Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.07 Vol.07/2004 / Nate Saint -- Montir Pesawat Bagi Allah

Nate Saint -- Montir Pesawat Bagi Allah


Pentingnya kebutuhan akan pilot mekanik yang ahli telah menjadi kerinduan bagi para pekerja MAF di bulan-bulan pertama mereka merintis pelayanan misinya. Pesawat pertamanya yang jatuh mengakibatkan MAF untuk sementara menghentikan pelayanannya karena tidak ada seorang pun dari pilotnya yang mempunyai keahlian untuk memperbaiki kerusakan pesawat tersebut. Dia adalah Nate Saint yang diutus ke Meksiko untuk melakukan perbaikan yang diperlukan, dan akhirnya Nate Saint menjadi salah satu pilot mekanik yang paling ahli dan inovatif sepanjang sejarah pelayanan misi penerbangan. Meskipun pernah suatu saat muncul perasaan bahwa "menjadi montir pesawat bagi Allah merupakan suatu panggilan yang kurang bermutu", Nate dan para misionaris yang bergantung pada dia mulai menyadari pentingnya pelayanan mekanik yang mereka lakukan itu.

Meskipun Nate Saint telah dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berpikiran misionaris, dan penerbangan juga telah menjadi hobinya sejak masa kanak-kanak, pelayanan penerbangan sama sekali tidak pernah terlintas dalam pemikirannya. Kakaknya yang tertua menjadi seorang pilot penerbangan komersial dan Nate memimpikan masa depan yang sama seperti kakaknya. Untuk meraih cita-citanya, Nate mendaftarkan diri dalam Army Air Corps. Namun belum sempat memulai pelatihan khusus dalam Air Cadet Training Program, bekas luka di kakinya meradang. Luka ini diderita akibat serangan penyakit osteomyelitis pada masa remajanya. Hal ini jelas mengubah jalan hidupnya. "Kemarin aku baru merayakan ulang tahun yang ke-20, penyakit ini menjadi hadiah ulang tahun yang menyedihkan. Seharusnya hari ini aku dalam perjalanan menuju bandara untuk mengikuti hari penerbangan pertama, tetapi aku malah menuju markas untuk melakukan X-Ray." Karena dinyatakan kurang sehat dengan luka di kakinya itu, Nate tidak bisa mengikuti pelatihan penerbangan. Meskipun tetap bergabung dalam Air Corps selama 2,5 tahun, dia mulai memikirkan secara serius tentang memfokuskan dirinya dan hidupnya dalam pelayanan Kristen.

Segera setelah membaca artikel yang ditulis oleh Jim Truxton tentang formasi yang diperlukan MAF, Nate menghubungi organisasi MAF tentang kemungkinan untuk melibatkan diri dalam pelayanan MAF. Jim segera meresponnya. Setahun kemudian, setelah menyelesaikan dinas militernya, Nate menjawab panggilan dari MAF yang mengutusnya ke Meksiko untuk merekonstruksi satu-satunya pesawat yang dimiliki oleh pelayanan misi MAF. Saat menuju Meksiko, Nate sangat bersemangat dengan pelayanan misi ini, tetapi sesampainya di Meksiko dan melihat sayap pesawat yang tersisa dan puing-puingnya, Nate nyaris patah semangat. Meskipun susah, Nate terus bekerja keras untuk memperbaiki pesawat tersebut. Setelah 6 bulan berjuang sembari melawan rasa frustasi yang menyerangnya, Nate akhirnya berhasil membuat pesawat itu kembali mengudara. Melihat kerusakan yang dialami pesawat tersebut dan kondisi-kondisi yang memaksa Nate untuk memperbaikinya, maka perbaikan itu tidak bisa dikatakan sederhana. Penulis biografi Nate mengatakan bahwa apa yang dilakukan Nate di Meksiko menunjukkan kemampuan uniknya dalam melakukan perbaikan-perbaikan pada sebuah pesawat yang pasti juga cukup sulit dilakukan meskipun dalam hangar berperalatan lengkap di Amerika Serikat.

Setelah 6 bulan di Meksiko, Nate kembali ke Amerika dan mengikuti kuliah di Wheaton College selama setahun. Kemudian bertepatan dengan Hari Valentine tahun 1948, Nate menikah dengan Marj Ferris, lulusan dari University of Southern California. Bulan September 1948, pasangan ini menuju ke Ekuador. Nate pergi ke Shell Mera untuk mendirikan markas besar MAF dan membangun sebuah rumah. Marj pergi ke Quito untuk menunggu kelahiran anak pertamanya. Pada bulan Desember, ketika melakukan penerbangan dari Quito, Nate terjebak dalam cuaca buruk dan pesawatnya jatuh. Pesawat itu tidak mungkin diperbaiki lagi dan Nate mengalami luka belakang yang cukup parah. Dia terpaksa dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama. Pada tanggal 10 Januari 1949, saat Nate masih dirawat di rumah sakit di Panama, Kathy Joan, putri pertamanya, lahir.

Jatuhnya Nate yang kedua kalinya seperti gelombang yang menghantam sepanjang sejarah pelayanan MAF. Di markas besar MAF kerinduan untuk menyelenggarakan pelatihan mekanik yang lebih baik semakin meningkat. Orientasi penerbangan diwajibkan bagi semua pilot misionaris yang baru dan pengaman-pengaman baru ditambahkan dalam setiap pesawat.

Mulai saat itu, target baru yang mulai serius diperhatikan oleh MAF adalah penerbangan hutan (jungle aviation) yang membutuhkan pilot- pilot pemberani yang berkomitmen untuk melayani Allah sekaligus juga berpengalaman dalam petualangan. Pelayanan penerbangan ini bukan merupakan olahraga udara yang menyenangkan, namun merupakan pelayanan yang penuh dengan tantangan dan bahaya. Bahkan Nate sendiri pun mengalami perubahan setelah dia mengalami kecelakaan pesawat. Dia belajar banyak dari pengalamannya yang menyakitkan itu dan dari kecelakaan berikutnya yang juga dialami oleh pilot Gospel Missionary Union dan penumpangnya. Penerbangan hutan menjadi bagian pelayanan yang sangat membutuhkan keahlian khusus. Oleh karena itu, baik pesawat maupun teknik penerbangan perlu dikembangkan untuk mengakomodasi berbagai situasi dan kondisi. Nate mulai menciptakan inovasi-inovasi baru, antara lain sistem bahan bakar alternatif dan pengiriman paket lewat udara (paket-paket diangkut dengan pesawat dan dijatuhkan di tempat-tempat yang telah ditentukan). Teknik pengiriman paket ini menjadi terkenal setelah terjadi kegagalan fatal dalam menjangkau Suku Aucas. Sistem ini memungkinkan untuk mengirimkan maupun mengangkut barang-barang yang dibutuhkan oleh suku-suku Indian yang sangat susah dijangkau.

Meskipun pada awalnya sempat menganggap rendah ide untuk "menjadi montir pesawat bagi Allah", Nate ternyata sangat menyukai pekerjaannya sebagai pilot misionaris. Setiap hari semakin dia melihat pentingnya pelayanan unik yang dilakukannya untuk "menghemat waktu" bagi para misionaris yang melakukan pelayanan di darat khususnya yang melayani wilayah-wilayah yang sulit dijangkau melalui jalan darat. Juga bagaimana dia bisa mengangkut barang-barang persediaan yang diperlukan dalam pelayanan dengan melintasi hutan.

Terjadi kombinasi dorongan hati dan kerinduan yang mendalam dalam hati Nate untuk lebih mempercepat pelayanan penginjilan bagi jiwa- jiwa yang terhilang. Kerinduan itu tiba-tiba telah merenggut nyawa Nate, seorang pilot muda yang berdedikasi dan berotak cemerlang, pada bulan Januari 1956, ketika dia dan kawannya dibunuh oleh Suku Aucas. Hal itu bermula dengan pengiriman paket yang dilakukannya bagi Suku Aucas yang dipikirnya sebagai suku yang ramah. Dengan keahliannya sebagai pilot, Nate dan temannya berhasil mendarat di wilayah Suku Aucas. Namun keahlian dan teknik tersebut tidaklah cukup bagi Suku Aucas sehingga pelayanan penerbangan itu kehilangan salah satu dari pilot-penemu-montir terbaiknya. Kontribusi Nate Saint bagi pelayanan penerbangan tidaklah berakhir dengan kematiannya. Kesaksiannya terus hidup dan banyak orang yang berkomitmen untuk menyerahkan hidup mereka kepada Allah dengan menjadi pilot-pilot misionaris setelah membaca artikel tentang kesaksiannya itu.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 398 -- 401

e-JEMMi 07/2004