Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.22 Vol.15/2012 / Imigran yang Jadi Penguasa

Imigran yang Jadi Penguasa


Kita semua telah mendengar dan mengetahui kisah Yusuf. Ia adalah seorang imigran, tapi tak ada seorang pun yang menolak atau menyangsikan kemampuannya menjadi pemimpin. Bahkan, Firaun pun kagum dan berkata, "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah." (Kejadian 41:38) Kita pun setuju jika semua orang memuji dan ingin seperti dia. Mengapa? Sebab Yusuf memang layak dan pantas mendapatkan semua itu. Perbedaannya dengan Firaun hanyalah takhta kerajaan Mesir (Kejadian 41:40b). Tapi satu hal yang pasti, ia tidak mendapatkannya secara instan atau tiba-tiba. Ujian dan halangan demi halangan itulah yang membentuknya jadi pemimpin. Cara Yusuf menghadapi semua itulah yang membedakan serta membuktikannya sebagai pemimpin tulen. Nah, bukankah kita mau menjadi seperti Yusuf?

Seorang pemimpin tidak dilahirkan melainkan dibentuk. Demikian pula Yusuf. Ia menjadi seorang pemimpin karena ia mau dibentuk dan melakukan segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh, tanpa memikirkan untung ruginya.

Sejak awal, Yusuf telah mengalami penolakan dari saudara-saudaranya yang membencinya, hanya karena ayah mereka lebih mengasihi Yusuf. Bahkan, mereka berikhtiar untuk membunuh Yusuf karena kepolosannya dalam menceritakan mimpi yang didapatnya. Pikirkan, apakah Yusuf menjadi orang yang minder dan tertolak? Ternyata tidak. Yusuf tidak membiarkan rasa mengasihani diri sendiri itu menguasainya dan lebih dari itu, Yusuf bahkan mengampuni dan merindukan saudara-saudaranya (Kejadian 41:51). Bayangkan, masihkah ada pelajar seperti Yusuf sekarang ini? Mungkin Anda adalah orangnya.

Yusuf adalah seorang anak kesayangan ayahnya, tetapi tanpa disangka-sangka, tiba-tiba ia menjadi seorang budak belian tanpa ia tahu alasannya. Menjadi orang asing dan sendirian tanpa ada saudara ataupun teman. Tapi, apa yang terjadi? Yusuf tidak mengeluh dan ia tidak meninggalkan Tuhan, melainkan ia menyatakan hubungannya yang intim dengan Tuhan, walaupun sendirian di negeri orang. Bagaimana dengan kita? Saat kita sendirian dan tanpa teman, apakah kita tetap berani membawa nama Yesus dan status Kristen pada lingkungan kita? Jadilah seperti Yusuf.

Di Mesir, Yusuf menjadi seorang budak yang dikasihi tuannya. Namun sekali lagi, dedikasi dan integritasnya yang takut akan Tuhan menjadikannya seorang narapidana tanpa ada pembelaan atau penghargaan karena sikapnya itu. Apakah Yusuf marah? Sayangnya, tidak. Ia tidak marah, pada Tuhan sekali pun. Apakah Yusuf tergoda akan rayuan istri Potifar? Yang terjadi adalah Yusuf lari dan tidak membiarkan dirinya melakukan dosa tersebut karena ia tidak mau mengambil keuntungan dari situasi saat itu. Inilah sikap yang harus ada pada kita, yang walaupun digoda beratus-ratus istri Potifar lewat pacaran, VCD, majalah, atau bahkan tempat pelacuran, tetap memilih untuk lari dan tidak membiarkan diri kita melakukan dosa. Kitalah pelajar yang berani membela nama Tuhan, dengan mengambil sikap bersih hati dan murni tangan di hadapan Tuhan. Ya, kitalah angkatan itu. Kembali, Yusuf yang menjadi seorang narapidana dan menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti, tidak membiarkan dirinya dikecewakan oleh orang yang telah diselamatkannya. Walaupun 2 tahun telah berlalu, Yusuf tetap percaya akan waktu Tuhan yang paling tepat baginya. Saat Tuhan itulah yang menjadikan Yusuf, tidak hanya sebagai mangkubumi di Mesir tetapi juga pemelihara kehidupan suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:20). Sangat indah, bukan?

Ya, Tuhan tidak hanya membentuk Yusuf menjadi seorang yang rendah hati, tetapi juga orang yang bergantung penuh pada Tuhan. Ini baru pemimpin! Mari belajar dari Yusuf.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul Majalah : Abbalove, Edisi 6, Bulan 9, Tahun 1999
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Abbalove Ministries, 1999
Halaman : 3 -- 5

e-JEMMi 22/2012