Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.26 Vol.15/2012 / Pengharapan

Pengharapan


Harapan adalah keinginan yang belum terlaksana. Tak pelak lagi, perubahan juga sangat berkaitan erat dengan harapan. Itulah sebabnya setiap pergantian hari, kita menyambutnya dengan antusias disertai optimisme karena di sana terdapat harapan. Bukankah secara psikologis hidup kita senantiasa digairahkan oleh harapan? Harapanlah yang mendorong kita untuk bergairah, dinamis, memunyai cita-cita, serta selalu rindu untuk menyongsong hari esok.

Harapan tidak bergantung pada kecerdasan, intelektual, atau perjuangan seseorang untuk mewujudkannya. Tidak juga pada apa yang dimiliki seseorang atau apa yang diperbuat orang lain bagi dia. Harapan adalah keyakinan bahwa Allah yang hidup akan bertindak dan berbuat untuk menepati janji-Nya. Kasus Abraham dan Sara adalah contoh konkret dalam hal ini. Tidak ada dasar atau keyakinan yang bisa membenarkan pengharapan Abraham akan lahirnya seorang anak dari rahim Sara yang sudah uzur, namun "Abraham berharap juga dan percaya" (Roma 4:18).

Harapan jugalah yang mendorong Abraham untuk berani tawar-menawar dengan Tuhan Allah mengenai nasib kota Sodom dan Gomora. Pengharapan Abraham jelas, ia tidak rela kedua kota itu dibumihanguskan Allah. Oleh karena itu, ia memberanikan diri untuk melakukan tawar-menawar. Sayang sekali, meskipun Allah sudah memperlunak persyaratan-Nya, namun syarat itu tetap tidak terpenuhi oleh penduduk Sodom dan Gomora, meski dalam peristiwa itu Allah sebenarnya sangat peduli terhadap pengharapan Abraham.

Pengharapan Alkitabiah

Harapan alkitabiah adalah pengharapan yang berlandaskan iman kepada Tuhan. Di dalam iman, kita menyaksikan kebajikan dan kebaikan Tuhan yang senantiasa memelihara ciptaan-Nya. Artinya, percaya pada apa yang Tuhan telah kerjakan atas hidup kita pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Sebagai sumber pengharapan, Dia adalah satu-satunya sumber pengharapan kita yang tidak pernah kering dan selalu memenuhi harapan kita tepat pada waktunya.

Harapan bukanlah seperti kabut embun pagi yang menghilang karena panas matahari atau seperti perahu layar yang bergantung pada arah angin. Alkitab berkata, "Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir." (Ibrani 6:19) Selanjutnya, penulis kitab Ibrani menjelaskan bahwa: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1)

Maknanya, karena imanlah orang Kristen yakin bahwa apa yang dia harapkan akan menjadi kenyataan (Ibrani 11:1), dan harapannya tidak akan mengecewakan dia sebagaimana dikatakan oleh rasul Paulus: "Pengharapan tidak akan mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:5)

Yesus mengajar kita untuk tidak perlu khawatir menghadapi hari esok karena hari esok ada dalam kuasa-Nya.

Kebangkitan-Nya dari antara orang mati adalah karya terbesar Allah Bapa untuk membangkitkan pengharapan kita akan hidup kekal. Sebagai pusat pengharapan, Yesus memampukan kita untuk membuat hal-hal besar, untuk mengatasi dosa, dan mengalahkan kekhawatiran hidup. Ia dibangkitkan dari antara orang mati supaya iman dan pengharapan kita tertuju hanya kepada Allah saja (1 Petrus 1:21) dan oleh bilur-bilur-Nya pengharapan kita akan keselamatan terpenuhi (1 Petrus 2:24).

Tanpa kehadiran Yesus, manusia tidak akan pernah punya pengharapan kekal. Sebab harapan manusia terkurung dalam pikiran sempit dan tercemar. Lagi pula, harapan kita sering kali dibelokkan oleh Iblis ke jalan yang sesat, seperti ungkapan Raja Salomo: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 13:12) Tidak kalah pentingnya adalah perumpamaan hidup yang dikemukakan oleh nabi Yesaya, sebagaimana dikutip oleh rasul Petrus: "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." (1 Petrus l:24)

Rasul Paulus menegaskan bahwa Allah adalah sumber pengharapan yang memenuhi kita dengan sukacita dan damai sejahtera dalam iman, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kita berlimpah-limpah dalam pengharapan (Roma 15:13). Pengharapan membuat kita dinamis untuk menyongsong hidup "masa depan" (Ibrani 13:14), sekaligus menjadi pendorong menuju kesucian hidup, sebab: "Setiap orang yang menaruh pengharapan kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci." (1 Yohanes 1:3)

Diambil dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, Januari 2007
Penulis : Drs. Elisa B. Surbakti, M.A.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2007
Halaman : 13

e-JEMMi 26/2012