Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel / Salib Yesus, Kebangkitan, dan Misi

Salib Yesus, Kebangkitan, dan Misi


Luangkanlah waktu untuk membaca Matius 26:17-30; 27:32-56; 28:1-20; Roma 5:1-11!


"Kemudian, kesebelas murid pergi ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika mereka melihat-Nya, mereka menyembah-Nya. Akan tetapi, beberapa ragu-ragu. Lalu, Yesus datang dan berkata kepada mereka, "Segala kuasa telah diberikan kepada-Ku, di surga maupun di bumi. Karena itu, pergilah dan muridkanlah semua bangsa, baptiskanlah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, ajarkanlah mereka untuk menaati semua yang Aku perintahkan kepadamu; dan lihatlah, Aku selalu bersamamu, bahkan sampai kepada akhir zaman."
(Matius 28:16-20, AYT)

Inti kebenaran: kematian dan kebangkitan Yesus menyatakan kemenangan akhir Allah atas dosa, kehancuran, dan ketidakadilan, dan membuka masa depan yang berlimpah bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Kisah Yesus mencapai puncaknya dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kematian-Nya menunjukkan kasih Allah bagi dunia (Roma 5:8), dan mengatasi dosa dan kesalahan manusia dengan membuka masa depan yang berlimpah bagi semua orang yang percaya.

Skandal Salib

Keempat Injil merekam akhir dramatis kehidupan Yesus di bumi. Pasukan gabungan dari Roma, kepemimpinan pemimpin agama, dan kerumunan orang berkonspirasi untuk mengirim Yesus pada kematian brutal di kayu salib. Pesannya jelas: semua manusia bertanggung jawab atas kematian Yesus. Penyaliban adalah bentuk hukuman mati yang diperuntukkan bagi budak dan pemberontak yang melawan Roma. Hukuman itu tidak membawa kematian dengan cepat, tetapi malah memperpanjang penderitaan dan rasa malu bagi orang yang menjadi terdakwa. Bagi seorang Yahudi, salib merupakan sebuah skandal karena aib seseorang digantung di atasnya. Bagi orang-orang Romawi, penyaliban menjadi sebuah akhir yang kejam dan hina bagi seseorang karena luruhnya seluruh kehormatan dan pengharapan sang korban. Lalu, Paulus menulis demikian, "Sebab, perkataan tentang salib adalah kebodohan bagi mereka yang sedang binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan, hal itu adalah kekuatan Allah.” (1 Korintus 1:18, AYT)

Makna Salib

Kematian Yesus memiliki tujuan. Yesus rela menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk dunia. Injil menawarkan refleksi komplementer pada makna kematiannya. Yohanes menjelaskan kematian Yesus sebagai ekspresi kasih yang paling penuh: "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya". (Yohanes 15:13, AYT) "Allah mengasihi umat manusia sehingga Ia memberikan Anak-Nya demi kebaikan mereka" (Yohanes 3:16).

Matius, Markus, dan Lukas merekflesikan makna pengorbanan Yesus dengan mengisahkan perayaan pertama Perjamuan Kudus. Yesus menawarkan roti dan anggur sebagai simbol kematian-Nya. Matius 26:28 (AYT) berbunyi, "Sebab, ini adalah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan untuk banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa.” Kata-kata ini menunjukkan secara meyakinkan bahwa kematian Yesus adalah sebuah tindakan (penyelamatan) bagi kita. Yesus mati untuk menebus dosa-dosa kita. Yesus menekankan pentingnya perjanjian antara umat Allah dan Allah pada Perjamuan Terakhir ketika Ia berkata, "Cangkir yang dituangkan bagimu ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku." (Lukas 22:20, AYT) Kematian Yesus menetapkan perjanjian baru yang dijanjikan dalam kitab nabi-nabi dan sebuah jalur yang menuju kepada Allah.

Terakhir, Yesus juga mati untuk mengalahkan kejahatan dan ketidakadilan dunia. Dalam Matius 8:17, Matius berkomentar bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan untuk menggenapi Yesaya 53:4, "Dia mengambil rasa sakit kita dan menanggung penderitaan kita.” Yesaya 53:4-6 menjadi dasar yang penting dalam pengajaran gereja mula-mula salib (lihat Kisah Para Rasul 8:30-35). Biasanya, Yesaya 53 dikutip untuk menyatakan kematian Yesus bagi dosa, tetapi Matius mengingatkan kita bahwa Yesus mati juga untuk rasa sakit, penderitaan, penindasan oleh setan, dan penderitaan. Kematian Yesus yang menyelamatkan adalah jawaban Allah untuk semua dosa dan kejahatan sesudah Kejadian 3-11.

Kebangkitan, Hidup Baru, dan Misi Tuhan

Kematian Yesus tidak menandai akhir dari Yesus Sang Mesias. Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati untuk secara pasti mengumumkan kemenangan kasih atas segala kegelapan dan dosa. Allah menyelamatkan kita melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus.

Kebangkitan Yesus mendorong tibanya babak baru dalam misi Tuhan. Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk membawa Injil sampai ke ujung bumi. Ini adalah berita yang harus dibagikan. Pewarta pertama kebangkitan Yesus adalah wanita yang menemukan makam kosong pada hari ketiga. Malaikat mengirim mereka untuk memberitakan kebangkitan Yesus kepada para murid. Pada abad pertama, perempuan tidak diizinkan untuk bersaksi di pengadilan karena mereka dianggap tidak dapat diandalkan. Namun, Tuhan memercayakan mereka dengan pesan kebangkitan. Ini adalah pesan yang sangat penting bagi kita yang hidup pada masa kini. Kita mungkin tidak selalu merasa siap atau memenuhi syarat, tetapi Tuhan telah memberi kita kesaksian untuk dibagikan dan diwujudnyatakan. Berita tentang kebangkitan Yesus adalah berita yang paling penting dalam sejarah, dan Allah memercayakannya kepada sekelompok wanita yang setia. Dia memercayakannya kepada kita juga.

Berikutnya, Yesus memperlihatkan diri kepada sebelas murid-Nya (Matius 28:16-20). Mereka diperintahkan untuk memuridkan semua bangsa. Yesus bergerak di seluruh tanah Israel untuk menggenapi nubuat Mesias dalam Perjanjian Lama. Sekarang, setelah kebangkitan, Ia mengirim pengikut-Nya ke seluruh dunia dalam penggenapan misi Tuhan untuk memberkati bangsa-bangsa. "Pergi” menjadi mantra gereja. Dengan kebangkitan Yesus, umat Tuhan menjadi komunitas yang mengutus dan yang diutus. Model kegerakan Yesus menjadi modus operandi bagi gereja.

Sesudah kebangkitan, cerita Alkitab terbuka sepenuhnya kepada bangsa-bangsa. Ruang lingkup misi Tuhan menjadi gamblang bagi semua bangsa. Seluruh dunia dalam Kejadian 1-11 adalah target Injil. Dalam Perjanjian Lama, salah satu misi Israel adalah hidup sebagai ssebuah kerajaan imam (imamat rajani) dan bangsa yang kudus. Dengan beberapa pengecualian (mis. Yunus), bangsa-bangsa harus datang ke Israel untuk belajar tentang Allah. Sekarang, ada pembalikan besar. Murid-murid Yesus "Pergi dan memuridkan" (Matius 28:18-20), dengan memperkenalkan Injil kepada semua orang.

Tuhan Beserta Kita

Secara mendasar, Yesus disebut Immanuel (Tuhan beserta kita) pada saat kelahiran-Nya. Itu menegaskan bahwa Injil Matius diakhiri dengan pemenuhan tuntas janji tersebut. Setelah mengutus pengikut-Nya untuk membawa kabar baik kepada dunia, Yesus mengakhirinya dengan janji: "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (ayat 20) Jangan melewatkan hal ini. Kristus yang telah bangkit, Immanuel, memimpin pengikut-Nya saat mereka mewujudnyatakan kerajaan-Nya yang penuh kasih kepada umat manusia dan ciptaan, dalam/kepada/bagi dunia. Mari kita pergi! (t/Ayub T.)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Seebed
Alamat situs : http://www.seedbed.com/jesus-cross-resurrection-and-mission/
Judul asli artikel : Jesus Cross, Resurrection, and Mission
Judul asli artikel : Salib Kristus, Kebangkitan, dan Misi
Penulis artikel : Brian Russell
Tanggal akses : 6 April 2017