Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.25 Vol.15/2012 / Samuel Zwemer

Samuel Zwemer


Kekuatan yang menjadi ciri khas para sukarelawan mahasiswa, yang menyebar ke seluruh dunia pada akhir abad ke-19, adalah kualitas yang menjadi ujung tombak dalam usaha pelayanan misi ke "dunia sepupu", sebuah tempat yang menolak kekristenan dengan begitu keras. Pelayanan misi pertama ke "dunia sepupu" dilakukan oleh Raymond Lull pada abad ke-13. Pada saat itu, ia hampir dapat dikatakan seorang diri menginjili "orang sepupu" daripada memerangi mereka. Pada abad berikutnya, menurut Stephen Neill, "tanah sepupu" sangat tidak diperhatikan oleh pelayanan misi Kristen, dibandingkan dengan ladang lain yang lebih produktif. Keadaan tersebut berubah pada akhir abad ke-19, sebuah masa yang ditandai dengan dimulainya pertemuan yang lebih nyata antara iman kepada Yesus Kristus dan iman kepada "nabi sepupu". Gereja Anglikan memasuki "wilayah sepupu" pada tahun 1860-an, dan denominasi lain perlahan-lahan mengikutinya. Tetapi Samuel Zwemerlah, seorang mahasiswa yang menjadi sukarelawan dan tanpa dukungan denominasi mana pun, yang mengoordinasi usaha pelayanan misi kepada "orang-orang sepupu", serta menarik perhatian dunia kepada "masyarakat sepupu" dan kebutuhan mereka akan Kristus. Banyak sukarelawan mahasiswa yang lain, termasuk W.H. Temple Gairdner, Dr. Paul Harrison, dan William Borden, yang juga menyerahkan hidup mereka untuk bekerja keras dalam pelayanan misi yang paling sulit dan hampir tanpa penghargaan ini.

Samuel Zwemer, rasul kepada "orang-orang sepupu", lahir di dekat Holland, Michigan, pada tahun 1867, sebagai anak ke-13 dari 15 bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendeta Gereja Reformed, sehingga sangat wajar jika setelah Samuel dewasa, ia pun memasuki ladang pelayanan. Empat dari lima saudara laki-lakinya yang masih hidup juga melayani, sedangkan saudarinya, Nelie Zwemer menyerahkan 40 tahun hidupnya untuk melayani Tuhan sebagai utusan Injil ke Tiongkok. Ketika ia menjadi mahasiswa di Hope College, Zwemer baru merasakan pentingnya pelayanan misi luar negeri. Tahun-tahunnya di universitas dipengaruhi oleh khotbah Robert Wilder (seorang pendukung utusan Injil yang juga memberikan pengaruh kepada John R. Mott dan Mount Hermon Hundred). Ia dan lima dari tujuh teman sekelasnya menjadi sukarelawan untuk pelayanan misi di luar negeri.

Setelah mengikuti pendidikan di seminari dan menjalani pelatihan medis, Zwemer dan seorang mahasiswa di seminari itu, James Cantine, mengajukan diri mereka kepada Reformed Board untuk melayani di dunia Arab; namun mereka ditolak karena anggapan pada masa itu, bahwa pelayanan misi semacam ini adalah sesuatu "yang tidak berguna". Tanpa kenal takut, kedua pemuda ini membentuk tim misi mereka sendiri bernama "American Arabian Mission" dan mulai menggalang dukungan. Zwemer melakukan perjalanan kira-kira sejauh 5.200 kilometer dan mengunjungi hampir setiap gereja di Ohio bagian Barat, sementara Cantine melakukan perjalanan ke Timur. Metode perwakilan mereka cukup unik, mereka tidak meminta dukungan untuk diri mereka sendiri, tetapi Zwemer meminta dukungan untuk Cantine, dan Cantine meminta dukungan untuk Zwemer. Ketidaktertarikan para pendeta terhadap misi ini merupakan sesuatu kemunduran, tetapi ada pula gangguan-gangguan kecil, "Hari Sabat yang lalu, saya berkhotbah tentang misi di sebuah kebaktian sore -- walaupun saya tidak dapat menggantung bagan yang saya bawa! Ternyata di gereja itu selalu diadakan latihan olah vokal untuk pemuda setelah kebaktian -- tetapi dengan pertolongan Allah, saya dapat berbicara tanpa bagan itu -- dan saya berhasil."

Pada tahun 1889, perjalanan Cantine berakhir dan ia berlayar menuju tanah Arab, dan Zwemer yang menyusulnya pada tahun 1890. Keteguhan hati dan pengabdian mereka akhirnya mendapat perhatian para pemimpin gereja, sebab pada tahun 1894 badan misi yang baru ini mendapat undangan untuk bermitra dengan Reformed Church of America. Kemajuan yang lambat dan penolakan selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka di Teluk Persia tidak melemahkan semangat mereka, kesulitan itu hanya membuktikan apa yang sudah mereka perhitungkan. Awalnya, Zwemer dan Cantine tinggal dengan dua utusan Injil Anglikan, tetapi ketika pasangan utusan Injil Anglikan itu dipindahtugaskan, maka mereka sendirian dan hanya tinggal bersama dengan seorang petobat baru dari Suriah yang datang untuk bekerja dengan mereka. Kematian mendadak pemuda Suriah itu, hanya 6 bulan setelah kedatangan Zwemer, merupakan kemunduran yang menyakitkan bagi pelayanan itu.

Pada tahun 1895, setelah 5 tahun dalam kesendirian sebagai seorang utusan Injil tunggal, Zwemer jatuh hati pada Amy Wilkes, seorang utusan Injil perawat dari Inggris, yang disponsori oleh Church Missionary Society of the Anglican Church. Meskipun ia adalah seorang penginjil, tetapi masa perkenalan dan pernikahannya dengan Amy bukanlah tanpa halangan. Untuk mengelak dari "peraturan yang sangat ketat mengenai utusan Injil perempuan dalam memiliki teman laki-laki", yang dibuat oleh Church Missionary Society merupakan kesulitan tersendiri. Pernikahan berarti menghadapi tantangan yang lebih berat lagi, terutama bagi utusan Injil muda yang terbatas dalam hal keuangan. Penulis biografi Zwemer menulis, "Church Missionary Society tidak melepaskan harga mereka tanpa sebuah perjuangan, sebab sama seperti budaya dalam perkumpulan yang lain, bahwa sebagian biaya transportasi harus dibayarkan kepada mereka jika seorang anggota baru tidak bertahan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan di lapangan. Peraturan ini harus dipenuhi. Jadi, Samuel Zwemer membeli istrinya seperti dalam adat oriental."

Setelah berlayar ke Amerika Serikat untuk cuti pada tahun 1897, keluarga Zwemer kembali ke Teluk Persia untuk melayani di antara "orang-orang sepupu" di Pulau Bahrain. Pasangan ini menyalurkan bahan literatur dan mengadakan penginjilan di jalan-jalan yang ramai maupun di rumah-rumah, tetapi mereka jarang mendapat tanggapan yang positif. Keadaan hidup mempersulit usaha mereka untuk mengerjakan pelayanan misi yang sukses. Pada zaman sebelum ada pendingin ruangan, temperatur di tempat itu hampir tak dapat tertahankan -- mencapai 107 derajat Fahrenheit (41,5 derajat Celcius) di tempat terdingin, di beranda. Dukacita pun terjadi di tengah-tengah pelayanannya, dua putri kecil keluarga ini, masing-masing berumur 4 dan 7 tahun, meninggal dalam jarak waktu 8 hari. Meskipun mengalami kesulitan dan dukacita, Zwemer mengerjakan pelayanannya dengan sukacita. Ia bahkan dapat melihat hari-hari itu, suatu hari 50 tahun kemudian, sambil berkata, "Sukacita semata yang dialami pada hari-hari itu seakan kembali, dan dengan senang hati aku akan mengulangi masa itu lagi...."

Setelah tahun 1905, perjalanan misi Arab yang dikerjakan oleh Zwemer berhasil mendirikan empat pos pelayanan. Walaupun mereka kekurangan sumber daya manusia, para petobat baru itu menunjukkan keberanian yang sangat luar biasa dalam iman mereka yang baru. Pada tahun itu pula, keluarga Zwemer kembali ke Amerika Serikat, meskipun mereka belum mengetahui, itulah peristiwa yang menandai usaha perintisan pelayanan mereka di tengah-tengah "orang sepupu". Di Amerika, Zwemer berbicara atas nama pelayanan misi kepada "orang-orang sepupu". Dengan penuh semangat ia menggalang dana, menyingkirkan segala bentuk filosofi Hudson Taylor yang mengatakan bahwa segala kebutuhan dana tidak perlu diketahui oleh orang lain. Kemudian pada tahun 1906, beliau menjabat sebagai ketua konferensi besar pertama para utusan Injil yang melayani di "dunia sepupu" yang diadakan di Kairo.

Selama di Amerika Serikat, Zwemer menerima sebuah panggilan penting untuk menjadi sekretaris bagi "Volunteer Movement", sebuah jabatan yang benar-benar tepat untuknya. Pada saat yang sama, Zwemer juga menjabat sebagai sekretaris lapangan bagi "Reformed Board of Foreign Missions", sehingga waktunya dihabiskan untuk bepergian dan membawakan ceramah. Tidak seperti pelayanannya di "dunia sepupu", pelayanan yang dikerjakannya kali ini memperoleh banyak tanggapan yang antusias, dan banyak mahasiswa yang mendengar ceramahnya memenuhi panggilan untuk pelayanan misi luar negeri. Kendati demikian, Zwemer tidak sabar untuk kembali ke pos pelayanannya di Arab Saudi; dan pada tahun 1910, menyusul Edinburgh Missionary Conference dan perjalanan kembali ke Amerika, Zwemer kembali berlayar ke Bahrain untuk melanjutkan pelayanannya.

Istri dan kedua anaknya yang termuda menemaninya saat kembali ke wilayah Teluk, tetapi tidak untuk waktu yang lama. Rencana hidup kedua anaknya yang tertua di Amerika tidak seperti yang diharapkan, begitu pula dengan tidak tersedianya pendidikan bagi kedua anaknya yang termuda ini di ladang misi. Karena itulah, Amy kembali ke Amerika Serikat untuk mengurus masalah keluarga ini, sebuah situasi yang membuat keluarga ini seperti yang diutarakan Zwemer, "berada di ujung tiga tanduk dilema" -- sebuah masalah tanpa pemecahan yang nyata. "Jika istrinya pulang bersama dengan anak-anak, hal itu akan menunjukkan bahwa Zwemer seolah-olah tidak mencintai istrinya karena membiarkan istrinya pergi seperti sendirian. Jika anak-anaknya ditinggal di Amerika, maka anak-anaknya dianggap telah ditelantarkan oleh orang tua mereka. Jika suami-istri ini menghabiskan banyak waktu untuk mengambil cuti, maka orang akan menuduh mereka tidak bertanggung jawab dalam pelayanan mereka di ladang misi."

Kembali ke ladang misi, Zwemer merasa sulit untuk menyesuaikan dirinya dengan pelayanan yang ada. Kemampuannya dalam hal memimpin sangat dibutuhkan, namun rencana konferensi serta jadwalnya sebagai pembicara sering membuatnya jauh dari pos pelayanannya. Pada tahun 1912, ia menerima panggilan dari United Presbyterian Mission di Mesir, yang diikuti oleh Church Missionary Society, yang juga berlokasi di sana untuk memintanya pindah ke Kairo, dan berkoordinasi dengan pelayanan misi untuk seluruh "dunia sepupu". Nile Mission Press yang terkenal karena penyaluran bahan-bahan literatur kepada "orang-orang sepupu", juga turut ambil bagian dalam proyek tersebut, begitu pula YMCA dan American University of Cairo, sehingga membuat Zwemer tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan permintaan itu.

Di Kairo, Zwemer menemukan masyarakat yang lebih terbuka, di mana para pemuda yang terpelajar sangat ingin mendengarkan utusan Injil yang cerdas dan mengesankan dari Barat ini. Zwemer menghabiskan waktu berjam-jam setiap minggunya untuk mengunjungi kampus-kampus, dan menurut Sherwood Eddy, Zwemer bahkan mendapat akses kepada para pemimpin Universitas Al Ahzar yang bergengsi dan berpengaruh itu. Terkadang Zwemer mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh dua ribu "orang sepupu," tetapi pertobatan yang sebenarnya jarang terjadi, sebaliknya pertentangan terhadapnya tetap tinggi. Pada suatu waktu, ia sempat dipaksa untuk meninggalkan Kairo atas tuduhan telah menyebarkan traktat-traktat secara ilegal kepada para mahasiswa, tetapi insiden itu terbayar oleh pertobatan salah seorang mahasiswa tersebut. Seorang profesor di kampus itu dengan geram merobek salah satu traktat yang disebarkan oleh Zwemer di depan kelas yang dipimpinnya; seorang mahasiswanya yang penasaran mengapa selebaran kecil semacam itu dapat menimbulkan kemarahan yang begitu besar, memungut sobekan-sobekan traktat tersebut dan menyatukannya kembali, dan kemudian bertobat dan memeluk kekristenan.

Selama tahun pertamanya di Kairo, Zwemer ditemani oleh William Borden, seorang sukarelawan mahasiswa dari Yale yang telah menandatangani "Princeton Pledge" (ikrar yang berisi tekad untuk menjadi utusan Injil ke luar negeri oleh pendengar khotbah misi di Princeton University, Red) sebagai hasil dari khotbah yang dibawakan oleh Zwemer. Kerendahan hati Borden dan hasratnya dalam membagi-bagikan traktat sembari menyusuri jalanan Kairo yang panas itu dengan sepedanya, menyangkali fakta bahwa sebenarnya ia terlahir sebagai orang kaya dan adalah ahli waris dari harta keluarga Borden yang melimpah. Sebelum berjuang di ladang misi, Borden telah mempersembahkan ratusan ribu dollar kepada berbagai organisasi Kristen, dan pada saat yang sama ia menolak godaan untuk membeli mobil bagi dirinya sendiri, karena menganggap hal itu sebagai "kemewahan yang tak dapat dibenarkan". Tujuan yang ada dalam benaknya hanya satu, yaitu menjalani hidupnya untuk melayani sebagai utusan Injil. Itulah yang dilakukannya, walau hanya dalam waktu yang singkat. Empat bulan sejak kedatangannya di Kairo, Borden meninggal setelah serangan penyakit meningitis tulang belakang.

Selama 17 tahun, Zwemer menjadikan Kairo sebagai markasnya. Dari sanalah, ia melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia, ikut serta dalam konferensi-konferensi, menggalang dana, dan mendirikan pelayanan bagi "orang-orang sepupu" di India, Cina, Indochina, dan Afrika Selatan. Metode penginjilan Zwemer adalah gabungan antara penginjilan tradisional dengan konsep "berbagi" yang lebih kontemporer, yang menjadi karakteristik sukarelawan mahasiswa. Ia memperlakukan "orang-orang sepupu" sejajar dengan dirinya -- ia membagikan imannya kepada mereka (sebuah teologi yang konservatif) sembari berusaha untuk memahami iman mereka, dengan demikian ia selalu menunjukkan rasa hormat yang sungguh-sungguh kepada "orang-orang sepupu". Walaupun orang-orang yang bertobat lewat pelayanannya sangatlah sedikit -- mungkin hanya setengah lusin selama empat puluh tahun pelayanannya -- Zwemer telah membuat kemajuan dalam membangkitkan perhatian orang-orang Kristen terhadap kebutuhan penginjilan di antara "orang-orang sepupu".

Pada tahun 1918, Zwemer mendapat tawaran yang menggoda untuk bergabung dengan sebuah fakultas di Princeton Theological Seminary, namun kepentingan yang mendesak akan pelayanannya di Kairo begitu besar, sehingga ia menolak tawaran tersebut. Pada tahun 1929, pelayanannya di Kairo telah berkembang dan ketika itu tawaran dari universitas tersebut datang kembali, kali ini ia dapat pergi dengan keputusan yang bijaksana untuk memulai karier yang baru sebagai pemimpin fakultas Sejarah Agama dan Misi Kristen.

Selain pengajarannya, peninggalan Zwemer yang lain adalah ceramah-ceramah dan tulisan-tulisannya. Selama 40 tahun, ia menjadi editor untuk "Moslem World" (jurnal paling bergengsi dalam lingkupnya di negara-negara berbahasa Inggris di dunia, menurut J. Herbert Kane), dan ia juga menulis ratusan traktat dan hampir lima puluh buku. Zwemer adalah seorang yang dipenuhi oleh "energi gugup" dan aktivitas mental yang tak pernah berhenti. Seorang teman seperjalanannya pada suatu waktu dengan segan menceritakan pengalamannya ketika menginap bersama Zwemer, "... ia tidak dapat diam di tempat tidur untuk setengah jam saja ... karena ia akan segera menyalakan lampu, bangkit dari tempat tidurnya, mengambil secarik kertas dan pensil, menulis beberapa kalimat, dan kemudian kembali lagi ke tempat tidur. Ketika kelopak mata saya mulai berat, Zwemer mulai terbangun lagi, menyalakan lampu, dan sekali lagi membuat beberapa catatan ... kemudian kembali lagi ke tempat tidur."

Sepanjang hidupnya, Zwemer menghadapi tragedi dan kesulitan. Ia meratapi kematian kedua putrinya, teman dekatnya, dan 2 orang istrinya (yang pertama pada tahun 1937 dan yang kedua pada tahun 1950). Namun demikian, ia tetap bersukacita dan optimis, ia juga selalu memiliki waktu untuk bersenang-senang dan berkelakar. Di suatu kesempatan di sebuah restoran di Grand Rapids, Michigan, kelakarnya menjadi begitu "riuh dan liar", sehingga kepala pelayan harus turun tangan untuk menertibkan keadaan. Zwemer betul-betul menghargai sisi terang dalam kehidupan, dan dalam banyak hal, kepribadiannya secara unik cocok dengan tahun-tahun yang penuh kerja keras di tanah yang tandus di "dunia sepupu". (t\Yudo)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : From Jerusalem To Irian Jaya
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 276 -- 280

e-JEMMi 25/2012