Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Prinsip Dasar dan Prosedur Penerjemahan Alkitab

Prinsip Dasar dan Prosedur Penerjemahan Alkitab


Setelah diskusi selama dua tahun dan pengecekan menyeluruh oleh setiap anggota organisasi, pernyataan yang dibuat secara bersama-sama mengenai prinsip-prinsip dasar dan prosedur penerjemahan Alkitab disetujui dengan suara bulat oleh semua anggota divisi Penerjemahan Forum Organisasi-Organisasi Alkitab (Forum of Bible Agencies) pada sebuah rapat tanggal 21 April 1999.

Sebagai anggota Forum Organisasi-Organisasi Alkitab, kami menegaskan wahyu dan kuasa Kitab Suci dan berjanji melakukan hal-hal seperti berikut ini.

Berkaitan dengan prinsip-prinsip penerjemahan

  1. Menerjemahkan Injil dengan akurat, tanpa mengurangi, mengubah, merusak, atau menambah-nambahi makna dari teks asli. Keakuratan dalam penerjemahan Alkitab merupakan sarana komunikasi yang paling terpercaya dalam menyampaikan makna yang terkandung di dalamnya dengan setepat mungkin, yang ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip penjelasan/penafsiran.

  2. Tidak hanya mengomunikasikan isi yang bersifat informatif, tapi juga emosi dan karakter dari teks asli. Inti sari dan pengaruh yang ada dalam teks terjemahan harus sama dengan yang dimiliki oleh bahasa asli.

  3. Menjaga variasi dalam teks asli. Bentuk tulisan yang dipakai dalam teks asli, seperti puisi, nubuatan, narasi, dan nasihat harus disajikan dalam bahasa target dengan fungsi komunikatif yang sama dengan teks asli. Pengaruh, hal-hal yang penting, dan nilai "mnemonic" (kata, puisi pendek, atau kalimat yang ditujukan untuk mengingat sesuatu hal) dari teks asli harus dijaga sebaik mungkin.

  4. Dengan jujur menunjukkan konteks sejarah dan budaya yang asli. Fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa sejarah harus diterjemahkan tanpa mengubahnya. Sekaligus, penerjemahan harus dilakukan dengan suatu cara agar pembaca bahasa target, meski berada dalam situasi yang berbeda dan memunyai budaya yang berbeda, dapat memahami pesan yang penulis asli sampaikan kepada pembaca teks asli.

  5. Berusaha memastikan bahwa tidak ada unsur politik, ideologi, sosial, budaya, atau teologi yang ada sekarang yang dapat merusak penerjemahan.

  6. Mengakui bahwa terkadang penting untuk menyusun ulang bentuk teks dalam rangka mencapai ketepatan dan pemahaman yang maksimal. Karena struktur tata bahasa dan sintaksis antara dua bahasa yang berbeda sering kali tidak cocok, menjaga bentuk asli teks dalam menerjemahkan sering kali merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan dan menyesatkan. Perubahan bentuk juga sering kali perlu dilakukan ketika menerjemahkan bahasa kiasan. Sebuah penerjemahan akan mengubah sebanyak atau sesedikit mungkin istilah selama itu dibutuhkan untuk menyampaikan pesan dari teks asli dengan seakurat mungkin.

  7. Menggunakan teks-teks Injil dalam bahasa asli yang paling dapat dipercaya sebagai dasar penerjemahan dan mengakui bahwa teks-teks itu selalu merupakan hal yang paling penting. Meski begitu, terjemahan Alkitab dalam bahasa lain yang dapat dipercaya mungkin dapat digunakan sebagai sumber teks yang mendukung proses penerjemahan.

Berkaitan dengan prosedur penerjemahan

  1. Untuk menentukan, setelah penelitian linguistik dan sosiolinguistik, target pembaca terjemahan dan jenis penerjemahan yang cocok untuk pembaca itu. Diakui bahwa jenis penerjemahan yang berbeda-beda ke dalam suatu bahasa mungkin sahih, tergantung situasi sekitar, termasuk contohnya penerjemahan dalam bahasa yang lebih formal dan penerjemahan dalam bahasa sehari-hari.

  2. Mengakui bahwa penerjemahan ke dalam bahasa target harus dilakukan oleh para penerjemah yang terlatih dan kompeten yang menguasai bahasa target sebagai bahasa ibu mereka.

  3. Menyerahkan sebagian penerjemahan kepada penutur bahasa ibu yang terlatih dalam praktik dan prinsip penerjemahan dan menyediakan tenaga pendukung profesional yang dibutuhkan.

  4. Menguji penerjemahan seekstensif mungkin dalam masyarakat pengguna bahasa target untuk memastikan bahwa penerjemahan itu akurat, jelas, dan alami, serta memerhatikan kesensitifan dan pengalaman pembaca bahasa target.

  5. Memilih media yang paling cocok bagi penerjemahan untuk pembaca bahasa target, apakah itu media audio, visual, elektronik, cetak, maupun kombinasi dari media-media tersebut. Hal ini mungkin melibatkan penyesuaian bentuk agar cocok dengan media dan latar belakang budaya sembari memastikan bahwa makna asli pesan dari teks asli tidak berubah.

  6. Mendukung peninjauan ulang secara berkala terhadap terjemahan yang sudah dikerjakan guna meyakinkan apakah diperlukan perbaikan atau diterjemahkan ulang.

Berkaitan dengan kemitraan dan kerja sama

  1. Mengorganisasi proyek-proyek penerjemahan dengan cara yang dapat meningkatkan dan memfasilitasi partisipasi aktif orang-orang Kristen dan komunitas yang lebih luas, sesuai dengan keadaan sekitar. Di mana ada gereja, kami akan mendorong gereja-gereja itu untuk terlibat dalam penerjemahan dan melakukan sebanyak mungkin hal yang dapat dikerjakan untuk membantu proyek penerjemahan.

  2. Bermitra dan bekerja sama dengan organisasi atau individu lain yang mempunyai tujuan yang sama. (t/Dian)

Oleh: Forum of Bible Agencies

Diterjemahkan dari sumber:

Situs : The Council on Biblical Manhood and Womanhood
Judul asli artikel : Basic Principles and Procedures for Bible Translation
Penulis : Forum of Bible Agencies
Alamat URL : http://www.cbmw.org/tniv/fba_guidelines.php

e-JEMMi 28/2007