Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Teologi Alkitabiah untuk Gereja Orang-Orang Miskin

Teologi Alkitabiah untuk Gereja Orang-Orang Miskin


Apakah tujuan hidup ini? Menurut Katekisme Westminster, "Tujuan utama akhir hidup manusia adalah untuk menyenangkan Tuhan dan memuliakan-Nya selamanya." Roma 8:29 menyatakan bahwa kita ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Satu aspek tujuan hidup orang Kristen disimpulkan dalam satu ungkapan kuno, "imitatio Cristo" (tiruan Kristus).

Jika kita menerima hal itu sebagai tujuan hidup orang Kristen, lantas apakah tujuan pelayanan Kristen?

Yesus memerintahkan kita untuk memuridkan semua bangsa. Hal itu berarti menguatkan orang yang mengikut-Nya, belajar dari-Nya, dan berusaha menjadi seperti-Nya. Kolose 1:28 menyebutkan bahwa tujuan Paulus adalah "memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus". Untuk itulah dia berusaha keras "mengusahakan dan menggumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalamnya".

Efesus 5:27 menjelaskan bahwa Tuhan menghendaki kesempurnaan tersebut (atau beberapa terjemahan menyebutnya kedewasaan), bukan hanya untuk perseorangan, tapi untuk jemaat, "tanpa cacat atau kerut atau yang serupa dengan itu, supaya jemaat kudus dan tidak bercela". Sebab kita bertumbuh ke arah kesempurnaan di dalam Kristus ketika kita bertumbuh ke arah kesatuan dan kedewasaan dengan saudara-saudara kita.

"Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -- yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota -- menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (Efesus 4:15-16)

Tujuan hidup orang Kristen adalah kesempurnaan dan kedewasaan dalam keilahian. Tujuan pelayanan Kristen adalah kesempurnaan dan kedewasaan jemaat dalam kesatuan roh dengan Kristus.

Lantas, apa tujuan misi Kristen? Kita harus "pergi dan memuridkan semua bangsa" (Matius 28:18). Tujuannya bukan hanya mengutus misionaris ke ladang misi, untuk mendirikan gereja, dan untuk menghasilkan jemaat yang dewasa dan bertumbuh. Tujuannya adalah untuk menciptakan kegerakan gereja yang dewasa di tengah bangsa-bangsa.

Gereja -- Pernyataan Kristus

Yang disebut gereja adalah tubuh Kristus (jemaat), bukan hanya individunya. Belas kasihan, inkarnasi, keterlibatan, dan pernyataan pribadi tidaklah cukup. Kita harus terus berusaha sampai gereja berdiri di segala kota. Awalnya, keberadaan rasul di tengah-tengah orang miskin mungkin menginkarnasikan Kristus, namun gerejalah yang sepenuhnya merupakan inkarnasi Kristus -- tubuh-Nya. Seorang rasul menyatakan, tapi gerejalah yang setiap harinya memanifestasikan kerajaan serta kuasa Tuhan yang bangkit dan mengalahkan Iblis di kayu salib (Efesus 3:10).

Tapi, apakah yang dimaksud dengan "gereja"? Secara umum, gereja dipandang sebagai para penyembah Tuhan yang berkumpul bersama-sama di bawah satu ajaran. Masing-masing menggunakan karunia rohani dalam pelayanan, di bawah satu pimpinan yang sudah ditetapkan -- penatua, pendeta dan/atau diaken -- dalam beragam relasi yang terstruktur.

Komponen struktural jemaat, dalam pendidikan akademis, disebut sebagai teori "pertumbuhan jemaat". Berdasarkan sudut pandang struktur dan sosiologi pragmatis orang Amerika, teori tersebut telah mengembangkan beberapa konsep dan penelitian yang membantu. Dasar konseptualisasinya mencakup penginjilan, pemuridan, dan struktur gereja/jemaat.

Namun, seperti yang kita tahu, amanat Yesus adalah melakukan pemuridan yang menyeluruh dan relasional. Dari hal tersebut, dan dari inti pengajaran-Nya tentang Kerajaan Surga, konsep pertumbuhan gereja tanpa disadari semakin tercerai-berai. Komitmen Yesus, meski Dia memakainya, bukan pada struktur penginjilan atau pastoral. Komitmen-Nya adalah untuk mengasihi manusia, memperluas Kerajaan Allah. Komitmen-Nya bersifat menyeluruh.

Selama dekade terakhir, di antara kaum injili, sudah ada pemahaman yang terus berkembang akan peran Kerajaan Allah dalam teologi kita. Pertama, kita bergerak dari "misi Amanat Agung" menuju perspektif yang lebih menyeluruh dalam misi. Kemudian muncul satu pengertian baru tentang Kerajaan Allah sebagai konsep teologi yang lebih luas, yang mencakup berbagai macam komponen misi dan pelayanan. Konsep Kerajaan Allah yang luas ini memungkinkan terjadinya integrasi pemikiran karismatik ke dalam inti perspektif injili.

Tren teologi semacam ini tepat pada waktunya karena pada akhirnya tren itu memberi kaum injili sebuah teologi yang mampu bergulat dengan masalah kemelaratan dan kemiskinan, urbanisasi dan ketidakadilan, tanpa mengingkari inti penyataan Allah.

Kerajaan Allah -- Dasar Teologi Daerah Kumuh

Apakah Kerajaan Allah itu? Untuk memahami sifat gereja di daerah kumuh dengan efektif, kita harus melihat pada konsep Kerajaan Allah yang holistik, bukan hanya pada studi-studi pertumbuhan gereja yang struktural.

Yesus datang untuk memberitakan Kerajaan Allah. Tiga puluh tahun kemudian, kita mengenal Paulus di Roma yang juga mengajarkan tentang Kerajan Allah. Itulah tema inti Injil-Injil yang memberikan kepada kita sebuah perspektif penginjilan yang lebih menyeluruh daripada yang hanya menitikberatkan pada pertumbuhan gereja.

Pertumbuhan gereja bukanlah tujuan utama kita menyerahkan hidup kita. Kerajaan Allah adalah sasaran yang membebaskan kita untuk dapat terlibat dalam berbagai pelayanan. Kerajaan tersebut mencakup seluruh kehidupan kita. Teori pertumbuhan gereja hanya mencakup bagian kecil dari hidup kita.

Misi injili tradisional menitikberatkan pengajaran Injil, pemuridan, dan pembangunan jemaat di gereja. Konsep misi Kerajaan Allah melihat semua itu sebagai elemen inti dalam pola pelayanan holistik yang mencakup segala bidang kehidupan.

Apakah Kerajaan Allah Terpisah, Terlibat, atau Di Atas Daerah Kumuh?

Berdasarkan pemahaman teologi tentang hubungan Kerajaan Allah dengan budaya, kita mungkin mempertanyakan pendirian gereja di tengah-tengah masyarakat miskin.

Sebagai contoh, haruskah kita mendirikan Kerajaan Allah di daerah kumuh dengan memisahkan orang-orang percaya dari komunitas (seperti dalam konsep kerajaan Anabaptis, Baptis, Holiness, dan Pentakosta yang bertentangan dengan budaya)? Atau haruskah orang-orang percaya masuk di daerah kumuh dalam persekutuan yang berusaha merambah semua bidang kehidupan (menurut model transformasional Anglikan, Lutheran, dan Wesleyan)? Atau haruskah orang-orang percaya dianggap lebih superior daripada orang-orang yang tinggal di daerah kumuh? (seperti dalam model Kalvinis identifikasional-dominan)?

Kita tahu bahwa tidak satu pun model kerajaan atau gereja Barat tradisional yang dapat memenuhi kebutuhan pelayanan di daerah kumuh. Perpaduan konsep baru yang benar-benar berguna untuk pelayanan di daerah kumuh, sangat diperlukan. Model ini mungkin akan mengambil komponen-komponen dari setiap model di atas.

Dari Anabaptis, atau paradigma yang terpisah, kita menemukan komponen inkarnasi di antara orang-orang miskin, yang berdasarkan teologi Yesus sebagai teladan hidup kita.

Dari pengajaran Reformed, ada beberapa aspek teologi kerajaan moderat -- berbeda dengan Kalvinisme dogmatis -- yang memampukan kita menghadapi ketidakadilan dalam kota.

Dari teologi Pentakosta, kita belajar untuk melayani orang-orang miskin dalam kuasa Roh.

Dari struktur gereja Lutheran, Anglikan, dan Wesley, kita belajar tentang pentingnya struktur kepemimpinan otoriter dalam pelayanan untuk orang miskin.

Titik Fokus Pelayanan Terhadap Orang Miskin

Teologi Kerajaan Allah juga memperkirakan gaya pelayanan yang harus sentral dalam melayani masyarakat miskin. Ada banyak tindakan kristiani yang dapat kita lakukan dalam merespons buruknya keadaan di daerah kumuh. Mana yang paling strategis? Jawabannya tergantung pada kekuatan dan sumber daya gereja, serta tekanan hidup dan kemiskinan yang sedang dihadapi.

  1. Determinasi Ekonomi Jika penyebab kemiskinan daerah kumuh adalah kekurangan ekonomi, kita mungkin dapat melayani dalam bentuk badan pengembangan Kristen. Belas kasihan bagi korban penindasan sering kali memunculkan respons ekonomi. Hal tersebut benar bagi Yesus, demikian juga bagi kita. Kita memberi bantuan. Menghubungkan belas kasihan kita dengan analisa struktur ekonomi masyarakat akan berujung pada respons pengembangan kristiani bagi orang-orang miskin. Ini adalah respons Kerajaan Surgawi dan merupakan sebuah upaya yang baik.

  2. Determinasi Sosiologi Di sisi lain, jika kita menganggap kemiskinan disebabkan faktor sosial dan budaya, solusinya adalah mendirikan lebih banyak organisasi kemasyarakatan.

    Teori yang sekarang ini ada untuk cara yang satu ini adalah memberdayakan orang-orang miskin -- memampukan mereka untuk memenuhi takdir mereka dengan mempelajari martabat dan kekuatan mereka sendiri, dan secara bertahap, mendapatkan hak mereka. Hal-hal itu bisa menjadi respons kerajaan yang bagus. Cara-cara tersebut sering ditekankan oleh kaum liberal dan teologi liberal, yang dengan akar alkitabiah yang tidak cukup, mudah terjerumus dalam filosofi Marxist. Ini bukanlah sebuah alasan bagi injili dan Pentakosta untuk mengabaikan masalah-masalah tersebut. Ini juga bukan alasan untuk meniru pengategorian mereka.

  3. Determinasi Politik Banyak orang berpikir lebih jauh lagi; mengganggap bahwa kemelaratan disebabkan oleh sistem politik dan penyalahgunaan kekuasaan. Tergantung di mana Anda mulai berideologi, Anda mungkin memandangnya sebagai akibat dari eksploitasi kapitalisme dan perebutan kelas, pemerkosaan suatu bangsa secara multinasional, atau penyalahgunaan kekuasaan yang menjadi sifat Marxisme.

    Untuk mengenali penindasan sebagai sebab dasar kemiskinan menyiratkan perlunya sebuah respons yang sesuai dari orang-orang Kristen. Untuk melihat efek penindasan kaum miskin memerlukan respons kerajaan. Injil sangat tegas dalam menekankan keadilan untuk kaum miskin.

  4. Pelayanan Model Yesus Titik awal logis bagi orang Kristen adalah datang kepada Gurunya, yang adalah Kebenaran, Kebenaran yang hidup, dan karena itu mungkin memiliki jawaban terbaik untuk masalah-masalah yang ada. Bagaimanakah Yesus merespons kemiskinan kota?

    Pertama, Dia masuk dalam kemiskinan. Dia menyatakan diri-Nya di daerah miskin. Dia menjadi salah satu orang miskin yang tertindas.

    Kedua, Dia memandang transformasi rohani sebagai sesuatu yang utama.

    Ketiga, Dia memiliki pemikiran yang lebih bersifat jangka panjang daripada kita. Dia lebih mementingkan Kerajaan Surgawi -- bukan pertumbuhan ekonomi, sosial, atau politik. Bagi Yesus, pertumbuhan ekonomi adalah hasil dari penyataan dan penyerahan diri kepada Raja. Di mata-Nya, pertobatan dan pemuridan lebih penting daripada pendekatan berdasarkan perubahan politik.

    Pada saat yang sama, Dia memperjelas bahwa Kerajaan Surgawi sering kali mengenai ekonomi, politik, dan sosiologi. Kerajaan-Nya bersifat rohani, namun melibatkan masyarakat baru, pola ekonomi baru, dan memiliki filosofi politik ke pelayanan. Perkembangan kepemimpinan menjadi inti pelayanan-Nya. Namun yang dimaksud pengembangan kepemimpinan di sini adalah pengembangan kepemimpinan yang elemen-elemennya tetap berada pada pelayanan spiritual.

Untuk itu, nampaknya tepat jika kita berfokus pada penginjilan yang diikuti dengan pemuridan dan pembentukan kelompok sosial petobat baru. Ini dikenal sebagai perintisan gereja.

Jika kita ingin berkonfrontasi secara rohani dengan para pemerintah dan penguasa, kita juga harus fokus pada perintisan gereja karena kurangnya gereja di daerah kumuh berarti kurangnya dasar etis untuk menghadirkan perubahan politik. Jika kita memiliki niat untuk menegakkan keadilan bagi orang-orang miskin, kita semestinya berfokus pada perintisan gereja karena gerakan yang signifikan di antara orang-orang miskin biasanya memengaruhi perubahan sosial dan politik.

Menariknya, apa pun masing-masing penekanannya, beberapa solusi sosiologi adalah sesuatu yang umum bagi keempat pilihan di atas. Baik organisasi ekonomi, politik, atau religius, kunci untuk mengubah orang miskin adalah pelipatgandaan organisasi-organisasi kecil. Secara ekonomi, hal tersebut adalah pelipatgandaan usaha kecil. Secara politik, pelipatgandaan ini adalah pergerakan kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan kader yang berkomitmen. Secara rohani, merupakan pelipatgandaan jemaat atau persekutuan kecil yang bersatu dalam jaringan kegerakan. Semuanya itu membantu orang-orang miskin, memampukan mereka untuk mulai menentukan nasib mereka sendiri. (t/Setyo)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Cry of The Urban Poor
Judul asli artikel : Biblical Theology for Poor People's Churches
Penulis : Viv Grigg
Penerbit : Marc Publication, California 1992
Halaman : 155 -- 162

e-JEMMi 18/2009