Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Sukacita dalam Memenangkan Jiwa

Sukacita dalam Memenangkan Jiwa


Saya bersama keluarga pindah ke Filipina pada tahun 1977 untuk mengoordinasi pelayanan konseling dan bimbingan lanjutan bagi pelayanan Metro Manila Billy Graham Crusade. Selama 6 bulan, siang dan malam, kegiatan lembaga pelayanan itu benar-benar menguras tenaga saya. "Sepanjang hidup saya, saya belum pernah melihat kamu bekerja sekeras ini," demikian kata istri saya.

Kami melatih lebih dari empat ribu konselor di 72 lokasi dengan menggunakan tiga macam bahasa. Kami membina 1.600 pemimpin Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) yang cakap untuk memimpin kelas-kelas pertumbuhan bagi mereka yang telah membuat keputusan untuk percaya atau menerima Kristus. Kami membuat kelompok yang diberi nama "Korps Rekan Kerja", yang terdiri dari orang-orang Filipina, dipimpin oleh seorang pelatih Para Navigator Internasional, Len McGrane, yang ditugaskan untuk membantu proyek ini. Len bersama rekan-rekannya, orang Filipina, bekerja siang malam selama 2 minggu untuk memproses 22.512 kartu keputusan, mengirimkannya kepada tiap-tiap nama, dan menujukannya kepada pendeta atau pun pemimpin KTB yang tepat.

Henry Holley bahkan bekerja lebih keras lagi dibandingkan kami semua. Meskipun ia bekerja di negara dan budaya yang asing baginya, ia tidak ada tandingannya dalam mengadakan sebuah persiapan kampanye penginjilan yang besar, di mana semua denominasi bisa bekerja sama. Setelah selesai bekerja sendirian selama belasan jam, seseorang bertanya kepadanya, "Henry, apakah yang mendorong Anda bekerja begitu rajin dan bersemangat?" Ia menjawab, "Ketika saya melihat banyak orang datang untuk mendengarkan Dr. Billy Graham berkhotbah, saya sudah bersukacita; dan ketika saya melihat orang banyak itu maju ke depan untuk menerima Kristus, saya lebih bersukacita lagi." Sangatlah menggetarkan hati melihat ribuan orang datang ke depan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka dalam kebaktian penginjilan massal. Tetapi, bagaimanakah halnya dengan penginjilan pribadi? Pernahkah Anda mengalami sukacita yang tak terkatakan ketika membimbing seseorang kepada Kristus?

Ketika masih remaja, saya pertama kalinya ditantang untuk melakukan pelayanan ini oleh salah seorang teman dekat saya, Tom Truett. Suatu hari, Tom, yang juga adalah seorang ahli pidato dalam tim debat sekolah kami, berkata kepada saya, "Hal yang paling mengasyikkan di seluruh dunia ini adalah memimpin 1 jiwa kepada Kristus!" Suatu pernyataan yang sungguh-sungguh menantang! Sebagai seorang remaja, saat itu saya berpikir dalam hati demikian: "Maksudmu, apakah pelayanan ini lebih mengasyikkan dan lebih hebat daripada jatuh cinta kepada seorang gadis?"

Meskipun saya sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja, namun bertahun-tahun kehidupan saya berlalu tanpa pelayanan penginjilan pribadi. Pada saat itu, saya menjadi perwira penerbang muda di Angkatan Laut Amerika Serikat.

Pada suatu malam yang gelap dan berhujan lebat pada tahun 1943, saya menghentikan mobil Plymouth 1938 saya karena ada anggota Angkatan Laut yang akan menumpang. Ia melihat lencana penerbang dan seragam pilot saya. Ia mulai bercerita tentang kecelakaan pesawat terbang yang baru saja terjadi di dekat pangkalan udara militer dan memakan banyak korban yang meninggal dunia.

Apakah Anda tidak takut mati?" tanyanya.

"Tidak," jawab saya. "Jika pesawat jatuh, jiwa saya terangkat."

Kemudian, saya mulai mengutip ayat-ayat yang telah diajarkan Para Navigator kepada saya. Saya hanya membacakan ayat-ayat yang berkaitan dengan rencana keselamatan. Dalam kegelapan malam, sambil terus menyetir mobil, saya mengutip ayat-ayat hafalan tadi, dan hanya memberikan sedikit penjelasan di antara ayat-ayat yang saya kutip.

Setelah ayat yang keenam, yaitu ayat yang menyatakan tentang perlunya menerima Yesus di dalam hati agar menjadi seorang anak (Yohanes 1:12), saya berhenti sejenak. "Apakah saya akan memintanya supaya menerima Kristus sekarang?" pikir saya. Hati saya berdebar-debar keras seolah-olah saya dapat mendengarnya, tapi dengan seketika saya katakan, "Maukah dengan iman, Anda sekarang berdoa meminta kepada Yesus supaya masuk ke dalam hati Anda?"

Pada saat saya menunggu jawabannya, secara mental saya mencoba mengingat sebuah ayat untuk menangkis argumennya. Saya terkejut pada saat ia menjawab dengan singkat, "Ya." Mobil saya hentikan; dan ia berdoa meminta kepada Kristus supaya masuk dalam kehidupannya dan menyelamatkan jiwanya.

Membimbing orang tersebut kepada Kristus adalah lebih mengasyikkan daripada menukikkan pesawat pengebom dan melintas persis di atas laut. Satu kali saya telah mengalami sukacita besar dengan memenangkan jiwa ini, saya ingin mengatakan kepada mereka mengenai perlunya diselamatkan.

Pada minggu itu, saya berdoa secara pribadi bersama 3 orang pelayan yang memohon kepada Yesus supaya menyelamatkan mereka dari dosa dan memberi karunia hidup kekal. Lalu 40 tahun kemudian, saya berprofesi sebagai seorang misionaris. Sejak pengalaman peristiwa pertama itu, saya telah berdoa secara pribadi bersama banyak orang, kadang-kadang dengan menggunakan suatu bahasa Asia, untuk mengundang Kristus supaya masuk dalam hati mereka. Saya telah terlibat dalam pelayanan konseling ratusan pertemuan penginjilan yang diadakan oleh para penginjil, baik nasional maupun internasional.

Apakah hal ini menjadi basi atau kuno? Tidak pernah! Pada saat mengambil keputusan, bagaimanapun lelahnya, saya dapat merasakan denyut nadi dan jantung saya berdetak lebih cepat. Surga dan neraka terikat dalam peperangan. Roh Allah menembus masuk dalam banyak hati yang berada dalam kegelapan. Saya tidak pernah kehilangan sukacita mengalami kontak dengan Allah dan kekekalan yang terjadi pada saat seseorang dengan jelas lahir baru di depan mata saya. Perubahan ekspresi wajah, sinar terang di mata mereka, wajah yang berseri-seri pada orang yang menerima Kristus, membuat hati saya penuh dengan sukacita. Bukan saja hati saya: tetapi Yesus berkata: "Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (Lukas 15:10)

Melipatgandakan kehidupan merupakan satu di antara banyak sukacita besar bagi kita dalam dunia ini. Dalam sepanjang sejarah, kelahiran seorang bayi telah menjadi sumber sukacita besar dan rahim yang mandul dianggap nasib sial seseorang. Yang menghasilkan buah rohani menjadi seorang murid yang penuh sukacita. "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh" (Yohanes 15:11). Tidak mengherankan, pahala yang akan Bapa berikan kepada siapa saja yang membawa orang lain menjadi keluarga-Nya disebut: Mahkota kemegahan! (1 Tesalonika 2:19).

Hikmat Memenangkan Jiwa

Beberapa orang dengan mudah berkata bahwa memenangkan jiwa bukan tanggung jawab kita, melainkan pekerjaan Roh Kudus. Memang benar, tidak seorang pun dapat lahir baru dalam Kristus kecuali oleh Roh Kudus, seperti yang dijelaskan Yesus kepada Nikodemus (Yohanes 3:3-6). Merupakan suatu kehormatan bahwa kita menjadi pemberita kabar sukacita. Alkitab mengatakan bahwa pekabaran Injil tidak hanya dilakukan oleh murid-murid Tuhan saja. "Pergilah ke seluruh dunia, dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Markus 16:15). Alkitab dengan jelas memerintahkan kita semua untuk melakukan pekerjaan yang besar ini. Tentu saja, Yesus menjanjikan bahwa Ia akan bersama kita dan Roh Kudus akan memimpin kita pada saat kita menyampaikan kebenaran Injil.

Orang lain mungkin berkata, "Ya, kita akan menjadi saksi, tetapi kita tidak punya bagian dalam pertobatan jiwa seseorang!" Sekali lagi, Alkitab menunjukkan sebaliknya. Sesungguhnya, Rasul Yakobus menutup surat kirimannya dengan: "Barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa" (Yakobus 5:20). Amsal 11:30 lebih jelas mengatakan: "Siapa bijak mengambil hati orang."

Mengapa meluangkan waktu kreatif terbaik kita dalam usaha memenangkan jiwa-jiwa adalah bijaksana? Mari kita temukan jawaban pertanyaan itu dengan mempelajari Alkitab.

Wacana Perjanjian Baru

Allah telah berjanji untuk menghimpun pahala besar bagi mereka yang membawa orang-orang berdosa menuju jalan kebenaran. "Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya" (Daniel 12:3). Sebaliknya, jika kita tidak memperingatkan orang lain, kita bersalah karena pengabaian yang serius. Firman Allah tentang peringatan itu kuat (Yehezkiel 3:17-21 dan Amsal 24:11-12). Jika Anda tidak memperingatkan orang-orang jahat, mereka sesungguhnya akan mati di dalam dosa, tetapi darah mereka akan ditanggungkan kepada Anda.

Pengajaran Paulus

Rasul Paulus mendesak umat Kristen di Efesus supaya mempergunakan waktu "karena hari-hari ini adalah jahat", dan supaya berjalan dengan bijaksana sebagai suatu kesaksian terang rohani di depan mereka yang masih hidup di dalam kegelapan (Efesus 5:8-16). Ia mendorong orang-orang beriman di Korintus untuk bangkit dan mulai memproklamirkan kenyataan kebangkitan kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang Allah. Paulus menyalahkan keadaan yang menyedihkan berhubungan dengan kedagingan gereja orang-orang di Korintus (1 Korintus 15).

Pengajaran Yesus

Orang banyak itu ingin mengangkat Yesus sebagai Raja mereka sebab mereka telah dikenyangkan dengan ikan dan roti. Yesus berkata kepada mereka bahwa mereka bekerja untuk perkara yang keliru. "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu." (Yohanes 6:27)

Inilah pelajaran yang ada: Jangan pergunakan segala usaha Anda untuk memelihara tubuh karena tubuh akan mati. Pergunakan waktu Anda untuk memelihara sesuatu yang akan bertahan hidup selamanya, yaitu jiwa Anda.

Nilai 1 Jiwa Manusia

Kadang-kadang saya mendengar kritikan tentang sejumlah besar uang yang dipergunakan dalam kegiatan-kegiatan penginjilan. Biasanya, jawaban saya adalah, "Ya, memang kegiatan itu memerlukan banyak uang. Tetapi sesuatu yang sangat bernilai didapatkan. Jiwa-jiwa datang kepada Kristus, yaitu umat yang akan hidup selamanya dan kehadiran-Nya yang ajaib."

Berapa nilai 1 jiwa manusia? 1 juta rupiah? 10 juta rupiah? 100 juta rupiah? Mungkin harga itu tergantung pada jiwa siapa yang kita bicarakan. Jika jiwa itu adalah seseorang di seberang jauh sana, pada sebuah negeri yang namanya sulit diucapkan, beberapa orang pengkritik mungkin tidak akan memberi nilai harga yang tinggi. Itu adalah pikiran yang keliru. Jiwa besar nilainya. Yesus berkata, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26). Dengan kata lain, 1 jiwa bernilai lebih dari seluruh materi di dunia.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16). Allah mengorbankan Anak-Nya sendiri untuk menebus setiap jiwa manusia yang berharga itu.

Bijaksana bagi kita untuk memeriksa penggunaan waktu kita. Berapa banyak kerja kita diarahkan pada pemeliharaan tubuh? Berapa banyak waktu yang kita pergunakan pada sesuatu yang berkaitan dengan jiwa? Berapa banyak usaha dan waktu yang kita gunakan dalam upaya memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus? Pelipatgandaan rohani bermula dengan sukacita membawa seseorang kepada Kristus.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Pemuridan dengan Prinsip Timotius
Judul asli buku : The Timothy Principle
Penulis : Roy Robertson
Penerjemah : Lee Randolph Robertson
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 1995
Halaman : 69 -- 76

e-JEMMi 35/2009