Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKesaksian Misi / Kesaksian Misi

Kesaksian Misi


Penglihatan Malam di Iran

Aku kuliah dan bekerja. Aku di bawah tekanan, namun ayah ibuku tidak bersamaku, jadi aku kesepian. Oleh karena itu, aku berdoa agar tekanan akan meninggalkanku.

Aku berusaha sebaik mungkin menjadi seorang "beragama lain". Aku mengikuti semua perintah di dalam agama. Aku melakukan yang terbaik untuk sedalam mungkin memperoleh jalan masuk (ke allah). Tetapi sesungguhnya, tekanan semakin meningkat dan tekanan mental seperti memukulku dan menghisap semua tenagaku. Di tempat kerjaku, mereka memindahkanku ke perusahaan lain untuk bekerja di tempat lain selama satu bulan, jadi permasalahanku bertambah dan lebih banyak tugas lagi yang harus aku kerjakan sebagai tambahan pembelajaranku.

Pengalaman Saya dengan Keberanian

JS, staf Open Doors Singapura, baru-baru ini mengadakan perjalanan ke Bangladesh dan bertemu dengan beberapa umat Kristen lokal. Perjalanan tersebut sangat memberkatinya dan membawa pengaruh dalam hidupnya.

Seorang Anak Irak Membayangkan Yesus Seperti Sebuah Jubah Spesial

"Tuhan selalu bersama kami tidak ada yang perlu dikhawatirkan, itulah pesan ayah padaku."

Mengapa Saya Mau Menjadi Hamba Tuhan?

Ketika saya diminta untuk mengisi ruang kesaksian dalam sebuah buletin, saya bingung harus mulai dari mana. Apa yang harus saya sampaikan, yang bisa menjadi berkat bagi orang yang membacanya? Lalu saya teringat akan suatu kejadian yang pernah saya alami 28 tahun yang lalu, ketika saya memutuskan untuk masuk SAAT. Mungkinkah ini sudah basi? Saya pikir tidak ada yang basi dalam hal mengingatkan kembali panggilan Tuhan dalam hidup saya. Justru melalui kesaksian inilah saya akhirnya bersedia diteguhkan dalam jabatan pendeta untuk lebih maksimal lagi melayani Tuhan. Juga, supaya saya tetap berjalan dalam "rel" yang semestinya. Saya pikir, setiap orang yang melayani Tuhan perlu mengingat kembali panggilannya yang mula-mula. Entah itu 1 tahun, 5 tahun, 20 tahun, atau bahkan 30 tahun yang lalu agar semangat dan kasih yang mula-mula tetap berkobar dan ingat "status saya adalah HAMBA TUHAN bukan HAMBAT TUHAN".

Luput dari Pemenggalan Kepala

Jarang sekali seorang pendeta mau ditugaskan melayani di desa M -- Poso meskipun ini adalah desa Kristen. Banyak orang Kristen dibantai secara keji di sekitar daerah itu. JT (30 tahun), tidak takut menggantikan tugas penggembalaan seorang gembala GPdI yang meninggal karena sakit di desa M. JT hanya menggembalakan 2 keluarga karena jemaat lainnya telah mengungsi. JT tidak memiliki kendaraan untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan, dan untuk itu ia meminjam sepeda motor milik orang tuanya di desa P.

Terang Seorang Martir

H dilahirkan di sebuah keluarga Kristen di Mesir pada tahun 1985. Ia bangga dilahirkan sebagai orang Kristen, dan seperti banyak orang Kristen Koptic, ia membuat tato sebuah salib di atas pergelangan tangannya. Ia juga bangga dengan namanya, yang artinya "Sukacita" dalam bahasa Arab. Ia memperlakukan orang-orang dengan baik; mereka dapat melihat sukacita dan kasih Kristus dari pancaran matanya. Lampu kehidupannya diisi dengan minyak dan bercahaya dengan terang bagi semua orang untuk melihat.

Maroko: Putra Seorang Imam Bertemu Anak Allah

Majdy (bukan nama sebenarnya) terlihat menikmati obrolan malamnya di internet dengan seorang gadis Kristen Suriah yang bernama Rut (bukan nama sebenarnya). Ia berharap membawa gadis itu menjadi pemeluk agamanya. Tetapi dalam berjalannya waktu, ia dan Rut menghabiskan banyak waktu mereka berdiskusi tentang kekristenan.

China: Watchman Nee

"Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku." (Kolose 1:29)

Watchman Nee, pemimpin gereja China, hanya punya waktu 6 jam. Ia harus membawa penjaga di depan sel penjaranya kepada Kristus, supaya surat pembangkit semangatnya untuk orang-orang Kristen di luar penjara dapat dikirim.

Sebastian

Pada zaman setelah para rasul hidup, di antara sekian banyak orang yang harus kehilangan nyawa selama masa penganiayaan berdarah, terdapat seorang bernama Sebastian. Ia adalah orang kudus yang lahir di Narbonne, Gail. Di Milan, ia diajar hidup menurut prinsip-prinsip kekristenan dan kemudian menjadi kepala pengawal kaisar di Roma. Ia tetap menjadi orang Kristen yang benar, meskipun sekelilingnya penuh dengan penyembahan berhala.

Romulo Saune (1953-1992)

Romulo Saune dibesarkan sebagai anak penggembala di daerah dataran tinggi yang curam di pegunungan Peruvian Andes. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa Tuhan akan memimpinnya keluar dari tempat isolasi dan desanya yang miskin, yang terletak jauh di pegunungan itu ke sebuah tempat untuk menduduki posisi kepemimpinan di gereja.