Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Bagaimana Aku Bersaksi

Bagaimana Aku Bersaksi


Saudara Sepupu dapat mengungkapkan banyak perspektif dan menampakkan berbagai macam perasaan membutuhkan. Usaha yang dilakukan berikut ini adalah dengan mengambil saran-saran praktis yang efektif dari sejumlah praktisi tentang bersaksi kepada wanita dan pria, dari beberapa kebudayaan. Semua pokok yang mereka bagikan adalah murni berasal dari persahabatan, mendengar, dan semuanya berhubungan dengan kesaksian mereka mengenai masalah-masalah praktis dalam hidup sehari-hari.

Sebagai seorang pelayan (Tuhan), sering kali kita merasa hubungan kita dengan Saudara Sepupu hanya pada tingkat kerohanian. Contohnya, penyelidikan terhadap Kitab Suci. Penulis (pertama), yang berasal dari satu kebudayaan dengan Saudara Sepupu, melihat kedai kopi sebagai tempat yang paling strategis untuk memengaruhi orang-orang. Tempat itu seperti satu lingkaran pusat dari sebuah jaring laba-laba, yang menuju ke seluruh segmen masyarakat dan menyediakan sebuah jejaring alamiah untuk berkomunikasi.

Wanita di dunia Saudara Sepupu memiliki satu masalah khusus karena pengisolasian dari banyak bagian hidup masyarakat luas. Penulis (kedua) menceritakan bagaimana dia berhubungan dengan wanita dalam konteks nasional mereka, termasuk kepercayaan rakyat para wanita itu dan praktik-praktiknya, dan dia menunjukkan relevansi mengenai interaksi Isa dengan wanita. Pada saat wanita ini memasuki sebuah konteks Barat, wanita-wanita itu memperoleh perasaan baru yang berkaitan dengan perasaan membutuhkan, khususnya kebutuhan persahabatan.

Penulis (ketiga), yang mula-mula melayani di dunia Saudara Sepupu dan kini bekerja di Barat, menunjukkan bagaimana dia menemukan adanya kebutuhan untuk persahabatan, dan bagaimana dia menggunakan cara-cara alamiah yang ada untuk berbagi, yaitu melalui arti dari festival-festival dan cerita-cerita setempat.

Penulis (keempat), seorang pelayan yang bekerja dengan Saudara Sepupu, menunjukkan bagaimana dia melukiskan cerita itu dengan flannelgraph (papan flanel). Kemudian dia menggambarkan fenomena yang sangat umum dalam pertobatan Saudara Sepupu, yaitu melalui mimpi atau visi.

Akhirnya, seorang warga negara dari dunia Saudara Sepupu yang terlibat dalam pelayanan penjangkauan melalui radio dan kursus tertulis Kitab Suci, menunjukkan bagaimana dia berusaha memisahkan Isa dari bagasi kultural Barat, agar Saudara Sepupu dapat bertemu Isa dan mengalami Kabar Baik dalam bentuk-bentuk kultural yang relevan.

[Pada kesempatan ini, kami hanya akan menyajikan salah satu contoh bagaimana bersaksi kepada Saudara Sepupu dari salah satu penulis tersebut, yaitu contoh dari penulis pertama. Untuk mengetahui kisah keseluruhan, Anda bisa membaca buku "Muslim and Christian on the Emmaus Road", Red.]

Di Kedai Kopi

Saya menghabiskan 2 jam setiap hari, mulai pukul 9 hingga pukul 11 pagi di "kantor" saya -- sebuah magha (kedai kopi). Ini adalah pusat pelayanan kami, landasan peluncuran bagi penginjilan. Ini adalah jam-jam yang paling penting dalam satu hari; bukan satu cara bermalas-malasan untuk melewatkan pagi hari, ataupun menyia-nyiakan waktu. Di sinilah saya menebarkan jala bagi ikan.

Setiap tingkat dari skala sosiologis terwakili di magha ini. Dalam satu minggu, saya bertemu dekan universitas, para buruh, pengajar-pengajar, mahasiswa, anggota partai komunis, dan pemimpin-pemimpin persaudaraan Saudara Sepupu.

Dalam usaha memenangkan Saudara Sepupu, saya perlu informasi luas mengenai berbagai macam subyek yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Jika agama menjadi satu-satunya pokok pembicaraan yang saya bicarakan secara mendalam, kebanyakan mereka akan cepat bosan. Jadi, saya berbicara tentang topik-topik sekuler dan peristiwa-peristiwa terbaru, kemudian menyuntikkan sudut pandang dan falsafah Kristen, biasanya berupa ide-ide baru. Roh Kebenaran akan terus menerangi apa yang menjadi milik-Nya. "Anak panah" ini membukakan jalan bagi penyelidikan lebih lanjut kepada apa saja yang saya percayai.

Saya melihat satu masalah yang umum dalam negara-negara Saudara Sepupu, dan banyak warga yang mengatakan kepada saya bahwa mereka juga telah mengamati hal yang sama. Para pelayan berhubungan dengan kehidupan mereka hanya dalam bidang rohani, penyelidikan Kitab Suci, pertemuan, dan sebagainya. Karena memunyai sedikit fungsi sosial yang lain, warga merasa bahwa para pelayan tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari, dan tidak dapat mengerti pergumulan mereka. Magha merupakan pusat kehidupan sehari-hari; tempat itu memainkan satu bagian yang berpengaruh dalam membentuk sejarah orang Arab. Kudeta dan revolusi dimulai di situ, dan dalam satu peristiwa, naskah siaran radio pertama mengenai sebuah pemerintahan yang baru ditulis di magha.

Pemimpin-pemimpin masyarakat melatih para kader; transaksi bisnis, dan para mahasiswa belajar di sana. Itu adalah lingkaran pusat dari jaring laba-laba, tempat di mana Anda dapat membangun hubungan dalam satu jaringan kerja ke dalam seluruh segmen masyarakat. Itu adalah satu tempat paling strategis untuk memengaruhi orang-orang.

Di kota tempat di mana saya tinggal, setiap magha memiliki langganan-langganan tersendiri. Ada magha khusus untuk guru-guru, penyelundup, polisi, mahasiswa, dan sebagainya. Pelanggan magha "saya" adalah para profesor universitas, guru-guru sekolah menengah atas, dan tentu saja, beberapa polisi rahasia. Kami bertemu setiap hari dan menjadi seperti satu keluarga. Hubungan itu tumbuh cukup kuat, sehingga masalah-masalah dibagikan dalam tingkatan pribadi yang lebih mendalam. Melalui magha ini, saya telah memengaruhi enam orang untuk menulis tesis dengan topik yang berkaitan dengan agama Kristen. Beberapa orang telah ditobatkan dan banyak orang membaca Kitab Suci. Hampir tidak ada satu minggu yang berlalu tanpa permintaan untuk Kitab Suci.

Menyusul diskusi sebelumnya, kami mengundang orang-orang itu ke rumah kami untuk pembicaraan yang lebih dalam. Namun, sangat penting membicarakan inti dari apa yang telah kami bicarakan di magha. Kami harus memiliki gaya bahasa yang sama, baik secara pribadi maupun di antara publik. Jika Anda berbicara samar-samar di antara orang banyak, dan berbicara secara terbuka mengenai masalah keagamaan dalam pembicaraan pribadi, Anda akan menjadi objek kecurigaan. "Mengapa dia tidak mengatakan hal itu dulu di magha?" "Apa motif sebenarnya?"

Para polisi sudah lama tidak mencurigai kegiatan-kegiatan kami atau motif-motif kami. Mereka tahu bahwa kami adalah orang Kristen, dan mereka akan mendengar cerita yang sama di jalan-jalan seperti juga di dalam rumah. Mungkin mereka tidak menyukai hal itu, tetapi mereka tidak mencurigai bahwa kami memiliki maksud-maksud yang bersifat politis ataupun maksud keagamaan yang bersifat profesional. Saya memiliki identitas yang jelas sebagai seorang pengusaha, dan kesaksian saya hanya merupakan ungkapan alamiah dari keyakinan pribadi saya. Profesi bisnis memisahkan saya dari pekerja-pekerja profesional di bidang keagamaan, oleh karena itu saya tidak perlu peduli tentang kelihatan terlalu "religius". Saudara Sepupu mengharapkan agar orang-orang percaya berbagi kepercayaan mereka, sebagaimana yang mereka lakukan pada kami.

Pada suatu pagi di magha, saya sedang mendiskusikan tentang perang sipil orang-orang Lebanon dengan seorang guru. Ketika saya menyebutkan bahwa saya pengikut Isa (saya tidak memakai istilah "Kristen"), diskusi itu tiba-tiba berhenti. "Apa! Saya telah lama ingin belajar tentang kekristenan. Saya mengajar di sejumlah sekolah dan para siswa menanyai saya tentang kepercayaan orang Kristen. Kami hanya tahu apa yang telah dikatakan kepada kami mengenai orang-orang Kristen. Saya ingin mendengar dari seorang Kristen tentang apa yang Anda percayai." Dia datang ke rumah dengan seorang teman, dan mereka membuat catatan selama percakapan itu hingga pukul 2 dini hari.

Setelah mendapatkan orang-orang yang tertarik, kami mengunjungi rumah mereka dan melibatkan keluarga dalam persahabatan itu. Kami memusatkan pada unit keluarga, dan berusaha tidak membiarkan penanya-penanya memisahkan diri mereka dari keluarganya. Segera setelah persahabatan dibangun, kami memasukkan keluarga dalam penyelidikan Kitab Suci dan mengundang mereka untuk menonton film Yesus (versi Campus Crusade atau Lembaga Pelayanan Mahasiswa). Ketika keluarga itu menjadi teman kami, mereka tidak curiga tentang hubungan "Ahmed" dengan kami, dan tidak dapat melarang dia untuk bersekutu dengan kami.

Petobat kami yang pertama di sini, seorang wanita muda yang menghadapi perlawanan keras dari suami dan keluarganya. Namun, begitu mereka menjadi teman kami, mereka tidak melarang kami bertemu dengan wanita itu. Kami masih memunyai akses untuk masuk ke rumah itu, dan terus bersaksi dan menguatkan hatinya. Keluarganya menolak agama kami, tetapi mereka menghargai persahabatan dan pengaruh baik kami dalam kehidupan anak perempuan mereka, yang secara radikal berubah setelah pertobatan.

Saudara laki-lakinya lulusan universitas, menulis tesisnya mengenai al-Hallaj, seorang ulama Sufi yang terkenal. Dia menyangkal agama lamanya dan memohon agar hukuman matinya dilakukan seperti cara Yesus mati. Mereka menyalibkan dia di atas sebuah tiang. Saudara laki-laki ini membela hak saudara perempuannya untuk percaya kepada Yesus. Dia adalah pintu masuk ke dalam keluarga itu. Saya bertemu pemuda itu di magha. Sekarang dia telah menjadi orang percaya dan mengajar di sebuah universitas.

Jika kita dapat memperoleh dukungan dari keluarga bagi orang-orang yang baru percaya, mereka akan memiliki keamanan yang mereka butuhkan untuk tetap kukuh. Selama tidak ada tempat ibadah untuk menguatkan orang-orang percaya yang masih muda, kita harus mengetahui pentingnya penginjilan terhadap keluarga. Di Timur Tengah, gereja yang sudah ada menolak menjadi "keluarga" bagi para petobat dari Saudara Sepupu. Sebagai akibatnya, banyak petobat tunggal yang kembali ke agama semula.

Untuk menyimpulkan betapa pentingnya kehadiran secara teratur di magha, saya percaya bahwa magha adalah tempat yang paling strategis untuk berintegrasi ke semua tingkat masyarakat, untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam dari sesama pelanggan, mendapatkan pendidikan mengenai kebudayaan, serta tempat terjalinnya ikatan alamiah -- belum lagi sebagai tempat untuk mengetahui berita-berita terbaru di kota itu. Tidak menjadi bagian dalam suatu magha merupakan kegagalan untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Arab. Karena sejak dahulu magha adalah tempat yang paling strategis bagi penginjilan.

Sumber asli:

Judul buku : Muslim and Christian on the Emmaus Road
Judul asli bab : Here Is How I Share
Judul asli artikel : In Coffee Houses
Penulis : Hassan al-Ghazali
Editor : J. Dudley Woodberry
Penerbit : MARC Publications Menrovia, California 1990
Halaman : 197 -- 200

Diambil dan diedit seperlunya dari: Bahan Bacaan Misiologi STT Intheos, Halaman 55 -- 57

e-JEMMi 32/2011