Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Gereja-gereja yang Miskin Belajar untuk Memberi

Gereja-gereja yang Miskin Belajar untuk Memberi


Dapatkah yang termiskin dari yang miskin memberi? Apakah mereka memiliki sesuatu untuk memberi? Banyak orang yang tinggal di negara- negara miskin merasa bahwa mereka tidak dapat memberi, setidaknya tidak untuk pelayanan misi. Tetapi suatu gereja yang dirintis oleh YWAM (Youth With A Mission) di antara masyarakat "kelas bawah", yaitu para pekerja jalanan, telah melihat bahwa kemiskinan bukanlah halangan bagi mereka untuk memberi. Maaf, untuk alasan keamanan, kami tidak dapat mengatakan di mana gereja tersebut, tetapi kisah seperti berikut ini dapat terjadi di seluruh bagian dunia.

Kami menyebut kelompok suku yang kami ceritakan ini "Trajar". Di negara yang tidak kami sebutkan namanya ini, banyak imigran Trajar mencari pekerjaan di negara-negara tetangga agar dapat mendukung kehidupan keluarga mereka. Kebanyakan dari mereka hanya berpendidikan rendah dan menjadi pekerja jalanan, pengemudi taksi, penjaga toko, atau pekerja di kontruksi jalanan yang bergumul untuk kebutuhan hidup. Mereka pun dibayar murah. Para pekerja jalanan ini bekerja sehari kira-kira 10 jam dan mendapat gaji kira-kira sebesar Rp. 333.000,00 sebulan. Uang sebesar itu cukup membuat mereka bertahan.

Perintisan gereja di wilayah yang didiami kelompok Trajar dimulai pada tahun 1993. Pada mulanya, gereja muda ini didorong untuk memiliki visi misionaris dan diajarkan prinsip-prinsip memberi serta menerima. Hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah, khususnya di negara yang banyak pengemisnya ini.

Banyak yang tidak percaya bahwa mereka mendapat cukup uang untuk memberi, tetapi para perintis gereja tetap bertahan. Segera mereka mematahkan mentalitas kemiskinan dari jemaat yang masih muda ini. Jemaat mulai melihat sesuatu yang berarti bisa diselesaikan saat mereka mengupayakan sumber daya yang ada pada mereka.

Mereka mulai memberi dengan pengorbanan. Beberapa jemaat mulai puasa makan siang untuk menyimpan uang, sementara yang lain menghemat. Yang lain menyisihkan segenggam beras setiap hari dan memberi sejumlah uang yang sama untuk kebutuhan khusus.

Semua uang pada mulanya dipakai untuk mencukupi keperluan yang nampak, seperti perlengkapan gereja dan alat-alat musik. Gereja mengumumkan kemana uang itu pergi. Hal ini berlawanan dengan pengalaman ketika mereka masih mengikuti kepercayaan mereka yang terdahulu di mana tidak ada yang tahu tentang nasib uang yang dikumpulkan.

Tahun 1997, gereja Trajar pertama didirikan dan mulai mendukung 10 penginjil. Hingga tahun 2000, tiga gereja lagi telah dirintis. Saat ini, ketiga gereja yang baru dan gereja yang pertama, telah mendukung 21 pekerja. Sekarang, kemurahan hati mereka berlanjut dan menghasilkan buah: telah dirintis delapan gereja baru!

Untuk menjaga supaya gereja-gereja ini berlipat ganda dan membangkitkan pemimpin lokal, maka semua pemimpin gerejanya adalah sukarelawan: mereka tetap mempertahankan pekerjaan mereka di luar gereja. Pekerja misionaris penuh waktu (full timer) mendapat bantuan keuangan dari gereja. Namun demikian, misionaris ini tidak mendapat cukup uang untuk hidup (21 pekerja tersebut masing-masing mendapat santunan kira-kira Rp. 216.000,00 per bulan). Menurut Stephen, seorang pekerja YWAM yang membantu gereja ini, kunci keberhasilan pelayanan gereja ini adalah mempertimbangkan peran penting dari para pekerja yang didukung. "Para pekerja dapat memulai usaha toko kecil di area baru dan bekerja paruh waktu. Dengan demikian, mereka dapat memiliki posisi bagus yang menempatkan mereka agar bisa diterima oleh orang-orang yang akan mereka jangkau."

Para pemimpin gereja hidup secara transparan dan menjadi contoh dalam hal memberi. Mereka memastikan bahwa gereja tidak boleh terlihat sebagai tempat untuk mendapatkan bantuan keuangan. Orang percaya baru didorong untuk murah hati antara satu dengan yang lain pada saat membutuhkan. Banyak kesaksian-kesaksian muncul yang menceritakan pengalaman bagaimana orang-orang percaya tersebut memberikan perpuluhan dari kasih dan karunia Tuhan.

Sebuah kesaksian diceritakan oleh seorang anggota tim pemimpin gereja yang tidak memiliki cukup uang untuk hidup sebelum ia mulai mempraktekkan perpuluhan dan sekarang ia hidup berkecukupan. Apa yang terjadi? Sebelumnya ia menggunakan 40 persen gaji untuk membeli obat-obatan bagi istri dan anak-anaknya yang sering sakit. Namun sejak ia memberi perpuluhan, penyakit keluarga itu hilang!

Kesaksian yang lain menceritakan mengenai pemeliharaan dan berkat saat seorang anggota gereja mendengar pengajaran tentang memberi dan ia mulai memberi. Dua bulan kemudian ia menjadi pekerjaan kontraktor dengan bayaran paling tinggi dan mengalami berkat Tuhan dalam segala usahanya.

Gereja-gereja Trajar hadir dan berhasil berlipat ganda karena identitas dan bahasa yang sama di negara asing, namun selain itu juga ditambah dengan usaha mengumpulkan perpuluhan yang berjumlah cukup besar. Prinsip-prinsip pendukung dalam model perintisan gereja seperti ini dapat dilipatgandakan di tempat lain, tetapi sebagaimana diakui oleh Stephen, tidak semua kelompok orang memberikan respon yang sama seperti orang Trajar. "Jarang Anda menjumpai 8 gereja sekaligus dalam satu kelompok orang. Hal itu bisa terjadi tetapi akan memakan banyak waktu, mungkin 20 tahun sebelum Saudara dapat melihat sebuah gereja yang benar-benar dapat berdiri sendiri (red. 'self supporting')."

Kebenaran yang dipelajari dari kisah ini adalah: Prinsip memberi dan menerima Kerajaan Allah dipraktekkan di sini dan Ia adalah setia untuk mendukung pekerjaan-Nya di dunia.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buletin : MASAH INTERNASIONAL, Edisi 4/Th.II/2003
Judul Artikel : Gereja-gereja yang 'Miskin' Belajar untuk Memberi
Penulis : Lynn Yee
Penerbit : Pelayanan Komunikasi dan Informasi YWAM Indonesia, Jakarta 2003
Halaman : 3

e-JEMMi 27/2003