Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.04 Vol.09/2006 / Suku Hui

Suku Hui


SATU MINORITAS

Di Tiongkok bagian utara, secara khusus di propinsi Nangksi, sepertiga dari rakyatnya berasal dari latar belakang suku Hui. Di hampir setiap kota, propinsi dan daerah, selalu ada satu kelompok masyarakat minoritas suku Hui. Hampir 11 juta orang Hui tercerai berai di seluruh RRC. Walaupun mereka satu suku, terkadang mereka bisa terlihat berbeda jauh satu sama lain. Hal ini terjadi karena mereka sangat pandai menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Di samping itu agama dan kebudayaan di mana mereka tinggal sangat mudah mempengaruhi suku Hui, namun demikian identitas mereka sebagai orang Hui masih terlihat.

Jumlah penduduk : 10,7 juta
Tempat tinggal : Tercerai-berai di seluruh RRC dengan konsentrasi di propinsi Nangksi. Ada juga yang tinggal di negara Taiwan, Kyrgyzstan, Kazakhstan dan Mongolia.
Agama : Islam
Orang Kristen : 200 jiwa

PENDATANG YANG BERHASIL

Leluhur orang Hui datang dari Arabia dan Persia sebagai pedagang. Dengan jumlah ratusan orang mereka melakukan perjalanan di rute "Jalur Sutera", yaitu menyeberang Asia menuju ke RRC. Pada abad ke-7 sampai ke-14 pejuang-pejuang Arab ini datang ke Tiongkok untuk membantu kaisar Cina berperang melawan musuh-musuhnya. Selain jalan darat, ada di antara mereka yang tiba melalui jalan laut. Dan para pendatang ini banyak yang tidak kembali ke kampung halaman mereka di Arabia dan Persia serta memilih menetap di RRC. Orang Hui sangat membanggakan latar belakang ini.

Ke mana saja mereka menetap di RRC, mereka mendirikan masjid- masjid, menikahi wanita-wanita Cina di tempat tersebut dan membimbing anak-anak mereka untuk menjadi Muslim. Agama mereka dicampuri dengan kebudayaan Tionghoa, sehingga mereka sekarang terkenal sebagai orang dengan agama Hui. Dari segi bentuk badan, mereka tidak berbeda jauh dengan suku Han, yang kita kenal sebagai orang-orang Cina. Suku Hui ini juga berbahasa Mandarin. Pakaian mereka sama dengan mayoritas masyarakat di RRC, tetapi sebenarnya mereka berbeda dengan orang Cina. Perbedaan itu sangat menyolok di bidang agama oleh karena kebanyakan orang Tiongkok tidak beragama atau ateis, sementara di sisi lain, suku Hui sangat menekankan agama mereka.

CARA HIDUP MEREKA

Dahulu orang Hui terkenal sebagai pedagang, yang juga menjadi penyebab utama mereka datang ke Tiongkok, tetapi sekarang mereka tidak lagi seperti itu. Pada masa kini jika mereka tinggal di pedesaan, mereka adalah petani yang menghasilkan beras dan gandum, tergantung pada iklim tempat di mana mereka tinggal. Jika mereka tinggal di kota, mereka mencari rumah di sekitar masjid, mereka juga banyak yang mengelola toko dan restoran. Selain itu, banyak juga yang bekerja sebagai penjual daging, pengemudi truk, pedagang kulit dan mutiara. Beberapa di antara mereka yang sudah menjadi dokter, guru, insinyur, dan dokter gigi sekalipun sampai sekarang tetap senang memelihara domba ataupun sapi. Mereka biasanya memakan nasi, daging sapi, ayam dan domba. Daging babi tidak dicicipi, kecuali jika disebut daging biri-biri, alkohol juga tidak mereka minum.

Agama orang Hui adalah Islam. Menurut ajaran mereka lima rukun Islam wajib ditaati. Di antara suku Hui, terdapat banyak sekte dan aliran. Generasi yang terdahulu mencoba mengadaptasi agama Islam dengan kebudayaan Cina, misalnya mereka membangun masjid tidak seperti layaknya sebuah masjid. Di samping itu ada juga sekte yang menekankan untuk menghormati pendiri dan tua-tua agama. Di daerah Tiongkok Utara bagian Barat, jumlah orang Hui lebih banyak sehingga orang Hui lebih konservatif dari pada yang ada di daerah Utara bagian Timur.

Perempuan Hui tidak boleh menikah dengan orang non-Hui, namun laki- laki suku Hui diijinkan mencari isteri dari suku Cina yang lain, asal mereka bersedia mengikuti agama Hui. Sejak 1949 orang Hui tidak bebas lagi mengatur pernikahan sesuai dengan ketentuan adat saja, sehingga sekarang ini orang tua tidak lagi bisa mengatur pernikahan anak mereka. Mereka tidak boleh menikah dalam usia yang sangat muda. Wanita diberi hak untuk menceraikan suami mereka jika mereka menginginkan dan mereka juga mendapat warisan.

Pada zaman Revolusi Kebudayaan suku Hui sangat dianiaya, tetapi mereka kuat dan bisa bertahan dalam tekanan yang berat itu. Pada waktu itu banyak masjid dihancurkan. Sesudah Revolusi Kebudayaan, mereka dengan cepat membangun rumah ibadah mereka kembali, seperti di propinsi Nangksi 1.400 masjid dibuka lagi. Sekarang pemerintah RRC lebih terbuka terhadap agama orang Hui. Masjid tidak harus membayar pajak lagi, para imam juga boleh belajar agama mereka dan tidak harus menyembunyikan diri di bawah tanah. Suku Hui diberi hak untuk mengebumikan orang mati dan tidak lagi diwajibkan untuk dikremasi, walaupun suku Han tetap diwajibkan untuk mengkremasikan mayat mereka. Orang Hui lebih terbeban mengikuti program KB di RRC, di mana hanya 1 anak yang diijinkan bagi satu keluarga, tetapi mereka sering masih memiliki 2 anak per keluarga. Sekarang mereka tetap diarahkan untuk tidak menikah cepat. Jika mereka menikah di atas umur 25 tahun, dan hanya mempunyai seorang anak saja, maka mereka diberi hadiah.

SIKAP TERHADAP AGAMA KRISTEN

Walaupun mereka sangat ramah terhadap orang Kristen namun mereka tetap menolak untuk menjadi Kristen. Jika mereka menjadi Kristen mereka akan dianianya oleh keluarga mereka, komunitas agama lain dan orang-orang Komunis atheis. Ikatan pada agama Islam itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Injil sulit diterima. Walaupun Injil sudah lebih dari 30 tahun diberitakan kepada mereka, namun belum ada hasilnya. Sekarang ini ada kira-kira 200 orang Kristen di antara orang Hui. Siaran radio dan literatur Kristen sudah tersedia untuk menjangkau mereka dengan Injil. Selain itu ada satu tim pelayanan yang memiliki beban bagi suku Hui.

POKOK-POKOK DOA

  1. Berdoa agar mereka terbuka bagi Injil dan tidak terkurung dalam tradisi dan kebudayaan mereka yang tidak membawa mereka kepada keselamatan.

  2. Berdoa untuk siaran radio bagi suku Hui agar kreatif dalam mengkomunikasikan Kabar Baik sehingga suku Hui tertarik dan menikmati siaran tersebut.

  3. Berdoa agar orang Hui mencari kebenaran melalui siaran radio yang mereka dengar.

  4. Berdoa untuk literatur Kristen yang disebar di antara suku Hui, agar dibaca dan dipahami.

  5. Berdoa untuk film Yesus dan Alkitab dalam bahasa mereka.

  6. Berdoa untuk orang Kristen di lingkungan orang Hui agar terbeban untuk menyaksikan kasih Kristus kepada mereka.

  7. Berdoa untuk gereja di seluruh dunia agar mereka bersedia mendoakan suku Hui dengan setia dan mencari jalan untuk memberitakan Injil kepada mereka.

  8. Doakan yang terbeban untuk melayani suku Hui, agar berani mendekati mereka dan bersedia untuk berkorban.

Sumber diambil dari:

Judul Buletin: Buletin Terang Lintas Budaya, Edisi 57/2004
Halaman : 4 - 6


e-JEMMi 04/2006