Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.21 Vol.16/2013 / Raymond Lull

Raymond Lull


Raymond terbangun dari tidurnya dengan rasa sakit di perutnya dan rasa takut yang luar biasa. Jantungnya berdegup sangat kencang sebab hari itu adalah hari pelayarannya menuju pantai Utara Benua Afrika. Dari jendela kapal yang terbuka, Raymond memandang penduduk Kota Genoa. Mereka seakan-akan sibuk membicarakan ambisi mereka yang terlalu berani untuk mengabarkan tentang Yesus Kristus kepada bangsa yang diperangi oleh orang-orang Eropa dalam Perang Salib yang saat itu sedang berlangsung. Kemudian, Raymond mengambil pena bulunya dan mulai menulis, "Aku benar-benar dikuasai oleh rasa takut yang muncul dari bayangan tentang apa yang akan menimpaku di tempat yang kutuju ...." Penanya bergetar tak terkendali di antara jemarinya. "... Bayangan tentang penganiayaan atau dipenjara seumur hidup betul-betul menghantuiku sehingga aku tidak dapat menguasai diriku."

Bayangan-bayangan itu semakin kuat sampai akhirnya membuat ia memutuskan untuk turun dari kapal. Namun, ketika kapal itu mulai berlayar menjauh dari pelabuhan, Raymond justru berdiri mematung di sana. Ia menatap kepergian kapal itu dengan hati yang dipenuhi penyesalan dan rasa benci terhadap dirinya sendiri. "Kasihnya yang begitu besar kepada Kristus tidak sanggup menutupi bahwa ia telah terbukti berkhianat terhadap rencana Allah, rencana yang telah dikhususkan Allah baginya; panggilan hidupnya."

Secercah Cahaya pada Zaman Kegelapan

Saat itu adalah tahun 1291, dan pria yang kita lihat tadi adalah Raymond Lull, seorang Spanyol yang berasal dari Pulau Palma, Mallorca. Semua orang tentu ingat bahwa dalam tahun-tahun itu, Eropa tengah berada dalam kegelapan spiritual, satu-satunya kegiatan yang dianggap religius dalam zaman itu adalah Perang Salib dan Gerakan Inkuisisi. Saat itu, sebagian besar gereja dicemari oleh kebusukan ambisi politik, sementara kekaisaran tidak mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni.

Raymond Lull dilahirkan pada tahun 1232. Karena pria yang nantinya mendapat julukan "Doktor Pencerahan" (Doctor Illuminatus) ini berasal dari keluarga yang kaya, ia tumbuh besar dengan mendapat pendidikan yang memadai. Meskipun Raymond Lull tidak pernah mengenyam pendidikan di universitas, kemampuan dan pengetahuan yang didapatnya saat itu masih dapat dikenali oleh orang-orang di zaman ini. Lull adalah seorang penulis, filsuf, ahli kimia, astrolog, penyair, ahli botani, teolog, apologis, misionaris, dan ahli bahasa; ia sangat fasih menggunakan bahasa Latin, Catalan, Occita (turunan bahasa Latin yang digunakan di wilayah kekaisaran Romawi, termasuk di Catalan -red.) dan Arab.

Semangat kerohaniannyalah yang akan kita bahas di sini. Seorang penulis biografinya pernah menuliskan sesuatu tentang pria yang menjadi terang Kristus bagi zamannya ini, "Dari semua orang yang kita ketahui pada abad itu, dialah yang paling dipenuhi oleh kasih dan kehidupan Kristus. Ia juga orang yang paling bersemangat untuk membagikan apa yang dimilikinya itu kepada dunia."

"Menuju Terang yang Ajaib"

Raymond Lull memulai hidupnya sebagai seorang 'troubadour', yakni seorang penyanyi yang menghibur keluarga bangsawan. Karena itu, dia adalah "orang yang paling tidak mungkin mengingatkan gereja akan visi misioner mereka. Sewaktu muda, Raymond mengisi hidupnya dengan hal-hal yang tidak pantas; kisah-kisah romantis, puisi-puisi tentang cinta, dan juga pemuasan hawa nafsu. Ia berumur tiga puluh tahun ketika semua hal itu berubah".

Beberapa mitos dan legenda tentang pertobatannya tersebar hingga kini, namun sejarah hanya mengajukan dua kemungkinan tentang pengalaman pertobatan Raymond yang terjadi sekitar tahun 1266 -- 1267 itu. Kisah pertama mengisahkan bahwa Lull bertobat ketika ia sedang menggubah sebuah lagu untuk merayu seorang wanita yang sudah bersuami. Ketika sedang menggubah lagu itu, tiba-tiba Lull mendapat suatu penglihatan, di sebelah kanannya ia melihat Yesus yang tersalib. Penglihatan yang berulang-ulang itu membuat Lull menangis dengan amat sedih karena dosanya, dan karena tuntutan untuk hidup suci yang menurutnya merupakan sesuatu yang mustahil.

Kisah kedua bercerita bahwa Lull mengalami pertobatannya saat ia tengah berada di kamar wanita yang telah bersuami itu. Akan tetapi, karena wanita itu mengasihi Lull, ia pun menunjukkan dadanya yang digerogoti penyakit kanker kepada Lull sambil memintanya untuk memilih jalan hidup yang lebih bermakna. Melalui pengalaman itulah, Lull menyadari kefanaan daging dan kemudian hidup dengan mengejar hal-hal yang bernilai kekal.

Tidak penting kisah mana yang benar sebab dari kedua cerita itu, kita mengetahui bahwa Lull bertemu dengan Kristus. Dalam tulisannya, Lull menulis, "Kristus adalah pribadi yang sabar dan penuh belas kasihan. Ia mengundang semua orang berdosa datang kepada-Nya, dan karena itu Ia tidak akan mungkin menolak saya."

Sejak itulah, kehidupan Lull diubahkan. Ia menjadi milik Kristus sehingga ia dapat "memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil (dirinya) keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Petrus 2:9).

Membagikan Terang

Selama sepuluh tahun, Raymond Lull mempelajari Bahasa Arab, teologi, dan filsafat untuk mempersiapkan dirinya masuk dalam panggilan misi di tanah Afrika-Arab yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kini, ia adalah seorang pria yang menganggap "segala sesuatu sebagai kerugian", ia bahkan meninggalkan harta dan segala ikatan duniawi yang pernah dimilikinya, termasuk istri dan anaknya, demi mengabarkan tentang Kristus. Meskipun kita tidak suka dengan keputusan Lull yang meninggalkan istri dan anaknya, tetapi kita juga tidak dapat memungkiri kekaguman kita terhadap hati dan pikirannya yang tidak terbagi untuk melaksanakan Amanat Agung.

Mari kita kembali ke tahun 1291, ke sebuah pelabuhan di Genoa, Italia, saat Raymond Lull dipermalukan dan dihancurkan oleh kegagalannya sendiri.

Duka yang dialami oleh Lull sangat besar sehingga ia menjadi jatuh sakit, ia menderita sakit demam selama berhari-hari. Namun, saat ia mendengar ada sebuah kapal lain yang menuju Tunisia berlabuh di pelabuhan itu, Lull memaksa teman-temannya untuk membawanya ke sana. Meskipun harapan untuk hidupnya sangat kecil, tetapi Lull sembuh dengan ajaib segera setelah kapal itu berada di bentangan Laut Mediterania antara Italia dan Afrika Utara.

Sejarah memberi tahu kita bahwa Lull adalah seorang yang betul-betul berpusat pada Tuhan dan sangat alkitabiah dalam metode pelayanannya. Ia menyatakan kebaikan Tuhan dan kemenangan salib; ia tidak "membangun jembatan yang rapuh, yang terbuat dari papan-papan kompromi". Segera setelah pelayanannya itu, Lull dijebloskan ke penjara dan dijatuhi hukuman mati. Melalui campur tangan Tuhan, keputusan itu akhirnya berubah menjadi deportasi. Dengan dikawal, Lull dibawa menuju kapalnya, melewati kerumunan orang banyak yang hendak merajamnya dengan batu. Ia juga diperingatkan bahwa jika ia kembali, ia akan mati. Namun, karena keberaniannya demi Injil, Lull berhasil menyelinap keluar dari kapalnya itu dan tinggal secara rahasia di Tunisia selama 3 bulan lagi. Ia melakukan hal itu untuk membangun dan membaptis orang-orang percaya yang baru.

Tinggal di dalam Sang Hidup

Dari tahun 1301 -- 1309, saat ia berusia 60-an dan telah pensiun, Lull melakukan beberapa perjalanan misi ke Afrika Utara dan Timur Dekat. Saat ia mengunjungi Bugia, Aljazair, pada tahun 1307, Lull berdiri di pasar dan seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus di berbagai tempat berabad-abad sebelumnya, ia menyatakan Kristus dengan berani. Ia juga menghadapi ancaman kematian dengan berkata, "Kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi pelayan Kristus yang setia dan yang bekerja sekuat tenaga untuk membawa jiwa-jiwa kepada pengetahuan akan kebenaran." Tindakannya itu membuat ia dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah selama setahun. Setelah itu, ia berlayar dari Bugia sebagai tahanan. Akan tetapi, kapal yang ditumpanginya itu karam dan ia diselamatkan di dekat Pisa, Italia. Tuhan masih belum selesai dengannya.

Dalam semua penganiayaan itu, kasihnya semakin besar sebab dalam keindahan Yesus, ia tahu bahwa maut sudah kehilangan sengatnya. Hal itu diungkapkannya dalam motonya: "Orang yang tidak mengasihi, tidak hidup. Namun, orang yang hidup di dalam Sang Kehidupan tidak dapat mati".

Pada 14 Agustus 1314, Lull menyeberang ke Bugia lagi dan membangun jemaat orang-orang percaya yang adalah buah dari pelayanannya. Sepuluh bulan kemudian, Raymond Lull -- yang kini sudah renta, letih, dan merindukan surga -- kembali menunjukkan dirinya di sebuah pasar untuk menyatakan Injil Kristus. Kali ini, orang banyak itu menyeretnya ke luar kota, lalu merajamnya hingga mati. Raymond Lull meninggal pada 30 Juni 1315.

Samuel Zwemer menyamakan Lull dengan Rasul Paulus, bukan hanya karena keduanya mengalami drama kehidupan yang mirip; mendapat penglihatan, pernah berada di kapal yang karam, dipenjara, dan mati sebagai martir. Namun, karena keduanya juga menyadari "kekuasaan Kristus atas kematian dan kehidupan".

Anugerah Kristus bagi Kegagalan dalam Pelayanan Misi

Setiap kali kita terpesona oleh biografi para pejuang misi pada masa lampau, kita pasti menyadari bahwa kita sedang berdiri di pundak para raksasa. Namun demikian, orang-orang yang terlibat dalam pelayanan apa pun dapat dengan mudah merasa kecil hati ketika hasil pelayanan mereka yang minggu lalu, bulan lalu, atau tahun lalu sama sekali tidak mirip dengan biografi tokoh yang dibacanya.

Inilah sebabnya, kisah tentang Raymond Lull menjadi berguna; kisah ini adalah tentang seorang pria yang mengalami kegagalan dan keberhasilan. Sebagai seorang muda, ia pernah terbuai ke dalam ketidakacuhan, tetapi kemudian ia membuat sebuah dedikasi ulang dengan penuh penyesalan kepada Tuhan. Dan, dalam belas kasihan-Nya, Tuhan menggunakan Lull secara luar biasa demi kerajaan-Nya.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menunjukkan kepada murid-murid-Nya identitas dan tanggung jawab mereka yang baru: "Kamu adalah terang dunia" (Matius 5:14). Ia mendorong para pendengar-Nya untuk menyatakan terang mereka untuk memuliakan Tuhan dan agar mereka tidak menutup-nutupi terang itu karena takut atau malas.

Raymond Lull bukanlah orang yang menaruh terangnya di bawah gantang. Sebaliknya, ia membiarkan sinar itu bercahaya sekalipun ia harus dibunuh karenanya. Anda mungkin dapat mengatakan bahwa Lull adalah seorang misionaris besar yang memelopori pelayanan misi ke dunia Muslim seorang diri. Meski demikian, ia tetaplah seorang manusia. Ia pernah mengalami hari-hari yang penuh ketakutan dan kegagalan. Namun, sifat manusiawinya itu justru membuatnya menjadi alat yang efektif dalam kemurahan Tuhan. Orang-orang Kristen seharusnya bersukacita karena mereka dipakai sesuai dengan anugerah yang olehnya mereka juga ditebus. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Evangelicals Now
Alamat URL : http://www.e-n.org.uk/p-4054-A-trembling-light-on-a-stand.htm
Judul asli artikel : A Trembling Light on A Stand
Penulis : Natalie Tunbridge
Tanggal akses : 25 Juni 2013