Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.01 Vol.10/2007 / Musik Bagi Telinga Mereka

Musik Bagi Telinga Mereka


Sistem musikal yang dimiliki orang-orang Canela di hutan Amazon, Brazil, membuat kami sangat kebingungan. Bukan karena saya dan istri saya, Jo, buta terhadap irama musik dan tidak menghargai musik (selama bertahun-tahun kami bernyanyi dengan banyak kelompok musik). Bukan juga karena kami tidak pernah mendengar tentang musik Canela. Malahan, selama berada di desa, musik seperti itu selalu terdengar. Setiap malam, penduduk Canela menghantar kami tidur dengan nyanyiannya dari alun-alun kota.

Kami belajar menyanyikan lagu-lagu Canela, tapi tetap tidak bisa memahami irama dan sistem nadanya. Saat orang-orang di sekitar kami menyanyi dan menari, Jo tidak tahu harus menyanyikan apa dan saya tidak tahu bagaimana harus menggerakkan kaki saya. Bagaimana kami bisa memperkenalkan komposisi himne asli Canela, sedangkan selama hampir dua puluh tahun berdoa dan berusaha, kami tetap tidak bisa memahami musik mereka?

Kemudian, datanglah Dr. Tom, seorang konsultan musik-musik etnik dari Wycliffe. Tom merekam musik Canela selama beberapa minggu. Dia mempelajari dan menganalisis musik tersebut dengan menggunakan komputernya. Pada tahun selanjutnya, kami bertemu kembali dan akhirnya dia memperkenalkan dasar musik Canela pada kami .

PERBEDAAN

Seruling, yang dibuat dari ujung tanduk sapi, adalah bagian dari musik Canela yang rumit itu. Sekarang kami tahu mengapa kami tidak pernah bisa mempelajarinya. Tidak seperti sistem musikal yang terdiri dari delapan not dengan beberapa not tambahan, musik Canela ternyata memiliki lebih banyak not. Walaupun musik Canela bisa dinyanyikan atau dimainkan dengan instrumen seperti biola atau "slide flute", tapi mustahil dimainkan dengan keyboard.

Perbedaan selanjutnya adalah pada kata-katanya. Ada banyak suku kata tambahan dan improvisasi yang ditambahkan pada kata dasar sehingga hampir mustahil untuk bisa memahami liriknya. Mungkin kita perlu melakukan yang sama pada lagu-lagu yang kita ketahui. Misalnya, kata "Glo-o-o-o- o-ria" pada lagu Natal, masing-masing "o" dinyanyikan dengan irama yang berbeda. Atau menambahkan improvisasi "fa la la la" pada lagu lainnya.

Sistem musik Canela tidaklah sederhana. Seperti sebuah simfoni yang memiliki bagian yang berbeda, misalnya lagu pembuka, dll, begitu juga dengan sistem musik Canela memiliki tiga jenis utama. Pada setiap pesta besar atau kecil, mereka selalu memulai nyanyian dengan lagu "ihkenpoc" yang berirama lambat. Lalu perlahan berganti dengan musik "kyikyi" yang berirama sedang, dan berakhir dengan musik "ihkenpej" yang berirama cepat. Tom menemukan pola seperti ini dan dia memberitahukannya pada kami. Setelah saya memberinya lirik yang berdasar pada ayat Alkitab, Tom menggubah lebih dari dua puluh himne asli Canela.

DITERIMA DENGAN BAIK

Kemudian, kami berkunjung ke desa Canela untuk memperkenalkan lagu-lagu tersebut pada penduduk desa. Tindakan kami ini seperti menuang bensin ke atas api! Hanya dalam beberapa malam, ratusan penduduk Canela berkerumun untuk mendengarkan dan mempelajari lagu-lagu baru. Pemimpin nyanyian dan pemimpin tariannya sangat bersemangat. Dia ingin memiliki satu buku himne dan kemudian duduk selama berjam-jam mendengarkan rekaman yang telah kami persiapkan. Akhirnya, dia bisa mempelajari seluruh lagu dan melakukan perbaikan. Penduduk Canela yang lain mulai menambahkan ayat-ayat ke beberapa himne.

Setiap malam, selama kelas pengajaran Alkitab, lebih dari setengah waktunya dipergunakan untuk menyanyikan lagu-lagu baru. Seorang penduduk Canela dengan menangis berkata, "Anda memberikan firman Tuhan kepada kami, di mana Tuhan bisa berbicara kepada kami. Tapi teman Anda, Tom, memberi kami lagu sehingga kami bisa bercakap-cakap dengan-Nya."

Setelah pemberian Alkitab pada tahun 1990, seluruh penduduk Canela yang telah menerima salinan Alkitab terjemahan itu mengelilingi sang pemimpin pujian di alun-alun pusat. Mereka menyanyikan beberapa lagu baru Canela -- "Firman Tuhan Lebih Manis daripada Madu Bagiku" dan "Biarlah Kita Bersandar dan Mengikuti Perintah Tuhan".

Apa yang dilakukan Tom terhadap budaya Canela ini bukan hanya memperlancar penerimaan masyarakat Canela terhadap Alkitab terjemahan baru, namun juga memudahkan dalam menerima keseluruhan pesan Injil. (t/Lanny)

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Judul asli: "Music to Their Ears"
Penulis : Jack Popjes
Nama Situs: Wycliffe
Situs : http://wycliffe.org/ethnomusic/canela.htm

e-JEMMi 1/2007


Dipublikasikan: http://misi.sabda.org/musik_bagi_telinga_mereka