Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Pengertian Kata Bidat

Pengertian Kata Bidat


Bid(a)ah atau bidat berasal dari kata Arab yang memunyai pengertian: "Suatu ajaran atau aliran yang menyimpang dariajaran resmi."

Menurut DR. H. Berkhof dan Dr. I.H. Enklaar, "Bidat ditinjau dari sudut historis adalah persekutuan Kristen (yang kecil) yang dengan sengaja memisahkan diri dari gereja besar dan ajarannya menekankan iman Kristen secara berat sebelah, sehingga teologinya dan praktik kesalehannya pada umumnya membengkokkan kebenaran Injil."

Bid'at/bid'ah adalah sesuatu yang ditambahkan kepada apa yang tidak terdapat di dalam ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan.

Bida'ah adalah ajaran yang menyalahi ajaran yang benar.

Bidat menurut Yunani kuno memunyai pengertian "memilih", "perbedaan pendapat". Di kalangan para filsuf, kata ini memunyai pengertian "aliran", "golongan". Dalam Kisah Para Rasul 5:17 dan 15:5, kata ini diterjemahkan dengan istilah "mazhab" atau "golongan".

Bidah adalah pandangan yang salah tentang apa yang wajib diimani.

Pemakaian kata "bidat" dalam pengertian modern mengenai kekeliruan secara doktrinal tercatat dalam 2 Petrus 2:1, termasuk di dalamnya penyangkalan akan Juru Selamat.

Menurut Ronald Enroth, pendefinisian "bidat" dapat ditinjau dari tiga segi pendekatan, yaitu: pendekatan sensasional (sensational approach); pendekatan sosiologi (sociological approach), dan pendekatan teologi (teological approach). Jika pendekatan dari teologi, maka definisi "bidat" adalah "involves some standard of Orthodoxy" (penyelewengan yang berkaitan dengan beberapa standar yang ditentukan oleh kaum Ortodoks). Dalam bahasa Inggris, terdapat dua istilah yang berkaitan dengan kata bidat ini, yaitu:

"HERESY" yang berasal dari kata Yunani "hairesis" yang sebenarnya memunyai pengertian "pilihan", "pendapat", khususnya "pendapat pribadi", tetapi kemudian arti kata ini berkembang sehingga memunyai pengertian "semacam pendapat atau kredo yang berlawanan dengan pendapat, kredo atau pengakuan gereja, satu pandangan salah yang berkenaan dengan sebagian pengakuan dasar agama, satu pandangan atau kredo yang dapat menciptakan atau menjurus kepada perpecahan, semacam doktrin yang kurang atau sulit untuk dipertahankan". Sedangkan kata "HERETIC" memunyai arti: "Orang yang berpandangan salah terhadap doktrin yang akan membawa efek negatif dan juga dapat memutarbalikkan kebenaran." Pada permulaan, kata ini tidak memunyai pengertian "perpecahan" atau "kesesatan", tetapi tatkala gereja diperhadapkan pada masalah "ajaran yang menyesatkan" dan "kebenaran firman Allah", maka mulailah kata "HERESY" dipakai untuk menyatakan kesalahan, tetapi juga dipakai pada aliran yang memisahkan diri.

Rasul Paulus dalam 1 Korintus 11:18-19 menyatakan, "Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji." Rasul Petrus menambahkan pengertian "bidat" dalam 2 Petrus 2:1, bukan saja berarti penyangkalan terhadap doktrin tentang Kristus dan penebusan-Nya, tapi juga tentang penyelewengan di bidang moral, sehingga karena mereka kebenaran Allah diremehkan, dihina, dan sebagainya. Bapak gereja Ignatius (35 -- 107 M) pernah menulis surat kepada gereja-gereja di Asia Kecil dan menyinggung tentang ajaran-ajaran yang menyesatkan. Maka mulai saat itu, istilah "HERESY" menjadi populer sebagai kata yang bernada teguran kepada orang-orang atau ajaran yang menyelewengkan kebenaran Allah.

"CULT" yang berasal dari kata Latin "Cultus" memunyai arti "pemujaan", "penambahan", dan "ketaatan". Berdasarkan perkembangan, maka kata ini mengalami penambahan arti yang umumnya bersifat negatif. Sebagai efeknya, maka konotatif dari kata ini bukan saja memunyai pengertian sebagaimana tersebut di atas, tetapi juga memunyai pengertian "ajaran baru yang menyimpang dari ajaran ortodoks, satu organisasi yang menyimpang dari kepercayaan, satu kepercayaan yang inkonvensional, kepercayaan yang nonnormatif, gerakan keagamaan baru, dan sebagainya". James W. Sire mengartikan "Cult" sebagai "suatu gerakan keagamaan yang secara organisasi berbeda atau praktik-praktiknya bertentangan dengan Alkitab yang sudah ditafsirkan oleh kekristenan tradisional.

Dengan melihat beberapa pengertian, baik umum maupun agama, maka kita memunyai gambaran yang cukup jelas tentang apa yang dimaksud dengan bidat itu! Masalah yang akan kita hadapi adalah kesimpangsiuran di dalam implementasi atau penjabarannya. Di dalam implementasinya akan ditemui bahwa masing-masing pihak akan membenarkan pandangan atau keyakinan teologinya dan menganggap pihak lain sebagai bidat. Sebuah contoh konkret yang kita temui pada abad pertama yaitu Kaum Yudaisme menganggap Yesus Kristus dan para murid-Nya sebagai bidat (Matius 26:63-68; Markus 14:61-65; Kisah Para Rasul 6:8-14). Pada abad XVI, Gereja Roma Katolik menyebut Martin Luther dengan reformasinya sebagai bidat dan sebaliknya Martin Luther dan para pengikutnya menuding balik dengan menyatakan bahwa Gereja Roma Katoliklah yang bidat.

Untuk mengatasi kesulitan dalam implementasi atau penjabarannya, kita memerlukan dasar sebagai standar untuk melihat dan menyoroti suatu pandangan, doktrin, sikap yang dapat dikategorikan sebagai bidat. Ada dua dasar yang bisa dijadikan sebagai pedoman untuk melihat doktrin, aliran, organisasi atau gereja yang bisa dikategorikan sebagai bidat atau bukan.

Pertama, Alkitab sebagai firman Allah. Pemazmur mengatakan bahwa firman Allah bagaikan pelita dan bagaikan terang yang akan memberi penerangan bagi kehidupan manusia (Mazmur 119:105). Menurut Pdt. Dr. John Pao, setiap organisasi mana pun yang mengaku percaya Alkitab, tetapi keyakinan atau pengakuannya tidak sesuai dengan Alkitab -- apakah isi Alkitab dikurangi, ditambah, atau saling bertolak belakang patut disebut sebagai "bidat"! Sebagai contoh, Gereja Mormon yang percaya bahwa Tuhan Yesus selama di dunia memunyai istri banyak atau Saksi Yehova yang tidak mengakui Roh Kudus sebagai Oknum ketiga dari Allah Tritunggal, dan hanya mengakui Roh Kudus sebagai kuasa Allah saja.

Kedua, doktrin kaum Ortodoks. Doktrin Ortodoks adalah doktrin yang dihasilkan melalui pergumulan dan ujian yang cukup lama dan dalam proses terbentuknya terdapat campur tangan Roh Kudus. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi pada abad pertama, gereja yang relatif masih berusia muda diperhadapkan pada ajaran sesat yang dikenal dengan nama Nomianisme, yang mempermasalahkan kebenaran tentang "Keselamatan". Menurut mereka, keselamatan berdasarkan anugerah dan iman tidak salah, tetapi belum cukup dan harus ditambah dengan melaksanakan hukum Taurat. Dengan munculnya ajaran ini, gereja-gereja bukan saja bingung, heboh, tetapi juga mendapat ancaman serius dalam hal keutuhan jemaat Tuhan. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka pimpinan gereja yang berada di Yerusalem memanggil utusan-utusan gereja dan kedua kelompok yang sedang berbeda pendapat untuk bertemu. Setelah diadakan perdebatan seru di forum persidangan konsili di Yerusalem, kebenaran "keselamatan berdasarkan anugerah dan iman" (doktrin Ortodoks) dikukuhkan dan menyatakan bahwa ajaran Nomianisme adalah bidat.

Dengan kacamata rohani, terlihat bahwa iblis memperalat antek-anteknya (nomianisme) untuk menyelewengkan kebenaran Tuhan, tetapi Roh Kudus membangkitkan pembela-pembela Kristen (Rasul Paulus dan kawan-kawan) untuk mempertahankan kebenaran Tuhan! Definisi yang mendukung pandangan di atas, pertama, datangnya dari Josh McDowell dan Don Stewart yang menyebutkan, "A cult is a perversion, a distortion of biblical Christianity and as such, rejects the historic teachings of the Christian Church." (Bidat itu adalah sebuah penyelewengan atau distorsi dari kekristenan yang bersifat alkitabiah dan yang menolak pengajaran historis dari gereja). Kedua, dari Walter Martin yang menyebutkan, "A cult, then, is a group of people polarized around someone's interpretation of the Bible and is characterized by major deviations from Orthodox Christianity relative to the cardinal doctrines of the Christian faith, particulary the fact that God became man in Jesus Christ." (Bidat adalah sekelompok orang yang terpusat pada penafsiran seseorang akan Alkitab dan ditandai dengan penyimpangan besar-besaran dari doktrin ortodoks dalam kaitan dengan doktrin-doktrin utama iman Kristen, terutama fakta Allah menjadi manusia dalam Yesus Kristus.)

Ketiga, Ronald Enroth dan kawan-kawan menyebutkan, "The Theological definition of cult must be based on a standard of Christian Orthodoxy. Using the Bible's teaching as a focal point". (Untuk mendefinisikan secara teologis tentang bidat, harus berdasarkan standar ajaran Kristen Ortodoks dan menggunakan ajaran Alkitab sebagai titik pusatnya.) Keempat, Lars P. Qualben menyebutkan bahwa fungsi dari Pengakuan Iman bukan saja untuk menyatakan imannya dan menjadi ukuran kebenaran untuk melawan ajaran sesat. Lebih lanjut menurutnya dengan mempergunakan Alkitab saja, tidak dapat menyelesaikan masalah karena para bidat mengklaim bahwa metode penafsiran mereka terhadap Alkitab yang paling benar dan menuduh penafsiran gerejalah yang salah. Tetapi dengan adanya pengakuan iman (doktrin Ortodoks) sebagai ukuran, akan mempersulit posisi para bidat, karena umat Kristen awam mudah melihat ketidakbenaran doktrin mereka.

Daya Tarik Bidat

Meski Saksi Yehovah dilarang oleh Jaksa Agung dengan SK 129/JA/12/1976, aktivitasnya tidak surut, bahkan pengikutnya makin hari makin banyak. Bidat Children of God yang memulai aktivitasnya pada tahun 80-an di Indonesia, dalam waktu yang relatif singkat sudah memunyai 15.000 anggota. Ini membuktikan para bidat memunyai daya tarik yang luar biasa, bukan saja di kalangan orang tua, dewasa, dan remaja. Dengan sukarela, mereka menjadi pengikut yang setia, bahkan mereka rela mengorbankan nyawanya. Yang mengejutkan, pada umumnya anggota mereka terdiri dari mantan anggota gereja atau orang Kristen. Apa yang menjadi daya tarik para bidat tersebut?

Pertama, para pimpinan bidat memunyai semacam kekuatan yang bisa memengaruhi, sehingga orang takluk dan mendengarkan apa yang dikatakannya. Ditambah lagi dengan kelihaian dapat membaca dan kemudian memperalat apa yang sedang dipikirkan, diinginkan, dibutuhkan, dan yang menjadi kelemahan orang yang akan dijadikan mangsanya, kemudian dengan mulut manisnya dan bujuk rayunya yang seolah-olah memberi kesejukan hati, sehingga dengan mudahnya dapat menguasai orang tersebut, teristimewa orang yang sedang dalam keadaan labil emosinya.

Kedua, dengan cara tidak terpuji dan menjurus kepada penipuan membujuk dan memengaruhi, khususnya anggota gereja yang kurang mengerti kebenaran. Dengan dalih bahwa apa yang diajarkan gereja selama ini tidak benar dan membujuk agar meninggalkan gerejanya. Sebagai contoh, Saksi Yehovah akan selalu mengatakan bahwa ajaran tentang Allah Tritunggal tidak dapat dibenarkan, karena dalam Alkitab dari Kitab Kejadian sampai Ktab Wahyu tidak ada istilah "Tritunggal". Oleh karena itu, apa yang diajarkan gereja tentang "Allah Tritunggal" tidaklah benar. Bagi umat Kristen yang pengetahuan Alkitabnya tidak terlalu dalam akan mudah tertipu. Apa yang dikatakan mereka sepertinya benar, tetapi salah. Karena dari segi "istilah" memang tidak ada dalam Alkitab, tetapi dari segi kebenaran, ajaran tentang "Tritungggal" memenuhi Alkitab.

Ketiga, pelayanan di lapangan para bidat perlu diacungi jempol. Mereka bukan saja rajin dalam perkunjungan, tetapi juga sangat memerhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang. Anggota jemaat yang jarang dikunjungi oleh pendetanya atau keberadaannya di gereja tidak terlalu diperhatikan, sangat mudah tertarik dan terbujuk dengan cara pelayanan mereka. Bagi orang yang sedang dilanda kesedihan, keputusasaan, kehampaan hidup, kehilangan makna hidup, kehilangan percaya diri; akan mendapat perhatian, simpati, dan empati dari para bidat tersebut.

Keempat, penawaran yang berbau seksualitas. Salah satu cabang dari Children of God dengan moto "hookers for God" (melacur diri bagi Tuhan), anggotanya -- khususnya wanita tidak segan menyerahkan diri kepada pria hidung belang dengan imbalan pria tersebut mau menjadi anggota bidat tersebut.

Dalam rangka menangkal daya tarik yang luar biasa dari bidat, pimpinan gereja perlu melakukan sesuatu yang bersifat konkret, antisipatif, dan apologetika.

Pertama, memperkuat pembinaan ke dalam, dalam bentuk melengkapi anggota dengan pengetahuan Alkitab dan secara periodik melengkapi pengetahuan anggota tentang strategi yang diatur para bidat untuk merekrut orang menjadi anggotanya. Anjurkan jemaat membaca buku-buku yang berkaitan dengan ajaran-ajaran sesat tersebut.

Kedua, tingkatkan pelayanan lapangan dalam bentuk pelawatan dan pemerhati. Dalam hal ini pelayanan lapangan yang digalakkan para bidat boleh dijadikan contoh.

Ketiga, membentuk kelompok-kelompok kecil atau "sel grup". Dengan adanya kelompok-kelompok kecil, bukan saja antara anggotanya bisa saling memerhatikan, tetapi juga setiap ada informasi atau masalah cepat terdeteksi, khususnya yang berkaitan dengan ajaran sesat.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Bidat Kristen dari Masa ke Masa
Penulis : Pdt. Dr. Paulus Daun, Th.M.
Penerbit : Yayasan Daun Family, Manado 2002
Halaman : 12 -- 18 dan 37 -- 39

e-JEMMi 43/2009