Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Misi -- Apakah Itu?

Misi -- Apakah Itu?


Sidang Raya ke-4 Persekutuan Injili Afrika dan Madagaskar telah mencetuskan deklarasi: 'Jemaat lokal berdiri atas kehendak ilahi dan adalah persekutuan orang-orang kudus yang dipanggil dari dunia, untuk menyatakan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus Kristus, dan yang bersama-sama dipanggil untuk suatu tujuan.'

Simaklah ungkapan 'bersama-sama dipanggil untuk suatu tujuan'. Hal ini jelas menunjukkan, bahwa jemaat lokal dipanggil untuk melaksanakan kehendak Allah. Dengan perkataan lain, jemaat lokal adalah jemaat yang bermisi.

Untuk memahami misi jemaat lokal, kita harus ingat bahwa misinya itu adalah bagian dari misi Gereja Am. Misi jemaat lokal di Yogyakarta tidak berbeda dengan misi jemaat lokal di Medan atau di Bangkok atau di Amerika. Perintah dan isi misi itu sama. Namun cara setiap jemaat lokal menanggapi mandat ini bisa berbeda sesuai kondisi dan situasi setempat.

  1. Misi melebihi aksi sosial.

    Betapapun pentingnya pembebasan sosial, politik, dan ekonomi, misi jemaat tidaklah dimaksudkan terutama untuk hal itu. Tentu kesadaran orang Kristen terhadap masalah sosial, politik, dan ekonomi menjadi celik dan bangkit oleh ajaran dan pemberitaan Injil, sehingga mereka peka terhadap situasi nasional dan internasional (Matius 5:13). Garam berfungsi mencegah pembusukan. Kita juga, sebagai murid Kristus, harus bersikap tegas menentang kejahatan perseorangan, kejahatan sosial, dan struktural. Kita tidak dapat tinggal diam menyaksikan kejahatan dan ketidakadilan.

    Tapi hal ini sekali-kali tidak berarti bahwa jemaat lokal harus mengorganisir dirinya menjadi organisasi massa yang terlibat dalam gerakan sosio-politik praktis. Kendati Tuhan Yesus sendiri mengajar para murid-Nya menentang kejahatan dalam bentuk apa pun, Ia tidak pernah mengarahkan atau merekayasa mereka untuk terjun ke dalam gerakan praktis politik pembebasan untuk menentang pemerintah Roma, atau ke dalam gerakan sosial melawan para tokoh agama Yahudi. Menjadi garam dunia adalah bagian dari pemuridan Kristen yang dituntut dari setiap warga jemaat lokal. Namun menggarami dunia bukan merupakan bagian dari Amanat Agung yang Kristus berikan kepada seluruh gereja-Nya.

  2. Misi melebihi keprihatinan sosial.

    Jemaat harus peka terhadap masalah kelaparan, kemiskinan, dan penderitaan di dunia ini. Dan jemaat wajib terlibat berkorban untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Tuhan Yesus berkata, 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri' (Matius 22:39). Untuk mematuhi perintah ini, setiap warga jemaat lokal wajib memperhatikan kebutuhan jasmani masyarakat sekitarnya. Jemaat sebagai satu kesatuan yang utuh wajib terlibat dalam upaya mencukupi kebutuhan mereka. Hanya melalui pelayanan nyata dan dengan kerendahan hati, kesaksian verbal dari jemaat memperoleh pengakuan. Namun pelayanan demikian pada dirinya bukanlah penggenapan misi jemaat lokal. Jemaat lokal harus memberikan kesaksian verbal, yakni memberitakan Injil kepada masyarakat sekitarnya.

    Penginjilan bukanlah kegiatan yang setara dengan keprihatinan sosial. Memang ada penginjil yang menyatakan bahwa penginjilan dan keprihatinan sosial adalah sama. Hal itu tidak benar dan tidak alkitabiah. Alkitab mengajarkan betapa hal yang rohani jauh lebih penting daripada yang jasmani dan yang sosial. Keselamatan yang Yesus berikan kepada manusia seperti yang dibicarakan dalam Alkitab adalah keselamatan rohani. Keselamatan dari dosa dan yang menuntut kita kepada hidup persekutuan dengan Allah dan taat kepada kehendak- Nya. Justru kewajiban memberitakan Injil untuk menghimbau orang supaya percaya kepada Kristus, menjadi murid-Nya dan bergabung dalam jemaat-Nya adalah yang terpenting. Hal itu sekali-kali tidak dapat dianggap sama dengan bantuan dana dan pembangunan atau pelayanan sosial.

  3. Misi melebihi keterlibatan lokal.

    Pendapat umum mengatakan, bahwa tuntas sudah kewajiban seorang Kristen bila ia aktif terlibat dalam kegiatan penginjilan terhadap masyarakat di sekitarnya. Tidak perlu lagi terlibat dalam upaya penginjilan terhadap masyarakat yang berbeda budaya, bahasa dan negeri. Konsep pemikiran demikian adalah keliru.

    Mengamati Amanat Agung Kristus, kita temukan ungkapan-ungkapan: 'semua bangsa' (Matius 28:19); 'segala makhluk' (Markus 16:15); 'segala bangsa' (Lukas 24:47); 'ke dalam dunia' (Yohanes 17:18); 'ke ujung bumi' (Kisah 1:8). Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa murid-murid-Nya harus menuntaskan dulu penginjilan di Yerusalem baru kemudian bergerak ke Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Kata penghubung 'dan' menunjukkan bahwa kesaksian Kristen itu harus serentak dilakukan di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan di ujung bumi. Jemaat yang punya kemampuan tapi tidak melibatkan diri dalam upaya penginjilan lintas budaya (setidak-tidaknya melalui dukungan doa), belum menggenapi misinya sebagaimana mestinya.

    Konstitusi Gereja India Selatan mengemukakan hal ini dengan tepat sekali. 'Setiap warga jemaat Allah wajib menunaikan misinya di lingkungannya, bahkan sampai ke ujung bumi'.

  4. Misi berarti penginjilan.

    Warga yang ideal dari suatu jemaat lokal peka terhadap isu politik, ketidakadilan sosial-ekonomi, dan penindasan. Mereka bangkit menentang sekaligus memperbaiki kebobrokan demikian, sesuai tanggung jawab moral kristianinya. Jemaat wajib terlibat melayani kebutuhan masyarakat. Dalam rangka pemuridan yang bertanggung jawab dan pelayanan, jemaat memproklamirkan Injil kepada lingkungannya dan terlibat dalam penyebaran Injil kepada segala bangsa di bumi.

    Kita tidak menganggap keprihatinan sosial berbeda dan terpisah sama sekali dari penginjilan. Penginjilan yang efektif dan yang mendampakkan kemuliaan bagi Kristus, dapat terjadi hanya di tengah-tengah pelayanan sosial yang tulus. Kendati demikian keprihatinan sosial dan penginjilan tidaklah setara dan sama. Dalam misi jemaat lokal, penginjilan (yakni penginjilan pada masyarakat sekitar) adalah yang utama. 'Pelayanan penginjilan adalah misi utama jemaat yang penuh pengorbanan. Penginjilan dunia menuntut seluruh gereja untuk memberitakan Injil seutuhnya kepada dunia. Gereja adalah pusat tujuan Allah dan sarana yang dipilih Allah untuk menyebar-luaskan Injil' (Lausanne Covenant).

  5. Misi berarti juga mendirikan jemaat.

    Misi jemaat lokal tidaklah melulu pemberitaan Injil. Dalam misi itu tentu termasuk rencana mendirikan jemaat-jemaat di tengah-tengah permukiman masyarakat, kepada siapa Injil itu diberitakan. Misi jemat lokal ialah penginjilan dengan rencana mendirikan jemaat-jemaat di wilayah sekelilingnya dan di dunia. Jemaat lokal menghadirkan dirinya di wilayah sekelilingnya dan di lapangan misinya. Tokoh-tokoh jemaat Yerusalem berpencar akibat penganiayaan. Beberapa di antara mereka berasal dari Kirene dan Siprus. Mereka ke Antiokhia, mengabarkan Injil dan mendirikan jemaat di sana. Inilah pola misi yang alkitabiah. Tujuan misi ialah mendirikan jemaat Yesus Kristus di tempat-tempat di mana belum ada jemaat. Jemaat adalah pusat tujuan misi Allah. 'Supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga.' (Efesus 3:10)

    Jemaat adalah tanda dan 'panjar rasa' dari Kerajaan Allah, yang menjadi tujuan akhir dan harapan kita. Kerajaan Allah bukanlah kerajaan utopia yang didirikan oleh kemelut pertarungan manusia melawan pemerintah-pemerintah yang lalim. Kerajaan Allah adalah Kerajaan rohani, yang bertumbuh bila jemaat didirikan di antara bangsa-bangsa di dunia ini, dan bangsa-bangsa serta suku-suku bangsa tunduk di bawah kedaulatan pemerintahan Allah. Selanjutnya, melalui campur tangan Allah yang supra-alami, Kerajaan Allah dalam ujudnya yang terpadu seutuhnya akan dinyatakan di dunia ini.

    Dalam hal ini kita hanya membicarakan penginjilan lintas budaya, dan menyebutnya 'misi'. Misi ini selalu menghadapi kendala-kendala baru. Sekelompok masyarakat dengan bahasa, budaya, etnis atau sosial yang berbeda, bukan saja ada di daerah pegunungan, hutan dan lembah terpencil, tapi juga di kota-kota besar dan kecil. Misalnya, orang Sindhis di kota-kota India. Mereka masyarakat minoritas yang erat ikatan kekeluargaannya, dan umumnya hidup berdagang. Memang, beberapa orang Sindhi telah menjadi Kristen, tapi sampai sekarang, di manapun di dunia ini, belum ditemukan satu pun jemaat Kristen Sindhi. Hal yang sama terjadi pula di Indonesia. Masyarakat Suku Sakai, Suku Sasak, misalnya, masih belum terjangkau Injil. Demikian juga pedagang Cina di kota-kota di Riau kepulauan dan di pulau-pulau lain di Indonesia Timur. Padahal di kota-kota itu ada gereja.

    Pengertian yang benar dan alkitabiah akan menolong kita mengerti misi alkitabiah. Jemaat lokal merupakan sarana untuk memasuki misi lintas budaya. Tujuan seluruh tugas misi adalah untuk mendirikan dan membina jemaat. Tugas misi lahir dari keprihatinan orang percaya akan pertumbuhan dan kesempurnaan gereja universal milik Kristus. Untuk mencapai pelayanan misi yang efektif, maka misi harus berpusat pada jemaat. Tujuan utama misi adalah untuk membangun jemaat. Tujuan akhir pelayanan misi harus mengarah pada pembangunan dan penyempurnaan masyarakat sorgawi yang baru, warga baru Kerajaan Allah yang mandiri. (Michael Griffiths, Cinderella with Amnesia, hlm. 154, 138, 136)

Diambil dari:

Judul buku : Misi dan Jemaat Lokal
Judul artikel : Misi -- Apakah Itu?
Penulis : Theodore Williams
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta
Halaman : 8 - 14

e-JEMMi 46/2003