Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Memahami Agama Islam

Memahami Agama Islam


Kata "Islam" berasal dari akar kata bahasa Arab yang menandakan kepatuhan. Sebagai istilah agama, akar kata tersebut biasanya berarti kepatuhan terhadap Allah. Penganut agama ini disebut Muslim (artinya orang-orang yang tunduk). Sikap umat Islam terhadap agama diatur oleh Al-Qur'an 4:125:

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Islam mencoba menjadi agama yang patuh terhadap Allah; sebuah kepatuhan yang idealnya terwujud dalam beragam tindakan, khususnya dalam perbuatan baik. Umat Islam meyakini bahwa Abraham adalah penganut agama Islam; seperti telah diketahui, hidupnya adalah teladan dan pantas ditiru.

Untuk lebih memahami perkembangan Islam sebagai sistem agama, penting untuk mempelajari sejarah Islam. Sejarahnya sangat penting saat dipandang dari budaya Arab pra-Islam.

Munculnya Islam

Di daerah Arabia, masa sebelum Islam dikenal sebagai "masa kebodohan". Mayoritas penduduknya adalah kaum nomaden gurun yang politeistis -- percaya pada satu Allah yang paling berkuasa dan dikelilingi oleh allah-allah yang lain. Takhayul sangat berpengaruh dalam rutinitas sehari-hari. Takhayul itu terlihat jelas di kota Mekkah, pusat ekonomi dan agama yang terletak di bagian barat Arabia. Orang-orang Mekkah yang tinggal di persimpangan beberapa rute dagang tersebut mengembangkan politeisme mereka untuk mengukuhkan kekuatan ekonomi. Para peziarah dan pedagang dari suku-suku di sekitarnya ditarik ke sebuah tempat suci, Ka'bah, di Mekkah.

Meski Alkitab telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa (misalnya, bahasa Koptik, Ethiopia, dan Siria) sebelum abad ke-6, Perjanjian Baru mungkin belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab sampai tahun 720 M (yakni kira-kira seabad setelah era Muhammad). Jadi, walaupun ada kelompok-kelompok orang Yahudi dan Kristen yang tersebar yang tinggal di jazirah Arab sebelum Islam, tampaknya sangat kecil antusiasme spiritual di antara orang-orang Kristen tersebut dan tidak ada usaha yang cukup untuk menginjili suku-suku penyembah berhala di sana.

Muhammad lahir sekitar tahun 570 M di Mekkah. Ada kemungkinan ia mengetahui sedikit ajaran-ajaran orang Yahudi dan Kristen selama perjalanan-perjalanannya bersama para kafilah pedagang. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat dilihat dalam perkembangan agama Islam. Pada dasarnya ia adalah seorang yang religius dan sering bertafakur [melakukan meditasi, Red.]. Setelah pernikahannya dengan Khadijah, seorang janda kaya, ia bebas menggunakan semakin banyak waktu untuk bermeditasi. Dalam sebuah penglihatan yang ia terima dalam sebuah gua di Hira, ia merasa dirinya dipanggil sebagai nabi Allah. Ia terbeban untuk memperingatkan orang-orang Arab tentang hari penghakiman dan untuk membawa mereka patuh serta tunduk secara mutlak terhadap Allah supaya terhindar dari murka-Nya. Pada mulanya, ia hanya menceritakan penglihatannya itu kepada teman-temannya; hanya bertahun-tahun kemudian barulah ia membagikan visinya itu kepada orang-orang luar.

Seperti yang dapat diperkirakan, ada banyak perlawanan yang terjadi di Mekkah karena ajaran ini mengancam keseimbangan religius dan ekonomi kota tersebut. Pengagum antusiasnya membawa ajaran itu ke Medinah. Pada 622 M, Muhammad pindah ke Medinah untuk menghindari penganiayaan. Peristiwa ini, disebut sebagai Hijra, adalah titik mula kalender Islam.

Muhammad adalah seseorang yang berkepribadian dan berkemauan kuat, seorang administrator yang berpengaruh dengan kemampuan untuk membuat pengikutnya merasa dihargai dan diperlakukan dengan adil. Kemampuan tersebut, ditambah dengan kesetiaan para pengikutnya, memampukan agama baru itu menyebar dengan cepat ke seluruh jazirah Arab. Setelah kematian Muhammad pada 632 M, para kalifah (penerus sang nabi), membawa Islam ke Afrika Utara, Asia, dan sampai ke Eropa Selatan. Kurang dari seabad setelah kematian Muhammad, Islam menjadi sebuah kekuatan agama yang mencakup struktur ekonomi, budaya, dan politik kehidupan sehari-hari.

Al-Qur'an

Islam membedakan dirinya dari agama lain dengan kitab sucinya, Al-Qur'an (yang artinya bacaan), yang secara kedudukan berada di atas semua kitab-kitab religius lain. Bersama dengan Hadits, atau buku-buku tradisi, Al-Qur'an merupakan penuntun tingkah laku umat Islam yang sifatnya mengikat.

Asal Mula Al-Qur'an

Umat Islam mengatakan bahwa ketika di gua Hira, Muhammad mendengar suara Allah melalui perantaraan spiritual atau malaikat, kemungkinan besar malaikat Gabriel. Kata-kata di Al-Qur'an diyakini merupakan bagian dari sebuah kitab yang secara utuh hanya ada di surga. Oleh karena itu, umat Islam sering kali mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Pernyataan itu dengan jelas dicerminkan oleh pembagian Al-Qur'an ke dalam "surah-surah" (yakni, rentetan, wahyu). Karena Al-Qur'an didiktekan kepada Muhammad, maka kepribadian dan pemahaman Muhammad tidak turut andil dalam wahyu Al-Qur'an.

Al-Qur'an tidak dikumpulkan dalam bentuk buku selama masa hidup Muhammad. Muhammad membacakannya (dari ingatan) kepada pengikutnya, yang kemudian menghafalkannya dan menuliskannya ke dalam bagian-bagian yang tersebar. Kalifah yang pertama, Abu Bakar, memerintahkan Zaid, asisten Muhammad, untuk mengumpulkan dan menyusun teks dari berbagai sumber (634 M). Yang paling utama dari sumber-sumber tersebut adalah bagian-bagian yang dihafalkan oleh sahabat-sahabat Muhammad. Pada masa pemerintahan kalifah yang ketiga, Usman, ada begitu banyak teks yang berbeda sehingga ia memerintahkan untuk menyusun dan mengesahkan satu versi Al-Qur'an yang resmi. Pada 657 M, semua teks yang sebelumnya dianggap sesat dan dibakar.

Gaya Al-Qur'an

Umat Islam mengklaim bahwa terjemahan Al-Qur'an dari bahasa Arab ke bahasa lain pasti akan merusak makna aslinya (bd. Al-Qur'an 43:2-4). Hanya makna umumnya, kurang sempurna dan tidak berkuasa, yang dapat diterjemahkan ke bahasa lain. Jadi selama berabad-abad, umat Islam yang beriman, apa pun bahasa ibunya, membaca dan menghafalkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, "bahasa yang dipakai di surga". Namun demikian, meski ada anggapan seperti itu, kini mereka memiliki rasa kewajiban untuk menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam banyak bahasa lain. Judul terjemahan-terjemahan mereka, yang sering kali menyertakan kata-kata seperti "interpretasi" atau "pesan", menyiratkan anggapan tadi.

Al-Qur'an dibagi menjadi 114 bab yang disebut "surah". "Surah" itu diatur berdasar panjangnya, dari yang terpanjang sampai yang terpendek, kecuali yang pertama, yang disebut Pembukaan. Beberapa pakar Al-Qur'an mengatakan bahwa ada pertalian antara baris pertama sebuah surah dengan baris terakhir surah sebelumnya. Banyak surah mengandung kalimat yang mengindikasikan tempat pewahyuan, baik itu Mekkah atau Medinah. Pada surah-surah awal, gaya bahasanya lebih liris dan penuh perasaan. Surah-surah berikutnya cenderung kurang puitis dan lebih menekankan pengajaran etika. Surah-surah yang ada di bagian awal juga membuktikan adanya toleransi terhadap orang Kristen dan Yahudi; surah-surah yang berikutnya mencerminkan penyangkalan bahwa Muhammad dan pesannya dipengaruhi oleh orang Kristen dan Yahudi.

Isi Al-Qur'an

Bentuk dan isi Al-Qur'an jelas dipengaruhi oleh realita politik yang dihadapi Muhammad dan pengikutnya. Keterbukaan terhadap orang Yahudi dan Kristen juga memengaruhi pemikiran Muhammad, misalnya Al-Qur'an menceritakan ulang, dengan beberapa perubahan, beberapa tradisi Yahudi dan Kristen serta cerita-cerita Alkitab. Sepertinya hal tersebut ada dalam Al-Qur'an untuk mengembangkan rasa keberlangsungan dengan Yudaisme dan kekristenan. Umat Islam mengklaim bahwa orang Yahudi dan Kristen merusak pesan Alkitab. Ada dikatakan bahwa Muhammad menerima wahyu Allah yang terakhir diwahyukan kepada manusia, untuk mengoreksi dan menggantikan Yudaisme dan kekristenan.

Isi Al-Qur'an dikategorikan menjadi tiga aspek penting: peringatan-peringatan akan hari penghakiman yang akan datang, kisah nabi-nabi, dan hukum-hukum untuk mengatur komunitas Islam. Sedikit informasi mengenai doktrin tentang Allah, penciptaan, dunia roh, surga, dan neraka tersebar di seluruh Al-Qur'an. Sejatinya, Al- Qur'an adalah panggilan untuk percaya pada satu Tuhan, Allah.

Otoritas Al-Qur'an

Al-Qur'an dianggap oleh umat Islam sebagai suatu mukjizat dari Allah, kekal dan tidak diciptakan, yang dikirim turun dari surga. Keberadaan Al-Qur'an itu sendiri digunakan oleh Muhammad sebagai bukti kerasulannya (Al-Qur'an 10:38-39). Isinya dianggap benar dan mengikat perilaku umat Islam. Meski orang Kristen tidak mengakui sumber ilahi Al-Qur'an, namun penting bagi Anda untuk mengetahui isinya. Anda mungkin akan kesulitan memahami pola-pola pikiran, gaya bahasa, dan ekspresi-ekspresinya. Namun saat Anda mulai memberitakan Kabar Baik kepada mereka, Anda akan dapat memahami pola pikir mereka. Hal itu mungkin akan terbukti bernilai ketika Anda mendorong mereka untuk membaca Alkitab.

Hadits

Selain Al-Qur'an, umat Islam juga bergantung pada Hadits [juga dieja Hadis, Red.], atau tradisi. Tradisi-tradisi tersebut membentuk sebuah perpustakaan luas yang berisi catatan-catatan tentang apa yang Muhammad (atau teman-temannya) pernah katakan dan lakukan. Beberapa catatan yang ada itu juga berasal dari tradisi Yahudi dan Kristen. Karena Islam berusaha menjawab banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dan mengatur banyak detail-detail kehidupan, tradisi-tradisi yang dikumpulkan itu melingkupi beragam subjek: ajaran-ajaran moral, tugas-tugas agama, masalah-masalah hukum, kisah nabi-nabi, dan dunia yang akan datang.

Otoritas dari tradisi dikukuhkan berdasarkan pada keyakinan bahwa semua yang dikatakan dan dilakukan Muhammad adalah berdasarkan pewahyuan. Beberapa umat Islam mengatakan bahwa Hadits memiliki otoritas yang sama dengan Al-Qur'an, tapi banyak yang menempatkannya lebih rendah daripada Al-Qur'an. Pada dasarnya, tradisi berperan sebagai pelengkap Al-Qur'an. Para pengajar dan penulis agama Islam mengutip secara bebas apa pun dari tradisi untuk mendukung sudut pandang mereka.

Sebuah contoh dari tradisi-tradisi mungkin akan membantu. Contoh ini berasal dari Empat Puluh Tradisi An-Nawawi[1].

Hadits 34 "Dari Abu Sa'id al-Khudri radiallahuanhu yang berkata: Saya mendengar Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman." Umat Islam percaya kepada hal ini

Ada enam koleksi utama dari tradisi Muslim. Penyunting dari contoh di atas hanya dikenal dengan nama "Muslim". Penyunting yang lain, al-Bukhari, mungkin adalah penyunting yang paling dihormati dan paling banyak dikutip dari semua penyunting yang lain.

Seberapa dapat dipercayakah tradisi-tradisi itu? Seseorang berkata bahwa tradisi, seperti alam, membenci kevakuman. Kapan pun ada pertanyaan atau masalah penting, tradisi-tradisi muncul untuk menjembataninya sehingga tercapai sebuah pemahaman. Banyak tradisi yang palsu; ada banyak ketidakcocokan dan pertentangan di antara tradisi-tradisi. Masalah-masalah yang pelik muncul saat umat Islam harus menentukan tradisi mana yang asli. Yusuf al-Qaradawi mengakui hal ini:

Subjek tersebut, terlebih lagi, memaksa penulis untuk yakin mengenai banyak hal yang telah dimengerti secara berbeda oleh cendekiawan terdahulu dan yang membingungkan cendekiawan masa kini. Akibatnya, dalam memilih pendapat seseorang atau orang lain dalam hal-hal yang berhubungan dengan halal dan haram dalam Islam membutuhkan kesabaran, penelitian yang saksama, dan pemerasan daya intelektual ....

Kata Imam Malik, "Kata-kata seseorang selain sang Nabi (S.A.W.) terkadang diterima dan terkadang ditolak." Dan Imam Shafi'i berkata, "Pendapat saya adalah benar dengan adanya kemungkinan kesalahan di dalamnya. Pendapat yang berbeda dengan pendapat saya adalah salah dengan kemungkinan adanya kebenaran di dalamnya."

Aturan-aturan telah dikembangkan untuk menilai legitimasi [sebuah tradisi], namun aturan-aturan itu sendiri kurang begitu bagus. Banyak yang mengutip apa pun yang mendukung pernyataan mereka. Namun masalah ini tidak terbatas hanya pada Islam, Yudaisme dan kekristenan juga memiliki tradisi-tradisi, dan banyak di antaranya yang gagal dalam uji keakuratan sejarah.

Tradisi Muslim juga menjadi masalah karena beberapa bagian Injil terdengar oleh Muslim seperti tradisi mereka sendiri. Akibatnya, mereka akan berpikir bahwa orang Kristen perlu memandang Injil sebagaimana Muslim memandang tradisi-tradisi mereka.

Doktrin Islam

Al-Qur'an dengan jelas menyatakan doktrin dan prinsip fundamental yang harus diikuti oleh Muslim:

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Al-Qur'an 4:136)

Banyak orang Kristen fokus pada praktik-praktik Islam dan tidak mengenali bahwa tugas Muslim didasarkan pada sebuah sistem doktrin yang jelas. Orang-orang Islam percaya bahwa Allah menyatakan pesan-Nya kepada umat manusia; pertama kepada orang Yahudi, kemudian kepada orang Kristen, akhirnya dan seluruhnya pada Muhammad. Pesan ini mendasari pola pikir dan tingkah laku, dan sering kali dirangkum dalam lima atau enam kategori kepercayaan.

Doktrin Islam: Allah Adalah Satu-Satunya Allah

Islam adalah agama Allah yang pertama dan terutama (Al-Qur'an 5:3). Setiap surah dalam Al-Qur'an dimulai dengan menyebut nama-Nya dan sifat-sifat-Nya. Dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, "Allah" hanyalah merupakan bahasa Arab dari kata "Allah" [God, Red.], yang digunakan oleh Muslim dan juga orang Kristen yang berbicara dengan bahasa Arab. "Allah" dengan sendirinya bukanlah [sebuah nama] Allahnya Muslim. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa konsep Allah orang Islam berbeda dengan konsep Allah yang ada di Alkitab dalam beberapa hal yang penting. Kedua, istilah ini, "Allah", menggarisbawahi unsur yang penting dalam monoteisme melalui penempatan artikel definitif ["al-", Red.]; secara teknis [linguistik], Allah berarti "sang" Allah ["the" God, Red.]. Doktrin kesatuan dan keesaan Allah adalah aspek paling dasar dalam iman Islam.

Allah adalah pencipta segala sesuatu. Ia berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya dalam beberapa atribut; di antaranya adalah melampaui apa pun (transenden), mahakuasa, berdaulat, dan mahatahu. Karakteristik-karakteristik tersebut semuanya dirangkum dalam nama Allah yang indah; setidaknya satu orang ahli teologi telah mendaftar 99 nama yang merupakan nama unik Allah.

Doktrin Islam: Malaikat

Malaikat adalah ciptaan Allah yang spesial, seutuhnya mengabdi untuk menunaikan kehendak ilahi. Islam mengakui empat malaikat utama: Jibril (Gabriel, pembawa pesan Allah dan malaikat pemberi wahyu) adalah yang paling terkenal. Setiap orang disertai oleh satu malaikat penjaga dan dua malaikat pencatat. Malaikat penjaga melindungi dari bahaya-bahaya yang tidak diperintahkan oleh Allah. Malaikat pencatat duduk di sebelah seseorang untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk hari penghakiman; satu di sisi kiri untuk mencatat dosa-dosa dan yang satu lagi di sisi kanan mencatat perbuatan dan tuturan baik (Al-Qur'an 82:10-12). Mirip dengan malaikat adalah jin, makhluk jantan dan betina yang sangat penting dalam Islam abangan.

Doktrin Islam: Kitab-Kitab Suci

Kitab suci adalah cara Allah berkomunikasi dengan berbagai orang. Ada lima kitab yang secara spesifik disebutkan dalam Al-Qur'an; empat di antaranya masih eksis hingga saat ini: Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an. Yang terakhir adalah yang paling penting, oleh karena fakta bahwa Al-Qur'an diberikan yang paling akhir dan karena semua kitab yang lain telah diubah dan dirusak.

[Catatan kaki: Kitab kelima, Suhuf (lembaran) Ibrahim, telah hilang. Umat Islam membuat klaim bahwa hanya Al-Qur'an yang ada sekarang sajalah yang sama seperti ketika kitab tersebut diwahyukan, menyatakan bahwa tidak ada satu kata pun (beberapa berkata tidak satu suku kata pun!) yang diubah. Juga dikatakan bahwa di masa lampau kata-kata dan pikiran-pikiran manusia dicampurkan dengan kata-kata dan pikiran-pikiran Allah. Al-Qur'an, di lain pihak, hanya mencatat kata-kata Allah di dalam segala keindahannya.]

Doktrin Islam: Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Suci

Rasul-rasul Allah mengemban pesan-Nya. Al-Qur'an mengajarkan bahwa Allah mengirim banyak nabi dan rasul. Ada 25 rasul yang disebutkan dalam Al-Qur'an; enam di antaranya memiliki peran yang besar: Adam, Nuh, Abraham, Musa, Yesus, dan Muhammad. Meskipun umat Islam memandang tinggi Yesus, mereka menganggap Muhammad sebagai nabi terakhir dan yang paling penting. Muhammad adalah "penutup nabi-nabi" (Al-Qur'an 33:40). Umat Islam percaya bahwa Yesus menubuatkan kedatangan Muhammad.

Doktrin Islam: Penghakiman

"Kiamat" adalah suatu masa ketika Allah akan menghakimi semua umat manusia, roh, dan hewan menurut apa yang telah mereka lakukan. Hari yang dikenal dengan berbagai istilah -- saatnya/jamnya, hari kebangkitan, hari penghakiman, hal ini ditolah oleh orang-orang yang tidak percaya (Al-Qur'an 75:3-6). Pada saat kematian, jiwa memasuki tahap ketidaksadaran hingga kebangkitan kembali. Antara kebangkitan kembali dan hari penghakiman, periode waktu yang tidak ditentukan diberikan untuk membuat orang-orang tidak beriman menjadi khawatir dan gelisah; orang-orang akan berpaling kepada nabi-nabi mereka sebagai perantara. Daftar semua perbuatan akan dibuka (Al-Qur'an 18:49); kebaikan dan kejahatan akan ditimbang. Setiap orang kafir yang menyangkal keberadaan Allah akan dihukum; hukuman kekal sudah disediakan bagi mereka yang mengganggap diri setara dengan Allah (misalnya, orang-orang Kristen yang menganggap Yesus Allah). Orang-orang Islam mungkin menderita selama beberapa waktu di neraka tergantung dosa mereka, namun akhirnya mereka akan dilepaskan; orang-orang Islam berharap bahwa perbuatan baik mereka akan cukup untuk membatalkan perbuatan jahat mereka dan dapat memasukkan mereka ke surga.

Doktrin Islam: Determinisme

Determinisme adalah kepercayaan bahwa kebaikan dan kejahatan sudah ditetapkan oleh Allah sebelumnya. Oleh karena itu, orang-orang Islam memandang segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka sebagai nasib yang tidak dapat diubah, yang terjadi atas kehendak Allah. Umat Islam berpegang pada beragam opini mengenai masalah itu, dan dogma tersebut tidak selalu disertakan dalam daftar kepercayaan. Namun demikian, di kalangan populer, kepercayaan ini sering kali mendominasi pemikiran Muslim atas aktivitas Allah di dunia.

Tindakan Penyembahan

Islam mengharuskan semua Muslim melaksanakan lima tugas religius, yang terkadang disebut Rukum Islam, yang menyatukan komunitas Islam yang tampak. Untuk memenuhinya dibutuhkan kedisiplinan oleh individu dan komunitas, yang memberikan wujud nyata idealisme hidup Muslim yang tunduk, terhadap Allah.

Tindakan Penyembahan: Pengakuan Iman

Syahadat adalah formulasi ikhtisar yang secara rutin diucapkan oleh orang-orang Islam: Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ahli hukum Islam sepakat bahwa mempercayai Syahadat dan mengucapkannya di hadapan dua orang saksi akan membuat seseorang menjadi Muslim. Syahadat adalah kesaksian yang diucapkan di telinga anak yang baru lahir, diucapkan setiap hari sepanjang hidup, dan sering terdengar diucapkan sebagai kata-kata terakhir sebelum mati. Syahadat menjadi struktur panggilan untuk shalat yang terdengar dari menara-menara masjid di seluruh dunia.

Tindakan Penyembahan: Doa Ritual

Shalat [juga dieja Salat, Red.] dilakukan lima kali sehari. Setelah tubuh disiapkan melalui pembasuhan, orang yang berdoa menghadap ke Mekkah dan melakukan gerakan yang telah ditentukan sambil mengucapkan doa-doa yang telah diingat dalam bahasa Arab. Doa dapat dilakukan di mana pun asalkan segala persyaratannya terpenuhi, namun pada hari Jumat, para pria diharapkan dapat beribadah bersama di masjid lokal untuk shalat tengah hari (Al-Qur'an 62:9-10). Wanita juga dapat berdoa di masjid; biasanya disediakan tempat khusus bagi mereka, sehingga mereka terlindungi dari pandangan para pria.

Tindakan Penyembahan: Sedekah Wajib

Zakat merupakan sejenis sebagian perpuluhan dalam berbagai bentuk properti dan pendapatan yang diberikan kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Hukumnya wajib (Al-Qur'an 24:56; 57:18) dan harus dibedakan dengan pemberian sukarela, yang diberikan di luar dan di atas zakat. Jumlah zakat yang harus diberikan dihitung dengan sebuah rumus kompleks yang memungut jumlah yang berbeda untuk berbagai hal yang dimiliki dan pendapatan. Cara pembayaran, cara pengumpulan, dan hierarki distribusi juga telah diatur melalui hukum Islam.

Tindakan Penyembahan: Puasa Ramadhan

Puasa, Saum, adalah suatu keharusan (Al-Qur'an 2:183-185) sepanjang bulan Ramadhan. Orang-orang Islam dilarang makan, minum, merokok, atau melakukan hubungan seks selama benang putih dapat dibedakan dengan yang hitam (yakni, dari sebelum matahari terbit hingga setelah matahari terbenam). Saat malam, pengekangan itu tidak berlaku (Al-Qur'an 2:187), jadi banyak orang sering kali berjaga sampai larut malam untuk makan. Setelah beberapa jam tidur, mereka bangun sebelum fajar untuk makan. Bulan Ramadhan diakhiri dengan perayaan yang besar dan tukar-menukar hadiah. Semua Muslim harus berpuasa, kecuali orang sakit, anak-anak yang sedang dalam masa prapubertas, wanita hamil, orang yang dalam perjalanan, dan tentara yang sedang bertempur; mereka didesak untuk berpuasa jika mereka bisa atau menggantinya dengan berpuasa segera setelah mereka sanggup secara fisik. Di samping tindakan berpuasa itu sendiri, Al-Qur'an memberikan penekanan kuat kepada niat seseorang untuk berpuasa.

Tindakan Penyembahan: Ziarah

Ibadah suci Haji, atau ziarah ke Bait Allah yang pertama (Ka'bah) di Mekkah, harus dilakukan setidaknya sekali jika secara fisik dan finansial memungkinkan (Al-Qur'an 3:97). Banyak ritual yang harus dilakukan dalam urutan tertentu dan pada waktu-waktu tertentu di kalender. Wanita dapat melakukan ibadah Haji jika ditemani oleh suami mereka atau seorang wali yang lain. Naik haji bagi orang lain juga dimungkinkan; hal itu adalah perbuatan baik dan akan dihargai pada hari penghakiman. (t/Dian)

Referensi: [1]. A. Jeffrey, ed., "A Reader on Islam" (The Hague, Netherlands: Mouton, 1962), p. 157

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:

Judul buku : Reaching Muslims for Christ
Judul bab asli : Understanding Islam
Penulis : William J. Saal
Penerbit : Moody Press, Chicago 1991
Halaman : 27 -- 37

e-JEMMi 18/2010