Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.42 Vol.14/2011 / Pengantara Kita

Pengantara Kita


"Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus." (1 Timotius 2:5)

Di dalam Alkitab Yesus berkali-kali disebut sebagai Pengantara. Seorang pengantara tidak pernah mewakili hanya satu pihak. Dia mendengarkan keluhan dari kedua belah pihak dan mencari jalan tengah untuk mendamaikan mereka.

Sesungguhnya, Allah memiliki banyak keluhan terhadap manusia. Dosa mereka melanggar hukum-Nya, walaupun sebagai Pencipta, Dia memiliki hak untuk menuntut kepatuhan mereka.

Di dalam Yesaya 5:1-3, ada lagu mengenai keluhan Allah, "Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur, lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam. Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu." Lalu Allah bertanya seperti ini, "Apakah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya?" (Yesaya 5:4)

Yesaya tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ini, tetapi Allah punya. Dia tahu keluhan umat manusia dibenarkan juga. Dia melakukan satu hal yang lebih daripada yang seharusnya: Dia datang di tengah-tengah manusia, untuk menjadi satu dalam kehidupan manusia dengan segala penderitaannya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seseorang mencela Allah yang telah menjadi miskin, menjadi manusia yang menderita sama seperti Anda? Allah yang mengizinkan penderitaan itu terjadi, harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa Dia siap untuk menanggung penderitaan melalui diri-Nya sendiri. Inilah yang Yesus lakukan ketika Dia menjadi Allah di dalam daging. Dia juga secara meyakinkan telah menyelesaikan permintaan Allah untuk menyelamatkan jiwa manusia. Penebusan-Nya lunas bagi kita. Dia menanggung penghukuman atas dosa-dosa kita. Melalui ini semua perdamaian antara manusia dan Allah ditegakkan.

Saya punya satu cerita. Suatu saat, ada seorang pendeta yang tinggal selama semalam di suatu peternakan. Pada pagi harinya, pemilik peternakan tersebut menunjukkan kepada pendeta itu kandang ayamnya. Mereka berhenti berjalan dan berdiri di depan sebuah sangkar, tempat seekor ayam betina duduk di atasnya. Di bawah kedua sayapnya ayam ini melindungi anak-anaknya. "Sentuh induk ini Pendeta," kata peternak itu. Tubuh induk ini dingin, mati, tidak bergerak. Seekor musang telah mengisap darahnya, tetapi demi melindungi anak-anaknya, yang mana musang tersebut juga mau menyerang mereka, induk ini tidak bergerak. Sebuah contoh pengantara yang kita miliki di dalam Yesus.

Kita mungkin memiliki banyak keluhan kepada Allah. Yesus tidak membela diri, meskipun Dia berkata, "Tidak ada yang sempurna selain Allah." Daripada Dia berdebat dengan para pendosa, malahan Dia menunjukkan kasih-Nya, lalu mati demi mereka.

Pada Jumat Agung Dia mati, tetapi di bawah naungan sayap-Nya terdapat pengharapan. Satu minggu sebelum kematian-Nya, Dia meratap atas seluruh umat-Nya, "Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau." (Matius 23:37b)

Karena Yesus adalah Pengantara, Dia membagi waktu menjadi dua. Catatan sejarah membagi waktu ke dalam dua era, sebelum Kristus dan setelah Kristus (Anno Domini di tahun-tahun Tuhan kita). Bahkan, mereka yang membenci-Nya menandai zaman mulai dari kelahiran-Nya.

Gambaran orang yang paling dikenal sepanjang masa, menjadi suram tidak berarti ketika terang Yesus tampak, Anak Kebenaran. Sebuah puisi yang tidak diketahui penulisnya, membandingkan Yesus dengan Alexander Agung, Kaisar Makedonia yang menaklukkan banyak negara dari Yunani sampai Mesir pada abad ketiga SM.

Yesus dan Alexander mati pada umur 33 tahun; yang satu hidup dan mati demi dirinya sendiri, satu lagi mati demi Anda dan saya.

Yang satu mati di atas takhta, satunya lagi mati di atas salib; yang satu kelihatannya hidup berkemenangan, satunya lagi berkemenangan tetapi kehilangan.

Yang satu memimpin pasukan besar ke medan perang, satunya lagi berjalan sendiri; yang satu menumpahkan darah bangsa-bangsa, satunya lagi menumpahkan darah-Nya sendiri.

Yang satu menaklukkan dunia semasa hidupnya, dan kehilangan segalanya pada saat kematiannya; satunya lagi kehilangan nyawa-Nya, untuk memenangkan iman dunia.

Yesus dan Alexander mati pada umur 33 tahun; yang satu mati di Babilonia, dan satu lagi mati di Kalvari.

Yang satu memperoleh semua kejayaan untuk dirinya sendiri, dan satunya lagi diri-Nya sendiri Dia berikan.

Yang satu menaklukkan setiap takhta bangsa-bangsa, satunya lagi menaklukkan setiap kematian.

Dalam drama tulisan Shakespeare yang berjudul "King Lear", yang baik dikalahkan. Cordelia, anak perempuan raja satu-satunya, terbaring tak bernyawa di kaki ayahnya, yang telah melakukan penolakan yang tidak pantas terhadapnya. Kisah di dalam semua drama yang bagus adalah sama dengan kehidupan nyata; kisah keduanya diakhiri dengan kematian. Oedipus, Medea, dan Clytemnestra; Macbeth, Othello, dan juga Richard maupun Henry di dalam drama Shakespeare, semua diakhiri dengan kematian para tokoh utamanya dan layar diturunkan. Apa yang mereka dapatkan, baik atau buruk, adalah kesia-siaan.

Saya membuat luka-luka Yesus sebagai bahan perenungan. Tetapi di mana luka-luka tersebut berada? Luka-luka tersebut terdapat di tubuh Yesus yang dimuliakan, di tubuh yang mana Dia memperoleh kemenangan atas kematian. Dia menunjukkan luka-luka tersebut kepada Thomas, dan semua para rasul melihat luka-luka tersebut sebagai bukti kebangkitan-Nya. Dia menjamin kita, juga dari suatu kebangkitan yang penuh kemuliaan.

Sebagai Pengantara dari suatu perjanjian baru, dalam arti akan kematian-Nya, Dia memberikan kepada kita penebusan atas dosa-dosa kita dan janji dari suatu warisan yang kekal.

Cacing-cacing, api, atau lautan mungkin melumatkan tubuh kita. Tetapi roh saya akan hidup di dalam suatu dunia, dengan tidak lagi mengembara dan mengalami pencobaan. Saya tidak perlu melewati reinkarnasi yang menyakitkan. Di atas kematian terdapat Surga.

Diambil dari:

Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Juli - Agustus 2004
Penulis : Richard Wumbrand
Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 2

e-JEMMi 42/2011