Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Jemaat Berdoa

Jemaat Berdoa


  1. Berdoa, Hal yang Wajar di dalam Kehidupan Jemaat

    Berdoa dilakukan semua orang beragama. Berdoa adalah hal yang paling umum di dalam kehidupan jemaat. Namun, tidak dapat disangkal bahwa semakin banyak juga pertanyaan diajukan sekitar hal berdoa itu. Orang bertanya: Mengapa sebenarnya kita berdoa? Apa yang kita lakukan apabila kita berdoa? Apa gunanya kita berdoa? Kepada siapa kita berdoa? Benarkah berdoa itu berbicara dengan Allah? Tidakkah kita berbicara sendiri dalam doa? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang dikemukakan orang. Kadang-kadang sekadar bertanya-tanya saja, tetapi tidak jarang pula ada orang yang bertanya dengan sungguh-sungguh. Dan semua pertanyaan yang dikemukakan dengan sungguh-sungguh dan dengan jujur, selalu meminta jawaban.

    Di sini, kita tidak bermaksud menjawab semua pertanyaan itu. Kita hanya bermaksud menguraikan doa yang didoakan jemaat. Orang di dalam jemaat tidak berdoa karena berdoa itu masuk akal. Orang berdoa karena berdoa itu wajar.

    Di dalam jemaat, orang berdoa karena hal itu wajar. Bagi jemaat Tuhan, manusia tidak hidup sendiri. Manusia hidup dengan Tuhan dan dengan sesamanya di dunia ini. Oleh karena itu, adalah hal yang paling wajar apabila jemaat, dalam perjalanan hidupnya di dunia ini, berdoa kepada Tuhan, berdoa bersama jemaat, berdoa untuk semua orang, dan berdoa bagi keselamatan dunia. Tidak pernah manusia dibiarkan sendiri menjalani hidup ini. Ada Tuhan yang menyertai hidup kita di dunia ini. Itulah kepercayaan jemaat. Itulah dasar hidup jemaat. Dan itulah pokok pengharapan jemaat. Kita tidak sendiri di dalam hidup ini. Oleh karena itu, wajarlah kita berdoa dalam perjalanan hidup kita.

    Di dalam jemaat, pengertian diri seperti ini mungkin lebih sering diungkapkan dengan bahasa Alkitab: Allahlah yang menciptakan dunia dengan segala isinya, memeliharanya dengan setia dan tidak meninggalkan pekerjaan tangan-Nya (Mazmur 124:8; 138:8). Allah membuat manusia yang sangat kecil di alam semesta ini "hampir sama seperti Allah" (Mazmur 8:6), "menurut gambar Allah" (Kejadian 1). Di antara segala ciptaan yang ada, manusialah yang dapat diajak bicara oleh Allah. Allah berbicara dan manusia menjawab. Di dalam ikatan itulah manusia itu ada di dunia ini. Dan dosa manusia adalah bahwa ia mau melepaskan dirinya dari Allah dan tidak mau bertanggung jawab kepada Allah. Dosa manusia inilah yang mencelakakan dirinya dan menyeret seluruh ciptaan ke dalam kecelakaan itu.

    Dengan pengertian diri manusia seperti itulah, jemaat hidup, bekerja, dan berdoa. Di dalam Alkitab, umat Allah selalu hidup dengan berdoa kepada Allah. Dan semua anggota umat Allah berdoa, bukan hanya orang-orang tertentu saja, seperti para imam, pemuka-pemuka agama, dan raja. Dan Allah disebut "Yang mendengarkan doa" (Mazmur 65:3). Berdoa merupakan hal yang wajar di dalam kehidupan jemaat.

    Dalam rangka kewajaran berdoa inilah, dapat dikatakan bahwa sama sekali tidak diperlukan suatu kepandaian berdoa. Semua anggota jemaat berdoa. Bahkan apabila kita tidak tahu bagaimana kita harus berdoa, Roh Allah membantu kita berdoa (Roma 8:26). Namun di dalam kehidupan jemaat, kita dapat dibantu oleh doa-doa orang lain, yaitu doa-doa yang terhimpun dalam Alkitab (Kitab Mazmur, misalnya) maupun di dalam buku-buku doa jemaat. Tetapi yang terpenting ialah bahwa kita berdoa dengan wajar di dalam perjalanan hidup kita bersama Tuhan. Seperti anak yang berjalan bersama bapa dan ibunya.

  2. Berdoa Bukanlah Suatu Kegiatan yang Berdiri Sendiri

    Apabila kita membicarakan doa sebagai suatu pokok tersendiri, maka harus kita ingat bahwa sesungguhnya berdoa itu tidak berdiri sendiri di dalam kehidupan ini. Berdoa itu selalu berkaitan dan berkelanjutan dalam hidup ini. Seperti sudah dikemukakan, kita menjalani hidup ini tidak sendiri. Kita berjalan bersama Tuhan. Kita bergaul dengan Tuhan sepanjang hidup kita. Dan dalam pergaulan dengan Tuhan di tengah kenyataan hidup kita itulah, kita berdoa. Bahkan kita berdoa senantiasa (1 Tesalonika 5:17). Ada orang yang melihat seluruh kehidupan beriman itu sebagai satu kesatuan hidup berdoa. Berdoa itu berkelanjutan di dalam kehidupan ini.

    Setelah kita sadari hal berdoa yang berkelanjutan di dalam kehidupan ini, dapatlah kita katakan sekarang bahwa kendatipun demikian, kita dapat membedakan berdoa itu dalam rangka kehidupan beriman. Dan kita mengambil waktu khusus untuk berdoa. Kita juga mengadakan kebaktian doa dan masa doa di dalam kehidupan jemaat. Kita dapat pula membicarakan hal berdoa itu secara khusus, seperti yang kita lakukan di sini.

    Apa yang penting kita perhatikan apabila kita berdoa? Ada orang yang setiap kali berdoa, langsung mulai mengemukakan segala permintaannya dan kebutuhannya kepada Tuhan. Di dalam keadaan yang sangat mendesak, dapat kita bayangkan hal seperti itu terjadi. Tetapi apabila setiap kali kita berdoa, kita berdoa seperti itu, maka kita harus bertanya: "Tidakkah dalam hal itu kita hanya hidup untuk diri kita sendiri, memikirkan diri sendiri saja, juga apabila kita berdoa?" Dan doa seperti itu sangat mungkin adalah percakapan diri kita sendiri.

    Hendaknya disadari selalu bahwa apabila kita berdoa, kita berhadapan dengan Tuhan. Tuhan berbicara kepada kita dan kita berbicara kepada Tuhan. Sering kita tidak membiarkan Tuhan berbicara kepada kita apabila kita berdoa. Kita saja yang terus berbicara dan akhirnya kita berbicara sendiri. Barangkali inilah yang pertama-tama harus kita perhatikan apabila berdoa. Apabila kita berdoa, baiklah kita menantikan Tuhan berbicara kepada kita dan baiklah kita memerhatikan Tuhan lebih dulu.

    Suasana dan lingkungan sering kali dapat membantu kita dalam hal ini. Sayangnya gereja-gereja Protestan pada umumnya tidak menunjang orang berdoa dengan menantikan Tuhan dan memerhatikan Tuhan seperti itu. Oleh karena itu, orang suka berdoa di kapel. Kapel adalah tempat beribadah yang mendorong kita berdoa dengan tenang. Di dalam kapel itu, suasana ikut menyadarkan kita bahwa kita menghadap Tuhan. Kita didorong untuk menantikan dan mendengarkan Tuhan. Kita akan membiarkan Tuhan memimpin kita dalam doa kita. Kita seperti diharuskan mendoakan orang lain, mendoakan pekerjaan Tuhan, mendoakan hal-hal yang penting bagi Tuhan, hal-hal yang lebih penting daripada keinginan hati kita sendiri. Dalam doa seperti ini, kita akan tumbuh keluar dari diri kita sendiri, menjadi orang beriman yang lebih dewasa, lebih bertanggung jawab untuk kehidupan bersama, dan juga menjadi lebih berperikemanusiaan.

    Menyadari itu semua, tidaklah berlebihan untuk memisahkan waktu untuk berdoa di dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang yang berdoa akan menjadi lebih manusiawi. Dan kemanusiawian itulah yang diperlukan dalam kehidupan bersama. Kemanusiawian itu menyegarkan dan menyehatkan kehidupan bersama. Waktu pagi sebelum mengerjakan segala pekerjaan kita sehari dan waktu malam setelah kita menyelesaikan pekerjaan kita adalah waktu yang baik untuk berdoa. Dan kita ingat bahwa sama sekali tidak diperlukan kepandaian khusus untuk berdoa. Dengan berdoa setiap hari, kita berjalan dengan Tuhan di dalam hidup kita di dunia ini.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jemaat Berdoa
Penulis : Liem Khiem Yang
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1997
Halaman : 4 -- 10

e-JEMMi 40/2008