Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.13 Vol.09/2006 / Mongolia

Mongolia


Mongolia! Sebuah nama yang mengingatkan kita kepada Jengis Khan dengan pasukan Mongolnya yang berhasil menguasai Asia Tengah sampai Eropa di abad ke-13, serta menaklukkan dan membinasakan segala aral rintangnya.

Luas : 1.565.000 km2
Jumlah penduduk : 2.662.000 jiwa
Ibukota : Ulan Bator
Suku bangsa : Orang Mongol (1.6 persen), Rumpun Turki (6.6 persen), Minoritas pribumi (Cina, Rusia, dan Evenki) (1.8 persen), Orang asing (Barat, Korea, Jepang, dll.) (0.3 persen)
Budaya : Nomad
Agama : Tidak beragama (41.59 persen), Shamanisme (31.20 persen), Budha Dalai Lama (22.50 persen), Islam (4.00 persen), Kristen (0.71 persen)

LETAK

Berbatasan dengan negara-negara persemakmuran di sebelah utara dan Cina di sebelah selatan, Mongolia merupakan suatu dataran terpencil dengan pegunungan tinggi yang menakjubkan, danau besar, padang gurun dan padang rumput berbukit luas, ribuan mil jauhnya dari kepulauan lainnya.

PENDUDUK

Sepertiga dari negara yang berpopulasi 2.662.000 jiwa ini menetap di ibu kota Ulan Bator. Sedangkan di pedesaan kebanyakan penduduknya yang hidup nomaden tinggal di gher (tenda) di mana mereka menempuh perjalanan jarak jauh dengan kuda sambil menuntun sekawanan domba dan sapi.

SEJARAH

Tidak lama sesudah Jengis Khan meninggal pada abad ke-14, kerajaan Mongol jatuh dan dikuasai Cina. Pada tahun 1921, orang Mongol mendeklarasikan kemerdekaan negara mereka dari kekuasaan Manchu dan Cina. Revolusi itu didukung oleh pasukan dari Uni Soviet dan pada 1924, Mongolia dijadikan republik yang dipimpin oleh partai komunis. Hampir selama 70 tahun sejak revolusi rakyat di tahun 1921 ketika partai komunis mengumumkan rezim barunya, Mongolia mengikuti politik kebijaksanaan Rusia lama. Keuntungan besar diraih dari bantuan industri dan pendidikan ala barat. Sejak tahun 1966, Mongolia bersekutu dengan Uni Soviet untuk melawan RRC. Oleh karena itu, orang Mongol dan Cina bertengkar tentang perbatasan mereka. Komunisme di Mongolia ditolak pada tahun 1990 dan demokrasi multi- partai didirikan melalui undang-undang 1992. Dalam pemilihan berikutnya partai komunis yang telah diperbaharui mendapat kemenangan besar.

AGAMA

Sejak abad 20-an yang lalu agama tidak diizinkan. Agama Budha tradisional lenyap dari pandangan. Negara ini kemudian mengasingkan diri dari dunia luar pada umumnya, walaupun selama ratusan tahun shamanisme dan agama non-Kristen mendominasi Mongolia. Sebelum tahun 1921, Mongolia terkenal sebagai salah satu negara agama yang kuat. Saat ini ada lebih dari 2000 vihara dan kira-kira 60% dari total popularitas pria adalah biksu. Hasil tuaian misionaris pada waktu itu sangat sedikit.

Seorang misionaris dari Inggris yang antara 1878-1898 melayani di negara Asia ini, selama 20 tahun tidak pernah bertemu dengan orang Mongol yang tertarik untuk menjadi Kristen. Sampai tahun 1923, ketika semua misionaris harus meninggalkan negara Mongolia, hanya beberapa saja yang lahir baru.

MASA KINI

Situasi politik sangat sulit sehingga banyak orang kehilangan orientasi untuk kehidupan mereka. Data statistik menunjukkan angka kejahatan, kemiskinan, dan pengangguran disertai dengan kekacauan ekonomi dan kekurangan bahan untuk industri yang terus meningkat. Sejalan dengan semua ini terbersit pula keinginan untuk bangkit kembali pada tradisi kuno yang ditandai dengan mulai diaktifkannya kembali tradisi agama non-Kristen.

INJIL

Orang-orang Mongol mencari norma-norma hidup yang baru. Ketika negara ini mulai terbuka untuk dunia luar, sedikit sekali dijumpai orang-orang Kristen. Saat ini, untuk pertama kali dalam sejarah gereja Kristen, telah berdiri gereja di Mongolia. Sudah ada beberapa gereja di ibu kota, tetapi di daerah-daerah masih ada ratusan desa yang tidak memilik kesaksian orang Kristen.

Film Yesus merupakan sebuah alat yang luar biasa untuk pemberitaan Injil. Film ini pertama kali diputar di Ulan Bator di depan 300 anggota parlemen. Pada waktu itu pemimpin dari 12 provinsi lain juga meminta agar film ini diputar di daerah mereka, bahkan mereka meminta agar di setiap basis militer di Mongolia, film Yesus diizinkan untuk ditonton. Dengan demikian, ratusan orang telah menonton film tentang Juruselamat dunia. Sayang sekali negara ini tidak hanya terbuka untuk Injil melainkan juga untuk sekte-sekte. Banyak orang Mongol disesatkan oleh karena tidak mengetahui Alkitab dengan baik dan para pemimpin gereja kurang terdidik di dalam teologi, sehingga ada banyak perselisihan di sana.

Mari kita bersatu dalam doa agar gereja di Mongolia dapat bersatu dan mempertahankan vitalitas dan misi bagi kemuliaan dan kedewasaan iman serta pengetahuan akan Tuhan.

POKOK DOA:

  1. Beryukur atas kebebasan beragama yang sementara ini bisa dinikmati di Mongolia.

  2. Mengucap syukur atas pertumbuhan gereja dari 4 orang pribumi yang percaya pada tahun 1989 menjadi sekitar 5.000 orang yang berbakti di kurang lebih 60 gereja dan sekitar 100 persekutuan Kristen.

  3. Doakan kemajuan di bidang ekonomi dan pemberantasan korupsi yang masih tinggi di negara ini.

  4. Berdoa agar orang Mongolia yang kembali ke agama tradisi non- Kristen boleh melihat keselamatan yang sebenarnya.

  5. Doakan gereja agar makin kuat dan mandiri.

  6. Berdoa untuk para pemimpin agar dapat melayani jemaat mereka dengan hikmat surgawi.

  7. Doakan kesatuan gereja agar tetap mencerminkan kasih Allah.

  8. Doakan untuk kemunculan sekte-sekte yang menyesatkan di sana, berdoa di dalam nama Tuhan Yesus supaya kuasa-kuasa jahat dipatahkan. Doakan juga untuk orang Mongolia agar tidak terpengaruh dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan tersebut.

  9. Doakan mahasiswa, orang nomad, dan suku-suku minoritas agar mereka dapat dicapai oleh Injil.

  10. Berdoa agar internet, TV, radio dan film Yesus dapat menjadi saluran berkat bagi banyak orang Mongol.

Sumber diedit dari: Terang Lintas Budaya, 2005


e-JEMMi 13/2006