Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Pelayanan Doa Seorang Pengabar Injil

Pelayanan Doa Seorang Pengabar Injil


Tuhan kita menghabiskan banyak waktu-Nya dengan berdoa. Dikatakan dalam Alkitab bahwa Ia "terbiasa" pergi ke tempat-tempat doa dan menghabiskan sepanjang malam untuk bersekutu dalam doa dengan Bapa-Nya. Biasanya, doa yang singkat tidaklah cukup bagi-Nya. Ia tidak mengizinkan berbagai hal seperti tuntutan dan tekanan terhadap pekerjaan, kebutuhan dan kerinduan dari orang banyak yang dibebankan pada-Nya mengganggu waktu doa-Nya. Ia menarik diri ke dalam kesunyian bukit atau Taman Getsemani di mana mungkin tidak ada yang mengganggu-Nya.

Hanya sedikit yang kita ketahui mengenai apa yang Kristus doakan ketika sendirian. Kita dibukakan mengenai isi doa-Nya di Getsemani; dan ada dua contoh pelayanan syafaat-Nya untuk murid-murid-Nya -- seperti yang dikatakan-Nya pada Petrus, "Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur," dan dalam Injil Yohanes pasal tujuh belas.

Dua contoh ini cukup menjelaskan bahwa Ia bisa terus melayani murid-murid-Nya karena doa yang penuh iman. Selain contoh, keduanya juga membukakan suatu prinsip. Pertama, kita melihat tanggung jawab seseorang dalam menjalankan pelayanan doa syafaat untuk sesamanya. Kedua, kita melihat buah doa syafaat itu. Petrus berada dalam kondisi kerohanian di mana ia tidak dapat mendoakan dirinya sendiri dengan iman sehingga Kristus, Sang Penolong, berada bersamanya dan menaikkan doa yang penuh iman untuknya.

Tidaklah mengherankan jika, setelah contoh yang dikemukakan Kristus, gereja mula-mula adalah gereja yang berdoa. Para Rasul tampaknya bukanlah pendoa sebelum hari Pentakosta; itulah kelemahan mereka saat ada di Getsemani. Namun, setelah Pentakosta mereka menjadi para pendoa yang tak putus-putusnya berdoa. Jika ada pekerjaan lain yang mengganggu waktu mereka di gereja Yerusalem, mereka tidak mau terikat dengan pekerjaan itu, sambil berkata, "Supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." Mereka selalu berdoa sebelum berkhotbah.

Peran doa bagi para misionaris pertama, khususnya yang berupa doa syafaat, tercatat dengan saksama dalam Perjanjian Baru. Paulus memberikan kesaksian tentang Epafras, "Selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah" (Kolose 4:12). Doa menempati posisi penting dalam pelayanan Lukas, meskipun sedikit pun dia tidak menceritakan dirinya. Kitabnya dengan jelas mengemukakan peran doa dalam kehidupan dan pelayanan Tuhan kita. Dalam kitab itu kita mengetahui bahwa Tuhan selalu melewatkan banyak waktu-Nya dengan berdoa sebelum memutuskan suatu langkah yang penting. Dan dalam Kisah Para Rasul yang ditulisnya, kita melihat bahwa doa menempati posisi penting pada Hari Pentakosta dan di seluruh gereja yang terbentuk sesudahnya. Tidak diragukan lagi, dalam pelayanan setiap anggota pelayanan Paulus, doa selalu diutamakan.

Bahkan dalam suratnya kepada gereja-gereja, Paulus menulis tentang doa. Doa-doa ini bukan hanya menjadi bukti bahwa ia terlibat dalam pelayanan doa, namun juga menjelaskan karakter pelayanan tersebut.

Dua doa yang tercatat dalam Efesus (1:15-23; 3:14-21) dibahas lebih lanjut dalam pasal 27. Isi doa-doa lainnya adalah sebagai berikut.

  1. Untuk orang Filipi, (Filipi 1:9-11) dia meminta:

    • kasih yang melimpah;

    • pengetahuan dan pengertian kerohanian yang jelas sehingga bisa membedakan antara baik dan buruk;

    • jalan yang suci dan tidak bercacat;

    • supaya mereka dipenuhi dengan buah-buah kebenaran melalui Kristus, memuliakan Tuhan.

  2. Untuk orang Kolose (Kolose 1:9-12) dia meminta:

    • Agar mereka memiliki pengetahuan penuh dan benar mengenai kehendak-Nya;

    • Kebijaksanaan dan ketajaman rohani;

    • Jalan yang layak dan menyenangkan Tuhan;

    • Buah dalam setiap pekerjaan yang baik;

    • Bertumbuh dalam pengetahuan akan Tuhan;

    • Agar mereka dikuatkan oleh kuasa kemuliaan-Nya;

    • Agar mereka mampu menanggung segala penderitaan dengan sabar dan sukacita;

    • ucapan syukur pada Tuhan karena melayakkan mereka untuk mendapat bagian dalam apa yang akan diberikan-Nya pada anak-anak-Nya.

  3. Untuk orang Tesalonika (1 Tesalonika 3:10-13; 5:23) doanya adalah:
    • Agar Tuhan menambahkan apa yang kurang dalam iman mereka;

    • Agar mereka bertambah dan berkelimpahan dalam kasih;

    • Agar hati mereka menjadi kuat dalam kekudusan;

    • Agar roh, jiwa, dan tubuh mereka terpelihara kudus sampai kedatangan Kristus.

Sifat dasar dan arti penting dari permohonan ini segera diketahui. Paulus meminta agar Tuhan membawa gereja-gereja ke tingkat pengetahuan dan pengalaman rohani di mana gereja akan diperlengkapi untuk seluruh kehidupan, pelayanan, dan peperangan rohani. Paulus menghadapi masalah kehidupan spiritual yang berat. Doa-doa ini tidak berkaitan dengan banyak kesulitan individual dan masalah setempat, namun menuju pada akar permasalahan tersebut. Jawaban permohonan ini bisa berarti penyelesaian setiap kesulitan dan pemecahan setiap masalah.

Paulus tidak bimbang untuk mengajukan permohonan seperti itu. Ia yakin bahwa Tuhan mampu dan akan menjawab permohonan-permohonannya. Seperti Kristus mendoakan dan memercayai Petrus, Paulus melatih talenta yang diberikan oleh Sang Penolong, mendoakan dan memercayai gereja-gereja.

Paulus tidak hanya sesekali berdoa untuk gereja; ia berdoa terus-menerus. Pelayanannya bukanlah berkhotbah dan mengajar dengan sedikit doa hanya ketika ada waktu luang. Perintah yang dijalankan Kristus dan para rasul adalah "doa dan pelayanan firman".

Doa yang penuh iman menjadi sesuatu yang penting dalam mengembang kehendak Tuhan. Tuhan menyatakan kehendak-Nya pada kita; kita beriman pada Tuhan dan meminta-Nya untuk menggenapinya, dan melalui penggenapan itu Ia menjawab doa-doa.

Paulus tidak mengajukan permintaan yang tidak jelas kepada Tuhan untuk memberkati gereja; ia mengajukan permohonan yang spesifik yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia tahu bahwa tujuan Tuhan adalah orang percaya dan gereja, jadi ia meminta dalam iman agar tujuan itu digenapi. Dua doa Paulus untuk gereja, yang ditulis dalam surat Efesus, meminta Tuhan untuk menggenapi pekerjaan fundamental yang diperlukan dalam jemaatnya, yang mungkin adalah "kepenuhan Kristus".

Ia mengetahui tujuan Tuhan untuk gereja dan ia meminta tidak kurang dari itu. Jika ia tidak meminta, ia tidak akan mendapatkannya. "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." Jika ia tidak memiliki iman yang murni yang memercayai bahwa Tuhan akan melakukannya, ia tidak akan menerimanya: "Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."

Seorang penginjil harus tahu apa tujuan Tuhan untuk gereja-Nya dan ia harus memiliki iman untuk meminta Tuhan menggenapi firman-Nya dan mencapai tujuan-Nya. Ia juga harus memahami bahwa ia tidak berkuasa untuk meminta penggenapan sebagian. Dalam firman-Nya, Tuhan dengan jelas menyatakan apa tujuan-Nya untuk gereja. Firman-Nya itu begitu agung sehingga manusia segera mempertanyakan tujuan itu dan mulai menyesuaikan tujuan tersebut. Lalu kita berdoa agar Tuhan menggenapi penyesuaian dalam tujuan-Nya yang kita buat. Doa kita itu tidak akan dijawab karena tidak sesuai dengan kehendak-Nya: "kita tidak menerima apa-apa karena kita salah berdoa."

Orang percaya yang baru dimenangkan melalui khotbah penginjil perlu diajari oleh Roh Kudus agar mengetahui prinsip rohani yang mendasar dan mendalam tentang iman. Tuhan akan menggenapinya sebagai jawaban dari doa penginjil yang penuh iman. Paulus memiliki iman untuk meminta bagi para petobat baru, pemahaman akan kebenaran rohani yang mendalam kepada Tuhan. Dia tidak ragu-ragu berdoa agar orang-orang itu dibimbing sedikit demi sedikit, berharap agar suatu hari, lama sesudahnya, mereka atau anak-anak mereka mencapai tingkat kedewasaan rohani.

Penginjil yang membiarkan dirinya dibujuk musuh untuk meragukan kekuasaan Tuhan dalam menjawab doa atau kekuatan Roh Kudus untuk memberi pengertian pada orang-orang yang baru percaya, berarti telah melakukan suatu kesalahan besar dan menghalangi penggenapan tujuan Tuhan. Tentu saja hasilnya akan sesuai dengan iman yang dimilikinya. Sebuah tanggung jawab yang sungguh-sungguh mengenai hal ini berada dipundaknya.

Dalam jemaat, penatua dan diaken haruslah dipersiapkan oleh Roh Kudus sehingga memenuhi standar yang ditetapkan dalam Injil. Ini adalah standar yang tinggi dan tampaknya mustahil untuk bisa dipenuhi dengan segera. Namun, sesuai dengan firman dan kehendak Tuhan, mereka harus dipersiapkan untuk menempati posisi mereka dalam satu sampai dua tahun sehingga penginjil harus terus berdoa dengan iman dan tidak bimbang sampai mereka siap.

Namun, kesulitan akan muncul dalam gereja-gereja. Musuh akan datang seperti "air bah". Para penatua dan jemaat bisa jatuh dan kalah sehingga mereka tidak bisa lagi mendoakan dirinya sendiri dengan iman, seperti yang terjadi pada gereja di Korintus. Ini adalah tanggung jawab penginjil untuk mendoakan mereka dengan penuh iman.

Kuasa doa yang penuh iman adalah kuasa terbesar yang dimiliki penginjil, lebih manjur daripada kuasa khotbah dan pengajarannya. Khotbah dan pengajaran memang perlu dan penting, namun tidak akan menghasilkan kehidupan spiritual yang baik dan dewasa bila tidak didasarkan pada pelayanan doa yang penuh iman dan berkuasa. Kita semua tahu bahwa cobaan yang terus-menerus menempati posisi pertama dalam pelayanan publik. Betapa seringnya kita melihat pelayan Tuhan yang sangat percaya akan doa, mengorbankan waktu doanya saat tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan semua tuntutan pekerjaan. Kesempatan untuk melayani publik tampaknya begitu penting dan bermanfaat. Setelah beberapa tahun, mereka heran mengapa orang-orang yang baru percaya itu belum benar-benar memahami kehidupan rohani, mengapa mereka belum dipenuhi Roh Kudus, belum menggunakan talenta yang diberikan Roh Kudus.

Hal-hal berikut ini adalah buah dari jerih payah doa penuh iman yang dinaikkan oleh misionaris tersebut: buah yang berharga, baik, dan matang, yang hanya bisa diperoleh dengan cara tersebut. Pelayan Tuhan harus menjaga individu dan jemaat dalam doa yang penuh iman sampai firman Tuhan benar-benar tergenapi dalam diri mereka dan tujuan Tuhan untuk mereka juga tergenapi.

Pelayanan doa harus berkesinambungan, senantiasa diperhatikan, dan mencakup semua aspek pelayanan sang misionaris. Harus ada sikap yang berkesinamungan untuk menaikkan doa yang tak putus-putusnya, yang terus mencari kehendak Tuhan, bimbingan Roh Kudus, menjadi pendoa syafaat bagi siapa pun yang membutuhkannya dan menegaskan pencapaian tujuan Tuhan sesuai firman-Nya dengan iman yang teguh. Pelayanan syafaat sang penginjil merupakan bagian yang penting dari perlengkapan gereja yang telah diberikan Tuhan untuk kesejahteraan rohaninya.

Pengalaman doa yang dimiliki orang-orang percaya dan gereja sangat jarang melebihi pengalaman doa seorang penginjil. Ia bisa mengajarkan peran doa sampai jemaat memiliki pengetahuan yang jelas tentang doa seperti yang dimilikinya, namun bila doa hanya menjadi teori untuk sang penginjil, maka bagi jemaat doa juga merupakan teori belaka. Teladan dari penginjil tersebut akan menjadi sebuah kesaksian yang akan membuat pengajarannya menjadi praktis. Karena kita beriman dalam doa, kita bisa merasa yakin bahwa Roh Kudus akan menuntun orang-orang yang baru percaya dan gereja menuju pengalaman doa yang sesungguhnya. (t/Lanny)

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Judul buku : The New Testament Order for Church and Ministry
Judul artikel : The Evangelist`s Prayer Ministry
Pengarang : Alexander Rattray Hay
Penerbit : New Testament Missionary Union, Amerika, tth
Halaman : 420 -- 424

e-JEMMi 06/2007