Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Kerja Sama .... Rintangan Budaya

Kerja Sama .... Rintangan Budaya


Penghalang terbesar adanya kerja sama dalam dunia misi di antara orang-orang Kristen adalah ketidakmampuan untuk melampaui rintangan budaya. Kerja sama berarti mengatasi rintangan budaya. Faktor yang menghalangi orang-orang Kristen untuk bekerja sama seharusnya dihilangkan agar tercipta sebuah kerja sama yang berhasil.

Dalam praktiknya, segala bentuk rintangan di setiap aspek kehidupan memiliki pengaruh yang sama. Ini mencakup sebuah bidang homogen tertentu yang menghancurkan kesatuan di antara orang Kristen, seperti kulturalisasi, kolonialisasi, sinkretisme, paternalisme, dan provinsialisme.

Sangat penting bagi para misionaris dan semua hamba Tuhan yang melayani di budaya lain untuk bekerja keras melayani, berpikir, dan berbicara dalam batas-batas kerangka budaya di mana mereka berada. Ketika usaha tersebut gagal, maka kekacauanlah hasilnya. Michael Griffith menyiratkan kekompleksan budaya dengan menyatakan:

Seseorang menanyakan perlunya menggunakan bahasa abad ketujuh belas, himne abad kedelapan belas, dan metode penginjilan abad kesembilan belas untuk menjangkau orang-orang abad kedua puluh.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengangkat masalah tersebut dalam sebuah artikel yang ditulis untuk publikasi resmi World Vision. Saya yakin intinya masih tentang: Apa yang membuat Amerika -- dan orang-orang Amerika -- merasa lebih superior dari sesamanya yang berada di Asia -- atau Afrika -- atau Amerika Latin? Saya tahu bahwa hal itu merupakan bentuk generalisasi, namun hal tersebut sering kali benar dan sayang untuk diabaikan begitu saja. Sikap merasa diri lebih hebat (superioritas) itu berlaku dalam banyak aspek kehidupan dan nampaknya tidak merugikan bagi pihak yang merasa diri hebat, namun sangat merugikan bagi pihak yang dianggap lebih rendah. Sebagai contoh, kami cenderung memanggil teman-teman kami di gereja nasional di Tanzania atau Korea atau Bolivia dengan sebutan "pribumi" atau "Kristen pribumi". Sebutan seperti itu segera mengacu pada "orang liar" setengah telanjang, kanibal, atau petani yang buta huruf. Mereka adalah manusia. Mereka akan lebih suka untuk dipanggil "warga negara" atau "warga negara Kristen" -- atau orang Tanzania, atau orang Korea, atau orang Bolivia. Meski mereka diam saja mengenai masalah tersebut, ada ketakutan dalam hati mereka karena sikap kita yang sepertinya mendukung generalisasi.

Sikap seperti itu sering kali tercermin dalam literatur bergaya Barat yang diekspor kepada orang-orang Kristen, yang mengandung sedikit apresiasi atau pemahaman budaya, latar belakang etnis, dan sejarah orang-orang yang kami coba untuk jangkau. Merupakan hal yang semakin penting agar bahan-bahan literatur ditulis dan disusun oleh orang-orang yang memiliki latar belakang budaya masyarakat yang hendak dijangkau.

Orang-orang dari budaya lain tersebut adalah saudara dan sahabat seiman Kristen kita. Meskipun mereka memerhatikan dengan saksama dan dan merasa tersinggung dengan ketidakpekaan kita, namun banyak dari mereka tidak pernah tidak sopan saat mereka menegur kita!

Tak seorang Amerika pun yang ada di luar negeri yang akan mengakui bahwa ia adalah bagian dari komunitas dengan citra superior itu. Dan mungkin ia memang tidak ada sangkut pautnya dengan citra tersebut. Namun, kami diamati oleh gereja-gereja yang "lebih muda" di luar negeri (negeri yang biasanya kami sebut sebagai "ladang misi", yang adalah "rumah" bagi mereka), dan sikap merendahkan itu sering kali terlihat.

Jelas bahwa stigma yang sering kali disematkan pada misi-misi Barat adalah masalah realistis yang mesti dihadapi. Horace Fenton menjelaskan kondisi itu:

Saya percaya bahwa Latin American Mission tidak akan dapat benar-benar efektif dalam rangka mencapai tujuan penginjilan sampai sepenuhnya berakar di Amerika Latin. Hanya ada sedikit orang Latin yang akan terus menghargai kami dengan tetap menjadi anggota misi, kecuali ada perubahan yang mendasar dan mendalam pada keseluruhan struktur organisasi misi kami.

Dennis Clark memerkuat pendapat tersebut:

Sepertinya sudah terlambat bagi masyarakat Barat untuk menjangkau bangsa-bangsa karena kemungkinan besar, stigma menjadi "antek" atau "boneka" Barat, mengurangi keefektifan penjangkauan itu. Sepertinya, pola pengembangan yang lebih cocok adalah penguatan komunitas misionaris yang ada di bangsa-bangsa Dunia Ketiga dan pemberdayaan sesama manusia.

Untuk mulai mengubah sikap, kita harus mengingat bahwa kekristenan tidak berasal dari Barat; kekristenan lahir di Timur Dekat. Kemudian kekristenan berkembang pesat di budaya Barat dengan akarnya di Eropa, jadi Barat awalnya sama sekali tidak identik dengan kekristenan.

Sayang sekali karena selama beberapa ratus tahun terakhir, orang-orang Kristen di bagian Barat cenderung untuk menginterpretasikan iman dan Alkitab seluruhnya melalui mata Barat, dan melupakan bahwa akar iman mereka dimulai di budaya lain. Kelalaian ini juga dibawa dalam filosofi dan strategi misi dalam skala dunia.

Edward C. Pentecost menanyakan keabsahan pemindahan model pemikiran dan sikap seperti itu dari Barat ke wilayah geografis yang lain.

Tetapi apakah pola itu selalu dapat diterapkan di budaya lain? Orang Kristen yang berada di Afrika berkata "tidak". Konsep "waktu" Barat tidak sesuai dengan konsep "sudah" dan "belum"nya Afrika. Konsep mutlak "ya" dan "tidak" Barat tidak dapat dipahami oleh pikiran oriental yang beroperasi dalam konteks "ying-yang" ....

Pekerjaan Allah tidak terbatas hanya pada misionaris Barat, tetapi Ia bekerja dengan cara-Nya sendiri melalui segala ras dan bangsa. Allah bergerak dalam jalan-jalan yang baru dan Tubuh Kristus semakin terlibat dalam pergerakan itu.

Masalahnya tidak hanya berasal dari Barat. Ada juga masalah yang terjadi karena larangan-larangan pemerintah di negara yang bersangkutan. Nasionalisme menjadi masalah bagi para misionaris Barat dan orang-orang kulit putih. Tidak hanya itu. Sebagai contoh, hampir mustahil untuk orang Cina Kristen dari Taiwan masuk ke negara-negara komunis di Asia. Hal yang sama juga terjadi pada orang Jepang karena rencana negara tersebut menaklukkan Asia selama Perang Dunia II. Pelaksanaan kebijakan imperalialistis seperti itu masih berlangsung. Bahkan dalam praktiknya, tidak ada misionaris Korea yang berada di Jepang sekarang ini.

Selanjutnya, ada juga masalah trauma budaya (culture shock). Orang-orang kulit putih yang berasal dari Barat bukan hanya orang-orang yang harus menghadapi dilema ini. Orang Kristen yang lainnya, misalnya di Asia, harus memertimbangkannya juga.

Budaya Jepang memiliki lebih banyak kesamaan dengan budaya Amerika daripada budaya India. Faktanya, seorang misionaris dari Nebraska akan lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan India daripada seorang misionaris dari Tokyo. Asumsi bahwa orang Asia lebih mudah menyesuaikan diri dengan budaya baru daripada orang Amerika tidaklah benar. Rata-rata orang Jepang sangat kesulitan jika mereka harus hidup tanpa nasi dan ikan.

Lagipula, orang-orang dari negara-negara Asia tersebut tidak memberikan kelonggaran yang sama kepada misionaris Asia dan Barat. Misionaris Barat memiliki kulit putih, mata biru, dan rambut pirang. Jelas, mereka adalah orang asing dan mereka harus mendapat kelonggaran; tetapi orang-orang yang berasal dari Asia -- dari mana pun mereka -- terlihat hampir sama. Karena mereka terlihat sama, mereka dituntut untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang sama. Konsekuensinya, orang-orang itu akan lebih mudah kehilangan kesabaran saat misionaris Asia membuat kesalahan daripada seorang misionaris Barat yang membuat kesalahan.

Pada masa lalu, pergerakan misi selalu menghadapi masalah persilangan budaya. Di masa depan pun akan selalu demikian. Masalah seperti itu akan selalu ada dari mana pun para misionaris itu berasal -- dari Timur atau dari Barat. Namun, waktunya telah tiba untuk menginternasionalisasikan gerakan penginjilan. (t/Dian)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : What In The World Is God Doing?
Judul artikel : Partnership .... Cultural Barriers
Penulis : Ted W. Engstrom
Penerbit : Word Books, Texas 1978
Halaman : 95 -- 98

e-JEMMi 19/2008