Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereRenungan Misi / Renungan Misi

Renungan Misi


Ikutilah TeladanKu

Paulus bukan saja memercayai Yesus sebagai Juru Selamat dan Penebus Dosanya, tetapi ia juga mengikuti teladan kehidupan Yesus. Perilaku hidup sehari-harinya juga diusahakan seperti Yesus Kristus. Selama di dunia ini, ia hanya menghabiskan hidupnya menjadi hamba untuk melayani orang lain. Ia tidak mencari reputasi meski ia makin terkenal.

Pengantara Kita

"Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus." (1 Timotius 2:5)

Berpikir Layaknya Anak Kecil di Penjara

Ketika berada di Australia, saya menerima kabar bahwa menantu perempuan saya mengalami luka serius dalam kecelakaan mobil di California, yang telah meremukkan mobilnya. Anak perempuannya yang berusia 9 tahun juga ikut terluka. Ketika saya menghubunginya untuk mendengar bagaimana kecelakaan tersebut terjadi, cucu perempuan saya, saat menjawab pertanyaan-pertanyaan berteriak, "Aku memunyai kabar gembira! Seseorang memberikan seekor kucing kepadaku sebagai hadiah!" Lalu diikuti dengan penjelasannya mengenai rupa kucing itu.

Seorang Penganiaya Bertobat

Saya tidak memunyai banyak waktu untuk menjelaskan kepada Anda semua keindahan gereja bawah tanah. Barangkali saya hanya dapat menceritakan satu episode yang pernah saya alami. Saat itu kami berada di suatu sel penjara; berisi 30 atau 40 tahanan. Pintu dibuka dan para penjaga mendorong masuk seorang tahanan baru. Dia kotor seperti halnya kami juga. Kami tidak pernah mandi selama 3 tahun. Jadi, dia kotor dan kami juga kotor. Dia digunduli dan memakai seragam bergaris sebagai seorang tahanan.

Menabur Bagi Kota-Kota Dunia

"Saya melihat Tuhan tetap memelihara kehidupan kita "hidup irit" tetapi justru pada saat kita menabur, di situlah kita menuai."

Berjalan Bersama-Nya

Paulus mengatakan bahwa dia rindu untuk memunyai pengalaman pribadi dengan Yesus dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Surat-surat Paulus berisi pengalaman pribadinya dengan Tuhan Yesus ketika melayani secara fisik -- dari waktu ke waktu tubuh fisiknya makin merosot, tetapi secara batiniah dia terus menerus diperbarui.

Pikiran Manusia Vs Tuhan

Pikiran manusia Petrus tidak menginginkan pemimpin-Nya menderita, diperlakukan tidak adil, dinista, atau dihina; demikian juga kita. Bukankah Yesus berkuasa melakukan banyak mukjizat? Ia berjalan di atas air, mengubah air menjadi anggur, membangkitkan orang mati, dan banyak lainnya. Yesus sanggup membela dan melepaskan diri-Nya dari paku-paku yang menancapkan-Nya ke kayu salib.

Persekutuan Dalam Penderitaan Kristus

Mengenal Kristus

Visi apa yang harus ada dalam kehidupan orang percaya? Visi Kristus, yaitu menjadi serupa dengan Kristus dan Kristus dimuliakan dalam hidupnya! Itulah yang menjadi prinsip Paulus -- bagiku hidup adalah Kristus (Filipi 1:21). Inilah saran Paulus, "Mengenal Kristus dalam pengenalan yang terdalam, terintim, sedemikian sehingga akhirnya dia bisa berkata, 'hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus dalamku'" (Galatia 2:19).

Mengapa Orang Saleh Menderita?

Mengapa? Mengapa Tuhan? Mengapa saya harus mengalami semua ini? Apa dosa saya? Pertanyaan serupa sering kita dengar, bahkan mungkin keluar dari mulut kita sendiri, ketika seseorang atau kita mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup -- sakit yang tak kunjung sembuh, masalah yang datang bertubi-tubi, gagal dalam pekerjaan, ditinggal orang yang dikasihi, dan sebagainya.

Juru Minum Bagi Raja Yang Agung

"Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana." (Nehemia 1:9) Kehancuran Yerusalem dan penderitaan yang dialami orang-orang Israel merupakan kesedihan besar bagi Nehemia. Kesedihan Nehemia ini membuat ia tumbuh sebagai seorang anak Bangsa yang berani dan mampu memimpin kembali pembangunan tembok Yerusalem. Nehemia tahu dan sadar akan kesalahan dan dosa yang telah diperbuat oleh orang-orang Israel dan keluarganya sendiri. Kesedihan Nehemia tidak berakhir menjadi kesedihan semata, tetapi berkembang menjadi suatu doa dan pergumulan (Nehemia 1:5-11), agar kaum keluarga dan bangsanya berbalik kepada Allah dan memohon pengampunan dari Allah untuk mereka. Kehancuran Yerusalem bukan hanya menimpa fisik dari kota itu, tetapi juga melambangkan kehancuran dan kemerosotan spiritual dan karakter.