Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Metode Mengabarkan Injil -- Secara Pribadi (MIP)

Metode Mengabarkan Injil -- Secara Pribadi (MIP)


PENDAHULUAN

Mengabarkan Injil secara pribadi (MIP) adalah pemberitaan Injil dalam hidup sehari-hari, dimana seorang yang telah mengenal Kristus berupaya memperkenalkan Kristus kepada orang lain dan mengajaknya menerima Kristus. Lalu orang yang baru menerima Kristus itu dibimbing menjadi saksi Kristus pula.

Tidak ada dua orang yang sama, karena itu tidak ada pula satu metode MIP yang berlaku bagi semua orang. Setiap orang mempunyai kepribadian sendiri. Mereka harus didekati sesuai dengan kepribadiannya. Sangat berbahaya menganggap hanya ada satu metode yang terpaksa harus menjadi pedoman bagi setiap orang.

Kepribadian sukar dirumuskan. Unsur kepribadian antara lain adalah akal atau kecerdasan, perasaan, dan kemauan. Karena itu penginjil harus berusaha mengkomunikasikan Injil kepada akal seseorang, sehingga perasaannya digerakkan, dan kemauannya diserahkan kepada Yesus Kristus. Manusia tak mungkin mengemban tugas ini dengan kepandaiannya sendiri. 'Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.' (2Korintus 3:5)

Karena itu kita harus belajar mengenal kepribadian seseorang, dan menyesuaikan pola pendekatan dan bobot berita Injil yang akan kita sampaikan dengan kepribadian orang itu. Tentang hal ini Paulus berkata, 'Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang' (1Korintus 9:19-23). Kita tak boleh terpaku mengandalkan satu metode tertentu, melainkan menerapkan prinsip-prinsip umum dengan menyesuaikannya pada kebutuhan dan kepribadian orang-seorang.

Namun ada sifat-sifat tertentu yang umum pada semua orang. 'Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu' (Amsal 27:19). Dengan kata lain, kita sering melihat diri kita sendiri tercermin dalam diri sesama kita. Sering reaksi kita sama dengan reaksi mereka, dan perasaan kita sama dengan perasaan mereka. Maka dalam melakukan pendekatan kepada mereka, kita dapat mempertimbangkan reaksi dan perasaan mereka dengan menempatkan diri kita pada posisi mereka sebagai pendengar berita Injil. Dalam menjalankan MIP kita harus selalu memakai metode yang sesuai dengan kepribadian kita sendiri dan juga dengan kepribadian orang yang kita injili. Janganlah meniru metode orang lain kalau itu membuat kita canggung dan kikuk.

I. Contoh-contoh MIP dalam Perjanjian Baru

  1. Tuhan Yesus dengan wanita Samaria (Yohanes 4)

    Ada beberapa hal yang penting kita perhatikan dalam metode Yesus dalam peristiwa ini.

    1. Yesus sengaja mencari wanita itu (Yohanes 4:4).

    2. Yesus tidak terikat pada tradisi dan tidak terpengaruh oleh diskriminasi rasial (Yohanes 4:9).

    3. Yesus memilih waktu yang tidak akan menimbulkan salah paham (4:6). Sebaiknyalah melakukan MIP kepada teman sejenis untuk menghindari motif kita disalahtafsirkan (1Tesalonika 5:22; 2Korintus 6:3).

    4. Yesus seorang diri bercakap-cakap dengan pendengar-Nya (Yohanes 4:8).

    5. Pendekatan Yesus pada hal rohani adalah wajar dan bijaksana; misalnya, Ia minta tolong pada wanita itu (Yohanes 4:7) dan barulah Dia mengarahkan percakapan dari air minum kepada air hidup.

    6. Yesus tidak dibelokkan dari tujuan-Nya oleh pertanyaan mengenai agama (Yohanes 4:20-24).

    7. Yesus memaparkan rahasia keinginan hati perempuan itu (Yohanes 4:15).

    8. Yesus menunjuk kepada dosanya (Yohanes 4:16-18).

    9. Yesus memperkenalkan diriNya sebagai Mesias (Yohanes 4:26). Tujuan MIP ialah membawa orang ke dalam persekutuan dengan Kristus.


  2. Filipus dengan orang Etiopia (Kisah Para Rasul 8:26-40)

    Dalam peristiwa ini juga ada beberapa hal penting yang perlu kita pelajari.

    1. Filipus dipimpin oleh Roh Kudus kepada orang yang dipersiapkan sendiri oleh Roh (Kisah Para Rasul 8:26,29,30).

    2. Filipus segera menanggapi pimpinan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 8:30).

    3. Filipus membuka pembicaraan dengan suatu pertanyaan (Kisah Para Rasul 8:30).

    4. Filipus menyimak pada persoalan orang Etiopia itu sebelum menanggapinya (Kisah Para Rasul 8:34).

    5. Filipus menerangkan tentang Yesus dari Firman Tuhan (Kisah Para Rasul 8:35).

    6. Setelah orang Etiopia itu mengaku percaya, Filipus membaptiskannya (Kisah Para Rasul 8:36-38). Kepercayaannya diteguhkan dalam kesaksian baptisannya di depan pelayan-pelayannya.

    7. Usai tugasnya, Filipus tidak nampak lagi (Kisah Para Rasul 8:39).

    8. Orang yang baru menerima Kristus berjalan pulang dengan sukacita (Kisah Para Rasul 8:39).

II. Contoh-contoh MIP yang dapat dipakai di Indonesia

Dalam suasana kebebasan beragama di Indonesia, dan dalam rangka toleransi beragama serta saling menghormati antar sesama umat beragama, nampaknya mengabarkan Injil secara pribadi adalah yang paling 'bersahabat'. MIP dalam pola komunikasi persahabatan bisa berlangsung di mana saja. Tidak memerlukan alat-alat, gedung gereja, lembaga organisasi maupun acara dan tata kebaktian. Yang kita butuhkan adalah bimbingan Roh Kudus dan keyakinan kita pribadi, bahwa Tuhan berkenan memakai kita sebagai utusan-Nya (2Korintus 5:20).

Dalam rangka itu kita dapat mengabarkan Injil:

  1. Di rumahtangga.

    Di rumahtangga kita sendiri maupun tetangga atau orang lain, kita dapat memakai MIP (Kisah Para Rasul 20:20; Lukas 10:38,39). 2Raja-raja 5:1-5 menceritakan seorang pelayan membawa tuannya kepada Tuhan. Andreas membawa Petrus kepada Kristus (Yohanes 1:40-42). Apakah ada anggota keluarga kita yang belum percaya? Bagaimana pula dengan pembantu kita?

    Dalam MIP perilaku pribadi sebagai penginjil mempunyai peranan yang sangat penting, teristimewa dalam lingkungan rumah dan keluarga sendiri. Kalau ucapan kita tidak selaras dengan perbuatan kita, mereka tidak akan mau mendengarkan berita Injil.

  2. Di Sekolah Minggu atau kelompok studi Alkitab ataupun katekisasi.

    Kita dapat menciptakan kesempatan untuk bicara dengan murid Sekolah Minggu, seorang demi seorang dan membimbing mereka kepada pertobatan dan iman akan Yesus Kristus. Kita dapat mengundang mereka datang ke rumah kita, atau bicara dengan mereka seusai kebaktian Sekolah Minggu.

  3. Seusai kebaktian gereja.

    Kalau ada tamu atau pengunjung gereja yang kita anggap belum percaya, maka kesempatan seusai kebaktian Minggu merupakan kesempatan yang baik untuk berbicara dengan mereka. Kesempatan tersebut tepat untuk membicarakan tentang kepercayaan kepada Yesus. Sayang sekali, umumnya suasana usai kebaktian cukup ramai, sehingga sukar mengajak orang membicarakan hal-hal rohani.

    Kebaktian khusus seperti perayaan Natal dan Paskah, yang biasanya dirayakan bersama undangan, adalah kesempatan yang sangat baik untuk bicara dengan orang yang belum percaya.

  4. Dalam perjalanan.

    Bis atau kereta api adalah tempat dimana kita bertemu dengan masyarakat untuk jangka waktu yang cukup panjang. Sewaktu menunggu kendaraan, kita dapat berdoa supaya Tuhan memimpin kita kepada orang yang sudah dipersiapkan oleh Roh Kudus.

  5. Di tempat kerja (Matius 9:9).

    Ini merupakan lapangan yang luas dan mempunyai tuntutan yang sangat berat. Teman sekerja tidak akan mengindahkan ucapan kita kalau kelakuan kita tidak baik, atau kalau kita malas bekerja. Hidup pribadi kita adalah kesaksian yang paling efektif karena kita tidak bisa menggunakan jam kerja untuk mengabarkan Injil.

  6. Kepada orang sakit (Markus 2:1-12; Yohanes 9:1-7, 35-38).

    Mengunjungi pasien-pasien di rumah sakit merupakan upaya mengabarkan Injil yang sangat mengesankan. Kalau kita belum mengenal penderita, maka kita harus minta izin lebih dahulu dari rumah sakit itu. Kita wajib menaati segala peraturan yang berlaku.

III. Tanggung Jawab Umum

Setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 1:8). Masing-masing bertanggung jawab mengupayakan orang lain bagi Kristus. Ini tidak berarti bahwa kita harus bersaksi tentang Kristus kepada setiap orang yang kita jumpai. Adalah bijaksana sekali kalau kita berdoa, memohon supaya Tuhan menunjukkan kepada kita seseorang -- mungkin teman, tetangga, teman sekerja ataupun anggota keluarga kita sendiri. Kita mempunyai paling sedikit empat kewajiban terhadap orang yang akan kita bawa kepada Kristus.

  1. Berdoa
    Catatlah namanya (atau nama mereka) dan doakanlah dengan teratur, khususnya memohon supaya mereka bertobat.

  2. Teladan
    Mereka akan segan dan tak acuh mendengar kata-kata kita mengenai Yesus Kristus, jika mereka tidak lebih dulu menyaksikan Yesus dalam hidup kita. Teladan kekristenan tidak dapat dipaksakan atau dibuat- buat, melainkan wajar. Bahkan kita sendiri sukar menyadarinya (Matius 5:16), karena itu adalah dampak dari hidup pribadi kita dengan Kristus.

  3. Bersahabat
    Kita wajib mengasihi sesama sebagai insan pribadi yang patut dihargai dan dihormati. Jadi bukan karena data statistik, yaitu seolah-olah dia tidak lebih daripada satu orang yang harus diselamatkan terlepas dari kepribadiannya seutuhnya.

  4. Bila kita mau menjadi sahabat seseorang, kita wajib berbicara kepadanya tentang Kristus. Persahabatan Kristen yang sungguh membutuhkan banyak waktu dan adalah tantangan hebat bagi kita. Sebelum membicarakan secara khusus mengenai pertobatan dan ihwal kekristenan dengan seorang sahabat, kita dapat membawa dia ke gereja atau ke suatu kebaktian lain untuk mendengarkan Injil. Juga meminjamkan atau menyarankan dia membaca buku Kristen.

  5. Bersaksi
    Doa, teladan hidup praktis, dan persahabatan meskipun sangat perlu, tidaklah membebaskan kita dari kewajiban memberi kesaksian pribadi tentang Kristus kepada sahabat kita. Cepat atau lambat kesempatan itu akan datang. Tidak dapat dipaksakan, karena justru kurun waktu ini adalah masa yang mencemaskan. Baiklah kita menunggu kesempatan itu dengan doa dan pengharapan, dan bila tiba waktunya gunakanlah segera.

IV. Beberapa Petunjuk Pokok

Kalau kesempatan itu sudah tiba, beberapa petunjuk pembimbing bisa dijadikan sebagai pedoman.

  1. Carilah tempat dan waktu yang tenang untuk bicara
    Hindarilah hal-hal yang dapat mengganggu pembicaraan itu.

  2. Sediakan Alkitab
    Alkitab mutlak harus ada, guna memungkinkan kita dapat bersama-sama melihat ayat-ayat inti. Dari awal pembicaraan harus jelas, bahwa berita yang kita sampaikan bukan dari diri kita sendiri, melainkan Firman yang berasal dari Tuhan. Tujuan kita ialah, supaya Tuhan sendiri yang berbicara kepada sahabat itu dengan perantaraan Firman- Nya.

  3. Berita jelas dan sederhana
    Sebisa-bisa mungkin pemberitaan kita jelas, sederhana dan mudah dipahami.

  4. Mungkin sang sahabat sedang menghadapi suatu soal atau kesukaran.
    Kita tidak boleh masa bodoh terhadap hal itu. Kita harus turut prihatin merasakannya. Namun kita harus berusaha supaya tidak menyimpang dari pokok berita yang kita sampaikan. Kita harus terus melanjutkan percakapan tentang Kristus dan kebutuhan kita akan Dia.

  5. Lugas dan sopan
    Jangan lupa, seorang yang belum percaya masih 'buta'. Adalah suatu kebodohan kalau kita kehilangan kesabaran karena ia 'buta' sehingga tidak dapat melihat. Baiklah kita berusaha tidak marah. Juga menghindari perdebatan apalagi perbantahan. Kalau dia tak dapat atau sukar mengerti apalagi setuju, bahkan kalau nampak ia tidak sungguh- sungguh mencari Tuhan, baiklah dulu menghentikan percakapan itu. Dalam hal demikian kita dituntut berdoa lebih banyak, sambil menunggu kesempatan untuk bersaksi lagi.

  6. Kesaksian pribadi menopang dan menghidupkan pemberitaan
    Kita dipanggil bukan melulu hanya untuk menjelaskan siapa Kristus, apa yang telah dikerjakan Kristus dan apa yang dapat diperbuat-Nya untuk sahabat kita. Tapi kita juga wajib memberikan kesaksian kita pribadi tentang pengalaman kita sendiri dengan Kristus.

  7. Tetap memandang kepada Tuhan selama percakapan
    Hanya Roh Kudus-lah yang dapat membuka mata hati orang yang belum percaya. Kiranya Tuhan berkenan menggunakan kata-kata kita membuka mata. rohani orang itu, dan baiklah kita ingat bahwa kita adalah alat Tuhan. Tuhan sendirilah yang dapat membuka mata hati orang yang 'buta' itu.

V. Pemberitaan Injil

Ada banyak cara untuk memberitakan Injil. Namun perlu kita sadari, bahwa masalah orang-orang yang membutuhkan berita Injil adalah bermacam-macam. Kepribadian mereka juga bermacam-macam. Karena itu pola pengabaran Injil harus lugas dan bervariasi -- tidak boleh kaku dan terpaku pada satu metode.

Sekalipun demikian kita akan tertolong bila mengingat, bahwa orang yang mau datang kepada Kristus pada dasarnya menempuh tahapan- tahapan seperti dikemukakan di bawah ini. Juga penting sekali mengingat beberapa ayat yang terkait dengan tahapan-tahapan itu:

  1. Sesuatu untuk diakui.
  2. Sesuatu untuk dipercayai.
  3. Sesuatu untuk dipertimbangkan.
  4. Sesuatu untuk diperbuat.

  1. Sesuatu untuk diakui: bahwa kita adalah orang berdosa dan memerlukan penyelamatan

    Menurut Firman Allah, kita adalah orang-orang yang:

    1. Berdosa.
      Alkitab memberi arti negatif, 'dosa' adalah kegagalan (Roma 3:22,23), dan 'dosa' adalah pemberontakan melawan Tuhan dan kekuasaan-Nya (1Yohanes 3:4; bnd Matius 22:36-40).

    2. Bersalah.
      Dosa-dosa kita mengakibatkan kita jatuh di bawah pengadilan Allah yang adil, dan menjauhkan kita dari Dia (Yesaya 59:1,2; Filemon 6:23).

    3. Tak berdaya.
      Kita tak berdaya untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Apa pun usaha kita, dan betapa kerasnya pun kita berusaha, kita pasti gagal; kebenaran dan kesalehan kita tidak bersih di mata Allah Yang Mahakudus (Yesaya 64:6). Karena itu tak seorang pun dapat selamat oleh perbuatan baiknya (Efesus 2:8,9). Justru kita memerlukan juruselamat.

  2. Sesuatu untuk dipercayai: Yesus Kristus datang dan mati untuk menjadi Juruselamat kita

    Orang bisa saja mengakui bahwa dia membutuhkan juruselamat. Tapi pengakuan itu belum cukup. Dia harus percaya bahwa Yesus ialah Juruselamat satu-satunya yang dia perlukan. Kemampuan Yesus menyelamatkan baru jelas bila seorang mengerti siapa Dia dan apa yang telah Dia perbuat.

    1. Yesus adalah Tuhan dan manusia sekaligus (1Timotius 2:5,6).

    2. Yesus telah mati untuk dosa-dosa kita (Yesaya 53:5,6; 1Petrus 2:24; 3:18).

  3. Sesuatu untuk dipertimbangkan: Kristus bukan hanya Juruselamat kita, tapi juga Tuhan kita

    Orang Kristen menyerah tanpa syarat kepada Kristus, sesuai dengan kepribadian Kristus. Artinya, kita tidak boleh mengambil dan memilih hanya segi-segi tertentu saja dari Kristus, dan menyerahkan diri hanya pada segi-segi tertentu itu karena kebetulan cocok dengan selera kita sendiri. Itu sama sekali tidak boleh, karena Yesus adalah Juruselamat sekaligus Tuhan dan Raja, yang tuntutan dan kedaulatan-Nya mutlak atas hidup kita seutuhnya.

    Penyerahan yang benar dan sungguh, mustahil tanpa:

    1. Pertobatan.
      Kita harus berbalik dari dosa-dosa lama maupun dari dosa-dosa kini yang biasa kita lakukan (Kisah Para Rasul 3:19).

    2. Penyerahan diri.
      Kita harus menyerahkan diri kepada kuasa Kristus untuk hidup kita selanjutnya (Markus 8:34; Yohanes 13:13; Lukas 14:25-35).

  4. Sesuatu untuk diperbuat: menyerahkan diri kita kepada Kristus sebagai Juruselamat pribadi dan Tuhan

    Penyerahan diri meliputi baik mempercayai Kristus dan mempercayakan diri kepada Dia sebagai Juruselamat, sekaligus pasrah berserah kepada Dia dan mematuhi-Nya selaku Tuhan.

    Dalam Perjanjian Baru, 'penyerahan diri' diuraikan dalam dua sisi:

    1. 'Datang' kepada Kristus, supaya Dia menerima kita (Matius 11:28; Yohanes 6:37).

    2. 'Menerima' Kristus, supaya Dia datang kepada kita (Yohanes 1:12; Wahyu 3:20).

    Kalau kita yakin bahwa sahabat itu sudah siap untuk bertobat, maka baik sekali mengajak dia berdoa pada saat itu juga. Tapi janganlah memaksa dia mengambil langkah itu. Kalau dia belum yakin, maka bijaksana sekali mempersilakan dia pulang untuk mengambil keputusan sendiri. Jika yang terjadi adalah demikian, mohonlah supaya dia memberitahu bila dia telah mengambil keputusan. Kalau dia berjanji akan memberitahu kemudian, buatlah perjanjian (sebelum dia pergi) untuk bertemu lagi.

Diedit dari sumber:

Judul Buku : Pedoman Penginjilan
Judul Artikel: Metode Mengabarkan Injil - Secara Pribadi (MIP)
Penulis : D.W. Ellis
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF - 1993
Hal : 127 - 134

e-JEMMi 20/2004