Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are heremisionaris / misionaris

misionaris


Enam Mitos Umum Tentang Misi

Orang Kristen Injili berkomitmen untuk menyebarkan kabar baik tentang Yesus Kristus sampai ke ujung bumi. Itu amanat bagi kita. Selama dua ribu tahun, orang Kristen telah melintasi budaya yang tidak sempurna untuk membawa kabar baik ini. Dan, saat ini ada orang percaya yang berasal dari lebih banyak bahasa dan bangsa daripada sebelumnya.

Misionaris Asing di Indonesia

Ditulis oleh: N. Risanti

Misi Itu tentang Perkataan ataukah Perbuatan?

Generasi kita menjadikan keadilan sosial sebagai fokus misi. Akan tetapi, apakah kita sudah melupakan Yesus?

Saya benar-benar menyukai sebuah kolom artikel yang ditulis oleh Brad Greenberg (dari The God Blog) beberapa minggu yang lalu dalam kolom Houses of Worship di Wall Street Journal. Tulisan itu, dengan judul Bagaimana Misionaris Kehilangan Kereta Pertempuran Api Mereka, membahas tentang tren dalam misi Kristen beberapa tahun belakangan ini – sangat terlihat adanya pergeseran di antara para penginjil yang lebih muda dari pemberitaan dan pengajaran, menjadi melakukan banyak pekerjaan yang berorientasi pada keadilan sosial sebagai pelayanan misi. Pergeseran yang tadinya berfokus pada perkataan sekarang berfokus pada perbuatan.

Pelayanan Penggembalaan untuk Misionaris

Peperangan Rohani dalam Misi

Tantangan dari Jendela 10/40

"Dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa."
(Wahyu 5:9)

Menderita Karena Kristus

Pendeta Ramos, seorang warga negara Filipina, telah selesai menyampaikan khotbahnya yang terakhir. Dia memandang wajah istrinya untuk terakhir kalinya. Anak-anaknya yang masih kecil memandang ayahnya untuk terakhir kalinya. Satu lagi suara bagi Allah telah diam selamanya. Saat malam melarut di pegunungan Mindanao yang terpencil, sekelompok gerilyawan komunis menyerbu masuk ke tempat tinggal pendeta yang sederhana ini sambil mengacungkan sebuah senjata otomatis. Istrinya belum tidur dan keempat anak mereka sedang tertidur nyenyak. Sebuah suara yang bengis berkata kepada pendeta ini, "Kamu sudah kami peringatkan bahwa kamu akan mati bila kamu terus berkhotbah. Ini peringatan terakhir untukmu." Sebuah tembakan meletus dan pendeta Ramos mati terkulai.

Henry Martyn (1781 -- 1812)

"Sekarang biarkan saya terbakar untuk Tuhan!" kata Henry Martyn pada saat ia menginjakkan kakinya di Calcutta pada bulan April 1806. Henry Martyn meninggal 6 tahun kemudian pada usianya yang ke-31. Ia mengabdikan dirinya untuk melayani pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh dan setia selama 6 tahun.

Hudson Taylor: Salib adalah Pengabdian dan Kebanggaan Baginya

Harga yang harus dibayar, berapa pun mahalnya tidak akan pernah menghentikan semangat yang berkobar-kobar di dalam jiwa yang mencintai Kristus lebih dari apa pun juga. Dihina, dicemooh, menderita sakit, ditinggalkan anak istrinya dalam renggutan kematian, tetapi semua itu tidak pernah mengoyakkan pengabdian dan kasih mesranya kepada Tuhan.