Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Makna Kenaikan Kristus dan Pentakosta

Makna Kenaikan Kristus dan Pentakosta


Pencurahan Roh Kudus yang berawal dari hari Pentakosta memberikan makna baru, realitas baru, keyakinan baru, fakta tentang Kristus yang dimuliakan, dan mengenai kehidupan gereja Perjanjian Baru. Pokok-pokok tersebut bukan hanya sekadar fakta sejarah atau pengajaran, karena kita tahu hal itu telah menjadi realitas mendebarkan bagi setiap orang percaya yang penuh Roh Kudus.

Kristus Menjadi Nyata!

Setelah menerima baptisan Roh Kudus pada hari Pentakosta, bangkitlah Petrus dengan kesebelas rasul dan dengan penuh keberanian serta dengan suara nyaring ia berkata, "Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah [Kristus] ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini." (Kisah Para Rasul 2:32-33)

Baptisan Roh Kudus yang baru diterima Petrus dan murid-murid yang lain itu, merupakan bukti bagi mereka masing-masing dan jaminan pribadi bahwa Tuhan mereka, yang bangkit dari kematian itu kini sudah ditinggikan dan dimuliakan di sebelah kanan Allah Bapa. Sepuluh hari sebelumnya mereka berdiri di puncak Bukit Zaitun dan menyaksikan Yesus menghilang di awan-awan (Kisah Para Rasul 1:9). Itulah pertemuan fisik terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya. Pada hari Pentakosta 10 hari kemudian, Roh Kudus datang mengembalikan kontak pribadi mereka secara langsung dengan Kristus di loteng rumah, tetapi dengan suatu cara yang baru. Sekarang, mereka masing- masing mengetahui dengan keyakinan baru bahwa Juru Selamat mereka yang dihina itu kini telah ditinggikan dan dimuliakan Bapa di Surga untuk selama-lamanya.

Kenaikan Kristus, Turunnya Roh Kudus

Selanjutnya, Yesus membagikan karunia Roh Kudus yang dijanjikan Bapa kepada murid-murid-Nya. Setelah menerima karunia itu, para murid-Nya memiliki keyakinan bulat bahwa Yesus benar-benar berada di dalam kemuliaan di hadapan Bapa, dan memiliki otoritas serta kuasa atas seluruh jagad raya. Dalam surat-suratnnya, Rasul Paulus menyatakan kebenaran ini, "dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang." (Efesus 1:19-21)

Di dalam Filipi 2:9-10 juga tertulis, "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi." Kita juga dapat membacanya dalam Ibrani 1:3, "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan yang Mahabesar, di tempat yang tinggi." Melalui ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang mendukung, setiap orang percaya dibawa pada pengertian bahwa Yesus bukan hanya dibangkitkan dari kematian, tetapi juga telah naik ke surga dan dimuliakan di sebelah kanan Allah Bapa. Kenaikan Kristus dan Pentakosta menegaskan bahwa Roh Kudus tak dapat diberikan kepada gereja sebelum Yesus dimuliakan bersama Bapa di surga.

Pemahaman Hubungan Tritunggal

Di dalam seluruh Perjanjian Baru kita bisa melihat keselarasan dan kerjasama yang begitu sempurna di antara ketiga Oknum Tritunggal. Ketika Yesus Kristus, salah satu Pribadi itu datang ke dunia, Ia datang sebagai utusan Allah Bapa. Ia tidak pernah mencari kehormatan dan kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Namun, Ia memuliakan Bapa di dalam Diri-Nya dan bekerja di dalam Diri-Nya. Demikian juga, setelah Ia menyelesaikan tugas pelayanan-Nya di dunia dan kembali kepada Bapa di surga, Yesus mengutus Roh Kudus sebagai Penolong gereja. Roh Kudus itu juga merupakan salah satu Pribadi Tritunggal, yang tidak mencari kemuliaan bagi Diri-Nya sendiri. Seluruh pekerjaan Roh Kudus di bumi dan di dalam gereja bertujuan untuk selalu meninggikan, membesarkan, dan memuliakan Dia yang diwakili-Nya, yaitu Yesus Kristus. Yesus sendiri memberikan kesaksian tentang hal ini, "Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku." (Yohanes 16:14-15)

Di sini, kita melihat hubungan yang sangat jelas di antara ketiga Oknum Tritunggal. Bapa memberikan seluruh otoritas, kuasa, dan kemuliaan-Nya kepada Anak-Nya. Selanjutnya, Anak itu mengangkat Roh Kudus sebagai Penolong untuk menyingkapkan dan menerjemahkan segala sesuatu yang Ia terima dari Bapa kepada gereja. Penting sekali untuk disadari bahwa Roh Kudus pun memunyai kepribadian-Nya sendiri, sama seperti Bapa dan Anak. Namun, pada zaman sekarang ini perlu disadari pula bahwa Kristus hanya memunyai satu Wakil Pribadi yang berwenang di dalam gereja dan di atas bumi, yaitu Roh Kudus. Pewahyuan pelayanan Roh Kudus ini memudahkan kita untuk menguji segala sesuatu di dalam diri orang percaya. Apakah yang ada itu memuliakan Kristus? Jika jawabannya tidak, tampak jelas kita wajib mempertanyakan apakah pernyataan itu benar-benar berasal dari Roh Kudus atau bukan. Pada sisi lain, pewahyuan ini juga menegaskan bahwa Kristus juga tidak akan memberikan otoritas-Nya kepada pelayanan atau gerakan kerohanian apa pun yang tidak mengakui keistimewaan kedudukan Roh Kudus sebagai Penolong gereja. Kemuliaan Kristus dan pelayanan Roh Kudus saling berkaitan dan tidak terpisahkan satu terhadap yang lain!

Sumber asli: "Faedah Pentakosta", Derek Prince.

Diambil dari:

Judul artikel : Makna Kenaikan Kristus dan Pentakosta
Judul majalah : Abbalove, Edisi Perkenalan 2 -- Mei 1999
Penerbit : Abbalove Ministries, Jakarta
Halaman : 5 -- 6

e-JEMMi 19/2010