Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Menjangkau Saudara Sepupu dengan Kabar Baik

Menjangkau Saudara Sepupu dengan Kabar Baik


Ketika mengabarkan Kabar Baik kepada Saudara Sepupu, kami melihat ada kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masa lalu yang perlu kita atasi. Beberapa kesalahan terbesar adalah kurang diperhatikannya faktor sosiologi, etnik, linguistik, dan budaya.

Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan orang percaya adalah mengabaikan Saudara Sepupu, dengan cara bersembunyi di balik alasan-alasan seperti "monolit Saudara Sepupu" dan "Saudara Sepupu menolak Kabar Baik". Dari hasil penyelidikan, kami mencatat bahwa jumlah Utusan Injil Protestan Amerika Utara, yang menjangkau Saudara Sepupu kurang dari 2 persen. Sedikit yang ditabur, sedikit pula yang dituai.

Dunia Saudara Sepupu telah menjadi subjek terhadap pengaruh-pengaruh sekuler dunia Barat. Dominasi dunia Barat pada masa lalu untuk negara-negara Saudara Sepupu pada saat ini, sama sekali tidak menolong orang Kristen. Namun, dominasi tersebut telah menyalurkan ide dan nilai bagi generasi Saudara Sepupu secara keseluruhan.

Beberapa pengamat merasa bahwa pengaruh-pengaruh sekuler, yang telah mengikis iman orang-orang Barat kepada Kristus, kemungkinan juga telah mengikis kepercayaan Saudara Sepupu. Hal ini menyebabkan adanya perlawanan yang dilakukan Saudara Sepupu, sebagai reaksi terhadap pengaruh sekuler negara Barat.

Tetapi di tengah-tengah kondisi ini, kami percaya Allah telah memberikan waktu ini untuk memberitakan Kabar Baik kepada mereka. Kami mendengar cerita-cerita yang mengejutkan dari negara-negara Saudara Sepupu, di mana terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak terduga saat mengabarkan Kabar Baik kepada mereka. Cerita-cerita itu menyatakan bahwa tidak semua negara Saudara Sepupu menentang Kabar Baik. Cerita-cerita itu memberi harapan bagi gereja-gereja untuk bertobat dari sikapnya yang mengabaikan Saudara Sepupu, menghapus praduga-praduga tentang mereka, dan tidak mengulang kembali kesalahan yang dilakukan pada masa lalu.

Pergumulan Ideologi dalam Dunia Saudara Sepupu -- Kesempatan Allah

Kami mengobservasi adanya peningkatan di kalangan militan Saudara Sepupu. Pergerakan sedang menyebar di Aljazair, Iran, Irak, Afganistan, Mesir, Libya, dan Sudan. Ironisnya, meskipun sebagian besar negara-negara Saudara Sepupu menandatangani Deklarasi Hak Asasi Manusia yang dibuat oleh PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), namun mereka menafsirkan deklarasi tersebut dengan cara mereka sendiri. Alasannya adalah kepercayaan yang mereka anut menjadi pandangan hidup mereka secara total, sehingga masyarakat yang tinggal di negara-negara tersebut hidup di bawah hukum agama. Karena hukum agama dianggap lebih tinggi kedudukannya daripada hukum dan deklarasi yang dibuat manusia, maka apa pun yang dikatakan hukum agama adalah kebenaran.

Di tengah pergumulan dan keraguan tersebut, Kabar Baik dapat menjadi sesuatu yang sangat menarik. Para militan berjuang melawan nilai-nilai Barat yang rusak dan mereka menganggapnya sebagai perjuangan yang sesungguhnya. Para pemimpin lain sedang mencari stabilitas. Kami seharusnya memerhatikan hal-hal yang ditekankan dalam pergumulan-pergumulan ideologi dunia Saudara Sepupu. Daripada menarik orang Kristen dari situasi tersebut, kami merasa perlu untuk tetap bertekun sebagai saksi. Sebagai contoh, di Iran ada seorang pemuda yang percaya Yesus dan telah menuntun 20 orang kepada Kristus dalam jangka waktu 6 bulan! Di Amerika, di mana banyak penduduk Iran yang ditelantarkan oleh pemerintah, ada banyak orang Iran yang percaya kepada Kristus -- hampir di semua kota besar. Tekanan menghasilkan keterbukaan. Semua hati yang mencari arti dan kedamaian hidup telah menemukannya di dalam Kristus.

Penggunaan Kitab Suci Saudara Sepupu sebagai Jembatan

Setiap orang percaya yang ingin menjangkau Saudara Sepupu, harus menggali Alkitab dan mengetahui apa yang dikatakan Alkitab tentang pendekatan-pendekatan budaya kepada orang lain. Salah satu contoh pendekatan yang dilakukan Yesus adalah, Dia tidak memberikan khotbah kepada penganut aliran Yudaisme dan tidak mengajarkan keselamatan melalui hukum Taurat. Namun, Dia juga tidak menganggap remeh hukum Taurat. Yesus menunjukkan kepada orang-orang Yahudi bahwa hukum Taurat itu mengarahkan mereka kepada-Nya.

Apakah ada cara yang sama di mana kita dapat menggunakan Kitab Suci Saudara Sepupu untuk menjangkau mereka? Sebelum menjawab, saya terlebih dahulu menjelaskan bahwa saya sama sekali tidak menyamakan Kitab Suci Saudara Sepupu dengan Perjanjian Lama. Saya cenderung membuat analogi. Sebagian besar Saudara Sepupu menyatakan bahwa Kitab Suci mereka adalah perkataan langsung dari Allah. Kita seharusnya mendekati mereka sesuai dengan kepercayaan mereka.

Kitab Suci Saudara Sepupu memiliki beberapa ayat yang bagus tentang Yesus. Betapa menyegarkan dan indahnya kisah-kisah tersebut, di mana melalui ayat-ayat tersebut, kita dapat melihat Yesus sebagai nabi terbesar, dan dalam cara tertentu Dia dekat dengan Allah. Kisah-kisah ini tidak dapat disebut sebagai "Injil dalam Kitab Suci Saudara Sepupu", tetapi kenyataan tersebut memberikan kesempatan kepada kita untuk membicarakan tentang Kristus kepada mereka.

Secara pribadi, saya yakin bahwa salah satu nabi Saudara Sepupu kurang memahami siapakah Yesus. Di satu sisi mereka menyangkal ketuhanan Yesus dan penyaliban-Nya. Namun, di sisi lain, Yesus disebut sebagai Kalamet Allah (firman Allah) dan Rouh Allah (Roh Allah), Yesus adalah satu-satunya nabi yang bangkit dari kematian -- dalam Kitab Suci mereka. Di dalamnya juga disebutkan tentang mukjizat yang dilakukan Yesus, penyembuhan yang dilakukan-Nya, dan kelahiran-Nya yang ajaib. Saya percaya Kitab Suci Saudara Sepupu dapat digunakan untuk membawa mereka kepada Yesus. Sebenarnya, semua Saudara Sepupu yang telah menerima Kristus mengatakan bahwa Tuhan yang mereka kenal dalam Kitab Suci mereka, sekarang dapat mereka kenal sepenuhnya di dalam Yesus Kristus. Sama seperti Yesus dan para murid-Nya dapat menyatakan Kabar Baik melalui Perjanjian Lama, demikian juga kita dapat menyatakan Yesus kepada Saudara Sepupu melalui Kitab Suci mereka.

Seseorang mungkin akan mengatakan hal ini kepada Anda, "Tetapi para guru dan pemimpin Saudara Sepupu tidak mengakui bahwa Yesus ditinggikan sebagai Tuhan dalam kitab suci mereka." Hal ini benar. Tetapi jika kita kembali ke abad pertama, baik orang-orang Farisi maupun pemimpin agama Yahudi tidak menerima Yesus sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Lama. Meskipun demikian, Kabar Baik dibagikan kepada mereka yang memberikan respons terhadap ajaran-ajaran Kristen. Dengan menggunakan kitab suci Saudara Sepupu, kita bisa menjangkau Saudara Sepupu yang telah disiapkan Allah, untuk melihat Yesus sebagai satu-satunya utusan Tuhan yang dapat menyelamatkan mereka.

Monolit Saudara Sepupu: Fakta atau Angan-Angan?

Hal yang mendasari bentuk-bentuk yang sensitif secara budaya adalah kesadaran bahwa Saudara Sepupu memiliki aneka ragam budaya. Mereka terbagi menjadi ratusan "unit homogen" yang berbeda antara satu dengan yang lain, baik secara geografis, etnik, ideologi, budaya, dan seringkali secara teologi. Contohnya, Iran. Iran tidak dapat disebut sebagai masyarakat yang monolit. Etnik Persia hanya memiliki populasi 48 persen. Sekitar 8 persen populasi di Iran adalah bangsa Kurdis, 19 persen populasi berbahasa Turki, 18 persen suku Bulani, Baluchi, dan Luri, serta sisanya adalah beberapa aliran yaitu Shiar, Sumis, Bahais, Ismailis, Ahl-I-Hagq, Yezidis, Komunis, sekularis, dan kelompok progresif maupun konservatif. Keanekaragaman tersebut dapat ditemukan di banyak negara Saudara Sepupu.

Contoh lain dari keanekaragaman yang mengejutkan itu adalah: 20.000 penduduk China "Saudara Sepupu" telah berimigrasi dan tinggal di Arab Saudi, 145.000 orang Kurdi tinggal di Kuwait, dan 20.000 Saudara Sepupu Circassian tinggal di Yordania. Sekitar satu juta Saudara Sepupu di dunia, setidaknya menggunakan 500 bahasa yang berbeda sebagai bahasa tutur, dan diperkirakan masih terbagi lagi sebanyak 3.500 unit homogen yang berbeda.

Jenis-Jenis Tanah yang Berbeda, Merupakan Satu Petunjuk

Sama seperti jenis-jenis tanah yang berbeda dalam perumpamaan tentang seorang penabur (Matius 13:1-23), kami juga melihat banyak kelompok Saudara Sepupu yang berbeda-beda pula. Namun sayangnya, banyak orang menganggap kelompok Saudara Sepupu di seluruh dunia sebagai satu jenis tanah, dan secara keliru menggunakan satu metode untuk menjangkau mereka. Seharusnya tidak demikian!

Sebagai contoh, Indonesia adalah negara dengan populasi Saudara Sepupu terbesar di dunia (sebanyak 195 juta -- lebih dari 80 persen populasi penduduk). Namun, Indonesia bukanlah sebuah negara Saudara Sepupu. Jumlah Saudara Sepupu di Indonesia yang responsif terhadap iman Kristen sangatlah mengejutkan. Salah satu suku di Indonesia -- sebut saja suku P, yang dikenal sebagai suku yang menolak Kabar Baik, memiliki tingkat yang bervariasi tentang komitmen kepada agama mereka. Beberapa wilayah sangatlah ortodoks dan menolak kekristenan. Beberapa wilayah lainnya, pengaruh Saudara Sepupu tidak begitu besar. Gereja-gereja rumah mencapai kesuksesan saat dirintis di wilayah yang tidak menolak Kabar Baik.

Intinya adalah kami dapat menemukan orang-orang yang responsif (tanah yang subur), meskipun di negara yang populasi Saudara Sepupu paling besar. Hal ini bukan berarti kita tidak dapat mengabarkan Kabar Baik kepada bagian populasi yang tidak responsif. Ini berarti bahwa kita sebaiknya menginvestasikan usaha-usaha terbesar kita di tanah yang subur itu, dan mendorong para petobat yang mengetahui alasan-alasan penolakan terhadap Kabar Baik, untuk mengabarkan Kabar Baik ke wilayah yang kurang responsif. Kita harus bereksperimen secara simultan dengan menggunakan strategi-strategi baru.

Kesempatan-Kesempatan bagi Para Pekerja Lintas Budaya di Semua Negara

Kadang-kadang kita dapat belajar dari Saudara Sepupu. Sebagai contoh, ada sebuah perkembangan usaha yang dilakukan oleh Arab Saudi dan beberapa negara di wilayah Timur Tengah, untuk memperkuat pertumbuhan Saudara Sepupu ortodoks di Indonesia. Kebanyakan Utusan Injil yang terlibat dalam pergerakan tersebut adalah orang-orang Kairo yang mahir berbahasa Arab. Mereka dikirim ke Indonesia untuk mengajar bahasa Arab.

Strategi yang disarankan dalam menghadapi kasus ini adalah dengan dikirimnya orang-orang Kristen Arab sebagai Utusan Injil ke Indonesia, para Utusan Injil tersebut dapat mengajar bahasa Arab dan memberitakan Kabar Baik. Mereka akan sangat diterima karena kewibawaan mereka sebagai orang yang mahir berbahasa Arab.

Orang Kristen Korea mendapat dampak yang luar biasa dari Saudara Sepupu di Arab Saudi. Orang-orang Arab Saudi mengharapkan para pengikut gereja-gereja ortodoks Yunani, Koptik, Suriah, dan Armenia menjadi Kristen. Orang-orang Arab Saudi mengharap agar Amerika, Jerman, dan Inggris, setidaknya memiliki jumlah orang Kristen yang berdedikasi. Namun, yang mengherankan bagi mereka adalah bagaimana bangsa Korea, yang tidak punya latar belakang atau pun sejarah Kristen, dapat menjadi murid Yesus yang berdedikasi. Apakah ada yang lebih penting daripada satu lembaga pelayanan misi Korea di Arab Saudi, baik dalam bentuk penasihat teknis, pekerja, dokter, insinyur, dsb.?

Setelah terjadi peledakan minyak dan sejumlah peperangan, negara-negara di sekitar teluk Arab telah terguncang dengan hebatnya. Perubahan di bidang budaya, ekonomi, dan sosiologi, seharusnya diperhatikan secara serius oleh Utusan Injil/orang-orang yang berpikir seperti Utusan Injil. Disorientasi dan distorsi budaya telah terbukti menjadi lahan yang subur bagi orang Kristen. Gelombang orang asing di India dan Pakistan yang datang ke wilayah teluk, melebihi populasi nasional. Di antara sejumlah penduduk tersebut, ada sejumlah orang Kristen. Di Kuwait, misalnya, diperkirakan 5 persen dari penduduknya beragama Kristen. Di Bahrain sekitar 2 persen penduduknya beragama Kristen; di Qatar lebih dari 2 persen; di Abu Dhabi sekitar 4 persen; di Dubai 3 persen lebih sedikit. Perlu diingat, sebagian besar dari orang-orang Kristen tersebut adalah orang asing. Hanya ada sedikit warga negara Kristen, itupun jika ada. Komunitas Kristen terbesar di wilayah teluk Arab adalah komunitas Kristen India. Diperkirakan lebih dari 30 persen orang India yang tinggal di Arab Saudi beragama Kristen. Hal ini dapat menjadi salah satu kesempatan terbesar bagi para Utusan Injil India.

Kesimpulan:

  1. Satu milyar Saudara Sepupu tidak dapat dilupakan begitu saja oleh gereja. Kita seharusnya tidak mengecualikan segala usaha untuk membuat Kabar Baik menjadi relevan dengan unit etnik Saudara Sepupu yang bervariasi.

  2. Ketika Yesus ditanya, "Hukum apakah yang terutama?" Dia menjawab dengan mengutip ayat dalam kitab Ulangan 6:5 -- "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu." Tetapi Yesus menambahkan satu kalimat penting yang tidak dijumpai dalam kitab Ulangan, "Dengan akal budimu". Para utusan Injil yang berkomitmen sungguh-sungguh, seharusnya tidak hanya mendedikasikan diri mereka untuk penginjilan saja, tetapi juga memikirkan cara yang paling efektif sehingga mereka dapat menjalankan perintah Tuhan.

  3. Rasul Paulus merencanakan dan memikirkan cara yang terbaik, sehingga Kabar Baik dapat memberi dampak yang maksimal. Kita perlu merencanakan penginjilan kepada Saudara Sepupu dengan cara yang sama. Mari kita menggunakan sarana-sarana yang sesuai untuk menghasilkan tuaian yang berlimpah di dunia Saudara Sepupu pada saat ini.

Sumber: Reaching Muslim People with the Gospel. Ishak Ibrahim. in Perspectives on the World Christian Movement, Page 646 -- 649. Third Edition. William Carey Library, 1999

Diambil dan disunting seperlunya dari: Bahan Bacaan Misiologi STT Intheos, Halaman 39

e-JEMMi 31/2011