Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Okultisme

Okultisme


Dunia di mana kita berpijak adalah ajang peperangan antara kuasa kegelapan dan kuasa Tuhan. Sedangkan manusia adalah makhluk yang memunyai kehendak, mau atau tidak mau harus memilih di antara dua hal tersebut. Manusia tidak akan menjadi makhluk netralisme yang memunyai kuasa tersendiri. Sekali lagi, tidak mungkin, sebab manusia hidup dan kehidupannya ada dalam kuasa tersebut. Dalam Matius 12:43-45 dan Wahyu 3:20, dua bagian ayat ini menjelaskan bahwa dalam diri manusia, kalau tidak ada Tuhan, pasti kehendak setan yang berkuasa.

Siapakah Iblis Itu?

Dalam mendekati keberadaan iblis, lebih dahulu kita perlu melihat gagasan-gagasan iblis yang masuk ke sendi-sendi budaya -- adat kita.

  1. Menurut Masyarakat Primitif
    Menurut masyarakat Yunani kuno, Iblis dikaitkan dengan roh jahat. Istilah yang dipakai adalah "daimones", merupakan makhluk-makhluk yang melampaui manusia, yang menjadi perantara antara manusia dengan dewa yang telah mendiami antara langit dan bumi. Konsep ini memunyai anggapan bahwa orang-orang mati pada zaman keemasan akan berubah menjadi "daimones", dia nanti akan menjadi pengawal orang-orang di kemudian hari. Dalam perkembangannya, "daimones" diidentikkan dengan roh-roh jahat yang memunyai tubuh fana. Begitu pula dalam masyarakat kita, Iblis sering diidentikkan dengan setan atau roh jahat lainnya. Konsep yang mendasari hal tersebut berasal dari Yunani kuno. Konsep ini menegaskan bahwa roh-roh orang yang sudah meninggal, namun tidak dikehendaki oleh Allah, seperti mati gantung diri, bunuh diri, atau orang yang jahat mati, roh-rohnya masih penasaran dan masih mengembara di bumi, serta menggoda manusia.

    Ada pandangan lain yang mengatakan bahwa setan atau Iblis berasal dari orang-orang mati sebelum Adam dan Hawa. Pandangan ini memahami setan sebagai yang pada mulanya memerintah atas dunia yang sempurna atas orang-orang sebelum zaman Adam. Pada waktu setan berdosa melawan Allah, maka orang-orang ini juga terlibat dalam pemberontakan, sehingga mereka kehilangan tubuh mereka dan yang tinggal roh-rohnya saja, lalu mereka menjadi roh-roh jahat. Namun konsep ini tidak sesuai dengan Alkitab, sebab firman Allah tidak pernah mengatakan bahwa ada suatu bangsa sebelum Adam. Begitu pula Tuhan Yesus mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama (Matius 19:4).
  2. Menurut Pandangan Modern
    Munculnya zaman Pencerahan di Eropa telah menyebabkan timbulnya aliran Empirisme di Inggris dan aliran Rasionalisme di Perancis. Kedua aliran tersebut merupakan pukulan berat bagi kepercayaan lama, sebab aliran tersebut menganggap bahwa manusia sudah mencapai kedewasaan untuk mengetahui segala bidang pengetahuan, termasuk setan dan pekerjaannya. Menurut pandangan ini, iblis atau setan adalah sesuatu yang tidak rasional, sebab standar sesuatu yang benar adalah rasio. Namun dalam dunia ini, semua yang rasional, semua fenomena dapat didekati dengan akal, dengan kata lain setan atau Iblis adalah rekayasa manusia, karena ketidakmampuan manusia menemukan fakta yang ada.
  3. Menurut Pandangan Alkitab
    Alkitab sebagai wahyu Allah telah memberikan penjelasan yang lengkap, bukan hanya sekadar spekulasi apa yang dilihat manusia. Penolakan terhadap realitas setan biasanya didasari atas pertimbangan adanya anggapan mengenai setan sebagai personifikasi kejahatan. Namun, firman Tuhan telah membantu kita untuk mengerti dengan jelas tentang keberadaan setan. Kata-kata Iblis berasal dari bahasa Yunani "diabolos", yang berarti penuduh, pengumpat, atau pemfitnah. Sedangkan istilah setan berasal dari Ibrani "shatan", yang berarti musuh. Penyebutan dua istilah ini berbeda sebab penulis Alkitab ingin menekankan sifat-sifat mereka yang menonjol, namun pada dasarnya esensi mereka adalah sama.
    1. Dia adalah ciptaan.
      Pengertian setan atau Iblis sebagai makhluk ciptaan; bukan pencipta. Mereka bukan ada pada mulanya kendatipun Tuhan menciptakan mereka, namun Tuhan tidak menghendaki kehadiran mereka setelah mereka memberontak kepada Tuhan. Sebab pada mulanya Allah hanya menciptakan malaikat untuk melayani Tuhan Allah, bukan menciptakan Iblis. Iblis dan balanya ada karena pemberontakan Malaikat Lucifer terhadap Tuhan Allah, sehingga Allah membuangnya ke dunia (Yehezkiel 28:11-19).
    2. Dia adalah makhluk roh.
      Setan termasuk golongan malaikat-malaikat yang disebut kerubim (Yehezkiel 28:14). Rupanya mereka adalah ciptaan yang tertinggi (ayat 12). Inilah yang menjadi alasan mengapa Mikhael, penghulu malaikat, tidak berbantah-bantah dengan setan mengenai tubuh Musa (Yudas 9). Setan bisa disebut sebagai penghulu semua malaikat yang jahat, dia tetap memiliki kuasa, tapi tidak mahakuasa. Dia disebut ilah dari dunia ini dan penguasa dari kuasa-kuasa di udara (2 Korintus 4:4; Efesus 2:2).
    3. Nama-nama iblis.
      Beberapa nama yang dikenakan oleh setan sebagai indikasi tentang keberadaannya. Nama-nama Iblis yang sering kita temukan dalam Alkitab lebih menekankan aktivitasnya atau sifatnya, yaitu: Si Ular Tua (Wahyu 12:9; Kejadian 3:1), Bintang Timur, Putera Fajar, Lucifer (Yesaya 14:12), Beelzebul (Matius 12:24), Penguasa Dunia (Yohanes 12:31), Ilah Zaman ini (2 Korintus 4:4), Belial (2 Korintus 6:15), Si Penggoda (1 Tesalonika 3:5), Singa (1 Petrus 5:8), Pendakwa (Wahyu 12:10), Si Jahat (Matius 13:19), Pembunuh, Pendusta, Bapa Segala Dusta (Yohanes 8:44), Penguasa Kerajaan Angkasa (Efesus 2:2), Naga (Wahyu 12:9), dan Malaikat Terang (2 Korintus 11:14).

Asal Mula Iblis

Keberadaan Iblis atau setan tidak pernah Tuhan izinkan, sehingga iman kita menolak bahwa penyebab kehadiran Iblis adalah Tuhan. Allah tidak pernah menciptakan Iblis dengan balanya. Memang Kolose 1:16 berkata, "Karena di dalam Dia telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia." Penciptaan itu termasuk malaikat. Hal itu dikerjakan oleh Allah jauh sebelum penciptaan manusia. Salah satu malaikat yang menjadi pemimpin ialah Lucifer atau Bintang Timur atau Putera Fajar, yang kemudian menjadi tinggi hati mau menyamai Yang Maha Tinggi, tetapi kemudian diturunkan Allah sehingga dia menjadi Iblis/setan (Yesaya 14:12-15, Yehezkiel 28:13-17). Setelah itu Iblis bekerja di taman Firdaus, lalu menjatuhkan Hawa dan Adam. Setan disebutkan sebagai penghulu roh-roh jahat (Matius 12:24). Hal ini sebagai indikasi bahwa setan atau Iblis telah menjadi pemimpin malaikat-malaikat yang jatuh menjadi roh-roh jahat.

Iblis atau setan telah mengatur dengan baik tingkatan-tingkatan malaikat-malaikatnya untuk memperluas tujuannya. Efesus 6:12 berkata, "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah (penekanannya pada sistem), melawan penguasa-penguasa (penekanannya pada pribadi dari setan yang berkuasa), melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini (penekanannya Iblis sebagai pemimpin kegelapan), melawan roh-roh jahat di udara (penekanannya pada kegiatan roh-roh ini yang sering menimbulkan kekacauan manusia)." Dua dari tingkatan-tingkatan tersebut -- pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, memiliki sebutan yang sama dengan malaikat-malaikat (Efesus 3:10). Hal ini sebagai indikasi bahwa jenis makhluk yang sama, merupakan pribadi-pribadi pada tingkatan ini. Roh-roh jahat disebut sebagai makhluk-makhluk halus (sebenarnya adalah roh-roh yang najis). Contoh: roh jahat yang disebut dalam Matius 17:18. Sebenarnya ada kesamaan antara roh-roh jahat dengan roh-roh halus yang terdapat dalam Lukas 10:17-20. Kitab Matius 8:16 juga menyaksikannya, Tuhan Yesus menyembuhkan banyak orang yang dirasuk oleh roh-roh jahat dengan cara mengusir keluar roh-roh najis dari dalam diri mereka.

Bentuk Kegiatan Setan Menurut Alkitab

Kegiatan-kegiatan setan telah tercatat dalam firman Allah: dalam hubungan dengan Kristus, dengan Allah, dengan bangsa-bangsa, dengan orang yang tidak percaya, dengan orang-orang percaya.

Hubungan dengan Yesus Kristus

Permusuhan antara Setan dengan Kristus pertama kali terlihat dalam Kejadian 3:15. Kristus sebagai benih perempuan akan meremukkan kepala si setan, begitu pula setan akan meremukkan tumit dari benih perempuan tersebut (penderitaan Yesus di kayu salib). Pada saat kelahiran Tuhan Yesus di bumi, Dia sudah dihadang oleh Setan melalui Herodes. Tidak dapat disangkal bahwa pembunuhan yang diperintahkan oleh Herodes terhadap anak-anak di bawah umur dua tahun, diilhami oleh setan (Matius 2:16). Begitu pula dalam Matius 16:21-23, Tuhan Yesus menghardik Petrus karena dia dipakai setan untuk menghalangi karya Kristus (menderita, mati, dan bangkit). Setan juga memakai Yudas untuk mengkhianati Tuhan Yesus (Yohanes 13:27). Serangan selanjutnya dalam Matius 4:1-11, Tuhan Yesus dicobai oleh Iblis untuk berbuat jahat melalui tiga bidang. Tiga serangan ini sebagai gambaran tentang bidang-bidang di mana seseorang dapat dicobai: keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan (1 Yohanes 2:16). Segala tujuan pencobaan setan kepada Kristus adalah untuk meniadakan penderitaan dan kematian di kayu salib.

Hubungan dengan Allah

Dalam Kejadian 3:5, setan memberikan penawaran palsu kepada Hawa, bahwa dia akan menjadi "seperti Allah" jika makan buah pengetahuan baik dan jahat yang dilarang itu. Tindakan setan ini sebagai penyerangan kepada Allah. Saat ini, kegiatan setan untuk "menyerang" anak-anak Allah semakin berkembang (2 Timotius 3:5). Setan juga menampilkan pelayan-pelayan yang menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran (2 Korintus 11:15). Puncak dari kepalsuan itu ialah kedatangan antikristus. Kegiatan ini menyesatkan banyak orang dengan "kebohongan/tipu muslihat" (2 Tesalonika 2:9-11).

Hubungan dengan Bangsa-Bangsa

Tujuan utama setan dalam hal ini adalah untuk menyesatkan bangsa- bangsa (Wahyu 20:30). Penyesat ini beranggapan dapat memerintah secara adil, bijaksana, dan damai, terlepas dari kehadiran Tuhan dan pemerintahan Tuhan. Taktiknya hanya untuk mengelabui. Dalam melakukan tugas ini, setan mempekerjakan roh-roh jahat (Daniel 10:13, 20), dan dia memakai pemerintah-pemerintah untuk menghalangi pengabaran Injil (1 Tesalonika 2:18).

Hubungan dengan Orang Kafir

Dalam 2 Korintus 4:4, setan membutakan pikiran mereka, sehingga mereka tidak mau menerima Injil. Dia memberikan pemahaman yang salah: "Banyak jalan menuju ke Roma" (cara berpikir pluralisme dan kebatinan). Pertimbangan manusia dan berbagai argumentasi yang meyakinkan, memunyai peranan penting. Tetapi, setan juga datang pada saat orang mau mendengarkan firman Tuhan, sehingga dia tidak dapat percaya (Lukas 8:12).

Hubungan dengan Orang Percaya

Dalam relasi dengan orang-orang percaya, setan tidak pernah tinggal diam, tetapi justru bekerja lebih giat.

  1. Setan Mencobai

    Seperti halnya setan mencobai Tuhan Yesus, begitu juga setan berusaha mencobai para pengikut-Nya. Tujuan dari pencobaan ini agar orang percaya melakukan kejahatan. Dalam pencobaan setan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
    1. Supaya manusia menyesuaikan diri dengan segala tekanan dan tatanan yang berlaku dalam masyarakat (1 Tesalonika 3:5).
    2. Agar orang percaya menyembunyikan diri atau menutupi kepentingan diri sendiri (Kisah Para Rasul 5:1-11).
    3. Agar orang-orang percaya melanggar susila (1 Korintus 7:5).
  2. Setan Penyerang

    Pekerjaan setan sebagai penyerang atau penuduh orang-orang percaya dalam berbagai bidang kehidupan, yaitu:
    1. Menyerang kesaksian kita terhadap Injil (mengambil firman Tuhan, memusuhi orang percaya, mencegah tersebarnya penginjilan).
    2. Menyoroti dosa-dosa orang percaya, menuduh (Wahyu 12:10).
    3. Menyerang orang percaya dengan cara menekan, yang membuat kita tidak sanggup menanggungnya (2 Korintus 2:5-11).

Diambil dari:

Judul majalah : Yasuma, Edisi VIII, Tahun 2000
Penulis : Pdt. Legowo, M.Div
Penerbit : Yayasan Sumber Sejahtera, Jakarta
Halaman : 5 -- 8

e-JEMMi 23/2012