Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Konfusianisme

Konfusianisme


Riwayat Konfusius

Meski Konfusius disakralkan dalam tradisi Cina, namun hanya sedikit aspek dari riwayat hidupnya yang dapat diketahui secara pasti. Sumber terbaik yang ada adalah Analek -- kumpulan ajaran Konfusius yang disusun oleh para pengikutnya. Lama setelah kematiannya, biografinya banyak bermunculan, namun banyak nilai sejarah dari kebanyakan biografi itu yang harus dipertanyakan. Meski demikian, ada beberapa fakta dasar yang masuk akal untuk menguraikan riwayat hidupnya.

Sebagai bungsu dari sebelas bersaudara, Konfusius terlahir sebagai Chiu King pada sekitar tahun 550 SM di negara Lu, wilayah yang terletak di daerah yang kini disebut Shantung. Ia hidup pada zaman saat Budha masih hidup (meski mungkin mereka tidak pernah bertemu), sebelum Socrates dan Plato. Tidak ada yang pasti mengenai nenek moyangnya kecuali fakta bahwa ia berasal dari keluarga yang sederhana.

Seperti yang ia pernah katakan sendiri: "Saat aku kecil, aku hidup di lingkungan masyarakat kelas bawah dan hidup sederhana." Ia diasuh oleh ibunya setelah ayahnya meninggal beberapa waktu setelah ia lahir. Pada masa mudanya, Konfusius terlibat dalam beragam aktivitas, termasuk berburu dan memancing; namun, "Pada usia lima belas tahun, aku membulatkan tekad untuk belajar."

Ia menjabat sebagai pemungut cukai di sebuah kantor pemerintah kecil sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun -- usianya saat menikah. Usia pernikahannya pendek, berakhir dengan perceraian, namun memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Pada awal usia dua puluhan, ia menjadi seorang pengajar -- profesi yang merupakan panggilan hidupnya.

Kemampuannya sebagai pengajar mulai tampak. Kepopulerannya menyebar dengan cepat dan menarik banyak pengikut. Tidak sedikit orang yang tertarik dengan kebijaksanaannya. Ia percaya bahwa masyarakat tidak akan berubah kecuali ia berada dalam suatu organisasi sosial di mana ia dapat menerapkan teorinya.

Konfusius bekerja di kantor pemerintah kecil sampai ia berusia lima puluh tahun. Setelah itu, ia menjadi pejabat tinggi di Lu. Perbaikan moralnya mencapai kesuksesan dalam waktu relatif singkat. Namun, akhirnya ia bentrok dengan atasannya dan kemudian mengundurkan diri dari kantor pemerintah. Setelah itu, Konfusius menghabiskan tiga belas tahun berikutnya untuk mengembara, berusaha menerapkan reformasi politik dan sosialnya. Ia mengabdikan lima tahun terakhir masa hidupnya untuk menulis dan menyunting apa yang kini menjadi sastra Konfusian.

Ia meninggal di Chufou, Shantung, pada 479 SM sebagai seorang pengajar paling berpengaruh dalam budaya Cina. Para muridnya menyebutnya dengan "Raja fu-tzu" atau "Kung sang Guru", yang kemudian dilatinkan menjadi Konfusius.

Penyembahan Leluhur

Karakteristik umum dalam agama orang Cina pada masa Konfusius adalah penyembahan leluhur. Penyembahan leluhur adalah pemujaan roh-roh orang mati oleh kerabatnya yang masih hidup. Mereka percaya bahwa kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya tergantung dari perhatian yang diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup. Mereka juga menyakini bahwa para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan keluarga.

Jika keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai imbalannya, roh para leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Namun, jika para leluhur diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan menimpa keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam ketakutan kepada mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:

Penyembahan leluhur oleh keluarga kerajaan dan rakyat jelata mengungkapkan beberapa alasan mengapa mereka melakukannya. Mereka ingin para leluhur dapat hidup di luar kubur, menjalani hidup sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena itu, yang masih hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya diperlukan. Alasan kedua adalah bahwa jika mereka tidak diberi makanan, senjata, dan perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan hidup di luar sana, para leluhur dapat mendatangi mereka sebagai hantu dan membawa masalah bagi yang hidup. Hingga kini, orang Cina merayakan "Festival Hantu Lapar", menaruh makanan dan anggur di depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu yang tidak diperhatikan keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga adalah untuk memberitahu para leluhur apa yang terjadi pada masa kini, dengan harapan para roh leluhur itu, entah bagaimana caranya, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja sehingga mereka dapat hidup dengan damai. Dan alasan terakhir, pemujaan roh leluhur menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan memberkati keluarga yang masih hidup, dengan anak-anak, kemakmuran, keharmonisan, dan segala yang berharga. (Richard C. Bush, The Story of Religion in China, Niles, IL: Argus Communication, 1977, hal. 2)

Kesalehan Anak-Anak

Sebuah konsep yang berakar kuat di Cina sebelum masa Konfusius adalah kesalehan anak-anak (Hsaio), yang dapat digambarkan sebagai pengabdian dan kepatuhan orang-orang yang lebih muda kepada para tetua dalam keluarga, khususnya seorang anak laki-laki kepada sang ayah. Kesetiaan dan pengabdian kepada keluarga adalah prioritas utama dalam kehidupan orang-orang Cina. Tugas untuk keluarga, khususnya mengabdi pada orang tua, mereka emban di sepanjang kehidupan mereka.

Hal itu diekspresikan dalam "The Classic of Filial Piety": "Sikap kasih dan hormat pada orang tua saat hidup, dan ratapan dan kesedihan luar biasa untuk mereka pada saat meninggal -- kedua hal tersebut benar-benar merupakan tugas paling fundamental semua manusia." (Max Mueller, ed., Sacred Books of the East, Krishna Press, 1879-1910, Vol. III, hal. 448)

Konfusius menekankan konsep tersebut
dalam ajarannya, dan hal itu diterima dengan baik oleh orang-orang Cina, baik dahulu maupun masa kini. Dalam kitab Analek, Konfusius mengatakan:

Sang Guru berkata, "Seorang pemuda harus menjadi anak yang baik dalam rumah dan patuh di luar rumah, hemat berkata-kata namun dapat dipercaya dalam perkataannya, dan harus mengasihi semua orang, namun memelihara persahabatan dengan teman-temannya." (I:6)
Meng Wu Po bertanya tentang menjadi seorang anak. Sang Guru berkata, "Jangan membuat ayah dan ibumu kuatir, kecuali kamu sakit." (II:6)
Tzu-yu bertanya tentang menjadi seorang anak. Sang Guru berkata, "Menjadi seorang anak tidak hanya berarti menyediakan makanan untuk orang tuanya. Bahkan, entah bagaimana, anjing dan kuda pun mendapatkan makanan. Jika seseorang tidak menunjukkan rasa hormat, lalu apa bedanya?" (II:2).

Prinsip-Prinsip Doktrin

Doktrin-doktrin Konfusianisme dapat dirangkum menjadi enam istilah kunci. "Jen" atau kaidah kencana; "Chun-tzu" atau lelaki sejati; "Chen-ming" atau peranan; "Te" atau kuasa kebajikan; "Li" atau standar tingkah laku; dan "Wen" berkenaan dengan seni kedamaian. Pemaparan singkat keenam prinsip tersebut mengungkapkan struktur doktrin dasar Konfusianisme.

  1. Jen. Jen berkenaan dengan kemanusiaan, kebaikan, perbuatan baik, atau kejujuran. Jen adalah kaidah kencana, kaidah timbal balik; artinya, jangan memperlakukan orang lain dengan cara tertentu jika Anda tidak mau diperlakukan seperti itu.

    "Tzu-Kung bertanya, `Adakah satu kata yang dapat dijadikan penuntun dalam bertingkah laku di sepanjang kehidupan?` Sang guru berkata, `Kata itu mungkin adalah kata Shu. Jangan lakukan sesuatu yang kamu sendiri tidak inginkan terjadi padamu, kepada orang lain.`" (Konfusius, Analek, XV:24)

    Inilah kebajikan yang paling mulia menurut cara hidup Konfusian; jika prinsip ini dapat diamalkan, maka manusia akan mencapai kedamaian dan keharmonisan.

  2. Chun-tzu. Chun-tzu dapat diartikan sebagai lelaki sejati atau lelaki yang hebat. Ajaran Konfusius ditujukan kepada pria sejati, pria yang baik.

    Huston Smith berkata, "Jika Jen adalah hubungan yang ideal antarmanusia, Chun-tzu menunjuk pada sesuatu yang ideal dalam hubungan itu" (Smith, op. cit., hal. 180). Demikian pernyataan Konfusius mengenai pria sejati:

    (Konfusius): Pria yang dapat mengamalkan lima hal dalam dunia ini dapat dianggap sebagai pria sejati.

    Apa saja kelima hal tersebut:

    Kerendahan hati, kemurahan hati, ketulusan hati, kerajinan, dan keluwesan. Jika Anda rendah hati, Anda tidak akan ditertawakan. Jika Anda murah hati, Anda akan menarik banyak orang mendekat pada Anda. Jika Anda tulus, orang lain akan memercayai Anda. Jika Anda luwes, Anda akan mudah bergaul dengan bawahan Anda (James R. Ware. trans., The Sayings of Confucius, New York: New American Library, 1955, hal. 110).

    Pria seperti itulah yang dapat mengubah masyarakat menjadi seperti yang seharusnya -- masyarakat yang damai.

  3. Chen-ming. Konsep penting lain menurut Konfusius adalah Chen-ming atau pembuktian sebutan. Agar masyarakat dapat tertata dengan baik, Konfusius percaya bahwa semua orang harus memainkan peran yang benar. Karenanya, seorang raja harus bertindak layaknya raja, seorang pria sejati layaknya pria sejati, dll..

    Konfusius berkata, "Adipati Ching dari Ch`i bertanya kepada Konfusius mengenai pemerintahan. Konfusius menjawab, `Biarkan pemerintah menjadi pemerintah, warganegara menjadi warganegara, ayah menjadi ayah, anak menjadi anak ....`" (Analek, XII:11)
    Katanya juga, "Tzu-lu berkata, `Jika Raja Wei memberikan tugas administrasi (cheng) kenegaraan kepadamu, apa yang kamu utamakan?` Sang guru berkata, `Jika ada sesuatu harus yang diutamakan, maka hal itu mungkin adalah pembuktian sebutan.`" (Analek, XIII:3)

  4. Te. Kata te secara harfiah berarti "kekuatan", namun konsepnya memiliki makna yang jauh lebih luas. Kuasa yang diperlukan untuk memerintah, menurut Konfusius, tidak hanya kekuatan fisik. Sangatlah penting untuk seorang pemimpin menjadi orang yang bijak yang dapat menginspirasi warganya untuk patuh melalui teladan. Konsep tersebut tidak terwujud pada masa Konfusius hidup, yang berkeyakinan bahwa hanya kekuatan fisiklah cara satu-satunya yang tepat untuk memerintah masyarakat.

    Konfusius melihat kembali ke sejarah dua orang guru pada masa lalu, Yao dan Shun, dengan para pendiri dinasti Chou, sebagai contoh dari pemerintahan yang baik. Jika saja pemerintah mengikuti teladan masa lalu, maka masyarakatnya juga akan meneladaninya.

  5. Li. Salah satu kata kunci yang digunakan Konfusius adalah Li. Istilah ini memiliki beragam makna, tergantung konteksnya. Istilah ini dapat berarti kesopanan, penghormatan, ritual, atau standar ideal tingkah laku. Dalam Buku Tata Cara (Li Chi), konsep Li diungkapkan:

    Adipati Ai bertanya kepada Konfusius, "Apakah Li itu? Mengapa saat kamu membicarakan mengenai Li, kamu berbicara seolah-olah hal itu adalah hal yang penting?"
    Konfusius menjawab, "Hambamu yang sederhana ini sungguh tidak pantas untuk memahami Li."
    "Tapi kamu terus membicarakannya," kata Adipati Ai.
    Konfusius: "Yang telah saya pelajari adalah bahwa dari segala yang ada di sekitar manusia, Li adalah yang terhebat. Tanpa Li, kita tidak tahu bagaimana menyembah roh-roh yang ada di dunia dengan benar; atau bagaimana menetapkan dengan benar status raja dan menteri, pemerintah dan yang diperintah, dan tua-tua dan anak muda; atau bagaimana menetapkan hubungan moral antarkelamin; antara orang tua dan anak, dan antara saudara; atau bagaimana membedakan tingkat hubungan yang berbeda dalam keluarga. Itulah mengapa seorang pria sejati memegang teguh Li." (Lin Yutang, The Wisdom of Confucius, New York: Random House, 1938, Li Chi, hal. 216)

  6. Wen. Konsep Wen menunjuk pada seni kedamaian yang sangat Konfusius hargai. Hal ini meliputi musik, puisi, dan seni. Konfusius merasa bahwa semua seni kedamaian itu, yang berasal dari zaman Chou, merupakan simbol kebajikan yang harus dimanifestasikan di seluruh lapisan masyarakat.

    Konfusius mengutuk budaya pada masanya karena menurutnya tidak memiliki kebajikan. Ia menyatakan:

    Sang guru berkata, "Jelas bahwa saat seseorang mengatakan, "Ritual, ritual," itu bukan hanya berarti batu nefrit dan sutra. Jelas bahwa saat seseorang mengatakan `musik, musik`, itu bukan hanya berarti bel dan drum ...." Sang guru berkata, "Apa yang dapat dilakukan manusia dengan ritual yang tidak baik? Apa yang dapat dilakukan manusia dengan musik yang tidak baik?" (Analek XVII:11, III:3)

    Oleh karena itu, ia yang menolak seni kedamaian berarti menolak tata cara manusia dan surga yang baik. (t/Dian)

*) Catatan: Semua kutipan, khususnya kutipan dari kitab, diterjemahkan secara bebas dari versi Bahasa Inggris.

Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Understanding Non-Christian Religions
Judul asli artikel : Confucianism
Penulis : Josh McDowell dan Don Stewart
Penerbit : Here`s Life Publishers, Inc., California 1982
Halaman : 77 -- 78 dan 83 -- 87

e-JEMMi 29/2008