pekerjaan Tuhan" ditinggalkan sendirian. Kecuali, Anda ada di sana, memberikan dukungan moral untuk menopang para misionaris di masa-masa yang sulit ketika semua orang menentangnya.

Pandangan-pandangan teologi yang disalahtafsirkan dapat merusak moral pekerja lintas budaya. Hati sang misionaris itu seakan disayat-sayat sembilu, ketika persekutuannya menyangkal perintah Allah untuk pergi memberitakan Injil. Bahkan ada yang seenaknya, seperti yang dialami William Carey, yang berteriak, "Allah dapat melakukannya sendiri tanpa bantuan kita jika Ia menghendakinya!" Yang lain dengan lembut mengatakan, "Kita masih terlalu muda dalam persekutuan. Kita tidak punya apa-apa untuk mendukung misionaris. Rasanya, kita tidak dapat menambah proyek baru. Kita berusaha melakukan yang terbaik. Untuk yang lainnya, kita belum siap." Alasan-alasan tersebut dan ribuan lainnya telah berulang kali dikatakan. Belum ada yang dapat bertahan dari alasan-alasan yang berdalih firman Tuhan dan bersembunyi dari cahaya firman-Nya. Sesungguhnya, tidak ada firman Allah yang menolak pelayanan misionaris. Sebaliknya, "Allah tidak menghendaki agar seorang pun binasa, tetapi supaya datang kepada pertobatan!" (2 Petrus 3:9)

Sebuah kisah menarik tentang seorang pelaut muda yang mengadakan persiapan untuk berlayar mengelilingi dunia seorang diri dengan kapal motor buatan sendiri. Banyak orang mengerumuni dia sementara ia mengepak kotak-kotak perbekalannya. Di antara orang-orang yang berbisik-bisik, ada yang berkata lantang, "Anakku, kamu tidak akan sanggup! Kapal motormu tidak akan bertahan melawan gelombang! Kamu akan kehabisan bahan makanan dan mati terpanggang matahari!" Semua peringatan-peringatan itu melemahkan semangat dan keyakinannya. Tidak satu pun yang menawarkan semangat dan optimisme. Namun, ketika kapal kecil itu bertolak dari dermaga, seorang yang datang terlambat berlari sampai di ujung dok, melambai-lambaikan tangannya sambil berteriak memberi semangat, "Selamat berlayar! Bon voyage! Kamu benar-benar hebat! Kami bersamamu! Kami bangga dengan kamu! Allah menyertaimu saudaraku!" Tampaknya, dunia menyuguhkan dua macam dukungan moral: yang pertama mengatakan, "Lihat saja, tunggu sampai kamu keluar dari dunia yang kejam dan tak mengenal belas kasihan itu. Biar tahu betapa beratnya!" Atau yang kedua dengan penuh semangat, menaruh kepercayaan penuh, bersorak mengucapkan selamat jalan: "Bon voyage!"

Ada selusin cara yang tak terpikirkan untuk meruntuhkan semangat dan cita misionaris Anda. Tapi sebaliknya, ada banyak jalan untuk membangkitkan antusiasme dengan dukungan moral yang kuat. Pimpinan Roh Kudus untuk mencari jiwa-jiwa dalam pelayanan lintas budaya sangat kita butuhkan di saat-saat tersebut. Ubah dan singkirkan batu-batu sandungan menjadi batu yang membangun fondasi yang kokoh, yang akan menjadi dasar yang kuat bagi dukungan pelayanan lintas budaya dalam gereja Anda. Bagaimana memberikan dukungan moral seteguh batu karang? Don adalah seorang pendeta yang telah mendengarkan panggilan Allah untuk menjalani misi. Beberapa kali ia mengunjungi Thailand dan melihat para pendeta yang haus akan firman Tuhan. Ia merasakan sukacita dalam memuaskan dahaga rohani mereka melalui seminar-seminar. Kini Don yakin, Allah telah menuntun dia untuk menyerahkan dirinya dan memulai suatu pelayanan dalam bentuk seminar untuk para pendeta pribumi Asia. Ia menyusun berbagai seminar yang dirancang guna melatih para gembala tersebut dalam mempelajari firman Allah, supaya mereka dapat menggembalakan domba-domba-Nya dengan lebih baik.

Namun, Don adalah gembala gereja di Amerika Serikat. Tak mudah baginya untuk pergi begitu saja. Ia telah mendirikan gereja itu. Siapa yang akan menggantikan posisinya bila ia berangkat? Bagaimana ia memindahkan keluarganya ke Thailand, negeri yang tidak mereka kenal? Bagaimana dengan komunikasi dan doa? Di mana mereka akan tinggal? Semua pertanyaan dan kekhawatiran ini nyata dan membutuhkan jawaban. Semua itu lebih mudah diatasi, karena jemaat memberikan dukungan moral yang penuh kepada Don, untuk menjadi "berkat" bagi Don, dan bagi mereka juga. Dukungan moral adalah landasan proses pengutusan. Dukungan moral bisa seperti sorakan, "Selamat jalan!", "Bon voyage!" Dukungan yang berasal dari mereka yang melayani sebagai pengutus (sender), untuk mendukung para misionaris yang akan berangkat. Para pekerja lintas budaya dapat merasakan dukungan Anda melalui sikap yang Anda perlihatkan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Melayani sebagai Pengutus: Kiat Jitu Mendukung Misionaris Profesional
Judul asli buku : Serving as Sender
Judul asli artikel : Dukungan Moral
Penulis : Neal Pirolo
Penerjemah : Tim Om Indonesia
Penerbit : OM Indonesia, Jakarta
Halaman : 19 -- 28

e-JEMMi 05/2009

Empat Gaya Hidup Kristen Paskah

Ketika seseorang mengenal Yesus dengan benar, maka hidupnya pasti akan terus-menerus berubah dan menjadi Kristen sejati. Artinya kalau dulunya hanya Kristen biasa-biasa saja, setelah mengalami kuasa kebangkitan Yesus, maka hidupnya menjadi luar biasa. Mengapa demikian? Jawabannya adalah "karena kuasa kebangkitan yang hebat itu telah mengerjakan sesuatu yang ajaib dalam dirinya" (Efesus 1:19). Kuasa itu sungguh hebat sehubungan dengan kuasa kebangkitan ini, maka minimal ada empat ciri gaya hidup orang yang telah mengalami kuasa kebangkitan.

  1. Orang yang mengalami kuasa kebangkitan akan menjadikan Yesus sebagai tujuan hidupnya (Kolose 3:1-4). Sering kali kita kecewa, putus asa, dan stres. Itu karena Yesus bukan tujuan utama dalam hidup, tetapi sebaliknya perkara-perkara dunia ini semata yang menjadi tujuan. Yesus berkata, "Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33). Apa yang menjadi tujuan hidup kita sangat penting, karena hal itu akan menentukan kualitas pelayanan dan masa depan seseorang.

  2. Orang yang mengalami kuasa kebangkitan akan menjadikan Yesus sebagai fokus penyembahan. Setelah Yesus berkata kepada Tomas, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya, Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:27-28). Gereja dan pendeta yang besar bukanlah pusat penyembahan kita, tetapi Yesus adalah Tuhan yang hidup, yang harus menjadi pusat penyembahan orang percaya, hanya Dia yang layak menerima pujian dan hormat. Ketika Yesus ditinggikan dalam diri seseorang, maka perkara-perkara ajaib akan Tuhan adakan dalam diri dan pelayanannya (Yohanes 12:32).

  3. Orang yang mengalami kuasa kebangkitan akan menjadikan Yesus sebagai pusat pengharapan (1 Petrus 1:3-6). Situasi dan keadaan dunia yang kita hadapi hari-hari ini tidak menentu dan selalu berubah-ubah, namun jangan takut dan cemas karena Yesus adalah pengharapan bagi orang percaya, yang setiap saat siap sedia menolong tatkala kita berseru kepada-Nya.

Orang yang mengalami kuasa kebangkitan akan menjadikan Yesus pusat pemberitaan mereka (Markus 12:32). Tuhan Yesuslah yang harus kita perbincangkan dalam dunia yang gelap ini. Jangan percakapkan kekurangan orang lain, kekurangan gereja lain, atau denominasi lain, itu hanya menghabiskan waktu dan energi semata. Mari percakapkan Yesus yang penuh berkat dan cinta itu kepada setiap pribadi, agar suatu saat nanti setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Ketahuilah bahwa kita semua saksi Tuhan, jangan terjebak dengan masalah-masalah pribadi dan rutinitas yang hanya menghambat kita untuk pergi menjangkau yang belum terjangkau. Ketika Petrus berkata, "... biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia" (Matius 17:4b). Namun, Yesus mengajak mereka turun gunung karena masih banyak yang harus dikerjakan, artinya masih banyak jiwa-jiwa yang harus diselamatkan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama majalah : Penyuluh, No. 40, Tahun XVI/2007
Judul asli artikel : 4 Gaya Hidup Kristen Paskah
Penulis : Pdt. Ferry Haurissa
Penerbit : Badan Pekerja Harian Gereja Bethel Indonesia, Jakarta 2007
Halaman : 20

e-JEMMi 15/2009

Etika Suatu Perspektif Injil Sinoptik

Etika berasal dari kata "ethos" dan "taethika". Bahasa latinnya adalah "mos" yang artinya moral dalam pengertian umum. Dalam kamus Purwadarminta (KUBI terbitan Balai Pustaka Jakarta, 1985) etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak. Kata lain yang mirip dengan itu adalah etiket -- aturan sopan santun pergaulan. Etika teologis secara khusus menjadi suatu bidang studi sistematis yang dipelopori oleh Lambert Daneau (1577) dan Calixtus (1634). Dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi oleh ilmu filsafat yang kurang berorientasi kepada Alkitab.

Kekristenan dan Hukum Taurat

Kehidupan kekristenan dewasa ini diperhadapkan dengan berbagai macam pilihan. Tidak jarang orang Kristen harus bergumul untuk dapat menentukan pilihan yang tepat, baik, dan benar. Berbagai faktor harus dipertimbangkan, terutama yang menyangkut etika sebagai kaidah dalam lingkungan sosial. Untuk dapat menentukan keputusan etis, diperlukan pertimbangan yang etis. Hal ini ditentukan oleh standar yang digunakan. Orang Kristen seharusnya menjadikan Alkitab sebagai dasar etika. Tetapi masalahnya apakah Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru masih relevan untuk digunakan di zaman ini?

Tuhan Yesus dan Hukum Taurat

Dalam Matius 5:17 Kristus menyatakan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Ia sadar bahwa kedatangan-Nya ke dunia adalah dalam rangka misi penyelamatan. John R. W. Stott, mengungkapkan dua hal penting tentang Perjanjian Lama. Pertama, Perjanjian Lama terdiri dari ajaran tentang doktrin (Allah, manusia, keselamatan, dan lain-lain) -- "Torah" -- "hukum", sebenarnya berarti ajaran yang diwahyukan. Kedua, isi Perjanjian Lama adalah nubuat-nubuat yang belum terungkap kenyataan. Pandangannya terarah ke zaman Mesianis yang akan datang. Dapat dikatakan, Perjanjian Lama adalah Injil yang masih berbentuk kuncup, sedangkan Perjanjian Baru adalah Injil yang sudah mekar menjadi bunga. Perjanjian Lama adalah Injil yang masih tersembunyi dalam pucuk, sedangkan Perjanjian Baru adalah lnjil yang sudah keluar sebagai bulir.

Yesus menggenapi semua nubuat penyelamatan dalam Perjanjian Lama. Pernyataan-Nya yang pertama pada awal penampilan-Nya di muka umum ialah, "Waktunya sudah genap ..." (Markus 1:15). Klimaksnya ialah kematian-Nya di kayu salib, di mana seluruh sistem upacara keagamaan, baik keimaman maupun pemberian kurban, memperoleh kegenapan yang sempurna. Mulai saat itu, sistem ritual dalam Perjanjian Lama tidak berlaku lagi.

Hukum Taurat adalah istilah yang dipakai untuk mengungkapkan keseluruhan pernyataan ilahi dalam Perjanjian Lama, bukan terbatas pada Taurat Musa atau kitab para nabi, dan tidak sedikit pun dari pernyataan ilahi itu akan ditiadakan sebelum semuanya digenapi. Penggenapan ini tidak lengkap sebelum langit dan bumi lenyap (Matius 24:35).

Orang Kristen dan Hukum Taurat

Hukum Taurat akan tetap berlaku selama alam semesta masih ada. Suatu hal yang pasti, bahwa Yesus sendiri memiliki kepercayaan yang kokoh kepada hukum Taurat. Meskipun tidak semua perintah hukum Taurat itu sama "bobotnya" (Matius 23:23), Namun perintah hukum Taurat -- sekalipun yang paling kecil, adalah sama pentingnya karena hukum itu adalah perintah dari Allah.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus melangkah lebih jauh lagi. Kebesaran dalam surga tidak ditentukan oleh kesesuaian tindak-tanduk dan perilaku kepada hukum Taurat. Sebab mustahil orang dapat masuk ke dalam Kerajaan itu jika kepatuhannya kepada hukum Taurat tidak melebihi kebenaran para ahli Taurat dan orang Farisi (Matius 5:20), karena Kerajaan surga adalah suatu Kerajaan Kebenaran.

Pernyataan Tuhan Yesus tersebut mengejutkan bagi mereka yang mendengarnya. Bukankah ahli Taurat dan orang Farisi adalah profesional ulung dalam soal kepatuhan kepada hukum Taurat? Bagaimana mungkin kebenaran kristiani dijadikan syarat untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan surga? Yesus tidak mengada-ada, tetapi yang Ia maksudkan adalah kebenaran kristiani harus jauh melebihi kebenaran Farisi, karena kebenaran itu lebih mendalam dan itu merupakan kepatuhan yang timbul dari dalam hati.

Dalam hal ini, orang Kristen harus mengikuti teladan Kristus bukan teladan orang Farisi. Orang-orang Farisi berusaha menurunkan standar hukum Taurat untuk membuatnya lebih mudah ditaati. Yesus menempatkan hukum Allah pada posisi yang sesungguhnya sebagai otoritas Allah sendiri. Orang Kristen seharusnya memiliki kepatuhan yang merupakan kebenaran dari hati dan yang mungkin dimiliki hanya oleh mereka yang telah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3-5).

Karya Kristus dan Etika Kristen

Orang Kristen seharusnya memiliki iman yang mengandung kepercayaan, kesetiaan, dan kasih -- suatu penyerahan diri kepada Allah. Sebagai orang percaya, kita bukan simpatisan melainkan partisipan di "ladang" Allah. Namun demikian, orang Kristen tidak boleh bertindak spekulatif. Iman kita haruslah memiliki makna dan isi. Kita harus memiliki kepercayaan tentang sifat-sifat dan pekerjaan Allah, karena hal ini memengaruhi aktivitas kita. Misalnya kalau kita percaya kepada Allah yang kejam, kemungkinan kehidupan kita menjadi kejam.

"Pengetahuan kita tentang kehendak Allah harus berdasarkan pengetahuan tentang Allah dan pekerjaan-Nya", demikian ungkapan M. Browmee. Karena Allah adalah baik dan menciptakan dunia yang baik, maka kita harus berbuat baik (Matius 5:8). Etika Kristen berkata: kamu harus adil, baik, penuh kasih, dan jujur. Teologi Kristen meyakinkan kita bahwa kalau kita "lapar dan haus akan kebenaran", kita akan dipuaskan (Matius 5:6).

Kelahiran Tuhan Yesus

Inkarnasi adalah suatu ajaran tentang anak Allah yang menjadi manusia. Inkarnasi Kristus adalah bukti utama yang merupakan inti kekristenan. Seluruh susunan teologi Kristen bergantung kepada Inkarnasi Kristus, demikian pendapat J.F. Walvoord.

Setelah berinkarnasi, kita dapat melihat dua hal tentang Yesus. Pertama, Yesus adalah seorang manusia sama seperti manusia pada umumnya. Dia lahir sebagai bayi dan tumbuh seperti anak-anak yang lain (Lukas 2:52). Kedua, Yesus adalah orang biasa yang luar biasa. Dia adalah Anak Allah, "Dalam Dia berdiam seluruh kepenuhan keallahan" (Kolose 2:9). Menurut M. Brownlee, dalam inkarnasi dinyatakan dua hal penting, yaitu pentingnya hal-hal materi dan kesalehan yang wajar.

a. Pentingnya Hal-Hal Materi

Yesus Kristus memunyai tubuh maupun jiwa manusia. Hal-hal rohani tidak dapat dipisahkan dari hal-hal materi. Tubuh tidak lebih rendah daripada roh, melainkan segala sesuatu termasuk tubuh, roh, gereja, waktu, kerja adalah ciptaan Allah dan menunjukkan kekudusan Allah.

Di satu pihak, tidak ada bagian ciptaan yang kudus seperti Allah adalah kudus. Tidak ada batu, gunung, gedung gereja, atau salib yang dianggap keramat dan ajaib. Gereja disebut "kudus" dalam arti "dipilih" bagi tugas kudus, bukan dengan arti ilahi. Setiap makhluk ciptaan menunjukkan Pencipta -- diciptakan dalam gambar-Nya. Tubuh orang Kristen adalah "bait Roh Kudus". Karena itu kita bertanggung jawab bagi tubuh maupun roh. Kita tidak boleh mengabaikan kesehatan jasmani maupun rohani kita. Kita juga harus memerhatikan kebutuhan jasmani dan rohani orang lain. Yesus menuntut kita berkhotbah dan mengajar, beribadah dan membaptiskan. Ia juga menuntut kita memberi makan kepada yang lapar, minum kepada yang haus, tumpangan kepada orang asing, dan pakaian kepada yang telanjang. Gereja harus mengabarkan lnjil dengan kata-kata tentang kasih dan kuasa Tuhan, juga dengan pelayanan sosial yang menyatakan kasih dan memajukan keadilan.

b. Kesalehan yang Wajar

Kesalehan bukanlah kewajiban yang harus dibangga-banggakan jika dapat mewujudkannya. Bukan pula tembok yang memisahkan antara yang saleh dan yang tidak saleh. Yesus turun dari surga -- tempat yang sempurna dan masuk ke dalam dunia yang penuh dosa. Anak Allah tidak merasa bahwa Dia tidak boleh melibatkan diri dalam hal-hal duniawi karena Dia begitu saleh. Sebaliknya, Yesus menyatakan kesalehan yang sejati dengan cara bergaul dengan orang-orang berdosa dalam dunia ini.

Kesalehan Kristen bukanlah kehidupan yang "tidak pernah menyentuh tanah", bukan kehidupan yang terpisah dari dunia, melainkan pelayanan kepada Allah di tengah-tengah dunia. Kesalehan Kristus tidak dinodai oleh dunia melainkan mengubah dunia. Kesalehan Kristen mengandung dua hubungan yaitu hubungan dengan Allah dan dengan dunia. Terang Allah di hati kita tidak menjadi suram dan tidak disembunyikan dari bahaya dunia, melainkan bercahaya di depan semua orang (Matius 13:16).

Kematian Tuhan Yesus

Sebagai bukti ketaatan Yesus yang tidak kompromi dengan kejahatan dunia, Dia harus menyerahkan nyawa kepada Bapa-Nya dalam peristiwa penyaliban di bukit Golgota. Yesus rela mati di salib, hal ini menyatakan kedahsyatan dosa. Dosa bukanlah hal remeh, karena jika demikian Anak Allah tidak perlu disalibkan untuk menghapus dosa kita. Berita utama dari salib Kristus bukanlah bahwa kita dihakimi, tetapi bahwa dosa kita diampuni. Oleh karena itu, respons yang paling tepat kepada pengampunan Kristus adalah hidup sebagai orang yang diampuni, yang dibebaskan dari dosa.

Penyaliban Kristus harus menjadi dasar etika orang percaya. Melakukan kehendak Allah bukan karena takut akan penghukuman-Nya, melainkan karena bersyukur atas pengampunan-Nya. Karena itu, jika kita melakukan kebaikan, bukan supaya kita dapat diselamatkan tetapi karena kita sudah diselamatkan; bukan supaya Allah mengasihi kita, tetapi karena Allah sudah mengasihi kita. Pendirian demikian akan menghasilkan perilaku yang aktif dan berani, bukan pasif dan takut.

Allah mengampuni dosa kita, maka kita patut mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita mengasihi orang lain seperti Kristus mengasihi kita. Ini berarti bahwa kasih kita kepada seseorang bukan berdasarkan benar tidaknya orang itu. Stephen Tong mengatakan, kalau kita menerima seseorang tidak berarti kita menyetujui perbuatan orang itu. Mungkin ada orang yang membenci kita, tetapi kita harus membalasnya dengan kasih.

Kematian Kristus juga memperlihatkan kepada kita bahwa Anak Allah menderita karena Dia menyamakan diri-Nya dengan manusia, dan Ia memanggil kita untuk berpartisipasi dalam penderitaan-Nya. Mengikut Yesus berarti "menyangkal diri dan memikul salib" (Markus 8:34). Kita tidak perlu mencari penderitaan, namun kita tidak boleh menghindari penderitaan, jika penderitaan itu demi menaati Allah dan mengasihi sesama manusia. Kasih kepada Allah dan sesama mengandung konsekuensi penderitaan, sama seperti kasih Kristus berkonsekuensi penderitaan.

Kebangkitan Tuhan Yesus

Yesus Kristus dibangkitkan dari antara orang mati. Batu kubur yang besar tidak dapat menghalangi kuasa kebangkitan Yesus. Walvoord mengatakan, dibukanya pintu kubur oleh malaikat bukan untuk memungkinkan Kristus keluar dari kubur, melainkan supaya orang-orang dapat masuk ke dalamnya dan melihat bahwa kubur itu telah kosong. Yesus tidak mati. Dia hidup dan bekerja di dunia ini. Dia berjanji akan menyertai mereka yang percaya kepada-Nya (Matius 28:20). Dia ada di antara saudara-saudara-Nya yang miskin dan hina (Matius 18:20, Matius 25:31-36).

Karena Yesus hidup dan menyertai kita, maka tidak sepantasnya orang Kristen dilanda kekhawatiran dalam melakukan aktivitas kekristenan. Sering kali, Tuhan mengutus orang percaya untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dalam situasi yang sukar, bahkan bagaikan domba di tengah-tengah serigala (Matius 10:16). Tidak jarang, Allah memanggil kita untuk tugas yang melebihi bakat dan kemampuan kita. Hal itu berarti Allah menghendaki kuasa-Nya dinyatakan di dalam dan melalui kehidupan kita. Karena kebangkitan Yesus, orang Kristen memiliki iman yang bermakna dan berisi, membawa harapan -- bagi dunia dan orang-orang yang mau menerima Dia.

Tuhan memanggil orang percaya untuk ada dalam segala bidang kehidupan, bukan hanya dalam bidang rohani untuk memikirkan hal-hal "yang di atas", tetapi kuasa kebangkitan Yesus justru untuk menjangkau dunia ini bagi Dia.

Diringkas dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, Oktober 2007
Judul artikel : Etika Suatu Perspektif Injil Sinoptik
Penulis : Drs. Denny R. Kussoy, S. Th.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup
Halaman : 35 -- 41

e-JEMMi 18/2011

Etnomusikologi dan Penerjemahan Alkitab

Tidak seperti yang sering dikatakan banyak orang, sebenarnya musik bukan bahasa universal. Makna musikal tidak dapat menyeberang lintas budaya. Jika ingin dimengerti, kita harus berbicara dengan menggunakan bahasa musik dari budaya setempat. Inilah yang menjadi fokus bahasan dalam etnomusikologi. Apakah yang dimaksud dengan etnomusikologi? Menurut Pono Banoe, dalam kamus istilah musik, etnomusikologi adalah studi musik yang dikaitkan dengan latar belakang kebudayaan suatu bangsa. Senada dengan itu, beberapa ahli etnomusikologi mendefinisikan etnomusikologi sebagai studi tentang musik-musik etnik.

Setiap kebudayaan di dunia, memiliki dua komponen utama, yaitu bahasa dan musik mereka sendiri. Dalam kebanyakan budaya, baik bahasa maupun musik dipakai untuk berkomunikasi. Bahasa memakai kata-kata sebagai media untuk membagikan pemikiran dan ide. Musik memakai kombinasi kata (biasanya dalam bentuk puisi) dan komponen ritmis melodis untuk berkomunikasi. Seperti bahasa, musik dapat mengomunikasikan pemikiran dan ide. Bahkan kadangkala musik dapat dipakai untuk tingkatan-tingkatan komunikasi yang lebih mendalam yang mengungkapkan hal-hal yang tak dapat dikatakan secara langsung. Musik, melalui puisi dan bunyi, fungsinya dapat menjadi amat penting dalam menyampaikan ungkapan-ungkapan dalam kehidupan sehari-hari.

Prinsip inilah yang membuat etnomusikologi menjadi bidang yang penting dalam pelayanan penerjemahan Alkitab. Musik menyentuh sampai kedalaman jiwa manusia sehingga seseorang yang tidak pernah mau mendengarkan kebenaran Alkitab melalui khotbah akan tertarik ketika mendengar sebuah lagu dalam bahasanya sendiri. Apalagi jika lagu itu dimainkan dengan irama musik khas daerahnya -- dan lagu-lagu seperti itu dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk menyampaikan kebenaran rohani.

Pernah terjadi di sebuah daerah di Ghana, di mana sebuah kelompok musik rohani langsung dikerumuni dua ratus orang yang penasaran dan ingin bertanya. Para pemusik tadi menyanyikan lagu demi lagu dengan memakai gaya dan irama musik setempat yang isinya mengungkapkan kebenaran Allah.

Sering kali nyanyian rohani dalam bentuk musik tradisional lebih bisa dinikmati dan dipahami daripada nyanyian rohani dengan musik asing, misalnya dari Barat. Di Senegal, misalnya, kaset Injil Yohanes dalam salah satu bahasa suku sangat digemari karena ayat-ayat Alkitab dibacakan/disenandungkan sesuai dengan irama yang mereka kenal. Orang-orang yang lebih tua mendengarkan kaset ini dengan tekun. Bahkan mereka meminta anak-anak agar tidak ribut supaya mereka dapat mengerti dengan jelas apa yang sedang disampaikan.

A adalah seorang pemuda Afrika yang berbakat musik. Ketika ia mendengar suatu persekutuan di mana banyak orang menggubah lagu-lagu baru dan mereka mencari orang yang dapat memainkan biola berdawai satu, A pun bergabung. Melalui lagu-lagu inilah akhirnya A menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Sekarang, bersama dengan orang-orang percaya lain, A berkeliling ke desa-desa menyanyikan lagu-lagu baru gubahannya sendiri.

Musik adalah sarana penting untuk memberitakan Injil agar pesan Alkitab dapat disampaikan kepada para pendengar yang belum mengenal Yesus.

Bahan diambil dari sumber:

Judul buletin: Berita Kartidaya, Edisi 1/2006
Judul artikel: Etnomusikologi dan Penerjemahan Alkitab
Penulis : Ajang dan Darne
Halaman : 1 -- 2

e-JEMMi 1/2007

Fatalisme dalam Islam

Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya sifat-sifat dan kepribadian Allah tidak mungkin ditebak/dikenal karena jalan pikiran-Nya terlalu tinggi bagi pikiran manusia. Salah satu hal yang diakibatkan oleh pandangan ini ialah orang-orang yang menganut ajaran Islam pada umumnya sulit mengerti dan menerima belas kasihan serta pengampunan Tuhan (atas dosa-dosa mereka). Karena dalam pandangan Islam, mustahil untuk mengetahui sikap dan pikiran Allah terhadap manusia secara pribadi.

Mereka sering mengucapkan bahasa Arab "insya Allahö" yang artinya "semoga Allah menghendakinya demikian". Artinya, "apa pun yang terjadi, itulah kehendak Allah (takdir)". Ungkapan ini hampir selalu diucapkan dalam berbagai keadaan.

Dalam menanggapi masa depan, orang-orang Islam di seluruh dunia umumnya bersikap tidak pasti dan fatalistis (pasrah kepada nasib). Mereka mengaminkan yang dikatakan dalam Al-Qur`an, bahwa "Allah menyesatkan siapa yang hendak disesatkan-Nya dan menuntun siapa yang hendak dituntun-Nya" (Sura 35:8). Pada umumnya, orang Muslim sangat pasrah kepada "nasib". Contohnya, seorang wanita Muslim di kota Paris berkata bahwa kematian anaknya memang ditakdirkan oleh Allah. Padahal ia mengetahui bahwa anak itu sesungguhnya meninggal karena overdosis narkoba. Meskipun menyatakan keyakinannya bahwa anak itu meninggal dunia atas kehendak Allah, ia sangat terpukul oleh kematian anaknya. Peristiwa itu mau tak mau memengaruhi gambaran yang dimilikinya mengenai Tuhan.

Pandangan fatalistis terdengar lagi pada bulan Juli 1990. Sebanyak 1.426 peziarah Muslim tewas di Mekah ketika sebuah terowongan ambruk pada akhir musim haji, tepatnya pada hari raya Idul Adha. Banyak peziarah meninggal dunia karena sesak napas atau mati terinjak-injak ketika mereka dengan paniknya berusaha menghindar, sementara ribuan peziarah lain dari luar justru berusaha masuk dan menjejali terowongan itu.

Siaran berita dunia mengenai tragedi besar itu kemudian lebih menghebohkan lagi. Dalam pengumumannya, pemerintah Baginda Raja Fahd dari Arab Saudi berkomentar bahwa kejadian itu jelas merupakan "kehendak (takdir) Allah", dan "seandainya para korban tidak meninggal dunia dalam terowongan itu, mereka toh akan mati di tempat lain pada saat yang juga telah ditakdirkan" (mengutip laporan tentang perdebatan yang berlangsung dalam parlemen Inggris karena peristiwa tersebut).

Umat Kristen di seluruh dunia sama-sama berpendapat bahwa kehendak Tuhan telah dinyatakan atau diungkapkan dengan sempurna melalui kehidupan dan pribadi Yesus Kritus. Kematian dan kebangkitan Yesus adalah jawaban Tuhan atas masalah dosa, kematian (manusia) dan Setan si Iblis. "Tiada sesuatu akan dapat menceraikan kita dari kasih Tuhan dalam Isa Almasih Junjungan kita Yang Ilahi" (Rum 8:38). Memang benar, kehendak Tuhan yang Mahakuasa terkadang merupakan sebuah misteri (rahasia yang tersembunyi), tetapi dalam hal-hal tertentu cukup jelas dan tak perlu diragukan lagi.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : SABDA.org: Arsip 40 Hari Doa
Judul artikel : [40-Hari-2004][13] Fatalisme dalam Islam, Minggu, 17 Oktober 2004
Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/2004/10-17/
Arsip 40 Hari Doa : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/

e-JEMMi 28/2008

Gadis Pejuang Iman

(Riwayat Hidup Sumi San dari Negeri Jepang)
Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Sumi San dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, ayahnya seorang pedagang pipa air, sedang ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Semasa remaja, ia harus hidup berkekurangan karena ayahnya mengalami kerugian besar dalam berdagang. Dampaknya, orang tua Sumi harus menanggung utang yang tidak sedikit jumlahnya. Demi membantu meringankan beban orang tuanya, Sumi meninggalkan kampung halamannya dan bekerja di sebuah perusahaan tekstil di Kobe. Tidak ada waktu baginya untuk memikirkan hal-hal lain di luar rutinitasnya. Waktunya ia habiskan untuk bekerja dan belajar. Semangat dan kemauan yang begitu kuat menyebabkan ia tidak memedulikan kondisi kesehatannya. Tanpa disadari, ia menderita penyakit bronkitis dan beri-beri yang menyebabkan ia harus dirawat di sebuah rumah sakit selama tiga bulan. Setelah sembuh dari sakitnya, ia dikeluarkan dari pekerjaannya. Hal ini membuatnya sangat sedih karena pekerjaan tersebut sangat ia butuhkan dan merupakan satu-satunya cara agar ia dapat membantu meringankan beban orang tuanya.

Sumi pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Funo. Persoalan utama baginya saat ini adalah bagaimana ia dapat membantu orang tuanya dalam hal keuangan. Akhirnya, ia memutuskan untuk mendaftar ke sebuah sekolah perawat di Hiroshima. Berkat ketekunan dan kesabarannya, ia diterima di sekolah tersebut, bahkan mendapat beasiswa sehingga ia tidak perlu menanggung semua biaya sekolahnya. Berkat semangat dan kesabarannya pula, Sumi mampu menyelesaikan pendidikannya dengan nilai yang sangat memuaskan dan mendapat kesempatan bekerja pada sebuah rumah sakit.

Namun di tengah kebahagiaannya, ia mendapat kabar bahwa ibunya meninggal karena sakit. Masalah tidak berhenti sampai di situ. Ia dihadapkan pada persoalan baru -- siapakah yang akan menggantikan ibunya mengurus rumah tangga? Sebagai anak tertua, Sumi sadar bahwa dialah yang akan melaksanakan tugas tersebut. Sungguh bukan hal mudah baginya. Namun, ia dan ayahnya yakin bahwa mereka dapat mengatasi kesulitan yang sedang terjadi dan segalanya pasti akan kembali normal dengan bantuan dewa Hotoke San. Sumi dan keluarganya adalah penganut agama Budha. Prinsip hidupnya didasarkan pada ajaran tersebut, yaitu bahwa "hidup hanyalah soal nasib semata, biarpun manusia dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban hidupnya". Sumi dibesarkan dalam ajaran ini dan ia menyerahkan hidupnya pada nasib. Ia berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah yang terjadi dalam hidupnya dan berharap mudah-mudahan nasib baik akan menghampirinya pada masa yang akan datang.

Di samping mengurus rumah tangga, Sumi juga terus memerdalam pengetahuan keperawatannya. Ia berharap suatu hari nanti dapat bekerja pada sebuah distrik dengan penghasilan yang jauh lebih besar daripada penghasilan bekerja di rumah sakit. Nasib baik nampaknya berpihak pada Sumi, ia diterima sebagai perawat di Badan Kesehatan Distrik di bagian timur Kobe. Suatu hari, Sumi mendapat tugas baru. Ia ditugaskan merawat Machan, putra tunggal keluarga Komatsu yang menderita bisul pada kakinya. Tugas tesebut mengharuskannya untuk datang setiap hari ke rumah Machan. Kedatangan Sumi selalu disambut gembira oleh Machan, mereka berdua benar-benar telah menjadi sahabat. Namun secara diam-diam, Komatsu, ayah Machan, menaruh perhatian khusus kepada Sumi. Sumi mengetahui hal tersebut, dan karenanya ia berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Komatsu, mengingat Komatsu sudah memiliki istri.

Setelah mendapatan perawatan yang intensif, kaki Machan benar-benar sembuh. Di akhir kunjungannya, Sumi mendapatkan sebuah kado dari Machan. Tidak hanya itu, Komatsu juga memberikan sebuah bungkusan kecil sebagai tanda terima kasihnya kepada Sumi yang telah merawat Machan. Dari bungkusan kecil tersebut, Sumi tahu bahwa tanda terima kasih tersebut adalah uang. Sumi menolak pemberian tersebut dengan alasan pihak rumah sakit telah menggajinya atas tugas tersebut. Tidak hanya itu, Komatsu juga meminta Sumi untuk sesekali bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Karena terus didesak dan merasa telah berutang budi pada pihak keluarga Komatsu (dalam budaya Jepang, suatu utang harus dilunasi secara penuh dan tidak boleh kurang suatu apa pun), akhirnya Sumi menerima bungkusan tersebut (bungkusan berisi uang seratus yen, lebih banyak dari jumlah gajinya selama dua bulan) dan berjanji sesekali akan menemui Komatsu hanya untuk berbincang-bincang sebagai seorang teman.

Tawaran Komatsu yang telah diterimanya ternyata membuat Sumi merasa tidak nyaman. Ia memutuskan untuk meninggalkan Kobe dan mencari pekerjaan di tempat lain. Sumi mencoba melamar ke beberapa tempat dan ia diterima bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Tokyo. Ia merasa lega, pikirnya ia akan terbebas dari persoalan tersebut. Namun setelah setahun bekerja di Tokyo, tiba-tiba ia mendapat kunjungan dari seseorang. Ya, orang tersebut adalah Komatsu. Tentu saja kunjungan Komatsu membuatnya sangat terkejut. Apa sebenarnya tujuan Komatsu berkunjung ke Tokyo? Apakah hanya sekadar untuk menemuinya? Tujuan Komatsu menemui Sumi adalah untuk menjodohkannya dengan Jiro, adik kandungnya. Dan tanpa sepengetahuan Sumi, ternyata Komatsu telah terlebih dahulu menemui keluarga Sumi di Funo untuk membicarakan rencana tersebut, dan pihak keluarga pun menyetujuinya.

Sumi memang merindukan sebuah rumah tangga sebagaimana layaknya seorang wanita, namun bukan dengan Jiro, karena sebenarnya Sumi mencintai Katzuo, pemuda asal Funo yang sedang ditugaskan di Cina sebagai seorang prajurit. Hingga saat ini, Sumi tidak pernah mengetahui dengan pasti kabar maupun keberadaan Katzuo, namun Sumi yakin Katzuo akan kembali ke Funo karena bagaimanapun mereka pernah berjanji akan membawa hubungan tersebut sampai ke pernikahan. Sumi menolak tawaran Komatsu, namun Komatsu tidak kehabisan akal, Komatsu berencana mengajukan Sumi ke pengadilan atas tuduhan Sumi telah berutang kepada keluarga Komatsu dan tidak mampu membayarnya, jika Sumi menolak tawaran Komatsu untuk menikah dengan adiknya. Akhirnya dengan berat hati, Sumi menerima tawaran tersebut.

Pernikahan Sumi dan Jiro pun berlangsung menurut cara dan adat Jepang. Sumi pun resmi menjadi istri Jiro. Selama resepsi berlangsung, Jiro hanya diam saja. Namun setelah meminum sake, ia tertawa dan berteriak-teriak layaknya orang gila, sehingga para tamu menjadi sangsi apakah ia benar-benar waras. Selama mengarungi rumah tangga bersama Jiro, hampir setiap malam Jiro tidak berada di rumah, ia pergi ke tempat hiburan malam dan menghabiskan sepanjang malam dengan minuman keras dan wanita. Sumi tinggal sendirian di rumah, rasa sepi mulai menghampirinya dan ia bertekad untuk mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri. Namun, pikiran tersebut segera dibuangnya jauh-jauh ketika ia mengingat utang ayahnya yang belum lunas.

Pada suatu malam, Komatsu berkunjung ke rumah Sumi untuk menjalankan rencana yang telah ia rencanakan dengan matang. Komatsu tidak pernah memikirkan kebahagiaan Jiro maupun Sumi. Ia melakukannya agar Sumi berada di sampingnya dan untuk kepuasan dirinya saja. Ia tahu Jiro tidak pernah berada di rumah. Ia berusaha merayu Sumi. Tidak hanya itu, Komatsu juga menggunakan kekerasan. Tetapi Sumi melawan dan berteriak dengan sekuat tenaga sehingga teriakannya sampai terdengar oleh kakak laki-laki Komatsu yang tinggal tidak jauh dari rumah Sumi. Sumi menceritakan apa yang telah dialaminya kepada kakak iparnya. Kakak Komatsu menaruh rasa iba kepada Sumi dan berjanji akan mencarikan tempat yang aman baginya. Pagi harinya, mereka berdua pergi ke suatu tempat yang telah dijanjikannya. Mereka pergi ke sebuah rumah di dekat pantai. Rumah tersebut adalah milik Yamada -- teman kakak Komatsu. Yamada adalah seorang janda yang suaminya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sumi merasa aman berada di rumah Yamada dan karena itulah Sumi tidak segan untuk menceritakan pengalaman pahitnya kepada Yamada.

Yamada memperkenalkan Sumi kepada Koide. Ia adalah seorang Kristen dan Koide mulai menceritakan kasih Kristus kepada Sumi. Meskipun hati Sumi sudah dipenuhi oleh kebencian dan dendam, tetapi Yamada dan Koide tidak menyerah. Mereka berdua terus menceritakan kasih Allah dan mengajaknya ke gereja. Pada awalnya Sumi menolak, namun setelah dipikirkannya, ia berpendapat apa salahnya apabila ia memenuhi ajakan Koide. Sumi tidak tertarik pada khotbah yang disampaikan dalam kebaktian tersebut karena khotbah yang disampaikan malam itu mengenai kasih Allah kepada manusia. Karena pengalaman hidupnya, maka ia meragukan ajaran tersebut. Namun Koide tidak menyerah, ia terus mengajak Sumi mengikuti kebaktian yang setiap minggu diadakan oleh Pendeta Honda di gereja. Sumi menjadi pengunjung tetap, tapi ia belum bersedia menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Seusai kebaktian, pendeta Honda menghampiri Sumi dan bertanya kepadanya mengapa ia tidak mau percaya kepada Kristus. Sumi menjawab bahwa ia akan percaya jika pendeta Honda mampu memerlihatkan Tuhan kepadanya. Malam itu, pendeta Honda dan Koide mendoakan Sumi. Dan Tuhan menjamah hatinya, ia bersedia mengampuni orang-orang yang telah menyakitinya dan menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

Dua tahun kemudian terjadi perang pasifik. Rumah Sumi tak luput dari keganasan perang tersebut -- semuanya hancur. Ia tidak memunyai rumah lagi, jalan satu-satunya adalah kembali ke Funo dan tinggal di sana sampai perang berakhir. Sumi berangkat menuju kampungnya dengan menggunakan kereta api, perjalanan tersebut cukup melelahkan. Sumi tiba di desa Sawadani. Ketika ia sedang menunggu bis yang menuju Funo, seorang pria mendekatinya dan mengajaknya berbincang-bincang. Pria tersebut menawarkan kepada Sumi untuk menjadi perawat di Sawadani, mengingat tidak ada perawat di tempat itu saat ini. Sumi pun menerima tawaran tersebut.

Pasien pertamanya adalah seorang ibu yang akan melahirkan. Ini adalah kelahiran anaknya yang ketiga. Kedua anaknya yang terdahulu meninggal selama proses persalinan dan ia sangat takut jika anaknya yang ketiga akan lahir dengan kondisi yang sama. Sumi memanfaatkan waktu tersebut untuk menceritakan kasih Allah kepadanya dan berdoa baginya. Persalinan berjalan dengan lancar dan anaknya dapat lahir dengan selamat. Setiap hari, semakin banyak pasien yang harus ditanganinya. Sumi tidak hanya merawat pasien-pasiennya, tetapi ia juga memberikan hiburan, semangat, dan mendoakan mereka. Namun, ada satu hal yang mengusik hatinya. Sebagai bidan, ia tahu bahwa banyak anak yang lahir di luar pernikahan. Penduduk setempat menganggap hal itu sebagai hal yang biasa. Namun, Sumi tahu bahwa hal tersebut merupakan dosa. Ia tahu bahwa jalan keluar atas masalah ini adalah dengan menyampaikan ajaran Kristus. Sumi semakin yakin bahwa Tuhan menempatkannya di Sawadani untuk menyampaikan Kabar Baik kepada penduduk setempat. Tapi ia tahu, ia tidak dapat melaksanakannya sendirian. Ia tidak memiliki pendidikan khusus, namun ia berdoa agar Tuhan membimbingnya untuk menanamkan nilai-nilai Kristen di Sawadani.

Tiga tahun setelah perang berakhir, tepatnya pada tahun 1948, Pendeta Honda membangun kembali pelayanannya -- menceritakan Kabar Baik. Suatu hari, ia mendapat surat dari Sumi yang memintanya datang ke Sawadani. Namun, ia tidak dapat memenuhi permintaan Sumi. Ia menyarankan agar Sumi menemui Pendeta Hashimoto. Pendeta Hashimoto bukan orang asing bagi Sumi, ia sering memimpin kebaktian yang sering dikunjungi Sumi ketika berada di Kobe. Pendeta Hashimoto memenuhi permintaan Sumi meskipun pada saat itu kondisinya tidak terlalu sehat untuk melakukan perjalanan jauh. Ia juga mengajak Koide ke Sawadani. Kebaktian dimulai pukul tujuh malam. Jumlah orang yang menghadiri kekebaktian tersebut sungguh di luar dugaan -- lebih dari empat puluh orang. Pada hari kedua, orang yang datang jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya. Apa yang diharapkan Sumi terjadi pada hari ketiga -- beberapa penduduk memutuskan untuk mengikut Kristus dan dibaptis. Di antara orang-orang yang akan di baptis, ada seorang pria bernama Sugimoto -- dialah yang menjadi motor penggerak pertumbuhan orang Kristen di Sawadani. Kejadian ini membuat Sumi bahagia. Namun di tengah kebahagiaan tersebut, Sumi dinyatakan positif mengidap kanker payudara. Penyakit tersebut tidak membuat imannya goyah. Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Karena pertumbuhan orang Kristen yang luar biasa, mau tidak mau menimbulkan sebuah tantangan baru.

Suatu sore, Pendeta Hashimoto didatangi orang yang tidak ia kenal. Orang tersebut adalah seorang pendeta Budha. Kunjungan tersebut merupakan awal usaha menghalangi upaya penginjilan di Sawadani. Para pendeta Budha memiliki pengaruh yang cukup besar di Sawadani. Mereka memaksa agar setiap orang tua melarang anak-anak mereka untuk pergi ke gereja. Hal ini membuat Sumi sangat sedih. Namun, pekerjaan Tuhan tidak dapat dihancurkan oleh tangan manusia. Larangan para orang tua tidak menyebabkan anak-anak mereka meninggalkan gereja. Meskipun harus pergi ke gereja secara sembunyi-sembunyi, namun mereka tidak takut menyaksikan Kristus kepada penduduk yang belum percaya.

Pada tanggal 24 Mei 1949, Sumi menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Hamada. Penyakitnya bertambah parah dan menurut dokter tidak ada harapan baginya untuk sembuh. Kabar tersebut tidak membuat Sumi putus asa. Ia tetap bersemangat dan percaya kepada Yesus. Sikapnya itu membuat setiap orang yang berada di rumah sakit menjadi heran. Akibatnya, banyak pasien yang mampu berjalan, datang ke kamar Sumi dan berbincang-bincang dengannya. Sumi menyaksikan Kristus kepada mereka dan Injil pun tersebar di rumah sakit tersebut. Suatu keajaiban terjadi di Hamada. Sumi yang sedang sakit parah membawa tiga puluh orang yang belum percaya datang kepada Kristus. Beberapa di antara mereka menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu dan meneruskan apa yang telah dimulai oleh Sumi dari tempat tidurnya di rumah sakit.

Pada musim panas 1949, Sumi kembali ke Sawadani. Ia disambut hangat oleh teman-temannya sesama Kristen. Ia akan tinggal di Sawadani untuk mengabarkan Injil. Satu kerinduannya adalah memunyai gedung gereja sendiri dan usul ini disetujui oleh setiap anggota. Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menyumbangkan delapan ribu yen guna meyokong pembangunan gedung gereja. Meskipun para pendeta Budha berusaha menghalangi upaya tersebut, namun pembangunan gereja itu terus berjalan. Tahun 1951, segala keperluan untuk membangun gereja telah tersedia dan pembangunan gereja segera dilaksanakan. Gereja tersebut dibangun di atas bukit sehingga dapat terlihat dari berbagai penjuru.

Pada bulan Oktober 1952, Sumi mendapat pekerjaan sebagai perawat di Oyama. Di tempat barunya ini, Sumi tetap bersaksi bahwa Kristus datang untuk menolong dan menyelamatkan manusia. Setelah enam bulan berada di Oyama, penyakitnya kambuh kembali dan sel kankernya telah menyebar, bahkan menyerang organ tubuhnya yang lain. Namun, penyakitnya tidak mematahkan semangatnya untuk tetap memberitakan Injil. Pada bulan April 1953, Sumi mendapatkan perawatan di rumah sakit -- penyakitnya sudah sangat parah. Tidak ada harapan baginya untuk sembuh. Tekanan darahnya turun secara drastis dan daya tahan tubuhnya semakin menurun. Berkat perawatan yang intensif, kondisi Sumi mulai membaik dan ia diizinkan pulang. Pada tanggal 1 September 1953, Sumi menghadiri peresmian gereja di Sawadani dan ia bersyukur karena akhirnya mereka memiliki gereja sendiri. Kondisi kesehatan Sumi semakin memburuk. Kanker tersebut telah menjalar sampai ke wajahnya, kerongkongannya membesar sehingga ia mengalami kesulitan bernapas. Dokter pun sudah tidak dapat berbuat apa-apa.

Pada suatu malam, tepatnya di bulan Desember, Sumi bergumul dengan rasa sakitnya, napasnya seolah terhenti. Dengan tersenyum, ia menutup matanya perlahan-lahan, pergi meninggalkan dunia yang fana ini menuju ke rumah Bapa. Beberapa hari kemudian, ia dikuburkan di lereng bukit -- menghadap ke arah gereja di Sawadani. Upacara penguburan tersebut dihadiri oleh banyak orang. Di antara mereka, hadir pula para pemuka desa Sawadani untuk memberikan penghormatan dan penghargaan atas apa yang telah Sumi lakukan untuk Sawadani. Sumi telah tiada, namun kematiannya membuktikan adanya kemenangan dari Kristus -- adanya harapan menuju kehidupan kekal. Sungguh, di sebuah desa di pegunungan Jepang telah dibangun gereja Tuhan. Telah tiba waktunya dan nyata, bahwa yang telah dilakukan oleh Sumi di Sawadani adalah "rumah emas, perak, batu yang indah" yang akan tetap tinggal sampai selama-lamanya.

Diringkas dari:

Judul buku : Gadis Pejuang Iman
Judul asli buku : Upon This Rock
Penulis : Eric Gosden
Penerjemah : Barus Siregar
Penerbit : Badan Penerbit Kristen, 1965
Halaman : 5 -- 88

e-JEMMi 23/2008

Generasi yang Hilang

Berikut ini suatu kisah nyata dari sebuah panti asuhan di Kenya yang menawarkan kehidupan baru bagi anak-Anak penderita AIDS. Kiranya menginspirasi Anda untuk terlibat dalam pelayanan menolong mereka yang tertular penyakit HIV/AIDS.

GENERASI YANG HILANG

Setiap hari, ratusan anak dan bayi meninggal karena AIDS -- atau penyakit yang berhubungan dengan AIDS dan yang lebih parah lagi adalah terinfeksi AIDS -- yang biasanya diturunkan dari ibu mereka.

"Bayi-bayi malang ditemukan di berbagai tempat," kata Clive Beckenham, direktur New Life Homes. "Di parit-parit, tempat-tempat pembuangan, di ladang-ladang, juga di luar kebun-kebun kopi." Namun, bayi yang baru lahir bisa diberi obat antiretroviral atau ARV. ARV akan menyerang virus HIV penyebab AIDS, dengan demikian pasien bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun. Tidak ada yang lebih memahami hal ini selain Father Angelo d`Agostino, pendiri Nyumbani Orphanage (Panti Asuhan Nyumbani) di Kenya.

"Pada awalnya, di tahun 1992, kami sebenarnya hanya mendirikan rumah singgah," katanya. "Banyak anak yang meninggal karena tidak ada obat-obatan. Pada saat itu, makam anak-anak yatim piatu cepat terisi penuh. Sekarang ini, hampir seratus anak tumbuh dan besar di sini. Kami menyelamatkan mereka dari kematian," kata Father d`Agostino. "Sangat menakjubkan melihat mereka bertambah gemuk, semakin aktif dan sehat." Aturan pemberian ARV memang patut disyukuri sehingga anak-anak Nyumbani bisa bermain, belajar, dan menikmati kegiatan mereka sehari-hari.

UNICEF memperkirakan bahwa lebih dari 95% anak-anak di seluruh dunia yang positif terinfeksi HIV tidak menerima perawatan yang mereka perlukan. Mengobati anak-anak itu lebih rumit karena berat dan tinggi mereka berubah-ubah. Sementara obat menjadi lebih mahal -- mahalnya bisa mencapai delapan kali dosis orang dewasa. "Secara klinis dan ekonomis, merawat anak-anak itu lebih rumit," kata William Bellamy, duta besar AS di Kenya.

Dana mengalir dengan lancar. Dalam lima tahun, 15 milyar dollar Amerika dana yang dijanjikan Presiden Bush untuk AIDS telah menjadikan Kenya sebagai program AIDS terbesar kedua AS dalam dunia yang berkembang ini. Apa yang membuat hal ini menjadi perhatian utama? Duta besar Bellamy mengatakan hal ini berkat usaha kelompok misi Kristen dan nirlaba. "Kami mendapati organisasi-organisasi lokal yang didirikan atas dasar iman ini menjadi rekan kerja yang kuat di mana kami dengan cepat dapat menjalin kerjasama," katanya.

Namun selain masalah dana, anak-anak yang positif terinfeksi HIV sering kali tidak mendapat perawatan karena tidak ada yang tahu bahwa mereka sakit. Dr. Irene Inwani dari Kenyatta National Hospital mengatakan bahwa kesalahan dalam mendiagnosa mudah terjadi. "Anak-anak itu pada umumnya terlihat sehat, namun jumlah CD4 mereka rendah dan bahkan sangat rendah," katanya. Karena anak-anak ini terinfeksi HIV dari ibu mereka, bisa saja satu anak menginfeksi seluruh keluarga.

Banyak keluarga yang takut terhadap diskriminasi

"Karena ketakutan dan merasa HIV adalah suatu aib, tidak mudah untuk mendapatkan izin untuk merawat mereka. Oleh sebab itu, bisa saja anak-anak tersebut tidak mendapat pilihan yang terbaik untuk mendapatkan perawatan," kata Chris Ouma dari UNICEF. Evelyn contohnya, seorang pasien HIV berusia enam belas tahun di Kenyatta National Hospital. Setelah orang tuanya meninggal, sebagian besar keluarganya menolak dia. Namun, bibinya menolong dia mendapatkan awal yang baru di asrama sekolah. Di sana, Evelyn memutuskan untuk menyembunyikan statusnya sebagai penderita HIV. "Jika murid-murid lain tahu bahwa saya positif HIV, hal buruk akan menimpa saya," katanya.

Bagi anak-anak yang kehilangan orang tuanya, mereka selalu dipenuhi dengan pertanyaan di mana mereka akan tinggal. Kenya sendiri memiliki dua juta anak yatim. Pemerintah menganjurkan keluarga-keluarga yang mampu untuk mengadopsi mereka.

Perubahan perilaku di Kenya merupakan kabar baik bagi anak-anak yatim piatu penderita HIV. New Life Homes mengatakan kira-kira 80% dari anak-anak itu akan diadopsi. "Inilah yang kami lihat ketika orang-orang asing masuk ke negara ini," kata Ahmed Hussein dari Departemen Pelayanan Anak Kenya (Kenyan Dept. of Children’s Services), "sekarang hal ini terjadi pada anak-anak Kenya. Menurut saya, ini adalah tahap yang rumit, tahap pendidikan dan perubahan dalam masyarakat."

New Life mengatakan banyak keluarga yang merasa dipanggil Allah untuk mengadopsi anak-anak itu. "Mereka berjalan-jalan, mereka melihat seorang anak, mereka menyukainya," kata Beckenham, "mereka ingin tahu sedikit sejarahnya. Istri saya menceritakan sedikit latar belakang anak itu. Lalu mereka mengatakan, tidak masalah. Allah juga mengasihi saya apa adanya."

Orang-orang Afrika berkata, Anda diinfeksi atau menginfeksi. Untuk keduanya, AIDS merupakan tantangan sepanjang masa. Akhirnya, penderita AIDS berharap ada masyarakat yang akan menerima anak-anak ini -- suatu masyarakat yang memiliki hati yang terbuka. (t/Ratri)

Diterjemahkan dari:

Situs : CBN
Judul asli artikel : Kenya Orphanage Offers New Life for Children with AIDS
Penulis : Heather Sells, dari CWNews
Alamat URL : http://www.cbn.com/cbnnews/cwn/082506kenya.aspx

e-JEMMi 25/2007

Gereja Bertumbuh di Tengah Penganiayaan

"Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk PERCAYA KEPADA KRISTUS melainkan juga MENDERITA UNTUK DIA." (Filipi 1:29) < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Filipi+1:29 >

Misi yang Berorientasi pada Injil

Belum lama berselang di RRC, salah satu ladang kekristenan yang paling tandus di dunia, telah dibuka sebuah China Mission Center (CMC). [Pdt. Stephen Tong diundang sebagai pengkhotbah utama pada hari pembukaan.] CMC ini didirikan sebagai perwujudan dari kesatuan tindakan serta keyakinan untuk bersama-sama bekerja bagi suatu misi dunia, misi yang berorientasi pada pekabaran Injil. Oleh Injil, manusia didorong dan dikuatkan untuk bekerja. Kunci keberhasilan penginjilan yang efektif adalah memiliki dasar firman Tuhan yang kokoh dan penguasaan teologi yang mantap. Pada setiap generasi, kita yang terpanggil untuk melayani harus mengulangi lagi Amanat Agung yang sudah diberikan oleh Yesus Kristus.

Dunia yang Belum Cukup Diinjili

Para ahli misiologi mengatakan bahwa dari lima milyar penduduk dunia dewasa ini, hanya 20% yang beragama Kristen, 80% belum mengenal Kristus, dan 70% penduduk tinggal di tempat-tempat yang sulit dicapai oleh para penginjil sehingga tugas penginjilan harus dikerjakan oleh orang-orang Kristen setempat. Banyak negara telah menutup pintu untuk kekristenan dan penginjilan, tetapi dunia belum tertutup untuk Injil, belum tertutup pintu untuk pekerjaan Roh Kudus melalui anak-anak Tuhan setempat.

RRC adalah salah satu negara seperti itu. Di antara penduduk dunia yang belum terjangkau oleh Injil, 27% tinggal di RRC; dan dari 1,1 milyar penduduk daratan RRC, hanya 50 juta yang Kristen. Sepuluh tahun yang lalu, dunia luar sedikit sekali mendengar tentang apa yang terjadi di RRC. Berdirinya pusat riset mengenai gereja di RRC telah membuat dunia mengerti dan mengetahui apa yang terjadi selama tiga puluh tahun setelah komunis mengambil alih kekuatan politik di Cina. Satu hal yang mengagumkan adalah bahwa gereja di sana bukannya menjadi mati, melainkan bertumbuh berpuluh-puluh kali lipat. Setelah hasil penelitian itu diumumkan kepada dunia, seluruh dunia menjadi kagum; suatu kekaguman yang penuh sukacita dan banyak yang imannya dikuatkan serta didorong kembali. Sekarang tujuan penelitian itu telah diubah, tidak saja untuk mempelajari apa yang sudah terjadi, tetapi juga memobilisasi dunia supaya memfokuskan perhatian pada bagaimana bisa menolong orang Kristen di Cina.

Seorang sejarawan mengatakan bahwa dalam 15 -- 20 tahun yang akan datang, pintu untuk penginjilan di RRC akan terbuka lebar dan RRC akan menjadi ladang penuaian terbesar sepanjang sejarah manusia. Ladang ini sudah tersedia untuk dituai, tetapi yang mengerjakan terlalu sedikit. Karena ladang itu begitu besar, seluruh dunia diperlukan untuk pekerjaan itu. Semakin giat Anda terjun dalam menginjili orang lain dan melatih diri bagi pelayanan itu, semakin besar pula kemungkinan Tuhan memakai Anda untuk berbagian dalam penginjilan di RRC serta tempat-tempat lain di dunia.

Sejarah Singkat Pertumbuhan Gereja di RRC

Banyak pelajaran penting dapat kita petik dari apa yang terjadi dalam sejarah gereja di RRC. Salah satunya ialah bukti bahwa betapa pun besar penganiayaan politik terhadap gereja, gereja bisa terus berkembang.

Sejak daratan RRC jatuh ke tangan komunis pada tahun 1949, kesulitan dan kesengsaraan mulai menyerang kekristenan. Pada waktu itu, ada 20.000 gedung gereja, 6.000 misionaris, 10.000 penginjil dari RRC sendiri, dan ada 2.000 pendeta yang sudah ditahbiskan. Hampir semua denominasi besar terwakili di RRC. Mereka telah bekerja seratus tahun untuk memenangkan satu juta orang Kristen. Tetapi selama sepuluh tahun pertama komunis berkuasa, semua gedung gereja dan semua yang kelihatan secara lahiriah dihancurleburkan. Semua sekolah teologi/seminari serta rumah sakit Kristen ditutup, dan semua penginjil luar negeri diusir oleh pemerintah.

Pada tahun 1959, semua gereja ditutup, kecuali beberapa gereja yang dipercayai oleh pemerintah dan menjadi alat pemerintah. Pada tahun 1955, pendeta-pendeta yang setia kepada Tuhan dan melawan komunis ditangkap dan dipenjarakan. Pada tahun 1958, banyak pendeta yang setia kepada Tuhan mulai mundur dari pekerjaan Tuhan. Semua gereja di desa-desa dan di kota-kota kecil ditutup dan mereka mengalami kesulitan yang luar biasa. Bagaimana kebaktian bisa berlangsung jika gereja sudah ditutup dan para pendeta dipenjarakan? Bagaimana pengabaran Injil dilaksanakan jika sekolah teologi ditutup, penginjil-penginjil tidak ada lagi dan Kitab Suci disita serta dibakar oleh komunis?

Di dalam kesulitan dan kekecewaan itu, beberapa orang Kristen berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil dan mulai berdoa kepada Tuhan. Di situlah gereja rumah tangga mulai bergerak. Pada tahun 1966, revolusi kebudayaan meletus di RRC, dan semua orang Kristen dikejar-kejar untuk dianiaya luar biasa. Orang Kristen dihina dan dibawa ke tempat-tempat latihan yang sulit, mereka harus bekerja berat, diarak di jalan-jalan untuk dipermalukan.

Di sebuah kota kecil, Kitab-kitab Suci orang Kristen disita dan dikumpulkan sehingga menjadi suatu bukit kecil. Komunis memaksa orang Kristen di tempat itu untuk berlutut mengelilingi bukit tumpukan Kitab Suci itu dan mengaku bersalah. Lalu mereka menyulutkan api dan membakar habis semua Alkitab itu. Orang-orang Kristen itu tidak boleh meninggalkan tempat sehingga panas api melukai wajah mereka.

Pada waktu itu, banyak orang bunuh diri karena tidak tahan terhadap tekanan hidup, termasuk juga orang Kristen. Pendeta-pendeta yang sudah berkompromi dengan komunis tidak sanggup lagi bertahan dengan iman mereka. Mereka naik ke sebuah gedung berlantai tiga lalu terjun dan mati. Banyak guru Injil wanita dipukul sampai mati di gereja mereka sendiri. Peristiwa penganiayaan yang diderita orang Kristen begitu banyak sehingga tidak dapat diceritakan satu per satu. Tetapi melalui beberapa tahun penganiayaan, orang Kristen di RRC mendapat suatu pelajaran yang sangat berharga, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus dalam Filipi 1:29; melalui penderitaan, orang Kristen mengerti bahwa kita tidak hanya dipanggil untuk memercayai Yesus Kristus, tetapi juga dipanggil untuk menderita bagi Dia.

Terlalu banyak kekristenan murahan diberitakan di dunia. "Percayalah pada Yesus Kristus, maka engkau akan selamat"; cuma itu lalu selesai. Orang Kristen boleh masuk surga, menikmati segala kenikmatan di dunia ini. Memang benar dengan percaya kepada Yesus Kristus, kita akan selamat dan diberkati oleh Tuhan, tetapi itu baru separuh kebenaran saja. Masih ada separuh lagi, yaitu bagaimana menjadi murid-murid Kristus yang sejati. Kita dianugerahi Tuhan tidak hanya untuk percaya, tetapi juga untuk menderita bagi Kristus.

Dalam masa revolusi kebudayaan, ada seorang guru yang dipukul hingga hampir mati. Ia menderita luar biasa. Setelah dipukul, ia diikat dengan rantai lalu diarak di jalan-jalan kota itu. Kemudian ia diikat di sebuah pohon dan dijemur di bawah terik matahari, setiap hari selama musim panas. Anak-anak kecil, murid-muridnya sendiri, disuruh meludahi dan menendang badannya. Selama satu bulan penuh ia dipermalukan sedemikian dan baru kemudian dibebaskan. Karena ia begitu kecewa dan tidak ada muka lagi untuk menghadapi murid-murid yang telah menganiayanya, ia memutuskan untuk bunuh diri. Pada saat kekecewaannya memuncak, ia berdiri di sebuah jembatan dan melihat air di bawahnya. Saat ia akan meloncat, anaknya yang berumur delapan tahun berteriak, "Ayah ... Ayah, jangan loncat ...! Saya tahu Ayah telah menderita semua ini untuk Kristus!" Saat itu ia sadar, lalu memeluk anak perempuannya dan mencucurkan air mata. Ia mengaku dosa di hadapan Tuhan karena imannya yang terlalu kecil. Melalui mulut anaknya itu, ia mengerti bahwa ia tidak hanya diberi anugerah untuk percaya, tapi juga untuk menderita bagi Dia. Justru melalui kesengsaraan yang demikian, gereja dan orang-orang Kristen memahami arti panggilan Tuhan dan iman mereka menjadi bertumbuh. Mereka mengerti apa arti pengharapan di dalam Kristus.

Iman yang Dibangkitkan

Pada tahun 70-an, di tengah-tengah perjalanan revolusi kebudayaan, gereja mulai berkembang lagi. Gereja pada waktu itu bagaikan padang pasir yang tandus karena banyak orang Kristen ketakutan dan tidak berani menyatakan iman mereka. Tetapi sebagian di antara mereka yang sudah mengalami kuasa Tuhan, sekali lagi mengaku nama Tuhan. Seorang pemuda Kristen menyalakan tekadnya kembali dengan mengunjungi keluarga-keluarga Kristen dan mengajak mereka keluar dari ketakutan: "Mari kita berbakti kembali, jangan berhenti berbakti! Jangan berhenti berdoa! Mari kita mulai lagi!" Lalu ia berkeliling mengunjungi setiap desa di provinsi itu sehingga muncul istilah "penginjil keliling". Jumlah yang dimulai dari 5 orang menjadi 10, 15, 20, dan terus bertambah.

Ketika Mao Zedong meninggal dunia, RRC sudah penuh dengan gereja-gereja bawah tanah. Pemerintah komunis tidak hanya melarang mereka mengadakan pertemuan-pertemuan tetapi juga tidak memperbolehkan mereka mengaku percaya kepada Yesus Kristus. Jika kelompok-kelompok doa itu ditemukan polisi, mereka diusir. Di tengah pengejaran itu, mereka hanya bisa berdoa, "Tuhan, kasihanilah kami." Bagaimana Tuhan menjawab dan menguatkan mereka?

Pada waktu itu, ada keluarga komunis yang memunyai dua ekor babi. Babi di sana besar sekali artinya. Seekor babi berarti gaji seorang pekerja selama satu tahun. Suatu hari, babi keluarga itu mati seekor, dan hari berikutnya babi yang kedua mati. Sang istri marah-marah dan memukul suaminya sambil berkata, "Jangan lagi menganiaya orang Kristen, babi kita mati semua." Suaminya menjawab, "Ya ..., ya ..., saya berjanji tidak lagi menganiaya orang Kristen, tidak lagi mengganggu gereja."

Ada seorang pemimpin komunis yang mendapat kesulitan lebih besar lagi. Setelah menghujat Allah, tiba-tiba lidahnya keluar dan tidak bisa lagi ditarik masuk. Ia menjadi tersiksa, tidak bisa makan, tidak bisa berkata-kata, dan tidak bisa tidur sehingga ia pergi ke dokter. Dokter mengatakan ia belum pernah menghadapi penyakit seperti itu. Pada saat itu, ada seorang Kristen di klinik yang mendengar pembicaraan mereka. Lalu ia berkata, "Saya kira penyakit seperti itu tidak dapat disembuhkan dokter, engkau harus pergi kepada orang Kristen, mungkin akan sembuh." Komunis itu menjadi sangat jengkel, tetapi ia pergi juga ke seorang tua-tua Kristen dan menceritakan masalahnya. Jawab tua-tua itu, "Memang engkau sudah menghujat Tuhan, sekarang dihukum Tuhan, bukan? Kami tidak mau mendoakan engkau kecuali engkau bertobat. Mau bertobat?" "Ya ..., ya ...," kata komunis itu. "Tapi itu tidak cukup, engkau harus percaya pada Yesus Kristus. Kalau engkau tidak percaya Dia, kami berdoa pun engkau tidak akan disembuhkan. Mau percaya Yesus Kristus?" Dengan lidah yang terjulur ia menjawab, "Ya ..., ya ...." Maka mereka menumpangkan tangan atas orang itu dan berdoa. Di tengah-tengah doa yang belum selesai, lidahnya sudah kembali normal. Komunis itu pun menjadi Kristen dan bergabung dengan gereja.

Gereja Dibangunkan oleh Doa

Apakah hikmah dari kasus-kasus itu? Di tengah keadaan tanpa pertolongan sama sekali, orang Kristen tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdoa; dan Tuhan menjawab. Itulah sebabnya dalam masa revolusi kebudayaan, gereja justru makin berkembang dan terus bertumbuh. Tidak ada senjata lain kecuali doa! Mereka mengalahkan penganiayaan dan membangunkan iman melalui doa. Setelah Mao Zedong meninggal dunia, kita melihat gereja dibangunkan secara luar biasa di seluruh Tiongkok. Di setiap kota dan desa kecil di Tiongkok Utara, kita dapat menjumpai sebuah gereja. Ada satu kota yang pada tahun 1949 hanya memunyai 4.000 orang Kristen, sekarang memunyai 160.000 orang Kristen. Ada satu desa nelayan yang memunyai tiga ratus orang Kristen setelah seorang pendeta bekerja di sana selama sepuluh tahun. Pendeta itu ditangkap pada tahun 1960. Setelah dibebaskan, ia kembali ke desa itu dan menjumpai 20.000 orang Kristen di sana.

Bagaimana gereja di RRC berkembang melalui keadaan seperti itu? Pada waktu sadar, kita mati dan bangkit bersama Kristus, gereja pun bangkit oleh kuasa Roh Kudus. Gereja bertumbuh pada saat kita sadar bahwa Kristus Tuhan ada di dalam gereja itu.

Tahun 1961 kebangunan rohani besar terjadi di RRC. Tetapi seiring perkembangan itu, banyak pula bidah dan aliran sesat muncul dalam gereja. Ada orang yang mengaku diri sebagai Kristus. Ia memunyai 12 murid dan 12 anak dara yang melayani dia sehingga orang tuanya pun harus merendahkan diri di bawahnya. Muncul juga nabi-nabi palsu yang menjalankan perzinahan. Padahal penganiayaan masih terus dilakukan oleh pemerintah.

Bagaimana gereja mengatasi masalah-masalah tersebut? Saat itu dibentuklah suatu pertemuan besar yang dihadiri utusan-utusan dari enam puluh desa. Mereka berkumpul selama satu minggu, kemudian mengambil keputusan mengucilkan tujuh pengajar sesat dan orang-orang yang berzinah. Mereka menulis surat untuk diedarkan di desa-desa itu. Maka pada waktu itu, gereja di RRC mulai belajar bagaimana mereka harus menjalankan disiplin rohani.

Permintaan untuk mengirimkan para penginjil ke provinsi-provinsi lain terus mengalir. Maka mereka berkumpul, berpuasa, dan berdoa untuk mengambil keputusan pergi atau tidak. Kemudian ditunjuk dua belas orang Kristen terbaik dan paling berbakat untuk pergi kira-kira seribu kilometer ke provinsi lain dengan berjalan kaki. Provinsi Sichuan adalah provinsi yang berpenduduk kira-kira satu juta jiwa dan mereka belum mengenal Kristus. Dalam satu bulan itu, ada enam belas gereja didirikan. Tetapi setelah satu bulan itu, hampir semua penginjil tersebut ditangkap oleh komunis. Mereka diikat dengan tali pada ibu jari tangannya, kemudian digantung di atap rumah sehingga seluruh berat badannya tergantung pada ibu jari. Mereka dipukul dan diikat, lalu dipaksa untuk berlutut tiga hari tiga malam di atas ubin yang dipasangi kerikil-kerikil tajam yang menusuk lutut mereka. Demikianlah mereka menderita karena Injil untuk mengatakan nama Yesus dan memberitakan Kabar Kesukaan kepada orang lain. Ada yang dipenjarakan dan baru tahun lalu dibebaskan. Sekarang orang Kristen di wilayah RRC Tengah sedang mengalami aniaya luar biasa.

Strategi Pengabaran Injil yang Lahir dari Keadaan Tertekan

Belajar dari pengalaman-pengalaman itu, pada tahun 1985 di provinsi utara diadakan suatu program pelatihan untuk orang Kristen selama seminggu, berupa latihan hidup kerohanian. Dari pengalaman dalam penganiayaan itu, mereka menemukan tujuh pokok penting dalam strategi pengabaran Injil.

  1. Mengabarkan Injil adalah memberitakan keselamatan di dalam Yesus Kristus, supaya orang yang percaya bertobat dan diselamatkan.

  2. Menempuh jalan salib; berani menderita sengsara bagi Kristus.

  3. Mengenali ajaran-ajaran palsu dan teologi yang tidak benar.

  4. Membangunkan dan menguatkan gereja. Sesudah Injil diberitakan, iman orang-orang yang baru percaya perlu dikuatkan dan dipupuk supaya menjadi jemaat yang kuat.

  5. Menumbuhkan dan mendewasakan hidup kekristenan mereka yang sudah percaya.

  6. Bersekutu dengan gereja-gereja di sekitarnya. Jika sudah ada 30 -- 50 gereja, mereka berkumpul dan membentuk satu sinode. Dari sepuluh sinode kecil, mereka membentuk satu sinode besar.

  7. Mengirimkan orang-orang Kristen berbakat yang mau mengabarkan Injil ke daerah-daerah yang belum mengenal Injil. Sekarang sudah diadakan program tiga tahun untuk melatih orang-orang Kristen untuk menjadi hamba Tuhan yang baik. Setelah tiga tahun itu, mereka dikirim secara berpasangan untuk mengabarkan Injil dengan didampingi seorang hamba Tuhan yang lebih berpengalaman.

Rahasia mengalahkan penganiayaan dan kesulitan ialah jalan salib mengikut Yesus. Ini tidak gampang, tetapi umat Kristen di RRC sudah belajar bahwa mereka dipanggil dan dikaruniai tidak hanya untuk percaya pada Yesus Kristus, tetapi juga menderita untuk Dia. Bagi Kristus, jalan salib adalah jalan menuju kemuliaan. Kita dipanggil untuk mengikuti jejak-Nya.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul majalah : Momentum, edisi 3, Bulan Oktober 1987
Judul artikel : Gereja Bertumbuh di Tengah Penganiayaan
Penulis : Dr. Jonathan Chao
Halaman : 10 -- 15

e-JEMMi 45/2007

Gereja dan Lingkungan Hidup

Sadarkah Saudara bahwa alam tempat tinggal kita ini makin rusak? Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup tanggal 5 Juni yang lalu, banyak orang menyoroti kerusakan lingkungan hidup. Kita merasakan bumi yang makin panas, banjir, serta pencemaran udara, air, dan tanah; semua itu adalah masalah yang menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Gaya hidup manusia yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi alam yang berlebihan telah membuat alam ini berduka. Lingkungan hidup menjadi rusak dan terjadilah ketidakadilan ekologi.

Mengapa lingkungan hidup kita menjadi rusak? Adakah cara pandang dan sikap manusia yang salah terhadap alam? Tentu saja. Pemahaman dan cara pandang orang terhadap lingkungan hidup memengaruhi sikap mereka dalam memperlakukan alam. Misalnya ada pandangan bahwa manusia adalah pusat alam semesta (anthroposentris). Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem. Alam dilihat hanya sebagai objek, alat, dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya bernilai sejauh menunjang kepentingan manusia. Tentu pandangan seperti itu menghasilkan sikap yang tidak bersahabat dengan alam.

Lalu, bagaimanakah pandangan kita (orang Kristen) terhadap alam atau lingkungan hidup? Alkitab sebagai sumber nilai dan moral kristiani menjadi pijakan dalam memandang dan mengapresiasi alam. Alkitab sebenarnya mengajak manusia memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ciptaan Allah lainnya, termasuk alam atau lingkungan hidup. Perhatikanlah kajian teologis berikut ini:

1. Semua ciptaan adalah berharga, cerminan keagungan Allah (Mazmur 104).

Kebesaran Tuhan yang Mahaagung bagi karya ciptaan-Nya (dalam artian lingkungan hidup) tampak dalam Mazmur 104. Perikop ini menggambarkan ketakjuban pemazmur yang telah menyaksikan bagaimana Tuhan yang tidak hanya mencipta, tapi juga menumbuhkembangkannya dan terus memelihara ciptaan-Nya. Ayat 13, 16, 18, dan 17 misalnya, menggambarkan pohon-pohon diberi makan oleh Tuhan, semua ciptaan menantikan makanan dari Tuhan. Yang menarik adalah bukan hanya manusia yang menanti kasih dan berkat Allah, tapi seluruh ciptaan (unsur lingkungan hidup). Di samping itu, penonjolan kedudukan dan kekuasaan manusia atas ciptaan lainnya di sini tidak tampak. Itu berarti bahwa baik manusia maupun ciptaan lainnya tunduk pada kemahakuasaan Allah. Dalam ayat 30, secara khusus dikatakan: "Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi." Kata "roh" sering kali dikaitkan dengan unsur kehidupan, atau hidup itu sendiri. Ini berarti seluruh makhluk ciptaan di alam semesta ini diberikan unsur kehidupan oleh Tuhan. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa bukan hanya manusia yang diberi kehidupan, tapi juga ciptaan lainnya. Betapa berharganya seluruh ciptaan di hadapan Tuhan. Roh Allah terus berkarya dan memberikan kehidupan.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa sebagai Pencipta, Allah sesuai rencana-Nya yang agung telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan fungsinya masing-masing dalam hubungan harmonis yang terintegrasi dan saling memengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Jadi, sikap eksploitatif terhadap alam merupakan bentuk penodaan dan perusakan terhadap karya Allah yang agung itu.

2. Semua ciptaan (kosmos) diselamatkan melalui Kristus (Kolose 1:15-23).

Dalam perikop ini diungkapkan dimensi kosmologis yang terkait erat dengan hal keutamaan Kristus, khususnya karya pendamaian, penebusan, dan penyelamatan-Nya atas semua ciptaan. Dalam ayat 23 dikatakan bahwa Injil diberitakan kepada seluruh alam. Melalui Kristus dunia diciptakan, dan melalui Kristus pula Allah berinisiatif melakukan pendamaian dengan ciptaan-Nya. Sekarang alam berada di bawah kuasa-Nya dan dengan demikian kosmos mengalami pendamaian. Bagian ini juga menekankan arti universal tentang peristiwa Kristus melalui penampilan dimensi-dimensi kosmosnya dan melalui pembicaraan tentang keselamatan bagi seluruh dunia, termasuk semua ciptaan. Kristus membawa pendamaian dan keharmonisan bagi semua ciptaan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Penebusan Kristus juga dipahami sebagai penebusan kosmos yang mencakup seluruh alam dan ciptaan. Penyelamatan juga mencakup pendamaian atau pemulihan hubungan yang telah rusak antara manusia dan ciptaan lainnya.

Demikianlah dapat disimpulkan bahwa baik manusia maupun segala ciptaan atau makhluk yang lain merupakan suatu kesatuan kosmik yang memiliki nilai yang berakar dan bermuara di dalam Kristus.

Dengan memerhatikan kajian teologis di atas, maka melahirkan teologi kontekstual-ekologis sebagai berikut.

1. Teologi Ciptaan

Teologi ciptaan menekankan karya Allah yang memberikan hidup kepada seluruh ciptaan (Mazmur 104). Dalam hal ini, manusia dilihat sebagai bagian integral dari alam bersama tumbuh-tumbuhan, hewan, dan ciptaan lainnya. Tanggung jawab manusia adalah bekerja untuk Tuhan dalam memelihara dan mengelola lingkungan hidup, bukan mendominasi apalagi mengeksploitasinya. Teologi seperti ini juga pernah dirumuskan dalam KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992.

2. Solidaritas dengan Alam

Kesadaran bahwa seluruh ciptaan berharga di mata Tuhan, membawa kita untuk membangun sikap solidaritas dengan alam. Kita memperlakukan lingkungan hidup sebagai sesama ciptaan yang harus dikasihi, dijaga, dipelihara, dan dipedulikan. Kita mencintai dan memperlakukan lingkungan hidup dengan sentuhan kasih sebagaimana sikap Tuhan. Kita membangun solidaritas baru dengan alam yang telah rusak.

3. Spiritualitas Ekologis

Spiritualitas ini dibangun dengan dasar penghayatan iman bahwa semua ciptaan diselamatkan dan dibaharui oleh Tuhan. Pembaharuan itu menciptakan kehidupan yang harmonis. Spiritualitas ekologis memunyai dasar pada pengalaman manusiawi yang berhadapan dengan kehancuran lingkungan hidup sekaligus berhadapan dengan pengalaman akan yang Mahakudus, yang mengatasi segalanya. Dalam pengalaman ini, kita dipanggil untuk secara kreatif memelihara kualitas kehidupan, dipanggil untuk bersama Sang Penyelenggara hidup ikut serta mengusahakan syalom, kesejahteraan bersama dengan seluruh alam. Spiritualitas ekologis terwujud dalam macam-macam tindakan etis sebagai wujud tanggung jawab untuk ikut memelihara lingkungan hidup.

Konkretnya, apa yang dapat gereja lakukan untuk mewujudkan pandangan teologi seperti tersebut di atas?

Selama ini gereja hanya berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan kebaktian atau kegiatan lain yang melayani manusia. Sudah saatnya gereja menyadari bahwa gereja memiliki tugas panggilan menjaga keutuhan ciptaan atau kelestarian lingkungan hidup, misalnya dengan membuat program-program sebagai berikut.

1. Pembinaan tentang Kesadaran Ekologis

Pembinaan ini merupakan upaya gereja untuk mengingatkan anggotanya bahwa alam adalah ciptaan Allah yang harus dihargai dengan memelihara dan melestarikannya. Misalnya dalam PA atau pembinaan khusus dan tema-tema kebaktian.

2. Perayaan Lingkungan Hidup dalam Liturgi

Misalnya membuat ibadah khusus untuk merayakan Hari Lingkungan Hidup. Dalam ibadah, ada baiknya kita melakukan penyesalan dosa yang dilakukan terhadap alam semesta karena ulah manusia yang telah merusak alam. Penting juga untuk menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu rohani yang bertemakan alam.

3. Menyuarakan Suara Kenabian terhadap Kerusakan Lingkungan Hidup

Gereja perlu menyuarakan kritik atau memberikan masukan-masukan bagi masyarakat atau pun pemerintah terkait dengan upaya melestarikan lingkungan hidup.

4. Menata Lingkungan Gereja dengan Memerhatikan Keseimbangan Ekologis.

Misalnya jangan habiskan tanah untuk mendirikan bangunan, tapi berikan ruang untuk tanam-tanaman. Kita bisa membangun lingkungan gereja yang hijau dan asri.

5. Gerakan Penanaman Pohon bagi Seluruh Warga Gereja

6. Mengajak Anggota Jemaat Membudayakan Gaya Hidup yang Ramah dan Dekat dengan Alam.

Misalnya dengan memisahkan sampah plastik, membuat lingkungan sekitar rumah menjadi hijau dengan tanam-tanaman.

7. Membangun Kerja Sama dengan Lembaga atau Kelompok Pencinta Alam.

Misalnya WALHI, untuk memperjuangkan pembangunan yang berwawasan ekologis.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : suplemenGKI.com
Penulis : Tidak dicantumkan
Alamat URL : http://suplemengki.com/?p=16

e-JEMMi 46/2009



Ghulam Masih Naaman (Kasih Karunia-Ku Cukup Bagimu)

Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Ghulam Masih Naaman dilahirkan di Jammu, Kashmir. Ia adalah anak ke-5 dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang tuan tanah yang sangat berhasil. Semasa kecilnya, Ghulam hidup berkecukupan. Setelah kelahiran kakak-kakaknya, ibunya rindu memiliki anak lagi. Namun, selalu gagal karena semua anak yang lahir meninggal ketika masih bayi. Oleh sebab kelahiran Ghulam dianggap sebagai mukjizat, setelah Ghulam lahir, ibunya membawanya ke sebuah kuil yang terletak di pegunungan Kashmir untuk dipersembahkan kepada dewi-dewi (ibunya adalah seorang Kedar yang taat, namun masih percaya kepada dewi-dewi -- agama warisan dari orang tuanya). Oleh sebab itulah Ghulam masih membawa tanda lahir di tubuhnya, yaitu kuping yang berlubang, tanda bahwa ia adalah milik dewi-dewi.

Pada usia lima tahun, Ghulam masuk sekolah dasar. Pada usia ini juga, untuk pertama kalinya, ia pergi ke tempat ibadah agamanya yang terletak tidak jauh dari rumahnya untuk belajar mengaji dan mempelajari kitab sucinya. Ketika Ghulam berusia sembilan tahun, ia menempuh pendidikan sekolah menengah di Jammu, Kashmir -- Sekolah Menengah Maha Raja Ranbeer Singh, sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak raja atau penguasa. Sekolah tersebut menawarkan berbagai macam pralatihan militer, seperti menunggang kuda dan menembak -- sesuatu yang pantas bagi anak-anak raja. Namun bagi Ghulam, pendidikan semacam ini merupakan hal yang cukup membingungkan baginya karena tidak jelas ke mana pendidikan tersebut mengarahkannya. Karena sekolah ini dikhususkan bagi orang Hindu, maka setiap siswa harus mempelajari agama dan kitab suci Hindu.

Perang dunia ke-2 terjadi ketika Ghulam berusia enam belas tahun -- India masuk ke dalam sebuah dilema. Seperti rakyat India yang menginginkan kemerdekaan dari kekuasaan Inggris, Ghulam pun menginginkan hal yang sama. Namun, Ghulam masih terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi dalam dunia politik dan ideologi di India. Melihat situasi tersebut, Ghulam memutuskan untuk malamar sebagai anggota angkatan udara. Ia diterima dan ditempatkan sebagai montir yang bertugas untuk memelihara dan memerbaiki pesawat terbang. Latihan pertama Ghulam dilaksanakan di Lahore. Setelah itu, ia dipindahkan ke Birma dan Ronggon. Beberapa waktu kemudian, ia dikirim ke akademi angkatan udara dan di tempat inilah ia memeroleh gelar master dalam bidang intelijen militer.

Ketika melakukan tugasnya, Ghulam selalu membina hubungan baik dengan siapa saja. Baginya, nilai seseorang tidak tergantung dari warna kulit, ras, dan kepercayaannya. Pengabdian penuh pada pekerjaan, integritas, dan sifatnya yang dapat dipercaya menjadi kualitas yang memampukannya mencapai sukses dalam setiap kedudukannya. Ia tidak dapat menerima ketidakjujuran, baik dalam dirinya sendiri maupun orang lain. Ia juga tidak pernah menekan bawahannya, bahkan ia menjadi pendengar yang baik terhadap keluhan-keluhan bawahannya. Namun, tidak semua orang bersikap demikian. Ia tidak dapat memungkiri bahwa hubungan di antara para perwira dalam angkatan udara kurang baik. Para perwira Inggris sering memandang rendah para perwira India. Mereka menganggap para perwira India memiliki mutu yang rendah dan menyebut mereka dengan istilah "Bloody Indians". Kehidupan para perwira India tidak dihargai, meskipun mereka berpangkat sama. Tutur kata mereka terkadang kasar dan tidak sopan. Hal ini membuat Ghulam sangat terganggu.

Diskriminasi tersebar dengan luas. Orang-orang Inggris tidak mau menyesuaikan diri dengan dengan orang-orang India. Namun, di antara sekian banyak perwira Inggis yang angkuh, Ghulam menemukan sosok perwira Inggris yang penuh belas kasih. Perwira tersebut bernama Kapten Bexter. Ia adalah orang yang agak tertutup, namun dari sikapnya, Ghulam mengetahui orang seperti apa dia. Kapten Bexter tidak merendahkan perwira India, ia memerhatikan jaminan sosial mereka. Hal yang paling berkesan tentang Kapten Bexter adalah tindakannya dalam peperangan. Jika ada serangan dari pihak lawan, ia akan memerintahkan bawahannya untuk berlindung di gereja (sebuah tenda yang dipakai untuk kebaktian). Di tempat itu, Bexter akan berdoa dan hal yang dilakukan bawahannya adalah mengucapkan kata "amin" ketika ia selesai berdoa. Ghulam belum pernah mendengar doa seperti yang dilakukan Bexter -- doa yang sangat sederhana, yang langsung menuju kepada Tuhan.

Suatu ketika, Ghulam mendapat tugas untuk menguji sebuah pesawat terbang. Namun setelah berjarak kira-kira tiga puluh mil, ia terkena tembakan dari pihak lawan. Pusan, rekan kerja Ghulam, mengambil kendali atas pesawat tersebut. Pendaratan dapat dilakukan dengan selamat, tetapi Ghulam tidak sadarkan diri akibat peristiwa tersebut. Ia dilarikan ke rumah sakit dan mendapat perawatan selama dua puluh hari. Selama menjalani perawatan, Ghulam tidak kekurangan apa-apa. Ia dirawat oleh dua orang perawat, Amber dan Marry, yang merawatnya dengan penuh belas kasih. Ghulam ingin mengetahui apa alasan Amber dan Marry sehingga mereka sangat mengasihinya. Mereka berkata, "Kami merawat Anda bukan karena Anda tampan, bukan untuk mengharapkan hadiah dari Anda, namun kami adalah orang Kristen. Tuhan Yesus telah menderita demi keselamatan manusia, dan tugas kami adalah untuk melayani sesama manusia."

Ghulam terharu mendengar kesaksian ini. Sekali lagi ia dikonfrontasikan dengan Tuhan Yesus melalui dua murid-Nya, ketika ia melihat anak-anak Tuhan mengasihi dan melayani sesama manusia di tengah-tengah pembantaian dan kurangnya perhatian terhadap sesama. Ghulam merasakan kehadiran Allah, tetapi tidak ada waktu baginya untuk merefleksikannya. Ghulam keluar dari rumah sakit dan bergegas kembali ke markas. Ia mendapat tugas baru, yaitu mencegah pegawai-pegawai angkatan udara memasuki daerah-daerah pelacuran. Di sini ia berkenalan dengan Philips, seorang anggota angkatan udara. Kehadiran Philips membuatnya gembira, ditambah lagi dengan lelucon-leluconnya. Pada suatu hari, Philips akan dipindahkan ke tempat lain. Philips sangat marah atas keputusan tersebut. Alasan mengapa ia tidak mau dipindahkan adalah karena ia mencintai Kumla, seorang pelacur. Ghulam mencoba memberikan nasihat kepada Philips bahwa dengan menikahi wanita semacam itu, berarti menentang norma sosial. Philips tetap teguh pada pendiriannya. Ia berkata, "Tuhan Yesus menyayangi seorang penjahat seperti saya dan mengorbankan hidup-Nya sebagai tebusan untuk menyelamatkan jiwa saya, maka saya juga harus bisa menerima orang yang berdosa dan dihinakan dunia."

Pada tahun 1945, perang dunia II berakhir. Namun, bagi India ini merupakan periode yang sangat buruk. Agama dijadikan sebagai batu antukan di mana banyak orang tersandung karenanya. Hindu dan kaum Kedar tidak dapat hidup secara damai. Ketakutan dan kebencian semakin meningkat, pembunuhan dan kerusuhan terjadi di seluruh penjuru India. Sebenarnya, kaum Kedar bukanlah sesuatu yang baru di India. Agama kaum Kedar tersebut pertama kali masuk di India pada tahun 712 SM. Pada mulanya, kaum Kedar dan Hindu hidup secara berdampingan, namun kaum Kedar mengambil alih kekuatan politik di bagian utara India, sebagai keturunan Jengis Khan yang mengalahkan Delhi pada tahun 1526 dan mendirikan dinasti Mughal. Dinasti ini tidak berusaha memaksa penduduk memeluk agama kaum Kedar karena golongan Hindu Brahmana dari golongan kuat tidak akan memberi kesempatan, walaupun mereka telah mencobanya. Sedangkan beberapa orang kaum Kedar dari golongan tinggi Mughal adalah orang-orang yang bertobat dari kasta Hindu terendah.

Hal ini membuat Ghulam seolah berada di persimpangan jalan, ia tidak tahu harus berbuat apa. Pada Agustus 1947, kekuasaan Inggris berakhir di India. Namun hal ini tidak membuat situasi di India membaik. Kerusuhan, pembunuhan, dan peperangan terjadi di India. Setiap orang Kedar sejati harus percaya dan mengakui prinsip-prinsip dasar iman -- jika seseorang tidak bisa mengucapkan kalimat sahadat, mereka adalah orang kafir dan berperang melawan mereka adalah benar. Pertemuan Ghulam dengan Yesus terjadi ketika ia mendatangi sebuah keluarga Kristen dan meminta mereka untuk menyangkal imannya. Seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun dari keluarga tersebut menolak untuk menyangkali Yesus meskipun telah diancam. Tidak ada rasa takut terpancar dari wajah gadis kecil ini. Ketika keluarga ini berdoa, tiba-tiba suatu cahaya menyembunyikan mereka dari pandangan Ghulam. Cahaya itu begitu cemerlang dan mengerikan. Sedikit demi sedikit, cahaya itu mendekati Ghulam dan ia mulai merasa takut. Ghulam tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dalam benaknya muncul pemikiran untuk meminta maaf kepada makhluk tersebut. Lalu Ghulam mendengar suara yang berkata, "Kami mengampuni Anda dalam nama Yesus."

Setelah kembali ke markas, nama Yesus terus terngiang di telinganya, dan Ghulam mulai mengingat pengalaman masa lalunya. Yesus yang dipercayai oleh Bexter, melindunginya dan teman-temannya dari serangan lawan. Yesus yang dipercayai Amber dan Marry, demi Dia, mereka telah menyelamatkan kehidupan seorang pria yang sudah tidak bisa ditolong. Yesus yang dipercayai Philips, memberi kekuatan kepadanya untuk berkorban bagi orang lain. Dan yang paling berkesan dari semua pengalaman itu ialah pertemuannya dengan Yesus yang diimani oleh seorang gadis kecil yang datang dan menyelamatkan para pengikut-Nya di waktu yang tepat. Matanya telah melihat tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus kepada gadis kecil bersama orang tuanya. Pemikiran ini selalu membayangi dirinya dan Ghulam tidak memiliki kekuatan untuk menghindar. Suatu pagi, Ghulam bangun untuk melakukan sembahyang seperti biasanya. Tiba-tiba ada yang datang dari belakang, meletakkan tangan di bahunya dengan penuh kasih dan berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu .... " (2 Kor. 12:9). Kalimat ini diulangi tiga kali, lalu Ghulam merasa seperti ada aliran listrik yang masuk ke dalam tubuhnya -- seperti ada sesuatu yang menyegarkan dan menggembirakan dalam dirinya. Pengertian, pengampunan, dan pendamaian merupakan kenyataan yang benar.

Petualangan kekristenan Ghulam terjadi ketika ia bertemu dengan seorang pegawai Kristen yang sedang membersihkan tempat di mana ia tidur dan mendengar Ghulam berulang-ulang mengucapkan kalimat, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu ...." Orang tersebut menyarankan kepada Ghulam untuk menemui Pendeta Inayat Rhumal`shan di wilayah Faisalabad. Pendeta Inayat menyarankan kepada Ghulam untuk menemui Pendeta RWF. Wooton di Gorja. Betapa suram awal pengenalan Ghulam akan Yesus, namun ia tidak putus asa. Setelah sampai di Gorja, Ghulam menemui Pendeta Wooton. Di tempat ini, ia harus menghadapi berbagai tantangan, khususnya yang berasal dari orang Kristen sendiri. Mereka menyangka keputusan Ghulam untuk menjadi Kristen karena ia ingin menikah dengan seorang gadis Kristen, yang lain berkata bahwa ia hanya mencari pekerjaan sebagai hamba Tuhan, dan yang lainnya lagi berkata ia hanya mau uang.

Akhir September 1949, Ghulam mendapat kabar bahwa ia akan dibaptis pada tanggal 2 Oktober mendatang. Ghulam sangat senang mendengar kabar terebut. Ketika Ghulam sedang sendirian, ia didatangi oleh pamannya dan meminta Ghulam untuk pergi bersama dengan mereka tanpa sepengetahuan siapa pun, dan jika Ghulam menolak, maka pamannya mengancam akan memberitahukan pertobatan Ghulam kepada semua orang. Hal ini dapat menyebabkan penganiayan terhadap dirinya dan orang-orang Kriten di Gorja. Ghulam tidak dapat membiarkan hal ini terjadi. Dalam kondisi ini, Ghulam mendengar suara yang berkata kepadanya, "Akan ada lebih banyak lagi duri dan penghalang yang harus engkau hadapi, jika engkau memutuskan untuk mengikut Aku. Pergilah dengan mereka karena di rumahlah tempat pertama di mana engkau harus bersaksi. Engkau berdiri sebagai saksi-Ku, pertama di Yerusalem, kemudian di Yudea, Samaria, dan kemudian seluruh dunia." Ghulam menyetujui untuk pergi bersama dengan mereka, ia tidak takut karena ia tahu siapa yang akan menolongnya.

Tuhan telah membimbing Ghulam ke jalan yang telah Ia tetapkan. Jalan ke Kalvari baginya adalah suatu jalan yang penuh dengan duri. Walaupun terkadang salib-Nya terasa berat, namun ini adalah satu-satunya jalan yang harus ia jalani, di mana ia bisa melayani Tuhan dan membawa salib-Nya ke kaki orang lain. Keluarganya sudah tidak menerima ia sebagai bagian dari anggota keluarga, teman-temannya telah memutuskan tali persahabatan dengannya ketika ia menolak untuk menyangkali imannya. Namun, semuanya itu tidak menyebabkan Ghulam berpikir bahwa keputusan yang diambilnya adalah salah. Ia tahu, kekristenan adalah satu-satunya jalan -- tidak ada satu pun yang dapat mengubah keyakinan ini. Ghulam tahu bahwa ia telah memilih jalan yang benar walaupun harus berakhir dengan kematian. Mati setiap hari bagi Kristus tidaklah mudah. Sekarang ia sudah siap kalau Tuhan memanggilnya. Kematian bagi orang Kristen bukanlah akhir kehidupan, tetapi permulaan dari kehidupan yang baru.

Diringkas dari:

Judul buku : Kasih Karunia-Ku Cukup Bagimu
Penulis : Ghulam Masih Naaman
Penerbit : Jalan Alrahmat
Halaman : 1 -- 126

e-JEMMi 25/2008

Hakikat Kekristenan: Kemuridan

Konsep Kemuridan

Konsep kemuridan memang umum dalam dunia Alkitab. Dari sekitar 260 istilah murid dalam Perjanjian Baru, 230 di antaranya terdapat dalam Injil. Istilah-istilah itu umumnya berbicara tentang murid-murid Yesus, walaupun ada juga yang berbicara tentang murid-murid Musa, Farisi, Yohanes Pembaptis, dan Paulus. Kita mungkin akan lebih mengerti tentang konsep kemuridan ini bila kita mengingat kisah-kisah hubungan guru-murid antara Musa dan Yosua, Eli dan Samuel, Elia dan Elisa, para nabi, seperti Yesaya dan Yeremia, dengan para murid mereka, dll..

Dalam peradaban purba, konsep kemuridan memang sesuatu yang lazim. Bukan hanya para rabi Yahudi mengembangkan sekolah-sekolah dan kelompok murid yang mereka didik dan gembleng, dalam peradaban Yunani pun, para filsuf menggunakan konsep yang sama dalam cara mereka mendidik.

Prinsip dasar kemuridan berbeda dari prinsip dasar pendidikan dunia modern. Yang disebut murid bukan mereka yang memilih sebuah sekolah, mendaftarkan diri, dan belajar berbagai informasi ilmu untuk membekali pengetahuannya dalam tempo relatif terbatas. Seorang murid ketika itu dipilih untuk magang bersama gurunya, sehingga melalui hidup bersama, terjadilah proses belajar bersama, terdidik, tertempa, dan terbentuk dalam pengetahuan, karakter, keterampilan, dan seluruh kepribadian secara utuh. Jelasnya, kata kunci kemuridan adalah peniruan dan ketaatan.

Kristen adalah Murid Kristus

Sebutan "Kristen" sebenarnya tidak umum digunakan Alkitab. Hanya tiga kali sebutan itu muncul, dalam Kisah Para Rasul 11:26; 26:28, dan 1 Petrus 4:16. Sebutan lebih umum ialah murid (Kisah Para Rasul 6:1,7; 9:36; 11:26; 19:1-4). Menurut Kisah Para Rasul 11:26, para murid itulah yang kemudian disebut Kristen. Selain itu, digunakan juga sebutan "sekte orang Nasrani" (Kisah Para Rasul 24:5), "orang-orang percaya" (Kisah Para Rasul 5:14), "orang-orang kudus" (Kisah Para Rasul 9:13; Roma 1:9), "saudara-saudara" (Kisah Para Rasul 10:23), "orang-orang pilihan Allah" (Kolose 3:12), "jemaat Allah" (Kisah Para Rasul 20:28), dan "hamba Allah" atau "hamba Kristus Yesus" (1 Petrus 2:16).

Penggunaan sebutan ini dapat dimengerti sebab faktanya memang Yesus memakai tradisi kemuridan tadi, namun secara lebih bermutu dan unik, memanggil para murid-Nya untuk hidup, belajar, dan melayani bersama Dia. Selama 3 tahun yang singkat, namun sangat mendalam itu, para murid diubah-Nya dari orang tak berarti (para nelayan), bahkan sebagian dianggap sampah dan benalu masyarakat (pemungut cukai), menjadi para rasul yang mengguncangkan dunia dan menghasilkan para murid baru yang memiliki pola dan gaya hidup alternatif yang mencengangkan orang sezamannya dan menerbitkan harapan dalam dunia yang gelap dan mencemaskan.

Jika pengamatan ini benar, tepatkah menyimpulkan bahwa hakikat kekristenan itu adalah kemuridan? Tepatkah mengatakan bahwa intisari kehidupan Kristen itu adalah meniru dan meneladani Yesus?

Sementara teolog menolak kesimpulan ini berdasarkan alasan dogmatis. Mengatakan intisari kekristenan adalah imitasi Yesus Kristus mengundang berbagai bahaya. Pertama, fondasi kekristenan digeser dari pemahaman iman kepada penerapan etika. Atau lebih tegasnya, fondasi kekristenan bukan lagi atas kebenaran, tapi atas kelakuan. Bahaya kedua, sebagai akibat dari bahaya pertama tadi, doktrin keselamatan dihayati dari sudut pendekatan usaha manusia. Kesalahan ini telah dilakukan oleh para penganut Pelagianisme atau semi-Pelagianisme yang membuat manusia memiliki andil dalam keselamatan. Ketiga, bahaya lebih parah ialah pribadi Kristus sendiri tidak lagi dipahami dalam pendekatan ontologis, tetapi dalam pendekatan relasional fungsional. Artinya, bukan lagi hakikat diri dan karya-Nya sebagai Allah sejati dan Manusia sejati yang dipentingkan, tapi keteladanan manusiawinya.

Tiga bahaya yang diungkapkan oleh pihak yang berkeberatan terhadap kemuridan sebagai cara memandang hakikat kekristenan ini memang merupakan alasan-alasan yang sah dan benar. Namun, dengan meluruskan dan menjernihkan isu teologisnya, bahaya itu tak perlu terjadi dan kemuridan tetap dapat diartikan sebagai hakikat kekristenan.

Keselamatan: Iman atau Usaha?

Pernyataan ini sederhana saja jawabannya, sebab seluruh isi Alkitab seperti yang kemudian diakui oleh para Reformator menegaskan bahwa keselamatan semata adalah anugerah. Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia, mengintisarikan prinsip Alkitab itu. Berdasarkan kesaksian Alkitab semata, hanya karena iman dan oleh anugerah-Nya, kita beroleh keselamatan.

Tetapi apa yang dikemukakan Luther itu kemudian dikupas konsekuensinya lebih rinci oleh Calvin dan para pengikutnya. Keselamatan itu bukan hanya pembenaran, tetapi merupakan suatu kesatuan dari berbagai aspek kaya pengalaman keselamatan di antaranya pembaruan, pertobatan, pengampunan, pengudusan, dan puncaknya kelak, pemuliaan. Ordo salutis (urutan atau tata keselamatan) ini merupakan satu kesatuan yang walaupun masing-masing unsurnya dapat terjadi secara serentak atau berbeda secara kronologis, namun secara keseluruhan harus ada dan teralami dalam diri orang beriman.

Prinsip inilah yang menyebabkan adanya perbedaan penekanan pada teologi Paulus dan teologi Yakobus tentang keselamatan. Paulus seolah hanya menekankan iman, sedangkan Yakobus menekankan perbuatan. Tetapi keduanya sebenarnya mengupas satu kebenaran yang sama dari sisi kebutuhan pendengar yang berbeda sehingga seolah menghasilkan perspektif yang berbeda.

Keselamatan memang semata adalah anugerah yang memungkinkan orang yang dianugerahi kemampuan untuk mengimani, menerima, berbuah, dan menghasilkan buah sifat-sifat Allah. Iman pada akhirnya diukur ada tidaknya, benar salahnya, hidup matinya, dari ada tidaknya dan bagaimana mutu perbuatan konkret kita.

Pribadi Kristus

Pertanyaan terpenting yang pernah dilontarkan kepada manusia ialah pertanyaan Yesus kepada para murid, "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" untuk kemudian menukik tajam lebih pribadi, "... katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:13-15). Ada beberapa hal penting tersirat dalam pertanyaan itu. Pertama, pertanyaan yang berintikan pemahaman dan pengenalan akan identitas Yesus itu ditujukan-Nya bukan kepada orang banyak, tetapi kepada para pengikut-Nya. Berarti kesempatan dan kemungkinan untuk mengenal Yesus lebih dalam ditujukan kepada murid, bukan kepada simpatisan. Tetapi begitu konteks pembicaraan beralih kepada pengenalan para murid sendiri, bukan lagi label-label teologis yang ditekankan, melainkan "Aku" ini, yaitu diri Yesus sebagaimana adanya Dia yang Ia ingin lebih diakrabi oleh para murid-Nya. Ketiga, pertanyaan ini sangat penting sebab jawaban Yesus seterusnya menjelaskan bahwa pengakuan dan pengenalan iman itu menjadi jiwa kehidupan gereja. Keempat, pertanyaan yang amat sarat dengan makna teologis ini disampaikan dalam konteks yang intensitas emosional manusiawinya sangat dalam. Dengan kata lain, untuk para murid tidak cukup mengetahui konsep-konsep Kristologis, lebih vital lagi adalah mengenal Dia secara pribadi melalui pengamatan, pergaulan, maupun persentuhan yang sehari-hari mereka alami dalam tahap hubungan antara manusia dengan Manusia.

Dilihat dari pendekatan bagian firman ini, nyatalah bahwa berbagai perumusan iman yang pernah dibuat gereja memiliki kekurangan dan kelemahan tertentu, walaupun tidak salah. Perumusan Kristologis yang dibuat dalam sidang-sidang konsili di Nicea, Konstantinopel, dan Chalcedon telah berusaha untuk setia merumuskan penyataan firman Allah tentang pribadi Kristus dan menghasilkan suatu perumusan yang menjawab kebutuhan pergumulan teologis filosofis saat itu. Namun, bila dibandingkan dengan bagaimana Yesus ditampilkan Alkitab, terasalah bahwa perumusan itu telah mengerdilkan dan memeras keberadaan Pribadi Kristus yang teramat megah, kaya, dan di luar kemampuan definisi untuk menampungnya. Pribadi Kristus dalam rumusan itu diperas ke dalam kategori-kategori esensi, substansi, dan sifat, tanpa keharusan untuk mengenal-Nya langsung, menjadi murid-Nya!

Bahaya ini tampak pada Petrus yang di satu pihak mampu memberikan jawaban yang tepat dan diakui Tuhan berasal dari Roh Kudus sendiri, namun beberapa saat kemudian ternyata bahwa jawaban yang tepat itu diisinya dengan konsep yang lain. Kuasa Kerajaan Allah bagi Yesus berarti melepas keluar kuasa untuk memberi diri dan melayani, bukan untuk mengontrol dan berusaha merebut kuasa seperti yang dimengerti Petrus. Tuhan menegur Petrus yang berhasil belajar konsep, namun belum masuk dan mengenal hidup dan kisah Yesus.

Para rasul dalam surat-surat kirimannya memberikan kepada kita cukup gambaran tentang keindahan dan keluarbiasaan Pribadi Yesus Kristus. Ia lemah lembut dan ramah (2 Korintus 10:1). Kristen dianjurkan untuk bersikap seperti Dia -- ramah, mengampuni, dan mengasihi (Efesus 4:32; 5:1-2). Perjalanan hidup-Nya dicirikan oleh ketaatan sampai mati (Filipi 2:5, 8), suatu ketaatan yang penuh (Ibrani 5:7-8).

Dalam pengisahan keempat Injil, kita bertemu dengan gambaran yang luar biasa menarik dan menakjubkan. Tak pernah dan tak akan mungkin ada pribadi lain seistimewa Dia. Seketika kita berusaha mengungkapkan ciri-ciri karakter-Nya, kita akan berhadapan dengan kesulitan. Bukan saja itu disebabkan oleh adanya sifat-sifat yang tak lazim ada pada manusia, tetapi juga karena adanya kepenuhan sifat-sifat yang pada manusia biasa merupakan ciri yang bertentangan, namun pada Yesus ada secara penuh dan serasi. Di satu pihak, Dia begitu hangat dan bermurah hati, di pihak lain, Dia bisa panas berkobar-kobar melawan orang tertentu. Dia adalah satu-satunya Manusia yang penuh damai, syukur, dan suka, namun Dia juga adalah Manusia yang penuh duka. Dia berkhotbah dan melayani dengan penyataan wibawa dan kuasa penuh, namun hangat, menghargai orang lain, dan rendah hati. Dia senang berada di tengah orang banyak, namun Dia senang pula menyendiri dalam persekutuan dengan Bapa-Nya. Dia seorang yang sangat praktis dan teologi-Nya berciri praktis, namun Dia seorang pendoa tanpa tanding dan pengajar yang memiliki kedalaman tak terselami. Dia sangat keras berpegang pada prinsip, tegas menegur dan menghakimi, namun lembut dalam persahabatan dan tenang dalam perilaku-Nya.

Kuasa-Nya yang mulia dan ajaib inilah, menurut Petrus, yang membuat Dia seperti magnet memanggil, menarik orang datang, beriman, kemudian menjadi murid-Nya. (Istilah asli yang digunakan di dalam 2 Petrus 1:3 adalah doxa dan arete, yang berarti kemuliaan dan keistimewaan kepribadian Yesus Kristus). Dialah Anak Allah, Mesias, Tuhan, Juru Selamat, Sahabat sejati, dan Guru kita. Dengan belajar dari Dia, bersama Dia, belajar dalam Dia, belajar Dia saja, menjadi murid-Nya, kita mengenal Dia, dan mengalami dampak mendalam dalam diri kita sendiri. Sebab belajar dan menjadi murid-Nya berarti berubah menjadi seperti Dia.

Makna Kemuridan

Seseorang menjadi murid Yesus ketika Yesus memanggilnya untuk mengikut Dia, meninggalkan segala sesuatu, menyangkal diri, dan memikul salib-Nya. Bukan murid yang memilih Sang Guru, tetapi Dia yang memilih seseorang untuk menjadi murid-Nya.

Panggilan kemuridan ini saja sudah cukup untuk menyadarkan kita bahwa kemuridan adalah suatu anugerah yang mahal. Ketika Yesus memanggil Zakheus turun dari pohon, memanggil Lewi untuk mengikut-Nya, bukankah itu berarti anugerah bagi mereka? Sebab panggilan kepada orang berdosa tersebut dan kesediaan makan bersama mereka, adalah anugerah dalam peristiwa nyata, dalam kisah yang hidup. Diutarakan atau tidak, panggilan itu sudah mengandalkan pengampunan, pencerahan, dan bimbingan agar mengenal Dia lebih dalam, pelatihan untuk hidup dan melayani Dia, pengkhususan dan penugasan dan akhirnya perubahan hidup yang memengaruhi dan mengubah dunia luas dalam misi-Nya.

Dengan demikian, kemuridan dalam pengertian yang benar bukan sekadar usaha manusia meniru Kristus, tetapi bukti beroperasinya anugerah panggilan-Nya yang membuahkan ketaatan dan penaklukan diri kepada Ketuhanan-Nya. Di dalam kemuridanlah, gambar dan rupa Allah dalam diri kita yang seharusnya membuat kita menjadi replika Allah, namun telah rusak oleh dosa itu, diperbarui oleh Sang Gambar dan Rupa Allah sempurna yang memuridkan kita kembali. Di dalam kemuridan, pemberontakan yang membuat kita tak mampu lagi meniru teladan kemuliaan Allah, disangkal dan disalibkan agar kemuliaan Allah dalam Yesus Kristus itu terbit dan mekar dalam kehidupan kita para murid-Nya. Kita harus kudus karena Allah kudus adanya. Kita harus mengampuni sama seperti Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Kita diajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain, sama seperti Yesus, Guru dan Tuhan, telah merendahkan diri, mencuci kaki para murid-Nya justru pada detik-detik terakhir menjelang akhir hidup-Nya. Schleiermacher memberikan komentar yang tepat ketika ia mengatakan bahwa buah Roh tidak lain adalah sifat-sifat mulia Kristus. Dan agar buah Roh itu tampak dalam hidup kita, kita harus memandang kepada Kristus sebab buah Roh tak lain adalah sifat-sifat kebajikan Kristus sendiri.

Jelasnya, kemuridan bukanlah peniruan subjektif dangkal yang bisa menciptakan kemunafikan, tetapi konsekuensi logis dari mengalami panggilan anugerah Allah dan campur tangan Kristus dalam kehidupan kita. Hanya orang Kristen yang sungguh menjadi murid Kristuslah yang mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Hanya murid Yesuslah yang layak dan patut disebut Kristen. Dan hanya para murid Yesus pulalah yang mampu mencitrakan kekristenan yang hidup, menarik, dan menantang di hadapan dunia ini sebab kekristenan sedemikian adalah komunitas para kristus-kristus kecil, utusan-utusan-Nya yang mengubah dunia ini.

Orang Kristen dipanggil untuk mengiring Kristus. Tetapi masalahnya sering kali ialah, kita bukan mengiring, tetapi berusaha menggiring Dia mengikuti dan memenuhi keinginan kita. Itu sebabnya kehidupan Kristen kita tidak lagi unik, dan hidup kekristenan dalam dunia ini tidak lagi menjadi tenaga pembaru yang dahsyat.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Hidup dalam Ritme Allah
Judul arikel : Hakikat Kekristenan: Kemuridan
Penulis : Paul Hidayat
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta 2005
Halaman : 24 -- 32

e-JEMMi 09/2009

Hati Seorang Hamba Misi

Bila Anda adalah seorang aktivis ataupun hamba Tuhan yang melayani dalam jenis pelayanan apa saja, beberapa hal penting harus Anda pelihara dan tingkatkan di dalam hati dan hidup Anda.

1. Menjadi Karakter

Fokuskan hati dan perbuatan melayani itu menjadi karakter Anda, sebab melayani Tuhan dan sesama sangat ditentukan "dari dalam" dan bukan penampilan luar saja.

2. Peduli Terhadap Jiwa yang Terhilang

Seorang pelayan Tuhan harus memiliki rasa yang mendalam dan memelihara "hati seperti Yesus", khususnya yang berkaitan dengan "perasaan yang mendalam terhadap jiwa terhilang" (Matius 9:36). Hati pelayan Tuhan yang berbelas kasihan akan orang berdosa merupakan suatu perasaan yang berasal dari pola pikir yang sesuai dengan firman Tuhan, satu domba yang hilang sangat penting dan harus dicari sampai ditemukan. Seorang pelayan Tuhan harus memiliki perasaan yang rindu agar semua orang, siapa pun dia, dan apa pun latar belakangnya, diselamatkan. Perasaan itulah yang dimiliki Yesus yang mengasihi perempuan Samaria, orang Yahudi, dan penduduk kota Yerusalem yang ditangisi-Nya karena kehancuran yang akan mereka alami (Lukas 19:41).

3. Jangan Karena Program atau Karena Perintah

Anda perlu memikirkan kembali aktivitas pelayanan Anda jika Anda melayani dalam kondisi berikut ini.

Jika Anda kehilangan beban (rasa) melayani, kehilangan motivasi, tidak menempatkan hati dengan benar dalam pelayanan, maka pelayanan Anda akan menjadi beban dan tidak ada sukacita.

4. Mengerti Kebutuhan dan Pergumulan dari Fokus Pelayanan

Milikilah hati yang peka melihat kebutuhan di ladang pelayanan. Hal tersebut bisa Anda dapatkan melalui interaksi yang intens sampai Anda mengetahui kebutuhan dan pergumulan orang yang mencari jawaban.

5. Terus-Menerus Memelihara Hati Hamba

Yang dimaksud memelihara hati hamba adalah:

Jika Anda belum memiliki hati seorang hamba, cobalah mengondisikan diri di pihak orang-orang yang memerlukan keselamatan dan minta Tuhan mengubah hati Anda.

6. Memelihara Hubungan dengan Tuhan

Hati seorang hamba hanya akan Anda miliki jika Anda memelihara hubungan dengan Tuhan, baik lewat perenungan firman maupun doa yang teratur.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buletin : TABUR No. 002-2008
Judul artikel : Hati Seorang Hamba Misi
Penulis : Pdt. Benny Siahaan, M.Div
Penerbit : Tidak dicantumkan
Halaman : 7 -- 8

e-JEMMi 29/2010



Hindu

Hindu mulai berpengaruh pada sekitar 2000 SM ketika bangsa Arya yang sangat maju saat itu, menaklukkan bangsa yang tinggal di Lembah Indus. Bangsa Arya membawa serta agamanya ke daerah yang ditaklukkan. Agama tersebut merupakan agama nyanyian pujian, doa, dan kidung yang ditulis pada apa yang saat ini disebut kitab Weda. Kitab Weda dianggap sebagai "pewahyuan" dan disakralkan oleh orang Hindu, sesakral Alkitab bagi orang Kristen.

Ada banyak dewa yang disebutkan dalam kitab Weda. Dewa-dewa itu mengingatkan kita pada para dewa dan dewi dalam mitologi Yunani dan Romawi. Layaknya bangsa kuno lain, bangsa Arya percaya bahwa dewa dan dewi tersebut dapat menyebabkan kematian dan bencana. Jadi, inti dari agama mereka adalah untuk membuat para dewa senang.

Dalam sistem agama Hindu, ada sebuah golongan yang disebut Brahmana, golongan orang-orang yang menjalankan tugas sebagai pendeta. Golongan Brahmana menjadi semakin kuat sampai mereka berada di kelas sosial tertinggi. Mereka menambahkan banyak tulisan di kitab Weda yang mereka sebut Brahmana. Tulisan-tulisan tersebut menguraikan ritual pengorbanan dengan rinci.

Pada sekitar 500 SM, kitab Weda masih ditambahi dengan banyak tulisan. Tujuannya adalah untuk membuat sebuah sistem kelas yang jelas. Sebuah himne menyatakan bagaimana empat kelas masyarakat berasal dari kepala, lengan, paha, dan kaki dewa pencipta -- Brahma. Empat kelas masyarakat tersebut adalah Brahmana (pendeta); Ksatria (pejuang dan bangsawan); Waisya (petani); dan Sudra (budak). Tiga kelas pertama dapat memeroleh segala keuntungan yang ditawarkan oleh agama Hindu, namun tidak demikian dengan kelas terendah, Sudra. Mereka yang termasuk kelas Sudra bahkan tidak diperbolehkan mendengar kitab Weda atau menggunakannya untuk berusaha mencari keselamatan.

Empat Tahap dan Empat Tujuan dalam Kehidupan Hindu

Kitab Weda menyajikan sebuah sistem yang rinci mengenai bagaimana tiga kelas masyarakat tertinggi yang beruntung itu memeroleh keselamatan. Pertama-tama, setiap bocah laki-laki dalam agama Hindu ditasbihkan (menurut sistem ini, gadis dianggap tidak pantas). Bocah laki-laki itu kemudian dianggap sebagai orang yang telah "terlahir kembali". Ia kemudian harus melalui empat tahap kehidupan: (1) pelajar; (2) kepala rumah tangga dengan istri dan anak-anak; (3) pertapa yang berusaha mencari wahyu; (4) pengembara yang telah meninggalkan segala hal duniawi.

Ia diberi empat tujuan dalam hidup, yakni untuk menjadi orang yang budiman dan saleh; memiliki materi; menikmati hidup melalui kasih, kesenangan, dan apresiasi keindahan; serta untuk mengalami kemenangan rohani dalam hidup.

Kitab Upanishad, yang disusun antara tahun 800 dan 300 SM menyatakan cara lain untuk seseorang dapat memeroleh keselamatan. Kitab ini, yang juga disakralkan oleh orang Hindu, berisi pandangan dunia yang benar-benar asing bagi pikiran dunia barat.

Kitab Upanishad mengajarkan bahwa di luar dunia ini, "brahmanatman"lah (sesuatu seperti Allah) satu-satunya yang benar-benar ada dan berarti. Apa yang manusia lihat, dunia ruang, dan waktu adalah maya. Maya sifatnya hanya sementara dan tidak memiliki makna yang nyata. Namun, semua yang hidup dan bernapas memiliki "atman" atau jiwa yang merupakan bagian dari "paramatman" atau dunia arwah. Setiap "atman", saat berada dalam dunia maya, mencoba untuk kembali ke "paramatman".

Reinkarnasi pada Akhirnya Berujung ke Nirwana

Kitab Upanishad menyatakan bahwa jalan satu-satunya bagi "atman" untuk kembali ke asalnya adalah melalui "punar-janman" atau reinkarnasi. "Atman" (jiwa) seseorang mungkin berawal dari cacing, kemudian melalui kematian dan kelahiran kembali, jiwa itu menjadi sesuatu yang lebih tinggi derajatnya sampai menjadi manusia. Saat "atman" menjadi manusia, "atman" itu harus tumbuh dengan mencapai kelas sosial yang lebih tinggi. Manusia mencapai kelas sosial yang lebih tinggi dengan mengikuti darmanya -- tugasnya untuk melakukan sesuatu hal tertentu sesuai dengan kelasnya. Tugas tersebut meliputi tugas moral, sosial, dan agama -- ketiganya sangat penting dalam agama Hindu.

Cara lain untuk membebaskan jiwa adalah melalui yoga -- kedisiplinan yang menahan hasrat jasmani di bawah penguasaan diri sehingga "atman" dapat lolos dari lingkaran kematian dan kelahiran kembali untuk kemudian bergabung ke "paramatman" (dunia arwah).

Sekalinya "atman" dapat masuk ke "paramatman" (kenyataan yang sebenarnya), maka "atman" tersebut telah diterima di nirwana. Kemudian yang ada hanyalah hidup yang lebih tinggi. Ia berhasil masuk ke dalam keabadian.

Orang Hindu Meyakini Dunia Ini Tidak Bermakna

Kesimpulannya, orang Hindu meyakini bahwa dunia ini tidak bermakna karena dunia ini hanya sementara dan satu-satunya realitas adalah sesuatu yang dapat ia lihat sekilas melalui disiplin dan meditasi yang intensif. Mereka percaya bahwa jiwa mereka telah melalui lingkaran kelahiran, kematian, kelahiran kembali yang panjang dan akan terus begitu sampai menemukan kelepasan di nirwana (keabadian). Orang Hindu percaya bahwa Upanishad memberi mereka hikmat yang mereka perlukan untuk menolak dunia agar jiwanya dapat mencapai "paramatman" yang kekal.

Ajaran Upanishad masih memiliki pengaruh yang kuat terhadap pemikiran para guru agama Hindu, khususnya mereka yang memiliki filosofi Weda. Meski kepopulerannya tahan lama, ajaran Upanishad juga mendapat kritik. Sebut saja kaum Brahmana, yang berpikir bahwa jiwa dapat dibebaskan untuk pergi ke nirwana hanya jika ia sudah mencapai kelas Brahmana. Artinya, sebagian besar masyarakat India yang miskin dan buta huruf (tidak dapat membaca Upanishad) akan ada dalam lingkaran reinkarnasi (samsara) -- kematian dan kelahiran kembali -- selamanya. Pandangan ini ditentang oleh Budha Gautama pada 500 SM yang mulai mengajarkan "jalan tengah" keselamatan. Budhaisme menghilang di India pada sekitar 1000 M saat bentuk baru Hinduisme muncul.

Hinduisme "populer" ini dengan cepat mengambil hati umatnya. Literatur baru muncul, misalnya syair kepahlawanan yang panjang, Ramayana dan Mahabarata. Muncul juga Bagawad-Gita atau "kidung dewa" yang menggambarkan jalan keselamatan melalui penyembahan terhadap dewa Krisna. Muncul juga Purana yang berisi kisah erotis tentang dewa-dewa yang sangat populer di kalangan orang-orang Hindu yang tinggal di desa.

Ada sekitar 330 juta dewa dalam Hinduisme yang baru -- sekitar satu dewa untuk setiap Hindu. Sekitar 200 juta orang menyembah dewa Wisnu dan meyakini bahwa ia menyatakan dirinya kepada orang Hindu setidaknya sepuluh kali. Dewa Wisnu pernah menyatakan diri dalam wujud kura-kura raksasa, Budha Gautama, serta Rama dan Krisna -- dua figur sentral dalam syair kepahlawanan. Jutaan lainnya menyembah Siwa, dewa kesuburan, yang ritual penyembahannya sejahat bangsa Kanaan -- bangsa yang dihancurkan oleh bangsa Israel atas perintah Allah.

Hinduisme ini mengajarkan bahwa keselamatan dapat diperoleh melalui salah satu dari tiga cara, yakni dengan menjalankan darma atau tugas; pengetahuan yang diajarkan Upanishad; dan pengabdian kepada salah satu dewa, misalnya Wisnu atau Siwa. Cara yang terakhir adalah cara yang paling banyak digunakan orang-orang dari kelas bawah (mayoritas orang India) karena cara itu menawarkan kemudahan bagi jiwa mereka untuk mencapai kelas yang lebih tinggi, dan akhirnya nirwana.

Menurut cara pemikiran Barat, Hindusme terdengar seperti kesemrawutan yang sia-sia. Penuh dengan perubahan, tambahan, dan kontradiksi. Segala usaha untuk memahaminya secara logis adalah seperti memerbaiki komputer dengan mata tertutup. Namun, orang India mengabaikan kompleksitas Hinduisme karena agama tersebut telah tumbuh bersama mereka sejak awal sejarah mereka. Agama Hindu melekat dalam budaya mereka, bahkan dalam mimpi pun mereka tidak akan meragukannya.

Itulah yang membuat kekristenan tidak terlalu berdampak terhadap orang Hindu. Meskipun ada juga yang menerima Kristus dengan sukacita, namun sebagian besar menolak Injil karena Kristen nampak begitu erat dengan budaya Barat yang asing.

Bentuk baru Hinduisme telah menyerap gagasan-gagasan tertentu dari agama Kristen. Vedanta adalah contoh yang baik. Menurut Vedanta, dewa pencipta, Brahma, telah banyak kali menginkarnasi diri menjadi manusia dan akan terus berinkarnasi. Kristus, Budha, Krisna, dan sebagainya, diyakini sebagai inkarnasi dari dewa Brahma, yang oleh orang Hindu disebut juga sebagai inkarnasi juru selamat.

Pengikut Vedanta percaya bahwa inkarnasi Brahma yang terkini adalah Sri Ramakrisna yang tinggal di Bengala sekitar akhir abad ke-19. Pengikutnya mengatakan bahwa ia mempraktikkan semua disiplin rohani Hinduisme, Kristen, dan Islam, serta menerima visi Allah dalam setiap agama itu. Oleh karena itu, ia dapat berkata, "Kebenaran itu satu; orang yang berhikmat menyebutnya dengan beragam nama." Ramakrisna sering kali berkata, "Banyak kepercayaan memiliki jalan yang berbeda, namun semuanya menuju pada satu realitas, Allah."

Maka dari itu, Vedanta bersahabat dengan semua agama. Aldous Huxley, penulis Brave New World dan salah satu pengikut setia Vedanta, berkata, "Sangatlah mungkin untuk seseorang tetap menjadi seorang Kristen, Hindu, Budha, atau Islam yang baik dan tetap sepakat pada dasar doktrin filosofi perenial."

Namun apa yang dikatakan Vedanta tentang Yesus Kristus? Swami Prabhavananda mengatakan bahwa seorang Hindu akan mudah menerima Kristus sebagai inkarnasi ilahi dan menyembahnya dengan terang-terangan sebagaimana layaknya ia menyembah Krisna atau inkarnasi (guru) lain yang ingin ia sembah. Namun, ia tidak dapat menerima Kristus sebagai Putra tunggal Allah ...." (t/Dian)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : So What`s the Difference?
Penulis : Jack Durkee, David Harvey, The Rev. H.S. Vigeveno, Georgiana Walker
Penerbit : G/L Publications, California 1967
Halaman : 94 -- 100

e-JEMMi 27/2008

Hubungan Antara Gereja dengan Lembaga-Lembaga Penginjilan

PENDAHULUAN

Gereja, ditinjau secara teologis, adalah "sarana besar penyalur anugerah" yang melalui karya Roh Kudus, dipakai Kristus untuk mengumpulkan umat pilihan, memperlengkapi orang-orang saleh, dan membangun tubuh rohani-Nya. Agar gereja mampu melaksanakan tugas mulia ini, maka Ia mengaruniakan berbagai karunia rohani serta menetapkan jabatan untuk pelayanan firman dan sakramen yang adalah sarana untuk menuntun umat pilihan itu kepada tujuan akhir mereka, yaitu Rumah Bapa. Tentu saja, gereja secara teologis adalah himpunan umat yang dipanggil Allah ke luar dari kegelapan untuk masuk ke dalam kerajaan Anak-Nya (1 Petrus 2:9). Namun, tidak dapat disangkali maupun dihindari bahwa eksistensi gereja di tengah dunia tidak dapat dipisahkan dari aspek organisatoris, sehingga "gereja yang am" itu ditemukan dalam struktur yang berbeda-beda. Dengan meminjam istilah Ralph Winter, maka "sarana penyalur anugerah Allah" itu dapat dikategorikan ke dalam dua struktur misi penyelamatan ilahi: gereja atau modalitas dan lembaga-lembaga misi/penginjilan (sodalitas). Sesungguhnya, kedua struktur ini sudah ribuan tahun ada dalam sejarah Kerajaan Allah. Berikut ini adalah contoh-contoh alkitabiah dan historis mengenai eksistensi kedua struktur misi penyelamatan Allah atas manusia.

TINJAUAN ALKITABIAH

Kita mengetahui bahwa sejak Musa menerima segala petunjuk Allah di Bukit Sinai, maka ditetapkanlah adanya imam-imam yang melayani di Bait Allah, dengan segala peraturan yang ada di dalamnya. Itu adalah "modus" (cara) yang ditetapkan dalam peribadahan kepada YHWH. Itulah sebabnya maka Bait Allah (dan gereja, dalam konteks kita) adalah suatu modalitas. Namun ternyata, dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ada individu ataupun kelompok yang melaksanakan tugas yang menjadi bagian tugas modalitas itu dalam melaksanakan misinya, individu ataupun kelompok itu tidak secara langsung ada di dalam struktur modalitas itu, walaupun mereka memiliki "keanggotaan" di situ. Jadi mereka memiliki "komitmen kedua" yang menuntut mereka memberikan waktu, tenaga, dan materi lebih banyak. Biasanya kelompok yang tidak berada langsung di bawah payung modalitas ini membentuk persekutuan (Latin: sodalitas, berarti persaudaraan). Jadi wadah yang berbeban untuk melaksanakan Amanat Agung ini adalah suatu sodalitas.

Dalam Perjanjian Lama, kita temukan nabi-nabi orang Ibrani: Yunus (2 Raja-raja 13-14), Amos (2 Raja-raja 14:3, 15:7), Hosea (2 Raja-raja 15-18), Yesaya (2 Raja-raja 15-20; 2 Tawarikh 26-32), Mikha (2 Raja-raja 15:8-20; Yesaya 7-8; Yeremia 26:17-19; 2 Tawarikh 27-32), Nahum (Yunus; Yesaya 10; Zefanya 2:13-15); Zefanya (2 Raja-raja 22-23:34; 2 Tawarikh 34-36:4), Yeremia (2 Raja-raja 22-25; 2 Tawarikh 34- 36:21), Habakuk (2 Raja-raja 23:1-24:20; 2 Tawarikh 36:1-10), Daniel (2 Raja-raja 23:35, 25:30; 2 Tawarikh 36:5-23), Yehezkiel (2 Raja- raja 24:17-25; 2 Tawarikh 36:11-21), Obaja (2 Raja-raja 25; 2 Tawarikh 36:11-21), Hagai (Ezra 5-6), Maleakhi (Nehemia 13). Pelayanan nabi-nabi tersebut meliputi kurun waktu sekitar empat ratus tahun.

Namun lebih dari dua ratus tahun sebelum nabi-nabi tersebut muncul, tercatat bahwa Daud, ketika dikejar-kejar Saul, bersembunyi di Nayot dan di sana ada sekumpulan nabi yang dikepalai oleh Samuel (1 Samuel 19:18; 1 Samuel 20:1). Mereka ini tidak ada di sekitar Tabernakel, mereka ada di dekat Rama.

Yang lain adalah Elia yang dipanggil Tuhan untuk melayani di wilayah kerajaan Samaria, tatkala Ahab, Raja Israel paling jahat di hadapan Tuhan memerintah mendirikan kuil Baal dan membawa persembahan ke kuil itu. Sesudah itu ia membuat patung Asyera. Bentrokan kekuatan spektakuler terjadi di Gunung Karmel antara Elia, nabi Allah, dengan 450 nabi Baal (1 Raja-raja 18:20-46). Peristiwa itu amat jauh dari Bait Allah yang terletak di Yerusalem.

Dalam Perjanjian Baru, kita temukan dua contoh yang menonjol. Pertama, Petrus. Ia mengadakan pelayanan ke Lida, Yope, dan bahkan akhirnya dijemput utusan Kornelius untuk melayani dia beserta keluarganya di Kaisarea di daerah pantai barat Samaria. "Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana" (Kisah Para Rasul 9:32). Setelah melayani Kornelius, Petrus harus memertanggungjawabkan baptisan atas Kornelius itu kepada jemaat induk di Yerusalem. Ini menjadi indikasi bahwa Petrus (sodalitas) masih memunyai kewajiban melapor kepada jemaat induk di Yerusalem (modalitas). Jemaat bertambah besar dan Injil merambah daerah yang lebih luas melalui pekerjaan Petrus, sementara gereja induk tentu tetap melaksanakan pelayanan yang telah menjadi pola hidup jemaat yang mula-mula itu (Kisah Para Rasul 2:41-47).

Melalui perselisihan antara Paulus dan Barnabas yang berakhir dengan renggangnya komitmen mereka itu, maka terbentuklah dua tim PI, Barnabas dengan Yohanes, Markus dan Paulus dengan Silas (Kisah Para Rasul 15:35-41). Walaupun tim Barnabas tidak banyak diceritakan, namun pelayanan Barnabas pasti berjalan terus. Ini terbukti bahwa tiga tahun sesudah perselisihan itu terjadi, Paulus justru minta agar Yohanes dan Markus, yang pernah ditolaknya itu, dijemput dan diantar untuk membantu pelayanannya (2 Timotius 4:11). Paulus bersama Silas dalam perjalanan penginjilan yang kedua ini tidak hanya mendatangi kota-kota yang dikunjungi bersama Barnabas dalam perjalanan penginjilan pertamanya, namun menyeberang dari kawasan Asia itu ke Eropa, yakni sampai ke kota-kota di wilayah Makedonia dan semenanjung Akhaya. Sesudah itu, Paulus bersama anggota timnya kembali ke Antiokhia dan tinggal beberapa hari di sana lalu pergi lagi untuk menjelajahi daerah Galatia dan Frigia (Kisah Para Rasul 18:22-23).

Apa yang dapat kita pelajari di sini adalah bahwa ketika tim sodalitas itu ada di medan pelayanan, mereka memiliki kebebasan dan kreativitas dalam melaksanakan pelayanan serta menyelesaikan masalah yang mereka jumpai.

TINJAUAN HISTORIS

Setelah berakhir kisah pertumbuhan jemaat Allah di dalam Perjanjian Baru, pertumbuhan itu tetap berlangsung. Pola perambahan Injil itu mengikuti yang pernah ada di lingkungan umat Yahudi.

Pada awal tahap Paskah Perjanjian Baru, terlihat bahwa penyebaran Injil terus dilaksanakan. Peregrini Irlandia, biarawan Celtic, demikian gigih dalam membawa Kabar Baik itu ke tengah-tengah bangsa Anglo-Saxon. Mereka memberikan kontribusi terbesar atas usaha-usaha penginjilan di kawasan Eropa Barat dan Tengah. Jerome, Agustinus, dan sebagainya berasal dari struktur sodalitas yang merupakan dasar bagi pembangunan yang dilaksanakan kaum Protestan. Pada abad ke-4, makin terlihat adanya dua struktur misi penyelamatan Allah itu: diocese (keuskupan) dan biara. Masing-masing adalah bentuk yang dipinjam dari konteks budaya sezaman. Sinagoge Yahudi, keuskupan, dan gereja lokal adalah modalitas. Sedangkan orang Farisi yang melakukan proselitisasi, tim para rasul dan biara-biara, lembaga-lembaga misi, dan PI adalah sodalitas.

Contoh paling menonjol dari awal abad pertengahan adalah hubungan antara Gregorius Agung dengan tokoh yang kelak dikenal dengan nama Agustinus dari Canterbury. Baik Gregorius, bishop keuskupan di Roma, dan Agustinus dari biara Benedictine adalah tokoh-tokoh yang dihasilkan oleh rumah-rumah biara. Gregorius dengan kemampuan keuskupannya menyadari bahwa ia tidak memiliki sarana yang mampu untuk melaksanakan pelayanan misi ke Inggris, yang mengalami kepahitan dan penderitaan karena keganasan orang-orang Anglo-Saxon. Itulah sebabnya ia memprakarsai kerja sama dengan Agustinus temannya itu.

Martin Luther dan para reformator bergerak dari dalam tubuh gereja (modalitas) tanpa menggunakan struktur sodalitas sama sekali. Ia hanya mengadopsi keuskupan Katolik Roma, namun mengabaikan konsep biaranya. Sesungguhnya jika tidak timbul kelompok pietis, maka golongan protestan ini tidak akan memiliki sarana pembaru apapun di dalam tradisi yang telah dimilikinya.

Karena tidak memanfaatkan sodalitas, maka kaum Protestan selama hampir tiga ratus tahun tidak memiliki mekanisme untuk pekerjaan misi. Hal itu berakhir ketika William Carey menyarankan agar gereja memakai sarana untuk membimbing orang kafir kepada pertobatan. Istilah "sarana" yang dipakai Carey menunjukkan adanya kebutuhan akan sodalitas. Maka sesudah itu, lahirlah Baptist Missionary Society -- yang merupakan perkembangan organisatoris yang penting dalam tradisi Protestan. Sesudah itu menyusul badan-badan misi lain, dalam waktu 32 tahun, ada 12 organisasi misi.

Jika kita lihat di tengah bumi nusantara yang kita cintai ini, tentu kita ingat Kyai Sadrach, J.L. Coolen, Johanes Emde, Kyai Ditotaruno, dan sebagainya. Mereka bekerja di luar struktur modalitas, namun sebagai hasil karya mereka, berdirilah jemaat-jemaat lokal (modalitas).

KOREKSI RESIPROKAL

Dengan menjamurnya lembaga-lembaga misi dan penginjilan, maka makin banyak peluang terjadinya masalah. Kehadiran lembaga-lembaga tersebut dapat dirasakan sebagai suatu ancaman bagi gereja, sebaliknya lembaga-lembaga misi dan penginjilan juga mempertanyakan ketertutupan gereja terhadap kehadiran lembaga-lembaga tersebut, sementara individu-individu yang giat di dalamnya menjadi anggota gereja. Koreksi ini tidak dimaksudkan untuk mencari kambing hitamnya, melainkan untuk mengupayakan agar dihasilkan persamaan persepsi yang dapat menjadi batu loncatan ke arah penggalangan kerja sama yang konkret.

Gereja mempertanyakan mengapa organisasi misi dan penginjilan harus ada? Bukankah gereja berusaha melaksanakan tiga rangkap panggilan atasnya: bersaksi, bersekutu, dan melaksanakan pelayanan kasih? Walaupun pada awalnya lembaga-lembaga itu menyatakan bahwa mereka mau membantu gereja, namun pada akhirnya mereka melembaga menjadi "gereja baru" yang pada dasarnya terdiri atas anggota-anggota gereja yang secara langsung ataupun tidak langsung dipengaruhi untuk pindah keanggotaan? Pertanyaan-pertanyaan demikian itu adalah pertanyaan yang wajar yang timbul dari pemikiran manusiawi, yang juga didukung oleh adanya fakta bahwa ada lembaga misi yang karena berbagai alasan, akhirnya mengalami perubahan dari sodalitas menjadi modalitas. Namun, tentu tidak boleh dikembangkan sikap mengadakan generalisasi. Tidak semua lembaga misi dan penginjilan mengalami "metamorfose" seperti itu. Selain itu, perlu ada sikap menghargai kelompok-kelompok lain dengan karunia-karunia yang berbeda. Dan, perlu disadari bahwa keadaan gereja yang heterogen sulit dikoordinir untuk melakukan hal-hal tertentu.

Sementara itu di pihak lain, Lembaga misi dan penginjilan juga mempertanyakan sikap gereja. Mengapa gereja sulit menerima kehadiran kami? Mengapa gereja tidak dapat melaksanakan apa yang menjadi misi kami? Apabila gereja sendiri terlalu sibuk dengan tugas-tugas penggembalaan, mengapa gereja tidak mau kami bantu? Ini pun adalah pertanyaan-pertanyaan yang wajar, karena itulah yang dipahami oleh kelompok sodalitas. Jika kehadiran kelompok sodalitas serta orang-orang yang dilayani terasa tidak mendapat sambutan gereja yang di dalamnya mereka justru adalah anggota-anggotanya, maka tentu saja mereka merasa risi. Jangankan disambut, didiamkan saja sudah merasa tenang. Bagaimana kalau mereka sendiri "merasa" dicurigai. Ini adalah salah satu alasan mengapa mulai terpikir untuk "berdiam diri menjadi kepompong, lalu keluarlah dari kulit/pembungkus kepompong itu kupu-kupu." Maka lahirlah denominasi baru. Hal ini sudah pasti membuktikan kebenaran "praduga" gereja itu. Lembaga misi dan penginjilan harus memahami rentang kendali yang terlalu luas dalam gereja dan begitu banyak masalah yang harus ditangani. Lembaga misi dan penginjilan sendiri harus berani membuktikan diri bahwa ia tidak akan pernah mengubah diri menjadi gereja (denominasi baru).

Apa yang berkembang secara tidak sehat, baik pada sisi gereja/modalitas maupun pada sisi lembaga misi dan penginjilan, disebabkan oleh adanya "komunikasi yang tidak berjalan lancar, bahkan mungkin tidak ada komunikasi sama sekali". Jika demikian keadaannya, maka perlu usaha "sambung rasa" supaya komunikasi dapat diaktifkan. Gagasan mengembangkan kerja sama adalah langkah kedua yang dapat dilakukan setelah ada "sambung rasa" di antara gereja, lembaga misi, dan penginjilan. Mc. Kaughan, Koordinator Kongres Lausanne II di Manila, memberikan tiga saran untuk mengadakan kerja sama. Pertama, mengembangkan pola pikir kooperatif. Pihak bekerja sama harus mensublimasikan ego masing-masing agar dapat mengupayakan hal terbaik bagi Tubuh Kristus, bukan bagi kepentingan organisasi sendiri. Kedua, memahami apa yang terjadi pada kita masing-masing, baik kemampuan untuk ber-PI dan melatih saudara seiman maupun melakukan usaha-usaha sosial, sebagai gereja ataupun lembaga misi dan penginjilan. Ketiga, tetapkan dalam hati kita bahwa usaha pertama yang akan kita lakukan harus bermuara pada kerja sama, bukan kemandirian.

Referensi:

  1. Merrill C. Tenney, Geu.Ed., The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible, Vol. 4 (Grand Rapids, Michigan: The Zondervan Corporation, c. 1975, 1976).

  2. Ralph D. Winter, The Two Structures of God`s Redemptive Mission (Pasadena: William Carey Liabrary Publishers, c. 1974 by the American Society of Missiology).

  3. Handoyomarno Sir, S.Th, Benih yang Tumbuh VII (Terbitan bersama: GKJW Malang dan Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-gereja di Indonesia, Jakarta, 1976).

  4. Dr. Thomas van den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, cetakan ke-6, 1987).

  5. C. Guillot, Kiai Sadrach, Riwayat Kristenisasi Jawa (Jakarta: PT Grafiti Pers, 1985).

  6. Paul E. McKaughan, Cooperation in World Evangelization, World Evangelization, vol. 16 No. 58 March-April 1989.

Bahan diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Konsultasi Pelayanan
Penulis : Pdt. Nanang S. Sunaryo, M.Div.
Penerbit : Tidak dicantumkan
Halaman : 76 -- 80

e-JEMMi 34/2008

Iblis di Dalam Kegelapan

Musuh utama Allah juga memunyai andil dalam penderitaan dahsyat Yesus di Getsemani. Sebagai makhluk yang dahulu paling ditinggikan di antara makhluk ciptaan Allah lainnya, Iblis telah memimpin suatu pemberontakan melawan Allah di surga pada masa-masa prasejarah. Alkitab tidak memberi keterangan detail mengenai hal itu, namun syair-syair misterius untuk Raja Babel dalam Yesaya 14 dan Raja Tirus dalam Yehezkiel 28 dengan jelas berisi sindiran mengenai jatuhnya makhluk kegelapan yang memanipulasi para raja ini untuk tujuan kejahatan.

Sang pangeran kegelapan pasti membenci Yesus karena ia mengetahui tujuan ganda dalam misi Yesus, yakni "menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Matius 1:21) dan "membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu" (1 Yohanes 3:8).

MELIHAT BAHAYA SALIB

Saya tidak percaya Iblis dan roh-roh jahatnya bersorak gembira tatkala Yesus dipaku di kayu salib. Mereka menginginkan Dia mati, tetapi tidak disalib. Mereka tahu bahwa jika Kristus disalib, Dia akan menebus dosa dan mematahkan kuasa kematian. Tak diragukan lagi, sang pangeran kegelapan memunyai andil dalam perintah Raja Herodes untuk membunuh semua bayi di Betlehem (Matius 2:16). Kemungkinan besar ia juga berusaha membunuh Yesus di Getsemani saat penderitaan batin Yesus begitu hebat sampai "peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah" (Lukas 22:44). Namun, tampaknya musuh Allah mengerahkan segenap tenaga dengan berulang kali berusaha mencegah Yesus melakukan pengorbanan yang sempurna. Itulah tujuannya ketika ia dan Yesus, dengan perjanjian ilahi, saling berhadapan di padang gurun. Setelah menggambarkan pembaptisan Yesus, Markus berkata, "Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai Iblis" (Markus 1:12-13).

BERUSAHA MENCEGAH PENGORBANAN YANG SEMPURNA

Pencobaan pertama datang setelah Yesus berada di padang gurun tanpa makanan selama empat puluh hari. Karena tahu Yesus sangat lapar, Iblis mendekati-Nya, "Jika (karena) Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti" (Matius 4:3). Ia mendesak Yesus untuk menggunakan kuasa-Nya sendiri tanpa memedulikan kehendak Bapa. Yesus menjawab dengan mengutip Ulangan 8:3, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan."

Dalam kitab Ulangan, Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah merendahkan hati mereka dengan mengharuskan mereka hidup dengan makan manna, bukan dengan makanan yang mereka sediakan sendiri. Dia berbuat demikian untuk mengajarkan kepada mereka supaya bergantung pada Allah, bukan pada kekuatan sendiri. Yesus memandang rasa lapar-Nya sebagai sesuatu yang ditetapkan Bapa, sehingga Dia tidak akan memuaskan rasa lapar-Nya dengan usaha sendiri. Dia mengesampingkan kebebasan untuk mempergunakan kuasa-Nya sebagai Allah supaya Dia dapat hidup sebagai manusia yang lemah. Dia melakukan hal itu agar dapat mengalami berbagai ujian kehidupan seperti halnya kita manusia. Dia memutuskan untuk bergantung pada Allah, seperti yang harus kita lakukan sebagai manusia. Dia menolak melanggar komitmen ini dengan memuaskan rasa lapar-Nya dengan cara yang adikodrati.

Usaha kedua Iblis untuk menggagalkan misi Kristus lebih kentara. Entah secara adikodrati atau dalam suatu penglihatan, Iblis membawa Yesus ke bubungan Bait Allah yang tertinggi, barangkali di bawahnya terletak Lembah Kidron yang dalam. Ia meminta Yesus untuk melompat -- jatuh dari ketinggian 137 meter -- yang mengingatkan-Nya pada Mazmur 91:10-12, "Malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepada-Mu ... supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Iblis pasti juga telah mengatakan bahwa adegan para malaikat yang menolong Yesus dari kematian yang pasti akan dialami-Nya itu akan sangat mengesankan orang-orang di sekitar Bait Allah sehingga mereka akan segera menerima-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan bagi mereka. Namun Yesus menanggapinya dengan mengutip Ulangan 6:16, "Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu."

Usaha ketiga Iblis untuk menjauhkan Yesus dari salib dilakukan dengan cara yang lebih langsung. Cara yang tidak terhormat dan kasar. Dari atas gunung yang sangat tinggi (sekali lagi, entah dengan kuasa adikodrati-Nya atau dalam suatu penglihatan), Iblis memperlihatkan kepada Yesus seluruh kerajaan dunia sambil mengatakan bahwa ia akan memberikan semua itu dengan satu syarat -- Yesus harus sujud menyembahnya. Sebenarnya saat itu Iblis sedang menyatakan secara tak langsung bahwa tujuan dapat dicapai dengan segala cara. Dengan sekali menyembahnya, maka Yesus dapat mencapai tujuan-Nya -- merebut seluruh kerajaan dunia dari Iblis, yang kini ia perintah sebagai "penguasa" (Yohanes 12:31; 14:30; 16:11). Yesus tidak mendebat desakan Iblis itu, tetapi dengan tegas Dia menolak tawaran tersebut. Dia tahu bahwa kejahatan takkan pernah dapat diatasi dengan kejahatan. Dia mengusir Iblis dengan sekali lagi mengutip ayat dalam Kitab Suci, "Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Lukas 4:8; Ulangan 6:13).

Lukas berkata, "Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik" (4:13). Iblis telah betul-betul dikalahkan sehingga ia meninggalkan Yesus saat itu. Namun yang pasti, setiap kali ada kesempatan, ia berusaha memengaruhi Yesus agar dapat meraih tujuan-Nya tanpa perlu menuju ke kayu salib.

BERBICARA MELALUI SAHABAT DEKAT YESUS

Matius 16:13-28 mencatat sebuah percakapan yang menggambarkan upaya Iblis untuk memengaruhi Kristus melalui kata-kata seorang sahabat. Hal itu terjadi menjelang akhir dari kehidupan Yesus di tengah masyarakat selama tiga tahun. Petrus, seorang murid yang setia, telah membuat suatu pengakuan besar, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (ayat 16). Yesus memujinya. Namun, tatkala Dia "mulai mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan ..., lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (ayat 21), Petrus sangat terkejut. Bagaimana mungkin Allah yang hidup membiarkan hal ini terjadi pada Putra-Nya yang tidak berdosa? Oleh karena itu Petrus "menarik Yesus ke samping dan menegur Dia, katanya: `Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal ini sekali-kali takkan menimpa Engkau`" (ayat 22).

Saya yakin Petrus bermaksud baik. Ia mengasihi Yesus. Ia yakin bahwa Gurunya adalah Raja -- Mesias yang dijanjikan, yang akan segera membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Oleh karena itu, ia pasti sangat terkejut dengan tanggapan keras Kristus, "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (ayat 23). Betapa berbedanya dengan ucapan-Nya beberapa saat sebelumnya! Bukannya memuji Petrus, Yesus justru menegurnya dengan keras, bahkan menyebutnya sebagai "Iblis". Tanpa sadar Petrus telah menjadi alat Iblis untuk sebaik mungkin mencegah Yesus menuju ke kayu salib.

BERPERANG DALAM PERANG SEPANJANG ZAMAN

Kehidupan Yesus di bumi, sejak kelahiran hingga kematian-Nya di kayu salib, diliputi peperangan dengan Iblis -- peperangan yang menentukan dalam perang sepanjang zaman. Ingatlah bahwa salah satu tujuan utama kedatangan Kristus adalah untuk "membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu" (1 Yohanes 3:8). Dan Yesus tidak meremehkan musuh-Nya. Tiga kali selama minggu terakhir kehidupan-Nya di bumi, Yesus menyebut Iblis sebagai "penguasa dunia ini" (Yohanes 12:31; 14:30; 16:11). Kata yang digunakan-Nya (archon) itu kerap dipakai untuk menunjukkan pemegang jabatan tertinggi dalam suatu wilayah atau negara. Yesus tahu bahwa Dia telah menyerang kepala sebuah pasukan besar yang berisi roh-roh yang telah jatuh ke dalam dosa. Iblis adalah pemimpin kerajaan kegelapan yang merupakan lawan dari Kerajaan Allah. Ia dan roh-roh jahatnya telah mengubah dunia yang baik, yang berasal dari tangan Allah, menjadi dunia yang kacau dan diliputi dosa. Karena Iblis, dunia sekarang ini menjadi tempat di mana bencana alam dapat membunuh ribuan anak tak berdosa, namun tak menyentuh ribuan orang jahat yang ada. Ini adalah dunia di mana kehidupan orang-orang baik acap kali dipenuhi dengan penderitaan dan kekecewaan, sementara kehidupan orang jahat ditandai dengan kesehatan dan kesuksesan. Ini adalah dunia di mana orang-orang baik kerap menjadi korban orang-orang jahat. Semua ini terjadi karena sekarang Iblis merupakan "ilah zaman ini" (2 Korintus 4:4).

Oleh sebab itu, besarnya penderitaan Yesus di Getsemani menggambarkan "perang ilah-ilah itu". Yesus telah datang untuk "membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu", dan penderitaan-Nya di taman tersebut mewakili sebuah fase peperangan-Nya yang krusial dan menentukan dengan "pangeran kegelapan" tersebut.

Melalui kelahiran-Nya di dunia, Tuhan di atas segala tuhan telah memasuki wilayah yang diduduki Iblis dan bala tentaranya. Rasul Yohanes menulis, "Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat" (1 Yohanes 5:19). Di perbukitan Galilea, di jalan-jalan Yerusalem, dan akhirnya di antara pohon-pohon zaitun di Getsemani, Raja di atas segala raja itu berperang dengan seluruh bala tentara Iblis. Di sepanjang perjalanan, ada orang-orang yang berusaha menempatkan Kristus di sisi sebaliknya dari pertempuran ini. Namun, ketika seseorang menuduh-Nya mengusir roh-roh jahat dengan kuasa Beelzebul, Dia menanggapi, "Kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? ... Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu?" (Matius 12:26-29).

Saat mengikat "orang kuat itu" (Iblis), Yesus menggunakan otoritas-Nya terhadap Iblis dan kerajaannya. Dengan menderita di Getsemani dan mati di atas kayu salib, Kristus memberikan kepada kita dasar untuk berdoa, "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Matius 6:10).

Dengan menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan membangkitkan orang mati, Yesus memasuki kerajaan Iblis dan menunjukkan keunggulan-Nya terhadap seluruh kekuatan jahat. Melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya, Dia akan mengikat musuh. Iblis mengetahui hal ini. Oleh karena itu, ia meningkatkan perlawanannya terhadap Yesus ketika saat yang sangat menentukan itu semakin dekat. Iblis mestinya telah berperan dalam menghadirkan perasaan takut yang mendalam ke dalam hati Yesus selama minggu terakhir pelayanan-Nya di dunia. Rasa takut ini mendorong-Nya untuk berseru, "Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!" (Yohanes 12:27-28).

Karena mengesampingkan penggunaan sifat-sifat ilahi-Nya, Yesus pun mengalami kecemasan seperti kita. Sebesar apa pun ketakutan-Nya dalam menerima kutukan dosa atas diri-Nya, Dia menolak pemikiran untuk kembali ke jalan yang aman. Tetapi, saat itu Dia perlu mendengar perkataan Bapa-Nya. Oleh karena itu, setelah Dia memohon, "Bapa, muliakanlah nama-Mu!" Bapa-Nya menanggapi-Nya dengan hangat melalui suara dari surga, "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!" (ayat 28). Mendengar ini, Yesus menyahut dengan penuh kemenangan, "Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar" (ayat 31).

Apa maksud Yesus ketika Dia menggunakan kata sekarang untuk menggambarkan kekalahan Iblis? Tampaknya, penderitaan-Nya di Getsemani dan di kayu salib belum menaklukkan musuh. Iblis masih aktif dua puluh tahun berikutnya ketika Rasul Paulus menyebutnya "ilah zaman ini" (2 Korintus 4:4). Dan lima belas tahun berikutnya, Iblis masih menjadi sosok yang berbahaya, karena Rasul Petrus mengatakan bahwa Iblis "berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1 Petrus 5:8). Tiga puluh tahun setelah Petrus menulis suratnya, Rasul Yohanes menyatakan bahwa "seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat" (1 Yohanes 5:19). Jelaslah, Iblis belum betul-betul diusir dari dunia ini. Ia masih merupakan musuh yang sangat kuat. Namun, Yesus tidak keliru. Melalui penderitaan dan kematian-Nya, Dia memukul kalah Iblis dan para pengikutnya. Melalui kebangkitan-Nya, Dia memperingatkan kepastian kematian mereka. Mereka tahu bahwa ketika Yesus berkata, "Sudah selesai," dan mengembuskan napas terakhir-Nya, Dia telah membayar lunas dosa seluruh dunia. Itulah sebabnya roh-roh jahat "gemetar" ketika berpikir tentang Allah (Yakobus 2:19).

Iblis tidak memiliki kuasa yang mengakibatkan kerusakan kekal bagi mereka yang berada di dalam Kristus. Fakta ini mendorong Paulus menuliskan, "Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu ..., telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat utang, yang ... mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka" (Kolose 2:13-15).

Paulus menggambarkan Yesus yang sedang berjaya sebagai seorang penakluk yang hebat, bagaikan seorang jenderal yang secara terbuka menunjukkan kemenangannya atas musuh-musuhnya dengan cara menggiring mereka melewati jalan-jalan di sebuah kota, dalam kondisi telah dilucuti dan diborgol. Iblis telah dikalahkan, dipermalukan, dan dilucuti oleh salib Kristus dan semua yang terjadi setelah itu. Realitas kemenangan ini belum terwujud sepenuhnya. Hal itu menanti di kemudian hari. Tetapi, bala tentara kegelapan tahu bahwa hari itu akan datang tatkala maut akan "ditelan dalam kemenangan" (1 Korintus 15:54), dan mereka akan "dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang" (Wahyu 20:10). Tak heran bila Iblis melakukan apa saja untuk mencegah Yesus memenuhi perjanjian-Nya untuk mati di atas kayu salib.

Diambil dari:

Judul buku : The Passion of Christ
Judul artikel : Iblis di dalam Kegelapan
Penulis : Martin R. De Haan II
Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta 2005
Halaman : 21 -- 35

e-JEMMi 11/2008

Inti Sari Perjanjian Lama

Inti sari Perjanjian Baru dapat disimpulkan menjadi "salvation", sebuah istilah bahasa Inggris yang sederhana, atau "keselamatan" dalam bahasa Indonesia. Dan inti sari Perjanjian Lama pun dapat disimpulkan menjadi "election" dalam bahasa Inggris atau "pilihan" dalam bahasa Indonesia. Sejak penciptaan, pilihan Allah terhadap manusia dimulai dari satu orang, kemudian diperluas sampai keluarga, keluarga besar, bangsa, dan terakhir Dia kembali memilih satu keluarga, yakni keluarga Daud. Melalui keluarga yang diberkati inilah Allah mempersiapkan seorang Mesias yang akan datang, yaitu Yesus Kristus Juru Selamat umat manusia. Dari perkembangan seluruh Perjanjian Lama, kita dapat menemukan proses pemilihan Allah yang panjang: pada mulanya Allah hanya menciptakan Adam, maka pilihan Allah adalah Adam seorang diri. Tak lama kemudian, Allah menciptakan Hawa dan menyatukan mereka sebagai suami istri untuk bersama-sama menikmati kehidupan yang bahagia di taman Eden.

Sayang, mereka berdua melanggar perintah Allah; makan buah larangan dan terpuruk di dalam dosa. Bersamaan dengan pelanggaran oleh satu orang, maka dosa masuk ke dalam dunia, bahkan semakin bertambah dan semakin parah. Sebelum bencana air bah melanda, yang ada di dalam pikiran manusia hanyalah dosa. Hingga kini, Allah tidak dapat menoleransi lagi. Dia terpaksa memakai air bah untuk menghukum dan menghancurkan dunia. Namun, di antara manusia yang penuh dengan dosa itu, Allah memilih Nuh, orang benar itu dan keluarganya (yang berjumlah 8 orang); menyuruh mereka masuk ke dalam bahtera agar beroleh selamat, dan menyisakan benih bagi umat manusia, untuk memulai sebuah lembaran baru.

Namun sampai zaman Abraham, manusia kembali berdosa, meninggalkan Allah yang sejati, beribadah dan menyembah kepada berhala-berhala dan ilah-ilah palsu. Saat itu, semua negara di bumi penuh dengan berhala yang beraneka ragam bentuknya dan tidak terbilang jumlahnya. Ada dewa surga, dewa langit, dewa bumi, dewa laut, dewa api, dewa tanah, dewa hujan, dewa angin, dewa sungai, dewa pria, dewa wanita, dewa pintu, dewa rumah, dewa harta, dan lain-lain. Di antara negara yang dilanda berhala-berhala ini, Allah khusus memilih dan memanggil Abraham keluar dari Ur (pusat penyembahan berhala zaman kuno), memimpinnya masuk ke Kanaan (tanah perjanjian nan indah), serta mengikat janji kekal dengan dia dan keturunannya. Allah mengasingkan Abraham untuk kembali menegakkan dan menetapkan konsep bahwa di dalam semesta ini hanya ada satu Allah yang sejati dan hidup. Bahkan Dia juga berjanji akan menjadikan Abraham dan keturunannya berkat bagi sekalian negara dan bangsa. Jadi pilihan Allah dimulai dari satu keluarga, lalu berlanjut ke keluarga besar, dan keturunan.

Sampai masa Yakub, pilihan Allah terhadap umat manusia sudah meluas dari keluarga besar sampai ke seluruh bangsa. Israel adalah nama baru Yakub. Keturunan Yakub inilah yang menjadi bangsa baru, bangsa Israel, kerena ke-12 anaknya kemudian menjadi nenek moyang bagi dua belas suku Israel. Bangsa Israel adalah umat pilihan Allah, yang khusus dipilih, diasingkan, dan dikuduskan oleh Allah. Tujuan utama dari Allah membangun negara Israel adalah supaya dia menjadi kerajaan Mesias bagi seluruh dunia, yaitu pada saat yang telah ditetapkan itu tiba, Allah akan menganugerahkan berkat-Nya yang besar kepada bangsa-bangsa di bumi melalui Israel. Dengan kata lain, Allah memilih Israel, bukan karena Dia pilih kasih, melainkan karena Dia memercayakan tugas dan mandat yang lebih besar, yang harus mereka laksanakan. Ketika negara pilihan Allah mulai menjadi besar, kembali Allah memilih satu keluarga, yaitu keluarga Daud, untuk menjadi pusat dari penggenapan janji-Nya: seorang Maharaja akan muncul dari keluarga ini. Dia hidup sampai kekal, kelak Dia akan mendirikan satu negara universal, yang kekal tak berkesudahan. Inilah janji Mesias, Firman menjadi manusia, datang dari surga, untuk mendirikan kerajaan Allah di bumi.

Singkatnya, langkah atau proses pemilihan Allah di Perjanjian Lama terdiri dari tiga konsep dasar:

  1. Negara Mesias

    Tujuan mendirikan negara Ibrani adalah membawa berkat kepada seluruh dunia.

  2. Keluarga Mesias

    Cara yang dipakai untuk mencapai tujuan negara Ibrani membawa berkat bagi dunia adalah melalui keluarga Daud.

  3. Personel Mesias

    Cara yang dipakai untuk mencapai tujuan keluarga Daud membawa berkat bagi dunia adalah melalui seorang Maharaja yang lahir di dalam keluarga ini. Maka target Allah yang terjauh dalam memilih dan membangun negara Ibrani adalah mempersiapkan kelahiran Kristus di dunia. Target Allah yang terakhir adalah supaya melalui kelahiran Yesus Kristus, dunia yang penuh dengan latar belakang penyembahan berhala ini dapat kembali pada konsep dan ibadah yang hanya ditujukan pada Allah yang esa, yang sejati, dan yang kekal.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Latar Belakang Perjanjian Baru (III)
Penulis : Dr. Lukas Tjandra
Penerbit : Departemen Literatur SAAT, Malang 1999
Halaman : 9 -- 12

e-JEMMi 42/2009



Jemaat Berdoa

  1. Berdoa, Hal yang Wajar di dalam Kehidupan Jemaat

    Berdoa dilakukan semua orang beragama. Berdoa adalah hal yang paling umum di dalam kehidupan jemaat. Namun, tidak dapat disangkal bahwa semakin banyak juga pertanyaan diajukan sekitar hal berdoa itu. Orang bertanya: Mengapa sebenarnya kita berdoa? Apa yang kita lakukan apabila kita berdoa? Apa gunanya kita berdoa? Kepada siapa kita berdoa? Benarkah berdoa itu berbicara dengan Allah? Tidakkah kita berbicara sendiri dalam doa? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang dikemukakan orang. Kadang-kadang sekadar bertanya-tanya saja, tetapi tidak jarang pula ada orang yang bertanya dengan sungguh-sungguh. Dan semua pertanyaan yang dikemukakan dengan sungguh-sungguh dan dengan jujur, selalu meminta jawaban.

    Di sini, kita tidak bermaksud menjawab semua pertanyaan itu. Kita hanya bermaksud menguraikan doa yang didoakan jemaat. Orang di dalam jemaat tidak berdoa karena berdoa itu masuk akal. Orang berdoa karena berdoa itu wajar.

    Di dalam jemaat, orang berdoa karena hal itu wajar. Bagi jemaat Tuhan, manusia tidak hidup sendiri. Manusia hidup dengan Tuhan dan dengan sesamanya di dunia ini. Oleh karena itu, adalah hal yang paling wajar apabila jemaat, dalam perjalanan hidupnya di dunia ini, berdoa kepada Tuhan, berdoa bersama jemaat, berdoa untuk semua orang, dan berdoa bagi keselamatan dunia. Tidak pernah manusia dibiarkan sendiri menjalani hidup ini. Ada Tuhan yang menyertai hidup kita di dunia ini. Itulah kepercayaan jemaat. Itulah dasar hidup jemaat. Dan itulah pokok pengharapan jemaat. Kita tidak sendiri di dalam hidup ini. Oleh karena itu, wajarlah kita berdoa dalam perjalanan hidup kita.

    Di dalam jemaat, pengertian diri seperti ini mungkin lebih sering diungkapkan dengan bahasa Alkitab: Allahlah yang menciptakan dunia dengan segala isinya, memeliharanya dengan setia dan tidak meninggalkan pekerjaan tangan-Nya (Mazmur 124:8; 138:8). Allah membuat manusia yang sangat kecil di alam semesta ini "hampir sama seperti Allah" (Mazmur 8:6), "menurut gambar Allah" (Kejadian 1). Di antara segala ciptaan yang ada, manusialah yang dapat diajak bicara oleh Allah. Allah berbicara dan manusia menjawab. Di dalam ikatan itulah manusia itu ada di dunia ini. Dan dosa manusia adalah bahwa ia mau melepaskan dirinya dari Allah dan tidak mau bertanggung jawab kepada Allah. Dosa manusia inilah yang mencelakakan dirinya dan menyeret seluruh ciptaan ke dalam kecelakaan itu.

    Dengan pengertian diri manusia seperti itulah, jemaat hidup, bekerja, dan berdoa. Di dalam Alkitab, umat Allah selalu hidup dengan berdoa kepada Allah. Dan semua anggota umat Allah berdoa, bukan hanya orang-orang tertentu saja, seperti para imam, pemuka-pemuka agama, dan raja. Dan Allah disebut "Yang mendengarkan doa" (Mazmur 65:3). Berdoa merupakan hal yang wajar di dalam kehidupan jemaat.

    Dalam rangka kewajaran berdoa inilah, dapat dikatakan bahwa sama sekali tidak diperlukan suatu kepandaian berdoa. Semua anggota jemaat berdoa. Bahkan apabila kita tidak tahu bagaimana kita harus berdoa, Roh Allah membantu kita berdoa (Roma 8:26). Namun di dalam kehidupan jemaat, kita dapat dibantu oleh doa-doa orang lain, yaitu doa-doa yang terhimpun dalam Alkitab (Kitab Mazmur, misalnya) maupun di dalam buku-buku doa jemaat. Tetapi yang terpenting ialah bahwa kita berdoa dengan wajar di dalam perjalanan hidup kita bersama Tuhan. Seperti anak yang berjalan bersama bapa dan ibunya.

  2. Berdoa Bukanlah Suatu Kegiatan yang Berdiri Sendiri

    Apabila kita membicarakan doa sebagai suatu pokok tersendiri, maka harus kita ingat bahwa sesungguhnya berdoa itu tidak berdiri sendiri di dalam kehidupan ini. Berdoa itu selalu berkaitan dan berkelanjutan dalam hidup ini. Seperti sudah dikemukakan, kita menjalani hidup ini tidak sendiri. Kita berjalan bersama Tuhan. Kita bergaul dengan Tuhan sepanjang hidup kita. Dan dalam pergaulan dengan Tuhan di tengah kenyataan hidup kita itulah, kita berdoa. Bahkan kita berdoa senantiasa (1 Tesalonika 5:17). Ada orang yang melihat seluruh kehidupan beriman itu sebagai satu kesatuan hidup berdoa. Berdoa itu berkelanjutan di dalam kehidupan ini.

    Setelah kita sadari hal berdoa yang berkelanjutan di dalam kehidupan ini, dapatlah kita katakan sekarang bahwa kendatipun demikian, kita dapat membedakan berdoa itu dalam rangka kehidupan beriman. Dan kita mengambil waktu khusus untuk berdoa. Kita juga mengadakan kebaktian doa dan masa doa di dalam kehidupan jemaat. Kita dapat pula membicarakan hal berdoa itu secara khusus, seperti yang kita lakukan di sini.

    Apa yang penting kita perhatikan apabila kita berdoa? Ada orang yang setiap kali berdoa, langsung mulai mengemukakan segala permintaannya dan kebutuhannya kepada Tuhan. Di dalam keadaan yang sangat mendesak, dapat kita bayangkan hal seperti itu terjadi. Tetapi apabila setiap kali kita berdoa, kita berdoa seperti itu, maka kita harus bertanya: "Tidakkah dalam hal itu kita hanya hidup untuk diri kita sendiri, memikirkan diri sendiri saja, juga apabila kita berdoa?" Dan doa seperti itu sangat mungkin adalah percakapan diri kita sendiri.

    Hendaknya disadari selalu bahwa apabila kita berdoa, kita berhadapan dengan Tuhan. Tuhan berbicara kepada kita dan kita berbicara kepada Tuhan. Sering kita tidak membiarkan Tuhan berbicara kepada kita apabila kita berdoa. Kita saja yang terus berbicara dan akhirnya kita berbicara sendiri. Barangkali inilah yang pertama-tama harus kita perhatikan apabila berdoa. Apabila kita berdoa, baiklah kita menantikan Tuhan berbicara kepada kita dan baiklah kita memerhatikan Tuhan lebih dulu.

    Suasana dan lingkungan sering kali dapat membantu kita dalam hal ini. Sayangnya gereja-gereja Protestan pada umumnya tidak menunjang orang berdoa dengan menantikan Tuhan dan memerhatikan Tuhan seperti itu. Oleh karena itu, orang suka berdoa di kapel. Kapel adalah tempat beribadah yang mendorong kita berdoa dengan tenang. Di dalam kapel itu, suasana ikut menyadarkan kita bahwa kita menghadap Tuhan. Kita didorong untuk menantikan dan mendengarkan Tuhan. Kita akan membiarkan Tuhan memimpin kita dalam doa kita. Kita seperti diharuskan mendoakan orang lain, mendoakan pekerjaan Tuhan, mendoakan hal-hal yang penting bagi Tuhan, hal-hal yang lebih penting daripada keinginan hati kita sendiri. Dalam doa seperti ini, kita akan tumbuh keluar dari diri kita sendiri, menjadi orang beriman yang lebih dewasa, lebih bertanggung jawab untuk kehidupan bersama, dan juga menjadi lebih berperikemanusiaan.

    Menyadari itu semua, tidaklah berlebihan untuk memisahkan waktu untuk berdoa di dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang yang berdoa akan menjadi lebih manusiawi. Dan kemanusiawian itulah yang diperlukan dalam kehidupan bersama. Kemanusiawian itu menyegarkan dan menyehatkan kehidupan bersama. Waktu pagi sebelum mengerjakan segala pekerjaan kita sehari dan waktu malam setelah kita menyelesaikan pekerjaan kita adalah waktu yang baik untuk berdoa. Dan kita ingat bahwa sama sekali tidak diperlukan kepandaian khusus untuk berdoa. Dengan berdoa setiap hari, kita berjalan dengan Tuhan di dalam hidup kita di dunia ini.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jemaat Berdoa
Penulis : Liem Khiem Yang
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1997
Halaman : 4 -- 10

e-JEMMi 40/2008

Jendela 10/40

APAKAH DAN DIMANAKAH JENDELA 10/40?

Sebuah kawasan yang membentang dari Afrika Barat, Timur, Tengah, sampai Asia. Tepatnya 10'- 40' lintang utara khatulistiwa. Milyaran penduduk dunia yang belum terjangkau Kabar Baik terpusat di kawasan yang berbentuk Jendela 10/40 atau 10/40 Window.

MENGAPA KAWASAN JENDELA 10/40?

Beberapa alasan penting mengapa kita berdoa secara khusus bagi kawasan Jendela 10/40 adalah:

  1. 97% penduduk negara-negara yang paling sedikit mendengar Kabar Baik tinggal dikawasan Jendela 10/40.

  2. Walaupun hanya merupakan sepertiga dari seluruh daratan yang ada di bumi, namun hampir duapertiga penduduk dunia bermukim di Jendela 10/40. Jumlah total penduduk di wilayah tersebut mendekati 4 milyar orang. Mereka tersebar di 61 negara yang terdapat di wilayah tersebut.

  3. Dikawasan Jendela 10/40 terdapat berbagai aliran kepercayaan yang mengikat milyaran jiwa untuk menyembah berhala-berhala dan ilah-ilah. Mata rohani mereka dibutakan oleh ajaran agama yang belum mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, meskipun kitab suci mereka memberi kesaksian tentang hal itu.

  4. Sekitar 80% orang yang hidup dalam kemiskinan, tinggal di wilayah Jendela 10/40. Rata-rata mereka berpenghasilan kurang dari 500$ AS pertahun. Bryant L. Myers, seorang penulis Kristen pernah menyatakan bahwa orang miskin adalah orang terhilang dan orang terbilang adalah miskin. Dari penjelasan di atas disimpulkan