Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Menjalin Persahabatan dengan Orang-Orang yang Tidak Beriman: Pesta Matius

Menjalin Persahabatan dengan Orang-Orang yang Tidak Beriman: Pesta Matius


Pengantar: Artikel di bawah ini memang tidak secara spesifik ditujukan untuk menjangkau orang ateis. Namun, prinsip-prinsip di dalamnya dapat diterapkan untuk menjangkau orang-orang yang belum percaya, termasuk orang ateis. Kiranya Tuhan memberi hikmat dan membukakan pintu bagi kita untuk menjangkau mereka yang Tuhan percayakan untuk kita layani. Selamat memenangkan jiwa.

MENJALIN PERSAHABATAN DENGAN ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN: PESTA MATIUS

Jika berbicara mengenai pesta, dalam tulisan ini tercatat dua jenis pesta. Yang pertama adalah kumpulan orang-orang yang beriman, di mana kita dapat menjumpai kumpulan seperti ini di gereja atau dalam sebuah persekutuan. Dalam pertemuan itu semua orang telah saling mengenal, suasananya akrab, bersahabat, dan berbincang-bincang dengan santai. Jenis pesta yang kedua adalah kumpulan para pemberontak yang tidak terkontrol, yang seolah dilahirkan untuk menjadi liar. Mereka suka berpesta sampai mabuk, perbincangan yang murahan, dan memutar musik-musik keras. Biasanya mereka sekadar ingin bersenang-senang, coba-coba, atau pun hanya ikut-ikutan.

Dalam Lukas 5:29 diceritakan bahwa situasi yang terjadi pada abad pertama tidaklah jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada masa kini. Hal ini mendorong Matius mengadakan sebuah jamuan makan secara diam-diam dengan mengundang teman-temannya yang beriman maupun tidak beriman. Meskipun pesta ini adalah pesta campuran, pesta ini adalah pesta dengan suatu tujuan.

Seperti kita ketahui, Matius adalah seorang pemungut cukai, yang pada masa itu, seorang pemungut cukai dianggap sebagai pekerjaan yang paling tidak populer. Para pemunngut cukai dianggap sebagai seorang pencuri dan pemeras. Namun, perjumpaan Matius dengan Kristus telah mengubah hatinya secara total. Matius menjadi rindu menolong teman-temannya yang belum percaya kepada Yesus untuk mengalami pengalaman spiritual seperti apa yang telah ia alami. Hanya saja, Matius tidak tahu bagaimana caranya. Ia sama sekali belum pernah mengikuti seminar penginjilan, belum pernah tamat sekolah teologi, dan dia juga kekurangan bahan bacaan. Satu hal yang Matius miliki hanyalah kesungguhan, hati yang penuh belas kasihan, dan roh yang penuh tekad.

Salah satu strategi yang ia pikirkan adalah mengajak sesama pemungut cukai pergi ke Bait Allah untuk mendengarkan penjelasan seseorang yang lebih fasih dalam menyampaikan kebenaran rohani. Namun, yang ia jumpai hanyalah seseorang yang sedang membaca Kitab Perjanjian Lama. Keadaan ini membuat Matius sadar pendekatan tersebut tidak sesuai untuk penyembah berhala, orang-orang yang suka mengambil risiko, dan kumpulan orang-orang yang sangat fanatik.

Hal ini sebenarnya dapat membuat Matius menyerah, merasa gagal, bahkan sedikit stres. Sebenarnya dia rindu teman-temannya mendengarkan khotbah Yesus, tetapi jadwal khotbah Yesus selalu spontan dan tidak terjadwal. Mungkin saja teman-temannya tidak akan bersedia sewaktu-waktu meninggalkan pekerjaannya ketika Yesus datang. Matius juga mungkin merasa tidak layak membawa teman-temannya mengenal kebenaran yang sejati itu.

Mungkin banyak orang Kristen mengalami perasaan yang sama dengan Matius. Sebagian besar dari mereka malah menutup hatinya bagi teman-teman atau keluarga mereka yang terhilang. Tetapi Matius tidak menyerah, bahkan mendapatkan sebuah ide. Dia akan mengadakan sebuah pesta karena dia tahu teman-temannya suka berpesta. Matius pun memikirkan bagaimana caranya memasukkan tujuan utamanya ke dalam pesta ini. Dia lalu bertanya kepada Yesus dan para murid-Nya, apakah mereka bersedia hadir untuk menanam beberapa benih rohani dengan harapan akan berakar dalam hati teman-temannya.

Pada malam itu, hanya Allah yang tahu strategi percakapan macam apa yang dapat dipakai sebagai pendekatan. Kita tidak banyak mengetahui rinciannya, kecuali orang-orang Farisi yang kemudian mendengar hal ini dan tidak menyukainya. Mereka berpikir bahwa Yesus dan para murid-Nya melakukan penginjilan dengan cara yang keliru. Jadi mereka menentang Yesus dan murid-murid-Nya karena bergaul dengan orang-orang yang memunyai karakter buruk.

Melihat kejadian tersebut, Matius yang baru saja lahir baru mungkin mulai ragu dan bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia telah melakukan suatu tindakan yang benar? Akan tetapi, tiba-tiba ia mendengar Yesus membela tindakannya dan memberinya pujian serta berkata kepada orang-orang Farisi bahwa orang sakitlah yang memerlukan dokter. Strategi penginjilan modern yang melibatkan orang yang kaya dan yang miskin secara rohani sangat penting dalam usaha penyelamatan yang dilakukan oleh Allah.

Meskipun Alkitab tidak menceritakan apa yang terjadi kemudian, namun dari kisah tersebut kita dapat melihat bahwa Yesus mendukung apa yang dilakukan oleh Matius. Di sini kita melihat bahwa Matius berusaha memahami apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan teman-temannya. Oleh sebab itulah ia melakukan sebuah tindakan di luar kebiasan umum, yaitu menjangkau mereka yang terhilang melalui sebuah pesta.

BELAJAR DARI CONTOH MATIUS

Ada beberapa prinsip yang dapat dipelajari dari Matius. Allah menginginkan kita menghargai mereka yang belum percaya dan waspada dengan cara-cara yang biasa kita gunakan dalam penginjilan, ketika kita tahu bahwa hal tersebut bukanlah cara terbaik untuk menjangkau mereka. Dia tidak ingin kita tertekan karena pilihan yang sulit ini dan akhirnya menyerah.

Mungkin Allah akan menantang kita melakukan hal yang sama seperti Matius, yaitu bersedia melakukan perubahan dan berpikir secara kreatif. Dengan tolak ukur prinsip-prinsip yang alkitabiah, buatlah strategi yang tepat dengan kondisi kita dan kondisi teman-teman kita. Berdoalah dengan tekun dan bersiaplah mengambil risiko. Belajarlah dari kesalahan dan ubahlah cara pendekatan dari kesalahan tersebut.

Selama hal itu berlangsung, janganlah kita hanya berfokus pada acara-acara saja, melainkan kita harus lebih berfokus kepada orang-orangnya. Pertempuran dimulai saat Anda berhubungan dengan orang lain. Garam harus menyentuh sesuatu agar memberikan pengaruhnya; begitu pula dokter harus menemukan jalan untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang yang membutuhkan pelayanannya. Jika Anda ingin menjangkau mereka yang terhilang bagi Allah, Anda harus memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada untuk bersahabat dengan mereka yang tidak beriman.

Kekristenan yang menular terjadi di antara teman dengan teman, orang dengan orang, tetangga dengan tetangga. Rencana ini alkitabiah, masuk akal, strategis, dan telah dibuktikan oleh Yesus, Paulus, Matius, dan masih banyak lagi. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya mengambil langkah pertama untuk melakukan hal tersebut? Apakah yang dapat kita lakukan agar kita lebih akrab dengan mereka yang tidak percaya dengan harapan suatu saat membawa mereka kepada Kristus?

Jawabannya adalah dengan mengacu pada cara-cara yang praktis, di mana kita dapat menjangkau tiga kelompok orang di dalam dunia kita, yaitu orang-orang yang kita kenal, orang-orang yang pernah kita kenal, dan orang-orang yang ingin kita kenal.

  1. ORANG YANG KITA KENAL

    Pandangan umum yang sering kita dengar mengenai pendekatan penginjilan adalah bahwa penginjilan yang efektif merupakan penginjilan yang dilakukan kepada orang-orang yang kita kenal. Ini merupakan sebuah konsep yang keliru. Karena penginjilan yang sesungguhnya adalah penginjilan yang dilakukan kepada orang-orang yang belum kita kenal. Dan untuk mencapai tingkat di mana kita membangun suatu karakter yang menular, diperlukan kelengkapan-kelengkapan seperti kejujuran, belas kasih, dan sikap rela berkorban.

    Yang perlu diperhatikan, dalam hubungan semacam ini, banyak hal terpenting yang harus dikorbankan. Contohnya, waktu santai bersama di luar pekerjan rutin, tugas-tugas rutin rumah tangga, atau kesibukan yang terjadi setiap hari dalam kehidupan kita. Sejujurnya kita membutuhkan lebih banyak waktu santai daripada melakukan percakapan yang mendalam tentang hal-hal pribadi. Bagaimana kita mengambil tindakan untuk memastikan hal itu terjadi? Ada dua pendekatan yang mungkin dapat kita dilakukan. Pertama, melalui peristiwa yang direncanakan, dan kedua melalui lebih banyak cara yang tidak resmi.

    1. Adakanlah "pesta Matius".

    Pesta Matius dapat dilakukan dalam berbagai cara, misalnya acara syukuran baptisan, menempati rumah baru, kelahiran anak, atau hari ulang tahun pernikahan. Pesta ini dilakukan dengan mengundang mereka yang sudah percaya dan mereka yang belum percaya. Pesta ini dirancang untuk sebuah tujuan, yaitu menyediakan sebuah tempat yang netral di mana orang Kristen dapat menjalin persahabatan dan memulai percakapan mengenai masalah iman dengan mereka yang belum percaya.

    2. Melibatkan orang lain dalam aktivitas sehari-hari.

    Mungkin Anda berpikir bahwa untuk menjalin persahabatan dengan mereka yang belum percaya, Anda harus menambahkan kegiatan baru di antara jadwal Anda yang sudah terlalu padat. Konsep ini keliru. Salah satu cara yang efektif agar Anda dapat bersahabat dengan mereka adalah dengan memanfaatkan waktu yang ada dengan kegiatan yang sudah direncanakan sebelumnya. Misalnya, mengajak mereka berolahraga bersama atau menonton pertandingan olahraga. Di samping itu Anda bisa melakukannya di tempat kerja Anda. Dalam bidang bisnis, kita menjumpai banyak orang yang kekurangan secara rohani. Anda dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menanamkan benih-benih rohani kepada rekan kerja Anda.

  2. ORANG-ORANG YANG PERNAH KITA KENAL

    Orang-orang ini adalah kelompok yang berpeluang besar untuk dilewatkan. Mengaculah pada orang-orang yang berasal dari masa lalu Anda dan yang sudah lama kehilangan kontak dengan mereka.

    Hanya sedikit orang yang tetap berusaha menjalin hubungan dengan teman-teman setelah mereka meninggalkan sekolah, keluar dari pekerjaan, atau pindah tempat tinggal. Bahkan persahabatan yang cukup akrab pun umumnya berakhir dalam satu atau dua tahun setelah salah seorang berpindah tempat. Umumnya, semakin tua seseorang, semakin kurang serius orang itu dalam mengucapkan komentar semacam ini, "Oh, jangan kuatir, kita akan tetap menjalin hubungan."

    Jadi, ketika Anda berusaha untuk menghubungi mereka dengan cara menulis surat atau menelepon teman sekerja atau teman sekelas Anda dulu, dia pasti sangat terkejut, lalu mungkin menyetujui ide untuk bertemu dan bercakap-cakap. Yang membuat peluang ini sangat menarik adalah banyak faktor keingintahuan yang timbul secara otomatis dari kedua belah pihak untuk mengetahui bagaimana perkembangan atau perubahan orang ini. Karena faktor rasa ingin tahu inilah, maka orang-orang itu tidak perlu menjadi teman akrab terlebih dulu.

  3. ORANG YANG INGIN KITA KENAL

    Sekarang kita sampai pada kategori yang banyak membuat orang Kristen gugup. Berbicara kepada orang yang kita kenal atau bahkan membangun kembali hubungan lama, kedengarannya tidak terlalu jelek. Tetapi, bagaimana mencoba berbicara dengan orang yang asing tentang Allah?

    Salah satu cara yang dapat Anda gunakan yaitu dengan menjalin hubungan baik dengan mereka dan jika kondisi memungkinkan, mulailah mendiskusikan topik-topik rohani. Namun, satu hal yang perlu Anda ingat adalah perlakukan mereka bukan sebagai objek, melainkan sebagai orang yang sangat berarti di hadapan Allah, yang layak mendapatkan kasih dan perhatian dari kita.

    Apakah uraian di atas memberi cara pandang yang baru pada kegiatan rutin harian Anda? Apa pun arenanya, Kolose 4:5 kembali mengingatkan kita untuk "hidup dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar dan menggunakan setiap kesempatan yang ada". Betapa isitmewanya dipakai Allah untuk menjalin hubungan dengan orang lain agar hidup kita memberi dampak rohani bagi mereka.

Diringkas dari:

Judul buku : Menjadi Orang Kristen yang Menular
Judul artikel : Menjalin Persahabatan dengan Orang-Orang yang Tidak Beriman
Penulis : Bill Hybels dan Mark Mittleberg
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2000
Halaman : 197 -- 218

e-JEMMi 4/2008