Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.13 Vol.10/2007 / Orang Beja: Bedawi dari Eritrea

Orang Beja: Bedawi dari Eritrea


Masyarakat Beja adalah sebuah kelompok gembala nomaden yang hidup tersebar di padang pasir di Sudan, Mesir, dan Eritrea. Mereka adalah kelompok etnis non-Arab terbesar di antara Sungai Nil dan Laut Merah. Mereka sering disebut "Fuzzy Wuzzies" karena rambut mereka yang sangat kusut. Mereka adalah masyarakat yang agresif, dengan postur tubuh yang kecil, kurus, tapi kuat; dan bentuk wajah yang lonjong/oval.

Orang-orang Beja adalah keturunan dari cucu Nuh, yaitu Kush (anak dari Ham). Mereka adalah orang Afrika asli yang telah mendiami tanah air yang sekarang ditempatinya selama lebih dari empat ribu tahun. Selama itu, mereka berbaur dengan suku-suku bangsa Arab lainnya, dan pemeluk agama non-Kristen yang taat. Masyarakat Beja di Eritrea terdiri dari dua suku: Ababda dan Beni Amer. Keduanya mendiami area seluas sekitar 20.000 mil persegi (50.000 kilomoter persegi) di bagian paling utara negara tersebut. Dalam sepuluh tahun terakhir, ribuan orang telah mengungsi ke Sudan akibat perang dan kekeringan.

SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?

Iklim Eritrea yang semitropis dipengaruhi oleh angin yang panas dan kering yang datang dari padang pasir Sahara dan Arabia. Curah hujan di bagian selatan hanya 100 mm per tahun. Masyarakat suku Beja memboyong sekawanan ternak dan unta mereka pindah untuk mencari tanah berumput yang lebih subur. Mereka ahli dalam mengurus ternak; hal ini tergambar melalui lagu-lagu dan cerita rakyat mereka.

Tak seperti suku-suku Beja yang lain, suku Beni Amer merupakan kelompok masyarakat nomaden yang bersatu menjadi satu unit politik. Mereka memiliki sistem sosial yang unik karena mirip dengan sistem "kasta". Sejak tahun 1948, sistem ini dilarang oleh pemerintah Etiopia.

Suku Beja tinggal di tenda-tenda bongkar pasang yang didirikan oleh kaum wanita. Tendanya berbentuk persegi panjang dan dibuat dari anyaman bulu kambing berwarna hitam atau abu-abu. Makanan sehari-hari mereka adalah produk olahan dari susu (terutama susu unta), daging sapi, dan biji-bijian. Pakaian tradisional mereka terbuat dari kulit hewan, namun sekarang ini banyak yang memakai pakaian-pakaian buatan pabrik. Mereka menggunakan uang untuk membeli pakaian dan barang-barang lain yang dibutuhkan. Masyarakat Beja menganggap "hidup itu bahagia" jika memiliki banyak ternak dan tinggal di padang rumput yang hijau dan subur.

Masyarakat Beja terpisah-pisah menjadi beberapa suku. Suku-suku tersebut diberi nama sesuai dengan nama nenek moyangnya dan garis keturunannya digariskan dari kaum lelaki. Masing-masing suku memiliki padang rumput dan sumber airnya sendiri, yang dapat digunakan suku lain setelah mendapat izin dari sang pemilik. Setiap suku terdiri dari sepuluh sampai dua belas keluarga. Permasalahan yang terjadi antarsuku sering diselesaikan oleh hukum adat suku Beja, namun sebagian besar masalah sehari-hari ditangani oleh kepala keluarga yang bersangkutan. Masyarakat Beja selalu ramah terhadap suku-suku lain, akan tetapi mereka tidak terlalu ramah terhadap orang asing.

Hanya orang Beja terkaya yang memiliki lebih dari satu istri. Setelah ada perjanjian pernikahan, keluarga mempelai wanita diberi banyak sekali ternak, pakaian, dan barang-barang lainnya. Pasangan-pasangan muda berkeinginan untuk memiliki banyak anak laki-laki dan memperoleh banyak unta betina.

APA KEPERCAYAAN MEREKA?

Semua masyarakat suku Beja beragama non-Kristen. Akan tetapi, mereka mengamalkan agama setempat. Hal ini mungkin dikarenakan masuknya mereka ke agama tersebut sangat dipengaruhi oleh keinginan mereka untuk membalas dendam kepada pemerintah Turki. Sekarang ini, kepercayaan mereka merupakan perpaduan dari banyak takhayul kuno. Misalnya, suku Beja percaya bahwa manusia dapat mengutuk orang lain dengan memberikan "mata setan" kepada orang yang akan dikutuk. Suku Beja juga percaya pada jin-jin jahat (roh-roh yang bisa berubah wujud menjadi binatang dan roh-roh lainnya yang tak kasat mata). Mereka percaya bahwa roh-roh jahat bisa mendatangkan penyakit, kegilaan, dan musibah. Dalam upacara penyembahan berhala, mereka mempraktikkan ilmu hitam dan mengorbankan binatang. Suku Beja melakukan banyak kegiatan agama, seperti mengulang-ulang doa, tanpa mengerti isi doa-doa tersebut.

APA YANG MEREKA PERLUKAN?

Sampai sekarang belum diketahui adanya masyarakat Beja yang beriman. Perlengkapan untuk mengabarkan Injil, penambahan jumlah penginjil, dan peningkatan doa syafaat adalah kunci untuk menjangkau mereka dengan Injil Kristus. (t/Lanny)

Bahan diterjemahkan dari:

Situs : Joshua Project
Penulis : --
URL : http://www.joshuaproject.net/peopctry.php?rog3=ER&rop3=101211

POKOK-POKOK DOA

  1. Mari mendukung pekerjaan Tuhan di dalam doa. Berdoalah agar Tuhan terus membuka jalan bagi penginjilan di Eritrea.

  2. Berdoalah untuk orang-orang Kristen Eritrea yang masih sangat sedikit jumlahnya, tapi yang terus-menerus mengalami penganiayaan, baik dari pemerintah maupun orang-orang lain yang belum percaya. Biarlah Tuhan memberi kekuatan kepada mereka.

  3. Doakan pula pemerintah Eritrea, kiranya Tuhan melembutkan hati mereka agar memiliki sikap takut akan Tuhan dan memberikan kelonggaran kepada penduduknya untuk memilih agama sesuai dengan iman mereka.

  4. Berdoa untuk orang-orang Kristen di Indonesia agar tergerak untuk mengadopsi negara Eritrea ini menjadi bagian utama dari pokok doa syafaat mereka.

e-JEMMi 13/2007