Amerika: Ibunda Sophia

"Pada tahun 1996, anak perempuan kami Sophia mengalami kejang-kejang yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada otaknya. Dia menderita selama berbulan-bulan, menangis tanpa henti selama dua atau tiga hari setiap kali dan merintih kesakitan. Dia tidak mengenal kami dan juga tidak memberikan reaksi."

salib

"Perawat kami tidak dapat memahami mengapa kami tidak marah pada Allah karena telah mengijinkan hal ini terjadi. Saya mencoba membantunya melihat bahwa kami adalah hamba-hamba-Nya dan tidak dapat menolak pemberian-Nya yang besar dalam diri Anak-Nya. Empat bulan setelah terjadinya kejang-kejang itu, Sophia meninggal.

"Pada hari kematiannya, saya melihat dalam artikel Voice of the Martyrs foto seorang wanita Sudan yang payudaranya telah dipotong sedang duduk di sisi bayinya. Tentara Muslim menyiksanya dengan cara yang keji, memaksa dia melihat anaknya mati kelaparan. Ribuan kilometer darinya, saya dapat merasakan penderitaannya, dan saya menangis, dan saya berpikir, saya tidak akan membiarkan saya tenggelam dalam mengasihi diri sendiri.

"Wanita itu dan wanita-wanita lain seperti dia tidak dapat menikmati perawatan medis, persekutuan, dan kasih dari saudara-saudara yang kami miliki. Namun, mereka dengan tabah menjalaninya, dan saya dengan kasih karunia Allah juga dapat menjalaninya.

"Saya membutuhkan surat-surat hidup yang menceritakan kenyataan bahwa Yesus hidup dan dunia ini bukanlah rumah saya."
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

"Saya membutuhkan surat-surat hidup yang menceritakan kenyataan bahwa Yesus hidup, dan dunia ini bukanlah rumah saya."

Meskipun hadirat Allah selalu dekat dengan perantaraan Roh Kudus, kita seringkali membutuhkan manusia lain sebagai sumber kekuatan rohani untuk menolong kita dalam iman. Para martir dan orang-orang percaya lainnya mendorong kita untuk percaya bahwa kita mungkin juga dapat memberikan respons yang sama. Meskipun kita tidak mengalami penderitaan yang sama, kita tetap dapat meneladani semangat mereka, daya tahan dan keberanian mereka dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika Anda terinspirasi oleh suatu kisah kehidupan iman, bagikan dengan yang lain. Bagikan agar dapat menjadi teladan. Ajar orang lain untuk dapat memperoleh kekuatan dari mereka yang telah lama pergi, meninggalkan teladan iman bagi kita semua.

Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia (2 Korintus 3:3)

Diambil dari:
Judul buku : Devosi Total
Judul asli buku : Extreme Devotion
Penulis : The Voice of the Martyrs
Penerjemah : Fintawati R. dan Ivan H.
Penerbit : Surabaya, KDP 2005
Halaman : 171

Dipublikasikan di:

https://wanita.sabda.org/amerika_ibunda_sophia

https://kesaksian.sabda.org/amerika_ibunda_sophia

Kategori

Kolom Publikasi

  • Kesaksian Iman (Testimoni)
  • Penderitaan dan Daya Tahan
  • Kemartiran
  • Kehidupan Kekristenan
  • Keteguhan Hati
  • Iman di tengah penderitaan yang mendalam: Kisah penderitaan Sophia mengajarkan tentang menghadapi kesedihan dan kehilangan besar sambil tetap percaya pada kehendak Tuhan.
  • Kekuatan rohani dari kesaksian orang lain: Penulis menekankan bahwa meskipun Roh Kudus hadir, manusia memerlukan kesaksian hidup dari orang-orang percaya dan martir sebagai sumber kekuatan iman.Meneladani semangat martir: Kita diajak untuk meneladani daya tahan, keberanian, dan semangat para martir, meskipun tidak mengalami penderitaan yang sama.Tujuan hidup sebagai 'Surat Kristus': Umat Kristen dipanggil untuk menjalani hidup yang menjadi kesaksian nyata akan kebangkitan Yesus dan kenyataan bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggal abadi, sehingga kesaksian ini harus dibagikan kepada orang lain.

Artikel ini diawali dengan kisah pilu seorang ibu yang kehilangan putrinya, Sophia, akibat penderitaan fisik dan kematian. Melalui tragedi pribadi ini, penulis merenungkan makna iman di tengah penderitaan dan kehendak Tuhan. Refleksi kemudian meluas kepada penderitaan martir di berbagai penjuru dunia, yang mengajarkan tentang daya tahan dan keteguhan dalam iman. Inti dari pesan ini adalah bahwa meskipun hadirat Allah selalu dekat, manusia membutuhkan kesaksian hidup (testimoni) dari orang lain—terutama para martir—untuk memperkuat iman. Oleh karena itu, umat percaya didorong untuk hidup sebagai 'surat Kristus' yang harus dibagikan kepada orang lain, agar mereka dapat memperoleh kekuatan rohani, dan untuk menyadarkan bahwa dunia bukanlah rumah sejati kita.