Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are herepekerjaan misi / Mengapa Misi Tetap Merupakan Pekerjaan Penting

Mengapa Misi Tetap Merupakan Pekerjaan Penting


By admin - Posted on 23 July 2021

Membaca pesan teks dari putri saya, seorang mahasiswi keperawatan berusia 21 tahun, membuat saya bingung: "Mereka menempatkan saya di ICU COVID hari ini, tetapi berita lainnya adalah saya mendapatkan nilai 98 untuk makalah saya." Sambil merayakan pencapaiannya (bersama dengan suntingan tata bahasa saya untuk makalahnya!), saya benar-benar khawatir tentang risiko pekerjaannya. Namun, kekhawatiran tentang kesehatannya diimbangi oleh kegembiraan mengetahui bahwa saya dan istri saya, dengan anugerah Allah, telah membesarkan seorang putri yang menjadi seorang perawat. Saya heran karena Allah telah mengubah putri kami menjadi pengikut Kristus yang rela berkorban yang melayani pasien di tengah pandemi global sebagai asisten perawat.

Kita semua sangat berterima kasih kepada para pekerja garis depan yang penting saat ini. Seberapa jauh kita harus lebih bersyukur bagi mereka yang tetap berkomitmen pada tugas misionaris di tengah situasi pandemi? Tidak ada yang lebih penting daripada membagikan pesan Injil yang memberi hidup kepada dunia yang terhilang dan sekarat.

Sebagai pekerja garis depan dalam Amanat Agung, misionaris luar negeri telah dipercayakan oleh gereja-gereja pendukung mereka untuk membawa Injil kepada bangsa-bangsa. Mereka telah melakukannya pada saat-saat terbaik dan saat-saat terburuk. Di tengah pandemi global, pekerjaan mereka terlihat berbeda, tetapi tidak berhenti. Pekerjaan itu tidak boleh berhenti.

Untuk selamanya, misionaris adalah pekerja yang penting.

Pekerjaan Penting Misionaris

misi dalam masa pandemi

Dapatkah Anda membayangkan orang yang Anda kasihi bergegas ke rumah sakit, terengah-engah dan bertahan hidup, kemudian malah menemukan semua dokter dan perawat berjalan ke tempat parkir, masuk ke mobil mereka, lalu pulang? Rumah sakit ditinggalkan; pintu-pintunya digembok. Pada saat-saat paling membutuhkan, ketika batas antara hidup dan mati sangat tipis, mereka yang terlatih untuk membantu tidak dapat ditemukan.

Dalam situasi pandemi ini, yang akan menjadi lebih tragis adalah hilangnya membagikan pesan Injil kesaksian gereja, yang ditampilkan di antara bangsa-bangsa oleh para misionaris kita di garis depan. Orang-orang yang terkutuk oleh dosa mereka sangat membutuhkan seseorang untuk mengarahkan mereka kepada Kristus. Syukurlah, gereja belum menyerah. Pekerjaan misionaris masih berlanjut.

Organisasi yang saya layani, International Mission Board of the Southern Baptist Convention (Dewan Misi Internasional Konvensi Baptis Selatan), telah menunjuk misionaris sejak 1845. Selama 175 tahun itu, bangsa kita (Amerika Serikat - Red.) telah diguncang oleh perang saudara, puluhan resesi ekonomi, dan Depresi Besar. Selama rentang waktu yang sama, dunia kita telah diguncang oleh dua perang dunia, serta berbagai perang dan konflik lainnya. Lebih dari beberapa misionaris, yang dalam ketidakbersalahannya terperangkap dalam konflik-konflik itu, menjadi korban. Bencana alam, seperti tsunami pada 2004 yang merenggut nyawa seperempat juta orang, telah membawa tantangan besar bagi para misionaris, bahkan kematian bagi beberapa orang. Intoleransi terhadap agama apa pun, serta ekstremisme agama yang hanya menerima satu agama, telah menghasilkan penganiayaan yang, kadang-kadang, terbukti sama mematikannya bagi para misionaris maupun bagi para petobat baru.

Sementara teologi risiko selalu memandu pekerjaan kami, hal itu juga telah menjadi yang paling mengemuka dalam pengambilan keputusan akhir-akhir ini. Menyadari akan berbagai bahaya, kebanyakan misionaris dewasa ini dapat tetap berada di lapangan. Itu tidak hanya berlaku untuk hampir 25.000 orang yang telah melayani sebagai misionaris Baptis Selatan selama 175 tahun terakhir. Hal ini juga berlaku untuk ribuan orang lain yang melayani secara mandiri dan melalui organisasi misi lainnya.

Pekerjaan Penting Allah

Menghadapi penyakit yang telah melakukan perjalanan lebih jauh dan lebih cepat daripada penyakit-penyakit sebelumnya dalam sejarah manusia, yang ditanggapi oleh hampir keseluruhan negara secara universal dengan larangan bepergian dan lockdown, orang-orang dapat berargumen bahwa inilah saat untuk menyerah dan meminta para misionaris kita berlindung bersama orang-orang yang mereka cintai di sini, di Amerika Serikat. Hal itu diperlukan untuk beberapa orang. Visa yang kedaluwarsa, perbatasan tertutup, dan kesehatan atau kondisi keluarga yang khusus mengharuskan beberapa misionaris untuk meninggalkan wilayah penugasan mereka dengan enggan.

Meski begitu, dengan memercayai pimpinan Roh dan kedaulatan Bapa atas setiap keadaan, kita memiliki iman bahwa misi Allah akan terus maju, bukan terlepas dari tantangan ini, melainkan justru oleh karenanya. Ketika Musa ditempatkan di dalam sebuah keranjang, ketika Rasul Paulus masuk ke sebuah keranjang, atau ketika Maria dan Yusuf melarikan diri ke Mesir, misi Allah terus maju, bukan digagalkan. Misionaris yang telah pindah, serta mereka yang tetap berada di pos mereka, terus memajukan Injil. Sebagian besar dari mereka terlibat melalui penginjilan dan pemuridan daring. Proyek bantuan COVID, yang difokuskan terutama pada distribusi makanan dan bantuan medis, sedang berlangsung di seluruh dunia.

Dalam situasi pandemi COVID-19, ratusan ribu orang telah meninggal, banyak yang tidak diragukan lagi masih tersesat dalam dosa mereka. Berapa banyak lagi yang terancam menyerah pada virus ini hingga atau kecuali vaksin ditemukan? Akan tetapi, data tentang COVID-19 hanya menyumbang sebagian kecil dari apa yang sebenarnya terjadi. Tidak terkait dengan pandemi, setiap hari, 155.252 orang meninggal tanpa menunjukkan kepercayaan pada kasih karunia Injil. Banyak dari mereka bahkan belum pernah mendengar tentang berita ini.

Seperti reporter berita terkini yang kita harapkan mengumumkan bahwa vaksin COVID-19 siap didistribusikan, para misionaris memiliki berita yang lebih baik untuk dibagikan. Kesaksian mereka adalah bahwa, dengan pertobatan dan iman, siapa pun dapat mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10). Berita itu tidak boleh dibungkam!

Misi-Nya Tidak Akan Berhenti

Tidak terkait dengan pandemi, setiap hari, 155.252 orang meninggal tanpa menunjukkan kepercayaan pada kasih karunia Injil.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Sejak pertengahan Maret, ribuan pelajar dan orang dewasa yang akan melakukan perjalanan dari gereja kami ke negara-negara dalam perjalanan misi jangka pendek tidak dapat pergi. Saat kita memasuki bulan-bulan musim panas, jumlah perjalanan misi yang dibatalkan akan meningkat secara eksponensial. Syukur kepada Tuhan untuk mereka yang telah meninggalkan kita, bukan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tetapi untuk menanam hidup mereka di antara orang-orang yang terhilang sebagai duta Kristus. Syukurlah bahwa mereka masih ada.

Sekaranglah saatnya, terutama di tengah pandemi global, untuk "... mintalah kepada Tuhan yang mempunyai panenan, untuk mengirimkan pekerja-pekerja dalam panenan-Nya" (Mat. 9:38, AYT). Dan, sekarang adalah waktu bagi gereja untuk memperbarui komitmen kita dalam mengutus dan mendukung lebih banyak misionaris penuh waktu, mengakui nilai keberadaan mereka yang tiada bandingnya dalam memenuhi Amanat Agung. Kita mendambakan hari-hari ketika kita akan berjalan dan bekerja lagi di sisi mereka. Namun, mari kita rayakan juga komitmen mereka untuk hidup berdampingan dengan orang-orang yang belum mengenal Dia yang tubuh-Nya telah tertikam bagi mereka.

Misi Kristus tidak akan dihentikan. Itu tidak mungkin dihentikan. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/article/mission-remains-essential/
Judul asli artikel : Why the Mission Remains Essential Work
Penulis artikel : Paul Chitwood