Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Doa: Senjata Strategis Dalam Mencapai Suku-Suku yang Belum Terjangkau 1

Doa: Senjata Strategis Dalam Mencapai Suku-Suku yang Belum Terjangkau 1


Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Allah Menginginkan dan Mendorong Doa Syafaat Bagi Pelaksanaan Maksud Penyelamatan-Nya untuk Manusia di Bumi

Yesus mengajarkan kita berdoa, "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Abraham bersyafaat bagi Lot di Sodom, Musa berdoa agar Allah mengalihkan murka-Nya terhadap Israel, Daniel berdoa bagi pengembalian bangsa Israel dari Babel. Mengapa Allah menginginkan dan memerlukan doa syafaat umat-Nya? Pada mulanya Allah memberi manusia wewenang untuk memerintah bumi, sedangkan wewenang untuk memerintah yang dimiliki Setan, dicapai melalui pemberontakan melawan Sang Pencipta, merupakan wewenang untuk memerintah yang palsu, yang tidak sah, dan yang direbut. Melalui kebangkitan-Nya, kita dapat mendayagunakan hak yang diberikan Allah kepada kita -- doa syafaat, agar kehendak-Nya terlaksana dan kerajaan-Nya datang di bumi. Berdoa dalam kuasa Roh Kudus menerobos wewenang musuh, meratakan jalan bagi Dia untuk menyelamatkan semua orang, dan ikut ambil bagian dalam pelaksanaan maksud penebusan-Nya.

Awal tahun 1998, Allah menuntun Dick Eastman membentuk satu tim doa syafaat di setiap bagian Eropa Timur. Tugas mereka ialah "menghadapi benteng-benteng Komunisme". Mereka "berjalan sambil berdoa" di seputar bangunan Politbiro di Bukarest. Dua tahun kemudian, Ceaucescu, yang sebelumnya dengan bangga mengatakan rezimnya akan bertahan seribu tahun lagi, akhirnya runtuh. Di Berlin, pada tengah malam, Allah menuntun Dick dan seorang teman Jermannya berdoa untuk tembok Berlin. Mereka berdua meletakkan tangan di tembok lalu berdoa, "Dalam nama Yesus, runtuhlah!" Dalam peristiwa-peristiwa dramatis tahun lalu di Eropa Timur, Allah telah menggunakan doa umat-Nya untuk menggoncangkan bangsa-bangsa. Dia juga dapat berbuat hal yang sama untuk dunia yang belum terjangkau. Ia sedang mencari mereka yang akan berdiri di hadapan-Nya untuk 2000 kelompok suku-suku yang belum terjangkau, 1000 kota, dan 30 negara yang belum terinjili (Yehezkiel 22:30).

Kewenangan dalam Alam Rohani Diraih Melalui Doa

Ingatlah doa syafaat yang disampaikan Musa ketika ia mengangkat tangannya di hadapan Allah, sementara Yosua dan tentara Israel berperang melawan orang Amalek. Setiap kali tangan Musa menjadi lelah dan tertatih-tatih, tentara Israel dipukul mundur. Tetapi, sewaktu ia menopang pendiriannya dalam doa dan dengan tangan yang terangkat, orang-orang Israel mengalami kemenangan. Dalam sejarah Israel, Raja Yosafat mengandalkan doa, puasa, pujian, dan penyembahan -- sebagai senjata untuk melawan musuh-musuh yang menyerang Israel. Kemenangan dalam alam rohani merupakan hal yang penting sekali. Kemenangan tersebut harus diperoleh dengan menggunakan senjata-senjata rohani. Dua babak dalam sejarah Alkitab ini secara gamblang menggambarkan doa syafaat sebagai faktor pembawa kemenangan.

Doa Menopang dan Memperluas Jangkauan Pengutusan

Doa dicatat lebih dari 30 kali dalam kitab Kisah Para Rasul. Bagi para rasul, waktu yang diperpanjang dalam doa dan menanti-nantikan Tuhan bersama-sama, sangatlah penting dalam pelayanan mereka kepada orang-orang yang belum terjangkau. Sebelum pencurahan Roh Kudus pada waktu Pentakosta dan khotbah Petrus yang membawa 3000 orang bertobat, Alkitab mencatat, "semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama" (Kisah Para Rasul 1:14). Ketika para rasul dan para petobat baru berkumpul untuk berdoa, terjadilah mukjizat dan tanda-tanda; kota itu dipenuhi dengan ketakjuban, serta Tuhan menambahkan jumlah orang yang diselamatkan ke dalam jemaat setiap hari (Kisah Para Rasul 2:42-44). Sesudah mereka berdoa, tempat pertemuan mereka digoncangkan dan semua orang dipenuhi Roh Kudus, lalu membicarakan firman Allah dengan berani (Kisah Para Rasul 4:31).

Para rasul menetapkan prioritas mereka dalam pelayanan misi dengan doa dan pelayanan Firman (Kisah Para Rasul 6:4). Hasilnya, "Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya." (Kisah Para Rasul 6:7) Doa Petrus menghasilkan mukjizat dan tanda-tanda seperti kebangkitan Tabita (Kisah Para Rasul 9:40). Doa juga membuka mata Petrus untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, yang membuatnya rela pergi memberitakan Injil pada Kornelius (Kisah Para Rasul 10). Doa dan puasa yang dilakukan oleh lima pemimpin jemaat Antiokia, telah menuntun pada pemilihan Paulus dan Barnabas untuk menjangkau orang-orang bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 13:1-3). Melalui doalah Paulus tidak diizinkan oleh Roh Yesus untuk memasuki Bitinia, tapi diarahkan ke Makedonia (Kisah Para Rasul 16:7-10). Melalui doa dan pujian pada Allah yang dilakukan oleh Paulus dan Silas yang terpenjara, berdirilah jemaat di Filipi (Kisah Para Rasul 16:25-26).

Kebangunan rohani yang terjadi di benua Eropa bermula dari Pietisme -- suatu gerakan doa yang sungguh-sungguh. Dari pengaruhnya timbullah Danish Halle Mission yang melayani di India dan gerakan orang-orang Moravia di bawah Count Zinzendorf. Salah seorang yang menulis tentang orang-orang Moravia mengatakan, "gerakan doa syafaat dari orang-orang Moravia di Herrnhut pada tahun 1727, menghasilkan penginjil-penginjil hebat selama dua abad terakhir." Pertemuan doa yang dimulai orang-orang Moravia pada tahun 1727 berjalan terus selama 100 tahun! Secara berantai, mereka menyampaikan doa yang tak putus-putusnya bagi jemaat dan kebutuhan semua jemaat di dunia. Upaya doa ini mengobarkan hasrat mereka untuk memberitakan Kristus kepada orang-orang yang belum terjangkau. Dari desa kecil inilah, lebih dari 100 utusan Injil telah diutus dalam 25 tahun.

Beberapa dasawarsa kemudian, William Carey -- tukang sepatu yang rendah hati, menyokong pemberitaan Injil yang dilakukannya secara paruh waktu, dengan menggambar sebuah peta dunia, lalu memasukkan semua informasi yang didapatkannya tentang wilayah-wilayah dan negara-negara ke dalam peta tersebut. Sewaktu ia merenungkan masalah-masalah dan kebutuhan-kebutuhan yang menggemparkan dunia, ia mengalihkan informasi yang diperoleh menjadi doa syafaat yang disampaikan dengan sepenuh hati. Penulis riwayat hidupnya menyatakan, "Sering dalam keheningan malam -- lewat cahaya lampu yang tidak terang, ia akan meneliti peta tersebut, lalu berlutut di hadapan-Nya dan berdoa sambil mencurahkan jiwanya pada Allah". Pada tahun 1806, beberapa mahasiswa dari William's College meluangkan waktu mereka untuk berdoa bagi dunia. Dari doa merekalah gerakan misi bangsa Amerika lahir.

Robert Glover merangkum peranan doa dalam sejarah misi sebagai berikut, "Dari Pentakosta dan Rasul Paulus hingga masa kini, setiap terobosan baru dalam dunia misi merupakan hasil dari doa dan iman. Setiap upaya penginjilan yang dilakukan oleh anak-anak-Nya merupakan benih yang ditanamkan roh ilahi".

Kebangunan Rohani yang Dimulai Melalui Doa, Memberi Dampak Besar Bagi Pencapaian Suku-Suku yang Belum Terjangkau

Semua kebangunan rohani berakar dalam doa. Jonathan Goforth, utusan Injil yang mengadakan kebangunan rohani di Timur Jauh pada permulaan abad ini, memaparkan kebangunan-kebangunan rohani yang berlangsung di Korea dan Tiongkok tidak hanya menyegarkan jemaat, tapi membawa puluhan ribu orang dari suku-suku yang belum terjangkau kepada Kristus. Semua itu bermula dengan kelompok kecil orang-orang percaya, yang memutuskan untuk berdoa bersama-sama secara teratur bagi pencurahan Roh pada mereka, dan pada orang-orang yang belum bertobat.

"Sewaktu berkunjung ke Inggris, saya menemui seorang yang saleh. Kami berbicara tentang kebangunan rohani di Tiongkok, dan ia memberi saya tanggal-tanggal tertentu ketika Allah secara khusus mendorongnya untuk berdoa. Saya sangat terkejut, karena pada tanggal-tanggal inilah Allah sedang mengerjakan karya yang luar biasa di Mancuria dan Tiongkok. Saya percaya, harinya akan tiba di mana seluruh sejarah tentang kebangunan rohani akan disingkapkan, dan mereka yang mengkhususkan diri dalam doa adalah orang yang berperan utama dalam mewujudkan kebangunan rohani tersebut.

Di Hawai, kebangunan rohani yang dikenal sebagai "Kebangunan Agung" (1837-1843), bermula dalam hati para utusan Injil yang digerakkan untuk berdoa. Pada pertemuan tahunan mereka di tahun 1835 dan tahun 1836, mereka digerakkan untuk berdoa dan dikesankan begitu dalam dengan kebutuhan akan pencurahan Roh Kudus, sehingga mereka memohon kepada jemaat-jemaat yang mengutus mereka untuk bersatu dengan mereka di dalam doa. Pada tahun 1837 terjadi kebangunan rohani di Hawai, sehingga para utusan Injil harus bekerja siang dan malam untuk menampung banyak orang yang gelisah mencari jaminan keselamatan. Dalam sehari, lebih dari 1700 petobat dibaptis dan dalam enam tahun 27.000 orang ditambahkan ke dalam jemaat.

J. Edwin Orr -- sejarawan kebangunan rohani, menyimpulkan bahwa kebangunan rohani terjadi karena adanya peningkatan pertemuan-pertemuan doa yang tersebar di seluruh dunia. Ia mengamati bahwa kebangunan-kebangunan rohani pada abad ke-19, menyadarkan semua lembaga misi yang ada, memampukan mereka untuk memasuki ladang-ladang yang lain, serta membawa orang-orang yang belum percaya kepada Kristus. Mengenai kebangunan rohani yang terjadi pada abad ke-19, ia menulis, "Pada peralihan abad, kebangunan-kebangunan rohani mengirimkan utusan-utusan Injil perintis ke Laut Selatan, Amerika Latin, Afrika Hitam, India, dan Tiongkok. Di sana bermunculanlah lembaga-lembaga misi denominasi seperti Baptist Missionary Society, American Board, dan lembaga-lembaga misi lainnya di Eropa. Gelombang kedua dari kebangunan rohani menggerakkan lembaga-lembaga misi dan para utusan Injil yang berasal dari luar negeri, seperti William Carey untuk menginjili India. Kemudian Robert Morrison membuka jalan bagi para utusan Injil untuk bermukim di perkampungan sekitar pelabuhan-pelabuhan di Tiongkok. Para utusan Injil mendesak ke utara dari Tanjung Pengharapan sewaktu David Livingstone menyelidiki daerah pedalaman Afrika".

David Bryant setuju dengan pengkajian yang dilakukan Orr. Ia mengamati strategi utama Allah adalah membawa umat-Nya bersama-sama dalam doa, agar mereka bersatu mencari Dia. Kapan saja Allah siap melakukan hal baru dengan umat-Nya, Ia selalu mendorong mereka berdoa. Bryant juga menemukan suatu pola dalam gerakan-gerakan perluasan Injil selama lebih dari 300 tahun:

  1. Dimulainya persekutuan-persekutuan doa.
  2. Munculnya pembaruan visi tentang Kristus dan gereja-Nya.
  3. Jemaat dipulihkan dalam kesatuan dan tekadnya untuk menaati ketuhanan Kristus.
  4. Terjadinya pembaruan dalam pelayanan-pelayanan yang ada, sehingga terjadi pencapaian terhadap orang-orang yang belum terjangkau.
  5. Hal ini menuntun pada perluasan Injil di antara mereka yang belum tersentuh.

Doa Syafaat Memungkinkan Anak-Anak Allah Memiliki Pusaka Mereka -- Suku-Suku Bangsa di Bumi

Mazmur 2:8 menjelaskan kepada kita perlunya berdoa bagi terbukanya pintu untuk menjadikan bangsa-bangsa milik Allah, atau khususnya suku-suku yang belum terjangkau menjadi milik pusaka kita. Satu-satunya hal yang dapat kita bawa ke dalam kekekalan sebagai warisan kita adalah orang lain. Sukacita dan mahkota kita sama seperti yang dialami Paulus, berupa orang-orang lain yang datang kepada Kristus melalui pelayanan kita.

Dalam sejarah misi, penuaian di dalam jemaat Kristus dihubungkan dengan doa yang kuat dan gigih. John Hyde, yang melayani di India Utara dikenal sebagai "rasul doa", karena Allah menambahkan pekerja nasional sebagai jawaban atas doa-doanya. Ia membuat sebuah kesepakatan dengan Allah, untuk berdoa setiap hari bagi satu orang agar menerima Kristus. Di tahun pertama, sekitar 400 orang menerima Kristus. Tahun berikutnya, dia memutuskan untuk memercayai Allah agar dua orang sehari percaya kepada Kristus. Hasilnya 800 orang datang kepada Kristus pada tahun tersebut.

Seorang utusan Injil wanita yang dipengaruhi oleh kehidupan doa Hyde, memutuskan untuk membaktikan jam-jam terbaik dari waktunya untuk doa, dengan menjadikan doa sebagai hal primer bukan sekunder seperti sebelumnya. Allah berkata kepadanya, "Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahu kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami. Engkau belum berseru kepada-Ku, karena itu engkau tidak melihat hal-hal yang besar dalam hidupmu." Sewaktu ia mulai memprioritaskan doa dalam pelayanannya, perubahan luar biasa terjadi -- 15 orang dibaptis dan 125 orang dewasa datang pada Kristus, dan Tuhan menambahkan jumlah mereka yang belum percaya untuk menerima-Nya.

Di India, doa menjadi kunci penuaian di antara orang-orang yang belum terjangkau. Para utusan Injil yang melayani di antara suku Telugu, menjadi kecewa sampai hampir meninggalkan pelayanan mereka karena kurangnya tanggapan. Akan tetapi pada malam terakhir di tahun 1853, seluruh pasangan utusan Injil dan tiga orang India yang membantu pelayanan mereka, berdoa semalam suntuk bagi suku Telugu di sebuah bukit yang memandang ke bawah kota Ongole. Dalam waktu enam minggu, 8000 orang suku Telugu menyerahkan hidup mereka kepada Kristus. Dalam sehari, lebih dari 2200 orang dibaptis dan jemaat itu menjadi yang terbesar di dunia! Pada tahun 1902, dua orang utusan Injil wanita dengan Khassia Hills Mission, digerakkan untuk berdoa dan orang-orang Kristen Khassia juga mulai berdoa bagi sesama mereka yang belum bertobat. Dalam beberapa bulan, lebih dari 8000 orang bertobat.

Wesley Duewel dari OMS Internasional, yang dikenal sebagai seorang guru doa mengatakan, 25 tahun pertama dari pelayanan misi mereka di India sangatlah lambat. Hanya ada satu sidang jemaat setiap tahun yang didirikan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk merekrut 1000 orang di negeri yang mengutus mereka, untuk berdoa selama 15 menit setiap hari bagi pelayanan mereka. Beberapa tahun kemudian, Tuhan menjawab doa mereka. Dari 25 sidang jemaat dengan 2000 orang percaya, menjadi 550 sidang jemaat dengan 73.000 orang percaya. Salah seorang bangsa India, rekan sekerja Duewel berkata, "Kita semua telah melihat hasil yang melampaui setiap hal yang dapat kita bayangkan!" Jonathan Goforth, dalam tulisannya tentang kebangunan rohani Korea pada tahun 1907 mengatakan, "Kebangunan rohani terjadi berkat ketekunan dalam doa yang penuh keyakinan, yang menyebabkan 50.000 orang Korea menerima Kristus." Seorang utusan Injil berkata "Tuhan dapat melakukan banyak hal dengan doa yang sedikit, apalagi jika kita berdoa sebagaimana mestinya."

Disampaikan pada: International Society for Frontier Missiology, 13-15 September 1990

Diringkas dari:

Judul buku : Doa:Senjata Strategis dalam Mencapai Suku-suku yang belum Terjangkau
Judul artikel : Doa:Senjata Strategis dalam Mencapai Suku-suku yang belum Terjangkau
Penulis : John Robb
Halaman : 5 -- 12

e-JEMMi 39/2011