Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereArtikel Misi / Karena Kristus Telah Memerdekakan Kita

Karena Kristus Telah Memerdekakan Kita


By admin - Posted on 19 July 2018

"Demi kemerdekaan, Kristus telah membebaskan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan lagi mau dibebani dengan kuk perbudakan. Dengarkanlah! Aku, Paulus, mengatakan kepadamu bahwa jika kamu menerima sunat, Kristus tidak ada gunanya bagimu. Sekali lagi, aku mengatakan kepada setiap orang yang menerima sunat bahwa ia wajib menaati seluruh Hukum Taurat. Jika kamu berusaha untuk dibenarkan dengan menjalankan Hukum Taurat, hidupmu telah dipisahkan dari Kristus dan kamu telah meninggalkan anugerah. Melalui Roh, dengan iman, kita menanti-nantikan pengharapan akan kebenaran.." (Galatia 5:1--5, AYT)

Teks ini dimulai dengan pernyataan yang jelas dan menyegarkan tentang kehendak Kristus bagi hidup kita. Kadang-kadang, kita terjebak dalam kebingungan tentang kehendak Tuhan. Kita juga sering khawatir tentang keputusan yang bukan masalah besar bagi Allah (harus pergi ke sekolah mana, apa pekerjaan yang harus diambil, di mana harus tinggal, dll.). Kita perlu mengorientasikan hidup kita pada pernyataan yang jelas dari Alkitab tentang kehendak Allah, dan berikut ini adalah salah satunya: "Karena Kristus telah memerdekakan kita". Kehendak Kristus bagi Anda adalah bahwa Anda menikmati kebebasan. Ke mana Anda bersekolah, apa pekerjaan yang Anda lakukan, di mana Anda tinggal, dll., hampir tidak begitu penting asalkan Anda berdiri teguh dalam kebebasan. Jika hal-hal itu sangat penting, Alkitab akan memerintahkan hal-hal itu sejelas perintah kebebasan ini. Namun, hal-hal itu tidaklah penting.

Jadi, kesenangan Anda akan kemerdekaan jauh lebih penting bagi Allah daripada banyak keputusan sehari-hari yang memenuhi kita dengan begitu banyak perhatian. Suatu tes yang baik tentang prioritas Anda dalam hidup adalah apakah Anda sama pedulinya dengan perintah untuk menikmati kemerdekaan Anda seperti pada keputusan lain yang mendesak dalam hidup Anda. Apakah Anda berolahraga sebanyak ketekunan dalam doa dan belajar untuk berdiri teguh dalam kemerdekaan sama seperti yang Anda lakukan untuk mengambil keputusan mengenai rumah, pekerjaan, sekolah, atau jodoh? Ini adalah perintah yang jelas dan wajar tanpa pengecualian: "berdirilah teguh, dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan". Ini adalah kehendak Allah untuk Anda: kemerdekaan Anda. Kemerdekaan tanpa kompromi, tidak henti-hentinya, yang gigih. Untuk hal ini, Kristus telah mati. Untuk hal ini, Dia bangkit. Untuk hal ini, Dia mengirim Roh-Nya. Tidak ada yang Dia kehendaki dengan intensitas yang lebih di bawah kemuliaan nama-Nya sendiri daripada hal ini: kemerdekaan Anda. Itulah khotbah saya hari ini. Semua yang lain adalah penjelasan dan nasihat.

Waktu Bermain dalam Keluarga Piper

Saya memiliki waktu bermain dengan anak-anak saya setelah makan malam, setiap malam sampai sekitar pukul 19.00. Tidaklah mudah untuk menyenangkan anak berusia 10, 7, dan 3 tahun dengan satu permainan. Baru-baru ini, kami mempunyai ide baru: Karsten membaca The Tower of Geburah untuk kami semua, sementara saya membangun menara dari balok dengan Abraham di lantai. Ketika pukul 19.00 tiba, saya biasanya mengatakan, "Oke, Abraham, ambil balok-baloknya dan masukkan semunya ke dalam keranjang." Biasanya, ia bertanya, "Apakah Ayah mau membantu saya?" Sekarang, saya memiliki dua kemungkinan. Saya bisa mengatakan, "Tidak, kamu yang ambil balok-balok itu. Itu bisa dilakukan dalam 2 menit atau akan ada masalah!" Dia mungkin cemberut dan ribut-ribut, tetapi umumnya pekerjaan akan dilakukan. Atau, saya bisa berkata, "Tentu saja aku akan menolong. Ayo, kita lihat secepat apa kita dapat melakukannya bersama." Jadi, dia akan bergegas, lalu bekerja lebih cepat dan lebih efisien dengan bantuan saya, dan kami bahkan bersenang-senang melakukan apa yang perlu dilakukan.

Pengalaman Abraham sangat berbeda dalam dua kasus. Dalam kasus pertama, ia tidak bebas. Dia melakukan pekerjaannya seolah-olah kuk perhambaan berada di punggungnya dan katak besar berat berada di bibir bawahnya. Dia tidak bertindak dalam kebebasan karena tugas itu merupakan beban menindas yang mengganggu dan menghambat. Namun, dalam kasus kedua, ia bebas. Dia melakukan pekerjaan dengan lebih baik tanpa kejengkelan. Dia memiliki sukacita kebebasan dan merasa tidak ada beban yang menindas di punggungnya. Dia masih tahu bahwa Ayahnya akan menghukum kalau tidak taat, tetapi itu bukan kuk berat karena ia cukup senang untuk mengambil balok-balok itu. Apa bedanya? Ayah berada di lantai membantu — bahkan membuatnya menjadi menyenangkan. Pekerjaan yang sama untuk dilakukan, tetapi dalam satu kasus ada di bawah kuk perhambaan, dalam kasus lain dalam kebebasan. Ada petunjuk di sini untuk bagaimana kita bisa hidup dalam kebebasan dan menaati Galatia 5:1. Kunci untuk kebebasan adalah apakah kita harus melakukan pekerjaan itu sendiri untuk menghindari hukuman, atau apakah Bapa kita turun untuk bersama kita dan membantu kita. Saya pikir ini akan menjadi jelas di Galatia 5:2-5.

Ayat 2, 3, dan 4 masing-masing menggambarkan keadaan tetap di bawah kuk perhambaan. Jadi, ayat-ayat ini berfungsi sebagai peringatan terhadap perbudakan. Kemudian, ayat 5 memberikan gambaran positif tentang bagaimana untuk berdiri teguh dalam kebebasan. Mari kita lihat masing-masing ayat ini secara berurutan.

Jangan Menyuap Allah demi Mendapat Berkat

Kita akan melihat ayat 2 dan 3 sekaligus: "Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (atau: Kristus tidak akan berguna apa-apa bagimu). Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. (harfiah: bahwa ia adalah seorang yang berutang untuk melakukan seluruh hukum Taurat)." Seorang pembaca yang benar-benar tidak sensitif terhadap semua yang telah terjadi sebelumnya di Galatia mungkin berkata, "O, itu mudah. Paulus mengatakan sunat adalah salah dan tidak menyenangkan Allah dan tidak - sunat adalah yang benar dan menyenangkan Tuhan. Jadi intinya adalah: lakukan apa yang menyenangkan Allah — jangan sunat." Namun, apakah Anda melihat apa yang tidak dilihat oleh pembaca yang dangkal: itu membuat tidak bersunat menjadi sesuatu yang sama berbahayanya dengan sunat, yaitu, sebuah tindakan yang bisa Anda gunakan untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan.

Maksud dari ayat 2 dan 3 bukan bahwa sunat itu sendiri adalah salah, tetapi bahwa setiap tindakan yang kita lakukan untuk menyuap Tuhan demi mendapatkan berkat adalah salah. Sunat kebetulan adalah kebutuhan utama dari orang Yahudi yang mengajar orang Galatia untuk melakukan cara mereka untuk berkenan pada Allah. Galatia 2:3-5 mengingatkan kita bagaimana sunat berkaitan dengan kebebasan dan perbudakan. Paulus pergi ke Yerusalem, "tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya. Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk mengadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita. Akan tetapi, sesaat pun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu." Itulah yang dimaksud Paulus dalam Galatia 5:1 "berdirilah teguh, dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." Artinya, jangan biarkan Yahudi menyihir Anda ke dalam pemikiran bahwa sunat atau tindakan ketaatan lahiriah lainnya dapat diberikan kepada Allah sebagai keuntungan baginya, yang kemudian harus dia bayar.

Lihatlah lebih dekat ke ayat 2. "Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu." Masalah dengan Yahudi adalah bahwa mereka ingin bertransaksi dengan keuntungan Kristus, tetapi hanya dengan membuat investasi dengan Dia dari aset moral mereka sendiri. Paulus mengatakan bahwa jika Anda mencoba untuk mendapatkan dividen dari Kristus dari investasi sunat atau aturan diet atau hari raya Anda sendiri, Kristus tidak akan berguna apa-apa. Mengapa? Sebab, semua manfaat rohani dan fisik Kristus memberikan dividen yang dibayarkan dari investasi-Nya sendiri di Kalvari. Ketika Anak Allah mati bagi dosa-dosa kita, aset moral yang Dia investasikan di bank kemuliaan Allah yang begitu besar adalah dividen yang tak terbatas, tak berujung, dan tersedia untuk semua orang yang ... yang apa? Ayat 2 mengatakan: keuntungan Kristus bukan milik Anda jika Anda mencoba untuk mendapatkan mereka dengan investasi Anda sendiri. Mengapa? Karena itu berarti tidak menghormati Kristus, membatalkan anugerah (2:21), dan menghilangkan batu sandungan dari salib (5:11). Kita meninggikan salib dan kasih karunia dan Kristus ketika kita mengakui bahwa kita tidak memiliki aset untuk berinvestasi, dan bahwa investasi Kristus di Kalvari benar-benar cukup untuk mendapatkan dividen secara cuma-cuma dari kebenaran dan kehidupan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Jadi, ayat 2 mengajarkan bahwa perbudakan adalah ketika Anda menolak Kristus sebagai dermawan penyayang yang memberi kita dengan cuma-cuma pangsa laba tanpa akhir. Perbudakan adalah ketika Anda memilih untuk berurusan dengan Dia sebagai bankir yang membutuhkan investasi Anda untuk menghasilkan dividen bagi para nasabah-Nya.

Ayat 3 mengatakan hal yang sama dengan sedikit berbeda. "Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat." Ayat ini mengajarkan bahwa pola pikir perbudakan adalah pola pikir debitur-- orang yang berada di bawah tekanan untuk membayar kembali apa yang telah dipinjam atau kebutuhan untuk meminjam. Semua tindakan hukum (termasuk sunat) adalah mata uang yang dengan itu orang Yahudi bertujuan untuk membayar utang mereka kepada Allah. Titik mengejutkan dari ayat ini bagi kita adalah bahwa Allah tidak mau berurusan dengan kita sebagai debitur dengan cara demikian.

Kesalahan dari Etika Berterima Kasih

Saya mengatakan hal ini mengejutkan karena ada pandangan yang sangat umum tentang perilaku Kristen yang bertentangan dengan ayat ini. Hal ini disebut "Etika Berterima Kasih". Dikatakan bahwa Allah telah berbuat banyak bagi saya, bahwa saya akan mengabdikan hidup saya untuk membayar kembali utang saya, meskipun saya tahu, saya tidak akan pernah bisa benar-benar melakukannya. Meskipun kebanyakan orang Kristen yang mengusahakan etika berterima kasih ini akan mengatakan bahwa mereka tidak mencoba untuk mendapatkan keselamatan mereka, tetapi ketika mereka mulai bekerja untuk Tuhan karena Dia telah memberi mereka begitu banyak, sangat mudah untuk mulai memikirkan pemberian gratis dari Allah sebagai pinjaman yang akan dibayar kembali atau sebagai upah muka yang akan diperoleh. Jadi, etika berterima kasih ini cenderung menempatkan Anda dalam posisi debitur bukannya anak, dan hal tu adalah perbudakan. Tak satu pun dari kita merasa benar-benar bebas, sementara kita dibebani dengan utang yang harus dilunasi. Kristus tidak ingin Anda berhubungan dengan Dia sebagai debitur yang menggunakan hukum untuk melakukan pembayaran angsuran pinjaman tanpa akhir.

Setidaknya, ada tiga alasan mengapa etika berterima kasih ini salah. Pertama, bersyukur yang sejati adalah, sesungguhnya, rasa utang yang menyenangkan. Akan tetapi, begitu kesenangan dalam kemurahan hati orang lain ini berubah menjadi sebuah perasaan bahwa kita harus membayar sesuatu kembali, apa yang dulu merupakan pemberian gratis mulai menjadi transaksi bisnis. Rasa syukur yang benar bukanlah perasaan harus membayar kembali.

Alasan kedua mengapa etika berterima kasih salah adalah karena itu merendahkan salib Kristus. Ketika Kristus telah mati karena dosa-dosa kita untuk memperbaiki pelanggaran yang kita lakukan terhadap kehormatan Allah, utang kita benar-benar dihapus! Setiap upaya untuk meningkatkan, dari rekening kita, deposit yang dibuat untuk kita oleh Kristus di Kalvari merupakan penghinaan terhadap nilainya yang tak terbatas. Ya, semua hal yang baik yang terjadi kepada kita orang-orang berdosa sekarang dan dalam kekekalan harus dibayar. Namun, Injil adalah bahwa mereka telah dibayar oleh orang lain. Oleh karena itu, kita tidak boleh mencoba untuk berhubungan dengan Allah sebagai debitur yang berusaha untuk membayar kembali utang, tidak peduli seberapa pun bersyukurnya.

Alasan ketiga mengapa etika berterima kasih salah adalah bahwa itu cenderung untuk memikirkan bahwa karya Tuhan bagi kita hanya untuk yang pada masa lalu. Dikatakan, Allah telah melakukan begitu banyak untuk saya, sekarang saya akan berbuat bagi Dia. Namun, itu mengabaikan kenyataan bahwa karya Tuhan bagi kita adalah masa lalu, sekarang, dan masa depan, dan itu tidak hanya bekerja untuk kita, tetapi dalam kita. Etika berterima kasih cenderung lupa bahwa di luar kuasa kehadiran Kristus yang tinggal dalam kita, kita tidak dapat melakukan apa-apa yang berharga (Yohanes 15:5). Etika berterima kasih lupa bahwa setiap kesabaran, kebaikan, ibadah, dll., yang bisa kita berikan kepada Allah adalah buah Roh-Nya (Galatia 5:22; Filipi 3:3). Allahlah sekarang yang bekerja dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya (Ibrani 13:21). Oleh karena itu, bahkan pemberian kita kepada Allah adalah karunia dari Allah. Etika berterima kasih gagal melihat ini sebagai karya kasih karunia yang tidak pernah berakhir dalam hidup kita. Kita bahkan tidak bisa mulai membayar Allah kembali karena gerakan sedikit ke arah Dia adalah anugerah baru dari Dia.

Jadi, ketika ayat 3 mengatakan bahwa orang yang akan disunat menempatkan dirinya sebagai debitur kepada Allah, kita belajar bahwa Allah tidak ingin berhubungan dengan kita sebagai debitur yang berusaha untuk membayar kembali. Kehendak-Nya bagi kita adalah bahwa kita bebas -- bahwa kita mengakui bahwa seluruh utang dibayar. Kita bukan budak yang harus bekerja untuk keluar dari rumah miskin.

Kemerdekaan Tergantung pada Kasih Karunia

Sekarang, ayat 4 mengatakan hal yang sama seperti ayat 2 dan 3, memperingatkan kita untuk berdiri teguh dalam kemerdekaan dan tidak tunduk kepada kuk perhambaan: "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia." Jika Anda memasangkan kuk hukum kepada diri dan bertujuan untuk menggunakannya untuk mencapai kebenaran Anda sendiri di hadapan Allah, Anda telah diserahkan kepada kuk perhambaan dan tidak berdiri di kebebasan dimana Kristus membebaskan Anda. Atau menggunakan kata-kata dari ayat: hubungan Anda dengan Kristus dibatalkan dan Anda tidak lagi mendapatkan keuntungan dari kasih karunia. Apa yang diajarkan ayat ini, kemudian, adalah bahwa pengalaman kebebasan, termasuk kebebasan hidup yang kekal, hanya bisa dinikmati saat kita bergantung pada kasih karunia Kristus. Perbudakan adalah apa yang terjadi ketika Anda menjauh dari kuasa kasih karunia. Kunci untuk kebebasan adalah untuk tetap tergantung pada kasih karunia.

Akan tetapi, apa itu kasih karunia? Kasih karunia adalah karya Allah yang penuh kuasa yang Dia berikan secara bebas untuk Anda dalam hidup Anda sekarang. Anda pernah mendengar singkatan: G.R.A.C.E. — God's Riches At Christ's Expense (Kekayaan Allah di Pembayaran Kristus - Red.). Itu sangat baik. Akan tetapi, untuk mengingatkan kita bahwa kasih karunia juga merupakan tindakan Allah untuk saat ini, berikut adalah singkatan lain: G.R.A.C.E. -- God's Rescuing And Caring Exertion (Pengerahan Penyelamatan dan Perhatian Allah - Red.). Misalnya, dalam 1 Korintus 15:10, Paulus mengatakan, "Aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku." Kasih karunia adalah tenaga Tuhan dalam hidup kita untuk membantu kita. Contoh lain adalah Roma 5:21, "sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikianlah kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." Kasih karunia adalah seperti seorang raja yang berkuasa yang memberikan pemerintahan-Nya dalam kehidupan orang Kristen.

Jadi, ketika Galatia 5:4 menyiratkan bahwa kunci untuk kebebasan tergantung pada kasih karunia, itu berarti bahwa kunci untuk kebebasan adalah pengerahan tenaga penyelamatan dan perhatian Allah dalam kehidupan kita di sini dan sekarang. Kita bebas ketika Allah datang dengan leluasa untuk membantu kita dan kita bersukacita percaya pada pertolongan-Nya, bukannya beralih ke kuk hukum.

Dan, ini membawa kita kembali ke bermain di keluarga Piper. Ketika saya mengatakan, "Oke, Abraham, ambil balok-balok itu dan masukkan mereka semuanya dalam keranjang," ada dua kemungkinan: pertama, saya bisa meninggalkan dia sendirian dan mengancam memberi hukuman jika dia tidak menyelesaikan pekerjaan itu. Kedua, atau saya bisa turun ke lantai dan membantu dia dan mengubah pekerjaan menjadi menyenangkan. Yang satu adalah melahirkan anak ke dalam perbudakan (seperti Ismail, Galatia 4:24). Yang lain melahirkan anak kebebasan (seperti Ishak, Galatia 4:26,31). Kunci untuk kebebasan adalah apakah Tuhan turun untuk membantu kita melakukan apa yang Dia perintahkan dan apakah kita hidup oleh iman dalam karya kasih karunia.

Bagaimana Orang Merdeka Menantikan Hari Terakhir

Saya menutup dengan hanya menunjukkan bagaimana ayat 5 menggambarkan kehidupan kebebasan. "Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.." Meskipun ada pemahaman di mana kita sudah dibenarkan oleh iman dalam Kristus dan berjubahkan kebenaran-Nya (Roma 5:1; 1 Korintus 1:30), penghakiman terakhir terbentang di hadapan kita di mana putusan akhir akan diucapkan dan kita akan dibenarkan seutuhnya. Ini adalah harapan yang kita nantikan dan rindukan. Namun, begitu juga orang Yahudi! Pertanyaannya adalah bagaimana kita menunggu: sebagai orang merdeka atau sebagai budak?

Dua ungkapan dalam ayat 5 meringkas bagaimana orang merdeka menunggu hari terakhir. Pertama, "oleh Roh". Hidup kita dimulai dengan karya Roh (seperti hidup Ishak dimulai dengan campur tangan ilahi, Kejadian 21:1). Dan kehidupan kita berlanjut oleh karya Roh. "Ini bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Kita bebas karena Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya untuk datang membantu kita menyimpan balok-balok. Dia tidak berdiri menyendiri dan memberikan tuntutan. Dia menawarkan persekutuan dan bantuan-Nya, dan bahkan membuat kehidupan ketaatan adalah kehidupan sukacita. Kehidupan Kristen adalah kehidupan kebebasan karena dihidupi dalam kuasa Roh.

Ungkapan kedua yang menunjukkan bagaimana orang merdeka menunggu kebenaran yang kita harapkan adalah "dengan iman". "Melalui Roh dengan iman kita menunggu kebenaran yang kita harapkan." Bisa dibayangkan bahwa Abraham kecil akan mencibir dan berkata, "Aku tidak ingin bantuanmu. Aku akan mengambil balok-balok itu sendiri. Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang bisa aku lakukan. Aku akan menunjukkan aku tidak butuh kemurahanmu." Jika ia terus sombong, ia tidak akan mendapat kasih karunia dan saya akan tidak berguna baginya. Dia akan memilih legalisme lebih daripada kasih karunia dan perbudakan lebih daripada kebebasan. Sisi manusia dari kebebasan adalah iman. Dan, Galatia 3:5 mengingatkan kita bagaimana itu berhubungan dengan sisi Allah: "apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mukjizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?" Jika kita benar-benar bergantung pada Bapa kita untuk menolong kita, Dia akan membantu kita.

Dan, dicatat dengan baik dalam Galatia 5:5 bahwa iman bukan hanya keputusan masa lalu. Itu adalah cara yang berkelanjutan dalam menunggu kebenaran yang kita harapkan. Jadi, mata uang kebebasan memiliki dua sisi. Satu sisi adalah pekerjaan kemurahan Allah yang berdaulat dalam diri kita dan untuk kita hari demi hari -- Ayah turun ke lantai dan mengubah ketaatan menjadi menyenangkan. Sisi lain adalah iman kita -- kehidupan bersukacita tergantung atas apa yang Tuhan lakukan bagi kita, bukan apa yang bisa kita lakukan untuk Tuhan -- kehidupan yang khas yang berbeda dari dunia karena, sebagaimana akan kita lihat, dimerdekakan untuk mengasihi. "Kristus telah memerdekakan kita; karena itu berdirilah teguh, dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Desiring God
URL : http://www.desiringgod.org/messages/for-freedom-christ-has-set-us-free
Judul asli artikel : For Freedom Christ Has Set Us Free
Penulis artikel : John Piper
Tanggal akses : 7 September 2017