Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Riwayat dan Ajaran Gautama

Riwayat dan Ajaran Gautama


"Buddha" bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah gelar yang berarti "Yang Bijaksana" atau "Yang Bangkit". Gelar tersebut diberikan kepada Sidharta Gautama yang lahir pada sekitar 563 SM di dekat Kapilavatsu, perbatasan Nepal, 130 mil utara Banaras. Ia dianggap sebagai reinkarnasi terakhir dari serangkaian 550 reinkarnasi (ada pula yang mengatakan ribuan) di mana ia menderita, mengorbankan diri, memenuhi segala kesempurnaan, dan secara bertahap menjadi semakin dekat dengan tujuannya -- mendapatkan kebijaksanaan bagi dirinya sendiri dan semua manusia. Keluarga bangsawannya termasuk dalam klan Sakya, sehingga terkadang Gautama dipanggil dengan sebutan Sakyamuni, orang suci dari Sakya. Ia juga disebut dengan nama Tahtagata, yang mungkin berarti "Yang telah datang" (seperti pendahulunya juga telah datang), baik oleh para pengikutnya atau dirinya sendiri.

Tidak ada biografi Gautama yang ditulis sampai seratus tahun setelah kematiannya. Namun begitu, sepertinya ia hidup dalam kemewahan pada masa-masa awal kehidupannya.

Saat remaja, ia menikahi sepupunya, Yasodhara. Setelah menikah, ia pindah ke sebuah istana yang dibangun ayahnya untuknya dan terus menikmati kenyamanan hidup kaum elit. Suatu hari, meski dicegah untuk tidak melihat sisi gelap dari kehidupan, saat ia berjalan menuju taman istana, ia melihat seorang tua, orang sakit, orang mati, dan biksu yang sedang meminta-minta. Sejak itu, ia terus memikirkan kerasnya dunia. Saking terusiknya ia oleh masalah penderitaan manusia, ia merasa sangat perlu untuk keluar dari kehidupannya yang nyaman, yang mungkin dapat mencegahnya mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang menyiksa pikirannya. Meski disodori berbagai kenikmatan agar ia mengurungkan niatnya, pada suatu malam Gautama menyelinap pergi setelah melihat istri dan anak laki-lakinya sedang tidur (anak laki-laki yang secara simbolis ia beri nama Rahula, yang berarti "belenggu"). Ia meninggalkan rumah, kekayaan, dan masa depan yang cerah untuk mencari jawaban teka-teki kehidupan.

Ia berusia 29 tahun saat mengembara, namun tidak sampai enam tahun, perjalanannya berbuah. Pertama-tama ia menaati ajaran dua pertapa Brahmana terkenal, Alara dan Uddaka. Namun, Gautama tidak dapat menemukan kepuasan karena ajaran tersebut tidak mengatakan bagaimana caranya mengakhiri reinkarnasi.

Selanjutnya, ia bersama kelima temannya menjalani kehidupan pertapaan yang ekstrim di sebuah hutan. Kabarnya, ia hanya makan sedikit nasi sehari sampai tubuhnya yang terawat menjadi kurus kering. Hal tersebut memberinya pengalaman yang jelas bahwa pertapaan dan pengekangan diri adalah delusi; hal itu tidak mengantarkan seseorang menuju realisasi diri, namun melemahkan tubuh dan pikiran. Karena itu, ia kemudian memutuskan untuk menjalani hidup sederhana yang penuh dengan kegiatan mental intensif.

Akhirnya, sebagai puncak dari sebuah meditasi yang panjang, ia duduk di bawah sebuah pohon ara di Uruvela (yang kemudian disebut sebagai "Bo" atau Pohon Kebijaksanaan) dan di sana ia menerima hikmat. Sang pengembara akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Ia tidak tidak hanya mendapatkan jawaban atas permasalahannya, namun juga memiliki pesan agar seluruh dunia mendengarnya.

EMPAT KEBENARAN

Hikmat Gautama mengandung empat kebenaran.

  1. Penderitaan. Hal ini menunjuk pada penderitaan mental dan fisik. Kebenaran ini menyatakan bahwa penderitaan itu selalu ada dan merupakan sifat kehidupan. Semua makhluk hidup adalah subjeknya. Kehidupan berjalan beriringan dengan penderitaan.

  2. Kebenaran yang kedua berkenaan dengan sebab dari penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh hasrat dalam hati yang besar, yang berakar pada ketidaktahuan, yang akhirnya tidak dapat terpuaskan.

  3. Kebenaran ketiga menyatakan bahwa penderitaan akan berhenti jika hasrat juga berhenti, serta ketika hasrat egois dan nafsu kehidupan ditinggalkan dan dihancurkan. Saat itu terjadi, kedamaian akan dicapai.

  4. Kebenaran keempat adalah tentang jalan menuju pada penghentian penderitaan. Jalan Rangkap Delapan adalah semacam jalur komprehensif dalam berdisiplin diri untuk menjadi manusia yang semakin baik, yang pada akhirnya akan memusnahkan hasrat manusia dan berujung pada kesempurnaan moral. Gautama yakin bahwa dengan cara inilah, manusia dapat keluar dari lingkaran reinkarnasi. Jalan ini juga dikenal dengan nama Jalan Tengah.

JALAN RANGKAP DELAPAN

Delapan jalan itu adalah sebagai berikut.

  1. Pandangan yang benar. Hal ini melibatkan penerimaan empat kebenaran dan penolakan tegas, baik terhadap posisi filosofis yang tidak benar mengenai hal-hal seperti diri dan takdirnya, maupun sikap moral yang buruk, yang berujung pada keirihatian, kebohongan, gosip, dan semacamnya.

  2. Aspirasi yang benar. Membebaskan pikiran dari hal-hal seperti nafsu, niat buruk, dan kekejaman. Seseorang harus memiliki ketetapan hati yang teguh untuk mencapai tujuan tertinggi.

  3. Tuturan yang benar. Seseorang harus terus terang dan dapat dipercaya dalam berkata-kata, serta tidak bohong dan kasar. Kata-kata harus lembut, nyaman di telinga, masuk ke hati, bermanfaat, tepat waktu, dan sesuai fakta.

  4. Sikap yang benar. Hal ini meliputi amal, tidak membunuh segala makhluk hidup (bahkan memecah telur ayam pun tidak diperbolehkan), tidak mencuri, dan tidak berzinah. Dalam ajaran Buddha, moralitas dan hikmat intelektual tidak terpisahkan, seperti kata mutiara, "Moralitas membentuk dasar kehidupan yang lebih baik, hikmat melengkapinya."

  5. Gaya hidup yang benar. Kehidupan manusia harus terbebas dari kemewahan. Tidak boleh ada makhluk hidup yang disakiti. Setiap orang harus berusaha untuk menguasai satu keahlian dan menggunakannya agar bermanfaat bagi sesamanya.

  6. Usaha yang benar. Pertama, berusaha menghindari munculnya pikiran yang buruk; kedua, usaha untuk mengatasi pikiran buruk; ketiga, usaha untuk mengembangkan kondisi yang berfaedah, seperti pengendalian diri, penyelidikan ajaran, konsentrasi, dan rasa bahagia; terakhir, usaha untuk mengembangkan kondisi yang berfaedah yang telah muncul dan menyempurnakannya. Klimaks dari pencapaian ini adalah kasih universal.

  7. Kesadaran yang benar. Merupakan empat dasar perenungan, [1] perenungan kefanaan dan keseganan tubuh; [2] perenungan perasaan diri dan orang lain; [3] perenungan pikiran; dan [4] perenungan fenomena yang ditujukan untuk menguasai proses mental seseorang.

  8. Konsentrasi yang benar. Hal ini berkenaan dengan menyempurnakan ketajaman pikiran, mengonsentrasikan pikiran pada satu objek, yaitu semua rintangan yang telah diatasi. Hal ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pengikut Buddha. Hal ini akan membuat mereka disempurnakan; gangguan dan pikiran jahat diganti dengan rasa bahagia dan ketenangan hati. Pada akhirnya tercapai hikmat yang sempurna.

Itulah cara yang diajarkan Gautama, kombinasi moralitas, konsentrasi, dan hikmat yang ada dalam proses spiritual yang lama pada akhirnya akan membawa pada ke-Buddha-an. Moralitas tidak boleh diabaikan, hanya dengan pikiran yang murni dan hati yang lembutlah, benih hikmat ilahi dapat bertumbuh.

Buddha dikenal sebagai sistem pembebasan diri yang paling radikal yang pernah ada di dunia. Kehidupan normal tidak akan cukup untuk menuntaskan setiap tahapan yang diperlukan untuk mencapai kesempurnaan. Seluruh proses (Empat Kebenaran dan Jalan Rangkap Delapan) membutuhkan jangka waktu yang luar biasa lama, yang membutuhkan berkali-kali reinkarnasi. Untuk menyelesaikannya dengan lebih cepat, seseorang perlu meninggalkan keluarganya, seperti yang Gautama pernah lakukan.

DEFINISI PENTING

Untuk dapat memahami Jalan Tengah dengan baik, penting untuk mengerti makna dari "karma", "ketidakabadian", dan "nirwana", konsep yang sering muncul dalam ajaran Buddha.

  1. Karma. Menunjuk pada aksi-reaksi dan hukum sebab akibat. Apa yang Anda tuai akan Anda tabur. Tidak ada yang dapat mengubah atau menghentikan konsekuensi dari setiap perbuatan. Hukum sebab akibat adalah rantai yang terus ada sepanjang zaman. Anda yang sekarang dan yang Anda lakukan sekarang adalah hasil dari Anda yang dulu dan Anda lakukan dalam inkarnasi sebelumnya. Dan inkarnasi Anda selanjutnya ditentukan oleh diri Anda yang sekarang. Mustahil untuk membatalkan konsekuensi dari perbuatan jahat dengan melakukan perbuatan baik. Kebaikan akan membawa buahnya, demikian juga dengan kejahatan; keduanya beroperasi secara independen. Saat keberadaan seseorang yang sekarang berreinkarnasi, makhluk baru muncul atas dasar karmanya. Makhluk baru itu tidak identik, namun berhubungan dengan yang baru meninggal, karena tautan karma memelihara individualitas tertentu melalui banyak perubahan yang terjadi.

  2. Hukum sebab akibat berlaku dalam dunia mental, moral, dan fisik. Dengan bantuan hukum itu, beberapa hal seperti cinta pada pandangan pertama dapat dijelaskan; kedua individu memiliki hubungan di kehidupan yang lalu. Tidak ada satu hal pun dalam kehidupan ini yang tidak dapat dijelaskan dengan teori ini. Keyakinan dalam karma, hukum sebab akibat yang tidak dapat diubah, serta kejahatan dan kebaikan melalui reinkarnasi yang terus berlangsung, menghasilkan fatalisme dalam pemikiran pengikut Buddha. Apa yang akan terjadi, akan terjadi dan tak terhindarkan. Penderitaan, kehilangan, kematian, bencana, semuanya adalah bagian dari karma, dan hal itu memberikan nuansa ketidaktanggungjawaban dalam fatalisme. Waktu antara satu kehidupan dan kehidupan lain diyakini lebih lama dari masa kehidupan normal.

  3. Ketidakabadian. Buddha mengajar bahwa semua yang hidup melalui lingkaran kelahiran, pertumbuhan, kebusukan, dan kematian. Kehidupan itu satu dan tidak dapat dibagi-bagi; yang terus berubah dalam jumlah yang tak terhitung dan tak pernah berhenti. Setiap makhluk hidup harus mati dan memberikan tempat kepada makhluk lain. Manusia itu tidak abadi. Keberadaan individu hanyalah sebuah ilusi karena individu tersebut terus berubah dan hanya memiliki keberadaan yang sifatnya fenomenal. Doktrin ini dapat diwakili dengan mengatakan bahwa Gautama menyangkal keberadaan manusia sebagai individu yang terpisah.

  4. Nirwana. Ada banyak definisi yang mungkin akan menggambarkan makna dari apa yang disebut nirwana. Nirwana adalah sebuah penyataan etis, sebuah kondisi di mana tidak ada lagi reinkarnasi, hasrat, dan penderitaan. Kadang istilah ini juga didefinisikan sebagai kebebasan dari kungkungan tubuh, kesadaran akan kedamaian yang paling agung, dan sebuah kebahagiaan yang sempurna dan tanpa hasrat. Nirwana merupakan akhir dari karma.

Tidak ada Tuhan dalam doktrin Buddha. Gautama sendiri mengakuinya. Ia mengajar untuk menunjukkan jalan dan memandu mereka yang berusaha berjalan pada jalur itu, namun mereka berjalan sendirian. Gautama hanyalah seorang guru dan frasa yang biasa digunakan untuk menggantikan, "Saya berlindung dalam Buddha", yang menunjukkan sebuah perbuatan untuk menaati perintahnya, bukan sebuah sikap iman yang sudah ia selamatkan atau dapat menyelamatkan seseorang melalui pengorbanan yang ia lakukan. Jalan Tengah digambarkan oleh Profesor Kraemar sebagai "ajaran etika nonilahi", sebuah sistem pelatihan diri, anthroposentris, dan etika yang menekan yang berada di luar teologi. Buddha yang diajarkan oleh pendirinya bukanlah suatu sistem iman dan penyembahan yang masuk akal. Agama ini tidak mengenal doa, pujian, penebusan, pengampunan, surga, penghakiman, dan neraka. Agama ini tidak mau berspekulasi tentang realitas yang paling pokok atau Sebab Utama yang menjadi asal muasal rangkaian sebab dan akibat yang sangat panjang dengan mengatakan bahwa dunia ini jauh di luar pemahaman manusia. Agama ini tutup mulut terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masa depan, memberikan isi positif yang minim pada konsep nirwana.

Dihadapkan dengan masalah penderitaan, agama ini mengajarkan cara mendapat keselamatan dari karma dan siklus kehidupan dengan pemusnahan hasrat (nafsu). Hal itu merupakan suatu proses yang evolusioner untuk dicapai oleh seseorang karena Buddha tidak menerima pandangan bahwa manusia itu pada dasarnya berdosa dan perlunya pribadi lain untuk menyelesaikan ajaran moralnya. Agama ini terutama fokus pada masalah rasa sakit dan derita daripada masalah dosa. Buddha bukanlah agama yang menekankan komunikasi antara manusia dan ilahi. Agama ini lebih merupakan sebuah filosofi moral dan sebuah jalan. (t/Dian)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : The World`s Religions
Penulis : David Bentley-Taylor dan Clark B. Offner
Penerbit : William B. Eerdmans Publishing Company, Michigan 1989
Halaman : 170 -- 177

e-JEMMi 30/2008