Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.39 Vol.10/2007 / Orang Bajau di Pesisir Barat Brunei

Orang Bajau di Pesisir Barat Brunei


Siapakah mereka?

West Coast Bajau dari Sabah, Malaysia adalah kelompok masyarakat yang terikat secara budaya dan bahasa. Mereka biasa dikenal dengan nama Bajau atau nama-nama lain (Badjaw, Badjao, Bajao, Bajo). Orang Bajau sering menyebut diri sendiri dengan Sama. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 750.000 sampai 900.000 jiwa (Sather, 1997:2,5). Mereka tersebar di sepanjang pesisir dan pulau-pulau di Kepulauan Sulu, Kalimantan dan Indonesia bagian Timur. Orang Bajau dikenal sebagai masyarakat nomaden laut -- berdagang di laut dan tinggal di kapal. Namun demikian, sebagian besar orang Bajau sekarang tinggal menetap (Yap, 1995:2). Sebagian orang Bajau masih mencari penghasilan di laut, sedang yang lain sudah bertani.

Di Sabah, terdapat dua kelompok masyarakat Bajau, West Coast Bajau dan East Coast Bajau. Orientasi pembagian daratan dan lautan dapat dengan mudah diamati dari dua kelompok masyarakat itu. West Coast Bajau tinggal di pedalaman yang tak terlalu terpencil di sepanjang pantai barat dan utara. Mereka sudah mahir bertani dan beternak. Sedangkan East Coast Bajau tinggal di sepanjang pantai timur Sabah, khususnya di Semporna. Mereka lebih banyak tinggal di laut. Perbedaan antara West dan East Coast Bajau adalah orientasi tempat tinggal mereka; daratan dan lautan. Sebuah tes sudah memastikan bahwa West Coast Bajau dan East Coast Bajau berbicara bahasa yang berbeda (Baker, 1984:110).

Nenek moyang orang Bajau tidak dapat dipastikan. Dengan menggunakan data perbandingan bahasa, Pallesen (1985) mengemukakan sebuah "hipotesis penyebaran" berdasarkan lokasi penyebaran proto-Bajau di utara dan selatan dari lokasi dekat Mindanau, Filipina, ribuan tahun yang lalu. Pallesen memperhitungkan bahwa pada tahun 1100 M, orang Bajau sudah sampai Sulu bagian selatan dan pesisir timur laut Kalimantan (116 -- 123). Mitos asli orang Bajau menunjukkan bahwa mereka datang lebih awal di Kepulauan Sulu (Sather, 1997:17), waktunya diperkirakan sekitar akhir abad ke-14. Meskipun masa orang West Coast Bajau pertama kali tinggal di Kota Belud tidak dapat dipastikan, keberadaan mereka di sana sudah ditulis oleh Spencer St. John pada tahun 1850-an dan 1860-an (Yap, 1995:2).

Seperti Apakah Kehidupan Mereka?

Orang West Coast Bajau berbicara satu bahasa (Bajau) yang membawahi serangkaian dialek yang dapat saling dimengerti (Baker, 1984:101,111). Dialek Bajau yang berbeda-beda itu juga berperan sebagai pengenal dari mana bahasa atau penuturnya berasal.

Sekarang ini, orang West Coast Bajau tersebar di sepanjang daerah pesisir Sabah dari Kuala Penyu di barat daya sampai Terusan, timur Pitas. Mereka terutama tinggal di daerah Kota Belud, Kawang, Papar, Tuaran, Banggi, dan Puatan. Kabupaten Kota Belud, di daratan Tempasuk, di tengah Kota Kinabalu dan Kudat, merupakan daerah yang paling banyak ditinggali oleh masyarakat West Coast Bajau di Sabah. Kota Belud adalah jantung budaya masyarakat West Coast Bajau; beberapa menganggap Kota Belud sebagai kampung halaman orang Bajau.

Jumlah orang West Coast Bajau sekitar 40.000 jiwa. Menurut sensus penduduk tahun 1991, Kota Belud memunyai populasi orang Bajau terbesar dengan jumlah populasi sekitar hampir 20.000.

Pada skala lokal, paling tepat dikatakan jika unit organisasi sosial utama dalam masyarakat Bajau adalah rumah tangga, yang terdiri dari keluarga inti, yang jumlahnya kemudian sering bertambah, tergantung tahap perkembangan keluarga. Pertalian keluarga adalah hal penting dalam membentuk struktur rumah tangga dan berbagai bidang menurut wewenangnya, seperti warisan dan merawat orang tua, tapi rumah tangga Bajau lebih dikelola atas dasar pilihan tempat tinggal daripada peran keluarga yang sudah ditetapkan.

Agama juga berperan besar dalam organisasi sosial. Untuk orang Bajau, menjadi orang Bajau berarti menjadi Muslim dan tidak ada yang namanya non-Muslim. Karena banyak aspek kehidupan desa Bajau, seperti ibadah Ramadhan dan Hari Raya Puasa yang sangat beraroma Islam, tidaklah sulit untuk memahami akan seperti apa pendatang baru dalam masyarakat Bajau. Sekali dia menjadi Islam, dia akan melebur dalam kehidupan masyarakat Bajau. Islam menjaring pengikutnya dalam sistem dan ritual kepercayaan adat, sekaligus menyertakan maksud dan tujuannya pada banyak kegiatan desa. Orang Bajau adalah orang yang individualistis dalam banyak hal, tapi identitas Islam yang ada di antara mereka menciptakan suatu ikatan yang kuat dalam hidup mereka.

Apakah Agama Mereka?

  1. Apakah agama utama masyarakat Bajau?

    Sistem kepercayaan tradisional masyarakat West Coast Bajau sebenarnya adalah animisme; sejenis roh halus yang berinteraksi dengan manusia, baik secara positif maupun negatif. Contohnya, orang-orang takut untuk keluar malam sendirian karena kehadiran roh-roh orang mati atau roh halus yang mencari bayi atau mayat orang yang baru saja mati untuk dimakan. Kepercayaan tradisional berhubungan secara rumit dengan kepercayaan Islam (sistem kepercayaan yang mereka anut sekarang). Sebagian besar orang menganut baik kepercayaan tradisional maupun Islam, yang sulit untuk dipisahkan. Beragam kepercayaan takhayul dari zaman dulu masih memunyai tempat di kalangan masyarakat West Coast Bajau.

  2. Apakah sudah pernah ada pengaruh Kristen dalam masyarakatnya?

    1. Misionaris? Peneliti yang sudah tinggal dengan masyarakat West Coast Bajau selama bertahun-tahun mengatakan, "Setahuku tidak ada."

    2. Apakah ada Injil dalam bahasa yang mereka mengerti?

      Setahuku tidak ada Injil dalam bahasa Bajau, namun sejumlah orang West Coast Bajau yang agak berpendidikan, melek huruf (menurut beragam tingkat pendidikan), dapat menuturkan bahasa nasional, yaitu Bahasa Malayu. Injil sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu dalam berbagai media, tapi tidak diketahui dengan jelas apakah media-media itu dapat dijangkau oleh orang West Coast Bajau.

    3. Apakah tersedia siaran radio Kristen?

      Tidak. Tentu saja tidak ada dalam bahasa Bajau, meskipun terdapat stasiun radio Bajau yang siaran selama beberapa jam setiap harinya.

    4. Apakah mereka sudah pernah melihat "Film Yesus"?

      "Film Yesus" belum diproduksi dalam bahasa Bajau, tapi sudah diproduksi dalam Bahasa Malayu. Tidak diketahui apakah orang West Coast Bajau sudah pernah melihat film yang dalam Bahasa Malayu atau belum. Mungkin sulit bagi mereka untuk bisa mendapatkan film seperti itu.

    5. Berapa orang West Coast Bajau yang Kristen?

      Terdapat sejumlah orang West Coast Bajau yang menjadi Kristen. Namun, seorang peneliti besar mengatakan bahwa dia hanya bertemu satu orang Bajau yang Kristen. Tidak ada seorang Kristen lain dalam masyarakat West Coast Bajau yang pernah ditemui peneliti itu. Tampaknya masyarakat Bajau tidak memberi kebebasan bagi seorang yang menjadi Kristen untuk mengamalkan kepercayaan mereka di desa mereka sendiri; beberapa sudah pindah ke daerah lain.
      Ada berapa banyak komunitas gereja Kristen di sana? Kelihatannya tidak ada. Namun, ada beberapa komunitas (kebanyakan SIB) yang terdiri dari kelompok etnis lain di daerah itu.

Apakah Ada Usaha untuk Menjangkau Mereka?

Beberapa orang Kristen lokal cukup mampu berbicara bahasa Bajau karena mereka tinggal dekat atau bekerja dengan orang West Coast Bajau. Namun, tidak ada usaha terorganisir untuk menjangkau masyarakat West Coast Bajau.

Pokok-Pokok Doa

  1. Spiritual dan benteng-benteng lain.

    Rasa takut akan penyakit, kekeringan, atau penyakit lain di luar kendali manusia mendorong mereka untuk mencari jawaban dengan mengadakan upacara yang setidaknya bernuansa Islam (contohnya, pembacaan Quran). Masyarakat West Coast Bajau menghubungkan upacara tersebut dengan kekuatan spiritual atau perlindungan. Dipercaya bahwa jika agama Islam lebih banyak diajarkan dan diamalkan, semakin sedikit pula kekuatan-kekuatan jahat yang akan mengganggu mereka. Kepercayaan ini dapat dipandang sebagai benteng spiritual dalam masyarakat. Beranjak dari Islam berarti (dalam pikiran mereka) mengundang pengaruh jahat kembali ke desa mereka.

  2. Benteng lain adalah kepercayaan melakukan hal-hal yang baik (biasanya dikaitkan dengan agama Islam) agar Tuhan bermurah hati kepada mereka. Hal-hal baik itu di antaranya upacara sedekah atau zakat untuk memudahkan jalan seseorang menuju dunia berikutnya (atau untuk membantu anggota keluarga yang meninggal untuk mencapai dunia berikutnya). Mereka juga mengamalkan kewajiban agama, misalnya puasa selama bulan Ramadhan dan mengadakan doa harian yang terkait dengan hari besar dalam kalender Islam.

  3. Benteng lain adalah yang ada dalam pikiran orang West Coast Bajau; menjadi orang Bajau berarti menjadi Muslim. Jika orang Bajau menjadi Kristen, dia tidak akan lagi dianggap sebagai orang Bajau; perubahan menjadi Kristen menghilangkan identitasnya sebagai orang Bajau. Tidak hanya demikian, dalam budaya masyarakat West Coast Bajau, terdapat penekanan penting (khususnya di desa) pada kegiatan komunal, dan kegiatan ini sering melibatkan upacara yang terkait dengan agama Islam. Untuk orang yang menjadi Kristen, dia harus membayar harga yang sangat mahal karena tidak ikut serta dalam banyak upacara desa yang merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bajau.

  4. Benteng yang lain adalah rasa takut; ini berlaku bagi orang Kristen yang enggan menjangkau masyarakat West Coast Bajau karena takut ditolak oleh pemerintah. Sebenarnya sudah terjadi hubungan ekstensif antara orang Bajau dan mereka yang berasal dari kelompok etnis Kristen, di tempat kerja maupun di sekolah. Ada kesempatan untuk menempatkan saksi di tempat-tempat itu, tapi tidak pernah diketahui adanya penjangkauan yang jelas dan spesifik terhadap orang West Coast Bajau. Jika ada usaha yang mengarah ke penjangkauan seperti itu, harus ditangani dengan peka, tapi rasa takut bisa mencegah komunitas Kristen untuk beranjak menuju ke arah tersebut. (t/Dian)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Joshua Project
Judul asli : Bajau, West Coast of Brunei
Penulis : Tidak dicantumkan
Alamat URL : http://www.joshuaproject.net/peopctry.php

e-JEMMi 39/2007