Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.27 Vol.12/2009 / Teladan dalam Hidupku

Teladan dalam Hidupku


Paul adalah cucu seorang raja dan anak seorang pria berpengaruh di kotanya. Ia dilahirkan dengan nama SU. Tetapi ketika ia memilih mengikuti Kristus, ia mengganti namanya menjadi Paul, suatu tanda ke arah yang baru dalam hidupnya. Pilihannya dibayar dengan sebuah harga.

"Kakekku dulunya adalah seorang raja di kota ini," kata Paul kepada kontak KDP yang mengunjungi kotanya di tengah Nigeria. "Ayahku adalah seorang pemimpin "agama lain". Ia telah membawa sebagian besar para pemuja berhala di kota ini menjadi pemeluk "agama lain". Saya dilahirkan dan dibesarkan sebagai pengikut "agama lain". Dulunya, terkadang aku memimpin mereka dalam beribadah.

Nabi yang Bernama Yesus

SU adalah seorang "agama lain" yang taat. Ia berusaha mempelajari semua yang ia dapat mengenai agamanya. Dan terkadang, ia menonton video-video keagamaan juga. Suatu hari, ia pergi untuk mendapatkan sebuah kaset video mengenai nabi besar "agama lain".

Ketika ia sampai ke toko video, video yang ia cari sedang habis. Tetapi toko itu menjual Film Yesus. SU tahu mengenai Yesus karena kitab agamanya menyebut Yesus (Isa) sebagai nabi. Jadi, ia memilih film itu. Ia juga akhirnya menemukan video yang ia cari mengenai nabi besar di toko yang lain dan ia pulang dengan membeli dua buah kaset video.

SU mengundang sahabat-sahabatnya untuk menonton bersama video itu, pertama Film Yesus, lalu dilanjutkan dengan film yang satunya mengenai nabi besar. Sahabat-sahabatnya yang memeluk "agama lain" mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak seharusnya menonton video Film Yesus karena Yesus adalah orang Kristen. "Bahkan kalaupun ia adalah Kristen," kata SU kepada sahabatnya, "Yesus ini adalah seorang nabi dalam agama kita. Dan kita harus melihat apa yang sudah Ia lakukan. Jika ada kesalahan (di dalam video tersebut), maka kita dapat mengoreksi." Ia memutar video itu dan mereka mulai menonton kisah Yesus.

Memilih Yesus

Kelompok tersebut tertarik oleh kisah, pengajaran agung, mukjizat-mukjizat, dan oleh cinta kasih mulia yang Yesus tunjukkan. "Ketika mereka menyalibkan Yesus, kami semua meneteskan air mata," ingat SU. "Ketika Yesus dibangkitkan (dari kematian) ..., kami semua berteriak: 'YEAH!'"

Lalu tibalah waktu untuk menonton video mengenai nabi besar. Kisahnya mengenai Perang Badar, suatu kemenangan yang mengukuhkan denominasi agama mereka di dunia Arab. Film itu menggambarkan seorang pria di atas kudanya, mengayunkan sebuah pedang. "Sebelum kami mengerti apa yang sedang terjadi, kami mulai menonton pembunuhan terhadap orang-orang," kata SU. "Jadi aku bertanya kepada mereka, 'Inikah teladan bagi kita? Mengapa berbeda? Tidak menyembuhkan siapapun tapi membunuh orang-orang.'" "Isa ini lebih baik," kata SU.

"Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat"

Hari itu, SU dan sahabat-sahabatnya sepakat untuk mengikut Yesus. Mereka bertemu keesokan paginya, hari Minggu, untuk pergi ke suatu gereja dan menyatakan iman baru mereka. Di perjalanan, seorang pria bertanya ke mana mereka akan pergi. Dua dari mereka menyangkal bahwa mereka akan pergi ke gereja dan berhenti melanjutkan perjalanan. Di pintu pagar gereja, dua lagi dari mereka memutuskan untuk tidak mau membayar harga meninggalkan agama mereka, jadi mereka pergi.

SU dan beberapa sahabatnya yang tersisa memasuki gereja. Orang-orang Kristen tidak yakin apa yang diharapkan darinya, putra seorang pemimpin "agama lain" dan mantan guru agama. Apakah ia datang untuk mencari masalah? Apakah ia datang untuk menyerang orang Kristen? Ketika ia diminta untuk menjelaskan kedatangannya, SU menjawab dengan suara keras, "Halleluyah! Sekarang aku mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat!"

Hari itu penganiayaan dimulai. Orang-orang "agama lain" berkumpul di luar gedung gereja dan mulai melemparkan batu ke gereja. SU, yang sekarang bernama Paul, harus bersembunyi di rumah sang pendeta, sama seperti Paulus dalam Perjanjian Baru yang harus bersembunyi dari mereka yang mengincar nyawanya. Sebelum Paul kembali ke rumah hari itu, istrinya yang "beragama lain" telah mengambil semua barang yang ada di rumahnya, termasuk putra mereka dan pergi meninggalkannya.

"Aku Akan Mati Hari Ini"

Paul ditahan dan dibawa ke hadapan Emir, pemimpin tinggi dalam tingkatan "agama lain". Paul ingat yang terjadi saat itu, bahkan ada terlintas dalam pikirannya, "Aku akan mati hari ini." Tetapi ia juga berpikir; ia bersama Kristus. Ketika sang Emir bertanya apakah benar bahwa ia telah menjadi Kristen, Paul berkata, "Yang mulia, mari kita berdoa." Lalu ia menundukkan kepalanya dan mulai berdoa. Salah seorang penjaga ingin memukulnya saat itu, tetapi sang Emir mengibaskan tangannya. Terkesan dengan keberanian dan pendirian Paul, ia mengizinkan Paul untuk pergi, nyawanya diampuni. Tetapi keluarganya tidak kembali.

Sekarang sudah hampir 9 tahun sejak hari itu, dan Paul tidak pernah lagi melihat istri dan putranya. Ia mendengar bahwa istrinya dinikahi putra sang Emir dan sekarang putranya dididik oleh seorang garis keras. Paul bersekolah di sekolah Alkitab dan hari ini ia adalah seorang pendeta dan penginjil, membawa orang-orang kepada keselamatan kekal di dalam Kristus. Masih ada ancaman-ancaman dan sewaktu-waktu ia bisa dibunuh, tetapi ia tidak gentar, ia tahu bahwa ia tidak boleh melawan, tapi mengasihi.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret -- April 2009
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2009
Halaman : 8 -- 9