Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Tugas Gereja Injili Sebagai Penerus Berita dari Allah

Tugas Gereja Injili Sebagai Penerus Berita dari Allah


Berikut ini merupakan kutipan bagian pertama dari artikel yang berjudul "Gereja yang Injili" yang ditulis oleh John F. Havlik.
Artikel ini mempunyai tiga bagian utama yaitu:

  1. Tugas Gereja Injili sebagai Penerus Berita dari Allah
  2. Sifat-sifat Gereja Injili
  3. Pekerjaan Pelayanan Gereja Injili

Jika Anda menginginkan artikel lengkapnya, silakan mengirim email ke alamat Redaksi Buletin e-JEMMi <webmaster(at)sabda.org>.

Kita belajar dari ringkasan kitab Kisah Para Rasul bahwa jemaat (gereja) bukan "juara-juara rohani", yang membawa pesan keselamatan. Memang benar ada orang-orang besar seperti Paulus, tetapi ia tidak membangun nama bagi dirinya sendiri. Bahkan ia menganggap bahwa kemasyhuran adalah hal yang sia-sia.

  1. Gereja adalah perantara yang meneruskan berita dari Allah kepada manusia.

    Gereja yang mula-mula dalam Kisah Para Rasul meneruskan berita dari Allah kepada dunia dan memperlengkapi umat Allah. Kalau gereja tidak menginjili dunia, maka dunia tidak akan diinjili sama sekali. Gereja adalah tubuh Yesus Kristus (Roma 12:5; 1 Korintus 6:15, 12:12; Efesus 1:22, 4:12; Kolose 1:18-24). Ayat-ayat ini adalah sangat penting untuk mengerti tentang misi gereja.

  2. Gereja membawa misi Kristus.

    Mengapa Allah menjelma di dalam diri Yesus Kristus? Mengapa Allah mau mempunyai tubuh untuk berjalan keliling di dunia ini? Kristus sendiri menjawab pertanyaan itu. Di dalam beberapa pernyataan-Nya yang pendek namun tepat, Ia menyatakan tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Ia datang untuk mendapatkan dan menyelamatkan orang-orang yang terhilang (Lukas 19:10). Ia datang ke dunia untuk memanggil orang-orang berdosa agar bertobat (Matius 9:13). Ia datang untuk menetapkan kebenaran menurut patokan yang baru (Matius 5:17). Ia datang untuk melayani dan untuk mati (Matius 20:28).

    Jadi, misi gereja adalah untuk memberitakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Tanggapan terhadap pemberitaan ini menentukan hidup atau mati. Bagi mereka yang tunduk pada kekuasaan-Nya sebagai Tuhan, tanggapan itu mendatangkan kehidupan. Dan bagi mereka yang tidak mau percaya kepada-Nya dan tidak mau tunduk pada kekuasaan-Nya, tanggapan itu mendatangkan kematian.

  3. Mereka yang mendengar dan percaya kepada Kristus, harus mengikuti, mengasihi dan menaati Dia lebih dari mengikuti, mengasihi, dan menaati pemimpin-pemimpin lainnya. Kasih dan kesetiaan mereka kepada-Nya harus melebihi kasih dan kesetiaan mereka kepada siapa pun, bahkan melebihi kasih dan kesetiaan kepada orangtua atau suami atau istri sekali pun. Orang-orang yang percaya harus dibaptiskan dan diajar untuk melaksanakan kebenaran menurut patokan yang baru. Mereka harus menjadi pelayan-pelayan yang melayani dengan penuh penyangkalan diri. Orang-orang yang diinjili harus menjadi orang-orang yang menginjili.

  4. Gereja mewartakan Injil melalui sifat-sifatnya dan melalui pekerjaan pelayanannya.

    Teologia kita dan tindakan-tindakan kita terlalu sering lebih mengingkari daripada saling menguatkan satu sama lain. Salah satu contohnya ialah metode pekabaran Injil kita. Kita mengatakan bahwa setiap anggota gereja adalah seorang pelayan. Kita berkhotbah tentang keimaman setiap orang yang percaya. Kita mengajar bahwa setiap orang Kristen adalah seorang penginjil. Kemudian kita minta orang-orang percaya itu supaya menjadi penonton pada suatu usaha pekabaran Injil dan pada akhirnya memberi sokongan uang untuk "pertunjukan" itu. Sebagai akibatnya kita tidak mencapai orang melalui penginjilan perseorangan. Apabila usaha penginjilan itu berakhir, yang kita dapatkan hanyalah sesuatu yang mirip penampilan pemenang kontes kecantikan atau juara-juara atletik; kaum awam hanya diberi peranan sebagai penonton yang tidak berbuat apa-apa. Kita mungkin berhasil dalam memperoleh banyak penonton, tetapi untuk apa?

    Contoh yang lain ialah gereja yang sedang mengalami percekcokan. Sementara pendeta mereka berkhotbah dengan bersemangat tentang "Allah itu kasih", mungkin jemaatnya sedang menggunjingkan orang lain atau berbohong mengenai satu sama lain. Hal-hal yang bertentangan ini tidak baik bagi dunia-dunia yang sedang mengamat-amati dan bertanya-tanya tentang kehidupan kita.

    Yesus menyampaikan misi-Nya melalui kehidupan-Nya dan melalui perbuatan-perbuatan-Nya. Apakah kita menyampaikan misi itu juga secara jelas dan dengan keyakinan? Apakah kita menyampaikan kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan? Apakah kita menyampaikan dengan jelas bahwa kita menaruh perhatian terhadap orang lain?

    Baru-baru ini saya berkhotbah di sebuah gereja di tengah kota. Gereja itu terletak tak begitu jauh dari tempat minum dan berkumpul para pecandu minuman keras. Ketika saya keluar dari mobil, saya melihat seorang pemuda dengan Alkitab terbuka sedang bercakap-cakap secara serius dengan beberapa orang dari tempat itu. Saya bertanya kepadanya apakah ia anggota gereja tempat saya berkhotbah. "Bukan," jawabnya, "Saya anggota dari gereja di pinggiran kota. Tetapi saya selalu datang kemari setiap hari Minggu pagi karena di sini tempat yang baik untuk bersaksi." Kemudian saya masuk ke dalam gereja itu di mana saya akan berkhotbah. Pada waktu kebaktian selesai saya mendengar empat orang mengeluh bahwa gereja mereka hampir mati. Mereka berkata bahwa gereja itu rusak karena orang-orang jahat yang tidak baik itu, yang sedang duduk di sana di pinggir tempat parkir.

    Nah! Apakah yang sedang disampaikan oleh gereja itu? Dan apakah yang sedang disampaikan oleh pemuda itu? Bagaimana dengan kita? Apakah kita pun melihat orang-orang sebagai suatu kesempatan dan sebagai pribadi-pribadi yang untuknya Kristus telah mati? Bagi pemuda tadi, para pecandu minuman keras itu merupakan sebuah kesempatan; tapi bagi gereja itu mereka merupakan sesuatu yang memalukan.

    Kehidupan gereja dan apa yang dilakukan oleh gereja dapat menyampaikan misi Kristus dan misi kita kepada dunia; atau sebaliknya, gereja dapat menyampaikan sesuatu yang berbeda dan bahkan bertentangan dengan misi Kristus. Kristus datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang sesat. Apakah gereja kita terbuka bagi orang luar? Apakah kasih yang dinyatakan oleh gereja kita adalah kasih yang mencari orang-orang sesat -- kasih yang pergi menjangkau orang melalui kehidupan dan perbuatan?

    Yesus datang ke dalam dunia untuk bercakap-cakap dengan orang berdosa, makan bersama-sama mereka, dan pulang bersama-sama mereka. Apakah gereja kita menarik "orang-orang yang baik seperti kita", atau gereja sungguh-sungguh menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah sebuah persekutuan yang terdiri dari orang-orang berdosa sebagaimana yang dinyatakannya dalam pemberitaan-pemberitaannya?

    Kristus datang ke dalam dunia untuk mewujudkan hak-Nya sebagai Tuhan. Apakah gereja kita menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, atau kita dengan cara yang halus mengatakan kepada orang- orang bahwa kehendak kitalah yang harus diikuti?

    Yesus datang ke dalam dunia untuk menetapkan kebenaran menurut patokan yang baru seperti yang diajarkan-Nya dalam Khotbah di Bukit. Sampai sebaik manakah ajaran Tuhan kita itu sudah dinyatakan oleh gereja kita? Apakah kita bahagia menjadi anak-anak Allah, memiliki hidup yang suci, rendah hati, dan suka mengampuni?

    Yesus datang ke dalam dunia untuk melayani dan untuk mati. Sampai sebaik manakah gereja kita sudah menunjukkan kepada dunia, kematian ke"aku"annya dan penyerahan dirinya untuk melayani manusia? Seberapa jauhkah kita telah melibatkan diri dalam gerakan-gerakan dan program-program yang mempunyai tujuan memberikan kepada manusia kehidupan yang lebih baik? Semua pertanyaan itu sangat penting bagi para pemimpin gereja pada waktu mereka berdoa dan membuat rencana untuk menjadikan gereja mereka gereja yang Injili.

    Gereja sebagai tubuh Yesus Kristus ada di dalam dunia untuk menyelesaikan misi Kristus. Ia berkata, "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu" (Yohanes 20:21).

Sumber:

Judul Buku : Gereja yang Injili
Judul Bagian: Tugas Gereja Injili sebagai Penerus Berita dari Allah
Penulis : John F. Havlik
Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1991
Halaman : 38 - 43

e-JEMMi 13/2004