Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Konsep Misi Dalam Injil dan Kisah Para Rasul 2

Konsep Misi Dalam Injil dan Kisah Para Rasul 2


Pesan-pesan Injil yang sulit mengarahkan Albert Schweitzer pada kesimpulan bahwa pada awal pelayanan Yesus, Ia percaya pada dekatnya masa parousia, keselamatan besar Israel dan dunia, dan kemudian, ketika Dia amat kecewa pada pengharapan-Nya, Dia bersiap untuk penderitaan besarnya, yang pada suatu tingkat terus menanjak dan dianggap tak terhindarkan. Ini bukanlah tempat untuk masuk dalam pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita merujuk pada studi penting yang dilakukan H.N. Ridderbos, "The Coming of the Kingdom". Ridderbos menunjuk bahwa ada dua arah yang harus dibedakan dalam nubuatan Yesus, yang satu bermuara pada parousia dan yang lain pada penderitaan dan kematian-Nya. Awalnya, para murid-Nya tidak memahami hal ini, dan mulanya Yesus juga tidak menolong kesulitan mereka untuk memahaminya. Yesus sering menyatakan dengan gamblang, bahwa kedatangan-Nya menandai terjadinya hal-hal yang terakhir, bahwa berbagai nubuatan mulai digenapi, namun secara bertahap Yesus mulai membuka mata murid-murid-Nya pada kenyataan yang sangat besar dan bahwa hal-hal yang mengerikan harus terjadi terlebih dahulu. Kerajaan Allah tentu saja berada di tangan Yesus Kristus; dalam Yesus Kristus, Kerajaan Allah telah turun ke dalam dunia dan tanda-tandanya telah nyata di mana-mana. Namun, kerajaan ini tidak dapat datang dalam perwujudannya yang penuh, karena kenyataan yang membuat tawar hati tentang penderitaan dan kematian-Nya yang semakin dekat haruslah terjadi lebih dulu.

Untuk alasan itulah perumpamaan-perumpamaan berikutnya menggambarkan keadaan yang sebenarnya tentang masa antara, masa yang harus terjadi sebelum kepenuhan kerajaan itu dinyatakan.

Begitu pula perumpamaan tentang perjamuan besar yang digambarkan dalam Lukas 14:15-24. Dalam perumpamaan itu Yesus menceritakan tentang seseorang yang menyiapkan sebuah pesta dan telah mengirimkan undangannya, "sebab segala sesuatu sudah siap." Dalam Matius 22:8 kita baca, "Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia." Secara objektif, dengan kata lain, semua hal yang diperlukan telah terpenuhi. Penderitaan telah lengkap, pendamaian telah diadakan, dari pihak Tuhan tidak ada lagi yang harus dilakukan. Semuanya telah "siap". Namun pestanya tidak dapat dimulai. Mereka yang diundang tidak dapat hadir karena suatu alasan (Lukas), atau mereka hanya tidak akan datang (Matius). Tuan rumah akhirnya mengirim para pelayannya ke jalan-jalan dan ke persimpangan-persimpangan untuk mengundang para pengemis, orang-orang cacat, dan orang-orang buta. Dan semuanya ini terjadi untuk sebuah penundaan besar. "Pesta pernikahan telah siap, namun mereka yang diundang tidak siap." Dengan pengertian bahwa "mereka yang diundang" tidak lain berarti orang-orang yang menjabat sebagai pemimpin bangsa Israel. Rujukan yang sangat jelas ditujukan kepada masa yang terjadi di antara peristiwa itu, masa antara. Semuanya telah siap, namun rumah harus terlebih dahulu penuh oleh tamu sebelum pesta dapat dimulai.

Penundaan yang sama bahkan tampak lebih jelas lagi daripada sebelumnya dalam perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur yang jahat (Matius 21:33-34). Pemilik sebuah kebun anggur terlebih dahulu mengirimkan budak-budaknya dan kemudian putranya sendiri untuk mengambil hasil dari kebun anggur itu. Namun, para penggarap tersebut membunuh para pelayan itu dan kemudian putra pemilik kebun itu. Di akhir perumpamaan, Yesus mengucapkan kata-kata yang mengerikan, "Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu" (ay. 43). Istilah "kamu" hanya dapat merujuk pada Israel dalam kapasitasnya yang resmi, pada para pemimpinnya. Penghakiman yang mengerikan ini diucapkan atas Israel. Israel yang dalam istilah tertentu berarti "anak-anak kerajaan" (Matius 8:12), di sini dilemparkan keluar dan kerajaan itu diberikan kepada orang baru. Sekali lagi, masa antara yang diperlukan untuk memperlihatkan kedatangan kerajaan secara nyata terbukti dalam perumpamaan ini.

Perumpamaan tentang mina dalam Lukas 19:11-27 (di Matius 25:14-30 tentang talenta) sekali lagi menunjukkan masa antara dengan sangat jelas. Seorang bangsawan tertentu pergi ke suatu negara asing untuk menerima sebuah kerajaan, dan memberikan tanggung jawab kepada hamba-hambanya untuk mengurus segala miliknya sampai dia kembali. Yang dimaksud di sini adalah kerajaan itu sudah siap, dalam maksud tertentu telah matang dan siap dipetik, namun harus datang terlebih dahulu sebuah masa di mana para hamba sang bangsawan harus mengerjakan talenta yang dititipkan tuannya. Masa antara ditandai dengan pekerjaan para hamba itu. Karena itu, mereka harus bekerja dengan pemberian tuannya selama masa ini, tidak peduli berapa lama masa ini akan berlangsung. Menurut perumpamaan ini, pekerjaan yang dilakukan para hamba tersebut termasuk pergi ke jalan-jalan dan ke persimpangan-persimpangan untuk mengundang semua orang datang ke pesta perkawinan sang Raja. Seseorang mungkin mengatakan bahwa masa seperti itu lebih banyak diisi dengan perintah misi, dan perintah misilah yang memberi arti untuk waktu seperti itu.

Adolf von Harnack dengan tegas menyatakan, bahwa Yesus mengarahkan misi-Nya hanya untuk orang Yahudi saja, dan bahwa sebuah misi formal untuk bangsa-bangsa lain benar-benar di luar perspektif Yesus. Namun demikian, dari yang kita bahas sebelumnya, posisi Harnack mengenai hal ini tidaklah benar karena seluruh Injil dipenuhi dengan kata-kata dimaksudkan untuk seluruh dunia. Agar singkat, kita hanya akan membahas bagian-bagian Injil yang berkaitan dengan hal itu saja.

Dalam nyanyian pujian Simeon yang sangat terkenal, Yesus disebut sebagai "terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain" (Lukas 2:32). Kedatangan orang majus dari Timur adalah sebuah petunjuk bahwa para nabi Perjanjian Lama telah berulang kali menyampaikan bahwa nubuatan mulai digenapi -- bahwa bangsa-bangsa lain harus segera datang pada seorang Israel yang dimuliakan oleh Tuhan (Matius 2:1-12).

Berbagai macam perkataan Yesus cukup universal yaitu, "Kamu adalah garam dunia;" "Kamu adalah terang dunia" (Matius 5:13-14); "begitu besar kasih Allah akan dunia ini" (Yohanes 3:16). Ketika Yesus bertemu dengan perwira Romawi di Kapernaum, Dia teringat nubuatan Perjanjian Lama dan mengatakan, "Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga" (Matius 8:11). Ketika masa pelayanan Yesus hampir berakhir, beberapa orang Yunani ingin menemuinya, permintaan ini mengingatkan Yesus akan kenaikan Anak Manusia (Yohanes 12:23). Kedatangan berbagai bangsa selalu dianggap sebagai tanda-tanda yang umum akan kedatangan Mesias! Karenanya, seluruh bukti-bukti di sepanjang Injil menunjukkan Yesus selalu melihat hidup-Nya dalam konteks yang luas dari nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama mengenai keselamatan, dan salah satu elemen dalam nubuatan tentang keselamatan ini adalah mendekatnya orang-orang dari daerah dan bangsa lain.

Namun demikian, benarlah bahwa kita dihadapkan dengan ungkapan-ungkapan tertentu Yesus yang sepertinya terwujud dalam sebuah kecenderungan untuk lebih mementingkan sebuah kelompok. Kepada seorang perempuan Samaria Yesus mengatakan bahwa keselamatan hanya untuk Bangsa Yahudi (Yohanes 4:22); dan kepada seorang wanita Kanaan Yesus mengatakan bahwa Ia hanya diutus kepada domba yang hilang dari umat Israel" (Matius 15:24). Bagaimanapun juga, kedua teks tersebut menunjukkan bahwa waktu untuk menyebarkan Injil kepada seluruh dunia belumlah tiba. Untuk alasan yang sama, para Rasul dilarang dalam misi pertama mereka untuk pergi kepada bangsa-bangsa lain atau desa-desa orang Samaria (Matius 10:5). Waktu untuk itu belum tiba. Pada waktu-waktu berikutnya, Yesus berbicara dalam istilah-istilah yang lebih universal. Ketika Maria dari Betania mengurapi-Nya, Tuhan menyatakan "Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia." (Matius 26:13) Di sini seluruh dunia mulai dibahas. Dan lebih kuat lagi diungkapkan dalam hal-hal besar, yang menyangkut hal-hal di masa depan ketika Tuhan berkata, "Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14) Kegiatan misi di sini berkaitan dengan hal-hal terakhir dan juga dalam hal nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama.

Pertimbangan-pertimbangan semacam itu menunjukkan dengan jelas bahwa pesan misi tidak tampak dengan jelas pada awal-awal kisah Injil, karena pada waktu itu hidup Yesus diselubungi misteri. Akankah pada akhirnya nanti Yesus mengatakannya; akankah Dia mengungkapkan hal-hal yang terakhir; ataukah hidup-Nya akan berakhir dengan kekalahan? Dan dalam fase pelayanan-Nya ini, Yesus tidak mengungkapkan secara penuh kepada murid-murid-Nya arah hidup yang harus dijalaninya. Ketika masa depan menjadi semakin jelas, ketika penderitaan Yesus semakin mendekat, terbukti bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan mula-mula para murid dan orang banyak. Pada saat itulah masa antara mulai tiba, dan dengannya pelayanan misi. Misi dan masa antara tidak dapat terpisahkan. Dan sekarang Injil penuh dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang membuatnya jelas bahwa, Yesus melihat pekerjaan-Nya sebagai sebuah pekerjaan yang memiliki maksud universal; Dia adalah terang, bukan hanya atas Israel, namun juga atas dunia.

Apa yang telah kami ungkapkan terjadi pada masa sebelum penderitaan dan kematian Yesus. Baik masa antara dan amanat misi dapat dikatakan lebih terbuka setelah kebangkitan. Selama empat puluh hari ketika Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid-Nya, berkali-kali ia menanamkan tentang betapa pentingnya pelayanan misi ke dalam hati mereka. Pada hari Paskah itu sendiri, ketika Dia menampakkan diri pada sebelas murid, Yesus menyatakan bahwa, "dalam Nama-Nya, diberitakan pertobatan dan penghapusan dosa kepada segala bangsa, dengan mulai dari Yerusalem." (Lukas 24:47, MILT) Yesus mengajarkan bahwa perintah-Nya terhubung dengan Kitab Suci. Kitab Suci memang membangun penekanan pada kedatangan bangsa-bangsa lain secara sukarela, namun yang terakhir lebih cenderung melibatkan aktivitas gereja.

Injil Matius memberi amanat misi suatu landasan terutama dari kuasa dan otoritas yang diberikan kepada Yesus karena pelayanan perantaraan-Nya yang sudah selesai. Kuasa yang menyelamatkan ini harus dinyatakan dan semua orang harus tunduk di hadapannya: "pergilah dan jadikan semua bangsa murid-Ku." Injil mengandung sesuatu tentang kemuliaan perintah seorang raja. Karena itu, hal tersebut harus berakhir dengan panggilan untuk menyatakan kekuasaan Yesus sebagai raja atas dunia.

Amanat misioner itu secara intrinsik terhubung dengan Injil Yohanes melalui kedatangan Yesus ke dalam dunia: "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yohanes 20:21) Sebuah anugerah dan kasih yang berlimpah-limpah, yang berasal dari Tuhan dalam Yesus Kristus memenuhi mereka yang diutus Kristus.

Sekali lagi Kristus menjelaskan hal-hal ini kepada para murid-Nya pada perjalanan menuju gunung, di mana Dia akan naik ke Sorga. Para murid berpikir bahwa tugas mereka hanyalah menunggu sampai Kristus memulihkan kerajaan untuk Israel. Mereka melihat masa depan secara Israel-sentris dan menganggap peran mereka hanya bersifat pasif. Kristus mengoreksi kesalahpahaman ini, mula-mula dengan memberi tahu para murid-Nya bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan pada masa "yang ditetapkan Bapa dengan kuasa-Nya". Kemudian dia menunjukkan bahwa peran mereka bukanlah menjadi para pengamat yang pasif, namun menjadi para saksi yang aktif "sampai akhir zaman". Akhirnya, Yesus menghapus semua kekecewaan dengan menjanjikan pada mereka kuasa dari Roh Kudus (Kisah para Rasul 1:6-8).

Kita dapat menunjukkan kesimpulan pandangan Injil mengenai misi bahwa ide paling mendasar tentang misi dalam pengajaran Yesus adalah pengajaran yang ditarik dengan perlahan dan hati-hati dari pengharapan keselamatan Mesianik. Nubuatan Perjanjian Lama menganggap keselamatan Mesianik meliputi baik pembaruan spiritual maupun pemulihan kejayaan Israel, dan juga kedatangan bangsa lain secara sukarela dan transformasi secara radikal tatanan dunia. Keselamatan Mesianik ini telah tiba secara prinsip dalam kedatangan Yesus Kristus. Dalam sebuah Sinagoge di Nazareth, Yesus tidak ragu-ragu untuk mengatakan sebuah nubuatan Mesianik pada Perjanjian Lama, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." (Lukas 4:21)

Era baru telah dimulai, parousia ada di sini, Kerajaan Allah telah datang. Dalam pembukaan atau penyingkapannya, bagaimanapun juga, berbagai macam elemen yang lain mulai tampak. Mukjizat yang dilakukan Yesus secara mendalam adalah tanda-tanda kuasa keselamatan yang agung, namun hal-hal tersebut tidak segera menjadi keajaiban Mesianik yang besar, transformasi tatanan dunia, sehingga serigala dapat berbaring bersama domba. Pembaruan spiritual Israel mungkin telah tiba, namun tidak segera terwujud sebagai kekuasaan. Alih-alih melanjutkan pemuliaan, Yesus mengumumkan berbagai penderitaan besar. Bahkan setelah kebangkitan, keselamatan besar tidak segera terwujud secara penuh. Semuanya telah disiapkan, namun tamu-tamu yang diundang tidaklah siap. Kerajaan Allah kemudian diambil dari pemimpin bangsa Israel dan diberikan kepada orang lain. Terdapat sebuah penundaan yang misterius. Keselamatan hadir dalam bentuk prinsip, namun dalam penyingkapannya tidak segera dapat digenapi seluruhnya. Berbagai misi kemudian berkembang dari keselamatan Mesianik besar yang dinubuatkan oleh para Nabi, sebagai elemen yang akan menandai penundaan. Penundaan diperlukan karena kerajaan akan diberikan kepada orang lain. Ketika hal itu hampir terjadi, ketika Injil Kerajaan telah diberitakan di seluruh dunia, lalu tibalah kesudahannya. Berbagai misi harus menempati sebuah posisi yang semakin penting dalam pengajaran Injil. Perwujudan penuh dari keselamatan besar menunggu, saat di mana tugas misi telah selesai seluruhnya. (t\Rinto)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : An Introduction to the Science of Mission
Judul asli artikel : The Concept of Mission in The Gospel and the Acts of the Apostles
Penulis : J. H. Bavinck
Penerbit : Presbyterian and Reformed Publishing Co., Phillipsburg, New Jersey
Halaman : 30 -- 36

e-JEMMi 07/2012