Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Pribadi Macam Apakah yang Dipakai Oleh Tuhan?

Pribadi Macam Apakah yang Dipakai Oleh Tuhan?


Jikalau kita menilai tokoh-tokoh Alkitab, jelaslah Tuhan memanggil orang-orang yang beraneka macam kepribadiannya. Abraham adalah orang yang berbeda dengan Lot. Yakub adalah orang berbeda dengan Ishak, bapanya. Raja Saul adalah orang yang berbeda dengan Raja Daud. Rut adalah orang yang berbeda dengan Orpa. Dalam Perjanjian Baru Tomas adalah orang yang berbeda dengan Yohanes atau Petrus. Marta adalah wanita yang berbeda dengan Maria. Allah menciptakan kita dengan suatu keistimewaan yang lain dari yang dimiliki orang lain. Dengan kata lain, Allah sangat menghargai individu, kepribadian, dan potensi yang ada pada setiap pribadi.

Di dalam pribadi setiap orang tersembunyi potensi-potensi untuk dikembangkan dan digunakan dalam hidupnya. Pribadi adalah hadiah Tuhan yang paling indah. Manusia berkewajiban untuk mengenal, menguasai, dan mengembangkan bagian yang dipandang perlu, unsur-unsur yang tersembunyi dalam tiap-tiap pribadi, dan memadukannya hingga menjadi kesatuan yang kompak dan serasi. Pribadi adalah penjumlahan sifat-sifat yang dimiliki seseorang. Setiap individu memunyai potensi untuk mencapai sukses. Tidak ada pribadi yang tidak memunyai potensi untuk mencapai sukses! Namun, sering kali potensi ini tidak dapat direalisasikan karena adanya hambatan-hambatan dalam hidupnya. Yang diperlukan adalah supaya kita dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan, menghargai semua jenis pekerjaan, belajar mengenali diri sendiri, dan menjadi individu di mana yang satu menghargai individu yang lain.

Kita perlu belajar bertanggung jawab dalam suatu pelayanan atau pekerjaan. Bagaimana kita dapat membina persahabatan yang baik? Mulailah dengan menghargai setiap individu, memahami perasaannya, menerima dia apa adanya, mengembangkan kebijaksanaan, kehangatan, dan kepercayaan terhadap sesama. Ada orang yang takut mengembangkan pergaulan bersama. Memang ada risikonya karena tidak semua orang dapat dipercayai 100%. Kembangkanlah sifat terbuka, tetapi janganlah semua rahasia hidup dikeluarkan. Ujilah dahulu sebelum mengeluarkan rahasia yang terlalu dalam. Bagaimanakah kita dapat mengatasi konflik dalam pergaulan? Kesempatan yang terbanyak dalam mengembangkan kepribadian adalah melalui kehidupan dan pelayanan yang dijalankan bersama-sama. Kita sendiri yang membina persahabatan yang baik atau mengabaikannya. Keuntungan bagi kita ialah bahwa dalam membina persahabatan, kita semakin mengerti dan mengenali diri kita sendiri. Dan kita beroleh perkembangan yang baik jikalau kita mengambil risiko dalam persahabatan yang terbuka terhadap sesama kita.

Hal yang inti sebagai orang Kristen adalah segi Ilahi dalam perubahan dan perbaikan pribadi. Pertama-tama perubahan Ilahi dimulai, apabila kita sendiri terlebih dahulu "dengan segenap hati mencari Tuhan" (Mazmur 119:10). Allah mengenal kesungguhan atau kepura-puraan seseorang. Ia hanya melayani orang yang mencari Dia dengan segenap hati dan Allah hanya menerima orang yang menghadapi Dia dengan "rendah hati" (Mazmur 25:9). Dalam Mazmur 25:12 dikatakan bahwa, "Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya kepada orang yang takut akan Dia". Siapakah yang mau dipimpin pada jalan yang benar, pada jalan yang sangat cocok bagi dia? Siapakah orang yang bahagia? Siapakah mereka yang menemui jalan yang Allah pilih baginya? Ialah orang yang takut akan Tuhan.

Hal yang kedua adalah orang yang dilayani oleh Tuhan. Mereka adalah orang yang bersedia untuk bertobat yang berarti meminta ampun, baik kepada Tuhan maupun kepada sesamanya terhadap pelanggaran-pelanggarannya. Ada orang yang tidak berani mengakui kesalahannya. Bagi orang semacam itu tidak ada harapan untuk beroleh kelepasan dari dosa-dosanya. Ingatlah bahwa Raja Daud juga bertobat (Mazmur 51). Zakheus dapat bertemu dengan Yesus adalah sebab Yesus mengetahui bahwa dia mau sungguh-sungguh bertobat. Dan sebagai tanda pertobatannya ia mengembalikan barang-barang kepada mereka yang sudah dirugikan olehnya. Itulah tanda pertobatan yang sejati.

Hal ketiga ialah kita bersedia menerima pembaruan dalam pribadi kita. Surat-surat Rasul Paulus kaya dengan ungkapan-ungkapan mengenai pembaruan dalam Kristus Yesus dan bagaimana hal itu terlaksana dalam kehidupan kita. Roma 12:2 membicarakan "pembaruan budimu". Namun, hal itu tidak mungkin terjadi jikalau kita belum "mempersembahkan (seluruh tubuh kita) sebagai persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah". Korban persembahan menuntut adanya kematian. Dalam hal ini ialah kematian terhadap hidup yang lama, kemudian persembahan itu dikuduskan oleh darah Kristus. Di situlah kita dibarui dengan budi yang baru. Dalam Efesus 4:22-24 Paulus membicarakan hal "menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru". Hal ini dinamakan suatu ciptaan baru yang Tuhan hendak ciptakan menurut kehendak-Nya bagi kita. Dalam Kolose 3:9-10 Paulus menambahkan suatu konsep lain lagi ialah bahwa, "hal menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru" seharusnya dijalankan terus-menerus, dari hari ke hari, sampai kita mencapai pembaruan "menurut gambar sang Pencipta kita".

2 Korintus 4:10,16 dan pasal 5:17 juga membicarakan pembaruan ini dengan jelas sekali. Hal ini terjadi jikalau oleh iman kita memberi "Kristus diam di dalam hati" kita (Efesus 3:17) yang berarti bahwa pembaruan itu dikerjakan oleh Kristus sendiri yang diam dalam hati kita, asal kita menyerahkan urusan itu ke dalam tangan-Nya. Hanyalah dalam dimensi Ilahi ini terdapat perubahan dan pembaruan yang terjamin. Dan inilah rencana Tuhan dari semula waktu Ia merencanakan jalan keselamatan bagi kita. Tuhan tidak bermaksud untuk melepaskan jiwa kita dari neraka saja. Tuhan hendak mengaruniakan kepada kita suatu kehidupan yang baru, yang sekarang ini dapat mencerminkan kasih karunia-Nya. Inilah maksud Tuhan yang indah sekali bagi anak-anak-Nya. Satu contoh dalam Alkitab adalah dalam pribadi Petrus. Mengapa saya memilih Petrus? Karena selain nama Yesus, nama Petrus disebut lebih banyak dalam keempat Injil daripada semua rasul yang lain. Tidak ada rasul yang berbicara kepada Yesus sesering dan sebanyak seperti Petrus. Yesus sendiri lebih sering menghadapi Petrus daripada rasul-rasul yang lain, kadang-kadang dengan teguran, kadang-kadang dengan pujian. Dari peristiwa-peristiwa itu kita mendapat banyak petunjuk yang jelas terhadap jalan Tuhan bagi kita sekarang.

Petrus suka turut campur tangan, mengganggu bicara Yesus, dan melemparkan godaan kepada Yesus (Matius 16:22). Waktu Yesus mengatakan bahwa Ia akan dibunuh oleh imam-imam kepada dan ahli Taurat, Petrus melawan ucapan Yesus. Yesus menegur dia kata-Nya, "Enyahlah Iblis. Engkau, suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah." Kadang-kadang Yesus mengajar Petrus dengan sabar, tetapi kadang-kadang dengan perkataan keras. Dalam Matius 16:13-25, Petrus yang lebih dulu mengakui Yesus sebagai "Mesias, Anak Allah yang Hidup". Inilah suatu kenyataan yang istimewa daripada Bapa di surga kepada Petrus (ayat 17). Mengapa hal ini dinyatakan kepada Petrus? Karena Petrus selalu mencari Tuhan, rindu akan Tuhan, kasihnya meluap-luap akan Tuhan. Petrus selalu ingin dekat kepada Tuhan. Ia sering bersalah, tetapi waktu ia disadarkan, ia cepat bertobat. Kesetiaannya dan penyerahannya dibuktikan dalam Lukas 5:8, di mana Petrus mengatakan, "Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau. Jadi apakah yang akan kami peroleh?" Mungkin ia ragu-ragu akan masa depannya tetapi Tuhan setia kepada anak-anak-Nya.

Kita kagum dengan reaksi Petrus waktu murid-murid melihat Yesus berjalan di atas air sebab Petrus berkata, "Suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.". Tetapi sebentar kemudian waktu ia mulai tenggelam ia berseru, "Tuhan, tolonglah aku!". Sebentar ia memunyai iman ajaib, tetapi sebentar kemudian ia takut sekali. Pada waktu seorang perempuan menjamah jubah Yesus sehingga menjadi sembuh, Yesus berkata, "Siapa yang menjamah Aku?". Lalu Petrus dengan berani seolah-olah menentang maksud Yesus, ia berkata, "Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau (Lukas 8:45) dan Engkau berkata, "Siapa menjamah Aku?". Sebaliknya, dalam Yohanes 6:68-69 pada waktu banyak orang meninggalkan Yesus dan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?". Lalu Petrus berkata, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal dan kami telah percaya bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.". Waktu Petrus melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya di atas gunung, sekali lagi dengan kekeliruan Petrus berkata (Markus 9:5), "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini! Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia!".

Tentang mengampuni sesamanya Petrus bertanya kepada Yesus, "Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku, sampai tujuh kali?". Kekeliruannya dalam hal ini ialah menentukan batas terhadap mereka yang harus diampuninya yang berarti bahwa Petrus sudah tidak mau mengampuni orang itu bukan? (Matius 18:21). Kita juga ingat bagaimana dengan berani Petrus berjanji (Lukas 22:33), "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau.". Padahal sebentar kemudian ia berani menyangkali Yesus sampai tiga kali, bahkan menyangkali-Nya dengan sumpah (Matius 26:74). Waktu Yesus menyucikan kaki murid-murid-Nya Petrus dengan tegas berkata, "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.". Tetapi, setelah Yesus menjelaskan maksud-Nya Petrus berkata, "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku." (Yohanes 13:8-9). Memang pribadi Petrus adalah pribadi yang kompleks sekali.

Satu kali lagi, -- dan sekarang dari tempat ketinggian-Nya di Surga Yesus menghadapi Petrus karena ada semacam pelayanan yang terlalu luar biasa daripada apa yang pernah dilakukan Petrus (Kisah Para Rasul 10:13-16). Yesus berkata, "Bangunlah hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!". Tetapi Petrus melawan Tuhan, katanya, "Tidak Tuhan, tidak. Sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram!". Demikianlah terjadi tiga kali. Apa sebabnya? Karena Petrus harus bertindak melintasi budaya dan adatnya, bahkan ia harus menentang ajaran firman Tuhan. Kornelius, seorang perwira Roma, bersedia menerima berita Injil, tetapi orang Roma sampai sekarang belum pernah di injili! Kita mengetahui bahwa Petrus pergi dan kemudian ia mendukung perbuatannya di hadapan orang Yahudi (Kisah Para Rasul 11:17), katanya, "Jika Allah membicarakan karunia kepada mereka sama seperti kepada kita, ... bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia? Demikianlah sikap Petrus, -- sikap yang terlalu kompleks. Ia terlalu cepat berbicara, terburu-buru bertindak, sering salah bertindak, tetapi ia selalu siap untuk bertobat. Ia gampang masuk air yang terlalu dalam baginya lalu ia harus berseru-seru kepada Tuhan agar ia dilepaskan dari bahaya. Setelah Petrus menyangkal Yesus tiga kali, ia keluar dan menangis tersedu-sedu.

Dalam Yohanes 21 dijelaskan bagaimana Yesus mengembalikan Petrus sebagai hamba-Nya yang terpilih. Kita ketahui bahwa Petrus menjadi rasul yang terkemuka dalam pembentukan jemaat semula, seperti terdapat dalam Kisah Para Rasul 2,3,4 dan 5. Sikap Petrus yang selalu penuh semangat dipakai oleh Tuhan untuk mengembangkan kerajaan-Nya dan jemaat-jemaat-Nya yang mula-mula itu. Mengapa Petrus dalam Injil-Injil sangat lain daripada Petrus dalam Kisah Para Rasul? Menurut saya, jawabnya terdapat dalam Yohanes 21, di mana Yesus menghadapi Petrus dengan pertanyaan yang khusus. Yesus bertanya sebanyak tiga kali, "Apakah engkau mengasihi Aku?". Hati Petrus sedih, suatu tanda yang membuktikan penyesalan dan pertobatannya. Pada saat itu ia berjanji menjadi seorang gembala bagi domba-domba Allah. Kemudian, di mana Petrus bersama-sama dengan rasul-rasul dan orang lain sebanyak 120 orang berdoa dengan tekun di ruang atas sampai mereka dipenuhi dengan Roh Kudus. Inilah perlengkapan yang memungkinkan semangat Petrus dipakai untuk memuliakan Tuhan. Setelah ia dikuatkan oleh Roh Kudus, Petrus dengan berani berkhotbah dan bekerja bagi Tuhan. Di situlah jelas bahwa Petrus berani menderita dan berani mati karena Tuhan.

Diambil dari:

Judul majalah : Sahabat Gembala, Edisi Agustus/September 1991, Tahun XIII
Judul artikel : Pribadi Macam Apakah yang Dipakai oleh Tuhan?
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup -- Gereja Kemah Injil Indonesia, Bandung
Halaman : 72 -- 78

e-JEMMi 44/2010