Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.13 Vol.06/2003 / Pelayanan di Penjara

Pelayanan di Penjara


Kesaksian menarik tentang Mel Goebel berikut ini dituliskan oleh Ron Humphrey. Dia menuliskan bagaimana Mel Goebel men-sharing-kan sukacitanya dengan para narapidana dan mantan narapidana, setelah dia mendapat pengampunan dari Tuhan dan pemerintah.

Sesampainya di kantor pemerintah Negara bagian Nebraska, Mel Goebel melangkahkan kakinya dengan gemetar sementara matanya memandang ke sekeliling ruangan. Dia tahu bahwa kejahatannya yang dulu telah diampuni oleh Tuhan Yesus; tapi apakah pemerintah Nebraska juga akan mengampuninya? Dulu, 16 tahun yang lalu sekitiar tahun 1971, ketika Mel baru berusia belasan tahun, dia terlibat dalam perampokan dan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun. Mel teringat masa lalunya.

Mel menghabiskan dua tahun pertamanya dibalik jeruji besi dengan menjadi penyelundup mariyuana di penjara. Kemudian ia berteman dengan narapidana lain, namanya Fred yang menuliskan "Tersenyumlah, Yesus adalah temanmu" di punggung jaketnya.

"Ceritakan padaku tentang Yesus," ejek Mel pada Fred. "Aku belum pernah melihat kasih dalam diri seseorang."

"Kristus akan memberikan kasih-Nya padamu," jawab Fred. "Dia akan memberimu kedamaian dalam pikiranmu. Dia akan memberi petunjuk dan memenuhi hidupmu dengan sukacita dan kebahagiaan."

Mel teringat pada Yesus yang dikenalnya ketika ia masih anak-anak; dia pergi mengikuti kebaktian dan berdoa. Namun ia pulang ke rumah yang tidak memiliki kasih dan damai yang nyata. Rumahnya penuh dengan perselisihan, pelecehan, dan kata-kata kotor. Jika Yesus itu benar-benar nyata, mengapa Mel tidak merasakan kasih-Nya ketika ia beranjak dewasa?

"Bisa mengalami kasih Allah merupakan perjalanan iman," jawab Fred. "Kamu harus membaca Alkitab dan carilah sendiri jawaban pertanyaan itu."

Karena penasaran, Mel meminjam Alkitab dari kapel dan membaca ayat tentang kasih dan pengampunan. Suatu hari, di balik tirai kamar mandi dia berlutut dan mengakui dosa-dosanya. "Hari itu aku menemukan pengampunan dari Tuhan -- dan kedamaian yang selama ini aku cari."

Sejak saat itu, Mel dan Jane Goebel, istrinya, menyebarkan Berita Sukacita tentang kasih Yesus Kristus. Pada saat itu, fokus perhatian Mel di penjara mulai diubahkan. Selama beberapa bulan, dia belajar untuk memahami dan memandang penjara sebagai suatu tempat dimana ia dapat belajar Alkitab, membangun persahabatan, dan menerapkan kekristenannya.

Pada suatu saat Mel bertemu dengan Dallen Peterson, sukarelawan dari suatu komunitas yang tertarik dengan senyum ceria Mel. Mel terlihat lebih sehat dan wajah pucat yang tidak pucat seperti narapidana lainnya di penjara itu. Peterson adalah seorang pekerja baru yang melayani di sebuah penjara. Sukacita Mel, meskipun hidup di penjara, jauh melebihi sukacita yang dimiliki Peterson, seorang anggota dewan direksi Prison Fellowship Ministries (PFM).

Menurut Dallen hal itu sangat luar biasa. Di penjara, tempat yang paling tidak berpengharapan, Allah memberikan harapan, sukacita, dan tujuan hidup. Di balik jeruji besi, Mel Goebel yang telah diubahkan mengabdikan hidupnya untuk menolong orang lain, khususnya para narapidana dan mantan narapidana seperti dirinya.

Tiba saatnya Mel berdiri di kantor pemerintah negara bagian Nebraska untuk memperoleh selembar kertas pengampunan dari pemerintah negara bagian; sebagai bukti bahwa ia telah membayar kesalahannya. Ia melihat gubernur, sekretaris wilayah, dan dewan pengampunan hukuman ada di depannya. Seorang pengacara pemerintah berdiri dan menguraikan kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan Mel ketika ia masih muda.

Kemudian Dallen Peterson berdiri. Dia menjelaskan tentang hati Mel yang telah diubahkan dan menegaskan keinginan Mel untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif.

Akhirnya, gubernur berdiri dan mengumumkan bahwa Mel Goebel telah diberi pengampunan seutuhnya dan seluruh haknya dipulihkan. Mel mencatat bahwa "Pengampunan diberikan segera oleh Tuhan; tetapi pengampunan dari masyarakat membutuhkan waktu yang lebih lama."

Sampai pada masa pembebasannya, Mel tetap memegang janjinya. Dia menghadiri Prison Fellowship Washington Discipleship Seminar, mendirikan kantor PFM di Colorado, dan memulai persekutuan Filemon (bagi para mantan narapidana). Seiring dengan waktu, ia memperoleh gelar di bidang komunikasi organisasi dari Universitas Nebraska. Teman barunya Dallen Peterson mengundang Mel datang ke rumahnya, yang kemudian memberinya nasehat dan memberi pekerjaan kepadanya.

Saat ini, Mel Goebel adalah seorang pengusaha sukses, namun ia tidak pernah melupakan kasih dan perhatiannya bagi para narapidana dan mantan narapidana. Ketika ia mengingat kembali hari pengampunannya pada tahun 1986, dia berpikir, "Suatu hari nanti kita akan menghadap Allah. Seluruh dosa kita akan disebutkan di hadapan-Nya sama seperti yang aku alami di tahun 1986. Aku tahu bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosaku. Tetapi jika di hadapan pengadilan dunia saja aku sudah gemetaran, apa yang akan dirasakan oleh orang-orang yang tidak percaya pada pengampunan Yesus Kristus di hadapan tahta Allah? Aku tahu Yesus mau mengampuni. Oleh karena itu, aku harus mengatakannya kepada orang lain. Pada diri sendiri kukatakan bahwa melayani di penjara merupakan panggilan bagiku."

Mel memenuhi panggilan itu. Dia menghabiskan waktunya selama 16 tahun menjadi staf Prison Fellowship dan mulai menanjak sampai menjadi direktur regional. Tahun 1994 dia mendirikan Network for Life (NFL), suatu pelayanan bagi para mantan narapidana.

"NFL memperkenalkan gereja-gereja dan masyarakat dalam suatu komunitas yang bersedia menolong masa transisi bagi pria dan wanita yang baru keluar dari penjara," kata Mel. "Kami memperkenalkan mereka melalui program-program Prison Fellowship, karena mereka sudah mengenal cara itu. Kami memulai dengan belajar Alkitab, dan saat ini banyak di antara mereka yang menolong para mantan narapidana selama masa transisi mereka dari penjara."

Mel Goebel mempunyai visi yang jelas mengenai pelayanan termasuk mendirikan "Window King" -- usaha membersihkan jendela yang mempekerjakan para mantan narapidana. Sebagian dari keuntungannya digunakan untuk mendukung pelayanan di penjara. Mel merasakan suatu panggilan 4 tahun yang lalu untuk memisahkan diri dari Prison Fellowship dan memulai biro jasa membersihkan jendela secara profesional yang disebut "Window King" dan berpusat di Colorado. Mel membuka pusat pelayanannya di dekat Denver dan dia mempunyai 17 cabang di seluruh negara. Dia mempekerjakan para mantan narapidana dan mantan anggota geng yang telah memutuskan untuk mengikut Yesus Kristus di tokonya. Sementara itu ada beberapa cabangnya yang kini telah dimiliki dan dikelola oleh para mantan narapidana.

"Hanya ada satu alasan mengapa 'Window King' ada," tegas Mel. "Yaitu untuk mengabarkan Injil. Aku percaya bahwa semua yang aku miliki adalah milik Tuhan dan aku mempunyai tanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang sesuai dengan kemampuanku. Aku mendukung pelayanan-pelayanan seperti Prison Fellowship dan Prison Impact Ministries, yang bertujuan untuk menyebarkan Injil Tuhan. Dan kami memberikan perhatian khusus pada para mantan narapidana dengan memuridkan mereka, bekerja bersama dengan mereka, dan melatih mereka untuk menjadi anggota yang produktif, tidak hanya dalam Tubuh Kristus saja tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat mereka."

Mel harus membagi waktunya antara bisnisnya dan isterinya, Jane, yang telah dinikahinya selama 22 tahun -- yang sekarang harus menggunakan kursi roda karena penyakit multiple sclerosis. Namun demikian, dia masih mempunyai waktu untuk mengadakan 12 kebaktian penginjilan selama satu tahun di penjara-penjara yang ada di Amerika Serikat.

Sumber diterjemahkan dari:

Judul Artikel: Prison Fellowship
Penulis : Ron Humprey
URL : Prison Fellowship Ministries
==> http://www.pfm.org/

e-JEMMi 13/2003